Harakatuna.com. Quetta – Sebuah bom Taliban berkekuatan besar meledak di area parkir sebuah hotel mewah di kota Quetta, Pakistan Rabu 21 April. Polisi menyebutkan ledakan bom itu menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai sedikitnya sembilan lainnya.

Pasukan keamanan bergegas ke hotel Serena dan tidak ada yang mereka izinkan mendekati lokasi ledakan. Polisi mengatakan tim penyelamat membawa korban ke rumah sakit terdekat. Rekaman di saluran berita Pakistan menunjukkan mobil yang terbakar.

Beberapa jam setelah serangan itu, Taliban Pakistan dalam sebuah pernyataan mengaku bertanggung jawab, mengatakan itu adalah serangan bunuh diri. Taliban Pakistan, atau Tehreek-e-Taliban Pakistan, adalah kelompok pemberontak terpisah dari Taliban Afghanistan.

“Petugas berusaha untuk menentukan apakah bom itu ditanam di kendaraan yang diparkir di tempat parkir hotel,” ujar pejabat senior polisi Azhar Akram, seperti dikutip AFP, Kamis 22 April 2021.

Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut, mengatakan polisi masih melakukan menyelidiki.

Pejabat keamanan lainnya mengatakan bom itu meledak beberapa menit setelah sebuah mobil memasuki tempat parkir. Pihak berwenang sedang menyelidiki untuk menentukan apakah itu serangan bunuh diri.

Wasim Beg, juru bicara departemen kesehatan provinsi mengatakan, empat orang tewas dan 12 luka-luka dalam pemboman itu.

Tidak jelas siapa yang berada di balik serangan itu. Provinsi Baluchistan barat daya adalah tempat pemberontakan berkepanjangan oleh kelompok-kelompok separatis seperti Front Pembebasan Baluchistan dan Tentara Pembebasan Baluchistan.

Mereka telah selama beberapa dekade melancarkan serangan untuk menekan tuntutan kemerdekaan mereka. Kelompok Taliban dan Negara Islam Pakistan juga memiliki kehadiran di sana.

Menteri Dalam Negeri Pakistan Sheikh Rashid Ahmed langsung menyalahkan negara tetangga India atas pemboman hotel tersebut, meskipun dia tidak memberikan bukti untuk mendukung tuduhan tersebut.

Dia mengatakan kepada saluran berita Geo Pakistan bahwa Pakistan hanya memiliki satu musuh dan itu adalah negara tetangga India, yang dia duga berada di balik pengeboman tersebut.

Konflik Taliban Berujung Pengaboman

Ahmed mengatakan mereka telah menerima informasi intelijen tentang kemungkinan serangan di ibu kota, Islamabad dan tempat lain dan informasinya telah dibagikan dengan otoritas terkait untuk meningkatkan keamanan.

Liaquat Shahwani, juru bicara pemerintah provinsi, menyebut serangan itu sebagai tindakan terorisme. “Teroris ingin mengganggu perdamaian di Baluchistan.

Mereka yang tidak ingin melihat kemajuan dan kemakmuran di provinsi Baluchistan bertanggung jawab atas tindakan terorisme ini,” ujar Shahwani.

Jam Kamal Khan, Menteri Kepala di Baluchistan, segera mengutuk pengeboman tersebut. Menteri Informasi Pakistan Fawad Chaudhry mengatakan pihak berwenang sedang menyelidiki dan pernyataan akan dikeluarkan kemudian.

Menteri Dalam Negeri Baluchistan Ziaullah Langove mengatakan, Duta Besar Tiongkok Nong Rong menginap di hotel pada saat pengeboman itu, tetapi tidak jelas apa motif di balik serangan itu.

Dia mengatakan tidak ada tamu yang terluka tetapi seorang petugas polisi termasuk di antara empat orang yang tewas dalam serangan itu.

Hotel ini sering dikunjungi oleh orang asing karena merupakan satu-satunya hotel mewah di kota itu dan dianggap aman.

Arbab Kamran Kasi, seorang dokter di rumah sakit utama Quetta mengatakan pulihan korban luka dibawa dan mereka menyatakan keadaan darurat di rumah sakit untuk menangani para korban.

Pengeboman di Quetta terjadi beberapa jam setelah Pakistan dan tetangganya Iran membuka titik perlintasan perbatasan baru di Baluchistan untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan ekonomi. Baluchistan berbagi perbatasan dengan Iran dan Afghanistan.

