Tantri Lestari tagar.id Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dari 193 negara yang terdaftar di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 170 negara diantaranya mencatatkan perekonomian yang negatif pada tahun lalu akibat Covid-19 pada tahun lalu.

“Ini adalah kondisi terburuk dalam 150 tahun terakhir. Hal tersebut berdasarkan studi Bank Dunia,” tuturnya dalam sebuah diskusi virtual, Selasa, 6 April 2021.

Mantan Direktur Bank Dunia ini menjelaskan, Indonesia merupakan negara yang masuk dalam kondisi resesi tersebut. Kontraksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) merupakan yang terdalam sejak krisis pada 1997-1998.

Tetapi, dengan PDB 2020 sebesar minus 2,07 persen, Indonesia masih lebih baik. Kemudian Menkeu membandingkannya dengan kelompok G20, Asean, bahkan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang rata-rata pertumbuhan PDB nya turun lebih dalam dari Indonesia.

“Ini adalah situasi yang tidak pandang bulu dan memiliki dampak konsekuensi yang luar biasa. Dengan ini, ada konsekuensi yaitu meningkatnya pengangguran, kemiskinan, dan berdampak pada kesejahteraan,” ungkapnya.

Ini adalah kondisi terburuk dalam 150 tahun terakhir. Hal tersebut berdasarkan studi Bank Dunia.

Pemerintah respons ekstra luar biasa (extraordinary) pada awal ditemukannya kasus di Indonesia, yaitu dengan disahkannya Undang-Undang (UU) No. 2/2021 tentang Kebijakan Keuangan dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19. Hal ini, lantaran Pemerintah tahu pandemi akan berefek negatif pada semua sektor.

“Kenapa sektor tersebut? Karena pandemi memaksa keuangan negara melakukan berbagai langkah extra ordinary baik itu di bidang belanja negara karena penerimaan turun juga sektor keuangan yang bisa tertekan. Ini yang kita sebut extraordinary,” sebut Menkeu. []

Diterbitkan di Berita

Konten ini diproduksi oleh kumparan 

PPKM skala mikro diperpanjang hingga 19 April 2021. Kebijakan ini memberi dampak baik bagi penekanan penyebaran corona, termasuk di Jakarta.
Salah satu indikator keberhasilan PPKM mikro yang dirasakan di Jakarta, yakni turunnya jumlah RT yang masuk dalam daerah rawan corona. Dalam waktu satu bulan, jumlahnya berhasil turun hingga seribu lebih.
 
Dikutip dari situs corona.jakarta.id, Selasa (6/4), data per 1 April 2021, total RT yang masih masuk dalam wilayah rawan corona mencapai 3.058 RT. Total RT di Jakarta, yakni 30.417 RT atau masih ada 10% RT rawan.
Rincian jumlah RT rawan per wilayah, yakni Jakarta Pusat 233 RT, Jakarta Timur 760 RT, Jakarta Barat 917 RT, Jakarta Selatan 701 RT, Jakarta Utara 445 RT, dan Kepulauan Seribu 2 RT.
 
Dalam Sebulan RT Rawan Corona di Jakarta Terus Turun: Tersisa 3.058 RT (1)
RT rawan corona di Jakarta per 1 April 2021. Foto: Pemprov DKI Jakarta
 
Angka ini turun cukup drastis bila dibandingkan data sebelumnya. Pada 25 Februari 2021, total ada 4.609 RT di Jakarta yang masih masuk dalam zona rawan. Saat itu, Jakarta Timur terbanyak dengan 1.272 RT. 
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperpanjang PPKM Mikro mulai 6-19 April 2021. Perpanjangan ini tertuang Keputusan Gubernur Nomor 405 Tahun 2021 tentang Perpanjangan PPKM Mikro dan Instruksi Gubernur Nomor 18 Tahun 2021 tentang Perpanjangan PPKM Mikro tingkat RT.
 
Anies berharap PPKM mikro yang nantinya bertepatan dengan Ramadhan dapat meningkatkan disiplin warga terhadap prokes dan tetap di rumah saja.
 
