Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jenderal Ahmad Nurwahid kepada VOA, Selasa (21/9) mencontohkan untuk Jamaah Islamiyah saja, berdasarkan keterangan pemimpinnya Para Wijayanto, yang tercatat sebagai anggotanya sebanyak enam ribu orang. Ini belum ditambah dengan jumlah simpatisannya.

"Belum lagi JAD (Jamaah Ansarud Daulah), kemudian kelompok-kelompok lain, misalnya Jamaah Ansarul Khilafah (JAK), kemudian Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Mujahidin Indonesia Barat (MIB), kemudian Forum Jihad Islam (FJI). Makanya kelompok-kelompok radikal, termasuk Majelis Mujahidin, itu juga mendukung aktivitas gerakan ini. Jadi estimasinya keseluruhan jaringan teror maupun simpatisan sekitar itu, hasil analisa kami dengan para penyidik," kata Ahmad.

Kalau dilihat dari kegiatan mereka di dunia maya, lanjut Ahmad, para anggota dan simpatisan beragam kelompok teror di Indonesia sudah melakukan takfiri atau mengkafirkan orang lain yang tidak sependapat. Mereka juga sudah menyatakan dirinya sebagai sosok antipemerintah, pro-khilafah atau anti-Pancasila.

Ahmad menambahkan anggota dan simpatisan berbagai kelompok teror ini juga selalu mengunggah dukungan terhadap jaringan teroris internasional, seperti ISIS (Negara islam Irak dan Suriah) dan Al-Qaida.

 

Tokoh ISIS Indonesia, Oman Rochman alias Aman Abdurrahman saat tampil di pengadilan di Jakarta, 22 Juni 2018.
Tokoh ISIS Indonesia, Oman Rochman alias Aman Abdurrahman saat tampil di pengadilan di Jakarta, 22 Juni 2018.

 

Menurut Ahmad, BNPT bersama Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri terus memonitor anggota dan simpatisan tersebut.

Namun skala prioritasnya adalah mereka yang memang sudah masuk ke dalam organisasi teroris dengan indikatornya adalah berbaiat kepada pemimpin atau ustadnya, terlibat dalam pengajian eksklusif, menjalani latihan perang dan sebagainya.

Kalau indikator-indikator itu sudah terpenuhi maka Densus 88 menangkap mereka sesuai dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Tindak Pidana Terorisme. Sejak beleid ini berlaku tiga tahun lalu, sudah 1.300-an terduga teroris ditangkap.

Ahmad menjelaskan pendekatan yang dilakukan pihak keamanan terhadap anggota dan simpatisan organisasi teroris di Indonesia adalah melalui pendekatan kontra intelijen, pendekatan deradikalisasi, pendekatan ideologi, pendekatan kontra narasi, dan pendekatan kemanusiaan.

Ahmad menekankan radikalisme dan ekstremisme merupakan paham yang menjiwai terorisme. Keduanya adalah paham yang merupakan fase menuju aksi terorisme. Tapi tidak semua paham radikal atau ekstrem itu masuk jaringan teror atau melakukan teror.

Berbicara soal isu radikalisme, menurut Ahmad sudah mengalami penurunan secara signifikan. Yang masuk dalam indeks potensi radikalisme adalah sudah pro khilafah, anti-Pancasila, antipemerintah yang sah.

Anti itu berarti membenci negara dan pemerintahan yang sah dengan membangun rasa ketidakpercayaan di kalangan masyarakat terhadap pemerintah.

Indikator lainnya adalah sikap intoleran terhadap keberagaman, eksklusif, anti terhadap kebudayaan dan kearifan lokal.

Ahmad menambahkan, dengan memakai skala 0-100, pada 2017, indeks potensi radikalisme di Indonesia mencapai skor 55. Kemudian di 2019, skornya melorot ke angka 38. Lalu akhir tahun lalu turun lagi menjadi 14.

Penurunan ini dipicu oleh penangkapan secara masif terduga teroris, pengungkapkan pendanaan terorisme.

Menurut Ahmad, setelah pasukan keamanan berhasil menewaskan pemimpin MIT Ali Kalora dan rekannya jaka Ramadan, maka tersisa empat lagi anggota MIT, yakni Askar alias Jaid alias Pak Guru, nae alias Galuh alias Mukhlas, Ahmad gazali alias Ahmad Panjang, dan Suhardin alias Hasan Pranata.

Strategi Paling Efektif

Pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar mengatakan strategi paling efektif untuk menangani terorisme di Indonesia seperti yang dicontohkan oleh Kepala Densus 88 pertama Surya Dharma Salim yakni pendekatan kepada pihak keluarga teroris dan itu yang paling berhasil.