Perang Melawan Teror

Taliban Pakistan telah menargetkan militer dan warga sipil di seluruh negeri sejak 2001, ketika negara Islam ini bergabung dengan perang melawan teror pimpinan AS menyusul serangan 11 September di Amerika Serikat.

Sejak itu, pemberontak telah menyatakan perang terhadap pemerintah Pakistan dan melakukan banyak serangan. Kelompok militan Pakistan sering kali terkait dengan mereka yang melintasi perbatasan di Afghanistan.

Pakistan hampir menyelesaikan pagar di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan. Menurut Islamabad mereka perlukan untuk mencegah serangan militan dari kedua belah pihak.

Pakistan dan tetangganya Afghanistan sering menuduh satu sama lain menutup mata terhadap militan yang beroperasi di sepanjang perbatasan yang keropos.

Diterbitkan di Berita

Pejabat humas Pengadilan Negeri Jakarta Timur Alex Adam Faisal menyebut ,sidang vonis digelar, Rabu (21/4/2021) kemarin. Alex membenarkan jika keenam terdakwa dalam kasus ini divonis hukuman mati.

"Semua terdakwa menerima dan tidak menyatakan banding," kata Alex kepada wartawan, Kamis (22/4/2021).

Keenam terdakwa tersebut adalah:

1. Anang Rachman

2. Suparman alias Maher

3. Syawaluddin Pakpahan

4. Suyanto alias Abu Izza

5. Handoko alias Abu Bukhori

6. Wawan Kurniawan

Seperti yang diketahui, kerusuhan di Mako Brimob terjadi pada 8 Mei 2018 silam. Peristiwa itu dipicu salah pahan terkait titipan makanan dari pihak keluarga.

Insiden ini berlangsung sekitar 40 jam, sebelum akhirnya bisa ditangani pihak kepolisian. 155 napi terorisme yang sebelumnya ditahan di Mako Brimob kemudian dipindahkan ke Nusakambangan.

Akibat peristiwa ini, 5 orang anggota Polri gugur. Sementara 1 orang napi terorisme turut tewas.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap satu orang pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diduga berkaitan dengan readyviewed insiden bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Informasi itu dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes Pol E Zulfan. Zulfan mengatakan, total pihaknya telah mengamankan total 33 orang terkait dengan insiden bom itu.

"Benar, sudah 33 orang yang ditangkap guna pemeriksaan oleh penyidik Densus 88," kata Zulfan saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Senin (19/4).

Namun demikian, Zulfan tidak menjelaskan secara rinci terkait peran pegawai BUMN itu dalam insiden bom bunuh diri Makassar.

Diketahui, sepasang suami istri berinisial L dan YSF melakukan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar pada 28 Maret lalu.

Beberapa hari setelah insiden itu, Densus mengamankan tersangka berinisial W yang merupakan otak perakit bom.

Densus juga menangkap sejumlah rekan L dan YSF di kelompok tersebut. Beberapa orang itu diduga kuat memberi motivasi agar L dan YSF menjalankan aksinya. Selain itu, terdapat juga pihak yang ikut survei lokasi pengeboman.

Selain rangkaian operasi di Makassar, polisi juga menangkap sejumlah terduga teroris di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Puluhan terduga teroris yang telah ditangkap itu kini menjalani pemeriksaan intensif oleh tim Densus 88. Dari semua yang diamankan diketahui merupakan jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah atau JAD, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. 

(yoa/pris)

Diterbitkan di Berita

Novi Christiastuti - detikNews Kairo - Sebuah kelompok militan di Mesir yang berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas eksekusi mati terhadap tiga orang di wilayah Sinai yang rawan konflik. Ketiganya dibunuh karena dianggap mendukung militer Mesir.

Seperti dilansir AFP, Senin (19/4/2021), klaim itu disampaikan militan ini dalam sebuah video yang diposting ke saluran Telegram mereka pada Sabtu (17/4) malam waktu setempat.

Militan terkait ISIS itu mengklaim telah menewaskan seorang warga penganut Kristen Koptik dan dua anggota kelompok suku di Sinai.

Dalam video berdurasi 13 menit itu, seorang pria berusia 62 tahun, yang disebut penganut Kristen Koptik dari Bir al-Abd di Sinai Utara, ditembak mati dari jarak dekat oleh seorang militan, yang dikawal oleh dua militan lainnya yang membawa senapan.

