Elshinta.com - Lonjakan kasus COVID-19 di sejumlah negara Timur Tengah berpotensi memiliki dampak yang mengerikan, yang diperparah dengan penyebaran varian Delta dan ketersediaan vaksin yang minim, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu (14/7).

Setelah penurunan kasus dan kematian di kawasan Mediterania Timur WHO selama delapan pekan, badan itu mengatakan bahwa telah terjadi peningkatan kasus yang signifikan di Libya, Iran, Irak dan Tunisia, dengan kenaikan tajam diproyeksikan terjadi di Lebanon dan Maroko.

Pekan depan negara di seluruh kawasan akan merayakan Idul Adha, yang biasanya mencakup pertemuan sosial dan keagamaan di mana infeksi dapat menyebar.

"WHO khawatir bahwa peningkatan COVID-19 saat ini akan terus memuncak dalam beberapa pekan ke depan, dengan konsekuensi bencana," tulis pernyataan kantor regional WHO.

Kepatuhan aturan sosial dan kesehatan masyarakat yang minim, "tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi" dan tingkat vaksinasi yang rendah serta penyebaran varian baru, menjadi penyebab lonjakan COVID-19, kata WHO.

Badan PBB itu menyoroti Tunisia sebagai negara dengan tingkat kematian COVID-19 per kapita tertinggi di kawasan dan di Afrika. Pihaknya juga mencatat bahwa kasus harian hampir melonjak dua kali lipat di Iran selama empat pekan hingga awal Juli.

Menurut pernyataan itu, jumlah keseluruhan kasus COVID-19 yang dilaporkan di kawasan Mediterania Timur, yang mencakup Pakistan, Afghanistan, Somalia dan Djibouti serta negara-negara Timur Tengah, melampaui 11,4 juta kasus.

Disebutkan pula bahwa tercatat 223.000 kematian akibat COVID-19.

Sumber: Reuters

Diterbitkan di Berita

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menyambut baik kerja sama pengadaan vaksin Pfizer di Indonesia. Vaksin ini, kata Budi, menjadi salah satu vaksin Covid-19 yang akan digunakan untuk program percepatan vaksinasi di Indonesia.

“Saya ucapkan terima kasih atas kerja samanya dalam rangka membantu memenuhi kebutuhan vaksin COVID-19 di Indonesia. Dengan bertambahnya stok vaksin 50 juta dosia merek Pfizer ini diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan vaksinasi di Indonesia,” kata Menkes Budi dalam siaran pers yang diterima, Kamis (15/7/2021).

PT Pfizer Indonesia dan BioNTech SE, menyediakan 50 juta dosis setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan persetujuan penggunaan dalam kondisi darurat (EUA).

“Penggunaan vaksin untuk pelaksanaan vaksinasi COVID-19 hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin edar atau persetujuan penggunaan pada masa darurat dari Badan POM,” sebutnya.

Pfizer dan BioNTech menargetkan, untuk memproduksi 3 miliar dosis vaksin Covid-19 secara global sampai dengan akhir tahun 2021, dengan asumsi pelabelan enam dosis yang diperbarui, perbaikan proses secara terus-menerus, perluasan fasilitas produksi yang ada, serta melalui penambahan pemasok baru dan produsen kontrak.

Uji klinis BNT 162b2 Tahap 3 dikembangkan berdasarkan teknologi messenger RNA (mRNA) milik BioNTech, dimulai pada akhir bulan Juli 2020 dan pendaftaran atas produk vaksin ini diselesaikan pada bulan Januari 2021 dengan lebih dari 46.000 peserta.

Peserta terus dimonitor untuk perlindungan dan keamanan jangka panjang selama 2 tahun setelah penyuntikan dosis kedua.

BioNTech merupakan pemegang izin edar di Uni Eropa, dan pemegang otorisasi penggunaan dalam kondisi darurat di Amerika Serikat (bersama dengan Pfizer), Kanada, dan negara-negara lain sebelum nantinya diajukan permohonan izin edar penuh.

