jpnn.com, JAKARTA - Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto menyebut persentase kasus aktif Covid-19 di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata kasus aktif Covid-19 di dunia.

Kasus aktif nasional tercatat 8,45 persen. Angka itu lebih rendah atau lebih baik dari rata-rata kasus aktif global yang mencapai 17,06 persen.

"Kasus aktif nasional adalah 8,45 persen, dunia 17,06 persen," kata Airlangga di dalam konferensi pers yang ditayangkan YouTube akun Sekretariat Presiden, Jumat (26/3).

Airlangga pun menyampaikan persentase kesembuhan pasien positif Covid-19 di Indonesia sebesar 8,8 persen. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata di dunia yang tercatat 8,74 persen. "Recovery rate kita juga lebih baik dari dunia," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu.

"Fatality rate Indonesia 2,7 persen, dunia 2,2 persen," katanya.

Selain membeberkan data kasus Covid-19, Airlangga mengungkapkan perkembangan tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro.

Menurut Ketua Umum Golkar ini, cakupan provinsi yang melaksanakan PPKM skala mikro makin bertambah. Penambahan itu akan terjadi setelah pelaksanaan PPKM skala mikro periode ini selesai yaitu pada 23 Maret - 5 April 2021.

Total provinsi yang melaksanakan PPKM skala mikro menjadi 20. Sebelumnya hanya 15 provinsi yang menerapkan PPKM skala mikro periode sebelumnya. "Arahan bapak presiden PPKM skala mikro akan ditambah wilayahnya," kata Airlangga. (ast/jpnn)

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Ketua Tim Advokasi Pelaksanaan Vaksinasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Iris Rengganis mengemukakan vaksin Sinovac belum dipastikan aman bagi kelompok usia anak-anak sebab masih dalam penelitian.

"Belum bisa dikatakan demikian (aman), masih penelitian," katanya melalui sambungan telepon di Jakarta, Kamis pagi. Pernyataan tersebut disampaikan Iris terkait klaim perusahaan Sinovac bahwa vaksin COVID-19 mereka aman dan efektif untuk anak-anak usia 3-17 tahun.

Iris mengatakan vaksin untuk kelompok anak dan remaja saat ini telah memasuki tahap uji klinik fase 3. "Kita masih menunggu," katanya. Saat ini sejumlah pihak sedang meneliti keamanan vaksin COVID-19 untuk anak pada rentang usia di bawah 16 tahun.

"Saya juga pernah baca yang remaja ada salah satu vaksin yang 16 tahun mulainya dari remaja," katanya. Iris menambahkan penggunaan vaksin untuk kelompok anak harus dilakukan secara bertahap, karena usia anak rentan terhadap penularan COVID-19.

"Usia anak justru perlu divaksin, tapi untuk penelitian pun lebih hati-hati, makanya diambil usia aman 18 hingga 59 tahun," katanya.

Direktur medis Sinovac, Gang Zeng, mengatakan uji klinis tahap awal dan menengah dari 550 lebih subjek menunjukkan bahwa vaksin tersebut akan memicu respons kekebalan. Dua penerima vaksin usia tiga tahun dan enam tahun mengalami demam tinggi sebagai respons terhadap vaksin.

“Sementara subjek uji coba lainnya mengalami gejala ringan. Ini menunjukkan bahwa vaksin itu aman dan akan menghasilkan respons imun yang berpotensi berguna terhadap SARS-CoV-2, tentu sangat disambut baik,” kata Zeng dalam siaran pers, Senin (22/3).

 

Pewarta: Andi Firdaus

Editor: Muhammad Yusuf

COPYRIGHT © ANTARA 2021

 

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Bertepatan dengan peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia yang jatuh pada 24 Maret, Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Tjandra Yoga Aditama menyoroti dampak pandemi COVID-19 pada pengendalian dan kemajuan program TB di dunia termasuk Indonesia.