"Bagi Anda warga Kristen di Mesir, inilah harga yang Anda bayar karena mendukung militer Mesir," ucap militan yang mengeksekusi mati pria 62 tahun tersebut.

Dua orang lainnya, yang disebut berusia lebih muda dan merupakan anggota kelompok suku Sinai juga terlihat dibunuh di sebuah gurun pasir setempat, dengan militan menuding keduanya bertempur bersama militer Mesir.

Dalam pernyataan terpisah pada Minggu (18/4) waktu setempat, pihak Gereja Koptik Mesir menyebut pria 62 tahun itu bernama Nabil Habashi Salama. Komunitas warga Kristen Koptik di Mesir diketahui mencapai antara 10-15 persen dari total 100 juta jiwa populasi negara tersebut.

"Dia mempertahankan imannya hingga saat dia dibunuh... Gereja menegaskan dukungan teguh untuk upaya-upaya pemerintah Mesir dalam memberantas aksi teror penuh kebencian," demikian pernyataan kelompok Kristen Koptik di Provinsi Sinai.

Kelompok-kelompok militan lokal semakin meningkatkan aktivitasnya di Sinai Utara sejak tahun 2013, saat militer Mesir melengserkan Presiden Mohamed Morsi.

Sebagian besar serangan dilakukan di wilayah Semenanjung Sinai, namun kelompok militan setempat juga menggunakan wilayah itu sebagai landasan peluncuran untuk serangan-serangan di wilayah Mesir lainnya.

Pada Februari 2018 lalu, pemerintah Mesir meluncurkan operasi besar-besaran untuk menumpas kelompok-kelompok militan yang difokuskan di wilayah Sinai Utara. Militer Mesir menyebut sekitar 970 terduga militan tewas dalam operasi keamanan yang terus berlangsung.

(nvc/ita)

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Perjalanan ke wilayah Afghanistan yang dikuasai Taliban tidak lama. Setelah sekitar 30 menit dari kota Mazari Sharif di utara, melintasi kawah-kawah besar bekas bom di pinggir jalan, kami bertemu dengan tuan rumah: Haji Hikmat, wali kota bayangan Taliban di distrik Balkh.

Mengenakan wewangian dan turban hitam, dia adalah anggota veteran kelompok militan tersebut, bergabung pada tahun 1990-an ketika mereka menguasai mayoritas Afghanistan.

Taliban telah menyiapkan unjuk kekuatan untuk kami. Pria-pria bersenjata berat berbaris di kedua sisi jalan, salah satu dari mereka membawa pelontar granat berpeluncur roket, lainnya membawa senapan serbu M4 yang dirampas dari tentara AS. Balkh pernah menjadi salah satu daerah paling stabil di Afghanistan; sekarang, ia termasuk yang paling bergejolak.

Baryalai, seorang komandan militer lokal dengan reputasi bengis, menunjukkan jalan, "pasukan pemerintah ada di dekat pasar utama, tetapi mereka tidak bisa meninggalkan pangkalan mereka. Wilayah ini milik mujahidin".

Gambaran serupa ditemukan di sebagian besar Afghanistan: pemerintah mengontrol kota-kota, namun Taliban mengelilingi mereka, dengan kehadiran di sebagian besar pedesaan.

Kelompok militan itu menegaskan otoritas mereka melalui pos pengecekan yang terletak sporadis di jalan-jalan utama. Ketika anggota Taliban menghentikan dan menanyai mobil-mobil yang lewat, Aamir Sahib Ajmal, kepala dinas intelijen setempat, berkata kepada kami bahwa mereka sedang mencari orang-orang yang punya hubungan dengan pemerintah.

"Kami akan menangkap mereka, dan menawan mereka," ujarnya. "Kemudian kami menyerahkan mereka ke pengadilan kami dan mereka memutuskan apa yang terjadi selanjutnya."

Taliban percaya kemenangan adalah milik mereka. Duduk ditemani secangkir teh hijau, Haji Hekmat menyatakan, "kami telah menang perang dan Amerika telah kalah". Keputusan Presiden AS Joe Biden untuk menunda penarikan sisa tentara AS sampai September, yang berarti mereka akan tetap berada di negara itu setelah tenggat 1 Mei yang disepakati tahun lalu, telah memantik reaksi keras dari kepemimpinan politik Taliban. Meskipun demikian, momentum tampaknya ada di tangan para militan.

