Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin resmi memperbolehkan vaksinasi Covid-19 lewat jalur mandiri. Hal itu dituangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 10 Tahun 2021 yang terbit Rabu (24/2).

Dalam aturan itu, vaksinasi Covid-19 mandiri diberi nama Vaksinasi Gotong Royong. Vaksinasi ini dikelola oleh pihak swasta. "Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan melalui Vaksinasi Program atau Vaksinasi Gotong Royong," seperti dikutip dari salinan pasal 3 ayat (3/ PMK Nomor 10 Tahun 2021.

Kepala Bidang Media dan Opini Publik Kemenkes Busroni mengonfirmasi keabsahan salinan aturan yang diterima CNNIndonesia.com. Vaksinasi Gotong Royong diberikan secara gratis. Perusahaan akan memastikan vaksin bagi karyawan dan keluarga tidak dipungut biaya. Perusahaan yang akan menanggung.

"Karyawan/karyawati, keluarga dan individu lain terkait dalam keluarga sebagai penerima Vaksin Covid-19  dalam pelayanan Vaksinasi Gotong Royong sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dipungut bayaran/gratis," bunyi Pasal 3 Ayat (5).

Dalam pasal 6, setiap perusahaan diwajibkan menyetor data penerima vaksin jalur mandiri. Data itu setidaknya berisi jumlah karyawan yang akan divaksin, nama, alamat, dan nomor induk kependudukan setiap karyawan.

Pasal 22 menegaskan Vaksinasi Gotong Royong tidak dilaksanakan di rumah sakit milik pemerintah. Perusahaan swasta harus bekerja sama dengan rumah sakit swasta untuk menggelar penyuntikan vaksin bagi karyawan.

"Pelaksanaan Vaksinasi Gotong Royong sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kerja sama antara badan hukum/badan usaha dengan Fasilitas Pelayanan Kesehatan milik masyarakat/swasta," bunyi pasal 22 ayat (3).

Menkes akan menentukan batas harga edar vaksin untuk vaksinasi mandiri. Batas harga itu akan ditetapkan lewat peraturan berikutnya.

"Biaya pelayanan Vaksinasi Gotong Royong yang dilakukan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan milik masyarakat/swasta tidak boleh melebihi tarif maksimal yang ditetapkan oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1)," bunyi pasal 23 ayat (2).

Sebelumnya, readyviewed pemerintah menargetkan vaksinasi Covid-19 untuk 181,5 juta orang. Pemerintah menargetkan vaksinasi rampung tahun ini.

Namun, dalam beberapa waktu belakangan, pemerintah membuka opsi vaksinasi mandiri. Metode itu dipertimbangkan untuk mempercepat proses vaksinasi.

"Kita memang perlu mempercepat, perlu sebanyak-banyaknya, apalagi biayanya ditanggung oleh perusahaan sendiri, kenapa tidak? Tetapi sekali lagi harus kita kelola isu ini dengan baik," ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (21/1).

(dhf/bmw)

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah DKI Jakarta mencatat penambahan kasus Covid-19 hari ini sebanyak 1.581 orang. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia menyampaikan jumlah itu belum utuh lantaran sistem penginputan Kementerian Kesehatan masih bermasalah.

"Sebagian data positif hari ini tertunda akibat perbaikan koneksi penginputan sistem Kemenkes. Kemungkinan akan ada akumulasi data dari yang sebelumnya tidak bisa dilakukan penarikan melalui sistem," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 25 Februari 2021.

Dwi berujar, pihaknya melakukan tes swab PCR terhadap 17.507 spesimen. Sebanyak 14.336 orang dites untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 1.581 positif dan 12.755 negatif.

Dari hasil tes PCR itu, positivity rate dalam sepekan terakhir mencapai 15,6 persen. "Sedangkan persentase kasus positif secara total sebesar 11 persen," ucap dia.

Kasus Covid-19 Jakarta secara total kini mencapai 334.239. Rinciannya, 9.567 orang masih dirawat atau menjalani isolasi, 5.346 meninggal, dan 319.326 sembuh. Pemerintah DKI Jakarta mencatat persentase kematian 1,6 persen dan kesembuhan 95,5 persen.
 