Dia menyebut dampak pandemi COVID-19 pada TB cukup besar. Pemodelan yang dibuat Stop TB Partnership dan Imperial College, Avenir Health, Johns Hopkins University dan USAID memperkirakan disrupsi akibat COVID-19 dapat membuat indikator kemajuan program TB dunia mundur ke situasi di 2013-2016.

"Jadi kemunduran 5 sampai 8 tahun," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Rabu. Publikasi lain menyebutkan, deteksi TB global menurun rata-rata 25 persen dalam 3 bulan sehingga akan ada peningkatan kematian akibat TB sebanyak 190 000 orang.

Artinya untuk kawasan WHO Asia Tenggara akan ada penambahan 100.000 kematian. "Kalau pada 2018 ada 1,49 juta kematian akibat TB di dunia maka akibat pandemi COVID-19 maka di tahun 2020 dapat terjadi 1,85 juta kematian di dunia," tutur Tjandra.

Padahal, menurut dia, pengendalian tuberkulosis di kawasan WHO Asia Tenggara termasuk Indonesia awalnya berjalan cukup baik. Salah satu indikatornya, angka noti_kasi kasus TB yang naik dari 2,6 juta di tahun 2015 menjadi menjadi 3,36 juta di tahun 2018 atau terjadi kenaikan sekitar 20 persen.

Di sisi lain, keberhasilan pengobatan pada TB sensitif obat juga naik dari 79 persen pada kohort 2014 menjadi 83 persen pada kohort 2017. Sementara dari jumlah kematian, data menunjukkan terjadi penurunan dari 758.000 di tahun 2015

menjadi 658.000 pada 2018.

Kemajuan yang sudah dicapai dunia ini sempat diharapkan pada 2020 akan berlanjut. Tetapi, pandemi COVID-19 membelenggu dunia pada 2020. Menurut Tjandra, penemuan pasif di fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan turun ke lapangan (aktif) menjadi dua hal yang perlu dilakukan.

Hal ini sejalan dengan tujuh kegiatan yang dapat sejalan dengan pengendalian COVID-19 meliputi tes, pelacakan kontak, pengendalian pencegahan infeksi, pengawasan, penguatan pelayanan kesehatan, komunikasi risiko dan keterlibatan komunitas.

Tjandra menilai, belum terlambat untuk kembali mengedepankan deteksi dan penanganan kasus agar angka kematian akibat TB tak melonjak.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa

Editor: Ida Nurcahyani

COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
Sudah divaksin Sinovac bukan berarti kebal dari virus COVID-19. Tetap harus menerapkan protokol kesehatan. Bahkan dalam 3 tahun ke depan disarankan vaksin lagi. 
"Kalau sudah lewat tahun ketiga, kita sudah ganti vaksinnya," kata Guru Besar Unpad sekaligus Ketua Tim Riset Vaksin COVID-19 Prof Kusnandi Rusmil, Selasa (23/3).
 
Menurut Kusnandi, virus COVID-19 selalu berubah. Bila diibaratkan, kini virus hanya sebesar mobil sedan, maka dalam satu hingga dua tahun mendatang virus dapat berubah sebesar truk.
 
 
Mereka yang Sudah Divaksin Sinovac Disarankan Vaksin Lagi 3 Tahun Kemudian (1)
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 Sinovac ke seorang guru saat vaksinasi massal di Gedung Pemerintah Kota Tangerang, Banten. Foto: Fauzan/ANTARA FOTO
 
Dengan begitu, vaksin yang digunakan untuk mencegahnya pun mesti disesuaikan.
 
"Jadi begini, yang sudah disuntik tidak akan timbul kekebalan seumur hidup, tidak akan. Karena bentuk kumannya seperti kuman influenza, jadi selalu berubah," ucap dia.
 
Kusnandi memberi perbandingan lain yakni dengan virus influenza. Menurut dia, virus tersebut pun selalu berubah sehingga vaksinasi berubah tiap satu tahun. Diketahui, uji klinis vaksin Sinovac yang digelar di Bandung itu melibatkan ribuan relawan.
 