"Kami siap untuk apapun," kata Haji Hekmat. "Kami sepenuhnya siap untuk damai, dan kami sepenuhnya siap untuk jihad." Seorang komandan militer yang duduk di sampingnya menambahkan: "Jihad adalah ibadah. Ibadah adalah sesuatu yang, seberapa banyakpun Anda melakukannya, Anda tidak merasa lelah."

 

Haji Hekmat mengenakan turban hitam, Taliban, AS, Afghanistan
 

Haji Hekmat, wali kota bayangan Taliban di distrik Balkh, bergabung dengan kelompok itu pada tahun 1990-an.

 

Dalam setahun ke belakang, tampaknya ada kontradiksi dalam "jihad" Taliban. Mereka berhenti menyerang pasukan internasional menyusul penandatanganan kesepakatan dengan AS, namun terus bertempur dengan pemerintah Afghanistan.

Akan tetapi, Haji Hikmat bersikeras bahwa tidak ada kontradiksi. "Kami menginginkan pemerintahan Islam yang diatur dengan Syariah. Kami akan melanjutkan jihad kami sampai mereka menerima tuntutan kami."

Soal apakah Taliban akan bersedia membagi kekuasaan dengan faksi politik lain di Afghanistan, Haji Hikmat menyerahkannya pada kepemimpinan politik kelompok itu di Qatar. "Apapun yang mereka putuskan, kami akan terima," katanya berkali-kali.

Taliban tidak menganggap diri mereka sebagai kelompok pemberontak biasa, tetapi calon pemerintah. Mereka menyebut diri mereka "Emirat Islam Afghanistan", nama yang mereka gunakan saat berkuasa dari tahun 1996 sampai digulingkan, menyusul serangan teror 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Sekarang, mereka memiliki struktur "bayangan" yang rumit, dengan beberapa pajabat bertanggung jawab mengawasi layanan sehari-hari di wilayah yang mereka kuasai. Haji Hikmat, sang walikota Taliban, mengajak kami berkeliling.

Kami dibawa ke sebuah sekolah dasar, penuh dengan anak laki-laki dan perempuan menulis di buku teks yang disumbangkan oleh PBB. Saat berkuasa pada 1990-an, Taliban melarang perempuan mendapat pendidikan, meskipun mereka sering membantahnya. Bahkan sekarang, ada laporan bahwa di wilayah lain perempuan yang berusia lebih tua tidak diizinkan masuk kelas. Akan tetapi di sini setidaknya Taliban berkata mereka aktif mendorongnya.

"Selama mereka mengenakan hijab, penting bagi mereka untuk belajar," kata Mawlawi Salahuddin, yang bertanggung jawab atas komisi pendidikan setempat Taliban. Di sekolah menengah, katanya, hanya guru perempuan yang diizinkan, dan mereka wajib mengenakan kerudung. "Jika mereka mengikuti Syariah, tidak masalah."

 

Anak-anak perempuan dalam kelas di wilayah yang dikuasai Taliban, AS, Afghanistan
 

Beberapa pihak takut anak-anak perempuan tidak akan mendapat akses ke pendidikan jika Taliban berkuasa lagi.

 

Sumber BBC mengatakan Taliban menghapus mata pelajaran seni dan kewarganegaraan dari kurikulum, mengganti mereka dengan mata pelajaran Islam, namun sisanya mengikuti silabus nasional.

Jadi apakah Taliban menyekolahkan putri-putri mereka sendiri? "Putri saya masih sangat muda, tapi setelah dia besar, saya akan mengirimnya ke sekolah dan madrasah, selama mereka mewajibkan hijab dan Syariah," kata Salahuddin.

Pemerintah membayar gaji pegawai sekolah, namun Taliban yang berkuasa. Ini sistem hibrida yang diterapkan di seluruh negeri.

Di klinik kesehatan setempat, yang dijalankan oleh organisasi bantuan, ceritanya sama. Taliban mengizinkan pegawai perempuan untuk bekerja, tapi mereka harus didampingi pria saat malam hari, dan pasien laki-laki dan perempuan dipisah. Kontrasepsi dan informasi tentang keluarga berencana selalu siap sedia.

Taliban jelas-jelas ingin kami melihat mereka dengan lebih positif. Ketika kendaraan kami melintasi kerumunan murid perempuan yang berjalan pulang dari sekolah, Haji Hikmat melambai dengan semangat, bangga karena telah menyangkal ekspektasi kami. Namun keprihatinan tentang pandangan Taliban terhadap hak-hak perempuan tetap ada. Kelompok itu tidak punya anggota perempuan sama sekali, dan pada 1990-an mereka melarang perempuan bekerja di luar rumah.