Reporter: Lani Diana Wijaya
Editor: Clara Maria Tjandra Dewi H.
Diterbitkan di Berita

TEMPO.COJakarta - Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengatakan Pemerintah menjamin ketersediaan vaksin COVID-19, karena telah melakukan diplomasi dengan beberapa negara dalam menyediakan dosis vaksin yang mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat Indonesia.

"Melalui diplomasi dan kerja sama internasional yang gigih, Indonesia berhasil mengamankan ketersediaan vaksin COVID-19 yang mencukupi seluruh kebutuhan kita," kata Ma'ruf Amin dalam keterangannya, Jumat 26 Februari 2021.

Merujuk pada data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization), hingga akhir Januari masih ada 130 negara yang belum mendapatkan vaksin COVID-19; bahkan sebagian negara maju pun belum dapat memastikan ketersediaan vaksin bagi seluruh masyarakatnya, kata Wapres, saat menutup The International Conference Tackling the COVID-19 Pandemic: Health, Economics, Diplomacy and Social Perspective secara daring, Kamis 25 Februari 2021.

"Masih ada 130 negara yang belum mendapatkan akses terhadap vaksin COVID-19, mayoritasnya adalah negara sedang berkembang. Dalam kaitan itu, kiranya kita patut bersyukur bahwa Indonesia berada dalam situasi yang lebih baik," ujar Wapres.

Menurut Wapres, vaksin COVID-19 menjadi hal yang ditunggu-tunggu sejak awal pandemi melanda, karena dengan divaksinasi maka kekebalan komunitas atau herd immunity di suatu negara dapat terbentuk sehingga perlindungan dari penyakit akibat COVID-19 dapat terjadi.

Selain menjamin ketersediaan vaksin bagi masyarakat, kata Wapres lagi, Indonesia bahkan berkomitmen untuk dapat mengekspor vaksin COVID-19 guna membantu negara-negara di kawasan Asia Tenggara dalam memperoleh vaksin.

Melalui komitmen tersebut, Indonesia juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat internasional dalam program penyediaan vaksin COVID-19 secara setara bagi negara-negara lain. "Indonesia juga telah berkomitmen untuk membantu negara-negara sahabat di kawasan yang membutuhkan vaksin COVID-19.

Peran aktif diplomasi Indonesia juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat internasional dalam program penyediaan vaksin COVID-19 bagi seluruh negara di dunia secara setara," ujar Wapres Ma'ruf Amin.

Reporter: Antara
Editor: Eko Ari Wibowo
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Kejaksaan Negeri Pematangsiantar, Sumatera Utara, Agustinus Dososeputro mengatakan terdapat kekeliruan jaksa dalam menafsirkan pasal penodaan agama terkait kasus pemandian jenazah oleh empat pegawai RSUD Djasamen Saragih. 

Kasus ini disetop berdasarkan surat Nomor B-505/1. 212/Eku 2/02/2021 tanggal 24 Februari 2021.

"Untuk pemenuhan unsur-unsur [pasal yang dijeratkan] yaitu, unsur 'dengan sengaja', unsur 'di muka umum' dan unsur 'mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia'," kata Agustinus dalam keterangan tertulis, Rabu (24/2).

Dalam hal ini, dia merujuk pada penafsiran jaksa peneliti terhadap Pasal 156a KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP yang disematkan penyidik dalam kasus itu.

Padahal, kata dia, penyidik belum memenuhi bukti-bukti yang berasal dari keterangan saksi, keterangan ahli, keterangan terdakwa, dan alat bukti surat untuk memenuhi sejumlah unsur yang termaktub dalam beleid tersebut.

"Kekeliruan dari jaksa peneliti dalam menafsirkan unsur sehingga tidak terpenuhinya unsur yang dibawakan kepada para terdakwa," katanya.

Agustinus merinci perkara ini semula diterima pihaknya pada 8 Oktober 2020 ketika mendapat Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari Polres Pemantangsiantar.