"Pendekatan keluarga itu sangat esensial karena yang dipikirkan oleh narapidana terorisme ialah keluarganya, anak istrinya, adik abangnya. Itu yang luput dari program BNPT setahu saya," ujar Al Chaidar.

 

Al Chaidar, Pengamat Terorisme. (Foto: VOA/ Stanislaus Riyanta)
Al Chaidar, Pengamat Terorisme. (Foto: VOA/ Stanislaus Riyanta)

 

Pendekatan itu berupa pemberian bantuan, melakukan pendekatan secara emosional kultural. Bahkan Surya Dharma Salim sudah melakukan kontra wacana.

Dia mencontohkan kontra wacana itu seperti analisa jihad versis teroris dilawan dengan analisa jihad yang benar dan komprehensif.

Al Chaidar menambahkan program BNPT masih berorientasi pada pendekatan lama tentang pendekatan lunak dan keras. kalau pendekatan baru adalah pendekatan multisektor dan itu yang harus dilakukan dalam penanggulangan terhadap terorisme.

Menurut Al Chaidar, Jamaah Islamiyah sudah beralih dari jihad kepada dakwah dan kegiatan kemanusiaan. Jadi Jamaah islamiyah sudah tidak bisa lagi dianggap sebagai organisasi teroris. Sedangkan JAD, JAK, MIT, dan Organisasi Papua Merdeka masih termasuk organisasi teroris.

Al Chaidar mengatakan yang masih berafiliasi kepada ISIS sudah merasa malu karena Taliban yang berkuasa di Afghanistan. Sedangkan ISKP (Negara islam provinsi Khorasan) takluk.

Al Chaidar menyimpulkan organisasi-organisasi teroris di Indonesia sudah mulai melemah karena tidak lagi menemukan basis ideologis yang lebih jelas. Penangkapan para pentolan teroris secara masif juga berkontribusi terhadap melemahnya gerakan terorisme di Indonesia. [fw/em]

Diterbitkan di Berita

PALU, KOMPAS.TVAli Kalora, pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso bersama rekannya Jaka Ramadhan alias Ikrima tewas dalam kontak tembak dengan Satgas Madago Raya, Sabtu (18/9/2021) pukul 18.00 WITA.

Ada nama Rudy Sufahriadi, polisi berpangkat Irjen yang berada di balik tewasnya Ali Kalora lantaran Sang Jenderal adalah Komandan Satgas Madago Raya yang memimpin operasi perburuan kelompok teroris tersebut.

Belum genap sebulan Rudy Sufahriadi memimpin Satgas Madago Raya, atau tepatnya pada 25 Agustus 2021 seiring posisinya yang juga menjadi Kapolda Sulawesi Tengah.

Diketahui, operasi pengejaran Teroris Poso itu sudah berlangsung berlangsung beberapa tahun terakhir. Sandi operasinya sudah mengalami perubahan nama, mulai dari Operasi Camar Maleo, Operasi Tinombala hingga sekarang bernama Operasi Madago Raya.

Sejumlah jenderal Polri pun sudah bergantian memimpin operasi tersebut.

Siapa Jenderal Rudy Sufahriadi? 

Melansir TribunPalu, Minggu (19/9/2021), Rudy Sufahriadi mencetak sejarah dua kali jabat kapolda di Sulawesi Tengah. Dia sebelumnya meninggalkan Sulteng dengan pangkat bintang satu pada tahun 2018.

Lalu kembali menjabat Kapolda Sulteng di tahun 2021 menggantikan Kapolda Sulteng sebelumnya Irjen Pol Abdul Rahkaman Baso.

Sosoknya tinggi besar dan akrab disapa Rudy Gajah. Dia malang melintang di dunia pemberantasan terorisme. Dia pernah tergabung di Densus 88 Mabes Polri dan di BNPT.

Sulteng pun bukan daerah asing bagi Rudy Sufahriady. Dia sempat jadi Kapolres Poso pada 2005 dan sempat alami penembakan. Kemudian pada 2016-2018 dia jadi Kapolda Sulteng. Dan kini, 2021, dia kembali ke Polda Sulteng.

Ia sempat menjadi Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada 2007. Lalu, ia menjadi Kepala Densus 88 Anti-Teror Polda Metro Jaya pada 2007. 

Rudy kemudian diangkat menjadi Kapolres Metro Jakarta Utara pada 2009. Ia menjadi Perwira Menengah Densus 88 Anti-Teror Polri pada 2010.

Terlibat perburuan kelompok Santoso

Foto anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur ( MIT) pimpinan Ali Kalora. (Sumber: Tribunnews.com)

 

Pada 2016 sampai 2018, dirinya menduduki jabatan sebagai Kapolda Sulawesi Tengah. Bahkan, ikut perburuan kelompok Santoso, yaitu Operasi Tinombala.

