Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyatakan lonjakan kasus virus corona usai Lebaran 2021 lebih tinggi dari Lebaran tahun lalu. Pada pekan keempat usai Lebaran 2020, kasus naik 93,11 persen, sementara tahun ini naik hingga 112,22 persen.

"Setelah disandingkan pada minggu keempat, ternyata kenaikan kasus pasca-Idulfitri di tahun ini secara nasional mengalami kenaikan yang lebih tinggi (dari Lebaran tahun lalu)," kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Kamis (17/6).

Wiku sempat mengatakan kasus positif Covid-19 pada pekan ketiga usai lebaran hanya naik 50 persen, sementara pekan ketiga usai lebaran tahun lalu melonjak 80 persen.

Menurutnya, hanya butuh satu pekan, lonjakan kasus usai lebaran tahun ini melampaui kasus tahun lalu.

"Hanya dalam 1 minggu saja, persentase kenaikan kasus di tahun ini bisa melampaui persentase kenaikan kasus di tahun lalu," ujarnya.

Wiku menyebut terdapat lima provinsi yang mengalami lonjakan kasus Covid-19 tertinggi usai Lebaran 2021. Provinsi itu antara lain Jawa Tengah, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Rinciannya, kasus Covid-19 di Jawa Tengah naik 281,59 persen. Kemudian DKI Jakarta naik 263,26 persen; DIY naik 172,03 persen; Jawa Timur naik 102,74 persen; dan Jawa Barat naik 58,75 persen.

"Mengingat lima provinsi ini adalah daerah asal dan tujuan mudik, maka perubahan lima besar kenaikan tertinggi ini dapat dikaitkan dengan fakta bahwa meskipun telah diberlakukan periode peniadaan mudik sebelum dan setelah Idulfitri, namun mobilitas penduduk keluar Jabodetabek sebelum Idulfitri, serta mobilitas masuk ke Jabodetabek setelah Idulfitri, tetap mengalami peningkatan yang signifikan," ujarnya.

Sementara itu, kasus positif Covid-19 bertambah 12.624, Kamis (17/6). Dengan demikian, total kasus positif Covid-19 di Indonesia menjadi 1.950.276 sejak pertama kali diumumkan pada awal Maret 2020 lalu oleh Presiden Joko Widodo.

Dari jumlah itu sebanyak 1.771.220 di antaranya telah sembuh, 53.753 orang meninggal dunia, dan 125.303 orang lainnya masih dalam perawatan dan isolasi mandiri.

Kasus positif Covid-19 terakhir kali berada di angka 12 ribu dalam sehari terjadi pada 6 Februari 2021. Tambahan 12 ribu hari ini menjadi yang tertinggi dalam empat bulan terakhir

(khr/fra)
Diterbitkan di Berita

Nila Rustiyani BETANEWS.IDKUDUS – Tempat Ibadah yang berada di daerah berstatus zona merah penyebaran Covid-19, termasuk di Kudus, dilarang ada kegiatan keagamaan. Kebijakan ini berlaku bagi semua tempat ibadah semua agama, baik masjid, gereja, wihara, maupun klenteng.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kudus, Akhmad Mundakir. Kebijakan tersebut, menurutnya, mengacu pada SE Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2021, yang menyebut kegiatan keagamaan di daerah zona merah ditiadakan sementara waktu. 

Berdasarkan surat edaran tersebut, Mundakir juga menyebut kegiatan salat Jumat akan ditiadakan terlebih dahulu di masjid yang berada di zona merah. Pihaknya juga mengaku telah berkoordinasi dengan pengurus Masjid Agung Kudus. Pengurus masjid dikatakan telah setuju dengan kebijakan yang ditetapkan.

“Satgas sudah ada kesepakatan bersama Pemkab dan tokoh-tokoh agama menindaklanjuti surat edaran dari Pemerintah Pusah ini. Ibadah bisa dilaksanakan di rumah masing-masing,” kata Mundakir saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (17/6/2021).

Meski begitu, Mundakir mengatakan tetap membiarkan jika ada masyarakat atau pengurus masjid yang memaksa menyelenggarakan kegiatan keagamaan, termasuk salat Jumat. Pihaknya akan meminta pengurus untuk memperketat pelaksanaan protokol kesehatan.

