sindonews.com CANBERRA - Kedutaan Besar Afghanistan di Australia telah merilis serangkaian video yang menunjukkan kekejaman mengerikan yang dilakukan oleh Taliban .

Salah satu video tersebut adalah pemenggalan terhadap warga sipil, yang menurut pemerintah adalah pegawai negeri. Serangkaian video kebrutalan itu dirilis ketika kelompok Taliban mengintensifkan serangannya untuk menguasai negara tersebut.

Kedutaan mengatakan telah mengumpulkan rekaman dari beberapa bagian Afghanistan, yang baru-baru ini jatuh kembali di bawah kendali Taliban ketika pasukan Barat menarik diri dari negara yang dilanda konflik tersebut

Video yang sangat menyedihkan menunjukkan para warga sipil dipukuli, disiksa dan dibunuh. Dua klip terpisah menunjukkan warga sipil Afghanistan—yang menurut kedutaan adalah pegawai negeri yang bekerja untuk pemerintah Afghanistan—dipenggal oleh Taliban.

Satu video menunjukkan tentara Afghanistan menyerah dan kemudian ditembak dan dibunuh oleh orang-orang yang tampaknya adalah gerilyawan Taliban.

Video lain menunjukkan seorang pria—diduga seorang warga sipil—menjadi sasaran penyiksaan brutal di lapangan umum, sementara video kelima menunjukkan seorang wanita dicambuk oleh tentara Taliban karena melanggar hukum "kesopanan".

Kedutaan juga menyediakan foto-foto jenazah tiga orang yang diidentifikasi sebagai pegawai negeri sipil Afghanistan.

"Video-video ini menunjukkan kekerasan ekstrem, kekejaman yang memilukan, dan kejahatan perang mengerikan yang dilakukan oleh Taliban di daerah-daerah yang baru saja mereka masuki," kata kedutaan dalam sebuah pernyataan seperti dikutip ABC.net.au, Sabtu (17/7/2021).

Kedutaan mengatakan serangkaian video dan foto tersebut membuktikan bahwa Taliban tetap terikat pada "interpretasi menyimpang dari Syariah Islam".

"Perilaku Taliban dengan jelas menunjukkan visi dan ambisi mereka untuk kembalinya Emirat tanpa perbedaan apa pun dari tahun 90-an. Hak asasi manusia tidak menjadi masalah bagi mereka," katanya.

Rodger Shanahan, pakar dari Lowy Institute, mengatakan bahwa Kedutaan Besar Afghanistan di Canberra bermaksud merusak upaya Taliban untuk menampilkan dirinya sebagai entitas politik yang lebih modern dan bertanggung jawab.

"Pemerintah Afghanistan mencoba untuk menegaskan bahwa Taliban 2.0 sama dengan Taliban 1.0," katanya.

“Mereka ingin melawan pesan Taliban. Salah satu hal yang diinginkan Taliban adalah legitimasi, dan Taliban mengedepankan garis bahwa mereka tidak sama seperti sebelumnya, bahwa mereka telah berubah. Pemerintah Afghanistan sedang mencoba untuk mendapatkan dukungan diplomatik, dan memastikan bahwa pemerintah daerah yang merasa nyaman dengan Taliban yang mengambil alih kekuasaan, atau yang secara longgar mengikatkan diri dengan Taliban, juga terikat dengan kekejaman ini," imbuh dia.

Shanahan mengatakan bahwa belum jelas apakah misi diplomatik Afghanistan di negara lain mengambil langkah serupa.

"Apa yang menarik untuk dilihat adalah apakah ini adalah bagian dari kampanye yang lebih luas oleh pemerintah Afghanistan—apakah upaya ini telah diarahkan dari Kabul untuk mencoba dan memulai kampanye informasi bersama di seluruh dunia," katanya.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Satgas Madago Raya meminta agar para buron teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso menyerahkan diri untuk menjalani proses hukum.

Saat ini, tersisa enam orang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polda Sulawesi Tengah. Dalam beberapa hari terakhir Satgas telah menembak mati tiga orang DPO.

