KBRN, Jakarta:  Profesor Zubairi Djoerban, Ketua Satgas Covid-19 dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyatakan jika tidak benar angka kematian akan lebih banyak dalam kasus mutasi virus corona B117.

Namun, katanya, jumlah kasus harian di Indonesia dapat bertambah lagi dan Rumah Sakit akan terkena imbasnya.

"Jika varian ini dominan. Tapi tidak benar akan menyebabkan kematian yang lebih banyak," katanya seperti dikutip dari akun Twitter resminya @ProfesorZubairi, Kamis (4/3/2021).

Menurutnya, mutan baru ini menyebabkan shedding virus terjadi lebih intens. Artinya, produksi jumlah virusnya jauh lebih banyak di saluran napas.

"Jadi, istilah buat B.1.1.7 itu sebagai super spreader tidak tepat. Lebih tepat super shedder, karena virus itu bisa lebih menularkan ke banyak orang," imbuhnya.

Zubairi menyebut jika banyak orang yang mengira dengan turunnya kasus covid-19, maka pandemi hampir berakhir. Ia menilai dugaan tersebut tentu belum tepat.

"Banyak yang mengira dengan turunnya kasus, pandemi hampir berakhir. Belum. Jenis korona lama memang berkurang. Tapi strain B.1.1.7 bertambah dan telah ditemukan di Indonesia," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menyatakan jika virus ini masih bisa terdeteksi di swab test PCR.

"Tetap bisa. Tapi kalau tes-tes Covid-19 yang belum ada bukti ilmiahnya, ya saya tidak tahu," pungkasnya.

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Otoritas kesehatan sekarang menghadapi rintangan besar baru seiring ditemukannya varian baru virus corona yang lebih menular yakni B117 yang pertama kali muncul di Inggris lalu menyebar ke negara lain termasuk Indonesia seperti yang diungkapkan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono pada Selasa (2/3).

Dia mengofirmasi dua kasus COVID-19 dengan mutasi B117. Para peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine seperti dikutip dari ABC News, Rabu, memperkirakan varian ini 56 persen lebih menular.

Sebuah studi pracetak terpisah dari para peneliti di Imperial College London menemukan varian baru meningkatkan reproduksi virus dengan jumlah rata-rata orang yang terinfeksi orang yang positif antara 0,4 dan 0,7.

Apa yang membuatnya lebih menular? Kecepatan penyebaran B117 menunjukkan varian ini membawa fitur biologis tertentu atau mutasi dalam genomnya yang membuatnya lebih menular.

Mutasi genetik sebenarnya bagian normal dan diharapkan dari evolusi virus, tetapi terkadang virus memperoleh mutasi menguntungkan yang memungkinkan mereka untuk mengungguli varian lain yang beredar, kata pakar virologi di University of Sydney, Prof. Eddie Holmes.

Ada juga bukti awal yang menunjukkan varian B117 menghasilkan viral load (tingkat replikasi virus dalam tubuh) yang lebih tinggi. Ini artinya, ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, mereka cenderung menyebarkan lebih banyak virus.

 

Kiat melindungi diri dari varian B117

Varian ini menyebar dengan cara yang sama seperti virus corona. Anda kemungkinan besar tertular virus jika Anda menghabiskan waktu di ruang tertutup untuk menghirup udara orang yang terinfeksi.

Protokol kesehatan yang melindungi Anda dari COVID-19 akan membantu melindungi Anda dari varian ini, meskipun Anda mungkin perlu lebih teliti misalnya mengenakan dua atau tiga lapis masker.

Selain itu, jangan menghabiskan waktu di dalam ruangan dengan orang yang tidak tinggal serumah, hindari keramaian, dan menjaga jarak. Cucilah tangan Anda sesering mungkin, dan hindari menyentuh wajah Anda.

