Pedagang Pasar Tanah Abang Rusuh

Selasa, 16 Maret 2021 20:09
KBRN, Jakarta: Sejumlah pedagang di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat protes dan berujung ricuh lantaran tidak mendapatkan jatah vaksin virus corona (Covid-19) dosis kedua meski telah antre pada Selasa (16/3) siang. Mereka terlibat adu mulut dengan petugas vaksinasi di lokasi.

"Udah pada antre ternyata vaksinnya habis, jadi mereka pada protes. Jadi rusuh, kenapa enggak kasih tahu dari awal kalau vaksinnya cuma sedikit," kata salaha satu pedagang di Tanah Abang Ria kepada wartawan, Selasa (16/3/2021).

Ria menyampaikan, aksi protes dan marah-marah pedagang itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB dan berlangsung sekitar 1 jam. "Jadi dia mereka kesal kan, kecewa. Jadi marah-marah tuh. Sekarang sudah sepi," ujar dia.

Sementara, pengelola Pasar A Tanah Abang, Heri Supriyatna membenarkan peristiwa tersebut, bahwa vaksin habis pada hari ini. Ada sejumlah pedagang yang datang tidak sesuai jadwal, sehingga calon penerima vaksin jadi lebih banyak.

"Mungkin karena ada overlap. Harusnya hari ini yang tanggal 25, mungkin yang tanggal 1, tanggal 2 ada yang datang hari ini, karena sudah merasa 14 hari gitu. seperti itu. Akhirnya jadi seperti ini lah, kekurangan, tapi mereka pasti dapat vaksin kok," kata Heri.

Ia tidak menampik ada beberapa pedagang yang terpancing emosi lantaran sudah lama antre namun kehabisan vaksin. Namun tidak sampai terjadi kerusuhan. "Enggak ada rusuh. Sudah aman terkendali," ujar dia. Menurut dia, jika para pedagang tertib dengan jadwal, kejadian seperti itu tidak terjadi.

"Soalnya dua minggu kemarin vaksin lancar kok, enggak ada yang masalah. Ini baru hari ini aja sih, karena baru hari pertama mungkin mereka merasa sudah 14 hari, oh saya mau vaksin nih yang kedua," ujar Heri.

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan tidak ada indikasi terkait dengan pembekuan darah, yang telah dilaporkan dalam beberapa hari terakhir atas penggunaan vaksin virus Corona (Covid-19) buatan Oxford atau AstraZeneca.

WHO juga mendesak banyak negara untuk melanjutkan pemberian vaksin tersebut karena tidak ditemukannya indikasi.

"Setiap sinyal keamanan harus diselidiki. Tapi itu adalah vaksin yang baik dan tidak ada hubungan sebab akibat yang telah dibuat antara vaksin dan masalah kesehatan yang dilaporkan," kata Dr Margaret Harris, juru bicara WHO, dikutip dari Independent, Senin (15/3/2021).

Menurut European Medicines Agency, hingga saat ini ada 30 kejadian tromboemboli yang dilaporkan di Eropa setelah vaksin diberikan. WHO sedang menyelidiki kasus penggumpalan darah tersebut, tetapi mengatakan vaksinasi dapat terus berlanjut selama proses peninjauan dilakukan.

Sebelumnya, otoritas kesehatan di Denmark, Norwegia, hingga Islandia menangguhkan penggunaan vaksin itu minggu ini. Langkah ini diambil, setelah ditemukannya tromboemboli (bekuan darah yang bergerak) pada beberapa orang yang telah menerima vaksin.

Namun, saat ini tidak ada bukti bahwa vaksin menyebabkan pembentukan gumpalan darah ini, yang tidak terdaftar sebagai efek samping dari vaksin AstraZeneca. WHO mengatakan, komite penasihat ahli saat ini sedang meninjau laporan tersebut, tetapi bersikeras tidak ada alasan untuk berhenti menggunakan vaksin.

