Merahputih.com - Polisi menangkap penjual airgun kepada pelaku penyerangan di kompleks Mabes Polri, Jakarta bernama Zakiah Aini alias ZA (25). Pelaku diketahui bernama Muchsin Kamal alias Imam Muda.

“Yang bersangkutan (Imam Muda) eks napiter Jalin Jantho, Aceh tahun 2010,” ungkap Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Rusdi Hartono kepada wartawan, Selasa (6/4).

Baru-baru ini Imam Muda (28) kembali ditangkap Densus 88 Antiteror Polri di Banda Aceh, Aceh, Kamis (1/4) lalu. Dia ditangkap selaku terduga penjual airgun kepada teroris Zakiah Aini.

Dalam foto dokumentasi yang dimuat modusaceh.co, lelaki tersebut sudah berada dalam mobil polisi. Imam Muda merupakan warga Kecamatan Peukan Baro, Kota Pidie, Aceh. Lelaki kelahiran Desa Mee, Kampung Saka, 6 Juli 1992 ini tercatat sebagai wiraswasta.

“Jadi ZA membeli airgun dari Muchsin Kamal secara daring. Tersangka akan dibawa ke Jakarta, diperkirakan tiba Sabtu sore,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono.

 

Pengamanan Mabes Polri. (Foto: Antara)
Pengamanan Mabes Polri. (Foto: Antara)

 

Sebelumnya, Mabes Polri Jakarta diserang oleh orang tak dikenal bersenjata api pada Rabu (31/3) sore. Pelaku diduga seorang anggota teroris. Dari video yang diterima, pelaku merupakan seorang seorang perempuan dengan menggunakan baju panjang berwarna hitam dengan kerudung motif berwarna biru.

Dalam aksi penyerangan itu, perempuan yang membawa senjata api (senpi) tersebur melakukan penembakan ke anggota polisi sebanyak enam kali tembakan. Setelah penyelidikan, ternyata pelaku melakukan penyerangan seorang diri (lonewolf).

Dia menganut paham radikal ISIS sehingga melakukan perbuatannya tersebut. Disamping itu, polisi juga menemukan surat wasiat pelaku untuk keluarganya saat polisi melakukan penggeledahan di rumah pelaku. (Knu)

Penulis : Joseph Kanugrahan 
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia --  Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mencatat Densus 88 telah menangkap 1.073 terduga teroris di wilayah Indonesia sejak 2018 hingga saat ini.

Juru Bicara Kompolnas, Poengky Indarti mengatakan bahwa dari keseluruhan yang ditangkap, ada beberapa yang dilepas karena kurang bukti. Namun demikian, dia tak dapat merinci data pelepasan tersebut.

"Operasi penangkapan teroris oleh Densus 88 dalam kurun waktu 2018 hingga saat ini telah mampu menangkap 1.073 pelaku teror," kata Poengky kepada CNNIndonesia.com, Senin (5/4).

Salah satu yang dia contohkan ialah istri dari terduga teroris di Cianjur berinisial DK yang dilepas Polri karena tak cukup barang bukti.

"DK, perempuan, istri salah satu terduga teroris Cianjur, yang dibebaskan karena dianggap tidak terbukti," ucap Poengky.

"Untuk data lengkap bisa cek ke Polri. Memang jika dalam pemeriksaan tidak terbukti, akan dibebaskan oleh Densus," tambahnya.

Menurut dia, penangkapan itu sekaligus mengamankan sejumlah kegiatan-kegiatan besar yang terselenggara seperti Pemilu 2019, Pilkada 2018 dan 2021, serta Asian Games 2018 yang terpusat di Jakarta dan Palembang hingga kegiatan IMF/World Bank Meeting di Bali.

"Banyak yang ditangkap karena memang cukup bukti keterlibatan mereka di jaringan teroris," tuturnya.

Kemudian, berselang tiga hari kemudian terjadi aksi penyerangan di Mabes Polri, Jakarta, pada Rabu (31/3). Pelaku sempat mengeluarkan tembakan sebanyak enam kali di area Mabes Polri hingga akhirnya ditembak mati oleh petugas.Sebagai informasi, aksi teroris terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Pertama, pasangan suami istri berinisial L dan YSF meledakan diri di depan Gereja Katedral, Makassar pada Minggu (28/3).

Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku yang berinisial ZA diduga merupakan teroris lone wolf alias pelaku tunggal yang diduga terpapar ideologi ISIS. Polisi juga gencar menangkap terduga teroris di sejumlah daerah. 

