Liputan6.com, Jakarta Satgas Madago Raya masih melakukan pengejaran terhadap kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora yang menewaskan empat warga di Desa Kalimago, Poso, Sulawesi Tengah.

"Saat ini tim Satgas Madago Raya masih melakukan penyisiran dan pengejaran," tutur Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto saat dikonfirmasi, Rabu (12/5/2021).

Menurut Didik, identitas para korban berinsial MS, S, P, dan L. Jasad mereka ditemukan di areal perkebunan dengan jarak potong kompas 16 kilometer dan jarak tempuh dari Polsek terdekat estimasi 45 menit.

"Waktu kejadiannya Selasa, 11 Mei 2021 sekitar pukul 08.25 Wita," kata Didik

Luka di Leher

Para korban sendiri mengalami luka yang mirip dengan korban-korban MIT sebelum-sebelumnya, yakni luka di bagian leher.

"Salah satu saksi mengaku melihat seorang pelaku yang mirip dengan anggota MIT seperti yang termuat dalam DPO aparat," Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol. Didik Supranoto mengatakan, Selasa petang (11/5/2021).

Didik juga mengungkapkan berdasarkan keterangan warga yang selamat dari aksi kekerasan itu, pelaku berjumlah lima orang dan langsung kabur usai beraksi.

Diterbitkan di Berita

rizaldhani suaraislam.co Kabag Penum Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan menyatakan tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri telah menciduk satu orang terduga teroris yang masuk daftar pencarian orang (DPO) berinisial YI. Adapun terduga teroris YI ialah ketua tim pengamanan Petamburan.

Kabag Penum Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan menjelaskan terduga teroris yang ditangkap ini memiliki peran merencanakan dan membuat bom di rumah HH.

Diketahui, HH diduga ialah Husein Hasni yang ditangkap Detasemen Khusus (Densus 88) di Condet mengakui sebagai anggota Front Pembela Islam (FPI).

Melansir Media Indonesia, Husein Hasni yang juga memiliki jabatan di FPI sebagai Sekretaris Wakil Bidang Jihad Wilayah Jakarta Timur.

Yang bersangkutan ikut alam percobaan bom di Ciampea bogor. Terus mengetahui pembelian remot dan aseton,” tuturnya.

Kemudian selanjutnya tersangka akan dibawa ke Polda Metro Jaya untuk diinterogasi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ahmad menyebutkan YI ditangkap pada Kamis (6/5). Terduga teroris YI merupakan warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ditangkap di Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi.

Pemburuan terduga teroris ini terkait dengan penangkapan empat terduga teroris di wilayah Jakarta, Bekasi dan Tangerang pada 29 Maret 2021 lalu. Keempat terduga tersebut adalah BS, AJ, ZA dan WJ.

Tiga dari empat tersangka teroris mengaku simpatisan organisasi yang dilarang oleh pemerintah.

Bahkan ketiganya membuat video pengakuan terkait rencana teror yang akan dilakukan dengan meledakkan tempat usaha milik pengusaha China dan SPBU.

Diterbitkan di Berita

TIMIKA, iNews.id - Aksi pembakaran dan perusakan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Ilaga Utara, Kabupaten Puncak, Papua mendapat bantuan dari beberapa warga.

Mereka simpatisan KKB. Informasi yang diperoleh iNews dari warga setempat, saat aksi pembakaran dan perusakan terjadi, terlihat banyak simpatisan KKB yang ikut membantu. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok.

BACA JUGA: KKB Kembali Bakar Gedung SD dan Rusak Jalan di Distrik Ilaga Puncak

Mereka membakar gedung SD Mayuberi, rumah dinas guru, dan bekas gedung puskesmas yang dipakai warga untuk kios sementara.

Kemudian kelompok lain melakukan perusakan di tiga titik jalan yakni Jalan Kimak, Jalan Tagaloa dan Jalan Wuloni (Pintu Angin) dengan cara menggali ruas jalan hingga kedalaman 25-40 cm.

"Saat kelompok pertama melakukan pembakaran puskesmas dan dilanjutkan membakar SD Mayuberi, kelompok lain bertugas merusak tiga titik jalan, jalan Mayuberi, jalan Kimak, jalan Wuloni," kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmd Musthofa Kamal dalam keterangannya.

Detik-Detik Deklarasi Penandatanganan Papua Damai Kamal menambahkan, saat perusakan dan pembakaran terjadi, kelompok yang memegang senjata berada di pinggir jalan mengamankan para simpatisan.

"Dan kelompok yang bersenjata berada di pinggir jalan mengamankan simpatisan yang bekerja merusak fasilitas umum tersebut," tuturnya. Aksi brutal KKB itu terjadi pada Minggu (2/5/2021).

