Rahel Narda Chaterine - detikNews Jakarta - Pendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2019 cenderung tak percaya dengan vaksin COVID-19 dalam hasil survei Indikator Politik Indonesia. Anggota Komisi IX DPR RI, Rahmad Handoyo, menekankan pentingnya melibatkan tokoh masyarakat seperti politisi guna melakukan sosialisasi vaksin COVID-19.
 
"Salah satunya adalah melibatkan tokoh-tokoh untuk ikut sosialisasikan pentingnya vaksin, baik dari kalangan politisi, agamawan, budaya, dan tokoh siapa saja yang menjadi panutan bagi sebagian saudara kita yang belum menerima dan belum percaya vaksin," kata Handoyo kepada wartawan, Senin (22/2/2021).

"Saya percaya bila melibatkan seluruh elemen masyarakat dan tokoh masyarakat yang menjadi panutannya kemungkinan untuk mau dan percaya divaksin probalitasnya akan bagus," sambungnya.

"Bisa jadi masih terbawa suasana batin masa lalu. Sedangkan kita sudah bersatu bersama-sama membangun negeri dalam pemerintahan, dan benar-tidaknya asumsi ini perlu dilakukan telaah survei," ujarnya.

Handoyo mengatakan mungkin mayoritas pendukung Prabowo masih terbawa suasana Pilpres 2019. Padahal saat ini semua pihak sedang berupaya membangun bangsa.

Politikus PDI Perjuangan (PDIP) ini juga mengatakan hasil survei tersebut merupakan informasi yang penting, khususnya untuk menyusun strategi agar masyarakat pendukung Prabowo di Pilpres 2019 dapat semakin percaya vaksin Corona.

"Tentu ini menjadi informasi berharga bagi pemerintah untuk mengambil langkah apa bagi pemerintah untuk meyakinkan masyarakat mau divaksin.

Terhadap saudara kita yang kurang percaya akan vaksin kebetulan adalah pemilih Pak Prabowo cenderung kurang percaya vaksin saya kira ini info yang perlu didalami guna menentukan strategi yang tepat dalam sosialisasi ke depannya," ujarnya.

Metode survei ini dilakukan by phone karena situasi pandemi ini belum memungkinkan secara lebih masif melakukan survei face to face. Sampel sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada rentang Maret 2018-Maret 2020.

Diketahui, lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terkait vaksinasi COVID-19. Hasil survei Indikator Politik Indonesia menyatakan pendukung Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2019 cenderung lebih bersedia divaksin daripada pendukung Prabowo Subianto.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan kebanyakan pendukung Prabowo-Sandi tidak bersedia divaksinasi karena efek samping belum ditemukan sebanyak 52,8 persen, sedangkan pendukung Jokowi-Ma'ruf sebesar 56,4 persen.

Sementara pendukung Prabowo-Sandi yang menolak vaksin karena menilai vaksin itu tidak efektif sebesar 28,1 persen, sedangkan pendukung Jokowi-Ma'ruf sebesar 22,9 persen.

"Basis Pilpres, nah ini, jadi ternyata pendukung Pak Prabowo-Sandi di 2019 itu cenderung tidak percaya vaksin/efektivitas vaksin (39,7 persen) ketimbang pendukung Pak Jokowi (24,8 persen)," kata Burhanuddin dalam YouTube Indikator Politik Indonesia, Minggu (21/2).

Sementara itu, pendukung Prabowo-Sandi yang percaya efektivitas vaksin dalam mencegah tertular COVID-19 sebesar 45,4 persen, sedangkan pendukung Jokowi-Ma'ruf 59,5 persen.

Burhanuddin menyarankan agar sosialisasi vaksinasi melibatkan tokoh agama ataupun tokoh seperti Prabowo Subianto agar banyak yang mau divaksin.

(hel/gbr)
Diterbitkan di Berita

VIVA – Indikator Politik merilis hasil survei yang dilakukan, terkait dengan vaksinasi COVID-19. Survei dilakukan pada 1-3 Februari 2021. Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi menjelaskan, survei yang mereka lakukan ini adalah setelah proses vaksinasi yang dilakukan terhadap Presiden Joko Widodo pada Januari 2021.