Kemudian, jaksa menerima berkas perkara pada 11 Desember 2020. Kala itu, berkas yang rampung diteliti sempat dinyatakan belum lengkap dan dikembalikan pada penyidik.

Kemudian limpahan berkas itu dinyatakan lengkap alias P21 pada 2 Februari 2021. Dalam hal ini, tersangka dijerat Pasal 156a KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

"Bahwa tanggal 18 Februari 2021. Penyidik menyerahkan terdakwa dan barang bukti ke Kejaksaan Negeri Pematang Siantar sesuai Surat Pengantar nomor K/306/II/2021/Reskrim tanggal 18 Pebruari 2021," ucapnya.

Dirinya pun sempat menyetujui penerbitan surat perintah penunjukan Jaksa Penuntut Umum untuk menyelesaikan perkara itu.

Hanya saja, saat perkara itu akan dilimpahkan ke pengadilan barulah ditemukan kekeliruan penafsiran pasal dalam perkara itu.

Sebelumnya video suami pasien yang memprotes RSUD Djasamen Saragih viral di media sosial. Pria bernama Fauzi Munthe ini menolak jenazah istrinya dimandikan empat orang petugas pria dari rumah sakit tersebut.

Dalam video berdurasi 3 menit 11 detik itu, Fauzi menilai tindakan rumah sakit tidak sesuai dengan syariat Islam. Sebab, jenazah istrinya dimandikan orang yang bukan muhrimnya.

Kasus itu pun berujung pada proses hukum terhadap empat pegawai RSUD Djasemen Saragih. Selama penyidikan, para tersangka tak ditahan.

(mjo/psp)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan

Malaysia memulai program vaksinasi massal COVID-19 pada Rabu (24/2/2021). PM Muhyiddin Yassin jadi orang pertama yang disuntik vaksin di Negeri Jiran.

Untuk tahap pertama, Malaysia menggunakan vaksin Pfizer-BionTech. Muhyiddin optimis bahwa vaksinasi dapat membawa Malaysia keluar dari pandemi COVID-19.
 
"Saya percaya vaksin ini aman dan efektif," ucap Muhyiddin usai divaksin, seperti dikutip dari Reuters.
 
Malaysia Mulai Vaksinasi COVID-19, PM Muhyiddin Jadi yang Pertama Disuntik (1)
Proses penerimaan gelombang pertama Vaksin Pfizer saat tiba di Malaysia. Foto: Kemenkes Malaysia
 
Vaksinasi terhadap Muhyiddin digelar di kantor Kementerian Kesehatan Malaysia di Putrajaya. Setelah Muhyiddin, tenaga medis Malaysia menjadi kelompok selanjutnya yang disuntik vaksin.
 
Pemerintah Malaysia memasang target 80 persen populasi divaksin COVID-19. Vaksinasi massal rencananya berlangsung selama setahun atau tepatnya hingga Februari 2022.
 
Di samping Pfizer, Malaysia akan menggunakan berbagai vaksin lain seperti AstraZeneca, Sputnik V sampai Sinovac.
 
Saat vaksinasi dimulai, Malaysia berada di peringkat tiga kasus COVID-19 terbesar di Asia Tenggara. Kini terdapat 290 ribu kasus dan 1.076 kematian akibat corona di Malaysia.
Diterbitkan di Berita

Tiara Aliya - detikNews Jakarta - Guru, dosen dan tenaga pendidik hari ini menerima vaksinasi COVID-19. Presiden Joko Widodo (Jokowi), Mendikbud Nadiem Makarim dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memantau langsung vaksinasi COVID-19 di SMAN 70 Jakarta di Bulungan, Jakarta Selatan.

Pantauan detikcom di lokasi Rabu (24/2/2021), Anies Baswedan tiba lebih dulu sekitar pukul 10.40 WIB. Kemudian, pukul 11.10 WIB Jokowi dan Mendikbud Nadiem Makarim tiba dan langsung meninjau jalannya vaksinasi COVID-19.