Namun baru diketahui kepolisian pada Senin (3/5/2021) setelah Kepala Distrik Ilaga Utara, Joni Elatotagam mendatangi Polres Puncak untuk melaporkan aksi brutal KKB tersebut.

Editor : Reza Yunanto

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Penyidik Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri disebut memiliki hak untuk tidak memberikan izin kepada eks Sekretaris Umum FPI Munarman untuk menemui atau didampingi kuasa hukumnya.

"Karena kan tentunya itu hak dari penyidik. Ketika masih belum harus didatangi oleh penasihat hukum itu menjadi bagian daripada penyidik untuk kepentingan penyidikan," tutur Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Rusdi Hartono kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Senin (3/5).

Kendati demikian, dia memastikan polisi akan memberikan akses bagi pengacara Munarman untuk mendampingi. Hanya saja, itu dilakukan nanti usai yang bersangkutan menjalani pemeriksaan intensif oleh Densus.

"Tentunya ke depan itu nanti [Munarman] akan didampingi oleh kuasa hukum," kata dia.

Dia menjelaskan, Munarman pun masih dalam status penangkapan. Sehingga, menurutnya Densus punya waktu 21 hari untuk melakukan pendalaman pascapenangkapan.

Sebelumnya, kuasa hukum Munarman, Ichwan Tuankotta mengeluhkan bahwa hingga Jumat (30/4) pihaknya belum dapat menemui Munarman yang sudah ditangkap sejak tiga hari lalu. Oleh sebab itu, Ichwan belum mengetahui bagaimana kondisi Munarman usai ditangkap sampai saat ini.

"Iya. Baik dari pengacara sama keluarga belum ada yang dapat akses sampai saat ini untuk menemui pak Munarman," kata Ichwan kepada CNNIndonesia.com, Jumat (30/4).

Ichwan bercerita bahwa salah satu pengacara Munarman sempat mengunjungi Polda Metro Jaya pada Kamis (29/4). Namun, upaya tersebut tak membuahkan hasil untuk bertemu eks Sekretaris Umum FPI itu.

Munarman sebelumnya ditangkap Densus 88 di rumahnya di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan pada Selasa (27/4) kemarin. Dia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan terorisme. Hingga saat ini polisi juga belum menerbitkan surat penahanan untuknya.

Diketahui, Pasal 115 angka (1) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHP) menyebutkan penasihat hukum dapat mengikuti jalannya pemeriksaan dengan cara melihat serta mendengar pemeriksaan pada tahap penyidikan.

Artinya, penyidik punya kewenangan untuk tidak memberi izin penasihat hukum untuk mengikuti pemeriksaan.

(mjo/ain)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Zulfa Mustofa menyebut penganut paham Salafi dan Wahabi hanya berjarak selangkah dari terorisme.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut banyak pelaku terorisme di Indonesia berpaham Wahabi dan Salafi.

Menurutnya, Salafi dan Wahabi memegang doktrin al-wala wal-bara atau ajaran kawan dan lawan. Konsep itu, kata dia, memiliki keyakinan hanya pemahaman Islam versi mereka saja yang benar, sementara yang lain salah.

"Di sana ada konsep Al-Wala Wal-Bara. Konsep ini memposisikan orang itu dia harus mencintai seseorang yang satu paham, dan memusuhi orang yang tak sepaham," kata Zulfa kepada CNNIndonesia.com, Jumat (30/4).

Zulfa menjelaskan doktrin tersebut membuat pengikut Salafi dan Wahabi mudah memusuhi atau mengkafirkan orang lain. Bahkan sesama umat Islam sendiri yang tak sepaham dengan ajaran tersebut bisa dimusuhi.

Tak jarang, kata dia, Wahabi dan Salafi turut memusuhi orang yang dianggap tak mengerti sunah, seperti tak memelihara jenggot dan memusuhi orang yang dianggap mengerjakan bidah.

Doktrin itu pula, kata Zulfa yang membuat Wahabi-Salafi dekat atau selangkah lagi menuju terorisme.

"Itu dalam ajaran mereka ini orang pelaku bidah lebih berbahaya dari orang kafir. Itu jelas sudah menanamkan permusuhan dan kebencian," kata Zulfa.

"Itu selangkah lagi masuk dalam terorisme. Karena sudah ditanamkan kebencian dan permusuhan," tambahnya.