Saat ini, sekitar lima juta orang Eropa telah menerima vaksin AstraZeneca, sedangkan di Inggris mencapai 11 juta jiwa. Badan Pengatur Produk Kesehatan dan Obat-obatan Inggris (MHRA) juga mendesak orang-orang untuk mendapatkan vaksin ketika diminta untuk melakukannya.

"Laporan pembekuan darah yang diterima sejauh ini tidak lebih besar dari jumlah yang akan terjadi secara alami pada populasi yang divaksinasi," ucap Dr Phil Bryan, kepala keamanan vaksin MHRA. Sementara itu, Jerman dan Portugal akan terus mendistribusikan dan menggunakan vaksin.

Pemerintah Portugal mengatakan bahwa manfaat vaksin lebih besar daripada risiko yang ditimbulkannya terhadap pasien. Sama seperti WHO, Portugal juga tidak mengidentifikasi hubungan sebab akibat antara penggunaan vaksin dan pembekuan darah.

Australia, yang telah memberikan 300.000 dosis, juga menyatakan akan melanjutkan pemberian vaksin AstraZeneca. Pihak AstraZeneca mengatakan bahwa analisis data keamanan menunjukkan, tidak ada bukti peningkatan risiko emboli paru atau trombosis vena, pada kelompok usia atau jenis kelamin di negara tertentu dengan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Editor: Heri Firmansyah

Diterbitkan di Berita

Giovani Dio Prasasti Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta agar masyarakat yang telah mendapatkan vaksin COVID-19, untuk tetap menaati protokol kesehatan dan tidak merasa kebal dari virus corona.

"Jangan habis disuntik merasa jadi Superman," kata Menkes Budi Gunadi kepada para driver online di Peresmian Grab Vaccine Center di Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (13/3/2021). Budi menjelaskan, kekebalan baru bisa optimal pada 28 hari setelah penyuntikan dosis kedua.

"Itu tidak mengubah Bapak-Ibu menjadi Superman. Bahkan jadi tentara dan Polri saja belum," kata mantan Wakil Menteri BUMN ini berkelakar.

Meski tidak menjamin 100 persen terhindar dari COVID-19, dengan adanya vaksin yang menimbulkan antibodi, diharapkan agar apabila terpapar virus, maka dalam satu atau dua hari virus tersebut akan mati.

"Sehingga menularkannya tidak banyak, tetapi Bapak-Ibu masih bisa kena," kata Budi Gunadi. "Mudah-mudahan kalau masuk rumah sakit pun tidak usah dirawat lama-lama, bisa cepat pulang. Tapi, Bapak-Ibu tetap bisa menularkan."

 

Jangan Langsung Buka Masker

 

Budi menjelaskan, hingga saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa setelah divaksin, maka seseorang akan benar-benar terhindari dari COVID-19.

Ia pun mengingatkan bahwa, meski sudah divaksin, seseorang harus tetap menaati protokol kesehatan, demi mencegah dirinya tidak tertular atau menularkan penyakit ke orang lain.

"Jangan langsung buka masker, jalan-jalan kemana-mana sampai 28 hari sesudah suntik kedua," ujarnya. "Sekalipun sudah disuntik, tetap pakai masker, tetap jaga jarak, tetap rajin cuci tangan."

"Ini membuat kita lebih kuat, sehingga mudah-mudahan kalau terinfeksi lebih cepat sembuh secara alamiah, tidak usah masuk rumah sakit, tapi tidak membuat kita menjadi Superman atau Thor yang manusia setengah dewa," pungkasnya.

 

Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19?

 

Diterbitkan di Berita

Waspada Varian Baru Covid-19

Minggu, 14 Maret 2021 10:11

katadata.co.id

Varian baru virus Covid-19 ini lebih cepat menular dibanding varian virus Covid-19 sebelumnya. Penularannya bisa mencapai 40 hingga 70 persen. Mutasi virus Corona B117 kini telah ditemukan di Indonesia, yakni dua kasus di Karawang, Jawa Barat.