Ketiganya kemudian mulai berkeliling memantau proses vaksinasi bagi guru, dosen dan tenaga pendidik. Mereka tampak berbincang sambil berjalan memasuki ruangan vaksinasi. Seperti diketahui, Ratusan guru, dosen dan tenaga pendidik menerima vaksinasi COVID-19 hari ini di SMAN 70 Jakarta.

Presiden Joko Widodo hingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim membuka langsung vaksinasi bagi golongan ini.

Terpantau, vaksinasi COVID-19 dibagi menjadi 3 kloter untuk mengantisipasi terjadinya kerumunan. Rinciannya, pukul 08.00-10.00 WIB sebanyak 250 orang, pukul 10.00-12.00 WIB sebanyak 150 orang dan 13.00 WIB hingga selesai sebanyak 250 orang.

"(Sekitar) 650 orang, sudah termasuk di bawah naungan Kemenag. Nanti mas Menteri (Nadiem) sampaikan angka rincian," kata Dirjen guru dan Tenaga Pendidikan Kemendikbud Iwan Syahril saat ditemui di SMAN 70 Jakarta, Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu (24/2/2021).

Berdasarkan keterangan yang tercantum di meja registrasi, pihak yang divaksinasi hari ini terdiri dari Organisasi Guru Undangan Ditjen GTK, Guru Disdik Provinsi DKI Jakarta hingga organisasi PGRI.Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi memastikan seluruh guru, baik ASN maupun honorer mulai divaksinasi COVID-19 sejak hari ini.

Nantinya, program ini akan dilakukan bertahap di seluruh Indonesia.Setelah registrasi selesai dilakukan, mereka diarahkan ke meja verifikasi data. Setelah itu, vaksinator segera menyuntikkan vaksin ke para guru, dosen dan tenaga pendidik yang berhasil lolos tahap verifikasi data.

(dwia/dwia)

 
Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Tokoh lintas agama mulai menjalani vaksinasi COVID-19, Selasa (23/2). Kegiatan bertajuk Pekan Vaksinasi Tokoh Lintas Agama ini digelar mulai Selasa (23/2) hingga Sabtu (27/2) di basement Masjid Istiqlal, Jakarta.
 
Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan ini menargetkan vaksinasi 10 ribu tokoh agama. Vaksinasi ini akan dilakukan bertahap dalam rentang 4 hari ke depan.
 
Berdasarkan data panitia, saat ini sudah ribuan data tokoh agama yang telah tervalidasi untuk diberikan vaksinasi, baik tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, maupun Khonghucu.
 
Ribuan Tokoh Agama Ikuti Vaksinasi COVID-19 di Basement Masjid Istiqlal (1)
Tokoh lintas agama mulai menjalani vaksinasi COVD-19, Selasa (23/2) di Basement Masjid Istiqlal, Jakarta. Foto: Kemenag
 
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengapresiasi peran aktif para tokoh agama dalam program vaksinasi pemerintah. Menurutnya, vaksinasi ini bagian dari wujud sinergitas antarlembaga negara, Kemenag, dan Kemenkes, bersama para tokoh agama dalam ikut mengatasi pandemi COVID-19.
 
"Ini adalah bentuk sinergi dalam menangani wabah Covid-19 yang sudah hampir setahun terjadi di Indonesia. Peran aktif para tokoh agama patut diapresiasi. Semoga ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam terus mendukung program vaksinasi ini secara bersama," tutur Gus Menteri, sapaan akrab Menag, dalam rilis Kemenag.
 
Ribuan Tokoh Agama Ikuti Vaksinasi COVID-19 di Basement Masjid Istiqlal (2)
Tokoh lintas agama mulai menjalani vaksinasi COVD-19, Selasa (23/2) di Basement Masjid Istiqlal, Jakarta. Foto: Kemenag
 
Para tokoh lintas agama yang divaksinasi, ujar Gus Yaqut, bisa menjadi teladan bagi umat dalam ikut menyukseskan vaksinasi. Menag berharap para tokoh juga dapat memberikan sosialisasi tentang pentingnya dilakukan vaksinasi.
 