(mjo/pris)

Diterbitkan di Berita

Yuda Febrian Silitonga - detikNews Karawang - Sebuah rumah di Desa Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang digeledah tim Densus 88 Anti Teror. Rumah tersebut dihuni terduga teroris berinisial LN (34) yang sudah ditangkap lebih dulu.

Ketua RT, Hamid (50) menuturkan, kejadian tertangkapnya terduga teroris dari hasil keterangan yang didapatkannya dari petugas kepolisian saat penggeledahan rumah LN (34), di Blok C no. 6, Perum Regency Klari, Desa Klari, Kecamatan Klari.

"Jadi saya, dihubungi babinkantibmas, hari Sabtu, kemarin, katanya, suruh ikut dalam penggeledahan diduga teroris di Perum Regency Klari bersama tim Densus," jelasnya saat diwawancarai, Senin (4/4/2021).

Dia menuturkan petugas kepolisian telah menangkap salah satu terduga teroris, namun lokasi penangkapannya di wilayah Johar, Kecamatan Karawang Timur.

"Saya dapat info kata polisi, pelaku ditangkap di Johar, tapi tidak tau penangkapannya seperti apa, saya hanya dihubungi untuk menyaksikan penggeledahan rumah diduga teroris," tuturnya.

Saat penggeledahan, ia menyaksikan polisi membawa barang-barang milik pribadi LN (34) sebagai barang bukti."Jadi saya liat, ada dokumen seperti Kartu Keluarga (KK), BPKB, senjata tajam, laptop, HP, buku tabungan, terus ATM, dan buku-buku agama," tuturnya.

Sementara itu, identitas korban itu inisial LN (34) asal dari Ciamis, namun katanya ia belum pernah mendapatkan laporan terkait nama warga tersebut."Jadi namanya belum ada di kependudukan di RT, karena emang dia tidak melaporkan," terangnya.

Sementara itu, dari keterangan warga sekitar, Ahmad Ngafif (37) mengatakan LN ini warga pindahan baru, sudah berumah tangga, dan tidak pernah berbaur dengan warga sekitar.

"Terduga ini kalau yang saya tau itu warga baru, dia suami istri, tapi tidak pernah bersosialisasi, dia baru 3 bulan menempati rumah," terangnya.

Selain itu, Ngafif juga mengatakan selama 3 bulan, LN ini tidak sering beraktivitas dengan para tetangga rumahnya."Jadi selama 3 bulan itu tidak pernah ngobrol atau aktifitas dengan para tetangga," tuturnya.

Ia juga menjelaskan, sebelum ditempati LN, rumah tersebut ditinggali oleh Zakaria."Jadi dulu itu pak Zakaria, yang memang tinggal, dan suka bebersih di situ, terus selang satu bulan diganti LN," ungkapnya.

Lanjutnya, sewaktu ditinggali Zakaria, rumah tersebut memang kosong."Jadi rumah itu sudah dikontrak sama pak Zakaria, kata pak Zakaria waktu ngobrol saat awal-awal bersih-bersih rumah yang ditempati LN sekarang," katanya.

Dalam pantauan di lapangan, rumah Blok C no 6 Perum Regency Klari yang ditempati terduga teroris ini sudah segel garis polisi, dan di depannya terdapat masjid yang menurut Ngafif tidak pernah menjadi tempat ibadah terduga.

"Padahal di depannya itu ada mesjid, tapi saya belum pernah lihat dia shalat," tandas pria yang aktif juga sebagai DKM Masjid Perum.

Sampai berita ini ditulis, saat dihubungi pihak kepolisian belum memberikan kejelasan apapun. (mud/mud)

Diterbitkan di Berita

voi.id JAKARTA - Polri dan pihak terkait diminta untuk waspada dengan pelaku teroris yang beraksi sendirian atau lone wolf. Apalagi, paham radikalisme dan segala kegiatan yang berkaitan dengan terorisme bisa dilihat melalui sejumlah aplikasi media sosial seperti Telegram maupun Facebook.

Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel mengingatkan aparat terhadap potensi berkembangnya aksi teror sendirian atau lone wolf, dipicu dari serangan di Markas Besar Polri, beberapa waktu lalu.

"Relevansinya adalah kemungkinan bermunculannya lone wolf-lone wolf baru yang boleh jadi muncul secara masif, karena mereka tidak membutuhkan jaringan, tak perlu bertemu dengan siapapun, kemudian jadi pelaku-pelaku teror yang baru," kata Reza dalam diskusi virtual, Minggu, 4 April.

Selain itu, lone wolf atau para pelaku teror yang tak terafiliasi dengan kelompok tertentu bisa muncul karena kondisi teror saat ini berbeda dengan yang dulu. Dulu, sambung Reza, orang akan menjadi pelaku teror jika ada sosok yang mencuci otak mereka.

