Firdaus Anwar - detikHealth Jakarta - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi menjelaskan kasus harian COVID-19 Indonesia beberapa pekan terakhir cenderung stagnan.

Namun, angka kematian COVID-19 menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Secara lebih rinci Nadia menjelaskan saat ini ada 3,16 persen peningkatan angka kematian.

Mengapa kematian bisa meningkat sementara kasus Corona di Indonesia sedang landai atau stagnan masih perlu diselidiki lebih lanjut.

Hanya saja salah satu faktor yang dicurigai adalah karena kehadiran varian Corona dari luar negeri. Setidaknya sudah ada tiga varian yang dikonfirmasi di Indonesia yaitu B117 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan, dan terakhir B1617 dari India.

"Salah satu yang bisa timbul sebagai adanya varian atau mutasi ini adalah meningkatkan tingkat keparahan penyakit.," kata Nadia dalam konferensi pers yang disiarkan Kementerian Kesehatan RI, Selasa (4/5/2021).

"Dalam keadaan ini, walaupun harus kita lihat lebih lanjut, tetapi angka kematian yang terus meningkat secara signifikan ini tentunya menjadi kewaspadaan kita untuk berhati-hati apakah varian atau mutasi virus inilah yang menyebabkan terjadinya hal ini," lanjutnya.

Nadia kembali mengimbau agar masyarakat patuh terhadap aturan pemerintah terkait larangan mudik. Berkaca dari pengalaman sebelumnya dan yang terjadi di negara tetangga, kasus COVID-19 bisa meledak dengan cepat apabila terdapat pelonggaran protokol kesehatan.


(fds/up)

Diterbitkan di Berita

Thea Fathanah ArbarJakarta, CNBC Indonesia - Kasus corona kembali melonjak di Malaysia. Kementerian Kesehatan Malaysia mengatakan unit perawatan intensif (ICU) di rumah sakit pemerintah di sekitar wilayah Lembah Klang kehabisan tempat tidur.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan, Tan Sri Noor Hisham Abdullah, mengatakan salah satu rumah sakit, yakni Rumah Sakit Sungai Buloh mendapat lebih dari 20 kasus rujukan ke ICU setiap hari dalam satu minggu terakhir. Akibatnya rumah sakit tersebut hampir kehabisan tempat tidur.

"Sebanyak 63 pasien ICU, dengan lebih dari 25 pasien kritis untuk diperiksa di bangsal umum dan unit gawat darurat dan lebih dari 20 kasus rujukan ke ICU setiap hari dalam satu minggu terakhir di Rumah Sakit Sungai Buloh," katanya dalam posting Facebook pada hari Minggu (2/5/2021), dikutip dari The Star.

Noor Hisham menambahkan bahwa Rumah Sakit Sungai Buloh akan meningkatkan kapasitas ICU dan tempat tidur perawatan kritis secara bertahap untuk mengimbangi peningkatan jumlah kasus.

Dalam serangkaian postingan, Noor Hisham menjelaskan bagaimana sistem perawatan kesehatan masyarakat berjuang untuk menangani beban kasus Covid-19 yang kritis.

Dia mengatakan enam rumah sakit yang mengalokasikan tempat tidur di ICU dan pusat perawatan kritis untuk merawat pasien Covid-19 telah mencapai ambang kewaspadaan.

"RS Sungai Buloh, RS Kuala Lumpur, RS Ampang, RS Serdang, RS Selayang dan RS Tengku Ampuan Rahimah sudah over 70% kapasitasnya bahkan ada yang hampir mencapai 100%," ujarnya. "Dengan kapasitas ICU Universiti Malaya Medical Centre, kapasitas tempat tidur ICU sekarang lebih dari 50%."

Noor Hisham mengatakan rumah sakit di Lembah Klang juga terpaksa mengurangi atau menunda operasi dan prosedur elektif lainnya untuk memprioritaskan perawatan bagi pasien Covid-19.

Ia mengatakan langkah itu juga akan memungkinkan petugas kesehatan dimobilisasi ke daerah kritis untuk mengatasi kasus Covid-19.

"Kementerian Kesehatan akan bekerja sama dengan sektor swasta untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur bagi pasien kritis.

Kami juga akan mengupayakan layanan mereka untuk merawat pasien non-Covid-19 di rumah sakit swasta di mana biayanya akan ditanggung oleh pemerintah dengan tarif yang disepakati," katanya, seraya menambahkan bahwa langkah tersebut telah dilakukan sejak gelombang kedua infeksi tahun lalu.