"Jadi asumsinya setelah 2 kali Presiden Jokowi melakukan vaksin dan diliput secara luas, seharusnya ada peningkatan awareness publik terkait dengan program vaksin.

Karena influencernya langsung Presiden sendiri, orang nomor satu di republik ini," jelas Burhanuddin, dalam paparannya melalui virtual, dikutip Senin 22 Februari 2021.

Maka yang menjadi fokus dari survei tersebut adalah siapa yang cenderung menolak untuk menerima vaksin. Lalu kemungkinan adanya resisten terhadap vaksinasi yang sedang berjalan ini.

Pada point pertanyaan, jika divaksin COVID-19 sudah tersedia, apakah ibu/bapak bersedia melakukan vaksinasi COVID-19, masih cukup tinggi yang tidak bersedia. 

Informasi vaksinasi memang sudah diketahui masyarakat yakni 91.3 persen. Juga 81,9 persen setuju setelah vaksin dinyatakan halal oleh MUI. Tetapi, sebanyak 15,8 persen sangat bersedia divaksin, 39,1 persen cukup bersedia. Lalu 32,1 persen kurang bersedia divaksin, 8,9 persen sangat tidak bersedia. Sementara 4,2 persen tidak menjawab.

"Namun, sangat banyak warga yang kemudian tidak lantas bersedia divaksin (41 persen), terutama karena alasan efek samping vaksin yang belum dipastikan (54.2 persen).
 
Kemudian efektivitas vaksin (27 persen), merasa sehat atau tidak membutuhkan (23.8 persen), dan jika harus membayar (17.3 persen)," isi kesimpulan seperti dikutip dalam hasil paparan survei Indikator Politik Indonesia.

Temuan lain dari survei Indikator Politik ini adalah masalah efektivitas vaksin dalam mencegah COVID-19. Yang percaya adalah sekitar 53.5 persen warga, yang tidak percaya sekitar 30.3 persen, dan selebihnya tidak bisa menilai, 16.3 persen.

"Tingkat kepercayaan publik terhadap berbagai varian vaksin Corona tampak rendah, secara umum lebih banyak yang kurang percaya,".

Survei dilakukan dengan melalui telepon, karena masih pandemi COVID-19. Dari 206.983 responden, sebanyak 7.604 dipilih untuk ditelepon melalui acak. Dan yang berhasil diwawancarai sebanyak 1200 responden.

Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error--MoE) sekitar ± 2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.

Diterbitkan di Berita

katadata.co.id

Pemerintah tengah mempersiapkan program vaksinasi gotong royong atau vaksinasi mandiri yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta. Tujuannya, seperti dinyatakan Presiden Joko Widodo, mempercepat proses vaksinasi Covid-19 nasional agar dapat rampung dalam setahun.

Saat ini, Kementerian Kesehatan tengah menggodok aturan mengenai vaksinasi gotong-royong tersebut. Kemenkes melibatkan dan meminta pendapat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menyusun aturan dan program vaksinasi gotong-royong.

"Draf aturannya dikonsultasikan ke KPK sebelum diterbitkan," kata Juru Bicara Vaksinasi Nasional dr Siti Nadia kepada Katadata.co.id, Sabtu (20/2).

Sebelumnya, pada pekan lalu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terlihat menyambangi gedung KPK untuk meminta pengawalan dalam pengadaan vaksin. Vaksinasi gotong royong alias mandiri memamg memicu kontroversi.

Di satu sisi dianggap bakal membantu pemerintah untuk mempercepat program vaksinasi sehingga kekebalan kelompok terhadap covid-19 segera terbentuk.

Di sisi lain, program itu dituding tidak memenuhi prinsip pemerataan dan keadilan sosial karena pihak swasta yang punya uang banyak akan lebih cepat memperoleh vaksin. Vaksin mandiri ini juga dikhawtairkan bakal memicu bisnis vaksin oleh swasta.  

