Merdeka.comSejak April lalu India mencatat sekitar 300.000 kasus positif Covid-19 per hari dengan kematian mencapai angka tertinggi di dunia hingga 3.300 kematian dalam satu hari.

Laman Sputnik News melaporkan, Minggu (23/5), ribuan orang kini tampak melanggar aturan protokol kesehatan karena berkerumun dalam antrean di Desa Krishnapatnam di Andhra Pradesh untuk mendapatkan racikan "obat ajaib" yang dibuat oleh seorang tabib Ayurvedic.

Pria tua bernama B Anandaiah mengklaim obat racikannya efektif menyembuhkan Covid-19. Namun hingga kini belum ada bukti ilmiah yang membenarkan klaim itu.

Anandaiah mengatakan obat itu dia buat berdasarkan pengalamannya di dunia pengobatan. Karena percaya dengan omongan Anandaiah ribuan orang pasien positif Covid-19 mengantre di bangsal Nellore untuk mendapatkan obat tersebut.

Tak lama setelah pembagian gratis obat itu dimulai, Kepala Menteri Negara Bagian Andhra Pradesh Y.S Jagan Mohan mendesak segera dilakukan rapat dan penelitian tentang obat tersebut.

Setelah rapat, Wakil Kepala Menteri A.K.K Srinivas mengatakan pemerintahan pusat memutuskan mengirimkan obat tersebut ke Dewan Pusat Penelitian Medis (ICMR) untuk meneliti efektivitasnya.

Ribuan video beredar di media sosial memperlihatkan orang-orang mengantre untuk mendapatkan "obat ajaib" itu.

Dalam salah satu video seorang pria tampak tak kuasa lagi berdiri dan pingsan karena kadar oksigen di tubuhnya sangat rendah namun ajaibnya dia mampu kembali berdiri setelah meminum obat itu.

Namun pejabat kesehatan India P.V Ramesh yang sekaligus menjabat menteri khusus negara bagian tersebut menyebut obat itu "resep menuju bencana."

"Pemerintah harus menghentikan epidemi takhayul ini. Mereka yang membuat dan memberikan obat ini melanggar Undang-Undang Farmasi 1948 dan Obat-obatan 1954," kata dia.

Berikut video ketika orang yang pingsan bangun lagi setelah diberi "obat ajaib" itu:

 

https://twitter.com/itsDKupdated/status/1395748407885459456

[pan]

 

Diterbitkan di Berita

CILACAP, iNews.id - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap menutup pelayanan poli dan layanan rawat jalan selama seminggu mulai, Senin (24/5/2021).

Ini lantaran 32 tenaga kesehatan (nakes) terpapar Covid-19.   Direktur RSUD Cilacap, Moch Ichlas Riyanto mengatakan, pihaknya tetap membuka pelayanan kegawatdaruratan. Yang ditutup hanya pelayanan rawat jalan dan poli yang ditutup.

"Pelayanan poli dan rawat jalan ditutup mulai Senin sampai sepekan karena ada 32 nakes yang terpapar Covid-19," kata Moch Ichlas Riyanto dikutip dari purwokerto.inews.id, Sabtu (22/5/2021).

Sebelumnya sebanyak 32 tenaga kesehatan (nakes) RSUD Cilacap, terlibat dalam penanganan anak buah kapal (ABK) MV Hilma Bulker yang ternyata terpapar Corona varian baru India B1617.

Ke-32 nakes yang terpapar tersebut, sembilan di antaranya dirawat di RSUD Cilacap. Sementara sisanya isolasi mandiri.

250 Relawan Diterjunkan sebagai Tenaga Perawat di RS Darurat Wisma Atlet "Sebagian besar nakes yang terpapar kontak erat ABK yang terpapar virus varian baru India B1617," kata Ichlas.

Pemkab Cilacap sebelumnya memastikan bahwa virus Covid-19 yang menginfeksi anak buah kapal (ABK) MV Hilma Bulker jenis varian baru India B1617.

Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji mengatakan, berdasarkan genome sequencing, varian virus covid-19 yang menginfeksi ABK adalah varian India B1617.