Seperti yang diketahui, Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas telah mengeluarkan SE Nomor 13 Tahun 2021, tentang Pembatasan Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah. Dalam SE tersebut, wilayah yang berada di zona merah dan oranye dilarang menggelar kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

Kegiatan keagamaan yang tercantum, antara lain pengajian umum, pertemuan, pesta pernikahan, dan sejenisnya, di lingkungan rumah ibadah. Kegiatan-kegiatan itu untuk sementara waktu ditiadakan. 

Sedangkan bagi wilayah yang berada zona hijau, dalam surat edaran tersebut, disebutkan boleh melakukan kegiatan keagamaan. Namun, kegiatan yang dilaksanakan tetap mematuhi protokol kesehatan dengan ketat.

Editor: Suwoko

Diterbitkan di Berita
KUDUS, kilat.com- Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memanfaatkan sejumlah gedung sekolah negeri yang tidak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar selama masa pandemi sebagai tempat isolasi terpusat yang pengelolaannya diserahkan kepada masing-masing desa.
 
"Kabupaten Kudus memang masih membutuhkan tempat isolasi yang representatif demi memutus mata rantai penularan virus corona. Salah satunya, dengan menyiapkan tempat isolasi bagi warga desa yang terpapar virus corona," kata Bupati Kudus Hartopo saat mengunjungi tempat isolasi memanfaatkan SD Negeri 3 Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kudus, Rabu (16/6/2021).
 
Dengan tersedianya tempat isolasi di masing-masing desa, dia berharap penularannya tidak menyebar ke anggota keluarga yang lainnya karena ketika isolasinya di rumah, potensi menular ke orang terdekat sangat besar.
 
Amannya, kata dia, memang harus disediakan tempat isolasi tersendiri. Karena banyak gedung sekolah yang tidak digunakan untuk aktivitas belajar mengajar secara tatap muka karena masih pandemi, maka lebih baik untuk sementara digunakan sebagai tempat isolasi.
 
Ia mencatat hampir semua desa memanfaatkan bangunan sekolah yang ada di masing-masing desa karena ruangannya banyak sehingga bisa menampung warga yang menjalani isolasi dalam jumlah banyak.
 
Petugas medis yang akan bertugas memantau, kata dia, melibatkan bidan desa dan tim medis di puskesmas setempat. Termasuk tenaga kesehatan yang bertugas di berbagai fasilitas kesehatan milik swasta juga akan dilibatkan.
 
"Karena Pemkab Kudus juga tidak memiliki banyak anggaran, maka untuk kelengkapan sarana dan prasarana isolasi yang memanfaatkan gedung sekolah ditanggung pemerintah desa," ujarnya.
 
Sementara itu, Kepala Desa Tumpangkrasak Sarjoko Saputro menambahkan Gedung SD Negeri 3 Tumpangkrasak yang dimanfaatkan terdiri lima ruang dengan daya tampung 20 orang.
Masing-masing ruang kelas, kata dia, sudah dibuatkan pembatas dari tirai sehingga warga yang menjalani isolasi lebih nyaman, termasuk disediakan tempat tidur serta berbagai kebutuhan lainnya. Sedangkan petugas jaga melibatkan nakes Puskesmas Ngembal Kulon, Satgas COVID-19 Desa Tumpangkrasak, serta TNI dan Polri. (ant/yus)
Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan surat edaran untuk menjadi pedoman masyarakat dalam kegiatan di rumah ibadah guna menekan angka kasus penyebaran Covid-19 yang meningkat tajam di berbagai daerah.

Melalui Surat Edaran No SE 13 Tahun 2021 tentang Pembatasan Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah itu, Menag berharap umat beragama tetap bisa menjalankan aktivitas ibadah sekaligus terjaga keselamatan jiwanya dengan cara menyesuaikan kondisi terkini di wilayahnya. 

"Saya telah menerbitkan surat edaran, sebagai panduan upaya pencegahan, pengendalian, dan pemutusan mata-rantai penyebaran Covid-19 di rumah ibadah," kata Menag Yaqut di Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Menag menjelaskan, untuk kegiatan keagamaan di daerah zona merah untuk sementara ditiadakan sampai wilayah tersebut dinyatakan aman dari Covid-19. Penetapan perubahan wilayah zona dilakukan oleh pemerintah daerah masing-masing.