"Karena sejatinya para tokoh agama mempunyai peranan penting di tengah masyarakat dalam melakukan pendekatan persuasif sehingga program vaksinasi ini dapat berjalan lancar. Dan wabah ini segera berakhir," tuturnya.
 
“Ini adalah vaksinasi pertama. Meski sudah divaksin, saya berharap para tokoh agama tetap disiplin dalam protokol kesehatan dan mematuhi 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas dan interaksi, serta menghindari kerumunan,” lanjutnya.
 
Ribuan Tokoh Agama Ikuti Vaksinasi COVID-19 di Basement Masjid Istiqlal (3)
Tokoh lintas agama mulai menjalani vaksinasi COVD-19, Selasa (23/2) di Basement Masjid Istiqlal, Jakarta. Foto: Kemenag
 
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan kagum dan menyampaikan apresiasi kepada para tokoh agama yang datang ke Masjid Istiqlal untuk melaksanakan program vaksinasi.
 
"Saya merasakan betapa masjid terbesar di Jakarta membuka diri untuk semua tokoh agama besar lainnya untuk hadir bersama-sama melaksanakan program vaksinasi,” kata Menkes.
Diterbitkan di Berita

Pijar Anugerah BBC News Indonesia

Pemerintah Indonesia diminta memperbaiki strategi komunikasi tentang vaksin Covid-19 setelah dua survei menyebut banyak anak muda, terutama Generasi Z, menolak untuk divaksinasi.

Pakar epidemiologi dan psikologi kesehatan menilai pemerintah selama ini kurang menekankan vaksin sebagai tanggung jawab sosial.

Seorang juru bicara vaksinasi Covid-19 mengatakan, pemerintah terus mengevaluasi strategi komunikasi.

Survei Indikator Politik Indonesia terhadap 1.200 responden yang dipilih secara acak dari seluruh Indonesia pada 1-3 Februari 2021 mendapati hanya 45,1% dari kelompok usia 22-25 tahun yang bersedia divaksinasi.

Berdasarkan survei, tiga alasan utama kelompok tersebut tidak atau kurang bersedia divaksinasi adalah kekhawatiran akan efek samping vaksin, anggapan bahwa vaksin tidak efektif, dan perasaan tidak membutuhkan vaksin karena badannya sehat.

Peneliti Indikator, Adam Kamil, menjelaskan bahwa berdasarkan data cross-tabulasi, didapati bahwa bahwa semakin muda usia responden, mereka semakin cenderung tidak bersedia menerima vaksin.

Hal ini menurutnya didorong oleh dua hal. "Yang pertama, pada kondisi alamiah atau psikologis secara umum bahwa kelompok yang muda mungkin lebih jarang mengalami keluhan kesehatan dibandingkan kelompok yang lebih tua sehingga kelompok yang lebih muda ini menganggap tidak perlu vaksin.

"Yang kedua, tingkat pendidikan semakin baik [dibandingkan kelompok yang lebih tua] oleh karena itu dia bisa lebih banyak menilai, lebih banyak menggali informasi tentang vaksin ini, terutama tentang efektivitas vaksin," ungkapnya.

 

Vaksinator menyiapkan vaksin COVID-19 Sinovac dosis kedua sebelum disuntikan ke tenaga kesehatan saat Gebyar Vaksin COVID-19 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021)

 

Sementara itu, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), yang menggelar survei terhadap 800 responden di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta dari tanggal 13-18 Januari, melaporkan bahwa anak-anak muda berusia 17-22 tahun kurang percaya atau tidak percaya pada kemanjuran vaksin.

Proporsi anak muda yang menyatakan tidak/kurang percaya pada vaksin di DKI Jakarta 63,6% sedangkan di Yogyakarta 55,6%, kata peneliti CSIS, Arya Fernandes.

Senada dengan IPI, CSIS juga mendapati bahwa faktor usia berpengaruh pada kepercayaan responden akan kemanjuran vaksin. Semakin muda usia responden, mereka cenderung semakin tidak percaya pada vaksin.