"Warga kembali diimbau untuk tidak hanya patuh terhadap 3M, melainkan juga harus mengurangi mobilitas, serta mencegah keramaian yang dirasa tidak perlu. Saat bulan Ramadhan, bisa dijadikan momentum bagi kita untuk terus meningkatkan imunitas sembari menjalankan ibadah puasa agar terhindar dari risiko keterpaparan," kata Anies.
Diterbitkan di Berita

Ayunda Septiani - detikHealth Jakarta - Menteri Kesehatan Korea Selatan Kwon Deok-cheol memperingatkan bahwa Korea Selatan kini sedang dalam fase menuju gelombang keempat pandemi COVID-19.

"Selama sepekan terakhir, jumlah kasus harian baru berada di kisaran 500 kasus. Ini jelas menandakan adanya tren penularan yang meningkat," kata Kwon dalam briefing mingguan, seperti dikutip dari laman CNN.

Dia mengimbau masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan guna untuk menekan laju penyebaran virus Corona COVID-19.

Selain itu, Kwon juga meminta masyarakat untuk membatalkan semua pertemuan non-esensial dan berpartisipasi aktif dalam program vaksinasi virus Corona COVID-19.

Pada kesempatan yang sama, pejabat Kemenkes Korsel Son Young-rae mengatakan pemerintah terus memantau tren penularan dalam sepekan ke depan, dan nantinya akan memutuskan apakah akan meningkatkan level pembatasan sosial.

Sejauh ini, pembatasan sosial level 2 diterapkan di area Seoul, Busan, dan Jeonju, sedangkan wilayah lain di negara itu berada pada level 1,5.
(ayd/up)

Diterbitkan di Berita

katadata.co.id

Pemerintah dijadwalkan akan menerima tambahan pasokan vaksin Covid-19 bikinan Sinovac sebanyak 10 juta dosis bulan ini. Jumlah tersebut akan menambah stok vaksin corona yang saat ini tersedia sebanyak 28 juta dosis.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan dari 28 juta dosis, lima juta telah didistribusikan. Sedangkan 11 juta akan dikirim ke berbagai wilayah sepanjang April.

“Sisa 12 juta dosis masih dalam proses. Selain itu kita akan menerima lagi 10 juta dosis,” kata Siti dikutip dari Antara, Minggu (4/4).

Sebelumnya India telah melakukan embargo pengiriman vaksin merek AstraZeneca yang diproduksinya. Siti mengatakan keputusan Negeri Bollywood tersebut membuat pengiriman vaksin tertunda hingga Mei mendatang.

Meski demikian, ia optimistis  target kekebalan kelompok lewat vaksinasi terhadap 181,5 juta orang akan tercapai Desember 2021. “Tentunya masih ada waktu kami mempercepat cakupan vaksinasi,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa vaksinasi tetap berlangsung saat Ramadhan mendatang. Apalagi Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan vaksinasi lewat suntik tak membatalkan puasa.

Adapun Kemenkes telah memulai pendistribusian 1,1 juta AstraZeneca ke tujuh provinsi yakni DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Utara.  

"Sudah didistribusikan, Jawa Timur dan Bali sudah menerima," kata Nadia kepada Senin (22/3).

 

 

Indonesia bukan satu-satunya negara yang terdampak penangguhan ekspor vaksin Covid-19 dari India. Negara lain di Asia seperti Filipina hingga Korea Selatan juga terkena kebijakan ini dan terpaksa mencari sumber alternatif vaksin lain.

India telah menghentikan sementara ekspor vaksin AstraZeneca yang diproduksi Serum Institute of India (SII). Alasannya, memenuhi kebutuhan domestik usai kasus corona di Negeri Bollywood meningkat.

“Kami telah memasok lebih banyak vaksin untuk global daripada memvaksinasi rakyat kami sendiri,” kata perwakilan India di Sidang Umum PBB, Nagaraj Naidu pada Jumat (26/3) lalu dikutip dari South China Morning Post (SCMP).


Editor: Ameidyo Daud Nasution

 

Diterbitkan di Berita

Akbar Ridwan alinea.id - Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, per 4 April 2021, total ada 12,5 juta vaksin Covid-19 telah diberikan. Menurut dia, cakupan dosis itu sudah 21,33% dari target 40 juta sasaran pada tahap satu.

"Dan tahap kedua itu sudah kurang lebih 8,5 juta orang mendapatkan suntikan vaksin Covid-19," kata dia saat diskusi dalan jaringan yang disiarkan kanal Youtube Kementerian Kesehatan, Minggu (4/4).