 

Patients at a clinic in a Taliban-controlled area, Taliban, AS, Afghanistan
 

Perempuan diizinkan bekerja di klinik kesehatan lokal ini, tapi harus didampingi pria pada malam hari.

 

Ketika kendaraan kami melewati desa-desa di distrik Balkh, kami melihat banyak perempuan, tidak semuanya mengenakan burqa yang menutupi sekujur badan, berjalan-jalan dengan bebas. Namun di bazar setempat, tidak ada perempuan sama sekali. Haji Hikmat bersikeras bahwa mereka tidak dilarang, meski dalam masyarakat yang konservatif, dia bilang, mereka biasanya memang tidak pergi ke sana.

Kami ditemani Taliban setiap waktu, dan beberapa warga lokal yang kami ajak bicara mengungkapkan dukungan mereka kepada kelompok tersebut, dan bersyukur kepada mereka karena telah membuat wilayah mereka lebih aman dan mengurangi tindak kriminal. "Ketika pemerintah berkuasa, mereka memenjarakan orang-orang kami dan meminta suap untuk membebaskan mereka," kata seorang lelaki tua. "Orang-orang kami dahulu sangat menderita, tapi sekarang kami bahagia dengan situasi ini."

Nilai-nilai ultra-konservatif Taliban memang tidak begitu berbenturan dengan masyarakat di wilayah rural, namun banyak orang, terutama di perkotaan, takut mereka akan membangkitkan kembali Emirat Islam yang brutal di tahun 1990-an.

Seorang warga lokal belakangan bersedia untuk bicara kepada kami, dengan syarat namanya tidak disebut, dan mengatakan Taliban sebenarnya jauh lebih keras dari yang mereka akui dalam wawancara. Dia menceritakan warga desa yang ditampar atau dipukuli karena mencukur janggut, atau stereo mereka dihancurkan karena mendengarkan musik. "Orang-orang tidak punya pilihan selain patuh pada mereka," ujarnya kepada BBC, "bahkan karena masalah sepele pun mereka main fisik. Orang-orang takut."

 

Anggota taliban membawa senapan anti pesawat udara, AS, Afghanistan
 

Seorang warga berkata kepada BBC banyak orang patuh pada Taliban karena takut.

 

Haji Hikmat adalah anggota Taliban di tahun 1990-an. Sementara para kombatan yang lebih muda senang mengambil foto dan selfie, dia awalnya menutup wajahnya dengan turban ketika melihat kamera kami. "Kebiasaan lama," katanya sambil nyengir, sebelum akhirnya mengizinkan kami merekam wajahnya. Di bawah rezim lama Taliban, fotografi dilarang.

Apakah mereka melakukan kesalahan saat berkuasa, saya bertanya? Akankah mereka berperilaku sama lagi sekarang?

"Taliban dahulu dan Taliban sekarang sama saja. Jadi membandingkan waktu itu dan sekarang - tidak ada yang berubah," kata Haji Hikmat. "Tapi," dia menambahkan, "ada perubahan personel, tentu saja. Sebagian orang lebih kejam dan sebagian lagi lebih kalem. Itu normal."

Taliban tampaknya sengaja bersikap ambigu tentang apa yang mereka maksud dengan "pemerintahan Islam" yang ingin mereka dirikan. Beberapa analis memandangnya sebagai usaha sengaja untuk menghindari gesekan internal antara elemen garis keras dan yang lebih moderat. Dapatkah mereka mengakomodasi mereka yang berpandangan berbeda tanpa mengasingkan basis mereka sendiri? Kekuasaan dapat menjadi ujian terbesar mereka.

Saat kami menyantap makan siang ayam dan nasi, kami mendengar suara gemuruh setidaknya empat serangan udara dari jauh. Haji Hikmat tidak gentar. "Itu jauh, jangan khawatir," ujarnya.

Kekuatan udara, khususnya yang disediakan oleh Amerika, berperan penting dalam upaya menghalau Taliban selama bertahun-tahun. AS sudah secara drastis memangkas operasi militernya setelah meneken kesepakatan dengan Taliban tahun lalu, dan banyak yang takut kalau menyusul penarikan total mereka, Taliban akan mengerahkan militernya untuk mengambil alih Afghanistan.