"Kegiatan sosial keagamaan dan kemasyarakatan, seperti pengajian umum, pertemuan, pesta pernikahan,  dan sejenisnya di ruang serbaguna di  lingkungan rumah ibadah juga dihentikan sementara di daerah zona merah dan oranye sampai dengan kondisi memungkinkan," ujar Menag.

Menag menandaskan, kegiatan peribadatan di rumah ibadah di daerah yang dinyatakan aman dari penyebaran Covid-19, hanya boleh dilakukan oleh warga lingkungan setempat dengan tetap menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat.

Untuk teknis pelaksanaannya, Kementerian Agama sudah mengatur hal tersebut melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor SE. 1 Tahun  2020 tentang Pelaksanaan Protokol Penanganan Covid-19 pada Rumah Ibadah.

Kepada jajarannya di tingkat pusat, Menag juga minta untuk melakukan pemantauan pelaksanaan surat edaran ini secara berjenjang.

Demikian juga para Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama provinsi, Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan, Penyuluh Agama, Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Keagamaan, dan pengurus rumah ibadat juga diinstruksikan melakukan pemantauan.

"Lakukan koordinasi secara intensif dengan pemerintah daerah dan Satuan Tugas Covid-19 setempat," tegasnya.

Diterbitkan di Berita

Elshinta.com - Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Surabaya mencatat sekitar 577 orang menghindari tes cepat antigen saat penyekatan di Jembatan Suramadu yang dilakukan sejak Sabtu (5/6) hingga saat ini.

Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara di Surabaya, Rabu, mengatakan 577 orang tersebut meliputi 504 warga luar kota dan 73 lainnya warga Surabaya.

"Saat dipanggil oleh petugas untuk dilakukan tes cepat antigen, mereka tidak ada di lokasi. Mereka pergi dengan meninggalkan KTP di posko penyekatan sebelum mengikuti tes antigen," katanya.

Dia menjelaskan hal ini tentu berisiko sebab mereka belum diketahui secara pasti kondisi kesehatannya seperti apa. Apalagi mereka diketahui usai mobilitas atau perjalanan dari luar kota.

"Ini kan cukup berisiko karena kami tidak tahu kondisi kesehatan seperti apa. Karena itu kami mengambil langkah antisipasi," ujarnya.

Langkah antisipasi yang dimaksud untuk mencegah warga yang ber-KTP Surabaya itu agar tidak bisa mencetak ulang karena alasan kehilangan. Satgas COVID-19 pun bersurat ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disendukcapil) Surabaya agar dapat mengantisipasi hal itu.

"Jadi seandainya warga Surabaya ini menyatakan atau minta syarat kehilangan dari kepolisian untuk dicetakkan KTP lagi di Dispendukcapil, maka nanti akan diketahui," ujar Febri.

Selain itu, ia menegaskan, Satgas COVID-19 Surabaya juga melakukan penelusuran kepada warga "Kota Pahlawan" yang terjaring penyekatan dan menghindar saat akan dites cepat antigen. Melalui data KTP yang ditinggalkan di posko penyekatan, petugas akan mendatangi rumah tinggalnya.

"Dari 73 warga yang meninggalkan KTP di posko penyekatan, lima orang sudah mengambil di kantor Satpol PP setelah dilakukan tes cepat antigen dengan hasil negatif," ujarnya.

Dia mengatakan hal yang sama juga berlaku bagi warga luar Surabaya yang meninggalkan KTP di posko penyekatan karena menghindari tes cepat antigen. Satgas COVID-19 melalui Dispendukcapil Surabaya telah menyurati Dispendukcapil daerah tempat tinggal warga tersebut.

"Kalau warga itu minta dicetakkan KTP baru lagi karena alasan kehilangan, maka agar ditahan dulu, karena KTP-nya berada di kantor Satpol PP Surabaya," katanya.

Febri mengatakan sejak dimulainya "screning" pada Sabtu (5/6) hingga saat ini, Satgas COVID-19 telah melaksanakan tes cepat antigen kepada 27.839 pengendara. Hasilnya 595 orang dinyatakan positif dan kemudian ditindaklanjuti dengan tes usap PCR.

Satgas juga mencatat, total 953 orang yang telah dilakukan tes usap PCR selama penyekatan di Suramadu. Dari 953 orang itu, 354 orang dinyatakan positif.

Bagi warga luar Surabaya yang positif, maka dilakukan perawatan di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sedangkan bagi warga Surabaya yang positif dirawat di Asrama Haji. 