"Berdasarkan genome sequencing yang dilakukan Balitbangkes Kemenkes  viru yang menginfeksi ABK adalah B1617. Pemerintah telah ambil langkah-langkah," katanya

Diterbitkan di Berita

Kendati demikian, negara-negara dunia masih harus menghadapi tantangan terhadap akses vaksin yang adil dan merata bagi semua negara. Oleh karena itu, Kepala Negara mengajak para pemimpin negara dunia untuk melakukan langkah nyata.

"Saya harus kembali mengingatkan kita semua bahwa kita hanya akan betul-betul pulih dan aman dari Covid-19 jika semua negara juga telah pulih. No one is safe until everyone is," ujarnya saat berpidato secara virtual dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kesehatan Global, pada Jumat (21/05/21) malam. 

Jokowi mengungkapkan, bahwa di saat beberapa negara mulai melakukan vaksinasi bagi kelompok berisiko rendah, yakni anak-anak dan usia belia, hanya sebanyak 0.3 persen pasokan vaksin global yang tersedia bagi negara berpenghasilan rendah.

Kesenjangan tampak menjadi semakin nyata saat 83 persen pasokan vaksin global telah diterima negara-negara kaya, sementara 17 persen sisanya diterima negara-negara berkembang di mana terdapat di dalamnya 47 persen populasi dunia.

"Untuk itu kita harus melakukan langkah nyata yaitu, dalam jangka pendek, kita harus mendorong lebih kuat lagi melalui skema Covax Facility. Ini merupakan bentuk solidaritas yang harus didorong dan dilipatgandakan khususnya dalam mengatasi masalah rintangan suplai," ujar Jokowi lebih lanjut. 

Adapun dalam jangka panjang, masyarakat global harus dapat melipatgandakan produksi vaksin untuk memenuhi kebutuhan global dan membangun ketahanan kesehatan. Hal tersebut tentunya memerlukan peningkatan kapasitas produksi secara kolektif melalui alih teknologi dan investasi.

"Jika isu kapasitas produksi dan distribusi vaksin tidak segera ditangani saya khawatir akan semakin lama kita dapat menyelesaikan pandemi ini," tambah Jokowi. 

Jokowi menyebut bahwa negara-negara anggota G-20 harus memberikan dukungan bagi peningkatan produksi dan kesetaraan akses vaksin bagi semua negara.

Berkaitan dengan hal tersebut, Indonesia mendukung penuh proposal TRIPS Waiver yang mengusulkan untuk sementara waktu melepaskan kewajiban dalam melindungi hak kekayaan intelektual terkait pencegahan, penanganan, atau pengobatan Covid-19.

Indonesia telah memutuskan untuk menjadi salah satu negara _co-sponsor_ proposal tersebut. Indonesia juga berharap agar negara-negara anggota G-20 lainnya dapat memberikan dukungan yang sama.

"Sebagai produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara, Indonesia siap untuk menjadi hub bagi peningkatan produksi vaksin di kawasan," kata Jokowi. 

Selain itu, negara-negara G-20 juga harus ambil bagian untuk membangun arsitektur ketahanan kesehatan global yang kokoh untuk dapat menghadapi ancaman serupa di masa mendatang dengan lebih baik. Oleh karenanya, kerja sama global menjadi sebuah keniscayaan.

"Prinsip-prinsip dalam Deklarasi Roma sangat penting untuk ketahanan kesehatan global. Namun, prinsip tersebut tidak akan berarti jika tidak diterapkan secara konkret. Implementasi adalah kunci dan dunia hanya bisa pulih serta menjadi lebih kuat jika kita melakukannya bersama," jelas Jokowi. 

Untuk diketahui, KTT Kesehatan Global merupakan salah satu pertemuan G-20 di bawah Presidensi Italia untuk tahun 2021. KTT ini dihadiri oleh kepala negara atau kepala pemerintahan G-20, negara undangan, serta pimpinan organisasi internasional.

KTT Kesehatan Global menghasilkan kesepakatan "Deklarasi Roma" yang berisikan prinsip kerja sama multilateral dan tindakan bersama untuk mencegah krisis kesehatan global di masa depan dengan komitmen untuk membangun dunia yang lebih sehat, aman, adil, dan berkelanjutan.

