KBRN, Jakarta: Satuan Tugas (Satgas) Operasi Madago Raya melakukan penggerebekan di beberapa lokasi yang merupakan persembunyian kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Qatar di wilayah Manggalapi dan Tagara, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Dalam penggerebekan tersebut, Satgas Madago menemukan sejumlah barang yang diduga milik kelompok MIT, seperti tas ransel, parang (sejenis golok), gergaji, obat-obatan, bahan makanan, bumbu dapur, hingga badge simbol ISIS berukuran kecil.

"Disitanya sejumlah barang-barang tersebut, dipastikan akan menyulitkan pelarian kelompok ini. Mereka akan kekurangan bahan makanan dan perlengkapan pendukung lainnya," terang Irjen Pol Abdul Rakhman Baso, Penanggung Jawab Komando Operasi Satgas Madago Raya, melalui keterangan tertulis seperti dilansir CNN Indonesia, Minggu (27/6/2021).

Saat ini, demi keamanan, Satgas telah membatasi masyarakat atau petani untuk menuju ke kebun mereka yang berada di wilayah dekat tempat persembunyian kelompok MIT tersebut.

Sementara itu, Komandan Korem 132 Tadulako, Brigjen TNI Farid Makruf menyampaikan, temuan barang-barang milik MIT untuk menunjukkan bahwa mereka masih memiliki dukungan atau simpati.

Atas dasar itu, Farid mengingatkan masyarakat setempat untuk berhenti menjadi pendukung kelompok bersenjata ini, dengan cara tidak lagi memasok informasi dan logistik apapun kepada kelompok tersebut.

Selanjutnya, Farid memastikan persenjataan kelompok MIT ini sudah tak lagi memadai, ditambah sembilan anggota kelompok Ali Kalora ini dalam keadaan kekurangan makanan dan lainnya.

"Bagi kami sebenarnya mudah melumpuhkan sembilan orang ini bila ditemukan. Kesulitannya adalah mereka dibantu informasi oleh masyarakat. Dibantu pula logistiknya oleh masyarakat yang merupakan simpatisan mereka. Pergerakan pasukan dan informasi lainnya mudah mereka ketahui dan bahan makanan mereka pun selalu dipasok oleh simpatisan," tutur Farid.

Karenanya, kata Farid, penting bagi masyarakat untuk menghentikan pasokan logistik dan informasi kepada kelompok MIT agar operasi ini selesai.

"Kalau mereka tidak didukung informasi dan logistik, mereka di atas akan kelaparan sehingga dengan mudah dilumpuhkan. Lalu dibawa untuk diadili demi mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di negara kita," tandas Farid.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Warganet geram dengan viralnya seorang pengguna akun FB bernama Lutpi Anwar yang terang-terangan mengancam akan membunuh Presiden Joko Widodo jika tidak membebaskan Habib Rizieq Shihab (HRS). 

Di akun FB Mak Lambe Turah, banyak netizen mengecam aksi pengguna FB tersebut. 

Kang Bahar: “Jangan bilang kamu kilaf Emosi ya ? Kamu harus merasakan Tidur di KANDANG BESI LEBIH LAMA dari JUNJUNGANMU RIZIQ.”

Ineu Apriyani: “Jgn sampe pake materai.”
 

ꦲꦤꦏ꧀ꦩꦱ꧀: “Nunggu berita keciduk nya min...”

Eddy Hariyanto: “Koplak se koplak koplaknya.”

Niko Siregar: “Itu bentuk ancaman teroris.”

Untuk diketahui, baru-baru ini, pengguna Facebook bernama Lutpi Anwar secara terang-terangan mengancam akan mem-bunuh Presiden Jokowi andai tak membebaskan Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab dari tahanan.

Bahkan, pria yang diketahui berasal dari Bogor, Jawa Barat itu turut mengirimkan perkataan kasar dan tak pantas kepada pemimpin negara tersebut.