Nadia mengklaim, capaian tersebut lebih baik dari negara-negata di kawasan Eropa. Sebab, menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, negara di benua biru lambat dalam vaksinasi.
 
"Menurut WHO dinilai lebih lambat karena rata-rata negara-negara di kawasan Eropa ini cakupan vaksinasi dosis mereka masih kurang dari 10%," ujarnya.

Ke depan, kapasitas vaksinasi bakal ditingkatkan. Namun, Nadia mengatakan, terdapat kendala khususnya bagi masyarakat yang berusia di atas 60 tahun. Padahal, kata dia, vaksinasi Covid-19 terhadap lansia penting karena kelompok itu memiliki risiko kematian dan kesakitan tiga kali lebih besar dari golongan usia lain.

Kendala yang dihadapi, jelas Nadia, misalnya kesulitan akses sentra vaksinasi, takut aktivitas di luar rumah, keterbatasan fisik mencapai pos-pos vaksin, dan kesulitan melakukan pendaftaran elektronik. 

"Saat ini, kita tahu bahwa baru sekitar 8% usia di atas 60 tahun yang telah mengikuti vaksinasi Covid-19," ucapnya.

Atas kendala tersebut, Nadia mendorong partisipasi dari keluarga dan masyarakat agar mau membantu warga lansia melakukan vaksinasi. Diharapkan juga, publik ikut serta mensosialisasikan program vaksinasi Covid-19.

"Kami memahami tidak mudah mengajak orang tua untuk mendapatkan vaksinasi, tetapi tentunya dengan kita menyampaikan hal-hal yang secara baik dan tentunya ini adalah perlu untuk menjaga kesehatan orang tua kita, maka kita dorong orang tua kita untuk bisa segera mendapatkan vaksinasi," ucapnya.
 
Diterbitkan di Berita

Vaksin Pfizer Diklaim Aman untuk Anak

Kamis, 01 April 2021 19:22

KBRN, Jakarta: Pihak Pfizer mengumumkan uji coba tahap ketiga pada anak berusia 12-15 tahun menunjukkan efikasi 100 persen dan respon atibodi yang kuat, bahkan melebihi yang tercatat sebelumnya pada orang berusia 16-25 tahun.

Untuk sampai pada temuan ini, seperti dikutip dari laman Health, Kamis, setengah dari 2.260 peserta studi berada dalam kelompok plasebo dan diberi larutan garam, sementara separuh lainnya menerima vaksin.

Pada kelompok plasebo, sebanyak 18 peserta terkena COVID-19 sementara tidak ada dalam kelompok yang divaksinasi tertular virus.

Pihak Pfizer menuturkan, vaksin mereka ditoleransi dengan baik oleh anak berusia 12-15 tahun dalam kelompok yang divaksinasi. Mereka ini campuran dari anak-anak yang tidak pernah terkena COVID-19 dan beberapa yang pernah terinfeksi.

Seperti pada orang dewasa, vaksin menghasilkan respons kekebalan yang kuat pada anak-anak satu bulan setelah dosis kedua.

Dari hasil tersebut, Ketua dan CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan perusahaannya akan memperluas otorisasi vaksin agar bisa digunakan pada populasi yang lebih muda didorong data uji klinis pada anak berusia 12-15 tahun.

"Kami berencana untuk mengirimkan data ini ke FDA sebagai amandemen yang diusulkan untuk Otorisasi Penggunaan Darurat dalam beberapa minggu mendatang dan kepada regulator lain di seluruh dunia, dengan harapan mulai memvaksinasi kelompok usia ini sebelum dimulainya tahun ajaran berikutnya," kata Bourla.

Pfizer dan Moderna juga sedang menjalankan uji klinis vaksin mereka pada anak-anak berusia 6 bulan-12 tahun. (ant)

Diterbitkan di Berita

Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 8.440 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 384 positif dan 8.056 negatif, berikut tes Antigen hari ini sebanyak 3.731 orang dengan hasil 69 positif dan 3.662 negatif.

“Untuk rate tes PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 319.501. Jumlah orang yang dites PCR sepekan terakhir sebanyak 74.349.