 

Diterbitkan di Berita

Untuk menghindari informasi yang keliru terkait vaksin ini, Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe, menjelaskan pentingnya masyarakat untuk mengetahui tentang vaksin merek AstraZeneca dengan lebih baik lagi. 

“Vaksin AstraZeneca secara umum merupakan vaksin yang aman dan efektif. Vaksin AstraZeneca bersama Sinovac dan Shinoparm sebelumnya sudah mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).

EUA ini merupakan kajian akademis yang bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, vaksin apapun yang telah mendapatkan EUA dari Badan POM bisa dipastikan keamanan dan efektivitasnya,” tegas Dirga, Kamis (20/5/2021).

Lebih lanjut Dirga mengungkapkan, penting untuk diketahui oleh masyarakat bahwa vaksin AstraZeneca merupakan vaksin yang  paling banyak digunakan di dunia. 

"Penggunaan vaksin AstraZeneca yang sudah disuntikan hingga saat ini mencapai puluhan juta dosis," ungkapnya. 

Hal lain yang perlu diketahui masyarakat adalah, vaksin yang sudah diberikan izin penggunaan secara luas, masih terus diawasi penggunaanya. Proses ini merupakan proses berkelanjutan yang mengedepankan prinsip kehati-hatian agar vaksin yang digunakan senantiasa aman di masyarakat. 

"Tentu proses evaluasi dan monitoring setelah mendapatkan EUA ini terus berjalan. Para ahli, Badan POM, dan Kementerian Kesehatan terus mengawal peredaran dan penggunaan vaksin ini di masyarakat," terangnya. 

Terkait dengan beberapa Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang masih diduga ada hubungannya dengan vaksin Astrazeneca, Dirga menegaskan bahwa reaksi pasca vaksinasi adalah hal yang wajar. 

"Ini menunjukkan bahwa vaksin bekerja karena vaksin memiliki zat antigen sehingga perlu proses pengenalan pada tubuh untuk membentuk antibodi. Secara keseluruhan, KIPI pada AstraZeneca masih bersifat ringan dan bisa ditangani," ujarnya. 

"Saat ini kita mendengar informasi beberapa kasus pembekuan darah abnormal yang disebut thrombosis yang dihubungkan dengan vaksin AstraZeneca.

Sejauh ini yang kita ketahui kejadian thrombosis ini amat sangat kecil yakni hanya 10 kasus dari 1 juta orang yang menerima vaksin AstraZeneca. Kondisi inipun masih bisa ditangani secara medis.

Para ahli saat ini terus mempelajari karakteristik kondisi thrombosis ini, namun dibandingkan dengan thrombosis akibat terinfeksi COVID-19, kejadian yang diakibatkan AstraZeneca sangat kecil.

Kesimpulannya, vaksin AstraZeneca aman dan manfaatnya jauh lebih besar daripada risikonya," tambahnya. Selain itu, Dirga mengatakan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menggunakan AstraZeneca. 

"Banyak negara di Eropa dan Asia yang sudah menggunakan AstraZeneca dan bisa dilihat bahwa laporannya berhasil menekan kasus baru.

Salah satu laporan menunjukkan bahwa setelah dosis pertama efektivitasnya sebesar 65 persen mampu mencegah penularan dan efektivitasnya untuk mencegah COVID-19 yang bergejala hingga 72 persen," lanjut Dirga 

Terakhir, Dirga mengajak masyarakat untuk tidak takut dan tidak ragu menggunakan vaksin AstraZeneca ataupun vaksin lain yang digunakan di Indonesia. 

"Kita tahu vaksin merupakan instrumen yang sangat penting untuk mengendalikan pandemi,” tutup Dirga.

Diterbitkan di Berita

KOMPAS.com - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, varian baru virus corona B.1.617 telah menular secara transmisi lokal di Indonesia.

Diberitakan Kompas.com, Kamis (20/5/2021), penularan varian mutasi ganda asal India ini kini tidak hanya terjadi karena imported case (dibawa dari luar negeri) saja. Meski demikian, Nadia menegaskan kejadian transmisi lokal ini bukan merupakan fakta baru.

Kasus penularan akibat varian B.1.617 satu WNI di Jakarta sudah terdata oleh Kemenkes. "Benar memang ada penularan secara transmisi lokal varian B.1.617 terhadap WNI di Jakarta. Tetapi ini bukan kasus baru," ujar Nadia, saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (20/5/2021).