Menurut Arya, secara umum alasan responden tidak bersedia divaksin ialah mereka belum yakin dengan kualitasnya. Survei tidak menanyakan lebih lanjut mengapa para responden merasa belum yakin, padahal BPOM telah mengeluarkan Izin Penggunaan Darurat untuk vaksin Covid-19 dari Sinovac, namun Arya menduga ini karena vaksin Covid-19 adalah temuan relatif baru dalam dunia medis.

"Mungkin responden melihatnya kalau vaksin-vaksin lain kan sudah teruji, misalnya vaksin flu atau vaksin MERS, sementara vaksin Covid ini ... orang ingin lihat reliabilitasnya, kemanjurannya seperti apa," kata Arya.

 

Populasi yang dominan

Sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 menunjukkan bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia adalah kaum muda, terdiri dari Generasi Milenial dan Generasi Z.

BPS mendefinisikan milenial sebagai mereka yang lahir pada tahun 1981-1996, usianya sekarang 24-39 tahun. Sementara Generasi Z disebut lahir pada tahun 1997-2001, usianya sekarang 8-23 tahun.

Di antara kaum muda, proporsi Generasi Z mencapai hampir 28%. Banyak dari mereka termasuk usia produktif yang pergerakannya tinggi. Dalam konteks pandemi virus corona, ini berarti mereka adalah kelompok yang paling berisiko terpapar virus.

Karena itu, menurut epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, keterlibatan kelompok tersebut dalam program vaksinasi sangat penting untuk memutus transmisi virus corona serta menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity.

 

Mural virus corona
 

"Kalau mereka yang dominan ini tidak bisa berkontribusi dalam program vaksinasi, tentu upaya kita meningkatkan orang untuk jadi benteng penularan ini akan berkurang. Ditambah lagi, anak muda atau generasi Z ini orang-orang yang sangat tinggi mobilitas dan interaksinya," ujarnya.

Dicky menilai kesalahan dalam strategi komunikasi risiko yang dibangun pemerintah sejak awal pandemi memengaruhi kepercayaan anak muda. Seperti diketahui, menteri kesehatan awalnya menyangkal potensi masuknya Covid-19 ke Indonesia.

Dan setelah wabah itu masuk ke Indonesia, berkembang narasi bahwa kebanyakan yang terinfeksi adalah kelompok lansia dan orang-orang yang mengidap penyakit penyerta (komorbid).

"Padahal, potensi Indonesia bahkan untuk menjadi episenter sangat besar. Kemudian bahwa yang terkena Covid-19 ini tidak hanya usia tua. Pada prinsipnya, semua usia berisiko. Yang membedakan adalah potensi paparannya, bergantung pada seberapa aktif dia dalam mobilitas dan interaksinya," ia menjelaskan.

"Ini yang belum disampaikan secara memadai oleh pemerintah dalam strategi komunikasi risikonya kepada kelompok milenial dan Generasi Z ini."

 

Komunikasi pemerintah

Pemerintah Indonesia telah berusaha mengedukasi masyarakat soal vaksin dengan berbagai cara, termasuk menggunakan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan influencer.

Pada 13 Januari 2021, Istana menunjukkan Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang disuntik vaksin. Istana juga menggaet selebritas Raffi Ahmad sebagai "perwakilan anak muda", meskipun strategi ini belakangan menjadi bumerang setelah sang artis ketahuan menghadiri pesta usai divaksin.

 

Jokowi divaksin

 

CSIS belum dapat memastikan pengaruh strategi tersebut pada sikap anak muda terhadap vaksin, kata Arya Fernandes, namun berdasarkan hasil survei pada Januari, bisa diasumsikan bahwa ia kurang efektif dalam menjangkau anak-anak muda.

"Pesannya tidak sampai, atau endorser-nya dianggap kurang tepat," ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa survei-survei CSIS sebelumnya menemukan bahwa kaum muda lebih banyak mengakses media sosial, tempat informasi yang tidak terverifikasi dan misinformasi bertebaran (di samping informasi yang bisa diandalkan). Ketidakpercayaan pada vaksin bisa jadi terbentuk karena kaum muda kurang mendapatkan informasi yang valid di media sosial, menurut Arya.