 
***
 
Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas kesehatan di Prancis belum lama ini menemukan varian virus corona baru bernama "le variant breton" di wilayah Brittany yang menurut mereka lebih sulit dideteksi walau tampaknya tak lebih berbahaya atau menular.

Direktur penyedia layanan kesehatan ARS regional, Stephane Mulliez dalam sebuah konferensi pers mengatakan, temuan ini berasal dari delapan orang lansia yang menunjukkan gejala umum Covid-19 tetapi tes polymerase chain reaction (PCR) memperlihatkan hasil negatif. Padahal, tes yang memanfaatkan usap hidung ini biasanya sangat akurat.

Setelah tim medis melakukan pengujian lebih lanjut yakni memanfaatkan sampel darah serta lendir dari saluran pernapasan yang lebih dalam barulah pasien itu diketahui terkonfirmasi Covid-19.

Menurut direktur regional badan kesehatan nasional Sante Publique Prancis, Alain Tertre, seperti dikutip dari Medical X Press, Selasa, 23 Maret 2021, satu kemungkinannya, virus menyebar lebih cepat antara saluran pernapasan bagian atas dan bagian bawah.

Menyoroti temuan ini, Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan, diagnosis positif baru muncul setelah pasien diperiksa jaringan paru-parunya dan ini tidak mudah.

"PCR test biasa kita pakai untuk memastikan seseorang sakit atau tidak. Untuk kasus-kasus di Prancis ini mereka baru dipastikan sakit sesudah dilakukan pemeriksaan mendalam darah dan bahkan jaringan paru-paru nya, suatu pemeriksaan yang amat tidak mudah dilakukan," kata dia dalam pesan elektroniknya, ditulis Selasa.

Tes PCR sendiri dilakukan untuk mendeteksi materi genetik khusus SARS-CoV-2 atau organisme apa pun. Tes ini dianggap sangat akurat (dibandingkan dengan tes lain) dan mendeteksi jenis virus apa pun.

Sebenarnya, ini bukan varian pertama yang mampu menghindari pengujian. Peneliti Finlandia pada Februari lalu mengidentifikasi strain bernama Fin-796H dengan mutasi yang membuatnya sulit dideteksi dengan beberapa tes usap hidung juga.

Ketidakmampuan untuk secara akurat mendiagnosis orang yang terinfeksi, memunculkan dugaan PCR tak akan lagi ampuh mendeteksi Covid-19 termasuk pada seseorang yang mengalami gejala.

Walau begitu, salah satu perusahaan diagnosa Eropa, Novacyt Group, mengumumkan tes PCR-nya berhasil mendeteksi varian baru.

"Sekarang tentu PCR masih gold standard, dan belum perlu modifikasi apa-apa. Ini laporan awal tentang perkembangan yang ada, kita lihat dulu bagaimana perkembangannya nanti," kata Tjandra.

"Tentu kita belum tahu bagaimana perkembangan mutasi 'le variant breton' ini selanjutnya, tetapi kalau memang nantinya keampuhan tes PCR jadi benar-benar terganggu maka tentu dunia akan menghadapi babak baru dan tantangan cukup berat untuk mendiagnosis virus corona Covid-19," imbuh dia.

ANTARA

Diterbitkan di Berita

Imam Masjidil Haram Divaksin Covid-19

Senin, 22 Maret 2021 11:42

Diketahui, Sheikh Abdul Rahman Al-Sudais sangat peduli terhadap pencegahan virus corona. Sebelumnya, pada Rabu pekan lalu ia memeriksa pencegahan terhadap virus corona sekaligus pengaturan kesehatan di Masjidil Haram.

Dikutip dari Saudi Gazette, dia memuji upaya yang dilakukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan pengunjung Masjidil Haram. 