Biasanya, mereka berkegiatan secara intensif dan terselubung. Namun, hal ini berubah sejak media sosial berkembang dan segala informasi ada di dalamnya. Setiap, kata dia, orang sangat berpotensi menjadi pembelajar mandiri, termasuk belajar dari pelaku teror secara virtual.

"Misalnya, ada orang-orang memanfaatkan informasi di media sosial dan meradikalkan isi kepala mereka sendiri," ungkap Reza.

"Begitu isi kepala mereka berhasil diradikalisasi, maka si calon pelaku melakukan pembaiatan terhadap dirinya sendiri. Dia angkat sumpah melakukan operasi yang dia yakini sebagai sebuah kebenaran," lanjutnya.

Kata Reza, di dunia psikologi ada istilah gangguan kecemasan akibat media sosial. Istilah ini menggambarkan betapa kuatnya pengaruh peranti teknologi. Doktrinisasi ideologi seperti pelaku teror bisa dimulai dari penerimaan informasi yang memuat isu radikalisme.

"Jaringan tidak harus mengenal satu sama lain, tapi ada proses transmisi nilai, distribusi informasi secara masif berlangsung lewat media virtual," ucap dia.

Media sosial yang paling banyak digunakan

Sementara dalam acara yang berbeda, mantan narapidana tindak pidana terorisme, Haris Amir Falah, mengatakan era digitalisasi saat ini juga dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk merekrut anggota.

Dia menyampaikan, media sosial yang sering digunakan oleh kelompok-kelompok teroris untuk merekrut anggota yaitu Facebook dan Telegram. 

"Ada beberapa media sosial yang menjadi alat mereka lakukan secara masif, misalnya di Telegram atau juga di media sosial lainnya di Facebook saya rasa juga digunakan.

Jadi tanpa bertemu, seseorang bisa menjadi seorang pengantin," kata Haris dalam diskusi daring yang ditayangkan di YouTube pada Sabtu, 3 April.

Lewat media sosial ini kelompok teroris kemudian mulai berkomunikasi dengan calon anggota dan melakukan pembinaan. Haris juga menyebut, sistem baiat saat ini tidak perlu bertemu muka tapi bisa hanya melalui media sosial saja.

"Mereka bisa dikamar sendirian kemudian berbaiat, kemudian sudah terikat dengan program itu," ungkapnya.

Tak cukup di situ, lewat media sosial para pembina akan melakukan doktrin kepada calon anggota. Selanjutnya, muncul pelaku terorisme yang mengorbankan nyawa mereka dan mengatasnamakan suatu agama.

"Itulah yang disayangkan. Orang-orang dibikin berani mati, tapi mereka (para pembina) hanya berani hidup," tegasnya.

Selama sepekan ini ada dua aksi teror yang terjadi dalam waktu berdekatan. Teror pertama adalah pengeboman di depan Gereja Katedral Makassar yang terjadi pada Minggu, 28 Maret ketika umat katolik merayakan Minggu Palma.

Teror bom Makassar diketahui dilakukan oleh  pasangan suami istri yang terafiliasi dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Sementara aksi kedua terjadi di Mabes Polri pada Rabu, 31 Maret lalu. pelaku penyerangan di Mabes Polri merupakan seorang perempuan berinisial AS dan berusia 25 tahun. Dia bergerak sendiri atau lone wolf dan terafiliasi dengan ISIS.

Diterbitkan di Berita
Hilda Meilisa Rinanda - detikNews Surabaya - Densus 88 menggeledah Ponpes Ibnul Qoyyim di Berbah, Sleman beberapa waktu lalu. Khatib Syuriah PWNU Jatim KH Safruddin Syarif buka suara soal penggeledahan itu.

"Yang pertama bahwa teroris adalah musuh kita bersama. Maka Densus 88 sangat dibutuhkan dan harus kita dukung langkah-langkahnya.

Karena kalau kita biarkan, Indonesia tidak menutup kemungkinan akan menjadi sarang teroris," kata Kiai Safruddin saat dihubungi detikcom di Surabaya, Minggu (4/4/2021).

Kiai Safruddin menambahkan, tidak menutup kemungkinan memang ada pondok pesantren di Jatim yang memiliki ajaran radikal.

"Oleh karenanya, kalau memang Densus 88 melacak ada salah satu pesantren yang kemungkinan di situ ada ajarannya yang menyebabkan terorisme tumbuh subur, maka itu menjadi satu hal yang memang harus dilakukan Densus 88 untuk menggeledah, termasuk ke pesantren," ungkapnya.