Kondisi inilah yang menjadi perhatian Budi Gunadi. Ia tidak mempermasalahkan bila pengusaha mendapatkan akses vaksin. Namun, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan sehingga tidak ada kesan kelompok kaya mendapatkan vaksin terlebih dulu.

Selain itu Budi meminta swasta tetap mendahulukan kelompok prioritas yakni tenaga kesehatan, pelayan publik, dan lanjut usia untuk menerima vaksin.

"Tolong dipahami agar dijaga tahapannya. Kalau mau loncat (dari tahapan vaksinasi), pikirkan dampaknya ke orang lain," kata mantan Direktur Utama Bank Mandiri tersebut beberapa waktu lalu.  

Sejauh ini, lebih 3.000 perusahaan sudah mendaftar melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk mengikuti program vaksinasi gotong-royong.

Sejalan dengan bakal terbitnya aturan Kemenkes, program tersebut  diharapkan segera dimulai pada bulan Maret atau April mendatang.  

Meski begitu, masih ada simpang-siur informasi perihal vaksinasi gotong royong sehingga memantik kontroversi di temgah masyarakat. Katadata.co.id  menghimpun setidaknya delapan poin penting rencana vaksin mandiri dari berbagai pihak di pemerintahan.  

1. Aturan

Kementerian Kesehatan akan menerbitkan aturan khusus mengenai vaksinasi gotong-royong, namun programnya akan dijalankan atau dilaksanakan oleh kementerian lain. Kabarnya, aturan tersebut akan diterbitkan pekan depan.

2. Merek vaksin

Merek atau jenis vaksin mandiri tidak boleh sama dengan program vaksinasi gratis yang diadakan oleh pemerintah yakni Sinovac, AstraZeneca, Novavax, dan Pfizer. Jadi, kandidat merek vaksin mandiri adalah  Sinopharm, Moderna, Anhui, Johnson & Johnson, dan Sputnik.

Siti Nadia membuka kemungkinan merek atau jenis vaksin mandiri tersebut akan dicantumkan dalam aturan Kemenkes.

Adapun, Ketua Umum Kadin Rosan P. Roeslani mengakui jenis atau merek vaksin yang berbeda memang menjadi salah stau poin pembahasan vaksinasi mandiri dengan pemerintah. 

“Maka pasti kami tidak akan menggunakan Sinovac atau merek lain yang ada dalam daftar pemerintah,” katanya dalam wawancara khusus dengan Katadata.co.id Januari lalu.

3. Harga vaksin

Kemenkes akan menetapkan batas atas harga vaksin mandiri. Rosan pernah mengatakan, pihaknya masih menunggu aturan pemerintah terkait harga vaksin. Berdasarkan publikasi situs Kadin Indonesia, vaksin untuk program gotong royong diharapkan memiliki harga yang terjangkau. “Harganya tak lebih dari Rp 1 juta untuk satu dosisnya yang bisa diterima oleh pelaku usaha,” kata Rosan.

4. Pengadaan vaksin

Importir vaksin mandiri adalah negara  melalui perusahaan farmasi BUMN PT Biofarma. Perusahaan pelat merah ini akan memegang lisensi vaksin tersebut sehingga mudah dikontrol distribusi dan keamanannya. Ini untuk mencegah masuknya vaksin-vaksin palsu dari negara lain.  

 

5. Distribusi

Setelah dibeli Biofarma, vaksin mandiri hanya boleh didistribusikan kepada perusahaan, khususnya perusahaan padat karya. Selanjutnya, perusahaan membagikan vaksin itu kepada karyawan dan buruhnya secara gratis.

6. Izin penggunaan

Merek atau jenis vaksin mandiri wajib mendapatkan izin penggunaan darurat (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

7. Lokasi vaksinasi

Penyuntikan vaksin mandiri tidak boleh di fasilitas kesehatan negara agar tidak mengganggu proses vaksinasi pemerintah yang sedang berjalan hingga tahun depan. Jadi, lokasi vaksinasi mandiri harus di fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit dna klinik swasta.