Selama kunjungan itu, ia diberi pengarahan tentang teknologi perangkat kecerdasan buatan atau robot pintar yang digunakan untuk mendisinfeksi dan mensterilkan Masjid Nabawi. 

Robot pintar ini mengadopsi fitur pelepasan uap kering dengan berbagai kemampuan tanpa menggunakan bahan kimia apa pun dan tanpa berdampak kepada manusia. Selain itu, robot pintar ini memiliki teknologi tertinggi di dunia dalam memerangi virus dan mikroba yang dapat ditemukan di permukaan dan karpet. 

Diterbitkan di Berita

katadata.co.id

Pemerintah mengumumkan tambahan 4.396 kasus baru infeksi Covid-19 pada Minggu (21/3). Dengan demikian jumlah kasus positif infeksi virus corona di Indonesia saat ini mencapai 1.460.184 orang.

Adapun tambahan kasus baru tersebut berasal dari pemeriksaan terhadap 26.304 orang. Ini artinya tingkat positif hari ini mencapai 16,7%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15.896 orang menjalani pemeriksaan swab PCR, dan 10.408 menjalani tes swab antigen.

Dari jumlah 4.496 kasus baru hari ini, sebagian besar berasal dari DKI Jakarta, yakni 1.638 orang atau 37,3%. Kemudian Jawa Barat menyumbang kasus baru terbanyak kedua dengan 517.

Sementara itu pasien yang berhasil sembuh per hari ini bertambah sebanyak 6.065 orang, sehingga jumlahnya menjadi 1.290.790 orang di seluruh Indonesia. Sedangkan angka kematian akibat Covid-19 bertambah 103 orang menjadi 39.550.

DKI Jakarta dan Jawa Barat menyumbangkan angka kesembuhan tertinggi, yakni masing-masing sebanyak 1.884 dan 1.325 orang. Sedangkan angka kematian tertinggi yaitu provinsi Jawa Timur sebanyak 24 orang, Jawa Barat 21 orang, dan DKI Jakarta 11 orang.

Dengan demikian, jumlah kasus aktif Covid-19 atau pasien yang masih dalam perawatan pada hari ini berkurang sebanyak 1.772 menjadi 129.844 orang. Adapun pemerintah juga melaporkan adanya 59.992 suspek positif Covid-19.

 

 

Vaksinasi Terus Berjalan

Di saat yang sama, Satuan Tugas Penanganan (Satgas) Covid-19 melaporkan orang yang telah divaksinasi hingga 20 Maret 2021 malam sebanyak 5.533.379 orang yang menjalani vaksinasi dosis pertama atau bertambah 408.431 orang, dan 2.301.978 orang vaksinasi dosis kedua atau bertambah 80.778.

Dengan demikian jumlah vaksinasi harian semakin mendekati target 500 ribu yang ditetapkan pemerintah. Setelah ini target vaksinasi harian akan terus ditingkatkan hingga menjadi 1 juta orang per hari.

Seperti diketahui Indonesia belum lama ini mengeluarkan izin penggunaan darurat vaksin buatan AstraZeneca-Universitas Oxford.

Penggunaan vaksin ini juga didukung Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) lantaran proses produksinya diduga menggunakan bahan hasil ekstraksi dari pankreas babi.

Melalui Fatwa Nomor 14 Tahun 2021 tentang Hukum Penggunaan Vaksin Covid-19 Produksi AstraZeneca, MUI menyatakan penggunaan vaksin ini hukumnya mubah atau dibolehkan karena beberapa kondisi.

Kondisi tersebut seperti keadaan darurat pandemi demi secepat mungkin mencapai kekebalan komunal atau herd immunity, hingga terbatasnya suplai vaksin halal yang bisa didapatkan pemerintah.

Meski demikian AstraZeneca telah menegaskan bahwa dalam proses pembuatan vaksinnya ini tidak menggunakan unsur hewani, termasuk dari babi.