"Ini masuk data dua kasus penularan Covid-19 mutasi B.1.617 yang tercatat di Jakarta. Satu kasus adalah WNA India dan 1 kasus WNI," lanjutnya.

Hingga saat ini, Kemenkes mencatat ada 10 kasus positif Covid-19 di Indonesia yang tertular virus corona varian B.1.617. Data ini berdasarkan pemantauan Kemenkes sejak Januari 2021 hingga 19 Mei 2021.

Nadia menegaskan, transmisi lokal yang menjangkiti satu WNI di Jakarta itu masuk ke dalam 10 kasus yang dicatat Kemenkes tersebut. B.1.617 variant of concern WHO Sebelumnya pada Senin (10/5/2021), WHO resmi mengklasifikasikan B.1.617 sebagai variant of concern yang menjadi perhatian dunia.

Ini karena sejumlah riset telah menunjukkan bahwa varian yang menjadi pemicu tsunami Covid-19 di India ini menyebar lebih banyak dari virus asli dan punya kemungkinan dapat menghindari perlindungan vaksin.

Dilansir dari The Straits Times, Senin (10/5/2021), WHO menyampaikan suatu varian Covid-19 dapat diklasifikasikan sebagai variant of concern jika menunjukkan setidaknya satu dari kriteria berikut:

  1. Lebih mudah menular
  2. Menyebabkan penyakit yang lebih parah
  3. Secara signifikan mengurangi netralisasi oleh antibodi
  4. Virus dapat mengurangi efektivitas pengobatan, vaksin atau diagnosis.

Gejala B.1.617 Dilansir The Independent, Rabu (19/5/2021), meski varian B.1.617 menyebar lebih cepat dari varian Covid-19 lain, hingga saat ini belum ada bukti yang memastikan bahwa varian tersebut lebih berbahaya dan vaksin dipastikan tidak efektif melawannya.

Demikian juga gejala utama terkait infeksi B.1.617 disebut mirip dengan gejala Covid-19 umumnya, yakni:

  1. Batuk terus menerus
  2. Suhu tinggi
  3. Anosmia, kehilangan indra penciuman dan perasa

Memang, orang yang sudah divaksinasi akan lebih terlindungi dari jenis virus corona yang menyebar lebih cepat.

Namun, jika masih banyak orang yang belum divaksin atau menolak untuk vaksin, varian yang lebih menular berpotensi mendatangkan bencana.

Penulis : Gloria Setyvani Putri


Diterbitkan di Berita
Ayunda Septiani - detikHealth Jakarta - Konsul Jenderal RI Mumbai Agus Prihatin Saptono mengungkap kondisi terkini di India. Sebelumnya, India mengalami ledakan kasus Corona yang tinggi dan melaporkan ratusan ribu kasus positif.

"Yang mungkin belum tersampaikan adalah yang sembuh, yang sembuh lebih dari 400 ribu jiwa, yang sembuh itu lebih dari 400 ribu. Tepatnya 11 Mei 2021 yang sembuh mencapai 422 ribu jiwa," jelas Agus dalam konpers virtual, rabu (19/5/2021).

"Nah jadi memang di sini yang selama ini tercermin yang terkena COVID, betul angka kasusnya tinggi, tetapi per hari ini sudah melandai. Dalam satu minggu terakhir ini diseluruh wilayah India sudah mulai menurun," tambahnya.

Per 17 Mei, kasus COVID-19 di India tercatat 281.386, turun dibandingkan pekan sebelumnya yang bahkan sempat mencapai 400 ribu kasus per hari.

Agus menyebutkan, pemerintah setempat menambah manajemen hunian rumah sakit dan langkah untuk penambahan jumbo isolation centers.

"Jadi di sini, kebijakan untuk tetap mempertahankan 6 jumbo COVID isolation center yang berada di 6 distrik Maharashtra," bebernya.

Penambahan kapasitas jumbo isolation center tersebut yang terdiri dari 3 ribu bed, dan toilet mandiri. Seribu bed dengan fasilitas oksigen dan 300 bed untuk ICU.

Selain itu, Agus juga mengatakan, semua negara bagian di India bisa melakukan tes PCR sebanyak 200 ribu swab test per hari.