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Selama beberapa waktu, penggunaan plasma konvalesen sebagai terapi untuk Covid-19 banyak digunakan untuk pasien dengan gejala berat.

Namun, baru-baru ini ahli mengungkapkan bahwa efektivitas dari plasma konvalesen justru sebaliknya, yakni lebih bermanfaat untuk gejala ringan dan sedang.

"Efektivitas lebih baik pada penderita Covid-19 derajat ringan dan sedang dibanding derajat berat," papar Profesor David Handojo Muljono, Deputi bidang penelitian Translasional Lembaga Eijkman dalam webinar terkait Hari Donor Darah Sedunia, Senin (14/6).

Lebih lanjut, David yang merujuk kesimpulan dari sejumlah studi di beberapa negara termasuk Indonesia sendiri mengungkapkan bahwa penggunaan plasma konvalesen pada kasus berat Covid-19 tidak ada perbedaan dengan terapi kontrol biasa.

"Tidak ada perbedaan manfaat bermakna kelompok terapi plasma konvalesen dibandingkan terapi kontrol pada penderita derajat berat," ungkapnya.

"Pemberian dini [plasma konvalesen] dan pada pasien Covid-19 derajat ringan lebih baik dibandingkan pada pemberian tertunda dan pasien derajat berat," tambah David.

Di samping itu, David juga mengatakan regulator di berbagai negara dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejauh ini belum mengizinkan penggunaan plasma konvalesen sebagai standar terapi dan masih menanti hasil uji klinis dengan nilai statistik kuat.

Dalam arti lain, penggunaannya masih dengan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA).

"Semuanya masih dalam penelitian, belum dinyatakan baik untuk pengobatan Covid-19. Hasilnya pun masih bermacam-macam, ada yang bagus, ada yang tidak berbeda," katanya.

Dia memberi catatan bahwa yang terpenting dalam memberikan plasma konvalesen dengan kadar antibodi netralisasi yang tinggi dan pada saat yang tepat, yakni saat pasien derajat sedang, yang belum mengalami perburukan.

Bisa dikatakan, pemberian plasma konvalesen yang lebih cepat maka lebih baik. 

Kadar antibodi netralisasi atau juga disebut dengan neutralizing antibody (NAb) merupakan antibodi yang dapat mempertahankan kelangsungan hidup sel dengan cara menetralkan efek biologis yang ditimbulkan oleh agen infeksius ataupun patogen.

Ahli imunologi, Profesor Iris Rengganis mengatakan neutralizing antibody berasal dari antibodi yang dibentuk oleh pasien, vaksin, ataupun monoklonal buatan manusia.

"Tetapi, tidak mudah mendapat neutralizing antibody, tergantung dari bagaimana terbentuknya saat terinfeksi, ada yang bagus kualitasnya ada yang tidak, jadi tidak semua memiliki netralisasi yang optimal," paparnya.

David menambahkan berdasarkan penelitian, kadar antibodi netralisasi umumnya lebih rendah pada pasien Covid-19 tanpa gejala. Sementara pada penyintas dengan gejala parah, lebih tinggi.

"Penyintas [dengan gejala] yang parah sudah terbukti menetralisir antibodi dan sembuh," tambahnya.

(agn)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Kasus corona di Jakarta begitu cepat meningkat. Diduga kuat, penyebabnya adanya varian baru corona yang sudah mulai menyebar di Jakarta alias adanya transmisi lokal.
 
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, setidaknya ada 2 varian baru corona yang harus diwaspadai. Pertama varian Delta B1617.2 dari India dan varian Beta B1351 dari Afrika Selatan.
 
“Varian baru ini cukup merepotkan karena mereka memiliki kemampuan tersendiri untuk menginfeksi kita, seperti kita ambil contoh varian Delta B1617.2 yang amat mudah menyebar," kata Widyastuti, dikutip dari PPID, Selasa (15/6).
 
Varian Baru Corona Sudah Menyebar di Jakarta, Dampaknya Mematikan (1)
Ilustrasi virus corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
 
Sementara itu, varian lain yang juga perlu diwaspadai yakni varian Beta B1351 dari Afrika Selatan. Dia menjelaskan, varian ini sangat mematikan.
 
"Varian Beta B1351 yang amat mudah membuat gejala menjadi berat atau lebih mematikan. Meskipun menurut penelitian terakhir, seluruh varian masih dapat diantisipasi dengan vaksin, tetapi ini benar-benar harus kita waspadai bersama,” tegasnya.
  