Selain itu, Noor Hisham mengatakan Kementerian Kesehatan mulai menyediakan peralatan seperti ventilator tahun lalu, memungkinkan rumah sakit meningkatkan kapasitasnya saat dibutuhkan.

Malaysia kini tercatat memiliki 415.012 kasus positif, dengan 1.533 kasus meninggal, dan 383.140 berhasil sembuh, menurut data Worldometers per Senin (3/5/2021).

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Keyakinan yang tertanam dalam pada sihir membayangi misinformasi tentang Covid-19 di Papua Nugini, memperparah potensi bencana kesehatan di negara yang bersebelahan dengan provinsi Papua tersebut.

Pemerintah Indonesia mewaspadai lonjakan kasus di Papua Nugini dan sementara waktu menutup perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

Ketika negara itu bertempur dengan apa yang dikatakan para ahli sebagai lonjakan eksponensial kasus virus corona, kekhawatiran akan kematian yang tidak dapat dijelaskan memiliki konsekuensi yang mengerikan.

Sanguma - kata lokal yang merujuk pada ilmu gaib - umum di negara-negara di Samudra Pasifik. Ini adalah tradisi yang pada dasarnya tak berbahaya, tetapi memiliki sisi gelap.

"Beberapa minggu yang lalu, seorang petugas kesehatan di fasilitas pedesaan meninggal karena Covid dan istri serta putrinya mengalami siksaan karena keyakinan pada sihir, dan kemudian mereka terkonfirmasi positf Covid juga," jelas Justine McMahon, direktur Care International di Papua Nugini, sebuah badan amal pembangunan.

"Sihir pasti memengaruhi beberapa sikap yang dimiliki orang-orang." Ilmu hitam berkelindan dalam pusaran konspirasi, kecurigaan dan rumor yang memperparah salah satu keadaan darurat kesehatan masyarakat terbesar di Papua Nugini.

"Informasi yang salah menyebar lebih cepat daripada virus. Ada tingkat skeptisisme yang tinggi terhadap vaksinasi," kata Jonathan Pryke, direktur Program Kepulauan Pasifik di Lowy Institute, sebuah lembaga kajian yang berbasis di Sydney.

"Media sosial benar-benar memicu disinformasi dan ketidakpercayaan terhadap vaksin."

Pasokan vaksin AstraZeneca yang didistrubisikan oleh program vaksin global Covax diharapkan bisa diberikan dalam beberapa hari.

 

Papua Nugini, covid

Perdana Menteri Papua Nugini James Marape telah mendapatkan vaksin. AFP

 

Ahli meragukan angka resmi pemerintah

Hanya ada 11.000 kasus dan 107 kematian akibat Covid-19 yang tercatat di Papua Nugini, menurut pusat sumber data virus corona Universitas John Hopkins AS.

Bagaimanapun, para ahli yang berpengalaman meragukan bahwa angka-angka itu adalah cerminan akurat dari krisis kesehatan masyarakat di Papua Nugini.

Sebab, terindikasi adanya tingkat pengujian yang rendah, pasien yang terinfeksi namun tidak mendapat perawatan medis, dan kematian yang tidak diidentidikasi dengan virus.

"[Kasus] covid melonjak secara eksponensial sejak Natal. Ini sangat buruk," kata Pryke kepada BBC.

"Sistem kesehatan begitu tegang hingga mencapai titik puncak sehingga benar-benar tidak dapat menangani guncangan. Statistik resmi secara dramatis meremehkan seberapa parah tantangannya.

"Satu-satunya hal yang benar-benar melindungi Papua Nugini dari krisis ini adalah bahwa mereka memiliki populasi yang sangat muda. Jadi banyak orang yang jatuh sakit cepat pulih."

Justine McMahon tinggal di Goroka, ibu kota dari Provinsi Eastern Highlands di Papua Nugini.

Dia melihat tanda-tanda berpuas diri yang mengkhawatirkan, bahkan di antara guru dan pekerja medis.

"Banyak dari orang-orang itu juga menyebarkan informasi yang salah. Orang-orang sebenarnya harus menanggapi ini dengan serius," katanya.