Negara tersebut juga melakukan penyegelan kawasan atau rumah/hunian. Ketika ada yang terpapar Corona sekitar 5 orang langsung dilakukan penyegelan.

 (ayd/kna)
 
Diterbitkan di Berita

tagar.id  Rumah sakit di India telah melaporkan peningkatan "jamur hitam" yang ditemukan pada pasien Covid-19, oleh karena itu dokter memperingatkan orang-orang agar tidak menggunakan kotoran sapi dengan keyakinan itu akan menangkal virus corona.

Pemerintah India telah memberi tahu petugas medis untuk mewaspadai tanda-tanda mukormikosis pada pasien virus korona menyusul peningkatan kasus infeksi yang jarang tetapi berpotensi fatal.

Rumah sakit di India telah melaporkan peningkatan "jamur hitam" yang ditemukan pada pasien Covid-19 - karena dokter memesan orang-orang agar tidak menggunakan kotoran sapi dengan keyakinan itu akan menangkal virus.

Pemerintah India telah memberi tahu petugas medis untuk mewaspadai tanda-tanda mukormikosis pada pasien virus korona menyusul peningkatan kasus infeksi yang jarang tetapi fatal. "Dan salah satu alasannya adalah banyak dan banyak diabetes, dan banyak diabetes yang tidak terkontrol dengan baik."

Para dokter di India yang merawat pasien Covid-19 dan mereka yang mengidap diabetes serta sistem kekebalan yang terganggu telah diberitahu untuk mewaspadai gejala awal, termasuk nyeri sinus atau penyumbatan hidung di satu sisi wajah, sakit kepala satu sisi, bengkak atau mati rasa, sakit gigi, dan gigi longgar.

beberapa orang india percaya kotoran sapi obat covid

Beberapa orang India percaya kotoran sapi akan meningkatkan kekebalan mereka untuk bertahan melawan Covid-19 (Foto: news.sky.com)

 

Sementara itu, warga India telah diperingatkan terhadap praktik penggunaan kotoran sapi dengan keyakinan dapat menangkal Covid-19.

Di negara bagian Gujarat di India barat, beberapa orang pergi ke tempat penampungan sapi seminggu sekali untuk menutupi tubuh mereka dengan kotoran sapi dan air seni dengan harapan akan meningkatkan kekebalan mereka, atau membantu mereka pulih dari penyakit.

Dr J. A. Jayalal, presiden nasional di Indian Medical Association, mengatakan: "Tidak ada bukti ilmiah yang konkret bahwa kotoran sapi atau urin bekerja untuk meningkatkan kekebalan terhadap Covid-19, ini sepenuhnya didasarkan pada keyakinan."

Gujarat adalah salah satu tempat yang dikatakan telah mencatat kasus mukormikosis, menurut laporan media, bersama dengan Maharashtra dan ibukotanya Mumbai.

Otoritas India belum menerbitkan data nasional tentang mukormikosis tetapi bersikeras tidak ada wabah besar. Petugas medis sedang mencari tanda-tanda mukormikosis pada pasien setelah peningkatan kasus infeksi yang jarang tetapi berpotensi fatal.

Baca juga: Manfaat dan Risiko Jamur Buluk Terhadap Kesehatan Manusia

P Suresh, seorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit Fortis di Mumbai, mengatakan telah merawat setidaknya 10 pasien seperti itu dalam dua minggu terakhir - kira-kira dua kali lebih banyak daripada sepanjang tahun sebelum pandemi.

Dia mengatakan semua telah terinfeksi Covid-19 dan sebagian besar menderita diabetes atau telah menerima obat imunosupresan. Beberapa telah meninggal, dan beberapa kehilangan penglihatan.

Dokter lain berbicara tentang lonjakan kasus serupa. Nishant Kumar, seorang konsultan oftalmologi di rumah sakit Hinduja di Mumbai, berkata: "Sebelumnya jika saya melihat satu pasien setahun, sekarang saya menemui sekitar satu pasien dalam seminggu."

Kremasi massal di new delhi

Kremasi massal jenazah korban Covid-19 di New Delhi (Foto: news.sky.com)

 

Ini adalah komplikasi tambahan untuk rumah sakit India yang kewalahan, yang sangat kekurangan tempat tidur serta oksigen yang dibutuhkan untuk pasien Covid-19 yang sakit parah.