"Hal pertama yang saya katakan kepada orang-orang ini bukanlah virus yang berbeda. Semua hal yang telah kami pelajari tentang virus ini masih berlaku," kata Dekan Brown University School of Public Health, Dr. Ashish K. Jha, seperti dikutip dari The New York Times.

Pakar kesehatan mengingatkan Anda jangan lengah setelah setahun hidup dalam pandemi. Mungkin menghabiskan waktu di dalam ruangan dan membuka masker saat bersama teman atau makan di restoran. 

"Semakin banyak saya mendengar tentang varian baru, semakin saya prihatin. Saya pikir tidak ada ruang untuk kesalahan atau kecerobohan dalam mengikuti tindakan pencegahan," tutur profesor lingkungan di Virgnia Tech, Linsey Marr.

 

Perlukah upgrade masker?

Anda harus mengenakan masker berkualitas tinggi saat berada di luar rumah misalnya berbelanja atau berada dalam situasi di dalam ruangan dengan orang yang tidak tinggal serumah dengan Anda.

Marr dan timnya baru-baru ini menguji 11 bahan masker dan menemukan masker kain yang tepat, dipasang dengan benar bisa menyaring partikel virus yang menyebabkan infeksi.

Masker terbaik memiliki tiga lapisan yakni dua lapisan kain dengan saringan diapit di antaranya. Masker juga harus dipasang di sekitar pangkal hidung dan terbuat dari bahan yang fleksibel untuk mengurangi celah. Ikat kepala pada masker membuat lebih pas daripada loop telinga.

Apabila Anda tidak ingin membeli masker baru, kenakan masker tambahan saat Anda berada di dekat orang lain. Menambah lapisan masker yakni masker bedah sekali pakai dan menutupinya dengan masker kain dapat Anda terapkan.

Anda tidak memerlukan tingkat perlindungan tinggi seperti yang dibutuhkan para tenaga medis sehingga N95 tidak direkomendasikan.

Di sisi lain, mendapatkan vaksin adalah cara terbaik untuk mengurangi risiko. Para ahli optimistis vaksin saat ini sebagian besar akan efektif melawan varian baru virus corona yang muncul.

Awal bulan ini, Pfizer dan BioNTech mengumumkan vaksin COVID-19 buatan mereka bekerja melawan salah satu mutasi utama yang ada di beberapa varian.

Tetapi beberapa data juga menunjukkan varian dengan mutasi tertentu, terutama yang pertama kali terlihat di Afrika Selatan, mungkin lebih resisten terhadap vaksin.

Meskipun datanya mengkhawatirkan, para ahli mengatakan vaksin saat ini menghasilkan tingkat antibodi yang sangat tinggi, dan kemungkinan besar setidaknya dapat mencegah penyakit serius pada orang yang diimunisasi dan terinfeksi.

"Alasan saya sangat optimis adalah dari apa yang kita ketahui tentang cara kerja vaksin, bukan hanya satu antibodi yang memberikan semua perlindungan. Divaksin menghasilkan antibodi dan ini membuat kecil kemungkinan terjadi mutasi," kata profesor penyakit menular di University of Michigan, Dr. Adam Lauring.

Tetapi sampai tiba giliran Anda divaksin, tetap perhatikan aktivitas Anda dan coba kurangi waktu dan jumlah eksposur ke orang lain.

Misalnya, apabila Anda sekarang pergi ke toko dua atau tiga kali seminggu, kurangi menjadi seminggu sekali. Lalu, apabila biasanya Anda menghabiskan 30-45 menit di toko bahan makanan, kurangi waktu Anda menjadi 15 atau 20 menit. 

Apabila toko sedang ramai, kembali lagi nanti. Jika Anda sedang mengantre, jagalah jarak setidaknya satu meter dari orang-orang di depan dan di belakang Anda.

"Varian baru ini membuat saya berpikir dua kali tentang rencana saya untuk mengajar secara langsung, yang tentunya dengan masker dan dengan ventilasi yang baik," tutur Marr.