Lebih lanjut, Zulfa mengkategorikan paham Wahabi-Salafi dekat dengan paham kaku dalam memahami teks. Meski demikian, tak jarang dari mereka yang masih memiliki sisi 'moderat' dalam beragama. "Tapi umumnya kaku," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid mencatat bahwa kebanyakan teroris yang ditangkap merupakan pemeluk Islam serta memiliki latar belakang paham keagamaan wahabi dan salafi yang jihadis.

Meski begitu, Ahmad menegaskan tak semua pemeluk wahabi dan salafi memiliki ideologi sebagai teroris. Ia menyatakan masih banyak pemeluk wahabi dan salafi yang menjalankan perintah agama sesuai ketentuan yang berlaku dan tak menyimpang.

"Mereka semua, mohon maaf dengan segala hormat, mereka bermahzab salafi wahabi. Yang kita tangkap ini salafi wahabi jihadis, yang jadi kombatan," kata Ahmad.

(rzr/bmw)

Diterbitkan di Berita
Aditya Prayoga HALLO BOGOR - Tim Densus 88 Antiteror telah menangkap Munarman, mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI), di Perumahan Modern Hills, Pamulang, Tangerang Selatan pada Selasa, 27 April 2021, sekira jam 15.30 WIB.

Diduga, Munarman terlibat dalam kasus tindak pidana terorisme, yaitu baiat yang dilaksanakan di sejumlah tempat, beberapa waktu yang lalu.

Tempat pembaiatan di UIN Jakarta, baiat di Makassar dan baiat di Medan. Jadi, ada tiga hal tempat kasusnya. Saat ini polisi masih terus melakukan pendalaman terhadap Munarman.

Usai penangkapan Munarman, Polri mendapat dukungan dan apresiasi dari warga. Hal itu dibuktikan dengan mengirimkan karangan bunga kepada Polri yang telah menangkap Munarman.

Karangan bunga berjejer di luar Gedung Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Karangan bunga berdatangan sejak Rabu pagi, 28 April 2021.

"Bravo Polri. Selamat atas penangkapan Munarman,” begitu tulisan karangan bunga dari Fitness dan Supply yang dikutip Hallobogor.com dari Tribrata News pada Kamis, 29 April 2021.

Publik berterima kasih kepada Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo lantaran menumpaskan teroris di Indonesia.

“Teroris tenggelamkan. Indonesia aman. Hidup TNI-Polri,” karangan bunga dari PT Sinar Permata.

Kemudian, karangan bunga dari Peter yang mengharapkan agar aparat Kepolisian tidak memberi ruang gerak kepada kelompok teroris di Tanah Air ini.

“Tumpas semua bibit teroris di negara kita tercinta,” begitu tulisannya.***

Diterbitkan di Berita

Ouagadougou, IDN Times - Sebuah kabar pilu diterima oleh Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, pada hari Selasa (27/4). Pemerintah Burkina Faso yang mengirimkan kabar dan memberitahu bahwa dua warga Spanyol tewas di negara Afrika tersebut.

Perdana Menteri kemudian mengkonfirmasi kematian dua warganya yang bekerja sebagai jurnalis. Melalui unggahan di akun media sosialnya, ia menyebutkan nama dua orang itu adalah David Beriain dan Roberto Fraile.

Burkina Faso melaporkan ada empat orang yang hilang dalam sebuah penyergapan ketika satgas satwa liar melakukan patroli. Tiga di antaranya adalah orang asing yang terdiri dari dua warga Spanyol dan satu lagi warga Irlandia Utara. Satu orang lagi warga Burkinabe masih hilang.

1. Jurnalis Spanyol sedang membuat film dokumenter
 
 

Namun ketika sedang bekerja di hutan taman nasional, mereka disergap oleh kelompok bersenjata. Satgas satwa liar yang bersama mereka telah mencoba melindungi dengan terlibat baku tembak. Saat baku tembak itu terjadi, karena kalah jumlah, pasukan keamanan tidak menyadari bahwa orang asing yang ada di rombongan mereka telah diculik. Peristiwa itu terjadi pada hari Senin, 26 April 2021.

Satgas satwa liar adalah gabungan dari pasukan militer, polisi dan polisi hutan. Mereka baru menjalani pelatihan dan baru memulai operasi di kawasan konservasi. Dua personel  mengalami luka tembak di kaki dan tangan dan harus di amputasi. Sedangkan satu personel lainnya masih belum ditemukan.

Burkina Faso, seperti sebagian besar negara yang berada di wilayah Sahel, menghadapi kelompok ekstrimis yang berafiliasi dengan Al-Qaeda dan ISIS. Kelompok tersebut secara berkala melakukan serangan terhadap tentara dan warga sipil.