“Harus dibunuh dengan cara apa supaya dia mati? PKI datang ke Indonesia, Jokowi biadab. Ulama besar, al Habib Rizieq dimasukkan ke dalam penjara, Jokowi bangs*t,” tulisnya melalui media sosial Facebook yang kemudian dibagikan ulang akun @narkosun, Kamis 24 Juni 2021.

Pria yang terlihat masih muda itu tak terima, lantaran Jokowi kerap menangkap ulama atau pemuka agama panutannya. Maka, kemarahannya terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut semakin menjadi-jadi.

“Saya tidak rela ulama-ulama dipenjara sama si cungkring,” tegasnya.

Parahnya, di penghujung kalimat, dia mengajak orang lain bersama-sama mengumpulkan tekat untuk membunuh Jokowi. Dia berharap, dengan terbunuhnya Jokowi, Indonesia dipimpin sosok lain yang menurutnya lebih baik.

“Siapkan tekat kalian untuk bunuh Jokowi. Ganti lah presiden. Kita rakyat Indonesia sengsara dipimpin oleh si cungkring. Salam dari saya, Lutpi,” kata dia.

Cuitan Lutpi kemudian diunggah ulang oleh akun @/narkosun di media sosial Twitter.

Hingga tulisan ini dimuat, unggahan tersebut sudah mendapat ratusan komentar, like, dan retweet. Kebanyakan dari mereka langsung mengirimkan aduan ke akun @DivHumas_Polri melalui kolom komentar.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Para pejuang Taliban kembali merebut puluhan distrik di Afghanistan setelah mereka meningkatkan serangan pada saat proses penarikan terakhir oleh pasukan asing berlangsung, menurut laporan dari PBB.

Para gerilyawan merebut lebih dari 50 dari 370 distrik sejak Mei, kata utusan khusus PBB Deborah Lyons kepada Dewan Keamanan PBB dengan memperingatkan skenario mengerikan.

Dia mengatakan peningkatan konflik berarti peningkatan ketidakamanan bagi banyak negara lain. Sementara itu, AS dan NATO masih menargetkan penarikan pasukan sepenuhnya pada 11 September.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan situasinya 'tetap dinamis' meskipun Taliban diuntungkan.

Baca Juga : Penarikan Pasukan AS Dimulai dari Afghanistan, Taliban Jadi Ancaman

Hanya saja hal itu tidak mengubah penarikan pasukan AS dan masih ada fleksibilitas bagi AS untuk bertindak.

Kemajuan kelompok Islam garis keras baru-baru ini adalah hasil dari "serangan militer yang intensif", kata Lyons kepada 15 anggota Dewan Keamanan PBB di New York seperti dikutip CNN.com, Rabu (23/6/2021).

"Distrik-distrik yang telah diambil itu mengelilingi ibu kota provinsi yang menunjukkan bahwa Taliban memposisikan diri mereka untuk mencoba mengambil ibu kota ini begitu pasukan asing ditarik sepenuhnya," katanya.

Taliban juga merebut perbatasan utama Afghanistan dengan Tajikistan pada Selasa, kata para pejabat. Persimpangan itu berada di provinsi utara Kunduz, tempat pertempuran meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga : Joe Biden Masih Ragu Tarik Pasukan AS dari Afghanistan

Pejuang Taliban mengatakan mereka memiliki kendali atas seluruh provinsi dan tinggal ibu kota provinsi dan Kunduz yang dipertahankan oleh pemerintah.

Namun, kementerian pertahanan di Kabul mengatakan pasukan Afghanistan telah merebut kembali beberapa distrik dan operasi sedang berlangsung.

Kota Kunduz berada di posisi strategis dan sempat jatuh ke tangan pemberontak pada 2015 dan setahun kemudian direbut kembali oleh pasukan pemerintah yang didukung NATO.

Media lokal melaporkan bahwa Taliban juga telah menyita sejumlah besar peralatan militer, dan membunuh serta melukai atau menangkap puluhan tentara.

Author: John Andhi Oktaveri
Editor : Oktaviano DB Hana

Diterbitkan di Berita

medcom.id Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut ada ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang terhasut jaringan teroris global. Mereka semua dibawa ke Irak dan Suriah.