8. Jadwal vaksinasi

Penyuntikan vaksinasi mandiri baru akan dilaksanakan setelah tahap vaksinasi tenaga kesehatan rampung. Jadi, waktu vaksinasi mandiri akan diparalelkan dengan vaksinasi petugas publik yang dibesut pemerintah dan ditargetkan rampung pada bulan Mei atau Juni mendatang.

Meski begitu, waktu pelaksanaan vaksinasi mandiri ini masih tergantung pada ketersediaan atau pasokan vaksin. Padahal, pasokan vaksin di dunia saat ini memang sulit dan terbatas.

Reporter: Yura Syahrul

Editor: Ameidyo Daud Nasution

 

Diterbitkan di Berita

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta - Vaksinasi COVID-19 untuk lansia diperkirakan akan mulai dilakukan pekan depan. Ada dua mekanisme vaksinasi yang akan dilakukan, salah satunya harus mendaftar dulu di website Kementerian Kesehatan RI.

Mekanisme pertama adalah vaksinasi berbasis fasilitas kesehatan, yang dilaksanakan di puskesmas dan rumah sakit. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  • Peserta mendaftar dengan mengunjungi situs resmi Kementerian Kesehatan yaitu www.kemkes.go.id dan sehatnegeriku.kemkes.go.id, serta situs resmi Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) di www.covid19.go.id.
  • Di ketiga situs resmi tersebut akan tersedia link atau tautan yang dapat diklik oleh sasaran vaksinasi masyarakat lanjut usia. Di dalamnya terdapat sejumlah pertanyaan yang harus diisi.
  • Dalam mengisi data tersebut peserta lanjut usia dapat meminta bantuan anggota keluarga lain atau melalui kepala RT atau RW setempat.
  • Setelah peserta mengisi data di website tersebut maka seluruh data peserta akan masuk ke Dinas Kesehatan provinsi masing-masing. Selanjutnya Dinas Kesehatan akan menentukan jadwal, termasuk hari, waktu, serta lokasi pelaksanaan vaksinasi, kepada masyarakat lanjut usia.

  Bagi yang kesulitan menemukan link pendaftaran vaksinasi COVID-19 untuk lansia, berikut tautan terbaru untuk mempermudah:

Link pendaftaran vaksinasi COVID-19 untuk lansia:
 
No Kota/Kabupaten Link/tautan
1. DKI Jakarta dki.kemkes.go.id
2. Serang serang.kemkes.go.id
3. Bandung bandung.kemkes.go.id
4. Semarang semarang.kemkes.go.id
5. Surabaya surabaya.kemkes.go.id
6. Yogyakarta yogyakarta.kemkes.go.id
7. Denpasar denpasar.kemkes.go.id
8. Banda Aceh bandaaceh.kemkes.go.id
9. Pangkal Pinang pangkalpinang.kemkes.go.id
10. Bengkulu bengkulu.kemkes.go.id
11. Gorontalo gorontalo.kemkes.go.id
12. Jambi jambi.kemkes.go.id
13. Pontianak pontianak.kemkes.go.id
14. Banjarmasin banjarmasin.kemkes.go.id
15. Tanjung Selor tanjungselor.kemkes.go.id
16. Palangkaraya palangkaraya.kemkes.go.id
17. Samarinda samarinda.kemkes.go.id
18. Tanjung Pinang tanjungpinang.kemkes.go.id
19. Bandar Lampung lampung.kemkes.go.id
20. Ambon kotaambon.kemkes.go.id
21. Ternate ternate.kemkes.go.id
22. Mataram mataram.kemkes.go.id
23. Kupang kupang.kemkes.go.id
24. Manokwari manokwari.kemkes.go.id
25. Jayapura jayapura.kemkes.go.id
26. Pekanbaru pekanbaru.kemkes.go.id
27. Mamuju mamuju.kemkes.go.id
28. Makassar makassar.kemkes.go.id
29. Palu palu.kemkes.go.id
30. Kendari kendari.kemkes.go.id
31. Manado manado.kemkes.go.id
32. Padang padang.kemkes.go.id
33. Palembang palembang.kemkes.go.id
34. Medan medan.kemkes.go.id

Daftar link atau tautan ini sekaligus mengoreksi daftar link yang sempat viral di Whatsapp sebelumnya.