“Pada semua tahap proses, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan atau bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” kata juru bicara AstraZeneca Indonesia Rizman Abudaeri seperti dikutip Reuters, Minggu (21/3).

 

Editor: Happy Fajrian

 

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, sebanyak 1.1 juta vaksin AstraZeneca yang sudah diterima melalui skema multirateral Covax dan Lembaga Kesehatan Dunia WHO. ditargetkan akan habis terpakai dan digunakan sebelum masa simpan berakhir, Mei 2021.

Menurut Nadia, pemberian vaksin juga akan diprioritaskan bagi kelompok yang membutuhkan.

“Kami cukup optimistis, mengingat saat ini dosis penyuntikan kita per hari sudah mencapai angka 250.000 - 350.000. Artinya kalau kami akan melakukan penyuntikan sebanyak 1,1 juta dosis vaksin, berarti dalam kurun waktu enam hari vaksinnya akan habis,” kata Nadia, dalam keterangan yang diterima RRI.co.id, Kamis (18/3/2021).

Sementara itu, terkait keputusan pemerintah untuk menunda sementara pendistribusian vaksin COVID-19 AstraZeneca, kata Nadia merupakan bentuk kewaspadaan pemerintah terhadap vaksin.

“Penundaan ini merupakan kehati-hatian dari Pemerintah, tentunya hal ini berdasarkan arahan dari Badan POM,” ujar Nadia.

Nadia mengungkapkan, sembari menunggu persetujuan distribusi, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI akan melakukan proses quality control guna memastikan seluruh vaksin dalam keadaan baik hingga proses distribusi kepada masyarakat.

Sebanyak 1.113.600 vaksin jadi dengan total berat 4,1 ton yang terdiri atas 11.136 karton vaksin COVID-19 tahap keenam dari AstraZeneca telah tiba di Indonesia pada 8 Maret 2021.

Kedatangan vaksin ini adalah tahap pertama dari jatah vaksin gratis 11.704.800 dosis yang dialokasikan untuk Indonesia melalui skema multilateral Covax yang diadakan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Covax adalah sebuah inisiatif global untuk memberikan akses setara bagi seluruh masyarakat di dunia dalam mendapatkan vaksin Covid-19.

Diterbitkan di Berita

katadata.co.id

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia atau MUI menggelar rapat pleno pada Selasa (16/1) membahas pelaksanaan vaksinasi Covid-19 saat Ramadan. Dari rapat tersebut, MUI memutuskan menetapkan Fatwa MUI Nomor 13 Tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi Covid19 Saat Berpuasa.

Fatwa itu berbunyi bahwa vaksinasi Covid-19 yang dilakukan dengan injeksi intramuscular tidak membatalkan puasa. Selain itu, MUI menyatakan hukum melakukan vaksinasi Covid-19 bagi umat Islam yang sedang  berpuasa dengan cara injeksi intramuscular diperbolehkan sepanjang tidak menyebabkan bahaya (dlarar).

Dengan penetapan tersebut, MUI merekomendasikan pemerintah dapat melaksanakan vaksinasi Covid-19 saat Ramadan untuk mencegah penularan virus corona. Namun, pelaksanaannya memperhatikan kondisi umat Islam yang sedang berpuasa.

BACA JUGA Masalah Ketersediaan Vaksin Hambat Target Vaksinasi Covid-19 Menkes Targetkan Suntik 1 Juta Vaksin Corona Per Hari Tercapai Juni

Pemerintah dapat melaksanakan vaksinasi Covid-19 pada malam selama Ramadan untuk umat Islam yang siangnya berpuasa. Pasalnya, dikhawatirkan vaksinasi menyebabkan bahaya akibat lemahnya kondisi fisik saat berpuasa.

Terakhir, MUI menyatakan umat Islam wajib berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan oleh Pemerintah. Hal itu untuk mewujudkan kekebalan kelompok sehingga Indonesia terbebas dari pandemi corona.