"Berdasarkan catatan keberangkatan itu setidaknya 1.500 warga negara kita telah berangkat ke sana," kata Kepala BNPB Boy Rafli Amar dalam rapat internal secara virtual dengan Media Group, Senin, 21 Juni 2021.

Boy mengatakan jaringan teroris yang membawa mereka terafiliasi dengan Al-Qaeda, ISIS, dan Taliban. WNI yang ikut ke Irak dan Suriah diiming-imingi sejumlah uang dan fasilitas.

"Mereka menjanjikan ketika berangkat akan mendapatkan sejumlah gaji, fasilitas pendidikan, dan fasilitas asuransi, dan sebagainya," ujar Boy.

Namun, fasilitas dan uang itu hanya omong kosong. Setibanya di Irak maupun Suriah mereka hidup sengsara.

"Sebagian besar dari mereka masih berada di camp-camp tahanan. Untuk yang pria, dan wanita, dan bahkan anak-anak berada di camp pengungsian," kata Boy.

BNPT juga mencatat sebagian dari mereka ada yang dideportasi dari Irak dan Suriah. Beberapa orang di antaranya dinyatakan meninggal.

"Ada yang telah meninggal dunia estimasi sekitar seratus dan kemudian melakukan relokasi ke negara-negara yang sedang konflik lainnya," ucap Boy.

Boy mengatakan mereka semua terhasut karena narasi propaganda yang disebar kelompok teroris. Narasi itu harus dimusnahkan agar warga negara tidak ada lagi yang tertipu dengan muslihat kelompok teroris.

Untuk itu, BNPT menggelar kerja sama dengan Media Group. Kerja sama itu diharap bisa menghapuskan narasi sesat dari kelompok teroris di Indonesia. BNPT juga ingin mengadakan acara terbuka dengan Media Group.

"Menurut hemat kami ini perlu perlibatan semua masyarakat agar masyarakat bisa tercerahkan, kemudian tentunya kita berupaya agar jangan sampai banyak lagi masyarakat yang terperdaya untuk berangka ke Irak dan Suriah tersebut," kata Boy.
 
(JMS)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap seorang terduga teroris yang berbaiat kepada organisasi terlarang ISIS di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan menjelaskan, selain berbaiat ke ISIS, terduga DR alias AQD juga merupakan jaringan dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) wilayah Jawa Barat.

"Ditangkap 1 orang DR alias AQD penangkapan hari ini, Jumat jam 13.30 di Desa Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Tasikmalaya, Jabar," kata Ramadhan dalam jumpa pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (18/6/2021).

Ramadhan menjelaskan, terduga teroris tersebut merupakan anggota JAD di bawah pimpinan terduga teroris T yang sudah terlebih dahulu ditangkap oleh Detasemen berlambang burung hantu.

Terduga DR alias AQD diketahui pada September 2019 lalu juga terlibat Idad di Gunung Galunggung, bersama tiga teroris JAD yang sudah ditangkap juga, yakni BRK, AF dan RA.

"Kemudian, telah baiat ke pimpinan organisasi terlarang ISIS pada Desember 2019 dirumah saudara Y dipandu saudara T. Terakhir peranannya mufakat pembentukan RQ Sabilunajah yang digagas oleh T yang telah ditangkap," tutup Ramadhan.

(cip)

Diterbitkan di Berita

kontraradikal.com

Krisna Dwi Wardhana alias Abu Aliyah Al Indunisy adalah pria asal Sumatera Barat yang penyuplai bahan bahan kimia yang digunakan untuk membuat bahan peledak bom oleh sejumlah tersangka terorisme.

KDW juga memiliki channel YouTube yang membagikan video-video tata cara permainan kimia atau apapun tentang kimia.

Dan di dalam akun YouTube milik KDW tersebut banyak unggahan video–video tentang eksperimen mengenai uji coba meracik bahan kimia yang dapat menjadi sebuah referensi untuk membuat bahan peledak bom.