Organisasi atau instansi dapat bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan atau Dinas Kesehatan untuk melakukan vaksinasi massal untuk peserta lanjut usia.Sementara itu, mekanisme vaksinasi yang kedua adalah vaksinasi massal di tempat yang diselenggarakan oleh organisasi maupun instansi yang bekerja sama dengan Kemenkes maupun Dinkes. Langkah-langkahnya:

  • Organisasi atau instansi dapat bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan atau Dinas Kesehatan untuk melakukan vaksinasi massal untuk peserta lanjut usia.
  • Organisasi dan instansi yang sudah menjalin kerjasama akan menentukan jadwal, termasuk hari, waktu, serta lokasi pelaksanaan vaksinasi, kepada masyarakat lanjut usia.


(up/up)

Diterbitkan di Berita

Kapolres Alor, AKBP Agustinus Christmas mengatakan, warga sembunyi di hutan karena panik dan ketakutan setelah membaca informasi hoaks tentang vaksin Covid-19.

"Iya benar, karena warga banyak membaca berita-berita di media sosial dan lain-lain jadi mereka takut," ujar Agustinus, dilansir Kumparan, Sabtu (20/2/2021).

Agustinus mengatakan, Bhabinkamtibmas Aipda Dominggus Bole Dede langsung bergerak cepat menjelaskan kepada masyarakat untuk tidak terpengaruh berita-berita hoax yang beredar.

"Mereka sudah pada turun semua ke kampung. Ada yang masih di gunung karena jaga kebun sementara menunggu masa panen jagung," katanya.

Sebelumnya, sejumlah warga sembunyi di hutan beralasan belum pernah sama sekali merasakan jarum suntik.

Warga takut melihat foto-foto dan video di media sosial, serta beredarnya informasi kalau vaksin sudah dilakukan kepada masyarakat Kabupaten Alor.

Warga percaya dampak-dampak terhadap vaksin Covid-19.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan ( Kemenkes) Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, Vaksin Nusantara yang saat ini dikembangkan tim peneliti di Semarang masih berada dalam tahap penelitian.

Meski demikian, Kemenkes menyatakan mendukung pengembangan vaksin ini. "Kemenkes mendukung pengembangan terapi (Vaksin Nusantara) ini ya. Karena ini masih area penelitian," ujar Nadia ketika dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (19/2/2021).

"Masih mau masuk uji klinis. Jadi masih penelitian," kata dia. Indonesia tengah mengembangkan vaksin yang disebut dengan Vaksin Nusantara.

Vaksin yang juga dikenal dengan nama AV-Covid-19 tersebut dikembangkan melalui kerja sama antara Kemenkes, RSUP dr Kariadi Semarang, dan Universitas Diponegoro (Undip).

Vaksin tersebut telah melalui uji klinis tahap pertama dan tengah memasuki uji klinis tahap kedua. Vaksin Nusantara bersifat personal menyesuaikan kondisi komorbid setiap individu.

"Prosesnya simpel, mengalami inkubasi dan seminggu kemudian sudah menjadi vaksin individual dan disuntikkan ke dalam tubuh si pasien penerima vaksin dan pembuat vaksin itu sendiri. Dampaknya apa, tentu akan memberikan kekebalan terhadap Covid-19, karena ini sifatnya menjadi imunitas yang seluler, tentunya akan bertahan lama," ujar mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, Rabu (17/2/2021).

Jika disuntik Vaksin Nusantara, pasien hanya menerima suntikan vaksin yang berasal dari sel darahnya sendiri dan bukan orang lain.

Penulis : Dian Erika Nugraheny
Editor : Icha Rastika

Diterbitkan di Berita

Acuantoday.com— Data menurun drastisnya jumlah kasus Covid 19 di Jakarta hari ini mengejutkan berbagai pihak. Pasalnya, selama berbulan-bulan pertambahan kasus Covid 19 di Jakarta selalu di atas 1000 kasus. Hari ini, sebagaimana data Kementerian Kesehatan, jumlah pertambahan kasus Covid 19 adalah 373 kasus, kesembuhan 2.695 kasus dan 32 kasus kematian.