"Kami menghimbau agar sisa DPO yang ada di pegunungan biru baik di wilayah Poso, Sigi dan Parimono untuk segera menyerahkan diri baik-baik supaya tidak ada jatuh korban lagi," kata Wakasatgas Humas Madago Raya, AKBP Bronto Budiyono kepada wartawan, Minggu (18/7).

Bronto mengatakan para teroris tersebut harus menjalani proses hukum dan ikrar setiap kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam serangkaian kegiatan operasi yang dilakukan, TNI-Polri kembali menembak mati seorang teroris MIT di wilayah Torue, Pagiti Moutong pada Sabtu (17/7) kemarin.

Hasil identifikasi awal, pihak yang tertembak merupakan anggota MIT bernama Budirman alias Abu Alim alias Hanif alias Ambo dia masuk DPO sejak 2015.

Diketahui, pria yang diperkirakan berusia 27 tahun ini bergabung dengan Jamaah Ansharut Tauhid sejak 2012 kemudian beranjak ke Poso untuk bergabung dengan asykari yang dipimpin oleh Santoso alias Abu Wardah.

Jenazah Abu Alim telah dibawa ke RS Bhayangkara Palu untuk dilakukan autopsi dan identifikasi lebih lanjut melalui pengambilan sampel DNA.

"Untuk memastikan kebenaran bahwa DPO teroris yang meninggal tersebut dibutuhkan tes DNA dari keluarganya," ucap Bronto.

Setelah dilakukan autopsi dan pengambilan sampel DNA, jenazah Abu Alin langsung dimakamkan di TPU Poboya, Palu.

Sebelumnya, Satgas Madago Raya juga menembak mati dua anggota MIT Poso pada Minggu (11/7) lalu. Kala itu, evakuasi jenazah sulit dilakukan karena jenazah berada jauh di dalam jurang. Proses evakuasi baru rampung setelah empat hari.

Pasukan TNI di lapangan mengubah rencana evakuasi yang semula melalui udara kini menggunakan rakit untuk menyusuri sungai.

(mjo/agn)


Diterbitkan di Berita
Audrey Santoso - detikNews Jakarta - Satgas Madago Raya kembali terlibat kontak tembak dengan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso di Kelurahan Tanah Lanto, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng). Kontak tembak terjadi sekitar pukul 11.30 WITa.

"Jadi tadi sekitar jam 11.30, Satgas Madago Raya kontak tembak lagi di Desa Tanah Lanto, Parimo," kata Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Didik Supranoto kepada detikcom, Sabtu (17/7/2021).

Didik menyebut satu teroris MIT Poso tertembak dan tewas. Saat ini Satgas Madago Raya masih mengevakuasi jasad teroris tersebut. "Terduga teroris DPO Poso meninggal dunia. Saat ini masih proses evakuasi," ucap Didik.

Didik menyampaikan Satgas Madago Raya juga menyita 1 pucuk senjata api jenis revolver, dua buah bom lontong dan sebilah golok dari teroris tersebut. Selain mengevakuasi jasad teroris tersebut, tim Satgas Madago Raya juga mengejar teroris MIT Poso lainnya yang melarikan diri pasca-kontak tembak.

"Barang buktinya ada satu pucuk revolver, dua bom lontong, satu bilah senjata tajam jenis golok dan baju loreng. Ini masih mengejar kawan-kawannya juga," jelas Didik.

2 Teroris MIT Poso Sebelumnya Juga Tewas Ditembak TNI

Sebelumnya diberitakan Koopsgabssus Tricakti menembak mati dua teroris MIT Poso di Kabupaten Parimo, Sulawesi Tengah (Sulteng), bernama Rukli dan Ahmad Panjang. Polri mengungkapkan kronologi penembakan terhadap dua teroris MIT yang membuat nyawa keduanya melayang.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan menyebut Rukli dan Ahmad Panjang ditembak pada Minggu (11/7) dini hari pukul 03.00 Wita.

Koopsgabssus Tricakti terlibat kontak tembak dengan sejumlah anggota teroris MIT Poso di Pegunungan Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng.

Ramadhan mengungkapkan penembakan itu bermula dari aduan masyarakat yang kehilangan makanan. Ramadhan mengatakan tim melakukan penyisiran dan menemukan jejak berupa bekas makanan para DPO teroris MIT.