Anak-anak tampaknya terinfeksi varian dengan kecepatan yang hampir sama dengan strain aslinya. Sebuah studi besar di Inggris menemukan, anak-anak hanya memiliki kemungkinan sekitar setengah dari orang dewasa untuk menularkan varian tersebut kepada orang lain.

Meskipun itu kabar baik, sifat varian baru yang sangat menular berarti lebih banyak anak-anak yang akan tertular virus.

Lalu, apabila Anda sudah terkena COVID-19, artinya memiliki tingkat kekebalan yang sama terhadap varian baru? Sebagian besar ahli setuju pada penyintas COVID-19 memiliki tingkat kekebalan alami tertentu untuk membantu melawan infeksi kedua meskipun tidak diketahui berapa lama perlindungan tersebut bertahan.

Varian yang beredar di Brazil dan Afrika Selatan tampaknya memiliki mutasi yang memungkinkan virus menghindari antibodi alami dan menginfeksi kembali seseorang yang telah terinfeksi virus.

Kekhawatiran tersebut didasarkan pada tes laboratorium yang menggunakan antibodi dari orangorang dengan infeksi sebelumnya. Di sisi lain, pengaruh vaksin terhadap varian ini juga belum diketahui.

Tetapi, meski semua ini terdengar menakutkan, para ilmuwan berharap meskipun vaksin tidak sepenuhnya melindungi dari variasi baru virus, antibodi yang dihasilkan oleh vaksin tetap akan melindungi orang dari penyakit yang lebih serius.

Oleh Lia Wanadriani Santosa

Editor: Maria Rosari Dwi Putri

COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Gubernur Texas Greg Abbott, Selasa (2/3), mengeluarkan kebijakan mencabut kebijakan pembatasan sosial terkait virus corona yang paling luas dibanding negara bagian mana pun di Amerika.

Abbott mengatakan sebagian besar bisnis mungkin akan beroperasi dengan kapasitas penuh minggu depan. Ia juga mencabut keharusan mengenakan masker.

Perintah eksekutif itu dikeluarkan ketika banyak negara bagian dan kota-kota utama di Amerika mulai melonggarkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya seiring dengan penurunan tajam penyebaran virus corona dan jumlah orang yang dirawat di rumah sakit.. Lockdown tersebut diberlakuan satu tahun lalu,

“Ini saatnya untuk membuka Texas 100 persen,” ujar Abbott, gubernur dari Partai Republik, dalam konferensi pers pada Selasa (2/3). Ia mengatakan perintah eksekutif itu akan berlaku penuh mulai 10 Maret mendatang.

Perintah eksekutif Abbot itu juga mencabut semua keharusan mengenakan masker di seluruh negara bagian dan melarang otoritas lokal untuk menghukum warga yang tidak mengenakan masker. Perintah itu juga mencabut seluruh pembatasan terhadap bisnis di kabupaten-kabupaten di mana tidak banyak orang dirawat di rumah sakit.

Perintah eksekutif itu diberlakukan ketika pemerintahan Abbott memulihkan kondisi pasca penurunan suhu sangat tajam di seluruh kawasan itu Februari lalu, yang memicu pemadaman listrik dan membuat jutaan orang menggigil dalam kegelapan. Suhu sangat dingin membuat jaringan operator listrik dan air tidak siap menghadapi lonjakan permintaan listrik.

Abbott mengatakan di kabupaten-kabupaten di mana jumlah orang yang dirawat di rumah sakit masih tinggi, para pejabat setempat masih dapat memberlakukan sebagian pembatasan pada bisnis, namun tidak bisa mengharuskan mereka untuk beroperasi kurang dari 50 persen dari kapasitasnya.