Adapun jumlah kasus aktif di Jakarta turun sejumlah 823 kasus, sehingga jumlah kasus aktif sampai hari ini sebanyak 6.944 (orang yang masih dirawat/ isolasi)," kata Dwi Oktavia di Jakarta, seperti dikutip RRI.co.id, Selasa (30/3/2021). 

Sedangkan, jumlah kasus Konfirmasi secara total di Jakarta sampai hari ini sebanyak 381.090 kasus.

Dari jumlah total kasus tersebut, total orang dinyatakan telah sembuh sebanyak 367.819 dengan tingkat kesembuhan 96.5%, dan total 6.327 orang meninggal dunia dengan tingkat kematian 1.7%, sedangkan tingkat kematian Indonesia sebesar 2.7%. 

Untuk positivity rate atau persentase kasus positif sepekan terakhir di Jakarta sebesar 11.1%, sedangkan persentase kasus positif secara total sebesar 11.2%.

WHO juga menetapkan standar persentase kasus positif tidak lebih dari 5%.

Sementara itu, proses vaksinasi juga masih terus berlangsung.

Adapun jumlah sasaran vaksinasi tahap 1 dan 2 (tenaga kesehatan, lansia, dan pelayan publik) sebanyak 3.000.689 orang.

Total vaksinasi dosis 1 saat ini sebanyak 1.178.243 orang (39,3%) dan total vaksinasi dosis 2 kini mencapai 388.065 orang (12.9%).

Rinciannya, yaitu untuk tenaga kesehatan, vaksinasi dosis 1 telah dilakukan kepada 123.199 orang (109.7%) dan vaksinasi dosis 2 mencakup 103.537 orang (92.2%), dengan target vaksinasi sebanyak 112.301 orang.

Sedangkan, pada kelompok lansia, vaksinasi dosis 1 telah dilakukan kepada 444.817 orang (48.8%) dan vaksinasi dosis 2 mencakup 42.494 orang (4.7%), dengan target vaksinasi sebanyak 911.631 orang. 

Pada kelompok pelayan publik, vaksinasi dosis 1 telah dilakukan kepada 610.227 orang (30.9%) dan vaksinasi dosis 2 mencakup 242.034 orang (12.2%), dengan target vaksinasi sebanyak 1.976.757 orang.

Pemprov DKI Jakarta telah menyediakan tempat tidur isolasi dan tempat tidur ICU dalam penanganan COVID-19.

Berdasarkan data terakhir hingga 28 Maret 2021, terdapat peningkatan kapasitas tempat tidur isolasi dan tempat tidur ICU di 106 RS rujukan.

Untuk tempat tidur isolasi sejumlah 7.692, persentase keterisiannya sebesar 49% dengan total pasien isolasi sebanyak 3.774 orang.

Sedangkan, untuk tempat tidur ICU sejumlah 1.137, persentase keterisiannya sebesar 54% dengan total pasien ICU sebanyak 610 orang.

Melalui Satpol PP Provinsi DKI Jakarta, penindakan atas pelanggaran penggunaan masker dan pendataan buku tamu juga akan digencarkan, begitu pula dengan bentuk pelanggaran-pelanggaran PSBB lainnya.

Sehingga, harapannya, masyarakat dapat lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan dan turut berpartisipasi dalam memutus mata rantai penularan COVID-19.

Berdasarkan laporan harian Satpol PP Provinsi DKI Jakarta hingga 29 Maret 2021 pukul 18.00 WIB, telah dilakukan penertiban dengan rincian sebagai berikut:

A. PERORANGAN (Tidak Memakai Masker)

- Kerja Sosial = 2.797

- Denda = 68

- Jumlah = 2.865

B. RESTORAN / RUMAH MAKAN

- Denda   = 0

- Penghentian Sementara Kegiatan 1x24 jam = 4

- Penghentian Sementara Kegiatan 3x24 jam = 7

- Teguran Tertulis = 29

- Pembubaran = 17

- Pembekuan Sementara/Pencabutan Izin = 0

- Tidak ditemukan Pelanggaran = 300

- Jumlah = 357

C. PERKANTORAN, TEMPAT USAHA, TEMPAT INDUSTRI

- Denda   = 0

- Penghentian Sementara Kegiatan 3x24 Jam  = 2

- Teguran Tertulis = 27

- Pembekuan Sementara/Pencabutan Izin = 0

- Tidak ditemukan Pelanggaran = 413

- Jumlah = 442

NILAI DENDA

- Perorangan = Rp7.150.000

- Tempat Usaha Makan Minum / Restoran / rumah Makan = Rp -

- Tempat Kerja / Kantor / Tempat Industri = Rp -

- Jumlah = Rp.7.150.000

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kedisiplinan terhadap protokol kesehatan 3M, lantaran kasus positif COVID-19 yang masih terus bertambah.