Ternyata, kecilnya pertambahan kasus Covid di Jakarta adalah karena ada permasalahan pada penginputan data. Dikutip dari laman beritajakarta disebutkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkomitmen untuk menyampaikan data kasus Covid-19 secara terbuka.

Namun, perlu disampaikan bahwa data kasus positif hari ini bukan merupakan data secara keseluruhan lantaran laboratorium kesulitan menginput data pemeriksaan spesimen.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia menjelaskan, kesulitan penginputan data ini akibat sedang dilakukannya perbaikan koneksi untuk mempercepat sistem penginputan dari Kementerian Kesehatan RI. Sehingga, jajaran Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tidak dapat melakukan penarikan data per Rabu, 17 Februari 2021.

“Untuk all records akan masuk datanya besok. Mohon tidak diasumsikan bahwa data yang sedikit ini karena wabah sudah benar-benar terkendali, karena besok kemungkinan akan ada akumulasi data dari yang sebelumnya tidak bisa dilakukan penarikan melalui sistem,” ujar Dwi, dikutip dari siaran pers PPID Provinsi DKI Jakarta.

Dwi menjelaskan, berdasarkan data terkini Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dilakukan tes PCR sebanyak 11.384 spesimen. Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 9.107 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 373 positif dan 8.734 negatif.

Adapun jumlah kasus aktif di Jakarta sampai hari ini sebanyak 13.627 (orang yang masih dirawat/isolasi). Sedangkan, jumlah kasus Konfirmasi secara total di Jakarta sampai hari ini sebanyak 321.111 kasus. Dari jumlah total kasus tersebut, total orang dinyatakan telah sembuh sebanyak 302.435 dan total 5.049 orang meninggal dunia.***dian

Diterbitkan di Berita

Fitri Haryanti Harsono Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebut kasus COVID-19 pada tenaga kesehatan turun setelah vaksinasi. Walau begitu, kabar menggembirakan ini masih menunggu kelengkapan data mengenai dampak vaksinasi terhadap tenaga kesehatan.

"Dari pengamatan data sementara terkait vaksinasi tenaga kesehatan. Kita bisa lihat semua tenaga kesehatan sesudah divaksinasi memang tren kasus konfirmasi positif COVID-19 menurun," kata Budi saat konferensi pers 'Penjelasan Menteri Kesehatan mengenai Positivity Rate COVID 19' pada Rabu, 17 Februari 2021.

"Kami masih menunggu kelengkapan datanya untuk mengambil kesimpulan."  Hingga saat ini, sudah lebih dari 1,1 juta tenaga kesehatan ikut vaksinasi COVID-19. Data Kementerian Kesehatan per 17 Februari 2021 menunjukkan, sudah ada 1.149.939 tenaga kesehatan menerima dosis vaksin pertama dan 597.328 menerima dosis kedua.

Cakupan tenaga kesehatan yang mendapat suntikan pertama 78,29 persen dan 40,67 persen pada suntikan kedua. Sasaran vaksinasi tenaga kesehatan sebesar 1.468.764 orang.

"Ada 1,1 juta tenaga kesehatan yang penyuntikan pertama dan lebih dari 500.000 tenaga kesehatan yang menerima suntikan kedua. Ya, kita melihat tren yang promising (menjanjikan), kasus COVID-19 tenaga kesehatan menurun setelah divaksin," ucap Budi Gunadi.

 

 Dampak Vaksinasi Terhadap Kasus COVID-19

 

 

FOTO: Ribuan Tenaga Kesehatan Jalani Vaksinasi Dosis Pertama Secara Massal

Petugas memeriksa kondisi tenaga kesehatan saat mengikuti vaksinasi COVID-19 massal di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Kegiatan yang digelar Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut sebagai upaya percepatan vaksinasi COVID-19. (Liputan6.com/Johan Tallo)

 

Terkait dampak vaksinasi terhadap kasus COVID-19, apakah terjadi penurunan konfirmasi positif atau tidak, menurut Budi Gunadi, harus diamati setelah penyuntikkan kedua dilakukan.