"Hanya sedikit orang yang mengikuti tindakan pencegahan [kesehatan masyarakat]. Ada banyak ambivalensi. Ada banyak yang benar-benar meragukan apakah virus itu mempengaruhi orang, jadi itu perjuangan yang nyata."

 

Papua Nugini, covid

Justine McMahon dari Care International mengatakan disinformasi adalah suatu masalah di Papua Nugini. CARE INTERNATIONAL

 

5.000 tenaga medis untuk 10 juta populasi penduduk

Ketika Profesor William Pomat, direktur Institute for Medical Research di Papua Nugini, mengalami nyeri dada, masalah pernapasan, dan kepanikan yang meningkat, dia mengenali ini sebagai tanda-tanda infeksi Covid-19.

"Ketika Anda merasa sesak atau dada Anda sesak, Anda berpikir: apakah saya akan menjadi bagian dari statistik? Jadi semua itu menakutkan," katanya kepada BBC.

"Secara mental itu memengaruhi Anda ketika tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya saat Anda menjalani tahap infeksi yang berbeda. Usia saya akan menginjak 60 tahun, jadi itu membuat Anda khawatir."

Setelah 14 hari dalam isolasi, dia pulih dan kembali bekerja di garis depan. Tapi perjuangan melawan pandemi tampaknya tidak adil.

 

Papua Nugini, covid

Kasus virus corona di Papua Nugini terus melonjak sejak Januari. AFP

 

Diperkirakan ada 5.000 tenaga kesehatan di PNG untuk populasi 10 juta orang.

Negara itu juga didera oleh penyakit menular lainnya, seperti tuberkolosis dan malaria.

Selain itu, Papua Nugini juga memiliki tingkat HIV yang mengkhawatirkan, serta kematian bayi dan ibu. Covid-19 menambah tekanan pada sistem medis yang rapuh.

"Ini akan membuat penyakit lain menjadi lebih buruk jika kita melanjutkan cara yang kita lakukan dengan petugas kesehatan yang terinfeksi [dengan virus corona] terpaksa sementara menjauh dari pekerjaan, dan membiarkan semua penyakit menular lainnya seperti tuberkulosis dan malaria terus lepas kendali," ujar Pomat memperingatkan.

 

Indonesia perketat perbatasan

Covid-19 telah teridentifikasi di seluruh 22 provinsi di Papua Nugini. Belum jelas mengapa kasusnya mengalami pelonjakan.

Varian baru virus corona kemungkinan telah melintasi perbatasan darat dengan Indonesia.

Menteri Kesehatan Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mewasdapai tingginya kasus Covid-19 di Papua Nugini dengan "memperingatkan agar masyarakat Papua tidak sering menyeberang ke Papua Nugini".

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Papua telah menutup perbatasan Indonesia-Papua Nugini untuk sementara waktu.

"Perbatasan RI-PNG kini sudah kami tutup, namun pasti ada yang menyeberang, sehingga diminta untuk sementara waktu ini tinggal di tempatnya masing-masing," kata Wakil Gubernur (Wagub) Papua, Klemen Tinal, seperti dikutip dari kantor berita Antara (15/4).

Selain itu, jalur-jalur nonformal yang menjadi akses di perbatasan Indonesia-Papua Nugini diperketat guna mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Hingga saat ini, belum ada pagar pembatas ataupun pos lintas batas pada jalur-jalur nonformal tersebut.

Seperti dikutip dari kantor berita Antara, Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Luar Negeri (BPKLN) Provinsi Papua, Suzana Wanggai, mengatakan ke depan pihaknya "akan membangun pagar dan pos lintas batas di perbatasan agar warga yang keluar masuk dapat terpantau dengan baik"

Terlepas dari kondisi perbatasan Indonesia dan papua, mungkin ada penjelasan yang lebih sederhana mengapa terjadi lonjakan kasus di Papua Nugini. "Kami menjadi terlena dan tidak lagi memakai masker," kata Prof Pomat.

"Dalam hal kepemimpinan, banyak dari kita sama bersalahnya dengan orang normal." Anggota Parlemen Richard Mendani, yang berusia 53 tahun, telah meninggal karena virus tersebut, bersama dengan setidaknya dua hakim.

 

Papua Nugini, covid

Papua Nugini mencatat hanya 11.000 kasus dan 107 kematian akibat virus corona. Namun angka sebenarnya diprediksi lebih tinggi. CARE INTERNATIONAL

 

Saschveen Singh, penasihat penyakit menular tropis untuk Medecins Sans Frontieres, baru-baru ini tiba di Port Moresby, ibu kota Papua Nugini. "Infeksi komunitas cukup merajalela," katanya kepada BBC.