Country Manager PT Pfizer Indonesia Stephen Leung, mengapresiasi kerja sama yang telah dijalin antara pihaknya, BioNTech dan Kementerian Kesehatan RI.

“Perjanjian ini merupakan sebuah langkah penting untuk menghadirkan vaksin COVID-19 untuk melindungi kesehatan masyarakat di Indonesia, memulihkan perekonomian, dan mempercepat kembalinya kehidupan normal bagi masyarakat Indonesia,” katanya

Sementara itu Chief Business and Chief Commercial Officer BioNTech Sean Marett, turut berterimakasih kepada Pemerintah Indonesia atas dukungan dan kepercayaannya terhadap kemampuan pihaknya dalam mengembangkan vaksin yang diyakini dapat mengatasi ancaman pandemi global ini.

“Tujuan kami adalah menyediakan suplai vaksin COVID-19 yang dapat diterima dan efektif bagi banyak orang di seluruh dunia, secepat mungkin,” ucap Marett.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Sebuah organisasi dokter di India telah memperingatkan bahwa gelombang ketiga Covid di negara itu tidak dapat dihindari karena pembatasan sosial yang dilonggarkan di seluruh negeri.

Perdana Menteri Narendra Modi juga telah memperingatkan terhadap kerumunan pengunjung di lokasi-lokasi wisata di India. Foto dan video turis yang berbondong-bondong ke tujuan wisata populer menjadi viral dalam beberapa hari terakhir.

Video menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka tidak mengenakan masker atau menjaga jarak sosial di tempat umum.

Laporan dari media-media setempat mengungkapkan ribuan orang kini kembali mengunjungi tempat-tempat wisata perbukitan (hill station) di India, sehingga memicu kekhawatiran penyebaran virus.

 
India, Covid

Para calon penumpang menunggu bus DTC di halte yang sudah padat orang di New Delhi, India, 13 Juli 2021. HINDUSTAN TIMES VIA GETTY IMAGES

 

 

"Saya mengatakan dengan sangat tegas bahwa tidak baik sampai terjadi kerumunan di tempat-tempat wisata, pasar, tanpa pakai masker," kata Modi dalam cuitan di Twitter sambil menyadari bahwa industri pariwisata telah mengalami pukulan hebat akibat pemberlakuan karantina wilayah atau lockdown.

Kasus baru harian di India telah turun menjadi lebih dari 40.000 dalam beberapa pekan terakhir, turun dari puncaknya, yakni sekitar 400.000 kasus pada bulan Mei. Penurunan jumlah sebagian besar disebabkan oleh lockdown ketat di sejumlah negara bagian, tapi kebijakan itu sekarang dilonggarkan.

Meski demikian. para ahli khawatir India dapat berada pada risiko gelombang infeksi ketiga karena baru sekitar 6% dari populasi yang memenuhi syarat yang telah divaksinasi sepenuhnya. Sementara itu, baru sekitar 22% yang telah menerima setidaknya satu dosis.

Asosiasi Kedokteran India (IMA), sebuah organisasi yang mewakili dokter di India, pada hari Senin mengatakan "rasanya menyakitkan untuk mencatat bahwa baik pemerintah dan masyarakat sudah berpuas diri dan mengadakan pertemuan massal tanpa mengikuti protokol Covid".

 

India, Covid

Para turis mengunjungi tempat wisata Shimla di negara bagian Himachal Pradesh pada 6 Juli 2021. SUMBER GAMBAR,AFP VIA GETTY IMAGES

 

"Kegiatan turis, travel ziarah, semangat keagamaan semuanya dibutuhkan, tapi bisa menunggu beberapa bulan lagi," kata IMA.

Ia menambahkan bahwa membuka tujuan-tujuan ini dan membiarkan orang-orang yang tidak divaksinasi berkumpul dalam pertemuan besar adalah "super spreader yang potensial untuk gelombang ketiga Covid". India baru saja keluar dari gelombang kedua yang mematikan.

Saat itu rumah sakit dan krematorium yang kewalahan dipenuhi dengan orang mati. Saat ini, beberapa negara bagian telah dibuka dan mengizinkan kegiatan turisme dan pertemuan keagamaan. Tetapi para ahli khawatir tentang dampak dari pertemuan-pertemuan ini.