Operasi Tinombala ini merupakan operasi gabungan yang terdiri dari sejumlah pasukan elite dari Polri dan TNI. Hingga akhirnya, kelompok Santoso yang sembunyi di hutan belantara kawasan pegunungan di Poso itu bisa dilumpuhkan.

Jejaknya dalam menindak kasus terorisme makin dikenal publik saat menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Tengah. Ia memang sudah mengenal seluk beluk Poso sejak menjadi Kapolres Poso. Saat jadi Kapolres Poso, ia bahkan dikabarkan memang pernah jadi sasaran teroris.

Dia sempat menjadi sasaran tembak saat selesai salat subuh dari masjid. Untungnya ia sigap sehingga bisa lolos dari hantaman peluru yang ditembakkan. 

Kesuksesannya di bidang terorisme pun membawa Rudy Sufahriadi menduduki jabatan strategis sebagai Kepala Korps Brimob Polri pada 2018. 

Tahun berikutnya, ia pun diangkat menjadi asisten operasi Kapolri. Setelah itu Akpol Angkatan 1988 itu menjadi Kapolda Jabar pada 26 April 2019. Hingga akhirnya kembali menjadi Kapolda Sulawesi Tengah medio Agustus 2021 lalu.

Penulis : Gading Persada

Diterbitkan di Berita

TRIBUNNEWS.COM, POSO - Beredar foto sesosok mayat berambut panjang dengan tas ransel di punggungnya tergeletak di jalan. Informasi diperoleh TribunPalu.com (Tribun Network) pada Sabtu (18/9/2021), pria itu adalah Ali Kalora.

Dia dikenal sebagai panglima teroris Poso di Pegunungan Poso, Sulawesi Tengah. Dari foto yang diperoleh, terdapat sepucuk senjata laras panjang di samping mayat Ali Kalora.

Ali Kalora disebut tertembak bersama seorang teroris lainnya oleh Densus 88 di wilayah Kabupaten Parigi Motong, Sabtu siang. Ali Kalora adalah Teroris Poso yang memimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT) sepeninggal Santoso.

MIT sering beraksi di daerah Poso, Sulawesi Tengah. Bertahun-tahun lamanya Ali Kalora diburu aparat karena kerap menyerang aparat di Poso. Aparat TNI-Polri tergabung dalam Satgas Madago Raya masih terus mengejar kelompok teroris tersebut.

 

Beredar foto sesosok mayat beramput panjang dengan tak ransel di punggungnya tergeletak di jalan. Informasi diperoleh TribunPalu.com, Sabtu (18/9/2021), pria itu adalah panglima Teroris Poso di Pegunungan Poso, Sulawesi Tengah, Ali Kalora.
Beredar foto sesosok mayat beramput panjang dengan tak ransel di punggungnya tergeletak di jalan. Informasi diperoleh TribunPalu.com, Sabtu (18/9/2021), pria itu adalah panglima Teroris Poso di Pegunungan Poso, Sulawesi Tengah, Ali Kalora. ()

 

Sepak Terjang Ali Kalora

Alikalora disebut-sebut pimpinan MIT menggantikan Santoso. Ali Kalora dan kelompoknya diduga bersembunyi di hutan belantara di sekitar Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Setelah Santoso tewas pada tanggal 18 Juli 2016, dirinya diduga menggantikan posisi Santoso sebagai pemimpin di kelompok MIT bersama dengan Basri.

Setelah Basri ditangkap oleh Satgas Tinombala, Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian pada 2016 menetapkan Ali Kalora sebagai target utama dari Operasi Tinombala.

Ali Kalora lahir di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso. Ia memiliki seorang istri yang bernama Tini Susanti Kaduka, alias Umi Farel. Nama "Kalora" pada namanya, diambil dari desa tempatnya dilahirkan, sehingga nama Ali Kalora seringkali digunakan di media massa.

Ali Kalora merupakan salah satu pengikut senior Santoso di kelompok Mujahidin Indonesia Timur. Setelah kematian Daeng Koro—salah satu figur utama dalam kelompok MIT, Ali dipercayakan untuk memimpin sebagian kelompok teroris yang sebelumnya dipimpin oleh Daeng Koro.

Faktor kedekatannya dengan Santoso dan kemampuannya dalam mengenal medan gerilya membuat ia diangkat menjadi pemimpin.

Peneliti di bidang terorisme intelijen dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib, berpendapat bahwa Ali Kalora adalah sosok penunjuk arah dan jalan di pegunungan dan hutan Poso.

Ini karena Ali merupakan warga asli dari Desa Kalora, Poso, sehingga dirinya diyakini telah menguasai wilayah tempat tinggalnya.