Haji Hikmat mencemooh pemerintah Afghanistan, atau "pemerintahan Kabul" - demikian sebutan Taliban, korup dan tidak Islami. Sulit membayangkan laki-laki seperti dia akan berdamai dengan pihak lain di negara itu, kecuali itu sesuai kemauan dia.

"Ini jihad," ujarnya, "ini ibadah. Kami melakukannya bukan untuk kekuasaan melainkan untuk Allah dan hukum-Nya. Untuk membawa Syariah ke negeri ini. Siapapun yang menghalangi kami akan kami lawan."

Diterbitkan di Berita

Konten ini diproduksi oleh Palu Poso

Irham, narapidana yang divonis terlibat kasus tindak pidana terorisme dengan hukuman 2 tahun penjara berbicara blak-blakan mengenai rencana aksinya sebagai calon pengantin untuk amaliyah di Kabupaten Morowali pada 2019.
 
“Dan saya salah satu calon pengantin untuk amaliyah di Morowali tahun 2019. Saya sudah siap dan sudah dibekali dengan bom,” kata Irham, napi teroris Poso, kepada media ini, Rabu (14/4).
 
Sasaran amaliyah saat itu kata Irham, adalah aparatur negara, diskotek, tempat kantor Polisi, tempat TNI, dan kantor Bupati. Rencana itu tercium aparat sehingga ia ditangkap pada 14 September 2019.
 
Irham mengakui, keterlibatannya pada rencana aksi amaliyah itu ketika ia pertama kali melakukan kontak hubungan dengan sejumlah orang dari Ansharut Daulah Islamiyah.
 
Ketika itu, ia mengaku masih menjalani proses hukum dalam Rutan.
 
“Saya berkomunikasi dengan mereka dan diajak. Ketika saya saat itu sudah bebas, mereka mau jemput saya untuk bergabung dengan mereka di sana.
 
Dan, saat itu mereka biayai saya dengan besar, yaitu dana Rp500 ribu untuk perjalanan pergi melaksanakan aksi amaliyah di Morowali,” kata Irham.
 
Napi teroris yang menjalani proses asimilasi ini, mengaku sebelumnya ia juga pernah ditahan karena kasus pembakaran gereja di Poso. Kemudian ditahan di Kabupaten Poso.
 
Saat itu katanya, ia sudah dikontak oleh rekan-rekannya yang memiliki satu pemahaman di Poso.
 
Keberadaan dirinya di Rutan dimanfaatkan untuk mengajak sesama napi untuk bergabung dalam aksi perjuangannya. Tapi, saat itu para napi tidak ada yang tertarik untuk mengikuti jejak perjuangannya. Sehingga, ia memberanikan diri berangkat ke Kabupaten Poso.
 
“Dan selama itu saya belajar agama di Poso dengan Ustad YS dengan Ustad SU. Selain itu belajar lewat chanel-chanel telegramnya. Saya belajar sejak tahun 2018,” katanya.
 
Irham juga mengakui pernah jalan-jalan ke hutan (gunung biru) yang menjadi tempat persembunyian kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso. Namun saat itu, ia tidak bertemu dengan mereka.
 
Ketertarikannya menuju lokasi persembunyian kelompok MIT Poso karena terinspirasi dari ajakan pimpinan MIT Poso Santoso alias Abu Wardah kala itu, bahwa mengikuti mereka adalah jalan yang benar untuk menuju surga.
 
"Kami diajarkan memerangi negara-negara yang dianggap kafir, walaupun kita mati atau membunuh mereka akan dijamin masuk surga. Meski saat itu saya belum sempat ketemu Santoso. Saya hanya sempat hadir di pemakamannya,” ujarnya.
Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta Polisi telah meringkus 31 terduga teroris yang terlibat aksi terorisme di Gereja Katedral, Makassar.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan menerangkan, awalnya pada siang kemarin baru ada enam orang yang diringkus.

Namun pada menjelang Senin sore, Tim Densus 88 kembali meringkus satu orang terduga teroris di Makassar. Singga untuk hari itu ada tujuh orang.

"Hari Selasa pada tanggal 13 April 2021 jam 15.15 waktu setempat waktu Makassar, tim Densus kembali melakukan penangkapan terhadap satu tersangka teroris atas nama MY sehingga di hari Selasa kemarin tim Densus berhasil menangkap tujuh," ujarnya di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (14/4/2021).

Ahmad Ramadhan menuturkan, ketujuh terduga teroris masing-masing berinisial J, D, MS, S alias AL, W, S dan MY. 