2. Rombongan memasuki wilayah yang berbahaya

 

 

Warga Irlandia yang juga menjadi satu dari tiga orang asing yang tewas, adalah pelatih dari dua jurnalis Spanyol tersebut. Mereka sedang membuat film dokumenter tentang bagaimana otoritas Burkina Faso menangani perburuan, dan bagaimana pemerintah memberdayakan komunitas penduduk yang tinggal di cagar alam.

Mereka melakukan perjalanan bersama dengan rombongan gabungan pasukan yang bertugas dan memasuki wilayah yang berbahaya. Melansir dari laman El Pais, Arancha Gonzalez Laya, Menteri Luar Negeri Spanyol dalam konferensi pers di Madrid mengatakan "itu adalah daerah berbahaya tempat teroris, bandit, dan jihadis biasanya beroperasi."

Rombongan jurnalis dan para penjaga sedang melakukan liputan dengan menerbangkan drone untuk merekam tempat tersebut yang bernama Taman Nasional Arly. Tapi tak berapa lama, kelompok bersenjata dengan dua truk dan lusinan sepeda motor datang menyergap, membuat rombongan jurnalis bubar dan berantakan. Baku tembak pun terjadi.

Satu jurnalis asing berhasil selamat dengan beberapa personel satgas lainnya sedangkan tiga orang asing, dua warga Spanyol dan satu dari Irlandia, hilang. Satu orang tentara lokal hingga kini nasibnya belum diketahui. Awalnya mereka dilaporkan diculik.

Fraile, salah satu jurnalis Spanyol yang tewas, telah meliput beberapa konflik sebagai juru kamera lepas. Dia juga pernah meliput konflik di Suriah dan pernah terluka oleh proyektil peluru di panggulnya pada tahun 2012. Dia bisa selamat saat itu.

3. Kelompok jihadis mengaku bertanggung jawab atas serangan

Melansir dari laman Associated Press, Jamaah Nusrat ul-Islam wa al-Muslimin (JNIM) yang terkait dengan al-Qaeda, mengaku bertanggung jawab atas penyergapan tersebut. "Kami membunuh tiga orang kulit putih. Kami juga mendapat dua kendaraan bersenjata, dan 12 sepeda motor," kata sebuah pesan audio yang diterima oleh Associated Press.

Jihadis yang telah beroperasi di Burkina Faso, baik itu yang berafiliasi dengan al-Qaeda atau ISIS, telah membuat banyak penduduk setempat mengungsi. Ribuan warga sipil juga telah menjadi sasaran selama konflik berlangsung. Mereka juga menculik warga negara asing untuk meminta tebusan.

Heni Nsaibia, salah satu peneliti konflik bersenjata setempat mengatakan bahwa "warga negara asing adalah target yang lebih disukai untuk digunakan sebagai alat tawar-menawar dengan imbalan tebusan," jelasnya.

Diterbitkan di Berita

PR BEKASI - Mantan Juru Bicara PSI Dedek Prayudi atau Uki merasa heran dengan sikap para kader Partai Demokrat terhadap penangkapan eks Petinggi FPI Munarman oleh Densus 88 Antiteror.

Pasalnya, Uki menilai respon tak biasa ditunjukkan para kader Demokrat ketika mengetahui Munarman ditangkap.

Hal tersebut, diungkapkan Uki melalui cuitan di akun Twitter pribadinya, Rabu, 28 April 2021.

Munarman ditangkap Densus 88, kader @PDemokrat seperti kebakaran jenggot,” ujar Uki, dikutip Pikiranrakyat-Bekasi.com dari @Uki23, Kamis, 29 April 2021.

Melihat hal tersebut, Uki sendiri menjadi curiga adanya suatu ikatan antara Demokrat dengan Munarman.

Ada hubungan apa @PDemokrat dengan manusia yang membaiat teroris-teroris itu?” ucapnya.

Seperti diketahui, penangkapan Munarman oleh Densus 88 Antiteror sedang jadi sorotan publik serta ramai dibicarakan.

Munarman ditangkap Densus 88 Antiteror sekitar pukul 15.30 pada Selasa, 27 April 2021 di Perumahan Modern Hills, Cinangka, Pamulang, Tangerang Selatan.

Dengan kondisi mata tertutup dan tangan diborgol, Munarman bersama aparat tiba di Polda Metro Jaya pada pukul 19.40 WIB.

Munarman ditangkap Densus 88 Antiteror karena diduga ikut terlibat dalam tindakan terorisme.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono pada Selasa, 27 April 2021. 

"Munarman diduga menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme, dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme," kata Irjen Pol Argo Yuwono.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan juga turut menyampaikan hal sama terkait alasan penangkapan Munarman tersebut.