"Peristiwa tersebut diawali dengan adanya informasi bahwa seorang warga telah kehilangan sejumlah barang miliknya berupa bahan makanan. Kemudian atas informasi tersebut, tim melakukan penyisiran dan menemukan jejak bekas makanan DPO teroris Poso," tuturnya.

Lebih lanjut, kata Ramadhan, tim berhasil menemukan para DPO sekitar pukul 03.00 Wita. Saat itulah kontak tembak terjadi sehingga mengakibatkan Rukli dan Ahmad Panjang tewas.

(aud/idh)

 

Diterbitkan di Berita

okezone.com JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia (TNI) menghormati lawan atau musuh negara dengan mengevakuasi jenazah dan diperlakukan dengan humanis.

Hal ini dibuktikan oleh aksi heroik prajurit TNI yang tergabung dalam Koospsgabsus Tricakti dengan melakukan evakuasi dua jenazah kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah.

Setelah berjibaku melewati lebatnya hutan dan merubah rencana evakuasi dengan membuat rakit menyusuri beberapa arus sungai deras dan rangkaian air terjun di sekitar Pegunungan Tokasa, Desa Tanalanto, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi, Tim Evakuasi Koopsgabsus Tricakti pada pukul 14.30 WITA akhirnya berhasil membawa jenazah dua teroris Poso keluar dari Tempat Kejadian Perkara (TKP), Rabu (14/7/2021).

Tim evakuasi di lapangan yang dipimpin langsung Wapangkoopsgabsus Brigjen TNI Rafael Granada Baay menyebutkan bahwa hari keempat evakuasi jenazah, tim di lapangan diberikan kelancaran.

“Tiga hari sebelumnya tim evakuasi menghadapi banyak rintangan alam, medan dan cuaca yang sering berubah-ubah mulai dari TKP dan di sepanjang rute evakuasi,” ujarnya.

Koopsgabsus TNI menurunkan 2 Tim Tricakti dan 1 Tim Chandraca, sejak hari Minggu 11 Juli 2021, terus berupaya mengevakuasi jenazah. Informasi di lapangan hari pertama, tim evakuasi hanya dapat bergerak sekitar 600 meter dari TKP menuju titik penjemputan landing zone darurat yang telah disiapkan.

“Kesulitan utama adalah beratnya medan karena vegetasi tumbuhan yang rapat serta banyaknya bebatuan besar di tebing sisi kiri dan kanan sungai, sehingga menyulitkan pasukan menembus rute yang dilewati,” kata Brigjen TNI Rafael.

Tim evakuasi hari kedua pada hari Senin pagi (12/7/2021) dari pukul 06:00 WITA kembali dilanjutkan setelah sempat istirahat tadi malam karena terkendala cuaca hujan deras dan tidak ada jalan sehingga harus merintis rute baru keluar TKP.

Hari ketiga evakuasi pada Selasa pagi 13 Juli 2021, pukul 07.00 WITA, tim evakuasi hampir berhasil mengangkat jenazah menggunakan Heli Caracal TNI AU, namun karena sempitnya medan serta lebatnya hutan menyulitkan manuver heli untuk hover, dengan aman, bila dipaksakan akan sangat beresiko untuk keamanan alutsista.

Brigjen TNI Rafael yang mengkoordinir pergerakan evakuasi siang ini, pukul 12:20 WITA di Poskout Tricakti, menginformasikan evakuasi yang melibatkan masyarakat kembali menemui kendala setelah sempat menggunakan rakit menyusuri sungai sepanjang hampir 500 meter dari posisi sebelumnya, ternyata di depan terdapat air terjun lebih 75 meter yang memaksa tim evakuasi menurunkan jenazah menggunakan tali. 

Rabu (14/7/2021), pukul 13:30 WITA, tim evakuasi berhasil menjangkau landing zone darurat yang aman untuk dilakukan pengangkatan jenazah menggunakah hoist dan basket stretcher dari pesawat Heli Super Puma dukungan operasi Koopsau II Makassar, yang diterbangkan oleh Pilot Mayor Pnb Budiyono dari Lanud Hasanudin Makassar.