Terafiliasi JAD

Menurutnya para terduga teroris ini semuanya masih berafiliasi jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Mereka diamankan di Makassar dan sekitarnya.

"Sehingga update sampai saat ini pasca bom bunuh diri di Gerja Katedral, Densus berhasil mengamankan 31 tersangka teroris di Makssar dan sekitarnya," pungkasnya.

Diterbitkan di Berita

Andi Saputra - detikNews Jakarta - Warga Kemang, Jakarta Selatan (Jaksel), berinisial AM (50), divonis 4 tahun penjara. Insinyur itu dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana terorisme karena bergabung dengan ISIS dan merekrut WNI yang mau bergabung dengan organisasi teroris dunia itu.

Hal itu tertuang dalam putusan PN Jaktim yang dikutip dari website MA, Selasa (13/4/2021). Berikut ini kronologinya:

2007
AM mulai mengikuti pengajian garis keras di salah satu masjid di Jaksel.

2008
Rumah AM mulai dipakai untuk pengajian kelompok teroris.

2014
ISIS dideklarasikan di Suriah. AM mulai tergerak bergabung.

Maret 2016
AM bersama istri dan dua anaknya berangkat ke Turki. Sebelum berangkat, AM menjual dua mobilnya dan laku Rp 160 juta. Tujuannya, bergabung dengan ISIS di Suriah.

Awalnya, mereka tinggal di apartemen yang dipesan lewat salah satu aplikasi. Mereka tinggal 1 bulan dengan visa turis dan setelahnya mengurus via izin tinggal selama 1 tahun.

Agustus 2016
AM meminta temannya di Jakarta menjual rumah di Kemang seharga Rp 6 miliar. Uang itu kemudian ditransfer dan dipakai untuk membeli apartemen di daerah Sogutlucesme, Istanbul, Turki.

AM berkali-kali mencoba menyeberang ke Suriah tetapi mengaku jalur belum aman sehingga mengurungkan niatnya.

13 Februari 2017
Izin tinggal AM di Turki habis. Dia pulang ke Jakarta. Di Jakarta, AM membuat KTP baru dan membuka rekening bank.

22 Februari 2017
AM kembali berangkat ke Turki. Sejak saat itu, AM memfungsikan apartemennya sebagai tempat singgah bagi WNI yang mau bergabung dengan ISIS.

23 November 2018
AM hendak pulang ke Indonesia. Namun, paspornya dicurigai pihak Imigrasi dan dia ditahan.

30 November 2018
AM dan keluarganya dideportasi ke Indonesia.

13 Maret 2020
AM ditangkap penyidik dan ditahan.

November 2020
AM mulai diadili di PN Jaktim.

"Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 4 tahun," kata ketua majelis Yudisilen dengan anggota Alex Adam Faisal dan Nun Suhaini.

31 Maret 2021
PN Jaktim memutuskan AM terbukti melakukan tindak pidana terorisme.

Majelis menyatakan AM terbukti memenuhi kualifikasi perbuatan yang diatur UU Terorisme. Apalagi, ISIS adalah organisasi terlarang. Sebab, tidak hanya di Suriah, akan tetapi juga merambah ke Indonesia.

Di Indonesia, para pendukung ISIS telah menggunakan peralatan apa saja serta mengakibatkan dampak yang menimbulkan suasana teror dan rasa takut yang luas di kalangan masyarakat sipil.

"Di samping melakukan pelatihan militer, mereka juga melakukan intimidasi dengan berbagai senjata dan modus teror yang mengancam masyarakat sipil yang tidak memiliki pemahaman yang sama dengan mereka," ujar majelis.

12 April 2021
PN Jaktim melansir putusan tersebut. (asp/HSF)

Diterbitkan di Berita

Muhaimin sindonews.com WASHINGTON - Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi adalah pria yang diidentifikasi sebagai pemimpin baru ISIS setelah pemimpin sebelumnya, Abu Bakr al-Baghdadi, tewas selama operasi militer Amerika Serikat (AS) di Suriah tahun 2019.

Bos baru ISIS itu ternyata mantan tahanan militer AS yang kooperatif, yang membantu Amerika dengan memberikan informasi penting tentang kelompok teror tersebut.

Catatan riwayat al-Qurashi ini terungkap dari dokumen AS yang tak dipublikasikan, yang diperoleh The Washington Post.