"Penangkapan terkait dengan dugaan keterlibatan saudara M yaitu terkait dengan aksi-aksi terorisme yang terjadi di beberapa waktu yang lalu," kata Kombes Pol Ahmad Ramadhan dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Selasa, 27 April 2021.

Kombes Ahmad Ramadhan juga merincikan acara pembaitaan teroris yang diduga Munarman ikut terlibat di dalamnya.

"(Ditangkap terkait) baiat di UIN Jakarta, kemudian juga kasus baiat di Makassar, dan mengikuti baiat di Medan," ujarnya.***

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid mencatat bahwa kebanyakan tersangka teroris yang ditangkap oleh Densus 88 Antiteror Polri dan BNPT merupakan pemeluk Islam dengan latar belakang mazhab Wahabi dan Salafi yang jihadis.

"Mereka semua, mohon maaf dengan segala hormat, mereka bermahzab salafi wahabi. Yang kita tangkap ini salafi wahabi jihadis, yang jadi kombatan," kata Ahmad dalam webinar dengan topik 'Urgensi Standardisasi Dai untuk Penguatan Dakwah Islam Rahmatan lil Alamin' yang digelar MUI secara daring, Selasa (27/4).

Meski begitu, Ahmad menegaskan tak semua pemeluk Wahabi dan Salafi memiliki ideologi sebagai teroris. Ia menyatakan masih banyak pemeluk Wahabi dan Salafi yang menjalankan perintah agama sesuai ketentuan yang berlaku dan tak menyimpang.

Ia pun menyatakan banyak teroris beragama Islam yang ditangkap di Indonesia memiliki Rukun Islam dan Rukun Iman yang sama. Perbedaannya, kata dia, terletak pada rukun ihsan atau pandangan hubungan antarsesama manusia.

"Mereka juga tak sedikit yang hafal Alquran, rukun iman sama, rukun Islamnya sama. Yang membedakan rukun ihsan. Karena mereka anggap iman, Islam, khilafah. Mereka abai," kata dia.

Wahabi adalah aliran dalam Islam yang ditujukan kepada pengikut Muhammad bin Abdul Wahab, yang berpegang teguh pada kebangkitan agama melalui pemulihan Islam ke bentuk "aslinya", serta hanya ada satu Tuhan dan setiap orang harus menyembah-Nya persis seperti yang diperintahkan dalam Kitab Suci.

Sementara Salafi pada zaman modern kerap dikaitkan dengan aliran pemikiran yang mencoba memurnikan kembali ajaran yang dibawa Rasulullah dan perintah Alquran secara literal dari berbagai hal yang bid'ah (tidak dilakukan Rasul), khurafat, dan syirik dalam Islam. Salah satu rujukan utama kaum Salafi adalah mazhab Ahmad bin Hambali atau Hambali.

Terlepas dari itu, Ahmad menekankan bahwa aksi terorisme tak terkait agama apapun. Namun, pemahaman terorisme lahir dari cara beragama yang menyimpang dari oknum beragama tersebut.

"Dari pelaku terorisme tersebut, ini biasanya didominasi oleh umat beragama yang jadi mayoritas di suatu wilayah," kata dia.

Melihat hal itu, Ahmad menegaskan bahwa peran para ulama sangat penting menanggulangi terorisme yang mengatasnamakan agama. Bahkan, kata dia, ustaz merupakan pintu masuk dan keluar paham radikalisme dan terorisme.

Ia pun mendukung upaya MUI untuk melakukan standarisasi dai. Hal itu merupakan elemen yang sangat vital dalam pencegahan radikalisme dan terorisme.

"Urgensi standarisasi dai dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme, kesimpulan saya sangat vital. Karena ustaz pintu masuk dan keluar dari paham radikalisme dan terorisme mengatasnamakan agama," kata dia.

(rzr/gil)

Diterbitkan di Berita

Munarman Ditangkap Polisi!

Selasa, 27 April 2021 17:14

Tim detikcom - detikNews Jakarta - Eks Sekum FPI Munarman ditangkap polisi. Pengacara Habib Rizieq Shihab itu ditangkap di rumahnya.

"Iya, nanti kita sampaikan lebih lanjut. Iya, masih belum dibawa, masih ada pihak polisi di sini," kata pengacara Habib Rizieq, Aziz Yanuar, saat dimintai konfirmasi soal penangkapan Munarman, Selasa (27/4/2021).

Munarman ditangkap sore ini. Belum ada penjelasan soal kasusnya.

Rumah Munarman digeledah polisi. Hingga berita ini diturunkan, petugas masih di kediaman Munarman.
Diterbitkan di Berita