Menurut Kapolda Sulawesi Tengah saat itu, Brigjen. Pol. Rudy Sufahriadi, Ali Kalora adalah sosok radikal senior di kalangan gerilyawan di Poso.

Ia menyebut bahwa Ali Kalora berpotensi menjadi "Santoso baru" karena latar belakang pengalamannya yang cukup senior.

Meski demikian, ia yakin kekuatan gerilya di bawah kepemimpinannya tidak akan sebegitu merepotkan dibandingkan Santoso.

Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian menilai bahwa Ali tidak memiliki kemampuan kepemimpinan yang sama dengan Santoso dan Basri, begitu pula dengan spesialisasi dan militansi.

Di sisi lain, Peneliti The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya, sempat membeberkan beberapa informasi tentang kelompok Ali Kalora

Menurut informasi, kelompok Ali Kalora hanya terdiri dari 10 orang, namun mereka memiliki militansi dan daya survival tinggi.

Mereka mampu bertahan hidup di hutan dengan berburu ditambah sokongan logistik dari para simpatisan yang bermukim di bawah pegunungan Poso.

Dikenal Kejam

Ali Kalora dikenal sadis. Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa saat masih menjabat Komandan Jenderal Kopassus  mengungkap sadisnya perbuatan yang dilakukan oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Pimpinan Ali Kalora kepada masyarakat di Poso.

Ia mengungkap, kelompok Ali Kalora tak segan mengancam, menyandera, bahkan membunuh masyarakat di Poso. Menurut Cantiasa mereka akan melakukan hal tersebut kepada masyarakat biasanya untuk mendapatkan logistik dan makanan.

"Masyarakat ini diancam dan sebagainya kalau tidak menyerahkan makanan atau logistik itu ya dibunuh di sana. Dan tidak main-main, mereka membunuh itu dengan sadis. Semua modusnya itu dengan potong leher," kata Cantiasa dalam tayangan Podcast Puspen TNI di kanal Youtube resmi Puspen TNI yang diunggah pada Senin (17/8/2020) lalu.

Cantiasa pun mengungkapkan pembunuhan Agus Balumba, seorang petani di Desa Sangginora, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, dilakukan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora pada Agustus 2020 lalu.

Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Syafril Nursal memastikan pelaku  pembunuhan terhadap Agus Balumba adalah kelompok bersenjata itu juga merampas sejumlah barang milik korban seperti jam tangan dan ponsel.

"Dari hasil kajian kita, dan barang bukti yang kita temukan, kejadian itu dilakukan oleh kelompok MIT. Dan perbuatan itu sangat keji, sadis dan kejam," kata Syafril di Mapolda Sulteng, Selasa (11/8/2020).

Syafril mengatakan, ada tujuh sampai 10 orang yang terlibat dalam pembunuhan petani tersebut. Mereka adalah orang yang masuk dalam daftar pencarian orang oleh Satgas Operasi Tinombala.

Sumber: Tribunnews.com/Kompas.com.Tribun Palu 

Editor: Hasanudin Aco

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Gatra.com – Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap Thoriqudin alias Abu Rusdan di Bekasi, Jawa Barat pada Jumat, 10 September 2021. Abu Rusdan tak lain tokoh senior Jama’ah Islamiyah (JI) dan mantan Amir JI pada 2003-2004.

Setelah menjalani hukuman penjara lewat putusan majelis hakim pada Februari 2004, Abu Rusdan kembali aktif di masyarakat. Ia diketahui menjadi penceramah dan motivator agama serta rutin berdakwah keliling Indonesia.

Pengamat terorisme Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib mengatakan, penangkapan Abu Rusdan memantik perhatian para pengamat dan analis kajian terorisme.

“Kalau betul T alias AR yang ditangkap polisi adalah Abu Rusdan berarti itu penangkapan yang sangat serius. Ini figur yang sangat terkenal di kelompoknya,” ujar Ridlwan dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (12/9).

Abu Rusdan diketahui menjadi tokoh kunci JI dan termasuk yang mendukung kegiatan “amaliyah” dan aksi terorisme atas nama JI. Menurut Ridlwan, Abu Rusdan adalah alumni pelatihan paramiliter mujahidin Afghanistan angkatan ke-2.

Ia berangkat ke Afghanistan pada 1986 bersama Huda bin Abdul Haq alias Mukhlas. Abu Rusdan tinggal di Afghanistan sampai tahun 1989 bersama tokoh JI lainnya, Nurjaman Riduan Isamuddin alias Hambali. Dari sana, ia direkrut masuk ke dalam sel JI.

“Abu Rusdan berlatih militer di Camp Sadda, Pakistan dan sempat berinteraksi langsung dengan Osama Bin Laden,” kata Ridlwan.