Adapun varian baru ini pertama kali muncul di Inggris. Menurut Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman, varian baru virus Covid-19 ini lebih cepat menular dibanding varian virus Covid-19 sebelumnya. Penularannya bisa mencapai 40 hingga 70 persen. 

"Ada potensi pada event super spreader atau keramaian akan sangat efektif (menular) itu. Karena 40 sampai 70% cepat menular," ujar Dicky mengutip Kompas (3/3).

Sementara itu, menurut data terakhir New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (NERVTAG), varian B117 memiliki potensi peningkatan gejala dan peningkatan mortalitas.

Kelompok penasihat pemerintah Inggris soal varian baru telah mencatat adanya peningkatan dengan persentase maksimal 35 persen.

"Data terakhir dari New and Emerging Respiratory Virus Threats Advisory Group (NERVTAG), jadi grup yang memberikan nasihat kepada pemerintah Inggris terkait dengan varian baru, secara umum menunjukkan peningkatan gejala dan peningkatan mortalitas, tapi ini potensinya sebanyak maksimal 35 persen," kata peneliti geomik molekuler dan anggota Konsorsium Covid-19 Genomics Inggris, Riza Arief Putranto mengutip CNBC (10/3).

Untuk itu, pemerintah Indonesia mengimbau masyarakat tetap waspada dan tetap menjalankan protokol kesehatan. Sejumlah tindakan mitigasi pun diambil oleh pemerintah, terutama melakukan pembatasan perjalanan luar negeri.

"Pemerintah memastikan bahwa penyaringan di pintu-pintu masuk Indonesia telah dilakukan, dan sudah diatur mengenai kedatangan perjalanan luar negeri dalam surat edaran Satgas nomor 8/2021, tentang karantina selama lima hari setelah perjalanan dari luar," ujar Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito. Dia menegaskan langkah ini adalah upaya pengawasan untuk mencegah penyebaran varian baru Covid-19 agar tidak menyebar di Indonesia.

Penulis: Arofatin Maulina Ulfa
Editor: Arie Mega Prastiwi

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Kampanye vaksinasi COVID-19 di Amerika terus melaju. Dikutip dari kantor berita Al Jazeera, angka vaksinasi COVID-19 di Amerika sudah mencapai 101 juta orang per Sabtu kemarin. Walau begitu, Amerika belum puas akan hasilnya dan berniat untuk menggenjot lagi kampanye vaksinasi COVID-19 mereka.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika, CDC, menyatakan bahwa angka 101 juta tersebut menggabungkan antara mereka yang sudah dan yang belum divaksin penuh. Jika dispesifikkan ke mereka yang sudah divaksin penuh (dua kali menerima dosis), CDC menyatakan baru 35 juta orang di kategori tersebut.

"Jadi, kurang lebih hanya 10,5 persen dari populasi Amerika yang bisa dikatakan sudah tervaksinasi penuh," ujar CDC dalam pernyataan persnya, Sabtu, 13 Maret 2021

Di antara beberapa negara yang sudah melakukan vaksinasi COVID-19, Amerika memang salah satu yang tercepat saat ini. Hal tersebut terbantu dari agresifnya kampanye vaksinasi COVID-19 Amerika dan suplai vaksin yang konsisten bertambah.

Menurut data New York Times, Amerika sudah mendistribusikan kurang lebih 133 juta dosis vaksin COVID-19. Vaksinasi COVID-19 per harinya mencapai 2,3 juta suntikkan, jauh lebih besar dibanding target Presiden Amerika Joe Biden yaitu 1,5 juta suntikkan per hari.

Stok vaksin yang banyak tidak lepas dari penerapan kebijakan Defense Production Act oleh Joe Biden. Lewat kebijakan itu, Joe Biden bisa meminta produsen vaksin untuk mengutamakan suplai bagi Amerika. Sebagai gantinya, Amerika akan membantu proses produksi vaksin COVID-19, termasuk penyediaan bahan baku,

Dengan kondisi vaksinasi COVID-19 Amerika seperti sekarang, Presiden Joe Biden optimistis target herd immunity bisa dicapai tahun ini. Selain itu, ia juga yakin seluruh warga dewasa di Amerika sudah bisa divaksin per 1 Mei nanti karena stok vaksin yang memadai. Jika semua berjalan sesuai rencana, Joe Biden berharap normalnya Amerika bisa dirayakan di Hari Kemerdekaan nanti, 4 Juli 2021.