Tak hanya itu, Kiai Safruddin juga menyebut Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BPNT) telah menginformasikan jika Ponpes milik Nahdlatul Ulama di Indonesia tak akan mengeluarkan alumni teroris.

"Kita terus terang di Indonesia tidak semua ponpes milik NU, di mana sudah diinformasikan oleh BNPT jika pondok NU itu adalah tidak akan mengeluarkan alumni yang teroris. Artinya teroris itu tak ada satu pun yang keluaran ponpes milik NU," papar Kiai Safruddin.

"Tetapi kita tidak menutup mata sekarang di Indonesia banyak juga pondok salafi. Yang mengembangkan ajaran Wahabi dan sebagainya, yang kemudian di Jerman sendiri ajaran ini menyebabkan timbulnya ekstrimisme secara meningkat.

Misalnya saja yang sudah terang-terangan dulu pondoknya Abu Bakar Ba'asyir. Sampai mengeluarkan buku bahwa pemerintah Indonesia adalah thogut, polisinya thogut. Tentu ajaran ini menyebabkan santrinya menjadi radikal. Tidak ada toleransi sama sekali," jelasnya.

Kendati demikian, Kiai Safruddin menegaskan jika terorisme bukan hanya dari kesalahan mempelajari agama Islam. Tetapi terorisme muncul dari pemahaman agama yang keliru.

"Saya ingin mengatakan bahwa teroris tidak hanya dari ajaran agama Islam, bahwa itu bisa timbul dari kesalahan mempelajari agama Hindu, misalnya di suku Hindu di India.

Kemudian juga di sana banyak yang menghancurkan masjid, suku Rohingya Muslim dihancurkan oleh lingkungannya yang Buddha. Kemudian juga ada di Eropa penyimpangan dari ajaran Nasrani," ungkapnya.

"Ini artinya kesalahan dalam mempelajari agama itu dapat menyebabkan orang menjadi teroris. Walaupun tidak satu-satunya. Maka kita minta bahwa ulama harus sering mengajarkan agamanya yang benar. Karena semua agama tidak mengajarkan kekerasan," tambah Kiai Safruddin.

Untuk itu, Kiai Safruddin mengajak seluruh pihak untuk bekerja sama dalam memerangi terorisme. "Artinya kita harus kerja sama bila ada orang yang mencurigakan segera dilaporkan, karena paham ini dapat diakses melalui internet dan kita gak mungkin menghalangi.

Kalau melihat orang yang sedang ke arah teroris itu harus segera kita tindak. Yakni ke depannya tentu Densus 88 bisa bergerak dengan adil dan bijaksana. Maksud saya kalau ada pondok yang tidak sesuai ajaran Islam, tentu harus segera ditindak.

Jadi imbauannya kita harus mengajarkan agama yang benar," imbau Kiai Safruddin.

Selain itu, dia juga berharap masyarakat Indonesia yang hendak belajar ilmu agama apapun agar bisa belajar dari guru yang tepat.

"Jadi alangkah baiknya kita mencari guru yang benar dan membantu pemerintah bagaimana supaya teroris ini tidak bisa menjadi pengantin, yakni ngebom sana sini. Kemungkinan laporan dari masyarakat ini dapat menyelamatkan Indonesia dari gerakan teroris.

Serta kita harus menjelaskan kepada Densus 88 yang masuk ke pesantren, bahwa pesantren yang dimaksud itu seperti apa agar masyarakat tidak mencap jelek pada pesantren tersebut," pungkasnya. (sun/bdh)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Jajaran Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri kembali menggelar operasi anti teror di DIY. Kali ini, sebuah kantor bernama Syam Organizer di Jalan Suryodiningratan, Kumendaman, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta digeledah, Minggu (4/4).
 
Pantauan kumparan di lokasi, penggeledahan dilakukan pukul 13.00 WIB hingga sekitar pukul 18.30 WIB. Sementara gerbang depan bangunan diberi garis polisi.
 
Densus 88 Geledah Kantor Syam Organizer di Kota Yogya, Sita Dokumen 1 Truk (1)
Kantor Syam Organizer di Jalan Suryodiningratan, Kumendaman, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta digeledah Densus 88 Mabes Polri. Satu truk dokumen disita. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
 
"Saya tadi diminta untuk kulo nuwun dari Densus 88 untuk menyaksikan penggeledahan di Syam Organizer. Jadi saya hanya seperti kulo nuwun untuk mendampingi Densus 88," kata Ketua RT 30 RW 08, Kumendaman, Setyo Karjono, ditemui di rumahnya.
 