Saat penangkapan, tim juga mengamankan sejumlah barang bukti, yakni; satu buah buku The Mujahideen Poisons Handbook, 10 lembar black dolar, Potassium Klorat (KClO3), Sulfur (S) dan Aluminium (Al) yang merupakan bahan baku bahan peledak berkekuatan rendah (low explosive) flash powder.

Menurut Pendiri Negara Islam Indonesia Crisis Center Ken Setiawan, pergerakan kelompok radikal di Sumatera Barat memang agak unik, hampir sama dengan Aceh, ada pergerakan kelompok yg bersifat ideologis dan ada juga yang biologis, karena ada sejarah kelam masa lalu dengan pemerintah yang mempengaruhi.

Ditanya apakah hal tersebut yang mempengaruhi kenapa pilpres yang lalu pak Jokowi kalah telak di Sumatera Barat, Ken tidak menjawab, hanya mengatakan kalau orang sumbar baik baik dan dirinya sering datang kesana.

Ken malah menanggapi lemahnya pengawasan peredaran senjata dan bahan peledak (sendak) yang dinilai sangat berbahaya, sebab dimanfaatkan betul oleh kelompok radikalisme untuk melakukan aksi teror.

Bahkan Ken mencium ada aroma bahwa saat ini ada oknum kelompok radikal dalam melakukan kegiatan latihan mulai terbuka dengan bergabung ke Perbakin, jadi latihan menembak tidak perlu sembunyi sembunyi dihutan lagi, tapi legal dan bisa ikut pertandingan menembak ditingkat daerah maupun nasional.

Kasus penembakan wanita di Mabes Polri menurut Ken harusnya dijadikan pelajaran dan evaluasi bahwa kelompok radikal kini tak perlu bergabung dan berbaiat dengan suatu kelompok tertentu, cukup belajar di media sosial, yang penting sudah punya modal kebencian kepada aparat dan pemerintah, punya keberanian, maka bisa melakukan aksi teror lone wolf, ini yang kadang tidak termonitor oleh pantauan aparat kerena berdiri sendiri. Tutup Ken.

Diterbitkan di Berita

Tim TvOne Jakarta - Tim Detasemen khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap KDW alias Abu Aliyah Al Indunisy, penyuplai bahan bahan kimia yang digunakan untuk membuat bahan peledak bom oleh sejumlah tersangka terorisme.

KDW ditangkap tim Densus 88 di Komplek Perumahan Indrapasta Bogor, pada Senin (14/6/2021) sekitar pukul 10.43 WIB.

Menurut sumber tvOne, KDW juga memiliki channel YouTube "bisakimia" yang membagikan video-video tata cara permainan kimia atau apapun tentang kimia yang bermanfaat. 

Dan di dalam akun YouTube milik KDW tersebut banyak unggahan video–video tentang eksperimen mengenai uji coba meracik bahan kimia yang dapat menjadi sebuah referensi untuk membuat bahan peledak bom.

KDW, pria kelahiran Padang 14 Agustus 1991 ini beralamat tinggal di Perum. Indraprasta, Jl. Gandaria 2 Blok D 2 No. 7 Rt. 004 Rw. 013 Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Kota Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat.

Saat penangkapan, tim Densus 88 juga mengamankan sejumlah barang bukti, yakni; satu buah buku The Mujahideen Poisons Handbook, 10 lembar black dolar, Potassium Klorat (KClO3), Sulfur (S) dan Aluminium (Al) yang merupakan bahan baku bahan peledak berkekuatan rendah (low explosive) flash powder.

Kemudian Potassium Nitrat (KNO3), Karbon (C) dan Sulfur (S) yang merupakan bahan baku bahan peledak berkekuatan rendah (low explosive) peledak black powder.

Serta Hidrogen Peroksida (H2O2) yang dapat digunakan sebagai bahan baku dan Asam Sulfat (H2SO4)/Asam Klorida (HCl) yang dapat digunakan sebagai katalis dalam pembuatan bahan peledak primer berkekuatan tinggi (primary high explosive) TATP (Triacetone Triperoxide).