 
Naga Sadhus (Hindu holy men) take a holy dip in the waters of the Ganges River on the day of Shahi Snan (royal bath) during the ongoing religious Kumbh Mela festival, in Haridwar on April 12, 2021.

Para ahli khawatir pertemuan keagamaan besar dapat menyebabkan penularan Covid besar-besaran GETTY IMAGES

 

Pada bulan April, jutaan orang berkumpul di kota Himalaya Haridwar untuk berpartisipasi dalam festival Kumbh Mela, bahkan ketika beberapa kota bergulat dengan kekurangan oksigen dan langkanya tempat tidur di rumah sakit.

Beberapa orang - yang datang dari seluruh penjuru negeri - dinyatakan positif pada hari-hari berikutnya. Sekarang, pihak berwenang di negara bagian Uttar Pradesh bersiap untuk mengadakan festival Kanwar Yatra tahunan mulai 25 Juli.

Para ahli mengatakan bahwa India perlu menegakkan protokol kesehatan secara ketat dan lebih mempercepat laju vaksinasi untuk menghindari gelombang ketiga.

India memvaksinasi sekitar empat juta orang setiap hari, tetapi perlu 8-9 juta vaksinasi per hari untuk mencapai target vaksinasi semua orang di atas usia 18 pada akhir tahun ini. Beberapa negara bagian juga tak memiliki cukup vaksin.

Pada hari Selasa, beberapa pusat vaksinasi publik di Delhi ditutup setelah mereka kehabisan suntikan.

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Grobogan – Seorang perempuan meninggal di atas becak di timur Pasar Purwodadi, Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Purwodadi, Minggu (11/7/2021) sekitar pukul 19.30.

Perempuan yang diketahui bernama Suparmi (53) itu meninggal dunia saat ditemani suaminya dan pemilik becak, Sugi Antoro.

Setelah dilakukan pemeriksaan Tim Inafis dan PMI Grobogan, diketahui perempuan itu terkonfirmasi positif Covid-19 dan tidak sempat mendapatkan pertolongan.

Menurut, Sugi Antoro, dia dan istrinya dipaksa keluar dari rumah kos di daerah Jetis Gang I, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Purwodadi. Padahal, saat itu istrinya dalam keadaan sakit dengan gejala mirip Covid-19.

“Mereka takut istri saya menularkan ke yang lainnya,” ujar suami korban Sugi Antoro. Sebelum meninggal, kata Sugi, istrinya sempat mengatakan jika sudah pasrah jika harus meninggal di jalan.

Saat diusir, dia tidak tahu harus kemana. “Kami tidak punya keluarga di sini. Sehari-hari bekerja sebagai tukang becak. Saya bawa istri saya dan semua barang yang ada di dalam kos. Kami tidak tahu harus kemana.

Hingga akhirnya istri meninggal di atas becak,” ungkapnya. Di ketahui, suami istri itu merupakan perantau dari Desa Dadi Mulya, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.

”Saat kami datang sudah dalam keadaan meninggal dunia. Korban langsung dilakukan postmortem ternyata terkonfirmasi Covid-19. Kami langsung bawa jenazah ke ruang jenazah RSUD dr Soedjati Purwodadi.

Kemungkinan dilakukan pemakaman secara protokol kesehatan (prokes), karena korban merupakan perantau maka dimakamkan di pemakaman dekat RSUD,” ujar salah satu anggota Inafis Polres Grobogan Widodo.

Pihaknya pun berharap agar masyarakat tak melakukan diskriminasi terhadap masyarakat yang dinyatakan positif Covid-19. ”Harusnya bisa merangkul dan saling membantu penyembuhan. Bukan malah mengucilkan,” harapnya.  

Reporter: Zulkifli Fahmi, Dani Agus Editor: Zulkifli Fahmi

Diterbitkan di Berita

KBRN, Selangor: Malaysia menutup pusat vaksinasi massal di negara bagiannya yang paling parah dilanda pada Selasa (13/7/2021) setelah lebih dari 200 staf medis dan sukarelawan dinyatakan positif terkena virus corona.