Meski Joe Biden Optimistis, beberapa pakar kesehatan tetap waspada. Menurut mereka, segencar apapun vaksinasi COVID-19, jika warga kemudian tidak mematuhi jaga jarak sosial, maka sama saja membantu penyebaran virus COVID-19. Sebab, fungsi vaksin bukan mematikan virus, tetapi membentuk kekebalan tubuh.

Reporter: Non Koresponden

Editor: Istman Musaharun Pramadiba

Diterbitkan di Berita
Firdaus Anwar - detikHealth Jakarta - Vaksin COVID-19 yang dikembangkan Johnson & Johnson (J&J) telah mendapat izin dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (12/3/2021). Ini jadi jenis vaksin COVID-19 ketiga yang dimasukkan dalam Emergency Use Listing (EUL) setelah vaksin dari Pfizer dan AstraZeneca.

"Setiap alat baru yang aman dan efektif melawan COVID-19 adalah selangkah lebih dekat dalam mengendalikan pandemi... EUL merupakan lampu hijau bagi vaksin untuk bisa dibeli dan didistribusikan oleh COVAX," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (13/3/2021).

Vaksin COVID-19 J&J disebut memiliki kelebihan karena diberikan dalam bentuk dosis tunggal. Artinya vaksin tidak harus disuntikkan dua kali seperti halnya vaksin Sinovac, Pfizer, maupun AstraZeneca untuk memberikan efek perlindungan yang maksimal.

Penasehat senior WHO, Bruce Aylward, juga mengatakan bahwa vaksin COVID-19 J&J tidak membutuhkan tempat penyimpanan yang terlalu dingin.

"Karena itu vaksin ini bisa jadi lebih cocok untuk negara-negara tertentu yang mengalami dampak parah pandemi," kata Bruce.

Rencananya COVAX akan membeli dan mendistribusikan lebih dari 500 juta dosis vaksin COVID-19 J&J


(fds/up)
  
Diterbitkan di Berita

P Suryo R merahputih.com 

JOHNNY G. Plate, Menteri Komunikasi dan Informatika, mengajak masyarakat agar tak termakan isu hoaks. Khususnya informasi yang terkait dengan vaksinasi COVID-19. Johnny juga mengajak masyarakat untuk menjaga agar ruang digital bersih, dan manfaatkan ruang digital untuk membantu kelancaran vaksinasi COVID-19.

Lebih lanjut Johhny mengungkapkan, bahwa dia berharap ketika masyarakat mendapatkan informasi, sebaiknya diperiksa terlebih dahulu, didalami dan mengecek ulang kebenaran informasi tersebut, sebelumnya meneruskannya ke orang lain.

  

Dibutuhkan ketelitian saat mendapat sebuah informasi (foto: Pixabay/memyselfaneye)

 

Untuk melakukan hal itu, memang dibutuhkan ketelitan. Hal-hal seperti itu mungkin tidak bisa dihindari, mengingat saat ini aktivitas di ruang fisik perlahan pindah ke ruang digital.

"Kita gunakan ruang digital untuk kepentingan dan kemajuan kita bersama, secara cermat dan cerdas," ucap Johnny, seperti yang dikutip dari laman Antara. Mengenai isu hoaks tentang Virus COVID-19, dari mulai tanggal 1-10 Maret, Kominfo mendapati ada 13 isu hoaks terkait COVID-19.

Total isu hoaks terkait COVID-19 sebanyak 1.470 berdasarkan data per 10 Maret. Angka itu merupakan kumpulan isu hoaks COVID-19 dari mulai tanggal 23 Januari 2020 hingga 10 Maret 2021. Adapun isu hoaks yang tersebar jumlahnya 2.697 di media sosial, yang terbanyak berada di platform media sosial Facebook dan Twitter.