Abbott mengatakan ia dapat mencabut pembatasan itu karena Texas, negara bagian dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Amerika, telah memvaksinasi hampir 5,7 juta orang dari 29 juta penduduknya. [em/my]

Diterbitkan di Berita

Riezky Maulana sindonews.com JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa memimpin kegiatan vaksinasi serentak bagi seluruh Prajurit TNI Angkatan Darat di lingkungan Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta, Selasa (2/3/2021).

Kegiatan vaksinasi yang dilakukan ini merupakan kelanjutan dari Vaksinasi tahap I yang dikhususkan bagi tenaga kesehatan TNI AD sejumlah 20.565 orang.

Vaksinasi dilakukan dalam rangka mendukung program pemerintah guna mencegah penyebaran virus COVID-19 serta meningkatkan imunitas tubuh bagi seluruh prajurit TNI AD.

Selain di Mabes AD, Jakarta, vaksinasi turut dilaksanakan secara serentak dan tersebar di seluruh Komando Utama (Kotama) dan Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) jajaran TNI AD. Vaksinasi dibagi dalam beberapa gelombang dengan jumlah penerima vaksin yaitu 353.647 personel.
Gelombang pertama vaksinasi dimulai pada hari ini, Selasa (2/3/2021) dengan jumlah total 61.054 personel. Adapun vaksin ini diperuntukkan bagi penegak disiplin protokol kesehatan dan personel Kodam Jaya serta Balakpus.

"Selanjutnya, gelombang kedua akan dimulai Senin (15/3/2021) sejumlah 80.000 personel. Gelombang kedua vaksin diperuntukkan bagi personel Satuan Kostrad, Kopassus dan personel di 15 Kodam seluruh Indonesia," kata Jenderal TNI Andika Perkasa.

Kemudian, untuk gelombang ketiga akan dimulai 1 April 2021 sejumlah 100.000 personel. Vaksinasi tahap ketiga diperuntukkan seluruh Kodam kecuali Kodam Jaya. Gelombang keempat atau yang terakhir dimulai pada 16 April 2021 berjumlah 92.028 personel, diperuntukkan bagi seluruh personel yang belum mendapatkan vaksinasi.

Adapun Fasilitas Kesehatan (Faskes) yang akan menggelar kegiatan vaksinasi secara serentak berjumlah 500 Faskes, terdiri dari 248 Faskes yang setingkat Rumah Sakit, dan 252 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) setingkat Poliklinik.

Diharapkan pada akhir April 2021, seluruh personel TNI Angkatan Darat telah menerima vaksinasi COVID-19.
 
(abd)
Diterbitkan di Berita

voi.id JAKARTA - Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka, Edmon Bura mengatakan, tak ada warga yang positif COVID-19 dalam kerumunan kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu.

Hal ini diketahui setelah Tim Tracing Satgas Covid-19 Kabupaten Sikka melakukan pemeriksaan rapid test antigen kepada 109 warga di lima titik kerumunan Jokowi akhir pekan lalu.

"Untuk hasilnya semua negatif, dan tadi pagi sesuai arahan Pak Bupati untuk lima hari berikut itu dilakukan lagi tesnya. Untuk orang yang sama atau orang yang berbeda itu nanti kami koordinasikan dulu dengan tim tracing," kata Edmon saat dihubungi Selasa, 2 Maret.

Edmon mengatakan pihaknya telah menggerakkan lima tim di titik-titik yang menjadi lokasi kerumunan. Pertama dimulai dari depan gapura bandara sekitar Hotel Permata Sari sampai SPBU Waioti dengan 18 warga.

Kedua, dari SPBU Waioti sampai Terminal Lokaria sebanyak 24 warga. Ketiga, wilayah Terminal Lokaria sampai dengan Pasar Geliting sebanyak 22 warga. Keempat, Pasar Geliting hingga Waigete-Nangahale sebanyak 22 warga, dan titik terakhir di pertigaan Nangahale hingga Bendungan Napun Gete sebanyak 23 warga.