Penutupan pusat vaksinasi itu adalah yang pertama dan terjadi ketika infeksi baru yang dikonfirmasi di negara itu menembus lima angka pada Selasa, mencapai rekor 11.079.

Menteri Sains Khairy Jamaluddin menekankan bahwa tindakan cepat pemerintah telah menahan klaster di Pusat Konvensi Ideal di negara bagian Selangor tengah.

Khairy, yang bertanggung jawab atas program imunisasi nasional, mengatakan dia memerintahkan pengujian semua 453 pekerja di pusat tersebut setelah dua sukarelawan dipastikan tertular virus tersebut. Khairy mengatakan 204 orang yang hasilnya positif memiliki "viral load" yang rendah, artinya jumlah virus di dalam tubuhnya sedikit.

Ini bisa jadi karena 88% atau 400 pekerja sudah divaksinasi, katanya.

Pusat itu ditutup untuk sanitasi mendalam dan semua pekerjanya diisolasi. Khairy mengatakan lokasi itu akan dibuka kembali pada hari ini dengan tim pekerja medis baru, seperti dikutip dari Medical Xpress, Rabu (14/7/2021).

Dia mendesak sejak Jumat orang-orang yang divaksinasi di pusat itu untuk mengisolasi diri selama 10 hari dan diuji jika mereka mengalami gejala. Dia menolak mengatakan berapa banyak orang yang mengunjungi pusat itu sejak Jumat. Pusat ini memiliki kapasitas pemberian vaksin hingga 6.000 suntikan sehari.

"Ini pertama kalinya kami harus menutup (pusat vaksinasi) karena kasus positif tetapi kami bertindak cepat. Dengan menutupnya hari ini dan dengan mengambil tindakan korektif, kami berharap gangguan ini hanya satu hari dan ini tidak akan menghambat proses vaksinasi,” kata Khairy.

Dia mengatakan aman untuk mengunjungi pusat vaksinasi itu mulai Rabu.

Selangor, negara bagian terkaya di negara yang berbatasan dengan Kuala Lumpur, adalah yang paling parah dilanda pandemi. Wilayah ini menyumbang hampir setengah dari kasus baru pada Selasa, sebagian karena peningkatan skrining virus di tengah penguncian yang ketat.

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Semarang – Penyebaran Covid-19 varian delta di Jawa Tengah telah meluas. Bahkan disinyalir, varian ini yang menjadi biang lonjakan kasus di beberapa daerah di Jateng akhir-akhir ini.

Terlebih, dari 106 sampel yang diambil dari sejumlah daerah di Jateng, 95 sampel positf varian delta. Tak hanya itu, temuan terbaru varian ini juga menyerang anak-anak di bawah umur 17 tahun.

“Hampir seluruh sampel kemarin yang kita kumpulkan dari beberapa kabupaten/kota, ternyata hampir semuanya varian delta.

Kalau sudah begini, ini alert (peringatan) buat kita untuk semakin waspada,” kata Ganjar usai memimpin rapat evaluasi penanganan Covid-19, Senin (12/7/2021).

Ganjar menyebut, dari 95 sampel yang positif itu, 23 di antaranya merupakan anak-anak usia di bawah 17 tahun. Bahkan beberapa di antaranya merupakan balita. Temuan varian delta ini tak hanya di Kabupaten Kudus saja.

Tapi sudah menyebar, ke Jepara, Grobogan, Salatiga, Kota dan Kabupaten Magelang, Karanganyar, serta Solo. Rinciannya, dari 72 sampel asal Kudus, 62 di antaranya positif varian delta.

Kota Salatiga ada enam sampel yang dites, hasilnya lima positif varian delta. Kabupaten Jepara ada tiga (sampel), semuanya positif varian delta. Grobogan dua sampel, semuanya varian delta. Kabupaten Magelang dua sampel, dua-duanya varian delta.

Begitu juga Kota Magelang dan Karanganyar masing-masing tiga sampel, dan semuanya positif varian delta. Dan terakhir Solo dengan 16 sampel, semuanya varian delta.