"Pengujian yang lambat terjadi di provinsi-provinsi. Kami tidak yakin apa yang akan terjadi dalam beberapa pekan mendatang, tetapi kami hanya perlu waspada dan bersiap untuk potensi lonjakan."

Semua hal ini sedang berlangsung di depan pintu Australia.

Provinsi di bagian barat Papua Nugini hanya berjarak 4 km dari pulau-pulau Australia di Selat Torres, dan keleluasaan bergerak diperbolehkan berdasarkan perjanjian perjanjian.

"Merupakan kepentingan nasional Australia untuk melakukan segala kemungkinan untuk memastikan bahwa Papua Nugini memiliki sistem kesehatan dan masyarakat yang menangani krisis ini sebaik mungkin," kata Jonathan Pryke dari Lowy Institute.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Seorang dokter kenamaan yang menentang vaksin virus corona dan dikenal sebagai pendukung teori konspirasi meninggal dunia setelah mengidap Covid-19.

Stephen Karanja, demikian nama dokter tersebut, meninggal dunia hari Kamis (29/04) saat dirawat di satu rumah sakit swasta di ibu kota Kenya, Nairobi.

Semasa hidupnya, Dr Karanja adalah ketua asosiasi dokter Katolik Kenya. Di organisasi ini, dia digambarkan sebagai "dokter pejuang sejati".

Dia tidak setuju dengan suntikan vaksin untuk menekan pandemi Covid-19 dengan mengatakan "vaksinasi sama sekali tak diperlukan". Penyebaran Covid-19, menurutnya, bisa ditekan "cukup dengan mengenakan masker".

Media di Kenya memberitakan Dr Karanja—yang merupakan dokter spesialis kandungan—menuduh pemerintah "tidak mengeluarkan informasi yang akurat terkait infeksi Covid-19".

Ia mengeklaim Covid-19 bisa diatasi dengan "obat biasa dan murah yang tersedia di pasar". Ia juga mengatakan, Covid-19 "bisa dilawan dengan menghirup uap air".

 
Vaksin Covid-19

Menurut Dr Karaja vaksin 'tidak diperlukan' untuk melawan pandemi Covid-19. REUTERS

 

Disebutkannya, pemerintah "bisa mencegah orang-orang jatuh sakit, bisa menekan anggaran, dan bahkan mencegah kematian seandainya memanfaatkan obat-obat preventif ketika melawan Covid-19".

Namun klaim ini dengan cepat dibantah oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Konferensi Uskup Katolik Kenya (KCCB).

Dalam satu pernyataan, KCCB mengatakan, "Kami ingin menekankan bahwa vaksin Covid-19 sangat penting untuk melindungi kita semua ... selain [protokol kesehatn] seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker."

Mereka menyebut klaim Dr Karanaja "keliru dan menyebabkan ketidakpastian".

Dalam video yang beredar di media sosial pada akhir Maret, Dr Karanja mengkritik penerapan lockdown atau karantina wilayah di lima wilayah di Kenya.

Ia mengatakan karantina wilayah "tidak efektif dari sisi medis".

"Ketika Anda mengkarantina orang, Anda sebenarnya tidak sedang mengatasi penyakit. Ini tak berguna, berbahaya, dan harus dicabut sesegera mungkin," kata Dr Karanja seperti dikutip media Kenya.

Dr Karanja juga dikenal sebagai pendukung teori konspirasi bahwa pandemi Covid-19 "sengaja disebar sebagai alat untuk mengurangi jumlah penduduk".

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Bio Farma menyatakan siap untuk memasok vaksin COVID-19 antara 16-18 juta dosis untuk bulan Mei 2021. Hal ini menyusul setelah kembali diterimanya pengiriman kesepuluh 6 juta bulk vaksin Sinovac pada tanggal 30 April 2021.
 
Sekretaris Perusahaan Bio Farma sekaligus Juru Bicara Vaksin Covid-19, Bambang Heriyanto, mengatakan bahwa kedatangan bulk sebanyak enam juta dosis pada hari ini, akan menambah pasokan bulk vaksin menjadi 65.500.000 juta dosis vaksin Covid-19.
 