Setyo kemudian turut menyaksikan petugas menggeledah seluruh ruang di kantor dua lantai tersebut. Dari ruang-ruang tersebut, didapati banyak berkas dan peralatan kantor. Saking banyaknya, berkas yang dibawa sampai satu truk.
 
"Isinya apa saja kurang tahu persis karena urusan Densus 88. Terlihat cukup banyak dokumen dan peralatan kantor. Kebanyakan dokumen-dokumen. Sampai satu truk, cukup banyak dari jam 1 sampai malam karena segala dokumen," ujarnya.
 
Densus 88 Geledah Kantor Syam Organizer di Kota Yogya, Sita Dokumen 1 Truk (2)
Kantor Syam Organizer di Jalan Suryodiningratan, Kumendaman, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta digeledah Densus 88 Mabes Polri. Satu truk dokumen disita. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
 
Sementara peralatan kantor yang dimaksud adalah komputer, laptop hingga banyak kaleng yang Setyo tak tahu isi detailnya. Sedangkan untuk senjata tajam, Setyo mengatakan tidak ditemukan di kantor tersebut.
 
"Ada kaleng-kaleng gitu saya kurang tahu (detainya). Ya seperti kaleng donasi, kurang tahu ada uangnya (atau tidak). Kalau dokumen, ya, dokumen keuangan," ujarnya.
 
Ketika penggeledahan itu, Setyo menuturkan ada dua orang di dalam kantor. Orang tersebut kemudian diminta untuk menunjukkan ruangan-ruangan yang ada. Akan tetapi, dia tidak tahu apakah orang tersebut kemudian turut diamankan atau tidak.
 
"Dua orang sudah ada disitu sebelum penggeledahan yang nunggu di situ kayaknya. Setelah apakah kemudian dua orang menunggu di situ, dibawa (petugas) saya kurang tahu. Karena langsung disingkirkan. Dia sempat ikut masuk menunjukkan ruangan siapa saja," ujarnya.
 
Densus 88 Geledah Kantor Syam Organizer di Kota Yogya, Sita Dokumen 1 Truk (3)
Kantor Syam Organizer di Jalan Suryodiningratan, Kumendaman, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta digeledah Densus 88 Mabes Polri. Satu truk dokumen disita. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
 
Aktivitas Kantor Ada Sejak Akhir 2019
 
Setyo menjelaskan Syam Organizer mulai berkantor di bangunan tersebut pada akhir 2019, namun, tidak melapor ke pihaknya. Warga juga tidak tahu aktivitas kantor tersebut karena tertutup.
 
"Saya kurang tahu karen mereka agak tertutup juga,. Sebelumnya kan dipakai untuk percetakan. Hanya tahu sebatas kantor. Setahu kami kantor LSM," ujarnya.
 
"Saya kurang tahu bergerak di apa. Aktivitas di kampung juga kurang. Srawungnya (tegur sapa) kurang," tutur Setyo.
 
Sementara itu, Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Purwadi Wahyu Anggoro saat dikonfirmasi soal penyitaan Densus 88 tidak memberikan jawaban.
Diterbitkan di Berita

Tim detikcom - detikNews Jakarta - Densus 88 Antiteror menangkap sejumlah teroris pasca-bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, di beberapa tempat. Di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang Selatan sendiri ada 5 orang yang ditangkap terkait jaringan teroris tersebut.

Kelimanya mengaku sebagai simpatisan FPI. Beberapa di antaranya mengaku hendak meledakkan industri-industri China di Indonesia hingga SPBU.

Dari video yang diterima detikcom, Sabtu (3/4/2021), teroris bernama Ahmad Junaidi mengaku sebagai simpatisan FPI dan kerap mengikuti pengajian sepulang Habib Rizieq Shihab ke Indonesia beberapa waktu lalu.

Ahmad Junaidi sebelumnya diamankan tim Densus 88 Antiteror di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, pada Senin (29/3) lalu. Ahmad Junaidi mengaku rutin mengikuti pengajian yang dipimpin oleh Habib Husein Hasni di Condet, Jaktim, yang juga ditangkap tim Densus 88 Antiteror.

Hendak Ledakkan Industri China

"Saya Ahmad Junaidi salah satu anggota simpatisan FPI, semenjak Habib Rizieq pulang ke Indonesia dan saya juga tergabung di dalam jemaah pengajian di bawah pimpinan Habib Husein Hasni Condet dan diadakan setiap malam Jumat bergilir ke rumah-rumah semua anggota jemaah pengajian," ujar Ahmad Junaidi.

Menurut Ahmad Junaidi, seusai pengajian, banyak dibahas tentang keadaan negara yang dikuasai oleh China. Ahmad Junaidi juga mengaku menjemur bahan peledak dari aseton dan HCl di rumahnya.