Dengan kondisi ini menurut Ganjar, kewaspadaan memang harus lebih ditingkatkan. Termasuk mengurangi mobilitas untuk memutus angka penularan. “Maka pergerakan masyarakat harus dikurangi. Masyarakat harus lebih tahu soal ini.

Memang tidak enak, tidak nyaman. Tapi kita harus melakukan itu, sebab kalau tidak, ini akan membahayakan semuanya,” tegasnya. Ia menyebut, pihak kepolisian akan menambah lokasi-lokasi penyekatan guna menekan mobilitas warga.

Setiap kepala daerah di Jateng juga diminta membuat kebijakan yang seragam. “Industri juga saya minta patuh betul pada aturan yang berlaku, yang kritikal, esensial harus mengikuti ketentuan, tidak boleh ada kerumunan,” ucapnya.

Ganjar juga meminta jajarannya dari level atas sampai tingkat desa untuk terus melakukan komunikasi dan edukasi pada masyarakat agar bergandengan tangan untuk melawan pandemi ini.

“Masyarakat bisa diedukasi untuk tidak keluar dari wilayah itu. Sehingga tidak banyak yang turun ke jalan. Sebab kalau sudah turun ke jalan, pergi ke kota, ini kan terjadi mobilitas tinggi. Dan dari data Google, mobilitas warga di Jateng masih tinggi,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng Yulianto Prabowo menambahkan, belum ada varian berbahaya lain selain varian delta di Jateng. Meski begitu, varian delta juga menjadi ancaman karena penularan dan fatalitasnya sangat tinggi.

“Dari laporan genome sequencing, hampir semuanya varian delta. Dari Kudus, Jepara, Salatiga, Magelang, Kota Magelang, Karanganyar dan Solo,” jelasnya. Yuliano menyebut, varian ini sangat cepat penularannya bahkan juga menyerang anak-anak.

Dari data yang ada, sampel dari anak-anak semuanya menunjukkan varian delta. “Ada bayi yang usianya baru 6 bulan, positif varian delta. Ada yang balita, ada yang remaja. Di bawah 17 tahun cukup banyak, dari sampel yang kami ambil, semuanya delta,” pungkasnya.  

Reporter: Ali Muntoha Editor: Ali Muntoha


Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Program Vaksin Gotong Royong (VGR) saat ini dikhawatirkan dapat berbenturan dengan vaksin program pemerintah. Apalagi rencananya, vaksin tersebut bisa dibeli individu di apotek Kimia Farma.
Saat ini, vaksinasi oleh pemerintah telah menggunakan vaksin Sinovac dan juga AstraZeneca. Sementara untuk VGR sendiri menggunakan Sinopharm dan juga Cansino.
 
Menanggapi adanya kekhawatiran tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan VGS jelas tak akan berbenturan dengan program pemerintah. Sebab, merek yang dipakai saja berbeda.
 
'' Vaksin Gotong Royong juga opsi, tetap semua rakyat bisa akses vaksin gratis dan hanya ditetapkan vaksin Sinopharm dan Cansino. Tidak akan berbenturan dengan program pemerintah.
Dan diskusinya karena ditanggung individu, ini dapat meringankan APBN jadi akhirnya kita buka dan Vaksin Gotong Royong yang lambat ini bisa jadi pilar baru untuk mempercepat vaksinasi ini,'' jelas Budi dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Selasa (13/7).
 
Menkes: Vaksin Sinopharm yang Didapat dari Hibah Tak Akan Dijual (1)
Vaksin Sinopharm. Foto: Shutter Stock
 
Terkait pemerintah Indonesia yang juga bakal memperoleh vaksin Sinopharm dari pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), Menkes menegaskan bahwa 500 ribu dosis Sinopharm tersebut tidak dijual. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 Tahun 2021, tertulis bahwa vaksin yang merupakan hibah tidak boleh diperjualbelikan.
 