Tim juga menyita barag bukti berupa Merkuri Nitrat (Hg(NO3)2) dan etanol (C2H5OH) yang dapat digunakan sebagai bahan baku bahan peledak primer berkekuatan tinggi (primary high explosive) Merkuri (II) Fulminat (Hg(CNO)2). (ito)

Diterbitkan di Berita
Adhyasta Dirgantara - detikNews Jakarta - Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) berinisial KDW di Bogor, Jawa Barat, Senin (14/6) malam lalu. KDW merupakan lulusan Universitas Indonesia (UI)

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Biro Humas dan KIP UI Amelita Lusia. KDW merupakan lulusan UI Fakultas MIPA.

"Ya. Yang bersangkutan (KDW) alumni Kimia FMIPA UI," ujar Kepala Biro Humas dan KIP UI Amelita Lusia saat dimintai konfirmasi, Rabu (16/6/2021).

Amelita mengatakan KDW mulai berkuliah di UI pada 2009. Tak butuh waktu lama, KDW lulus 3 tahun kemudian pada 2012.

"Angkatan 2009 dan lulus pada 2012," ucapnya.

Amelita menepis kabar kalau KDW adalah lulusan terbaik di UI kala itu. Dia juga enggan membeberkan keseharian KDW selama menjadi mahasiswa.

"Bukan lulusan terbaik. Untuk pertanyaan ini (keseharian KDW selama masih mahasiswa) bukan di ranah kami," tutup Amelita.

Penyedia Bahan Baku Bom

Sebelumnya, Densus 88 menangkap terduga teroris berinisial KDW (30) di Bogor, Jawa Barat. Polri mengungkap KDW berperan sebagai penyedia bahan baku untuk bom.

"Densus telah mengamankan satu tersangka pelaku teror di Indonesia. Diamankan di Bogor, Jawa Barat, atas nama KDW berumur 30 tahun. Ini termasuk di dalam kelompok Jamaah Ansharut Daulah," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono kepada wartawan di Mabes Polri, Selasa (15/6).

"Peran tersangka KDW ini yang mempersiapkan bahan-bahan kimia yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuat bom," sambungnya.

Selain itu, Rusdi membeberkan sejumlah barang bukti saat Densus 88 menangkap KDW. Beberapa di antaranya merupakan bahan kimia, seperti dekstran, sodium borate, hingga HCL.

"Dari tersangka KDW diamankan bermacam-macam bahan-bahan kimia, antara lain dekstran, magnesium sulfat, sodium borate, HCL, belerang, dan bahan-bahan kimia lain. Ini diamankan dari tersangka KDW," tutur Rusdi. 

(mea/mea)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Indonesia karena angka penularan infeksi virus corona (Covid-19) yang dinilai tinggi dan kemungkinan adanya serangan teror.

Larangan itu dikeluarkan melalui travel advisory yang dirilis dalam laman travel.state.gov sejak Selasa (8/6) lalu. AS mengeluarkan peringatan Level 3 bagi warganya yang berencana berkunjung ke Indonesia.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) AS menyebut bahwa peringatan level 3 berarti orang-orang diminta untuk menghindari masuk ke Indonesia, kecuali untuk kepentingan mendesak. Warga diminta mempertimbangkan kembali rencana keberangkatannya.

"Tindakan karantina yang dijalankan pemerintah diberlakukan untuk semua orang asing. Kunjungi situs Kedutaan Besar AS di Indonesia untuk informasi Covid-19 di Indonesia," tulis laman tersebut.

Selain karena Covid-19, kekhawatiran akan serangan teror juga menjadi pertimbangan AS untuk mengimbau warganya tak mengunjungi RI.

"Teroris dapat menyerang dengan sedikit atau tanpa peringatan, menargetkan kantor polisi, tempat ibadah, hotel, bar, klub malam, pasar/pusat perbelanjaan, dan restoran," tulis mereka.

Tak hanya itu, AS juga mengimbau warganya untuk mempertimbangkan perjalanan ke Sulawesi Tengah dan Papua akibat kerusuhan sipil yang terjadi belakangan ini.