"Ini sebagai panduan bagi umat Islam agar dapat menjalankan puasa Ramadan dengan memenuhi kaedah keagamaan dan pada saat yang sama dapat mendukng upaya mewujudkan herd immunity dengan program vaksinasi Covid-19 secara masif," kata Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh dalam siaran pers pada Rabu (17/3).

Adapun jumlah orang yang telah mendapatkan dosis pertama vaksin virus corona per 16 Maret 2021 mencapai 4,46 juta. Angka tersebut bertambah 302.089 dari hari sebelumnya. Sedangkan penerima vaksin dosis kedua telah mencapai 1.71 orang.

Angkanya meningkat 143.963 dari hari sebelumnya. Secara detail, jumlah penerima vaksin pertama terdiri dari tenaga kesehatan sebanyak 1,71 juta, petugas publik 2,34 juta, dan lansia 793 ribu.

Untuk penerima dosis kedua, kelompok tenaga kesehatan mencapai 1,2 juta, petugas publik 515 ribu, dan lansia 5.853 orang. Secara keseluruhan capaian vaksinasi Covid-19 per Selasa (16/3) mencapai 11,08% dari target 40,34 juta tenaga kesehatan, petugas publik, dan lansia.  

 

Editor: Febrina Ratna Iskana

 

Diterbitkan di Berita

Masih Surplus Dihadang Pandemi

Rabu, 17 Maret 2021 09:28

Kerjha — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren kenaikan neraca perdagangan yang masih terus berlanjut di tengah pandemi global Covid-19. Pada Februari 2021, necara dagang tercatat mencapai USD 2 miliar, membaik dari surplus bulan sebelumnya sebesar USD 1,96 miliar.

Berdasarkan catatan BPS, nilai ekspor Indonesia Februari 2021 mencapai USD 15,27 miliar atau turun 0,19 persen dibanding ekspor Januari 2021. Sementara dibanding Februari 2020, naik sebesar 8,56 persen.

Ditilik dari kategorinya, ekspor nonmigas Februari 2021 mencapai USD 14,40 miliar, turun 0,04 persen dibanding Januari 2021. Sedangkan jika dibandingkan dengan ekspor nonmigas Februari 2020, naik 8,67 persen.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Februari 2021 mencapai USD 30,56 miliar atau naik 10,35 persen dibanding periode yang sama pada 2020. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD 28,81 miliar atau naik 10,52 persen.

Sementara penurunan terbesar ekspor nonmigas Februari 2021 terhadap Januari 2021 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD 639,5 juta (27,11 persen), dan peningkatan terbesar terjadi pada besi dan baja sebesar USD 240,7 juta (24,20 persen).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Februari 2021 naik 10,29 persen dibanding periode yang sama pada 2020, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 8,81 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 12,19 persen.

Ekspor nonmigas Februari 2021 terbesar diserap Tiongkok sebesar USD 2,95 miliar, disusul Amerika Serikat USD 1,86 miliar, dan Jepang USD 1,20 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,77 persen. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa masing-masing sebesar USD 2,99 miliar dan USD 1,13 miliar.

Adapun menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Februari 2021 berasal dari Jawa Barat dengan nilai USD 5,16 miliar (16,90 persen), diikuti Jawa Timur USD 3,23 miliar (10,56 persen), dan Riau USD 2,64 miliar (8,63 persen).

Masih berdasarkan data BPS, nilai impor Indonesia Februari 2021 mencapai USD 13,26 miliar, turun 0,49 persen dibandingkan Januari 2021 atau naik 14,86 persen dibandingkan Februari 2020.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Februari 2021 adalah Tiongkok USD 8,06 miliar (33,95 persen), Jepang USD 1,86 miliar (7,83 persen), dan Singapura USD 1,31 miliar (5,53 persen). Sedangkan impor nonmigas dari ASEAN USD 4,41 miliar (18,57 persen) dan Uni Eropa USD 1,55 miliar (6,54 persen).

Diterbitkan di Berita