 

 

Kominfo akan membentuk Komite Etika Berinternet (foto: Pixabay/pixel2013)

 

Dari sekian banyak konten hoaks tersebut, ada 2.360 konten hoaks COVID-19 yang sudah diturunkan. Yakni 1.857 di Facebook, 438 di Twitter, 45 di YouTube dan 20 konten di Instagram.

Diantara kasus konten hoaks tersebut, beberapa diantaranya dilaporkan ke pihak kepolisian, lantaran terdapat unsur pidana. Mengenai isu hoaks di Tanah Air, Kominfo pada akhir Februari lalu mengumumkan, akan membentuk sebuah Komite Etika Berinternet, dengan tujuan agar ruang digital di Indonesia produktif dan sehat

Komite tersebut bertugas untuk membuat panduan praktis tentang budaya serta etika menggunakan internet dan media sosial dengan bijak, yang berlandaskan kejujuran, penghargaan, kebajikan, kesantunan dan menghormati privasi individu serta data pribadi orang lain.

Dengan adanya panduan itu, diharapkan dapat meningkatkan literasi digital masyarakat, yang berkaitan dengan kecakapan menggunakan instrumen digital, serta kemampuan merespons informasi. (Ryn)

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia 

Para pejabat kesehatan Jerman, Jumat (12/3) memperingatkan negara itu menghadapi gelombang ketiga infeksi virus corona, dan virus yang disebut sebagai varian Inggris mungkin menjadi penyebabnya.

Pada konferensi pers di Berlin, Lothar Wieler Presiden Robert Koch Institute for Infectious Diseases mengatakan kepada wartawan bahwa varian COVID-B117, yang awalnya diidentifikasi di Inggris, menyebar dengan cepat di negara itu, dan mungkin menggerakkan lonjakan terbaru, dengan kasus baru pada hari Jumat merupakan yang tertinggi di Jerman dalam satu bulan ini.

Wieler mengatakan vaksinasi dapat membantu virus itu terkendali tetapi masyarakat harus tetap mempraktikkan social distancing dan langkah-langkah lainnya. Ia mengatakan, “virus tidak akan menghilang lagi, tetapi kita telah memiliki tingkat imunitas dasar di tengah masyarakat, kita dapat mengontrol virus.”

 

Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn (kanan) dan Lothar H. Wieler (kiri) presiden Robert-Koch-Institute, dalam konferensi pers di Berlin, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021. (AP Photo / Michael Sohn)
Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn (kanan) dan Lothar H. Wieler (kiri) presiden Robert-Koch-Institute, dalam konferensi pers di Berlin, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021. (AP Photo / Michael Sohn)

 

Pada konferensi pers yang sama, Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn mengatakan negara itu harus bersiap untuk “menghadapi beberapa pekan mendatang yang sangat menantang.”

Spahn menyatakan penyesalan karena beberapa negara tetangga telah menghentikan penggunaan vaksin virus corona AstraZeneca menyusul laporan penggumpalan darah pada sejumlah penerima vaksin itu, meskipun masih kurang bukti bahwa vaksin itu penyebabnya.

Spahn mengatakan meskipun Jerman menerima laporan mengenai kemungkinan efek samping akibat itu vaksin itu “dengan sangat, sangat serius,” Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) dan badan pengawas vaksin Jerman sendiri telah menyatakan mereka tidak memiliki bukti mengenai peningkatan penggumpalan darah yang berbahaya, yang ada kaitannya dengan vaksin.

 

Warga mengenakan masker saat menunggu kereta di stasiun kereta bawah tanah di Frankfurt, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021, di tengah meningkatnya kasus infeksi COVID-19. (Foto AP / Michael Probst)
Warga mengenakan masker saat menunggu kereta di stasiun kereta bawah tanah di Frankfurt, Jerman, Jumat, 12 Maret 2021, di tengah meningkatnya kasus infeksi COVID-19. (Foto AP / Michael Probst)

 

Denmark, Kamis (11/3) mengumumkan tentang penghentian sementara penggunaan vaksin AstraZeneca setelah ada laporan mengenai penggumpalan darah pada beberapa orang. Austria melakukan hal yang sama sebelumnya pekan ini. Setelah menyelidiki kasus-kasus di Austria, EMA mengeluarkan pernyataan hari Rabu yang menyebutkan tidak menemukan indikasi bahwa vaksin itu penyebab kondisi tersebut.