"Kami interview warga yang disitu, dari spot yang ada, ada beberapa pertanyaan kalau detailnya Satgas ya yang tahu. Kemudian warga ditanya kesediaan diambil sampelnya," ujarnya. 

Selain melakukan tracing, Satgas COVID-19 Kabupaten Sikka, kata Edmon, juga mempersilahkan warga yang berada di kerumunan untuk mendatangi Puskesmas terdekat. Para warga bisa meminta rapid test antigen secara gratis.

"Tracing tetap dilakukan di puskesmas masing-masing. Nanti ada tambahan pertanyaan, apakah ikut berkerumun atau tidak saat kunjungan presiden," katanya.

Sebelumnya, kerumunan warga terjadi ketika Jokowi mengunjungi Kabupaten Sikka, NTT, pada Selasa, 23 Februari. Momen kerumunan warga menyambut Jokowi itu terekam dalam sebuah video yang beredar di media sosial.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menyampaikan kerumunan saat Jokowi kunjungan kerja ke NTT merupakan bentuk antusiasme warga setempat. Bey menyebut masyarakat sudah menunggu rombongan presiden di pinggir jalan.

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (1/3) mengatakan jumlah kasus virus corona bertambah di seluruh dunia untuk pertama kalinya dalam tujuh minggu.

Dalam pengarahan di markas organisasi itu di Jenewa, Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan peningkatan terjadi di empat kawasan: Amerika, Mediterania timur, Eropa dan Asia Tenggara.

Kepala WHO mengatakan peningkatan itu "mengecewakan tapi tidak mengejutkan." Dia mengatakan kenaikan itu sepertinya akibat pelonggaran protokol kesehatan, penyebaran berbagai varian baru, dan "orang-orang mulai lengah." Dia mengisyaratkan bahwa program vaksinasi di seluruh dunia mungkin juga ikut menyebabkannya.

 

Tedros menekankan vaksin akan membantu menyelamatkan nyawa. Tapi apabila negara-negara hanya bergantung pada vaksin, mereka melakukan kesalahan. Dia mengatakan, "Upaya kesehatan masyarakat masih menjadi dasar respons COVID-19."

Dia menambahkan bahwa tes, pelacakan kontak, isolasi, karantina dan akses ke layanan kesehatan masih tetap vital. "Bagi para individu, ini artinya menghindari kerumunan, menjaga jarak, mencuci tangan, mengenakan masker dan mengatur ventilasi," katanya. [vm/ka]

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Pakar penyakit menular yang disegani di Amerika Dr. Anthony Fauci hari Minggu (28/2) menyerukan warga Amerika untuk mendapatkan salah satu dari tiga vaksin virus corona yang tersedia.

Fauci mengatakan akan disuntik vaksin Johnson&Johnson yang baru diotorisasi, dan menyerukan kepada warga Amerika untuk mau divaksinasi salah satu dari tiga vaksin yang ada.

“Ketiganya benar-benar cukup bagus, dan orang-orang harus mengambil salah satu yang paling tersedia untuk mereka. Jika pergi ke suatu tempat dan disediakan Johnson&Johnson, dan itulah yang tersedia sekarang, maka saya akan menerimanya,” ujarnya dalam program “Meet the Press” di stasiun televisi NBC.

 

Pemerintah Amerika Sabtu lalu (28/2) telah mengesahkan vaksin dengan dosis tunggal Johnson&Johnson, menjadikannya sebagai vaksin ketiga yang tersedia setelah Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Dua vaksin sebelumnya membutuhkan dua dosis yang disuntik dalam rentang waktu tertentu dan harus didistribusikan dalam keadaan beku. Namun vaksin Johnson&Johnson dapat didistribusikan dan disimpan pada suhu lemari es normal.

Vaksin Johnson&Johnson diharapkan mendapat persetujuan akhir untuk digunakan secara luas pada hari Minggu (28/2) dan dapat mulai didistribusikan pada hari Minggu atau Senin (1/3).