"Jadi strategi pemerintah untuk menggarap media sosial dengan menyajikan informasi-informasi yang valid soal vaksin penting untuk terus digenjot, paling tidak untuk memberikan kepastian informasi kepada anak-anak muda supaya level kepercayaannya meningkat," tuturnya.

 

Membedah keraguan vaksin

Psikolog kesehatan dari Universitas Airlangga, Rizqi Amelia Zein, meragukan data-data dari lembaga survei di atas, yang menurutnya tidak representatif. Di samping itu, ia juga menganggap survei tersebut kurang memahami fenomena keraguan vaksin atau vaccine hesitancy. Sikap masyarakat terhadap vaksin, kata Amelia, bukanlah oposisi biner pro-vaksin dan anti-vaksin.

Survei Kementerian Kesehatan Indonesia, WHO, dan UNICEF pada November 2020 dengan responden lebih dari 112.000 - yang menurut Amelia lebih bisa diandalkan - menunjukkan hanya 64,8% yang bersedia divaksin. Lainnya, 7,6% menolak keras vaksinasi COVID dan 27,6% menyatakan tidak tahu.

Amelia berpendapat, supaya program vaksinasi Covid-19 berhasil, edukasi pemerintah harus ditujukan kepada masyarakat yang tidak tahu atau masih ragu-ragu itu, alih-alih meyakinkan mereka yang menolak menerima vaksin.

 

Warga melintas di depan mural bertema menjaga jarak di Kemplayan, Solo, Jawa Tengah, Minggu (21/2/2021).

 

Bagaimanapun, jika memang benar ada banyak di kalangan Milenial dan Generasi Z yang menolak divaksin karena merasa dirinya tidak akan tertular atau tidak akan sakit separah orang tua, itu menunjukkan masyarakat belum paham fungsi vaksin, menurut Amelia.

Dia pun berpendapat pemerintah perlu memperbaiki strategi komunikasi tentang vaksin, dengan lebih menekankan vaksin sebagai tanggung jawab sosial alih-alih sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri.

Amelia melanjutkan, vaksin merupakan bentuk intervensi yang baru kelihatan hasilnya setelah cukup banyak orang yang divaksin. Dengan kata lain, vaksin lebih merupakan tanggung jawab sosial alih-alih sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri. Inilah yang menurutnya perlu ditekankan dalam strategi komunikasi pemerintah.

"Bahwa [vaksin] bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk melindungi orang yang lebih berisiko. Jadi dia punya peluang menularkan lebih kecil - meski ini juga debatable karena kita nggak tahu apakah vaksin mencegah penularan. Tapi paling tidak kita mencegah supaya fasilitas kesehatan tidak penuh, atau supaya viral load-nya tidak tinggi sehingga tidak menularkan kepada orang lain.

"Jadi memang benefit yang sifatnya kolektif itu kurang ditekankan," kata Amelia.

Cara ini mungkin efektif untuk merangkul generasi muda, menurut pakar biologi molekuler dan komunikator sains Ahmad Rusdan Utomo.

Ahmad, yang membuka channel YouTube untuk menjelaskan konsep-konsep sains kepada pemirsa awam, menilai beberapa anak muda menolak vaksin karena tidak melihat urgensinya bagi mereka. Di sisi lain, Gen Z memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Lalu bagaimana cara merangkul mereka? Menurut Ahmad, mereka harus dibuat sadar bahwa mereka adalah pembawa virus yang baik. "Selama ini mereka susah mengapresiasi bahwa mereka penular," ujarnya.

 
Vaksin Covid-19 buatan Indonesia

 

Pemerintah evaluasi strategi

Juru bicara vaksinasi Covid-19 dari BPOM, Lucia Rizka Andalusia, mengatakan pemerintah terus mengevaluasi efektivitas strategi komunikasi tentang vaksin kepada masyarakat. Ia mengatakan tidak mengetahui hasil evaluasi sejauh ini, tetapi mengakui bahwa itu mungkin belum memuaskan.