Menurut dokumen itu, al-Qurashi adalah mantan tahanan yang membantu AS melenyapkan rivalnya di organisasi teroris cikal bakal kelompok ISIS. Dia bekerja dengan AS ketika dia berada di penjara pada akhir tahun 2000-an untuk mengidentifikasi para petinggi kelompok teroris.

Laporan tersebut didasarkan pada interogasi rahasia sebelumnya yang mencatat informasi penting yang diserahkan al-Qurashi kepada Amerika.

Dokumen AS menyebut dia kadang-kadang ingin membocorkan informasi yang membantu pasukan AS melakukan operasi kritis terhadap kelompok teror itu.

Itu termasuk informasi yang membantu pasukan AS menemukan markas besar media rahasia ISIS.

“Tahanan tampaknya lebih kooperatif dengan setiap sesi,” bunyi laporan tahun 2008 yang diperoleh oleh The Washington Post, menggunakan nama asli al-Qurashi, yakni Amir Muhammad Sa'id Abd-al-Rahman al-Mawla.

"Tahanan memberikan banyak informasi tentang rekanan ISIS.” Al-Qurashi ditahan pada akhir 2007 atau awal 2008 dengan catatan interogasi dihentikan pada Juli 2008. Dokumen tersebut tak menyebutkan kapan dia dibebaskan AS.

Namun, selama dua bulan—saat jadi tahanan AS—dia memberikan "harta karun" berupa informasi penting bagi AS, termasuk menyediakan nomor telepon 19 pejabat kelompok cikal bakal ISIS.

Kelompok teroris itu sendiri secara resmi dideklarasikan oleh pemipin pertamanya, Abu Bakr al-Baghdadi, di Mosul, Irak, pada 2014.

Al-Qurashi, lanjut laporan The Washington Postkemarin, juga membantu AS untuk mengembangkan sketsa para pemimpin kelompok teroris.

Pada titik yang tidak diketahui al-Qurashi berhenti bekerja sama, dan laporan tersebut mengatakan bahwa dia menjadi "cemas" atas statusnya. "Menunjukkan bahwa dia mengharapkan imbalan atas jumlah informasi yang dia berikan," tulis The Washington Post.

Pemerintah Amerika belum berkomentar atas bocornya dokumen tentang sosok pemimpin baru ISIS tersebut. Sosok al-Qurashi kini jadi buron, di mana Amerika menawarkan hadiah USD10 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya.
(min)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, REQnews - Badan Intelijen Negara (BIN) menyebut, bahwa paham terorisme masuk ke kalangan milenial yang cenderung introvert dan suka menyendiri.

"Ini (paham terorisme) memang rata-rata masuk ke anak-anak yang cenderung introvert, menyendiri, dan menelan mentah," ujar Juru Bicara BIN, Wawan Hari Purwanto dalam diskusi Polemik secara virtual, Sabtu 3 April 2021.

Menurutnya, kalangan anak muda yang terpapar terorisme akan cenderung menjauh dari orang-orang di sekitarnya. Serta, menganggap pihak-pihak yang tak sejalan dengan pemikirannya sebagai musuh.

"Orang yang udah terpengaruh cenderung menjauh, yang nggak sejalan dianggap musuh," ujar Wawan. Hal yang serupa juga disampaikan oleh Kasubdit Napi Deradikalisasi badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kolonel Sigit Karyadi pada tahun 2017 lalu.

Ia mengatakan bahwa salah satunya cenderung lebih menyendiri dan tidak terlalu pandai sehingga mudah diajak menjadi teroris.

"Kecenderungan dia tidak pandai mengungkapkan perasaannya, introvert, itulah yang paling gampang direkrut. Dan saya menilai Anda sebagai pelaku utama yang saya inginkan. Humoris paling susah dideketin," ujar Sigit dalam acara diskusi di Kampus Pertamina, Jakarta Selatan, Sabtu 29 Juli 2017.

Sigit saat itu mengatakan bahwa BNPT memiliki data perilaku seseorang yang diduga terlibat jaringan terorisme. "Masih banyak saya nggak bisa jelaskan secara gamblang. Itu ada itunya lagi, tapi yang jelas itu tanda tanda cenderung karena ini psikolog yang main," katanya.

Oleh karena itu, dirinya berharap kerjasamanya dengan masyarakat untuk membantu memerangi teroris. Kemarin juga ada beberapa yang sudah dilakukan BNPT, kemaren ada orang tuanya melaporkan ke BNPT, kami BNPT ikut turun tangan, itu sudah dilakukan kami," kata dia. 

Diterbitkan di Berita