"Dan dari jumlah tersebut akan dikonversi menjadi produk jadi sebanyak kurang lebih 52.800.000 juta dosis yang diperkirakan akan rampung pada 22 Mei," kata Bambang dalam keterangannya yang dikutip kumparan, Minggu (2/5).
 
Adapun yang saat ini sedang diproses di fasilitas fill and finish di Bio Farma, masih menggunakan persediaan supply bulk minggu ke-3 bulan April 2021 yaitu sebanyak 59.500.000 juta dosis. Ia akan menjadi finish produk sebanyak 46.000.000 - 47.000.000 dosis.
 
"Sampai dengan 30 April jumlah vaksin COVID-19 yang sudah berhasil diproduksi sebanyak 41.000.000 dosis," jelasnya.
 
Kabar Baik, Bio Farma Tambah Stok 18 Juta Dosis Vaksin COVID-19 (1)
Gedung Bio Farma di Bandung. Foto: Shutter Stock
 
Untuk pendistribusian vaksin COVID-19, akan dilakukan setelah mendapatkan lot release dari Badan POM. Terhitung tanggal 28 April 2021, jumlah vaksin COVID-19 yang sudah terdistribusi sebanyak hampir 22.500.000 juta dosis.
 
Jumlah ini diluar vaksin CoronaVac sebanyak 3.000.000 dosis dan vaksin AstraZeneca (Covax) sebanyak 1.113.600 dosis yang sudah didistribusikan sebelumnya.
 
“Bio Farma akan terus mendistribusikan vaksin Covid-19 ke seluruh provinsi di Indonesia sesuai dengan instruksi dari Kementerian Kesehatan RI. Sampai dengan tanggal 30 April sudah lebih dari 25.000.000 dosis vaksin COVID-19 yang terdistribusi ke seluruh provinsi di Indonesia
 
"Dan akan bertambah sebanyak 16.000.000 -18.000.000 dosis pada bulan Mei mendatang," tutup Bambang.
Diterbitkan di Berita
KONTAN.CO.IDJAKARTA. Indonesia kembali menerima vaksin Covid-19 sejumlah 6.000.000 dosis bahan baku vaksin (bulk) dari Sinovac Biotech Ltd. dan 482.400 dosis vaksin jadi (vial) dari Sinopharm China National Pharmaceutical Group Corporation, Jumat (30/4/) siang.

“Pada hari ini, tadi telah tiba vaksin COVID-19 sejumlah 6.000.000 dosis dalam bentuk bahan baku/bulk yang berasal dari Sinovac Biotech Ltd. dan sejumlah 482.400 dosis vaksin dalam bentuk jadi/vial dari Sinopharm China National Pharmaceutical Group Corporation,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten dilansir dari laman Setkab.

Johnny mengungkapkan, dengan kedatangan vaksin tahap ke-10 ini, Indonesia sudah menerima sejumlah 65.500.000 dosis vaksin bulk Sinovac dan 8.448.000 dosis vaksin dalam bentuk jadi atau finished product dari Sinovac, Sinopharm, dan COVAX GAVI Facility AstraZeneca.

Vaksinasi nasional adalah salah satu upaya dalam mencapai kekebalan kelompok (herd immunity). Di saat bersamaan, sambungnya, pemerintah akan terus melakukan 3T; testing, tracing, dan treatment.

Menkominfo juga berharap, masyarakat selalu disiplin melakukan protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer.

Ditambahkan Johnny, saat ini terdapat beberapa negara yang sedang menghadapi gelombang kedua (second wave) dan bahkan gelombang ketiga (third wave) penularan Covid-19 yang mengakibatkan kembali terjadinya lonjakan kasus positif Covid-19.

“Untuk itu kita harus bersama-sama berupaya agar kejadian tersebut tidak terjadi di Indonesia. Meskipun vaksinasi telah dilakukan, kita tidak boleh lengah. Kita harus tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan untuk keselamatan seluruh masyarakat Indonesia,” sambungnya.

Berkaitan dengan upaya pencegahan peningkatan penularan Covid-19 tersebut. Pemerintah melalui Surat Edaran Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021, telah menetapkan peniadaan mudik Hari Raya Idulfitri tahun 1442 Hijriah dari tanggal 6 hingga 17 Mei 2021.