Setelah kasus Bom Bali I, Abu Rusdan ditangkap aparat di Kudus, Jawa Tengah pada 2003. Ia didakwa membantu menyembunyikan pelaku bom Bali, Huda bin Abdul Haq alias Ali Ghufron alias Mukhlas. Abu Rusdan kemudian dijatuhi hukuman tiga setengah tahun penjara.

“Setelah bebas, Abu Rusdan berdakwah keliling Indonesia dan sangat populer di Youtube,” kata Ridlwan. Bahkan, netizen dapat menemukan konten ceramah Abu Rusdan di YouTube dengan berbagai macam tema yang memantik kontroversi.

“Salah satu yang cukup viral adalah ceramah Abu Rusdan soal Pancasila bukan Islam,” ia menambahkan. Ia berpandangan, penangkapan Abu Rusdan berpotensi memicu aksi balasan dari para pengikutnya. Terutama sel-sel JI dan mantan kombatan yang terafiliasi dengannya.

“Tokoh senior ini banyak murid online nya yang dalam istilah kontra-terorisme disebut lone wolf,” ujar Ridlwan. Alumni S2 Kajian Intelijen UI itu mengingatkan, aparat keamanan agar memperkuat penjagaan dan lebih waspada.

“Kelompok Neo JI, walaupun tidak pernah menyerang sejak 2009 tapi masih punya orang-orang militan yang punya keahlian berbahaya,” katanya.

Selain itu, Polri lewat Direktorat Tindak Pidana Siber, menurutnya perlu memblokir situs dan portal yang masih memuat ceramah ceramah Abu Rusdan.

“Penangkapan Abu Rusdan membuktikan bahwa deradikalisasi belum sukses mengubah orang. Selama belasan tahun Abu Rusdan bebas tanpa ada keberhasilan pemerintah menundukkan ideologinya,” pungkasnya.

Abu Rusdan diketahui menggantikan posisi Abu Bakar Ba’asyir menjadi amir JI setelah Ba’asyir ditangkap pada Oktober 2002. Ia dipilih oleh Abu Dujana, Aris Sumarsono, Sulaiman dan Huda bin Abdul Haq. Sebagai amir, Abu Rusdan memimpin rapat JI dan mengatur pergerakan kelompok.

Diterbitkan di Berita

Kudus (ANTARA) - Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma membenarkan bahwa terduga teroris berinisial "T" atau "AR" yang ditangkap Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri di Depok, Jawa Barat, pada Jumat (10/9) merupakan warga Kudus.

"Dia merupakan warga Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus," ujarnya di Kudus, Sabtu. Sebelumnya, kata dia, Polres Kudus juga sudah melakukan pemantauan serta menjalin komunikasi dengan "T" sebagai bentuk pembinaan agar kembali ke jalan NKRI.

Ia juga tidak menyangka dengan hal itu, karena sebelumnya sudah ada upaya pendekatan dengan harapan tidak lagi terlibat dalam jaringan terorisme.

Masyarakat Kudus diminta tetap tenang, karena jajarannya sudah diinstruksikan untuk melakukan antisipasi dengan memantau kondisi wilayah tempat tinggalnya. Termasuk di wilayah lain sebagai langkah antisipasi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Prambatan Kidul Sutopo membenarkan bahwa terduga teroris yang berinisial "T" memang warganya. Akan tetapi belum bisa memastikan apakah yang ditangkap di Depok memang benar "T" warganya atau orang lain.

Terlebih lagi, beberapa pekan sebelum penangkapan juga masih terlihat di Kabupaten Kudus. Camat Kaliwungu Agus Budi Satriyo menambahkan bahwa jika "T" yang dimaksudkan warga Desa Prambatan Kidul, memang masih ber-KTP Kudus.

"Sebelumnya, yang bersangkutan juga masih aktif mengisi pengajian sehingga terkejut juga dengan informasi penangkapan tersebut," ujarnya.

AR disebutkan merupakan tokoh Jamaah Islamiyah (JI) yang pernah ditangkap 15 tahun lalu karena menyembunyikan pelaku pengeboman malam natal (2000) dan bom Bali (2002).

Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Badan Intelijen Negara (BIN) memastikan terus memantau aktivitas jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI). BIN menyebut anggota jaringan ini relatif masih muda-muda.

“Sekarang ada Jamaah Islamiyah lagi di mana anggotanya relatif muda-muda. Ini menjadi catatan,” kata Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto dalam diskusi yang ditayangkan di YouTube Gelora TV, Kamis (2/9/2021).

Wawan tak menjelaskan lebih detail kisaran usia para penggawa Jemaah Islamiyah tersebut. Polisi, kata Wawan, telah berhasil mencegah aksi teror dari kelompok ini dengan melakukan penangkapan beberapa waktu lalu.