Selain itu, AS juga menyoroti rawannya bencana alam di Indonesia seperti gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung berapi untuk setidaknya menjadi pertimbangan perjalanan.

(nly/asr)

 

 

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Direktur Identifikasi dan Sosialisasi Densus 88 Anti-teror Polri Kombes Pol MD Shodiq mengatakan Densus 88 melakukan pendekatan yang humanis kepada pelaku maupun orang-orang yang terpapar terorisme sebagai upaya deradikalisasi.

Kombes Pol MD Shodiq pada diskusi Peran Yayasan Debintal dalam reintegrasi mantan narapidana terorisme di Indonesia, di Jakarta, Sabtu, mengatakan sampai saat ini belum ditemukan model yang tepat upaya deradikalisasi teroris.

"Sampai hari ini pun belum ada saya baca baik jurnal maupun di buku-buku dari para pakar ahli bagaimana orang yang sudah radikal tinggi dengan berbagai teori dan metodologi supaya kembali kepada pemikiran yang moderat, ini saya belum temukan," kata dia.

Oleh karena itu, menurut dia Densus 88 melakukan pendekatan humanis sebagai sebagai upaya deradikalisasi terhadap pelaku, mantan bahkan orang yang terpapar terorisme.

"Sehingga kami melakukan pendekatan ini yang soft yang humanis terhadap orang yang terpapar radikal, dengan harapan membangun kepercayaan, ini yang penting," kata dia.

Dia membagikan pengalamannya yang sudah terlibat menghadapi terorisme sejak 21 tahun lalu. Berbagai upaya dilakukan agar orang-orang yang sudah radikal tinggi bisa kembali menjadi moderat.

"Era 2000 sampai dengan 2008-2009 kita lakukan pendekatan dengan pendekatan tokoh-tokoh jihadis di jazirah Arab, tokoh-tokoh Al-Qaeda yang sudah kembali pada pemahaman modern kita hadirkan," kata dia.

Namun, menurut dia beberapa metode deradikalisasi yang dilakukan itu baik yang dilakukan oleh Densus 88 maupun bersama institusi yang resmi, yakni BNPT belum menghasilkan hal yang sangat signifikan.

"Artinya hanya trial and error, hanya mencoba-coba jadinya mana konsep yang bagus untuk menurunkan tingkat radikalisme ini. Nah ketika dibentuk nomenklatur baru di Densus, kami membuat satu konsep bagaimana melakukan pendekatan baik di dalam rutan, di lapas maupun di luar lapas," ucapnya.

Dia mengatakan, jika berbicara deradikalisasi sesuai peraturan perundang-undangan, deradikalisasi itu dilakukan terhadap orang yang statusnya sudah menjadi tersangka, sementara pemahaman dari kalangan luar menilai deradikalisasi adalah proses secara komprehensif.

Artinya kata dia belum dilakukan penegakan hukum pun, mereka yang terpapar radikal juga harus diberikan pendekatan-pendekatan deradikalisasi.

"Sehingga kami melakukan pendekatan ini yang soft yang humanis terhadap orang yang terpapar radikal. Dasar utama pendekatan dengan trust, kebutuhan primer, kemudian pendekatan membangun komunitas, terjadi suatu pertemuan yang rutin sehingga hubungan emosional akan terjalin," ucapnya.

Hal itu lanjut dia pelan-pelan akan menarik kembali orang-orang yang sudah terpapar, agar kembali membuka mindset mereka, membuka ruang bahwa dunia itu tidak seperti yang mereka pahami selama ini.

Dengan pemahaman itu pula, lanjut dia, para napiter yang berada di rutan, lapas hingga sampai kembali ke masyarakat nantinya perlu mendapatkan wadah pendampingan. Wadah tersebut menurut dia direalisasikan dalam bentuk Yayasan Debintal

"Harapan kita ini nanti akan jadi satu role model yayasan yang mengimplementasikan kegiatan pemahaman yang moderat. Dan kalau bisa nantinya di sana juga dibuat area tangguh ideologi," ujarnya.

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita