Danar Widiyanto YOGYA, KRJOGJA.com – Covid-19 varian B.1617.2 atau delta belum terdeteksi di DIY sejauh ini, namun bukan berarti varian tersebut belum ada.

Hal inilah yang perlu ditekankan kepada masyarakat DIY bahwasanya virus Corona varian delta belum terdeteksi bukan berarti tidak ada.

Selanjutnya ditindaklanjuti dengan melakukan pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) terutama sampel kasus Covid-19 di DIY yang sedang tinggi-tingginya pada Juni 2021 ini.

“Kita diminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar fokus membantu kasus Covid-19 di Kudus. Kemudian kita berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY untuk sampel-sampel kasus Covid-19 yang melonjak tajam di DIY pada Juni 2021 ini.

Virus Corona varian delta belum terdeteksi sampai saat ini, tapi bukan berarti belum ada, itu yang ditekankan lagi ke masyarakat,” papar Ketua Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM dr Gunadi Sp BA PhD di Yogyakarta, Jumat (25/6/2021).

Gunadi menyatakan pihaknya mengambil dan me-running sampai ada bukti pemeriksaan WGS dari sampel ini. Jika belum ada hasil bukti pemeriksaan WGS tersebut, pihaknya belum bisa menyatakan varian delta sudah masuk di DIY.

Terlebih dengan mobilitas yang sulit dikendalikan saat ini, dipastikan meningkatkan.

“Dari sampel-sampel itu mungkin kita bisa ambil, kita running dulu sampai ada bukti Genome Sequencing. Belum ada, ya kita belum bisa mengatakan sudah masuk atau belum,,” tegasnya.

Perihal WGS ini, Gunadi menyampaikan terdapat sekitar 30 sampel di DIY yang diperiksa. Sampel tersebut akan dites bersamaan dengan 20 sampel Corona kasus anak-anak dari Solo, Jawa Tengah sehingga pihaknya masih menunggu sampel dari Solo Raya.

“Kalau running 48 sampel maka yang diperlukan sampling 20 tapi sisanya kan sayang tetapi habis itu tidak bisa dipakai langsung hilang. Pemeriksaan WGS membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu setelah semua sampel diterima dan peluang terjadinya transmisi lokal,” imbuhnya.

Covid-19 yang sudah ada mempunyai empat varian alpha, beta, gamma dan delta, sedangkan varian yang sudah ada di Indonesia adalah alpha, beta dan delta.

Tetapi sekarang yang mendominasi adalah varian delta yang sudah terdeteksi terutama di DKI Jakarta, Bangkalan, Kudus dan Karawang karena sudah terjadi transmisi lokal dan mobilitas sulit dibatasi serta bed occupancy rate (BOR) meningkat. (Ira)

Diterbitkan di Berita
Kadek Melda Luxiana - detikNews Jakarta - Menko Polhukam Mahfud Md bercerita soal sulitnya pemerintah menangani pandemi Corona atau COVID-19. Dia mengatakan hal itu dipicu banyaknya perbedaan pendapat yang muncul terkait Corona.

"Menyikapi pandemi itu bukan hanya terjadi antara masyarakat dan pemerintah. Di kalangan masyarakat juga beda-beda, sehingga bagi pemerintah tidak mudah," kata Mahfud dalam webinar virtual bertajuk 'Pandemi Sebagai Momentum Perubahan Kebijakan Ekonomi Pro Pemerataan', Sabtu (26/6/2021).

Mahfud mencontohkan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan dokter. Dia menyebut masih ada dokter yang tidak percaya dengan masker dan juga vaksin.

"Di kalangan dokter aja sampai hari ini ada yang mengatakan bahwa itu tidak perlu masker itu. Itu nanti hilang sendiri. Ada yang mengatakan nggak perlu vaksin. Itu seorang profesor, doktor, masih ada yang mengatakan begitu," ujarnya.

Dia juga menyebut perbedaan pendapat terjadi pada kalangan akademisi hingga tokoh agama. Mahfud mengatakan permasalahan ini menjadi salah satu hal yang harus ditangani pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19.

"Apalagi antara dokter dengan bukan dokter, sosiolog ya, soalnya ramai memperdebatkan apakah mudik itu perlu dilarang atau tidak perlu, lockdown atau tidak, dikarenakan sosiologi, dokter, beda-beda. Tokoh agama juga berbeda-beda ini persoalan kita," ucapnya.

Kasus COVID-19 Terus Melonjak

Kasus COVID-19 di RI sendiri terus bertambah. Pada 26 Juni 2021, rekor penambahan kasus kembali terjadi yakni sebanyak 21.095 positif Corona ditemukan di RI.

Data penambahan kasus Corona ini disampaikan oleh Kementerian Kesehatan RI, Sabtu (26/6). Data diperbarui setiap hari per pukul 12.00 WIB.

Dengan penambahan 21.095, total kumulatif kasus COVID-19 yang ditemukan di RI hingga hari ini sebanyak 2.093.962 kasus. Sementara itu, kasus aktif COVID-19 sampai hari ini sebanyak 194.776 kasus.

Pemerintah juga melaporkan kasus sembuh Corona. Hari ini terdapat 7.396 pasien telah sembuh dari Corona, sehingga kasus sembuh hingga saat ini 1.842.457.

Selain itu, sebanyak 358 pasien Corona meninggal dunia hari ini. Jumlah pasien COVID-19 di Indonesia yang meninggal dunia sebanyak 56.729 orang.

(haf/haf)
Diterbitkan di Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander Ginting memprediksi kasus Covid-19 di Indonesia akan melandai pada pertengahan Juli 2021.

Hal ini bisa tercapai apabila pengendalian Covid-19 berdasarkan zonasi dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dimaksimalkan.

"Kalau misalnya zonasi-zonasi ini bisa dikunci, itu pertengahan Juli tentunya sudah mulai ada pelandaian," ujar Alexander dalam diskusi bertajuk Covid Gawat Darurat pada Sabtu (26/6).

Alexander menjelaskan, daerah yang berada di zona merah risiko Covid-19 harus melakukan penguncian terhadap mobilitas warga. Kegiatan masyarakat di tempat umum seperti wisata, pusat perbelanjaan, dan rumah ibadah dilarang di zona merah.

Sementara, daerah yang masuk kategori zona hijau dapat sedikit melonggarkan aktivitas warga dengan pembatasan kapasitas dan penerapan protokol kesehatan lebih ketat.

Apabila kepala daerah melakukan pengendalian Covid-19 sesuai instruksi penerapan PPKM Mikro, maka kasus diharapkan melandai sekitar pertengahan Juli mendatang.

Namun, Alexander mengkhawatirkan adanya momen perayaan keagamaan dan budaya yang dapat memicu peningkatan mobilitas masyarakat. Sehingga, aktivitas warga dapat kembali menyebabkan penyebaran virus corona dan lonjakan kasus positif Covid-19.

"Sepanjang kita masih saling menularkan virus ini existing, tapi kalau kita sudah saling tidak menularkan lagi maka virus ini juga tidak punya jalan untuk bereplikasi," kata Alexander.

Data per 25 Juni menunjukkan, total kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 2.072.867 kasus dengan kasus aktif 181.435 kasus. Ada 1.835.061 kasus sembuh, sedangkan kasus meninggal dilaporkan sebanyak 56.371 kasus.

Diterbitkan di Berita

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sedang mengkaji kemungkinan pemberian vaksin COVID-19 untuk anak berusia di bawah 18 tahun.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan kebijakan itu ditempuh seiring dengan melonjaknya kasus COVID-19 di Tanah Air dan semakin banyak kelompok anak berusia 18 tahun ke bawah yang terjangkit virus corona.

Kemenkes saat ini sedang melakukan penelitian mengenai tingkat severity atau keparahan terhadap anak usia di bawah 18 tahun di Indonesia yang tertular virus corona.

Ia menjelaskan, berdasarkan data global, anak usia 18 tahun ke bawah yang terpapar COVID-19 menunjukkan 99 persen sembuh dibandingkan dengan kelompok usia dewasa atau 18 tahun ke atas.

Maka dari itu, pihaknya saat ini sedang mengkaji vaksin-vaksin COVID-19 mana saja yang sudah memiliki emergency use of authorization (EUA) untuk diberikan kepada anak di bawah 18 tahun.

 

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan , Jakarta, Senin (7/6) mengatakan sekolah Tatap muka dilakukan secara Terbatas (biro pers).
Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan , Jakarta, Senin (7/6) mengatakan sekolah Tatap muka dilakukan secara Terbatas (biro pers).

 

“Yang sudah kita amati sekarang yang ada di list kita, yakni Sinovac, yang bisa antara umur 3-17 tahun, kemudian Pfizer yang bisa umur 12-17 tahun. Itu sudah keluar EUA-nya,” ungkap Budi dalam telekonferensi pers, di Jakarta, Jumat (25/6).

Budi mengatakan pihaknya sedang berdiskusi dengan badan independen Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) terkait pemberian vaksin COVID-19 kepada anak.

Selain itu, Kemenkes juga akan melihat bagaimana negara-negara lain, seperti Eropa dan Amerika Serikat, dalam melakukan vaksinasi ini kepada anak-anak di bawah 18 tahun tersebut.

“Dan di grup mana mereka memberikan sehingga dengan demikian kita bisa mengeluarkan keputusan yang komprehensif berdasarkan data yang ada di kita, data penggunaan atau policy di negara-negara lain, dan juga data ilmiah kesehatan EUA yang sudah diberikan terhadap perusahaan vaksin tersebut,” jelasnya.

Vaksinasi Anak Tidak Mudah

Ketua ITAGI, Sri Rezeki Hadinegoro, mengonfirmasi diskusi antara pihaknya dengan Kemenkes terkait pemberian vaksinasi COVID-19 pada anak-anak.

Ia menegaskan jika rencana vaksinasi pada anak usia di bawah 18 tahun direalisasikan, maka hal ini akan dilakukan secara bertahap untuk memastikan keamanannya.

“Jadi kalau pun untuk anak, kita akan kelompokkan. Kelompok yang besar-besar dulu seperti umur 12-17 tahun, terus nanti yang umur 6-11 tahun. Baru nanti di bawah 5 tahun," kata Sri Rezeki Hadinegoro kepada VOA.

Jadi, tambahnya, akan ada tiga kelompok yang mungkin berbeda-beda waktu pelaksanan vaksinasinya.

 

Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin Sinovac untuk COVID-19 saat vaksinasi massal untuk petugas medis di stadion Istora Senayan, Jakarta, 4 Februari 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin Sinovac untuk COVID-19 saat vaksinasi massal untuk petugas medis di stadion Istora Senayan, Jakarta, 4 Februari 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

 

"Karena ini kan vaksin baru ya. Kita musti coba dulu di anak yang lebih besar, aman atau tidak? kalau bagus baru kita (beri) ke adiknya, baru nanti ke bawahnya lagi. Jadi secara bertahap,” ungkap Sri.

Meski begitu, ia tidak bisa memastikan kapan hal ini akan dilakukan, mengingat masih banyak data dan penelitian yang harus dipelajari untuk memastikan agar pemberian vaksin COVID-19 ini aman. Selain itu, ia menggarisbawahi bahwa teknis pelaksanaannya nanti tidak akan mudah.

“Dan pelaksanaannya gak gampang, sekarang aja yang dewasa belum selesai. Kita musti pikirkan pemberiannya mau gimana? Apakah lewat sekolah, atau bukan.

Biasanya kan imunisasi anak-anak sekolah ini lewat sekolah, kita kan sudah punya strukturnya, apakah kita mau pakai itu atau bagaimana? karena kan sekolah belum buka. Jadi itu kan harus dibicarakan, makanya ini belum matang,” katanya.

Pemerintah Buka Program Vaksinasi Untuk Remaja Usia 18 Tahun

Ditambahkannya, yang harus dipikirkan pemerintah selanjutnya adalah masalah logistik, yakni ketersediaan vaksin itu sendiri. Pasalnya, stok vaksin COVID-19 masih terbatas dan banyak negara yang masih memperebutkan vaksin COVID-19 ini.

“Lalu bagaiimana pemberiannya? Apakah sama seperti orang dewasa atau bagaimana? Pang paling penting sistem imun anak-anak itu kan beda sama orang dewasa. Kalau di atas 12 tahun hampir seperti dewasa, tapi kalau di bawah 12 tahun, kan beda. Ini kita musti hati-hati juga,” pungkasnya. [gi/ah]

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Komando Daerah Militer Jayakarta (Kodam Jaya) mengerahkan sedikitnya 200 tenaga kesehatan dari TNI untuk melayani vaksinasi COVID-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).

"Ada 200 nakes (tenaga kesehatan) dari TNI yang siap melayani vaksinasi COVID-19 di GBK hari ini," kata Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Jaya, Letkol Arh Herwin BS, di Stadion GBK, Jakarta, Sabtu.

Herwin menambahkan target peserta penerima vaksinasi COVID-19 di Stadion Utama GBK tersebut sekitar 10 ribu orang.

"Targetnya delapan sampai sepuluh ribu peserta hari ini," ujar Herwin.

Herwin mengatakan para peserta yang ikut vaksinasi COVID-19 di Stadion Utama GBK wajib memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI Jakarta.

"Mereka daftar melalui aplikasi JAKI," tutur Herwin. Sebelumnya Pemprov DKI menggelar program "Serbuan Vaksin" yang diperuntukkan bagi warga DKI Jakarta saja yang dimulai pada pukul 08.00 WIB - 12.00 WIB.

"Kuota terbatas, khusus ber-KTP DKI Jakarta," tulis pengumuman dalam Instagram Dinkes DKI Jakarta.

Untuk warga ber-KTP DKI Jakarta, dapat melakukan pendaftaran melalui aplikasi JAKI yang bisa diunduh di .

Pada aplikasi tersebut pada pilihan tempat vaksinasi, pilih lokasi Kelurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang.

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan anggaran pemerintah untuk penanganan pandemi COVID-19 masih tersedia dan dapat dimanfaatkan secepat dan setepat mungkin.

Hal tersebut juga telah dikonfirmasi Menkes Budi kepada Bendahara Negara yakni Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

"Bu Sri Mulyani juga menyampaikan beberapa kali bahwa tak perlu khawatir karena uangnya disiapkan, tinggal sekarang bagaimana kita bisa mengutilisasikan itu seefisien mungkin," kata Budi dalam konferensi pers daring yang disiarkan Youtube Sekretariat Presiden, Jakarta, Jumat.

Budi menjelaskan anggaran secara khusus untuk penanganan COVID-19 sebesar Rp131 triliun. Penyerapan anggaran itu hingga Juni 2021 masih sekitar 50 persen.

"Anggaran untuk penanganan COVID-19 khusus itu ada Rp131 triliun dan penyerapannya sekarang sampai Juni masih sekitar 50 persen. Itu pun banyaknya di anggaran yang di Kemenkes," ujarnya.

Menurut Budi, terdapat pula anggaran penanganan COVID-19 di pagu lainnya yang disiapkan pemerintah yakni anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Namun, realisasi penyerapan anggaran di APBD tersebut masih rendah.

"Ada anggaran lain di luar itu yang dialokasikan delapan persen yang ada di APBD. Itu serapannya masih rendah. Saya tidak ingat angka pasnya, tapi seingat saya masih belasan persen," ujarnya.

Dengan begitu, Menkes memastikan tidak ada permasalahan untuk anggaran penanganan COVID-19. Tantangannya adalah bagaimana mengoptimalkan anggaran tersebut secara tepat dan cepat untuk mengatasi pandemi COVID-19.

"Mengenai anggaran? Ada. Tinggal bagaimana menggunakannya secepat mungkin dan setepat mungkin," ujar mantan Wakil Menteri BUMN ini.

Kasus COVID-19 terus meningkat di Indonesia. Data terakhir Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menyebutkan jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 pada Kamis (24/6/2021) bertambah 20.574 kasus menjadi total 2.053.955 kasus COVID-19 sejak Maret 2020.

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Manda Firmansyah alinea.id Penambahan kasus Covid-19 di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memutuskan tiga rumah sakit milik pemerintah pusat kini 100% menangani pasien Covid-19. 

Yakni, RSUP Fatmawati, RSUP Persahabatan, dan RSPI Sulianti Saroso. Kemenkes juga sudah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk persiapan tempat tidur pasien Covid-19. 

"Mengkonversikan tiga rumah sakit besar pemerintah untuk menjadi 100% rumah menangani Covid-19," ujar Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan pers virtual, Jumat (25/6).

Pertimbangannya, RSUP Persahabatan, RSUP Fatmawati, dan RSPI Sulianti Saroso memiliki ratusan tempat tidur dengan fasilitas lengkap, hingga sudah tersedia tenaga kesehatan (nakes) berpengalaman. 

Selain itu, semua kamar instalasi gawat darurat (IGD) diubah menjadi kamar isolasi dengan perawatan normal. Lalu, tenda-tenda darurat disediakan di luar rumah sakit untuk pelayanan IGD.

Di sisi lain, rusun di Nagrak dan Pasar Rumput digunakan untuk tempat isolasi pasien Covid-19 tanpa gejala dan bergejala ringan. Sebab, rumah sakit darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet dengan kapasitas 7.000 tempat tidur pun sudah semakin penuh. 

RSDC Wisma Atlet bakal di-upgrade untuk menampung pasien Covid-19 bergejala sedang. "Kami akan mulai dengan 2000 dulu (tempat tidur di Rusun Nagrak). sedangkan di Pasar Rumput kita juga akan menambah kapasitas isolasi sekitar 3000 (tempat tidur).

Jadi, ada skeitar 7000 tempat tidur isolasi tambahan," beber dia.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menginspeksi tenda darurat yang dipasang di halaman RSUD Kramat Jati, Jakarta Timur.

"RSUD ini sudah penuh, bahkan lobinya itu sekarang sudah jadi tempat rawat inap. Sekarang sudah tidak cukup tempatnya, tetapi pasien masih berdatangan. Maka kita siapkan tenda seperti ini di tiap RSUD milik DKI Jakarta untuk menampung mereka yang membutuhkan," ujar Anies.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, NAWACITAPOST – Penyekatan yang dilakukan di jembatan Suramadu 5 Juni lalu menjadi kontroversi yang berakhir demonstrasi. Demonstrasi dilakukan sejumlah warga pada Senin (21/6/2021) karena menganggap penyekatan sebagai tindakan diskriminatif.

Kebijakan tersebut mengharuskan pengguna jalan yang melintasi Suramadu menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19, atau menjalani tes antigen dan dinyatakan nonreaktif agar dapat melintasi Suramadu.

Penerapan keputusan itu menuai kontroversi dari beberapa warga Madura, pasalnya waktu pengguna jalan tersita banyak hanya untuk mengantri swab antigen, selain itu kebijakan dianggap tidak efisien.

Berdasarkan kondisi tersebut, posko penyekatan dipindah dari Suramadu ke Bangkalan, kini kebijakan terebut diterapkan di 8 Desa yang masuk ke dalam 5 kecamatan PPKM mikro di Provinsi Jatim.

Bangkalan merupakan wilayah yang menjadi zona merah tunggal di Jawa Timur. Hal ini membuat kebijakan itu terpaksa diambil, terlebih varian Delta sudah terdeteksi di daerah tersebut.

Benar adanya, sekitar 1.500 orang menunjukkan gejala reaktif saat 15 hari pertama pemberlakuan kebijakan.

Predikat zona merah ini berdasarkan data kasus Covid-19 yang meningkat di Jawa Timur, per tanggal 21 Juni 2021 dari total jumlah 4.808 kasus, Bangkalan menyumbang angka 18,5 persennya.

Pemerintah Kabupaten Bangkalan terus berjuang menekan penyebaran Covid-19, dan berusaha menangurangi angka kematian terbanyak akibat Covid-19 dari Jawa Timur.

 

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, iNews.id - Sepuluh hari di Wisma Atlet, dokter mendiagnosis salah satu pasien untuk dapat pulang ke rumah dan melanjutkan isolasi mandiri selama tujuh hari.

Dia pun terlihat lelah lantaran harus mengecek kondisi pasien di tiga lantai sekaligus.  Setelah dilakukan diagnosa, perawat memberikan surat bukti isolasi mandiri beserta hasil PCR yang membuktikan pasien sudah tidak memiliki gejala spesifik dan dapat ditangani dirumah.

"Ini sudah bisa pulang dan kondisinya sudah tidak ada gejala lagi. Perbanyak minum vitamin dan isolasi lagi ya dirumah," kata salah satu perawat, Anis di Wisma Atlet Tower 6, Rabu,(23/06/2021). Kegigihan para tenaga medis patut diacungi jempol.

Walaupun jumlah perawat dan dokter yang sedikit, tidak menjadi halangan untuk memberikan berbagai pelayanan kepada pasien Covid-19.

"Kami (perawat) yang berjaga di setiap lantai dengan jumlah pasien Covid-19 mencapai 70 orang hanya dua orang dan dokter tidak dapat stand by karena bertanggung jawab untuk tiga lantai," kata Anis.

250 Relawan Diterjunkan sebagai Tenaga Perawat di RS Darurat Wisma Atlet Pasien dituntut dapat lebih mandiri untuk mengurus berbagai kesehariannya selama melakukan isolasi mandiri di Wisma Atlet.

Misalnya dalam hal mengambil obat dan makanan sendiri di depan poliklinik.  Hal menarik lainnya di saat makanan (dalam bentuk nasi kotak) beserta snack yang disediakan itu diharuskan untuk diambil masing-masing.

Seringkali ada saja beberapa pasien yang tidak kebagian makanan dan mengeluhkan hal ini kepada perawat.  "Suster saya dan teman saya tidak dapat makan siang, terimakasih,"ujar salah satu pasien Covid-19. 

Namun perawat menyebut hal ini bukan tanggung jawab para tenaga medis dan berharap agar pasien lebih cepat tanggap dalam permasalahan tersebut.  "Selamat pagi ibu bapak, untuk snack bisa diambil di depan ruang perawat ya. 1 orang 1 ya ambilnya, jangan lebih.

Jika ada yang ambil lebih dan yang lain tidak dapat di luar tangung jawab kami terimakasih," tulis pesan salah satu perawat di Tower 6.

Editor : Muhammad Fida Ul Haq


Diterbitkan di Berita
 

Liputan6.com, Jakarta - Kegiatan ibadah di masjid-masjid kawasan DKI Jakarta ditutup hingga 5 Juli 2021. Hal itu sesuai kebijakan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis Mikro untuk menekan laju penullaran Covid-19.

Perpanjangan PPKM Mikro ini sesuai dengan Keputusan Gubernur (Kepgub) No 796 Tahun 2021 yang ditandatangani langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Kepgub tersebut mengatur pembatasan di sejumlah sektor, termasuk masjid.  

“Kegitan beribadatan dilaksanakan di rumah,” demikian bunyi kutipan Kepgub 796 Tahun 2021 yang dikutip Liputan6.com pada Kamis (24/6/2021).

Dewan Masjid Indonesia (DMI) DKI Jakarta mendukung kebijakan Pemprov terkait upaya pengendalian Covid-19 di Ibu Kota. DMI DKI Jakarta pun mengeluarkan surat edaran untuk semua masjid dan musala di ibu kota.

Surat yang diteken Ketua Umum MUI DKI Jakarta KH Munahar Muchtar HS dan Ketua Pimpinan Wilayah DMI DKI Jakarta KH Ma’mun al Ayyubi itu menyerukan, meniadakan Salat Jumat berjemaah dan menggantinya dengan Salat Zuhur di rumah masing-masing.

Azan Tetap Dikumandangkan Tiap Waktu

Selain itu, salat wajib atau rawatib berjemaah di masjid juga ditiadakan dan dilakukan di rumah masing-masing.

Meski demikian, pengurus masjid tetap dibolehkan mengumandangkan azan sebagai pengingat masuk waktu salat.

“Azan dan iqamah tetap dilakukan setiap waktu salat,” demikian isi edaran itu.

Infografis Jakarta Terancam Genting Covid-19
 
Diterbitkan di Berita