Di samping itu, sesuai dengan Adendum Surat Edaran tersebut, upaya pengetatan persyaratan Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN) juga diterapkan sejak dua pekan sebelum dan sepekan setelah masa peniadaan mudik, yakni 22 April-5 Mei 2021 dan 18-24 Mei 2021.

“Upaya-upaya ini diharapkan tidak hanya dapat memutus rantai penyebaran Covid-19, namun juga mampu mengantisipasi potensi peningkatan penularan kasus antardaerah. Sekali lagi, kita tidak boleh lengah demi melindungi diri, melindungi keluarga, dan melindungi seluruh masyarakat,” kata Johnny.

Lebih lanjut, Menkominfo menyampaikan saat ini dunia tidak hanya berupaya keras menangani pandemi Covid-19, tetapi juga sedang menghadapi infodemik.

“Infodemik semakin marak di tengah-tengah ruang informasi publik dan menyebar dengan sangat mudah dan cepat di media sosial, di media digital,” imbuhnya.

Secara spesifik, Johnny menyampaikan hingga keterangan pers ini dilakukan, Kementerian Komunikasi dan Infomastika telah mencatat dan telah melabeli sebanyak 1.556 hoaks terkait Covid-19, serta 177 hoaks terkait vaksin Covid-19.

Pemerintah terus mengimbau masyarakat agar selalu merujuk pada sumber-sumber informasi yang akurat dan dapat dipercaya, baik dari World Health Organization (WHO), pemerintah Indonesia dalam hal ini KPC PEN (Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional), Kementerian Kesehatan, dan kementerian atau lembaga terkait ataupun para ahli di bidangnya.

“Sekali lagi, saya ingin mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan 3M; memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer demi melindungi diri, melindungi keluarga, melindungi negeri kita dan mengakhiri pandemi Covid-19,” Pungkas Menkominf.

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Krisis pandemi Covid-19 di India nampaknya sudah semakin parah setiap harinya. 

Hal tersebut terlihat pada sebuah masjid di India yang berubah menjadi sebuah rumah sakit darurat pasien Covid-19. Masjid tersebut adalah masjid Jahangipura.

Melansir dari Arab News, Jumat (30/4/2021) kondisi tersebut dilakukan oleh komunitas Muslim India yang terhitung minoritas. Fasilitas di dalamnya terdapat 50 kasur medis tampak bersusun rapi memenuhi aula. 

“Situasi Covid-19 di kota tidak baik dan orang-orang tidak mendapatkan tempat tidur di rumah sakit, Jadi kami memutuskan untuk membuka fasilitas untuk memberikan bantuan kepada orang-orang," ujar Irfan Sheikh, pengawas masjid.

"Dalam beberapa hari setelah fasilitas ini dibuka, semua 50 tempat tidur terisi. Anda bisa membayangkan tekanan seperti apa yang dialami rumah sakit," tambahnya. 

Bahkan rencananya 50 tempat tidur lagi akan ditambahkan, jika pasokan oksigen dapat diandalkan. 

Tidak hanya masjid Jahangipura,  Masjid Darool Uloom di kota yang sama mereka juga membuka pintunya untuk 142 tempat tidur yang dilengkapi dengan oksigen dengan 20 perawat dan tiga dokter yang berada di lokasi.

"Kami bisa membuat fasilitas Covid-19 dengan 1.000 tempat tidur, tapi pasokan oksigen menjadi kendala," kata Ashfaq Malek Tandalja, anggota komite pengelola masjid, kepada Arab News.

Diketahui Masjid Jahangirpura terletak di negara bagian barat kota Vadodara Gujarat. Negara bagian asal Perdana Menteri Narendra Modi ini adalah salah satu yang paling parah terkena dampak di India.

Di Gujarat, hampir 1.500 kasus dan lebih dari 150 kematian dilaporkan pada hari Selasa. Untuk keseluruhan, India melaporkan 323.144 infeksi baru dengan total lebih dari 17.6 juta kasus.

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Ketua Asian Pacific Society of Respirology Erlina Burhan turut menanggapi kebijakan boleh melepas masker di Amerika Serikat (AS) bagi yang sudah divaksin corona. Katanya, tingkat kepesertaan vaksinasi COVID-19 yang relatif tinggi. 
 