“Jadi kita di Indonesia sudah ada penangkapan-penangkapan yang terantisipasi karena mereka melakukan langkah-langkah (teror),” ucapnya.

Lebih jauh, Wawan memastikan jaringan Jamaah Islamiyah tak berkaitan dengan kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan. Akan tetapi, kata dia, dengan kondisi euforia Taliban, tak tertutup kemungkinan hal itu bisa membangkitkan lagi jaringan teroris di Tanah Air.

“Dan itu dari patroli siber yang kita lakukan itu sudah muncul gerakan-gerakan seperti itu. Maka kita langsung masuk kepada saudara-saudara kita yang melakukan euforia itu untuk meredakan situasi yang emosional tadi supaya tetap mengedepankan bahwa Indonesia ini adalah bukan medan perang,” ujarnya.

Sebelumnya, Densus 88 telah menangkap 53 terduga teroris selama medio Agustus 2021 atau menjelang HUT ke-76 RI. Polri menyebut para terduga teroris itu ingin memanfaatkan momen Hari Kemerdekaan RI dengan menebar aksi teror.

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku Jakarta – Kelompok teroris menggunakan kondisi pandemi Covid-19 untuk memotivasi anggotanya untuk melakukan aksi teror. Mereka membuat narasi bahwa pandemi Covid-19 adalah kondisi akhir zaman, lalu memantik motivasi untuk melakukan aksi teror.

“Lalu masyarakat atau jemaahnya ini harus menyiapkan diri untuk menyambut adanya akhir zaman itu,” kata Kadensus 88 Antiteror Mabes Polri Irjen Pol Martinus Hukom dala diskusi daring yang digelar Humas Polri, Selasa (31/8).

Martinus mencontohkan beberapa kasus di Brebes, Kendal, Maluku, dan Sulawesi Tenggara beberapa waktu lalu. Densus 88 mengungkap bahwa sejumlah anggota kelompok teroris tengah membuat bom untuk aksi teror. Itu semua adalah upaya untuk mempersiapkan datangnya akhir zaman.

Menurutnya, Densus 88 melakukan banyak penindakan hukum selama masa pandemi saat ini. Hal itu, membuktikan bahwa aktivitas teroris tetap berjalan selama masa pandemi.

Selain isu pandemi, Martinus menyebut kelompok teroris juga banyak menggunakan platform-platform media sosial untuk menjaring simpatisan, sehingga percaya ideologi yang mereka anut. Biasanya kelompok teroris memanfaatkan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Itu mereka menggunakan isu-isu pandemi ini sebagai satu trigger untuk memotivasi kelompoknya untuk bergerak,” kata Martinus.

Sebelumnya, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan ada 4.093 laporan terkait aliran dana yang diduga berasal dari kelompok teroris dalam lima tahun terakhir.

Ribuan informasi tersebut disusun menjadi 207 laporan analisis, lalu diserahkan ke Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN). Dilanjutkan dengan proses hukum dan penangkapan para tersangka teroris jika ditemukan bukti-bukti yang cukup.

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Kombes Pol Aswin Siregar menyampaikan Afghanistan menjadi tempat melatih diri (training ground) para kelompok teroris yang biasa beraksi di Indonesia.

Awalnya, Aswin menyampaikan konflik di Afghanistan yang terjadi sejak 1970 silam telah memicu datangnya pejuang alias kombatan dari berbagai penjuru negara. Tak terkecuali Warga Negara Indonesia (WNI).

Ia mengungkapkan banyak WNI yang diketahui menjadi kombatan berdalih memperjuangkan nasib dan kemerdekaan umat Islam. Sesampainya di sana, mereka mendapatkan pencucian otak (brainwash).

“Sampai di sana mereka biasa lah yang mengalami proses brainwash. Kemudian membangun jaringan kenal satu sama lain dan melatih dan melengkapi diri dengan persenjataan yang ada,” kata Aswin dalam diskusi daring, dikutip tribunnews, Senin (30/8).

Ia mencatat ada lebih dari 10 gelombang WNI yang berangkat ke Afghanistan dengan maksud menjadi kombatan pejuang di Afghanistan. Mereka menjadikan tempat itu sebagai melatih berperang.

“Ada yang tercatat misalnya, saya mungkin lebih ada 10 gelombang yang berangkat ke Afghanistan dari tahun-tahun awal itu ya. Kemudian setelah mereka selesai dalam tanda kutip berjuang di sana, selesai berlatih di sana, Afghanistan itu akan selalu itu jadi training ground mereka ya berlatih dan berperang,” ungkapnya.

Ia menerangkan WNI eks kombatan di Afghanistan ini rata-rata memiliki pemikiran dengan tingkat radikalisme yang tinggi seusai pulang ke Indonesia. Tercatat, ada sejumlah aksi teror yang diperbuat eks kombatan di Afghanistan.