"Setelah kajian, kami banyak membahas tentang keadaan negara yang sudah dikuasai oleh China, masalah kekayaan alam, serta kekuatan-kekuatannya sudah dikuasai oleh China.

Akhirnya teman saya bernama Bambang dan Agus memberikan semangat untuk mengajak melakukan peledakan di industri-industri China yang ada di Indonesia.

Saya pun pernah dihubungi untuk menjemur serbuk bahan peledak yang dari acetone dan HCl selama 3 hari di rumah, lalu saya serahkan kembali kepada Agus. Setelah itu, saya kumpulkan kembali menjadi 3 stoples dalam bentuk serbuk yang sudah kering.

Dan adapun pengajian mengajak kami untuk pergi ke Sukabumi ke Abah Popon untuk pengisian untuk jaga-jaga keamanan diri masing-masing," jelas Ahmad Junaidi.

Bikin Bom Pasca-212

Sementara itu, Zulaimi Agus mengaku membuat bahan peledak jenis TATP. Zulaimi Agus ditangkap di Serang Baru, Cibarusah, Kabupaten Bekasi, pada Senin (29/3). Di rumah kontrakan Zulaimi Agus, tim Densus 88 Antiteror menemukan sejumlah bahan peledak aktif saat itu. Zulaimi Agus mengaku belajar membuat bom setelah kerusuhan di depan Bawaslu pada 21 Mei 2019.

"Saya belajar membuat TATP atau acetone peroxide sejak pasca-kerusuhan Mei 212 di depan Bawaslu. Sudah mencoba lima kali membuat di bengkel Sinergi Motor Serang Baru, Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Saya belajar membuat bahan tersebut dari blog internet dengan cara mengaktifkan VPN," kata Zulaimi Agus.

Zulaimi Agus termotivasi membuat bahan peledak karena ingin menegakkan keadilan dengan cara sendiri terhadap tindakan Brimob kepada demonstran 212.

 

Pengakuan teroris di Jakarta: Rencanakan Peledakan Industri China-SPBU. Foto dari screenshot video yang dikirim orang densus.
Zulaimi Agus mengaku membuat bahan peledak jenis TATP. (dok. Istimewa)

 

"Motivasi saya membuat TATP saya merasa negara ini sudah tidak ada keadilan, saya ingin membalas. Sebetulnya bukan ingin membalas, saya ingin menegakkan keadilan dengan cara saya sendiri atas tindakan aparat Brimob yang berlaku sewenang-wenang terhadap demonstran kerusuhan Bawaslu 2019," katanya.

"Saya bergabung dengan FPI tahun 2019 wilayah DCP Serang Baru, Kabupaten Bekasi sebagai Wakadit Jihad. Saya bergabung dengan Majelis Ratib Yasin Waratib diajak oleh Bambang alias Abi dikenalkan Habib Husein, saya mengajarkan cara membuat TATP tersebut kepada Habib Husein, Malik, Noval, Bang Heri, Bang Jun di rumah Habib Husein di garasi," katanya.

Zulaimi Agus kemudian mengajarkan tahapan membuat bahan peledak di hadapan teman-temannya. Namun, dari sekian yang hadir, hanya Habib Husein yang kemudian menanyakan lebih lanjut soal bahan peledak tersebut.

"Tahapan yang saya ajarkan kepada mereka mencampurkan bahan acetone cair dan H2O cair dan HCl sekaligus hingga menyebabkan terjadinya letupan. Setelah hal itu terjadi membuat mereka yang ada di situ yang lagi belajar terlihat seperti kapok, karena ada letupan jadi.

Setelah saya pulang ke rumah hanya Habib lah yang menelpon saya menanyakan bahannya kesalahannya ada di mana.

Pada Februari saya berangkat ke Sukabumi bersama grup jamaah Ratib Yasin Warotib tujuannya minta doa dan isi ilmu kebal, adapun jemaah yang diisi itu saya, Bang Jun, Habib, Malik, Bambang, Bang Jeri, dan Jati," paparnya.

 

Rencanakan Serangan di SPBU

Selanjutnya, teroris Bambang Setiono mengaku menjadi simpatisan FPI sejak Desember 2020. Pria yang ditangkap di sebuah mal di Pademangan, Jakarta Utara, pada Senin (29/3) itu mengaku merencanakan penyerangan di SPBU.

"Saya Bambang Setiono menjadi simpatisan FPI sejak awal Desember 2020. (Keterlibatan saya) membuat bahan dari black powder dari Zulaimi Agus di Sukabumi. Merencanakan aksi penyerangan kepada SPBU dengan bom molotov untuk menuntut bebas HRS," kata Bambang.

Bambang juga mengetahui pembuatan bahan peledak Zulaimi Agus atas perintah Habib Husein Hasni di Condet, Jaktim. Ia juga ikut merencanakan aksi pelemparan bom kepada orang Tionghoa.

"Merencanakan aksi penyerangan dengan ketapel dan peluru gotri jika terjadi kerusuhan saat demo. Merencanakan pemberian serbuk HClO3 kepada setiap DPC dan DPW wilayah Bandung melalui Habib Nabil dan wilayah Brebes melalui Habib Hasan," tuturnya.

Bambang juga mengaku mengetahui rencana penyerangan Habib Husein Hasni kepada anggota kepolisian.

 

Pengakuan teroris di Jakarta: Rencanakan Peledakan Industri China-SPBU. Foto dari screenshot video yang dikirim orang densus.
Bambang Setiono (dok. Istimewa)

 

"Mengetahui rencana penyerangan air keras oleh Habib Husein Hasni kepada petugas kepolisian. Berencana mengajarkan laskar-laskar FPI cara membuat bahan acetone," katanya.

"Melakukan pertemuan sebanyak 3 kali di Cibadak, Sukabumi, tempat Ahmad Dimiati alias Abah Popon bersama Habib Husein Hasni, Zulaimi Agus, Jati, Jeri Junaedi, Ipul, Noval, Malik, Habib Al Jufri, Asep Komara, Angga Putra, untuk mengisi ilmu kebal dan kebatinan.

Mengetahui penunjukan sebagai tim eksekutor untuk penyerangan menggunakan bom lempar kepada anggota kepolisian, bersama Jeri, Ahmad Junaedi, Malik, Jati, Noval, Ipul, laskar FPI," sambungnya.


Ditawari Jadi Eksekutor Pelemparan Molotov

Sementara itu, Wiloso Jati mengaku sebagai laskar FPI DPC Jagakarsa pada 2019. Wiloso Jati bergabung dengan Habib Husein Hasni pasca-penangkapan Habib Rizieq Shihab dan pembubaran FPI.

"Saya Wiloso Jati. Saya adalah anggota FPI. Jabatan terakhir saya di FPI adalah sebagai laskar di DPC Jagakarsa tahun 2019. Saya bergabung dengan kelompok Habib Husein pasca-penangkapan Habib Rizieq Shihab dan pembubaran FPI.

Saya pernah ditawari sebagai eksekutor untuk melemparkan bom molotov oleh Bambang Setiono. Kemudian juga pernah sedikit belajar untuk cara pembuatan bom dari Zulaimi Agus.

Habib juga pernah memerintahkan kepada anggota mengisi ilmu kebal di Sukabumi di tempat Haji Popon sebagai pembekalan untuk persiapan aksi," kata Wiloso Jati.

 

Pengakuan teroris di Jakarta: Rencanakan Peledakan Industri China-SPBU. Foto dari screenshot video yang dikirim orang densus.
Wiloso Jati (dok. Istimewa)

 

(mei/hri)

Diterbitkan di Berita
Ainur Rofiq - detikNews Bojonegoro - Densus 88 menangkap seorang terduga teroris di Kudus, Jawa Tengah. Rumahnya di Bojonegoro kemudian digeledah dan ditemukan 16 buku paham radikal serta jihad.

Terduga teroris itu berinisial AP (30), warga Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Bojonegoro. Sore tadi, Densus 88 melakukan penggeledahan di rumah istrinya di Desa Ngujung, Kecamatan Temayang.

"Iya tadi saya disuruh ikut menyaksikan proses penggeledahan di rumahnya. Ada ditemukan 16 buku paham radikal dan jihad. Satu buah kaus yang ada tulisannya Laa Ilaha Illallah dan HP," jelas Kades Ngujung, Eko Purwanto kepada detikcom, Jumat (2/4/2021).

Eko menambahkan, tim Densus 88 melakukan penggeledahan sekitar pukul 16.30 WIB. Sebelumnya, petugas juga melakukan penggeledahan di rumah orang tua terduga teroris itu di Desa Kedungsumber.

"Sebelum ke rumah istrinya, penggeledahan dilakukan di rumah orang tuanya," imbuh Eko.

Terduga teroris itu ditangkap saat hendak berangkat kerja. Tepatnya di Jalan Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. AP diamankan Densus 88 sekitar pukul 13.00 WIB. (sun/bdh)

Diterbitkan di Berita

tagar.id Jakarta - Semua orang dilahirkan dalam keadaan suci, netral. Tidak ada orang dilahirkan sebagai teroris, tapi kenyataannya ada teroris di sekitar kita, tampilan fisik religius tapi mampu membawa bom untuk membunuh diri sendiri dan orang lain.

Terbaru bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 28 Maret 2021. Tiga hari kemudian teroris lone wolf, sendirian membawa senjata api menyerang Mabes Polri. 

Karena pemahaman yang keliru.

Persamaan dua kasus tersebut, dalam peristiwa Katedral Makassar, dua pelaku berinisial L dan YSR, pasangan suami-istri muda, laki-laki menutupi kepalanya dengan sorban motif kotak-kotak warna hitam putih, YSR berpakaian tertutup dan berjilbab dengan cadar. Lone wolf, pelaku tunggal teror di Mabes Polri juga berjilbab, bercadar. Simbol pakaian religius, agamis, lambang ketaatan seseorang pada perintah agama.

Tapi, bagaimana mungkin orang-orang yang taat beragama bisa menjadi pelaku teror. 

Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengatakan kepada wartawan, Kamis, 1 April 2021, seseorang bisa berubah menjadi teroris karena salah dalam memahami agama.

"Karena pemahaman yang keliru," ujar Robikin Emhas.

 

Teror Mabes Polri

Infografis Teror Mabes Polri. (Sumber: LKBN Antara)

 

Tidak ada agama yang membenarkan perilaku sadis terorisme, kata Robikin. Kalau seseorang melakukan teror dengan mengatasnamakan agama, itu karena kesalahan dalam memahami agama. "Agama apa pun tidak ada yang mengajarkan teror."

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Said Aqil Siradj mengatakan kalau semua pihak berwenang sungguh-sungguh ingin membasmi terorisme sampai akar-akarnya, harus melarang ajaran Wahabi dan Salafi.

"Kalau kita benar-benar sepakat, satu barisan ingin menghadapi, menghabiskan atau menghabisi jaringan terorisme dan radikalisme, benihnya dong yang harus dihadapi. Benihnya, pintu masuk yang harus kita habisi. Apa? Wahabi. Ajaran Wahabi itu pintu masuk terorisme di Indonesia," ujar Said Aqil.

Kalau Wahabi sudah bilang ini musyrik, ini bid'ah, ini enggak boleh, ini sesat, ini dholal, ini kafir, kata Said Aqil, "Itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi, sudah halal darahnya boleh dibunuh. Jadi benih pintu masuk terorisme adalah Wahabi dan Salafi. Wahabi dan Salafi adalah ajaran ekstrem."

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co

Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror kembali menangkap dua terduga teroris di Jakarta. Sehingga, total terduga teroris yang diamankan hingga hari ini di Jakarta berjumlah tujuh orang.

Karopenmas Div Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, penangkapan terhadap keduanya itu dilakukan pascabom bunuh diri yang terjadi Gereja Katedral Kota Makassar pada Minggu (26/3) kemarin.

“Untuk penahanan lain di NTB tetap 5, di Jatim ada 2 yang diamankan, di Jakarta sudah 7 yang Condet dan Bekasi. Sekarang jumlahnya sudah 7 yang diamankan Densus 88, dan tentunya kasus-kasus akan terus dikembangkan diusut tuntas. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu bagian bagaimana masalah terorisme di tanah air bisa ditangani,” kata Rusdi di Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (1/4).

Namun, Rusdi belum bisa menyebut termasuk pada jaringan mana tujuh terduga teroris yang sudah ditangkap di Jakarta dan sekitarnya.

“Ini belum diketahui untuk Jakarta jaringan mana, masih didalami oleh Densus. Nanti apabila sudah tuntas tugas Densus, rekan-rekan akan tahu ini jaringan mana dan jaringan mana,” ungkapnya.

Lalu, untuk di Makassar sendiri. Sudah sebanyak 18 terduga teroris yang diamankan pasca kejadian bom bunuh diri. Mereka yang diamankan tersebut, termasuk dalam kelompok Villa Mutiara.

Sehingga, total secara keseluruhan yang sudah diamankan pascabom bunuh diri di Gereja Katedral Kota Makassar berjumlah 32 orang.

“Telah diamankan sampai siang hari ini 18 yang diduga terlibat di dalam kasus Gereja Katedral di Makassar, khususnya ini kelompok Villa Mutiara. Sudah 18 dan salah satu otak pembuat bom yang digunakan untuk meledakkan saudara W ini laki-laki telah turut diamankan. Kasus tetap dikembangkan terus, diusut. Sehingga betul-betul kelompok Villa Mutiara ini bisa dituntaskan,” katanya.

Diterbitkan di Berita