EMA menyatakan “manfaat vaksin terus melampaui risikonya dan vaksin dapat terus diberikan” sementara evaluasi yang lebih cermat terhadap kasus-kasus penggumpalan darah berlanjut. [uh/ab]

Diterbitkan di Berita

Puguh Hariyanto sindonews.com JAKARTA - Setelah sukses menyelenggarakan webinar pertama tentang ekonomi pada bulan Januari 2021 lalu, kali ini pada tanggal 25 Maret 2021 Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia ( MWA UI ) akan menggelar webinar series kedua tentang kesehatan yang berkolaborasi dengan Kementerian Riset Dan Teknologi/Badan Riset Dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

Mengingat saat ini Indonesia sedang menghadapi dan berperang melawan pandemi Covid-19 maka tema yang diangkat adalah "Ketahanan Dan Kemandirian Kesehatan Indonesia". Beberapa isu penting akan menjadi fokus diskusi, antara lain 1.

Disrupsi Teknologi Kesehatan terkait Big Data & Artifical Intelegence, 2. Covid 19 dan Ketahanan Kesehatan Indonesia, 3. Adaptasi dan Adopsi Teknologi dan yang ke 4. Medical Tourism.

"Tujuan dari webinar kali ini yaitu diharapkan para pembicara dapat membahas berbagai permasalahan kesehatan bangsa Indonesia termasuk kondisi pandemi yang sedang kita alami dan juga diharapkan menghasilkan berbagai pemahaman dan usulan rekomendari kebijakan (policy breef) untuk membangun ketahanan dan kemandirian kesehatan Indonesia, yang nantinya akan dirangkum oleh Prof Budi Wiweko bersama teman teman dari FK UI guna menjadi satu sumbangan pemikiran untuk pemerintah," ujar Ketua MWA UI Saleh Husin kepada media, Rabu (10/3/2021).

Wakil Presiden Prof KH Ma'ruf Amin akan menjadi pembicara kunci. Saleh Husin selaku Ketua MWA UI memberikan welcome speech dan Rektor UI memberikan opening speech. Diskusi panelnya dibagi dalam dua sesi dimana pembicara pada sesi pertama dengan subtema Covid-19 dan Ketahanan Kesehatan Indonesia yaitu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri BUMN Erick Thohir, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indah Parawangsa, Juru Bicara satgas covid-19 Prof Wiku Adisasmito, Dekan Fakultas Kedokteran UI Prof Ari Fahrial Syam, dan Sekretaris UI dr Agustin Kusumayati PhD yang merupakan pakar kesehatan masyarakat dan dipandu oleh moderator Metro TV Leonard Samosir.

 

MWA UI Akan Gelar Webinar Tentang Ketahanan dan Kemandirian Kesehatan Indonesia


Dan, pada panel sesi kedua dengan subtema Riset dan Inovasi Dalam Membangun Ketahanan dan Kemandirian Bangsa dimana Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BRIN Prof Bambang Brojonegoro yang sekaligus menjadi koordinator acara webinar ini akan bersama Wakil Menteri Kesehatan dr Dante Saksono Harbuwono PhD, Dekan Fakultas Teknik UI Dr Hendri DS Budiono, Kepala Laboratorium UI Prof Amarila Malik, Presiden Direktur Dexa Medica Ir Ferry A Soetikno dan Wakil Direktur IMERI FK UI Prof Budi Wiweko menjadi pembicaranya dengan moderator dari Kompas TV yaitu Sofie Syarief.