Siang ini juga pukul 14:30 WITA, dua jenazah teroris Poso, segera diberangkatkan dari Mayonif 714/SM ke RS. Bhayangkara Polda Sulteng, langsung dipimpin Brigjen TNI Rafael.

Menurut Brigjen TNI Rafael keberhasilan evakuasi jenazah teroris Poso tidak terlepas dari kerja sama semua pihak yang telah mencurahkan semua tenaga dan pemikiran pasca penyergapan  serta penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.

“Setelah melalui semua perjuangan berat tersebut kedua jenazah teroris berhasil di evakuasi, langsung diberangkatkan ke RS. Bhayangkara Polda Sulteng untuk dilaksanakan autopsi dan identifikasi lebih lanjut oleh Tim Inafis Satgas Madago Raya,” katanya.

 

(aky)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Polri mengungkapkan bahwa penembakan dua teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso diawali dari informasi warga sekitar yang mengeluhkan kehilangan makanan.

"Peristiwa tersebut diawali dengan adanya informasi bahwa seorang warga telah kehilangan sejumlah barang miliknya berupa bahan makanan.

Kemudian atas informasi tersebut, tim melakukan penyisiran," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, Senin (12/7).

Ahmad menjelaskan bahwa setelah itu, tim Komando Operasi Gabungan Khusus (Koopsgabssus) Tricakti menyisir wilayah Pegunungan Tokasa, Desa Tanah Lanto, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Poso.

Dari penyisiran itu, tim menemukan jejak bekas makanan yang mengarah pada lokasi keberadaan buronan MIT Poso pimpinan AliKalora. Tim kemudian berhasil menemukan para DPO sekitar pukul 03.00 WITA.

Saat itulah kontak tembak terjadi. Akibatnya, dua orang tersangka teroris tewas di tempat. "Mengakibatkan 2 orang DPO teroris Poso meninggal dunia atas nama R dan AP," kata dia.

Dua buronan tersebut bernama Rukli dan Ahmad Panjang. Sementara itu, kata Ramadhan, DPO teroris MIT lainnya berhasil kabur dalam penyergapan itu.

Dia menerangkan, jenazah kedua DPO teroris MIT yang tewas itu segera dievakuasi menggunakan helikopter. "Saat ini, 2 DPO yang meninggal dunia akan dievakuasi melalui udara menggunakan helikopter.

Saat ini, tim kopsus masih terus melakukan pengejaran terhadap sisa DPO teroris Poso yang lolos dari penyergapan," kata Ramadhan. Berdasarkan catatan, sejauh ini tersisa tujuh orang DPO kepolisian yang tergabung dalam MIT Poso pimpinan Ali Kalora.

Kepemimpinan kelompok tersebut telah berganti usai Santoso alias Abu Wardah tewas tertembak oleh Satgas Tinombala -- nama sebelum Madago Raya -- pada 18 Juli 2016 lalu.

Polisi selama ini mengakui bahwa MIT sulit ditumpas karena mereka selalu berpindah-pindah. Belum lagi, medan keberadaannya di tengah hutan yang membuat aparat sulit menindak mereka secara cepat.

Kelompok tersebut diduga sering terlihat di wilayah Lembantongoa, Sigi hingga Salubanga, dan Parigi Moutong hingga Poso Pesisir Utara.

(mjs/has)



Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Tugas (Satgas) Madago Raya menembak mati dua orang teroris kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora. Penembakan terjadi saat Satgas terlibat baku tembak, Minggu (11/7) dini hari.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulawesi Tengah Kombes Didik Supranoto mengatakan baku tembak terjadi sekitar pukul 03.00 WIB. Satgas berhasil meredam kelompok teroris dalam baku tembak tersebut.

"Dua meninggal dunia," kata Didik dalam keterangan tertulis, Minggu (11/7). Didik menduga sejumlah anggota MIT Ali Kalora lainnya juga tertembak dalam kejadian itu.

Namun, Satgas tak bisa memastikan karena para teroris itu melarikan diri. Dia mengatakan Satgas Madagor Raya sedang memburu para teroris yang berhasil kabur. Di saat yang sama, Satgas mengurus dua orang teroris yang tewas.