Namun dalam kondisi tertentu, vaksin yang digunakan dalam VGR boleh sama dengan pemerintah selama yang diperoleh pemerintah adalah hibah. Hal ini yang terjadi pada vaksin Sinopharm.
 
''Ada pertanyaan vaksin Sinopharm 500 ribu hibah itu bagaimana? Saya ingin memastikan 500 ribu Sinopharm dan akan tambah lagi 250 ribu hibah pribadi dari raja UAE ke Presiden Jokowi tidak dijual oleh Bio Farma. Itu dipegang Kemenkes, kami sangat hati-hati dalam mengeluarkan. Dan kami minta arahan Bapak Presiden dan arahannya tadinya bakal dipakai buat haji,'' jelasnya.
 
Rencana penggunaan vaksin hibah Sinopharm tersebut semulanya diperuntukkan bagi calon jemaah haji. Kemudian dialihkan pada para penyandang disabilitas yang berada di zona merah.
''Tapi karena haji tidak jadi, sudah diarahkan ke difabel yang bisu, tuli, cacat, dan lain-lain di zona-zona merah,'' tutup Budi.
Diterbitkan di Berita

Berbagai upaya dalam memerangi hoaks yang meresahkan itu, juga dinilai efektif dengan turut melibatkan para pemuka agama seperti para ulama.

Wakil Presiden Republik Indonesia, Ma’ruf Amin mengatakan, pihaknya mengajak para ulama untuk menjaga umat dari berbagai informasi yang tidak benar.

“Terakhir saya ingin juga mengajak para Kiai untuk menjaga umat dari berbagai informasi-informasi isu-isu yang tidak benar,” ujar Wapres ketika menghadiri pertemuan bersama para ulama dan tokoh Islam secara daring, seperti diikuti RRI.co.id, Senin (12/7/2021).

Menurut Wapres saat ini berbagai berita bohong bercampur baur di masyarakat, yang sayangnya kebenarannya masih sulit dilakukan oleh sebagian pihak.

“Sekarang ini zamannya informasi, banjir informasi, ada yang benar, ada yang tidak benar, ada yang bohong, ada fitnah, ada adu domba, ini bercampur baur di dalam masyarakat,” imbuhnya.

Dikatakan Wapres di era post truth atau yang berarti pasca kebenaran, tersebar banyak berita bohong termasuk mengenai COVID-19 yang disebut sebagian pihak sebagai konspirasi.

“Dimana kebenaran tersebar dengan kebohongan, dan kebohongan tersamarkan ini sekarang sedang terjadi. Termasuk, informasi tentang konspirasi bahwasanya COVID adalah konspirasi. Padahal ini nyata,” tegas Wapres.

Dalam sepekan terakhir jumlah kasus harian COVID-19 di Indonesia mengalami kenaikan cukup signifikan, bahkan mencapai rekor tertinggi selama pandemi berlangsung.

Dilansir dari data Worldometer, angka kematian harian akibat COVID-19 di Indonesia pada Minggu (11/07/2021), menjadi yang tertinggi di dunia dengan 1.007 jiwa.

Menyikapi bahaya yang semakin mengancam, Wapres Ma'ruf Amin juga turut mengajak para ulama untuk berjuang bersama pemerintah menanggulangi pandemi COVID-19.

Terutama dalam mengedukasi masyarakat untuk menaati anjuran pemerintah selama pandemi. (Miechell Octovy Koagouw)

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Orang yang pernah terinfeksi COVID-19 akan punya daya tahan lebih kuat dalam menghadapi virus corona karena sistem imun telah mengenali karakter virus.

Saat terpapar kembali tubuh akan lebih siap menghadapinya. Walaupun telah terinfeksi COVID-19 dan dinyatakan sembuh, tetap ada kemungkinan seseorang kembali terjangkit virus, kondisi yang disebut reinfeksi COVID-19.

“Reinfeksi COVID-19 terjadi ketika seseorang yang sudah sembuh dari infeksi virus corona terinfeksi lagi oleh struktur virus corona yang berbeda dengan infeksi virus corona sebelumnya,” jelas Spesialis Penyakit Dalam dr. Yoga Fitriakusumah, anggota Ikatan Dokter Indonesia, Selasa.