"Untuk itu saya berharap rekan-rekan dari pemerintah daerah terutama dinas kesehatan dan dinas terkait lainnya serta adik-adik mahasiswa terutama dari rumpun ilmu kesehatan dan teknik, termasuk siapapun warga masyarakat dapat bebas menjadi peserta webinar guna dapat memperdalam pemahamannya tentang kesehatan dari para nara sumber yang sangat kapabel dan pakar dalam bidangnya masing-masing," kata Saleh Husin.

"Pendaftaran terbuka untuk umum dan registrasi dapat dilakukan melalui tautan http://ui.id/mwawebinarseri2 dan tidak dipungut biaya, serta peserta akan mendapat e-sertifikat," ujar anggota MWA UI Corina DS Riantoputra yang juga merupakan seorang pakar psikologi.

Diterbitkan di Berita

Rakernas berlangsung selama 2 hari mulai 9-10 Maret 2021 dengan tema "Pramuka Berbakti Tanpa Henti, dalam memasuki Adaptasi Kebiasaan Baru, dengan Gerakan Kedisplinan dan Kepedulian Nasional.

Penerapan protokol ketat pun dilakukan, mengingat kegiatan dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Komjen Pol (Purn) Budi Waseso mengatakan nantinya dalam kegiatan ini akan dibahas program-program Pramuka ke depan.

Tentunya berkaitan dengan bakti kepada negara dan bangsa. Salah satunya mungkin, kata dia, terkait keterlibatan dalam penanganan Covid-19.

“Salah satunya itu. Di antaranya itu. Tapi macam-macam, bukan hanya masalah covid aja. Tapi kegiatan Pramuka itu sendiri. Pendidikan generasi muda dengan model yang baru kita harus lakukan karena situasi covid ini,” tutur Buwas sapaan akrab Budi Waseo.

Pramuka, lanjut dia, juga telah membentuk Satuan Tugas Penganggulangan Pandemi Covid-19 di berbagai tingkatan dan akan segera bergerak dalam waktu dekat.

“Presiden RI selaku Ketua Majelis Pembimbing Gerakan Nasional Pramuka telah memberikan arahan untuk melaksanakan 2 gerakan. gerakan kedisiplinan nasional dengan menunjukan prilaku mematuhi protokol kesehatan dan gerakan kepedulian nasional dengan mewujudkan sikap empati dan simpati menolong sesama.

Itulah sebabnya Kwartir Nasional telah membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Pandemic Covid-19 yang segera bergerak ditingkat nasional, daerah, cabang hingga ke ranting. Serta Gugus Depan Pramuka,” jelas Buwas.

Buwas kemudian juga mengajak para Pramuka di berbagai daerah untuk ikut serta dalam mengubah perilaku masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Dengan cara bagaimana? Yakni menerapkan gaya hidup sehat dalam keseharian. “Diharapkan para Pramuka dapat memberi contoh untuk mengubah prilaku masyararkat luas agar hidup lebih sehat dalam upaya menanggulangi pandemi Covid-19,” tuturnya lagi.

Sebagai informasi, setiap tahun Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengadakan Rapat Kerja Nasional. Pada tahun 2020  Rapat Kerja Nasional (Rakernas) diselenggarakan pada bulan Februari (sebelum ada Covid-19) di Cibubur, Jakarta.

Pada tahun ini Rakernas Gerakan Pramuka untuk pertama kali diselenggarakan virtual. Rakernas berlangsung di Gedung Sarbini, Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta, 9-10 Maret 2021. Peserta dari Kwarda seluruh Indonesia mengikuti secara daring.

Pimpinan dan panitia Rakernas akan luring. Rakernas Tahun 2021 ini dibuka oleh Zainuddin Amali, Menteri Pemuda dan Olahraga RI, selaku Sekretaris Maabinas Gerakan Pramuka secara daring.

Sebelum Rakernas berlangsung di tempat yang sama diadakan Sidang Paripurna Nasional (Sidparnas) Gerakan Pramuka Tahun 2021 pada tanggal 7-8 Maret 2021. (Miechell Octovy Koagouw)

Diterbitkan di Berita