Baik vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna menunjukkan tingkat kemanjuran yang lebih tinggi dalam uji coba yang menggunakan dua dosis, dibanding vaksin satu dosis Johnson&Johnson.

Namun Fauci dan beberapa pakar lain mengatakan perbandingan langsung sulit dilakukan karena uji coba memiliki tujuan yang berbeda, dan uji coba vaksin Johnson&Johnson dilakukan ketika varian baru yang lebih cepat menular muncul.

Lebih jauh Fauci mengatakan saat ini sedang berlangsung kajian untuk menentukan keefektifan dan keamanan vaksin bagi anak-anak di bawah usia 18 tahun yang tampaknya tidak terlalu terpapar virus ini.

Siswa sekolah dasar diharapkan akan divaksinasi pada akhir tahun ini atau awal tahun depan, sementara siswa SMP dan SMA kemungkinan akan divaksinasi pada musim gugur ini, ujar Fauci.

Vaksin baru itu memberi pilihan pada pemerintah Amerika, yang sedang berupaya memvaksinasi sebanyak mungkin warga sesegera mungkin. Menurut data pemerintah, sekitar 14% warga Amerika telah divaksinasi dosis pertama.

Presiden Joe Biden mengatakan sedianya ada cukup pasokan vaksin untuk memvaksinasi seluruh warga Amerika selambatnya pada akhir Juli nanti.

Covid-19 telah merenggut nyawa lebih dari setengah juta orang di Amerika dan negara-negara bagian menuntut lebih banyak dosis untuk membendung kasus, jumlah orang yang dirawat di rumah sakit dan kematian. [em/jm]

Diterbitkan di Berita

Danu Damarjati - detikNews Jakarta - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Infokom KH Masduki Baidlowi mengklarifikasi pernyataan Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas yang mengkritisi kerumunan akibat kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Anwar membandingkan kerumunan Jokowi dengan kasus kerumunan Habib Rizieq Shihab saat pandemi COVID-19. Masduki menyatakan pernyataan Anwar Abbas bukan pernyataan resmi MUI.

"Pemberitaan terkait pernyataan Bapak Anwar Abbas itu bukanlah pernyataan sikap resmi MUI. MUI tidak memberikan pernyataan sikap apa pun terhadap kunjungan Presiden Jokowi ke NTT," kata Ketua MUI Bidang Infokom KH Masduki Baidlowi kepada detikcom, Sabtu (27/2/2021).

Masduki mengetahui pernyataan Anwar Abbas ramai diperbincangkan karena membandingkan kerumunan Jokowi dengan kerumunan Rizieq. Menurut Anwar, kedua peristiwa harus disikapi dengan sama tegasnya di mata hukum. Namun MUI menyatakan dua peristiwa itu tidak bisa disamakan.

"Tidaklah sepadan menyamakan kunjungan Jokowi ke Maumere dengan kasus Habib Rizieq, yang jelas-jelas sengaja mengadakan kerumunan," kata Masduki.

Dia menjelaskan, kerumunan Rizieq di acara pernikahan putrinya dipicu oleh ajakan. Namun demikian, kerumunan Jokowi di Maumere NTT tidak dipicu ajakan Jokowi.

"Saya memohon kepada seluruh publik untuk membedakan apa yang menjadi pernyataan pribadi pengurus MUI dengan pernyataan resmi lembaga MUI. Itu harus dibedakan," kata Masduki.

Selain itu, Masduki menjelaskan MUI punya tugas pokok dan fungsi yang jelas. Tidak semua peristiwa perlu dikomentari MUI, apalagi soal isu yang menimbulkan kegaduhan di publik.

Masduki sudah berkomunikasi dengan Anwar Abbas. Anwar Abbas dinyatakannya memahami perlunya MUI meluruskan konteks pernyataan soal kerumunan Jokowi itu.