“Kemudian selesai pulang ke Indonesia dan melakukan berbagai aksi teror ya di sini sebagaimana yang tercatat di kita itu ada bom malam natal ketika konflik di Poso, Bom Bali 1, bom Bali 2, bom JW Marriott, bom Kedubes Australia, Ritz Carlton dan sebagainya,” ungkapnya.

Atas dasar itu, Aswin mengingatkan bahwa keberadaan WNI sebagai kombatan di Afghanistan berdampak terhadap pemikirannya selepas pulangnya ke Indonesia.

“Jadi hasil-hasil dari keberadaan mereka di Afghanistan itu secara nyata dan faktual memberikan dampak terhadap pemikiran dan aksi mereka setelah kembali ke Indonesia,” jelasnya.

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Satgas Madago Raya terus melakukan pengejaran terhadap sisa Daftar Pencarian Orang (MIT) anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.

Terkini, mantan tangan kanan pimpinan MIT Santoso, Basri alias Bagong, alias Ayas, alias Opa, meminta Ali Kalora dkk turun gunung dan menyerahkan diri. Pernyataan Bagong itu beredar video yang beredar pesan berantai di media sosial.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, nama saya Basri alias Ayas alias Bagong alias Opa, Alhamdullilah, saya dalam keadaan baik, baik dan sehat sehat, saya turun untuk menyerahkan diri, untuk mempertanggung jawabkan perbuatan saya,” kata Basri dalam video yang diterima, Jakarta, Rabu (25/8/2021).

Terkait video itu, Wakasatgas Humas Ops Madago Raya AKBP Bronto Budiyono membenarkan beredarnya video napi teroris saudara Basri alias Bagong alias Ayas alias Opa.

“Iya benar, telah beredar video dengan durasi 1,53 menit dari narapidana teroris Poso yaitu saudara Basri alias Bagong alias Ayas alias Opa, isi video tersebut adalah ajakan kepada DPO teroris Poso yang masih ada di gunung untuk segera turun dan menyerahkan diri,” kata Bronto.

Menurut Bronto, Basri adalah salah satu pelaku tindak pidana terorisme di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah yang menyerahkan diri dan diperlakukan sebaik-baiknya oleh Kepolisian. “Semoga ajakan Basri dapat didengar oleh Ali Kalora CS,” ujar Bronto.

Mohammad Basri bin Baco Sampe alias Ayas alias Bagong alias Opa yang merupakan tangan kanan Santoso (pimpinan MIT Poso saat itu), telah terbukti melakukan serangkaian kekerasan, pembunuhan dan tindak terorisme di Poso sehingga Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 19 tahun penjara,

Baru menjalani masa pidana 6 tahun, pada April 2013 Basri sempat kabur dari Lembaga Pemasyarakatan kelas II B Ampana, tetapi kemudian tanggal 14 September 2016 menyerahkan diri kepada Satgas Operasi Tinombala.

Berikut pernyataan Basri alias Bagong:

“Adik-adikku, kakak-kakakku yang saya cintai, saya sayangi, marilah turun dari hutan, marilah kita persoalan ini kita duduk bersama, kita selesaikan bersama, ndak usah lagi begitu mari kita hidup tenang, kita bangun kota Poso bersama. Kalau adik-adikku, kakak-kakakku, saudara-saudaraku yang masih ada di hutan, kalau kalian takut untuk turun menyerahkan diri, saya yang akan bertanggung jawab, sayalah yang akan menjemput kalian. Saya akan jemput kalian, bapak-bapak kita dari Polisi memperlakukan saya baik-baik, melebihi saudara mereka sendiri, sekali lagi marilah kita turun, marilah kita turun, sudah tinggalkan perbuatan kita yang melanggar hukum.

Sekali lagi kita bangun-kita bangun Kota Poso seperti dulu lagi. Saya berdoa kepada Allah SWT, Insyaallah adik-adikku mendapatkan hidayah, kekuatan, bisa turun-turun dari gunung untuk menyerahkan diri, apabila kalian takut, sayalah yang akan menjemput kalian, semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Diterbitkan di Berita

VOA — Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Raden Prabowo Argo Yuwono, Jumat (20/8), mengatakan Polri menangkap tiga tersangka yang memberi pendanaan, pelatihan penggunaan media sosial, dan pembuatan bom bagi kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah.

Ketiga tersangka yang diamankan tersebut berinisial RWP, S, dan WS.

Juru bicara Polri Argo Yuwono saat memberikan keterangan pers di Jakarta pada Senin (16/11/2020). (Foto: VOA)
Juru bicara Polri Argo Yuwono saat memberikan keterangan pers di Jakarta pada Senin (16/11/2020). (Foto: VOA)

“RWP ini memberikan bantuan berupa uang dengan cara mengirimkan ke perbankan di kelompok MIT Poso dan kemudian untuk operasional persiapan amaliyah di kelompok MIT,” kata Argo Yuwono dalam konferensi Pers daring yang disiarkan melalui akun YouTube DIV Humas POLRI.