"Kalau saya ingin menjelaskan kondisi Amerika dan Indonesia itu berbeda. Pertama, mereka sudah mencapai 'herd immunity' vaksinasi sudah cukup banyak di atas 100 juta yang divaksin karena mereka punya fasilitas itu semua Pfizer dan Moderna," kata Erlina dikutip dari Antara, Kamis (29/4).
Dokter spesialis paru di Rumah Sakit Persahabatan itu mengatakan kemampuan memproduksi vaksin secara mandiri di Amerika Serikat telah membuat program vaksinasi berjalan optimal.
 
"Mereka fokus pada rakyatnya dulu, makanya kita belum dapat Pfizer dan Moderna mereka sudah capai 'herd immunity' yang diharapkan terjadinya perlambatan, melandai dan ke depannya juga menjadi negara yang endemis saja," ujarnya.
 
Atas dasar itu, kata Erlina, otoritas terkait di Amerika Serikat memiliki wacana untuk mengizinkan rakyatnya melepas masker di ruang terbuka, kecuali saat kerumunan.
 
"Mungkin Amerika outbound olahraga di luar. Tapi tidak boleh ditiru di Indonesia, karena capaian vaksinasi kita belum banyak, jadi yang punya kekebalan baru sedikit," katanya.
 
 
Ahli: Boleh Lepas Masker di AS Jangan Ditiru RI, Cakupan Vaksinasi Masih Rendah (1)
Presiden AS Joe Biden melepas masker saat melonggarkan penggunaan masker. Foto: Kevin Lamarque/Reuters
Indonesia baru memungkinkan menerapkan kebijakan melepas masker manakala sudah sampai pada target kekebalan komunal atau 'herd immunity'.
 
Meski demikian, Erlina mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap penularan COVID-19 mengingat virus SARS-CoV-2 berkembang dinamis.
 
"Dulu awalnya hanya yang sakit yang pakai masker. Sekarang semua orang pakai masker baik yang sakit maupun yang tidak. Jadi ini jangan buru-buru meniru," katanya.
 
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperbarui panduan pemakaian masker dan mengkonfirmasi orang yang telah disuntik dua dosis vaksin COVID-19 tak perlu lagi bermasker di luar ruangan kecuali berada dalam kelompok besar orang.
 
Sementara itu, mereka yang belum divaksinasi penuh harus tetap memakai masker dalam situasi tersebut.
Diterbitkan di Berita

Depok, IDN Times - Kasus penularan COVID-19 di Kota Depok masih terjadi dan kini klaster pesantren kembali mengalami peningkatan. Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Depok telah menerima informasi adanya penularan yang terjadi di kalangan pesantren.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Depok, Dadang Wihana membenarkan adanya peningkatan dan penularan yang terjadi di sejumlah pesantren di Kota Depok. Kembalinya klaster pesantren telah ditindaklanjuti pihaknya untuk dilakukan mitigasi.

"Memang benar pada minggu ini terjadi peningkatan pada klaster pesantren," ujar Dadang, Selasa (27/4/2021).

 

1. Berasal dari empat pesantren

Klaster Pesantren di Depok Muncul Lagi, 76 Santri Positif COVID-19
Ilustrasi santri di pondok pesantren. ANTARA FOTO/Fauzan

 

Dadang menjelaskan, meningkatnya klaster pesantren berasal dari empat pesantren yang ada di Kota Depok. Dari hasil klarifikasi Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Depok, puluhan santri telah terkonfirmasi positif COVID-19.

"Totalnya ada 76 orang terkonfirmasi dari empat pesantren," ucap Dadang.

Dadang mengungkapkan, empat pesantren tersebut meliputi Pesantren ZZS sebanyak 25 kasus, pesantren MD sebanyak 46 kasus, Pesantren BQ sebanyak empat kasus, dan pesantren A sebanyak satu kasus. Ke empat pesantren tersebut telah dilakukan mitigasi untuk mengetahui sumber kasus penularan COVID-19.

"Kita sedang melakukan mitigasi untuk men-tracing kasus penularan pada klaster pesantren," ucap Dadang. 

 

2. Melakukan swab PCR mandiri dan ditangani Pemkot Depok

Klaster Pesantren di Depok Muncul Lagi, 76 Santri Positif COVID-19
Ilustrasi santri (IDN Times/Galih Persiana)
 

Dadang menuturkan, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Depok, telah melakukan mitigasi dalam melakukan swab PCR. Namun untuk pesantren ZZS sudah melakukan swab PCR secara mandiri.