"Kita baik-baik saja dengan Pak Anwar, tidak ada masalah," kata dia.

(dnu/idh)

Diterbitkan di Berita

Binti MufaridaSindonews JAKARTA - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menargetkan sebanyak 38 juta orang dengan 76 suntikan vaksin Covid-19 hingga Juni 2021. Ia juga mengatakan, vaksinasi Covid-19 perlu dukungan dari berbagai kalangan. Sementara secara nasional sebanyak 21 juta Lansia yang terdata untuk divaksinasi.

“Nah untuk bisa menyuntik Lansia yang jumlahnya sekitar 21 juta ini sampai akhir Juni kita perlu banyak dukungan di masyarakat agar program pemerintah ini berjalan lancar,” katanya dalam keterangannya, Minggu (28/2/2021).

Lansia menjadi salah satu kelompok yang diprioritaskan karena termasuk orang-orang yang berisiko tinggi kalau tertular virus Covid-19. “Vaksinasi ini mudah-mudahan bisa jadi contoh untuk teman-teman di daerah lain yang memang memiliki resources, memiliki akses untuk mengajak teman-teman Lansia ini untuk segera divaksinasi agar mereka bisa segera terlindungi dari Covid-19,” tuturnya.

Ia pun mengapresiasi gerak cepat Gubernur Jawa Timur Khofifah dalam melaksanakan vaksinasi Covid-19. Kendalanya saat ini adalah suply vaksin yang masih terbatas karena vaksin tersebut dibutuhkan oleh negara lain.

Namun demikian, Indonesia sudah mendapatkan pasokan vaksin lebih dulu dan sudah memulai vaksinasi Covid-19.

“Masalahnya ada di supply vaksinnya karena rebutan di seluruh dunia. Banyak negara yang belum kebagian vaksin, negara besar seperti Australia dan Jepang baru akan mulai vaksinasi Covid-19. Kita bersyukur kita sudah dapat vaksinnya, namun karena populasi kita banyak jadi disuntiknya bertahap,” pungkasnya.

(wal)

Diterbitkan di Berita

PORTAL JEMBER – CEO Cyber Indonesia Muannas Alaidid membantah pernyataan Politisi Gerindra Fadli Zon yang menyebut adanya ketidakadilan terhadap kerumunan warga dalam menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam pernyataan yang juga dibagikan Fadli Zon di akun Twitternya, ia mengatakan bahwa apabila kerumunan yang terjadi saat penyambutan Jokowi tidak dipersoalkan, seharusnya Habib Rizieq Shihab dan para ulama dibebaskan.

Menurutnya, masyarakat akan menilai adanya ketidakadilan yang dipertontonkan dan tidak memberi keteladanan. Muannas Alaidid pun membantah pernyataan Fadli Zon tersebut dengan membalas cuitannya.  

Muannas menjelaskan terkait kondisi di Maumere NTT yang menurutnya bebas dari kasus Covid-19. “Maumere, NTT itu zona hijau bos, bebas kasus covid, sekolah aja dibuka,” cuit Muannas Alaidid, dilansir PORTAL JEMBER dari akun Twitter @muannas_alaidid, 24 Februari 2021.

Politisi PSI tersebut juga menganggap beda antara kerumunan dalam penyambutan Jokowi dengan penyambutan Habib Rizieq di Bandara Soekarno-Hatta lalu. “Beda dengan kerumunan RS (Rizieq Shihab) dilarang di zona hitam, apalagi pake sengaja buat acara dan ngundang-ngundang orang,” kata Muannas.

Ia pun menyarankan agar Fadli Zon menahan diri sebelum adanya bukti bahwa kerumunan saat penyambutan Jokowi menimbulkan kerugian. “Jangan gegeran, hasutannya ditahan dulu sampai ada temuan dan bukti setelah peristiwa itu ada kerugian berdampak pada klaster baru,” pungkas Muannas Alaidid.***

Diterbitkan di Berita