"Kesimpulan itu harus kita ambil, minimal dua minggu sesudah suntikan kedua. Intinya, upaya vaksinasi akan kelihatan dua minggu sesudah vaksinasi kedua selesai," ujarnya.

Sementara itu, mengenai dampak vaksinasi kepada masyarakat belum bisa diambil kesimpulan. Ini karena vaksinasi belum dilakukan secara menyeluruh kepada masyarakat. Apalagi saat ini, vaksinasi tahap kedua bagi petugas pelayanan publik dan lansia baru dimulai 17 Februari 2021.

"Kita belum bisa mengambil kesimpulan mengenai dampak vaksinasi terhadap masyarakat umum. Karena memang vaksinasi belum dilakukan ke semua masyarakat," pungkas Budi.

 

Infografis Perjalanan Sejuta Tenaga Kesehatan Divaksinasi

 

Diterbitkan di Berita

Sementara, katanya, bagi umat non muslim vaksinasi akan tetap dilakukan pada siang hari.

"Di bulan puasa, vaksinasi dilakukan malam hari. Yang di kawasan non muslim tetap siang hari," ujar Jokowi saat bertemu Pemimpin Redaksi Media Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/2/2021) kemarin.

Menurutnya, skema vaksinasi di bulan Ramadhan harus tetap dilakukan demi terbentuknya kekebalan masyarakat.

Selain itu, Jokowi juga menjelaskan jika saat ini pemerintah sudah mendapat komitmen pengadaan 140 juta dari Sinovac, AstraZeneca sebanyak 50 juta, Pfizer 50 juta, dan Novavac 50 juta vaksin.

"Jadi kita masih kekurangan sekitar 120 juta dosis vaksin," imbuhnya.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Provinsi DKI Jakarta mencatat 0 kasus kematian akibat Covid-19 pada Selasa (16/2/2021) kemarin. Catatan nihil kasus kematian akibat Covid-19 itu pernah terjadi pada 2 Agustus 2020.

Kala itu, 852 orang dilaporkan meninggal dunia akibat Covid-19. Sementara itu, hingga Selasa kemarin, 4.987 orang dilaporkan meninggal akibat Covid-19. Laporan nihil kasus kematian akibat Covid-19 tersebut merupakan kabar baik untuk Provinsi DKI Jakarta.

Sebab, selama dua pekan terakhir, laporan kasus kematian akibat Covid-19 di DKI Jakarta cukup tinggi, yakni berkisar 20-50 kasus per hari.

Jakarta pun pernah mencatat penambahan kasus kematian tertinggi pada 1 Februari 2021 yakni 70 orang.

 

Foto Tangkapan layar kasus kematian akibat Covid-19 di Jakarta

 

Berikut rincian penambahan kasus kematian akibat Covid-19 di Ibu Kota selama Februari 2021.

1 Februari: 70 kasus

2 Februari: 42 kasus

3 Februari: 41 kasus

4 Februari: 41 kasus

5 Februari: 41 kasus

6 Februari: 39 kasus

7 Februari: 46 kasus

8 Februari: 44 kasus

9 Februari: 50 kasus

10 Februari: 44 kasus

11 Februari: 23 kasus

12 Februari: 50 kasus

13 Februari: 52 kasus

14 Februari: 45 kasus

15 Februari: 45 kasus

Hingga selasa kemarin, sebanyak 297.695 orang dinyatakan sembuh dari penyakit Covid-19 dengan tingkat kesembuhan mencapai 93,2 persen. Adapun jumlah kasus aktif di Jakarta turun sebanyak 258 kasus.

Dengan demikian, saat ini masih ada 16.611 pasien yang menjalani perawatan atau isolasi. Sementara itu, total kasus Covid-19 di Jakarta mencapai 319.293 kasus.

Editor : Rindi Nuris Velarosdela

Diterbitkan di Berita