Reinfeksi berbeda dengan repositif atau reaktivasi virus, kondisi ketika virus corona yang masih tersisa di tubuh menginfeksi orang itu lagi, atau infeksi disebabkan oleh virus dengan struktur yang sama

Perlu ada pengambilan sampel untuk mengurutkan informasi genetik (genome) virus untuk bisa membedakan apakah yang terjadi reinfeksi atau repositif/reaktivasi. Sampel berasal dari tes pada kasus positif yang pertama dan kedua.

Peneliti mengurutkan kedua sampel itu dan membandingkannya untuk mengetahui apakah ada kesamaan struktur atau varian. Bila berbeda, berarti pasien mengalami reinfeksi COVID-19.

Namun, pengurutan genome virus bukanlah pekerjaan ringan. Harus ada tenaga terlatih serta perlengkapan dan laboratorium dengan standar tertentu untuk melakukannya. Pengurutan genome juga membutuhkan waktu lama.

Di Indonesia, belum ada panduan khusus untuk menangani kasus reinfeksi dan repositif.

“Pasien yang positif COVID-19 untuk kedua kalinya ditangani dengan cara sama ketika pertama kali positif,” ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang praktik di Primaya Evasari Hospital.

Dia menambahkan, sebuah penelitian di Nuffield Department of Medicine di University of Oxford, Amerika Serikat, menemukan banyak kasus reinfeksi COVID-19 kemungkinan besar adalah repositif.

Sebab, virus corona bisa menyebabkan infeksi dalam waktu lama dan struktur genome-nya membuat virus mampu bertahan di dalam tubuh. Virus ini pun bisa tak terdeteksi dalam tes dan siap untuk menyerang sekali lagi.

Namun, pada dasarnya reinfeksi COVID-19 jarang terjadi. Berdasarkan penelitian di Public Health England Colindale di Inggris dan Statens Serum Institut di Denmark, orang yang pernah terinfeksi virus corona mendapat perlindungan hingga 80 persen dari infeksi kedua.

Adapun dari penelitian di Denmark, perlindungan terhadap warga lanjut usia (di atas 65 tahun) hanya 47 persen. Dengan demikian, mengacu pada hasil penelitian tersebut, kalangan lansia tergolong lebih berisiko mengalami reinfeksi.

Analisis dari riset tersebut menunjukkan di antara orang yang positif pada gelombang COVID-19 pertama, sebanyak 0,65 persen positif kembali pada gelombang wabah kedua. Orang yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) juga lebih mungkin terkena infeksi kedua.

Dia menambahkan, walaupun tubuh sudah mengembangkan sistem imun untuk melawan COVID-19, masih ada kemungkinan seseorang dapat reinfeksi. Sebab, COVID-19 pun bisa berkembang atau bermutasi sehingga memiliki banyak varian dengan karakternya masing-masing.

Menurut sejumlah penelitian, beberapa varian mampu melawan sistem imun manusia. “Maka dari itu, orang yang pernah terinfeksi COVID-19 tetap harus menerapkan protokol kesehatan.

Sama halnya seperti orang yang sudah mendapat vaksin. Walaupun vaksin memberikan perlindungan terhadap serangan virus, orang yang telah divaksin masih bisa terinfeksi jika terpapar virus Corona penyebab COVID-19."

Hingga saat ini, berbagai penelitian belum sampai pada satu kesimpulan apakah gejala reinfeksi pasti lebih parah dibanding sebelumnya atau tidak.

Dokter di Gulhane Training and Research Hospital di Turki menyebutkan terdapat pasien yang pada infeksi pertama tak mengalami gejala, namun saat reinfeksi mengalami gejala ringan.

Sedangkan, bila pada infeksi pertama harus dirawat di rumah sakit, pasien memerlukan perawatan intensif saat reinfeksi, terutama kalangan lansia yang memiliki penyakit penyerta.

Namun beberapa penelitian lain menemukan tidak ada perbedaan gejala antara infeksi pertama dan kedua. Malah ada pasien yang gejalanya lebih ringan ketika terkena reinfeksi COVID-19.