"Akan dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara Palu besok (12/7)," ucapnya. Satgas Madago Raya dibentuk sejak 1 Januari 2021 untuk mengejar terduga kelompok garis keras MIT.

Kelompok tersebut dipimpin oleh Ali Kalora usai Santoso alias Abu Wardah tewas tertembak Satgas Tinombala pada 18 Juli 2016. Baca juga: Gerebek Markas MIT, Satgas Madago Sita Emblem ISIS dan Sajam Awalnya, operasi Satgas Madago Raya hanya sampai 31 Maret.

Namun, operasi diperpanjang hingga 31 Juli. Operasi kembali diperpanjang hingga 30 September. Kepolisian mengakui MIT sulit ditumpas karena selalu berpindah-pindah.

MIT Ali Kalora sering terlihat di wilayah Lembantongoa, Sigi ke Salubanga, Parigi Moutong lalu ke Poso Pesisir Utara, Poso. (dhf/bmw)

Diterbitkan di Berita

alinea.id Densus 88 Antiteror akhirnya menangkap terduga teroris AS pada pukul 21.30 tadi malam (5/7) di Kampung Kace, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan, dia ditangkap oleh tim gabungan Reserse Kriminal dan Intel Polda Bangka Belitung. Kemudian, dibawa ke Polda Bangka Belitung (Babel) untuk pemeriksaan lanjutan.

"Tersangka teroris yang melarikan diri berhasil ditangkap kembali okeh Densus 88 Antiteror," katanya saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Selasa (6/7).

Menurut Ramadhan, Densus 88 Antiteror turut menangkap dua orang yang membantu pelarian terduga teroris AS. Kendati demikian, tidak disebutkan apa hubungan keduanya dengan AS. 

"Iya sekaligus ditangkap dua orang yang ikut menyembunyikannya. Dibawa ke Polda Babel," ucap Ramadhan.

Untuk diketahui, terduga teroris AS melarikan diri saat diberikan waktu istirahat dalam proses introgasi. Dia saat itu diborgol kaki dan tangannya oleh penyidik.

Terduga teroris AS melarikan diri dalam melalui jendela. Terakhir dia menggunkan kaos berwarna abu-abu dengan rambut panjang, kulit sawo matang, dan memiliki beberapa tahi lalat di wajahnya.

Diterbitkan di Berita
Deni Wahyono - detikNews Bangka Belitung - Terduga teroris berinisial AS (44) kabur dari ruang pemeriksaan Polda Bangka Belitung (Babel). Dia diduga kabur saat jeda pemeriksaan.

Berdasarkan foto yang dilihat detikcom, Jumat (2/7/2021), AS terlihat berambut gondrong dan menggunakan kaos abu-abu lengan pendek. Dia diduga kabur dengan melepaskan borgol dari tangan serta rantai yang mengikat kakinya.

AS diduga merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Dia ditangkap di Babel usai dua terduga teroris DS dan SY tertangkap lebih dulu di Jakarta.

AS diduga melarikan diri saat berada di ruang pemeriksaan Polda Babel pada Kamis (1/7) dini hari. Kapolda Bangka Belitung, Irjen Anang Syarif Hidayat, membenarkan terduga teroris jaringan JAD, AS, melarikan diri dan masih dalam pengejaran.

"Ya betul, memang kemarin pada waktu pemeriksaan ini yang bersangkutan melarikan diri dan saat ini dalam pengejaran sekaligus kita pengembangan, karena kan kerja teroris, kerja orang-orang seperti ini tidak kerja sendirian. Pasti ada juga orang-orang sekitarnya," jelas Irjen Anang Syarif Hidayat lewat keterangan dari Kabid Humas Polda Babel, Kombes Maladi, yang diterima detikcom.

 

Terduga teroris AS yang kabur dari kantor polisi
Terduga teroris AS yang kabur dari kantor polisi Foto: dok. Polisi

 

Dia mengatakan pihaknya meminta semua pihak memberi informasi jika melihat AS. Dia mengingatkan semua pihak jangan membantu atau melindungi AS.