Argo menambahkan pada 12 Agustus-17 Agustus 2021, Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri telah menangkap total 53 tersangka tindak pidana terorisme di 11 Provinsi yaitu Sumatera Utara, Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.

Dari jumlah itu, imbuhnya, 50 orang adalah anggota jaringan Jamaah Islamiyah dari 10 provinsi dan tiga orang dari jaringan Ansharut Daulah di Kalimantan Timur.

 

Baliho berisi Daftar Pencarian Orang (DPO) Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipajang di sisi jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Poso Pesisir, Poso. Jumat (11/12/2020). (Foto: VOA/Yoanes Litha)
Baliho berisi Daftar Pencarian Orang (DPO) Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipajang di sisi jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Poso Pesisir, Poso. Jumat (11/12/2020). (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Pengejaran MIT

Satuan Tugas (Satgas) Operasi Madago Raya di Sulawesi Tengah masih melakukan pengejaran terhadap sisa kelompok MIT di hutan pegunungan di wilayah Kabupaten Poso, Sigi dan Parigi Moutong.

Anggota kelompok itu kini tersisa enam orang setelah tiga anggotanya tewas dalam penyergapan Satgas Madago Raya pada 11 dan 17 Juli 2021 di Kabupaten Parigi Moutong. Mereka adalah Rukli, Abu Alim alias Ambo, dan Qatar alias Farel alias Anas.

 

Wakil Penanggung jawab Komando Operasi Madago Raya, Brigjen TNI Farid Makruf, mengatakan tewasnya Qatar, teroris asal Bima, Nusa Tenggara Barat, makin melemahkan pergerakan kelompok teroris itu.

“Karena rupanya selama ini, itu lebih dominan Qatar dalam menakhodai gerakan DPO (daftar pencarian orang) teroris ini,” kata Farid kepada para wartawan di Poso, Rabu (11/8).

Dia menambahkan kelompok itu kini hanya punya satu pucuk senjata api laras panjang M-16 dan satu pucuk revolver dengan amunisi yang terbatas.

“Dan M-16 itu senjata paling ringkih, kalau masuk ke hutan. Apalagi dia kena embun, kena air. Saya yakin Ali Kalora itu sudah tidak bisa dipakai M-16nya. Hanya revolver mungkin karena dirawat, itupun pelurunya sangat terbatas,” ujar Farid yang juga Komandan Komando Resort Militer (KOREM) 132 Tadulako.

 

Polisi memeriksa bangunan yang dibakar dalam serangan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/11/2020). (Foto: Courtesy/Humas Po
Polisi memeriksa bangunan yang dibakar dalam serangan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (28/11/2020). (Foto: Courtesy/Humas Po

Waspadai Paham Radikalisme

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Zainal Abidin mengingatkan pentingnya untuk mewaspadai perkembangan gerakan atau paham radikalisme yang mengarah kepada intoleransi dan terorisme.

“Radikalisme di Sulawesi Tengah, bukan sebatas gerakan dakwah, pemikiran atau ideologi tetapi sudah sampai dalam bentuk tindak teror. Bahkan hingga hari ini kelompok MIT masih eksis,” kata Zainal Abidin saat berbicara dalam Ngobrol Perempuan yang digelar leh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah, Kamis (12/8) pekan lalu.

Menurutnya, seberapa besar potensi perkembangan gerakan atau paham radikalisme di Sulawesi Tengah tergantung kemampuan seluruh elemen masyarakat, termasuk warga, tokoh agama dan pemerintah, untuk mengontrol faktor-faktor penyebab, seperti pemikiran, Pendidikan, dan ekonomi.

 

Selain itu, imbuhnya, masyarakat Sulawesi Tengah rentan disusupi paham radikalisme, terutama mereka atau yang keluarganya pernah menjadi korban tragedi Poso beberapa tahun silam.

“Hal ini dapat dimanfaatkan oleh para propagandis radikalisme dengan dalih menegakkan keadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa napiter (narapidana terorisme) kasus Poso, tidak dimotivasi oleh faktor ideologi-pemikiran keagamaan, tetapi lebih disebabkan oleh dendam pribadi,” jelas Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu itu.

Kondisi geografis Sulawesi Tengah yang dikelilingi oleh pegunungan dan hutan lebat, juga berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikalisme-terorisme sebagai tempat persembunyian yang aman dari jangkauan aparat, seperti yang dilakukan oleh MIT. [yl/ft]

Diterbitkan di Berita