“Salah satu faktor yang diduga berpengaruh adalah sistem imun. Jika imun yang terbentuk dari infeksi pertama masih kuat dan bisa melawan virus corona, maka gejalanya akan ringan atau bahkan tidak ada gejala.

Sedangkan, bila imun sudah lemah atau tidak dapat menemukan virus corona yang menyerang tubuh seseorang, maka gejalanya bisa lebih berat,” ujar dia.

Virus corona penyebab COVID-19 tergolong jenis baru sehingga belum ada penelitian yang bisa memastikan berapa lama antibodi dapat bertahan, baik antibodi yang terbentuk alami akibat infeksi COVID-19 maupun yang berasal dari vaksinasi.

Dari sejumlah kasus reinfeksi COVID-19 juga belum bisa ditarik kesimpulan karena jarak antara infeksi pertama dan kedua yang dilaporkan bervariasi. Ada yang baru dua bulan negatif ternyata terinfeksi lagi. Ada juga reinfeksi yang terjadi setelah setahun sembuh.

Penelitian masih berlangsung untuk memahaminya lebih lanjut. Dia mengatakan, sistem imun yang terbentuk dari infeksi pertama akan mengingat karakter virus yang menyerang di kemudian hari.

Namun, ada kemungkinan sistem antibodi itu lupa atau tak mengenali bila bertemu virus dengan varian berbeda.

Lantas, apakah seseorang bisa terinfeksi COVID-19 bila sudah divaksin? Dia menegaskan, vaksin bukan jaminan orang tidak akan terinfeksi COVID-19, melainkan sarana membentuk antibodi guna memberikan perlindungan terhadap serangan virus.

Proses pembentukan antibodi tidak berlangsung sekejap, itulah mengapa sebagian besar vaksin butuh hingga dosis dua kali agar perlindungan maksimal.

“Dengan demikian, orang yang sudah divaksin masih bisa terinfeksi COVID-19. Namun, risiko infeksi itu lebih kecil daripada orang yang belum mendapat antibodi dari vaksin. Jikapun terinfeksi, besar kemungkinan gejalanya hanya ringan atau tanpa gejala sehingga risiko sakit parah hingga perlu dirawat di rumah sakit lebih kecil,” dia menegaskan.

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Sarah Oktaviani Alam - detikHealth Jakarta - Belum lama ini, para ilmuwan di seluruh dunia tengah meneliti untuk mencampurkan dua dosis vaksin yang berbeda, seperti vaksin Pfizer untuk dosis pertama dan dosis kedua dengan AstraZeneca atau sebaliknya.

Namun, melihat fenomena ini kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan menyarankan agar tidak melakukan 'mix and match' alias mengkombinasikan beberapa vaksin COVID-19 dari berbagai produsen.

Menurutnya, tindakan ini bisa menjadi 'tren berbahaya' karena hanya ada sedikit data terkait dampak kesehatannya.

"Ini sedikit tren yang berbahaya di sini. Kami berada di zona yang masih belum memiliki banyak data dan bukti untuk 'mix and match' (vaksin)," kata Soumya Swaminathan dalam briefing online yang dikutip dari Fox News, Selasa (13/7/2021).

 Swaminathan mengatakan saat ini penelitian sedang berlangsung. Tetapi, mengutip temuan awal dari Universitas Oxford, kombinasi antara vaksin AstraZeneca untuk dosis pertama dan Pfizer pada dosis kedua bisa menginduksi antibodi dan respons sel T yang lebih tinggi daripada sebaliknya.

Namun, respons antibodi tertinggi didapatkan setelah pemberian dua dosis Pfizer-BioNTech. Sementara respons sel T tertinggi bisa didapatkan setelah menerima suntikan AstraZeneca yang diikuti dengan Pfizer.

"Ini akan menjadi situasi kacau di negara-negara jika warga mulai memutuskan kapan dan siapa saja yang seharusnya mendapatkan dosis kedua, ketiga, dan keempat," kata Swaminathan mengingatkan.

(sao/up)

Diterbitkan di Berita