"Masyarakat agar tetap tenang dan tidak melindungi karena akan dikenakan UU Teroris apabila melindungi, jika melihat ciri-ciri seperti foto tersebut agar melapor ke Kepolisian terdekat dan kepada rekan-rekan wartawan dapat melaporkannya ke Humas Polda," ucapnya.

"Intinya jangan melindungi, kalau melindungi dia sama dengan turut serta melindungi terorisme. Masyarkat tidak perlu khawatir kepada yang bersangkutan, cukup informasikan saja kita jamin situasi akan tetap kondusif," sambungnya.

CCTV juga sudah dicek dan diketahui yang bersangkutan melarikan diri sekitar pukul 03.00 WIB sesuai waktu di CCTV. AS disebut keluar melalui jendela dan kabur ke daerah belakang Polda.

(haf/haf)

Diterbitkan di Berita

Puteranegara BatubaraOkezone JAKARTA - Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengungkapkan, terduga teroris BA yang ditangkap di Deliserdang, Sumatera Utara, pernah ikut latihan menembak bersama kelompok Jamaah Islamiyah.

"Keterlibatannya itu tahun 2015 dia mengikuti latihan menembak bersama anggota Rodifah Isobah Barat Kodimah Barat Jamaah Islamiah (JI)," kata Ramadhan saat dihubungi, Jakarta, Jumat (2/7/2021).

Kemudian, kata Ramadhan, pada 2014, terduga itu juga berperan sebagai pihak menyimpan senjata api yang digunakan untuk pelatihan tersebut.

Selain itu, pada 2016, terduga tersebut juga menjabat sebagai Ketua Khidmat Rodifah Isobah Barat Jamaah Islamiyah. Setahun berikutnya, ia ditetapkan sebagai ketua untuk koperasi yang diduga milik kelompok tersebut.

"Sejak 2017 terpilih sebagai ketua koperasi Attoyibah yang merupakan koperasi milik Rodifah Isobah JI dan sebagai penanam modal koperasi Attoyibah tersebut," ujar Ramadhan.

Sebelumnya, personel Detasemen Khusus 88 Anti-teror Mabes Polri menangkap seorang terduga teroris dari kawasan Bandar Klippa, Kecamatan Percut Seituan, Deliserdang, Sumatera Utara, Kamis (1/7/2021).  

(erh)

Diterbitkan di Berita

suaraislam.co Tiga terduga teroris, DS, SY, dan AS ditangkap Densus 88 Antiteror Polri. Penangkapan tersebut dilakukan di Duren Sawit, Jakarta Timur (Jaktim); Kembangan, Jakarta Barat (Jakbar); dan Bangka Belitung (Babel).

“Hari ini, Rabu, 30 Juni 2021, Densus 88 Antiteror Polri Satgas Wilayah DKI bekerja sama dengan Satgas Wilayah Babel telah melakukan penangkapan terhadap tiga orang diduga teroris namanya adalah DS, SY, dan AS,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, seperti dikutip dari detk.com, Rabu (30/6/2021).

Ramadhan mengungkapkan ketiganya diduga berasal dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Ketiganya ditangkap usai AS diduga mengirim paket senjata dari Babel ke Jakarta.

“Di mana perannya adalah menerima barang paket titipan dari saudara AS yang dikirim dari Provinsi Babel. Di mana setelah ditangkap Satgas Wilayah Densus 88 DKI, barang bukti yang diamankan adalah tiga pucuk senapan panjang dengan amunisi 120 butir, kemudian tiga pucuk senpi jenis revolver dengan amunisi 100 butir, juga ada dua pisau belati,” tuturnya.

“Hasil penyelidikan sementara bahwa kelompok ini adalah kelompok JAD,” sambung Ramadhan. Ramadhan mengatakan Densus masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mencari pelaku lainnya. DS dan SY yang ditangkap di Jakarta bakal dibawa ke Polda Metro Jaya.

“Selanjutnya tentunya Densus teruskan penyelidikan lebih lanjut di mana pelaku-pelaku lain. (DS dan SY) akan dibawa ke Polda Metro Jaya,” tuturnya.

Diterbitkan di Berita