Kendati Pemprov DKI Jakarta terus meningkatkan 3T, namun hal itu juga diperlukan kerja bersama masyarakat untuk memutus mata rantai penularan wabah pandemi global Coronavirus. (Miechell Octovy Koagouw)

Diterbitkan di Berita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, stok vaksin Covid-19 di bulan April terancam habis, akibat embargo dari India. Ia memprediksi, sisa vaksin yang ada kini akan habis sekira 15 hari ke depan.

"Di bulan April, laju penyuntikan kita sekarang udah 500 ribu per hari dan kalau kita punya cuma 7 juta itu artinya 14 hari (habis) dan sekarang sedang kita atur bagaimana vaksinasinya," ujarnya dalam diskusi, Minggu (28/3/2021).

Budi menuturkan, jika sesuai rencana Indonesia akan menerima 11 juta dosis vaksin Covid-19 dari COVAX GAVI yang akan diterima secara bertahap hingga Mei 2021. Dan, saat ini Indonesia memiliki stok vaksin jadi di Bio Farma hanya 7 juta dosis.

"Ini bulan April vaksin Sinovac cuma 7 juta. Saya pikir bisa dapat 7,5 juta (tambahan) dari COVAX, sehingga 15 juta jadi bisa untuk vaksinasi. Tapi sepertinya akan dapat cuma 1,1 juta, 10,6 juta vaksinya tertahan," ungkap mantan wakil menteri BUMN ini.

Sebelumnya Budi menyampaikan, program vaksinasi yang tengah genjar dilakukan pemerintah terkendala pasokan vaksin. Penyebabnya, India sebagai negara produsen vaksin terbesar sedang melakukan embargo, lantaran kasus Covid-19 di negara itu meningkat.

India disebut Budi, merupakan produsen untuk vaksin AstraZeneca, Novavax, maupun Pfizer. "Ini ada berita buruk. India ini sedang naik (kasus Covid-19), karena naik India embargo vaksin eggak boleh keluar lagi vaksinnya.

Enggak kirim ke COVAX GAVI, karena memang India adalah pabrik vaksin terbesar di dunia di luar Cina. Jadi Novavax, AstraZeneca, juga kabarnya Pfizer dibuat di sana," terang Budi.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Sanusi

 

Diterbitkan di Berita

KBRN, Massachusetts: Dalam studi terbesar dari jenisnya hingga saat ini, para peneliti di Rumah Sakit Umum Massachusetts, Rumah Sakit Wanita dan Brigham dan Institut Ragon MGH, MIT dan Harvard telah menemukan vaksin mRNA COVID-19 baru sangat efektif dalam memproduksi antibodi melawan SARS- Virus CoV-2 pada wanita hamil dan menyusui. Mereka juga mendemonstrasikan vaksin yang memberikan kekebalan pelindung pada bayi baru lahir melalui ASI dan plasenta.

Studi yang diterbitkan dalam American Journal of Obstetrics and Gynecology (AJOG), mengamati 131 wanita usia subur (84 hamil, 31 menyusui dan 16 tidak hamil), semuanya menerima salah satu dari dua vaksin mRNA baru: Pfizer/BioNTech atau Moderna. Titer yang diinduksi vaksin - atau tingkat antibodi - setara pada ketiga kelompok. Yang meyakinkan, efek samping setelah vaksinasi jarang terjadi dan sebanding di seluruh peserta penelitian.

“Berita tentang kemanjuran vaksin yang luar biasa ini sangat menggembirakan bagi wanita hamil dan menyusui, yang tidak disertakan dalam uji coba vaksin COVID-19 awal,” kata Andrea Edlow, MD, MSc, spesialis kedokteran ibu-janin di MGH, direktur Lab Edlow di Pusat Vincent untuk Biologi Reproduksi dan penulis senior studi baru, seperti dikutip dari Massachusetts General Hospital, Minggu (28/3/2021). 