"Saya sendiri mohon maaf tidak mengikuti hasil persepsi masyarakat [terhadap vaksin], yang memang saya dengar masih belum satisfied ," ujarnya.

Ia menjelaskan, Kementerian Komunikasi dan Informatika terus melakukan identifikasi atas informasi-informasi tentang vaksin yang keliru di internet dan menjelaskannya kepada masyarakat. Selain itu, Kementerian Kesehatan menggunakan tagar #infovaksin di media sosial untuk menyosialisasikan vaksin serta mengklarifikasi hoaks.

Bagaimanapun, kata Lucia, pemerintah Indonesia berharap sebanyak mungkin masyarakat akan menerima vaksinasi seiring berjalannya waktu sehingga dapat terbentuk kekebalan kelompok yang diharapkan dapat mengakhiri pandemi.

"Tapi kenyataannya, di setiap vaksinasi massal, antusiasme masyarakat sangat tinggi ... Saya rasa dengan berjalannya waktu, mereka yang tidak percaya akan percaya. Toh kita juga akan bertahap terus melakukan vaksinasi," ujarnya.

Diterbitkan di Berita

Ali Masduki okezone.com SURABAYA - Sebagai upaya pencegahan Covid-19 di kalangan ulama dan pesantren di Jawa Timur (Jatim), PWNU Jatim pada Selasa (23/2/2021) menggelar suntik vaksin Covid-19 yang diikuti 98 kiai dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU).

Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Anwar Mansyur dan Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar mendapat giliran pertama kiai yang disuntik. Setelah itu dilanjutkan puluhan kiai lainnya.

Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar mengatakan, vaksinasi untuk kiai tersebut merupakan upaya wajib yang dilakukan untuk membantu mengatasi pandemi Covid-19 di Indonesia.

“Ini sebagai ihktiar zahir yang wajib dilakukan, meskipun takdir semuanya dari Allah SWT. Vaksin ini halal dan maslahah untuk kita semua,” tutur KH Marzuki Mustamar di kantor PWNU Jatim, Selasa (23/2/2021).

Kenapa harus kiai? Kiai Marzuqi menjelaskan bahwa kiai atau ulama merupakan sosok yang banyak berinteraksi dengan umat, jamaah dan santri. Karenanya, jika tidak segera diupayakan vaksinasi, maka pelayanan kepada umat menjadi terhambat.

“Harapan kami setelah para kiai dan ulama sudah divaksin dua kali dan benar-benar menguatkan imun dan aman, maka nanti bisa melayani tamu, bisa mengimami salat, mengajar santri dan peran-peran keumatan lainnya tanpa was-was," katanya.

Alasan lain, vaksin untuk kiai dilakukan untuk memberi contoh kepada umat, bahwa ada alasan untuk menolak vaksin. "Sebab, di luar, banyak yang membuat isu aneh-aneh soal vaksin,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad Kota Malang ini.

Wakil Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdussalam Shohib mengatakan, proses vaksinasi ini dilakukan oleh 13 vaksinator dari rumah sakit yang terhimpun dalam Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (Arsinu) Jawa Timur, di antaraya RSI Unisma Malang, RSI Darus Syifa’ Surabaya, RSI Sakinah Mojokerto, RSNU Tuban, RSI Jemursari Surabaya, RSI Surabaya A.Yani Surabaya dan RSI Siti Hajar Sidoarjo.

“Kami juga menyiapkan tujuh ambulan dan satu mobil medical check-up,” ujar Gus Salam, sapaan akrabnya.

Pengasuh Ponpes Denanyar Jombang ini menambahkan, kegiatan ini juga sekaligus sebagai salah satu rangkaian kegiatan peringatan hari lahir (Harlah) ke-98 Nahdlatul Ulama yang jatuh pada 16 Rajab 1422 Hijriah atau Ahad, 28 Februari 2021.

Diterbitkan di Berita
Diterbitkan di Berita