Saat ini, Jakarta juga tengah meminta untuk penambahan petugas tracer guna identifikasi kasus. Harapannya dengan tracing yang lebih baik, penularan kasus bisa dicegah.
 
"Pemprov DKI Jakarta juga tengah mengusulkan kepada Pemerintah Pusat untuk menambah tracer (petugas yang akan melakukan pelacakan) di mana para tracer inilah yang nantinya memegang peran penting untuk melakukan deteksi dini. Sehingga, pengendalian dapat dilakukan dengan baik," tuturnya.
 

Varian Corona India di Jakarta

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan varian baru corona delta atau India sudah mulai mendominasi di Jakarta. Ada sejumlah daerah lain juga yang sudah terkontaminasi varian ini.
 
"Untuk DKI Jakarta, Kudus, Bangkalan memang sudah terkonfirmasi varian Delta atau B1617.2 atau varian India mendominasi. Karena ini penularan lebih cepat walaupun tidak lebih mematikan," kata Budi dalam jumpa pers virtual, Senin (14/6).
 
Varian India ini menurut riset di Inggris terbukti meningkatkan risiko perawatan. Apabila seseorang terpapar varian ini, kemungkinan ia dirawat di rumah sakit sampai 2,61 kali lipat.
Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Dunia kedokteran Indonesia kembali berduka. dr Ike Sri Redjeki,SpAnKIC, KMN, salah satu tim pengembangan ventilator buatan Indonesia tutup usia setelah berjuang melawan COVID-19, Selasa (15/6) dini hari.
 "Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Telah berpulang ke Sang Pencipta, guru, sejawat, senior sekaligus ibu kami tercinta Dr. dr. Ike Sri Redjeki SpAnKIC, KMN pada hari ini Selasa 15 Juni 2021 jam 01.20 di RSHS (Bandung).
Semoga diampuni semua dosa dan kesalahannya dan diterima seluruh amal baiknya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran," tulis salah seorang murid dr Ike, dr. Reza Sudjud, SpAn, melalui pesan singkat, Selasa (15/6).
 
Sosok almarhum di dunia kedokteran sudah tidak asing lagi. Dirinya juga merupakan salah satu dokter senior FK UNPAD dan juga di Kementerian Kesehatan.
 
dr Ike Sri Redjeki, Kreator Ventilator Indonesia, Meninggal karena COVID-19 (1)
Pekerja memeriksa perakitan akhir mesin ventilator portabel bernama Ventilator Indonesia atau Vent-I di PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat. Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
 
dr. Ike merupakan salah satu dokter yang turut menyumbangkan ilmu dan pengetahuannya dalam pengembangan dan produksi Ventilator Portable Indonesia (Vent-I). Di awal masa pandemi saat pasien kritis terus bertambah, ventilator merupakan barang yang sedikit jumlahnya.
 
"Bersama dengan Ketua Tim Vent-I, Dr. Ir. Syarif Hidayat, dr. Ike turut mengembangkan ventilator tersebut dari sisi medis, yaitu dengan mengutamakan kebutuhan pasien."
 
Proyek kolaborasi Yayasan Masjid Salman, ITB, serta Universitas Padjajaran (Unpad) ini kemudian hanya butuh satu bulan untuk lulus uji teknik BPFK Kementerian Kesehatan dan satu bulan kemudian berhasil mendapatkan sertifikat lulus uji klinis.
 
"Di usianya yang tak lagi muda, dokter anestesi ini tetap bersemangat untuk terus mengembangkan produk yang sangat berharga di masa pandemi ini," jelasnya.
 
dr. Ike dan dr. Reza Sudjud, bekerja sangat keras sejak awal pengembangan Vent-I agar ventilator ini dapat memenuhi kebutuhan pasien dengan standar yang tinggi. Kini, sebanyak 1.000 ventilator Vent-I telah didistribusikan secara gratis pada sejumlah rumah sakit yang kekurangan alat bantu pernapasan tersebut.
 
"Selamat jalan dr. Ike, sumbanganmu untuk pengembangan Vent-I akan menjadi kenangan yang abadi, bahwa bangsa ini mampu mengembangkan teknologi kesehatan berkat kerja sama yang erat antar berbagai pihak," tulis Tim Komunikasi Publik dari pengembang Vent-I, Hari Tjahjono, terpisah.
 
Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 5.453 pasien terkonfirmasi positif virus corona (COVID-19) hingga Selasa (15/6) masih dirawat di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran.

"Pasien bertambah 425 orang," kata Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I, Kolonel Marinir Aris Mudian di Jakarta, Selasa.

Aris menjelaskan jumlah pasien dalam perawatan pada Senin (14/6) sebanyak 5.028 orang. Pasien yang masuk berasal dari wilayah DKI Jakarta.

Aris menjelaskan para pasien COVID-19 itu dirawat di tower 4, 5, 6, dan 7. Para pasien itu dirawat dengan gejala ringan. Kapasitas RSDC Wisma Atlet Kemayoran mampu menampung 7.937 pasien sehingga saat ini tersisa sebanyak 2.484 tempat tidur yang kosong.

Untuk rekapitulasi pasien sejak 23 Maret 2020 hingga 15 Juni 2021 sebanyak 92.278 pasien terdaftar. Dimana 86.825 pasien telah keluar dengan rincian 85.815 dinyatakan sembuh, 918 dirujuk ke RS lain, dan 92 orang meninggal dunia.

Sementara itu, di RS Darurat Wisma Atlet Pademangan pasien rawat inap sebanyak 3.326 orang per Selasa (15/6). Angka itu berkurang 432 orang dibandingkan Senin (14/6) sebanyak 3.758 orang. Para pasien dirawat di tower 8, 9, dan 10.

Sebelumnya, Koordinator RSDC Wisma Atle, Mayjen TNI Tugas Ratmono mengatakan pihaknya mengoptimalkan setiap unit apartemen/rusunawa di tower 4,5, 6, dan 7.

“Setiap unit kita maksimalkan daya tampungnya jadi tiga pasien terutama pasien kategori gejala ringan. Tadinya maksimal hanya 2 pasien,” jelas Tugas.
 

Pewarta: Fauzi
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Diketahui, hanya 7 dari 10 orang dalam satu keluarga tersebut positif Covid-19 dijemput oleh petugas Satgas Covid-19 Kelurahan ke Wisma Atlet menggunakan bus sekolah pada Senin (14/6/2021) siang. Sementara, 3 orang lainnya yang sudah bergejala telah lebih dulu dilarikan ke RS Adhyaksa.⁣  

Salah satu warga setempat, Dian Pratiwi, mengatakan, Puskesmas Kelurahan Setu mengatakan semua anggota keluarga tersebut setelah dites swab PCR hasilnya positif dan disarankan menjalani isolasi mandiri di rumah. Selama masa isolasi mandiri pun, keluarga tersebut mendapatkan bantuan dari warga sekitar.⁣

“Tapi mereka masih menerima tamu dan suka keluar malam. Jadi, warga sekitar rumah melapor ke RT, dan diteruskan ke Lurah untuk ditinjau dokter. Tadi baru mau dijemput, sebelumnya enggak mau, kita pun resah, dibawa ke Wisma Atlet saja,” kata Dian dikutip dari akun Instagram Kominfotik Jakarta Timur yang dilihat RRI.co.id, Selasa (15/6/2021).⁣

Sementara itu, Lurah Setu, Jenuri, mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan petugas Puskesmas dan kelurahan untuk melakukan penjemputan menggunakan bus sekolah.⁣

“Di lingkungannya merasa kurang nyaman. Kita lakukan negosiasi dengan keluarga yang awalnya tidak mau, akhirnya mau dibawa ke Wisma Atlet," jelas Jenuri.⁣

⁣Ia menjelaskan, setelah mengetahui keluarga tersebut terpapar Covid-19 sepulang berlibur, pihaknya sudah melakukan lockdown mikro. Selanjutnya, petugas juga melakukan penyemprotan disinfektan di rumah keluarga tersebut.

Sebelumnya, satu keluarga yang terpapar Covid-19 tersebut baru pulang liburan dari Bali ini enggan dirujuk ke Wisma Atlet dan memilih isolasi mandiri di rumah. Warga setempat pun menolak keluarga tersebut menjalani isolasi mandiri di rumah karena khawatir ikut terpapar dan melaporkan ke Satgas Covid-19 setempat.⁣ (foto: Instagram Kominfotik Jakarta Timur)

Diterbitkan di Berita