“Mengisi celah informasi dengan data nyata adalah kuncinya - terutama bagi pasien hamil kami yang berisiko lebih besar terkena komplikasi COVID-19. Studi ini juga menyoroti betapa bersemangatnya ibu hamil dan menyusui untuk berpartisipasi dalam penelitian."

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, ibu hamil lebih cenderung menjadi sakit parah dengan COVID-19, memerlukan rawat inap, perawatan intensif atau ventilasi - dan mungkin berisiko tinggi mengalami hasil kehamilan yang berbahaya. Tim juga membandingkan tingkat antibodi yang diinduksi vaksinasi dengan yang diinduksi oleh infeksi alami COVID-19 selama kehamilan, dan menemukan tingkat antibodi yang jauh lebih tinggi dari vaksinasi.

Antibodi yang dihasilkan oleh vaksin juga ada di semua sampel darah tali pusat dan ASI yang diambil dari penelitian, menunjukkan transfer antibodi dari ibu ke bayi baru lahir.

“Kami sekarang memiliki bukti yang jelas bahwa vaksin COVID dapat memicu kekebalan yang akan melindungi bayi,” kata Galit Alter, PhD, anggota inti dari Ragon Institute dan rekan penulis senior studi tersebut. 

“Kami berharap studi ini akan mengatalisasi pengembang vaksin untuk menyadari pentingnya mempelajari ibu hamil dan menyusui, dan memasukkan mereka dalam uji coba. Potensi rancangan vaksin yang rasional untuk mendorong hasil yang lebih baik bagi ibu dan bayi tidak terbatas, tetapi pengembang harus menyadari bahwa kehamilan adalah keadaan imunologis yang berbeda, di mana dua nyawa dapat diselamatkan secara bersamaan dengan vaksin yang kuat. Kami berharap dapat mempelajari semua platform vaksin dalam kehamilan saat tersedia."

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Gatra.com Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang telah divaksin Covid-19 per hari Jumat (26/3) diperkirakan mencapai 10 juta orang.

Budi Gunadi dalam keterangan tertulis, menyampaikan, dengan jumlah tersebut, maka kecepatan pemberian vaksin secara harian telah mendekati angka 500 ribu penyuntikan dosis vaksin.

"Alhamdulillah dan insyaallah hari ini vaksinasi akan menembus 10 juta vaksinasi dengan kecepatan harian kita sudah mendekati 500 ribu penyuntikan per hari," ujarnya usai rapat terbatas (Ratas) dengan Presiden dan jajaran kabinet terkait di Kantor Presiden, Jakarta.

Dengan demikian, lanjut Budi Gunadi yang memberikan keterangan bersama Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, diharapkan pada bulan Maret dan April ketersediaan vaksin sejumlah 15 juta per bulan. "Kita sudah sesuai kecepatan penyuntikannya," ujarnya.

Namun, berdasarkan dinamika terkini, Menkes memberikan catatan mengenai terjadinya lonjakan kasus di beberapa negara yang memungkinkan terjadinya embargo pengiriman vaksin.

Hal itu berpotensi mengganggu jadwal kedatangan dan ketersediaan vaksin di Indonesia selama beberapa bulan ke depan, utamanya yang berasal dari negara-negara yang melakukan embargo.

Mengantisipasi hal tersebut, Budi Gunadi mengatakan bahwa pihaknya perlu berhati-hati dan melakukan manajemen yang baik untuk mengatur laju penyuntikan dosis vaksin agar nantinya tidak ada kekosongan stok vaksin di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Menkes juga mengajak masyarakat untuk membantu mendaftarkan para orang tua dan saudara-saudaranya yang lanjut usia (lansia) untuk mengikuti vaksinasi Covid-19.

Berdasarkan data yang dimiliki, warga lansia merupakan kelompok pasien terbanyak yang membutuhkan perawatan Covid-19 di rumah sakit sehingga pemberian vaksinasi ini diharapkan mampu menekan penyebaran virus di kalangan lansia.

"Tolong dibantu semua orang tuanya, kakek-neneknya, mertua, tante, semua yang di atas 60 tahun tolong segera diajak untuk divaksinasi. Untuk semua kepala daerah dan tenaga kesehatan harap konsentrasi memberikan vaksinasi ke para lansia," katanya.

Editor: Iwan Sutiawan

Diterbitkan di Berita