"Kalau pesantren inisial ZZS setelah mereka menemukan adanya penularan melakukan swab PCR secara mandiri dan dua orang melakukan perawatan di rumah sakit," terang Dadang.

Dadang mengatakan, selain melakukan penanganan perawatan di rumah sakit sebanyak dua orang, pihak pesantren telah memberlakukan isolasi mandiri kepada 20 orang lainnya. Penanganan isolasi mandiri tersebut dilakukan di lingkungan pesantren ZZS.

"Mereka yang melakukan isolasi mandiri tidak diperkenankan untuk keluar dari lingkungan pesantren selama 14 hari," ucap Dadang. 

 

3. Total keseluruhan capai 485 kasus, kurang disiplin protokol kesehatan

Klaster Pesantren di Depok Muncul Lagi, 76 Santri Positif COVID-19
Dadang Wihana saat ditemui usai mengikuti apel pengamanan Pilkada di Lapangan Balai Kota Depok, Selasa (8/12/2020) (IDN Times/Dicky)

 

Dadang mengatakan, selama pandemik COVID-19 Pemerintah Kota Depok melalui Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Depok, melakukan monitoring terhadap seluruh pesantren di Kota Depok.

Menurutnya dari awal terjadinya pandemik COVID-19 hingga saat ini, sudah ada ratusan santri yang terkonfirmasi COVID-19. "Totalnya keseluruhannya mencapai 485 kasus," kata Dadang.

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Depok tidak hanya melakukan pencatatan kasus terkonfirmasi di Kota Depok, pihaknya juga mencatat santri asal Depok yang terkonfirmasi akibat penularan COVID-19 yang berada di tempatnya mondok di luar Kota Depok.

"Untuk santri yang mondok di luar Kota Depok mencapai 45 orang," terang Dadang.

Dadang menilai, kembalinya terjadi klaster pesantren diakibatkan kurang disiplinnya protokol kesehatan. Untuk itu, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Depok, telah mengarahkan dan meminta kepada pengurus pesantren untuk melakukan disiplin protokol kesehatan.

"Apalagikan sesuai SKB empat menteri pesantren ini kan diperbolehkan belajar mengajar di dalam pesantren, sebaiknya protokol kesehatan dapat lebih di perketat," ujar Dadang.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 3,8 juta dosis vaksin virus corona (covid-19) asal Inggris, AstraZeneca tiba di Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Senin (26/4) malam.

Pengiriman vaksin kali ini melalui skema kerjasama multilateral Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI) COVAX Facility. Fasilitas tersebut merupakan kerjasama pengembangan vaksin antara Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan GAVI.

"Alhamdulillah dengan mengucap puji syukur kepada Allah pada malam ini Indonesia menerima batch kedua vaksin AstraZeneca sebesar 3.852.000 dosis," kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dalam tayangan yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (26/4).

Sebanyak 3,8 juta dosis vaksin tersebut melengkapi pengiriman vaksin AstraZeneca batch pertama pada 3 Maret lalu yakni sebesar 1,1 juta dosis. Dengan demikian, kata Retno, total vaksin AstraZeneca yang telah diterima Indonesia adalah 4.965.600 dosis vaksin secara gratis. 

Setibanya di Bandara Soetta, jutaan vaksin itu lantas akan dibawa ke kantor PT Bio Farma (Persero) di Bandung untuk proses lebih lanjut. "Jika kita gabungkan vaksin dari jalur multilateral dan bilateral sejauh ini vaksin yang telah tiba di Indonesia berjumlah 67.465.600 dosis," ucapnya. 

Keputusan itu diambil karena KIPI pengentalan darah hanya meliputi sebagian kecil dari penerima vaksin AstraZeneca. Sehingga, kejadian itu disebut sangat jarang terjadi.

BPOM diketahui telah menyatakan vaksin AstraZeneca masih bisa digunakan di Indonesia meskipun sejumlah negara di Eropa mulai menangguhkan penggunaan vaksin dari Inggris itu karena Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) pengentalan darah.

Perihal program vaksinasi, pemerintah akan melakukan vaksinasi Covid-19 terhadap 181,5 juta orang untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Dengan memperhitungkan dua dosis vaksin untuk satu orang, serta mengikuti petunjuk (guide line) WHO agar mempersiapkan cadangan sebanyak 15 persen, maka Indonesia membutuhkan sebanyak 426 juta dosis vaksin.

(fey/pris)

Diterbitkan di Berita