India memiliki jumlah rata-rata kematian baru Covid-19 harian tertinggi di dunia - terhitung satu dari setiap tiga kematian yang dilaporkan di seluruh dunia setiap hari.

Hampir 23 juta infeksi virus corona telah tercatat di negara itu, dengan hampir 250.000 kematian.

Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) mengatakan varian Covid-19 yang pertama kali diidentifikasi di India tahun lalu diklasifikasikan sebagai varian yang menjadi perhatian global, dengan beberapa studi pendahuluan menunjukkan bahwa virus itu menyebar lebih mudah.

Maria Van Kerkhove, dari WHO, mengatakan dalam sebuah pengarahan: "Ada beberapa informasi yang tersedia untuk menunjukkan peningkatan penularan."

Oleh: David Mercer, reporter berita “Sky News”  (news.sky.com). []

Diterbitkan di Berita
Umat muslim melaksanakan shalat Idul fitri 1442 Hijriah ditengah pandemi di Masjid Agung Al Markazul Islamic Lhokseumawe, Aceh, Kamis (13/5/2021).
Kendati telah diintruksikan penerapan protokol kesehatan (prokes) wajib memakai masker dan pembatasan jarak dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak 12-23 Mei 2021, namun pelaksanaan shalat Id dilaksanakan tanpa prokes sehingga berpotensi terjadi penyebaran COVID-19 yang semakin meningkat. 
 
 
Diterbitkan di Berita

Fathor Rasi  alinea.id Vaksinasi Sinovac lengkap dua dosis bisa menurunkan atau bisa mengurangi risiko terinfeksi Covid-19 sebanyak 94%.

Hal ini berdasarkan kajian cepat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tentang keefektifan vaksinasi Sinovac terhadap infeksi Covid-19.

Bahkan, pemberian vaksinasi lengkap dua dosis bisa mencegah risiko kematian sebesar 98% karena Covid-19.

“Hal itu menunjukkan bahwa vaksinasi lengkap itu sangat disarankan karena vaksinasi pemberian dosis pertama itu belum cukup melindungi.

Apabila masyarakat sudah menerima vaksinasi penuh atau lengkap itu akan jauh lebih efektif dalam menurunkan risiko Covid-19 baik perawatan maupun kematian,” ujar Ketua Tim Peneliti Efektivitas Vaksin Kemenkes, Pandji Dhewantara, belum lama ini.

Pandji melanjutkan, penurunkan risiko itu jauh lebih besar dibanding mereka yang baru menerima dosis pertama. "Di mana hanya efektif menurunkan sekitar 13% risiko Covid-19 bergejala," lanjutnya.

Mengutip laman resmi Kemenkes, kajian cepat itu dilakukan pada periode 13 Januari-18 Maret 2021 dengan fokus pada tenaga kesehatan di wilayah DKI Jakarta. 

Kajian cepat ini melibatkan lebih dari 128 ribu orang dengan usia di atas 18 tahun dan rata-rata dari partisipan yang diikutkan 60% perempuan dengan rata-rata usia di kisaran 30 tahun.

“Kajian cepat ini dilakukan berdasarkan data-data sekunder. Jadi data-data yang kita olah itu merupakan data dari berbagai sumber yang ada di Kementerian Kesehatan,” lanjut Panji.

Kajian cepat Kemenkes tersebut menggunakan desain Kohort Retrospektif, yakni menelusuri riwayat setiap individu yang dilibatkan dalam penelitian ini, berfokus pada kelompok tenaga kesehatan baik yang belum divaksinasi maupun yang sudah di vaksinasi, baik dosis pertama maupun yang sudah vaksinasi lengkap sebanyak 2 dosis.

Diterbitkan di Berita

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth Jakarta - Menghadapi lonjakan kasus COVID-19, Singapura akan memberlakukan 'lockdown' atau pembatasan ketat. Kebijakan ini mulai berlaku pada Minggu (16/5/2021) hingga pertengahan Juni 2021.

Menteri Kesehatan Singapura, Gan Kim Yong, mengatakan COVID-19 di negaranya tidak bisa dihadapi dengan hanya mengandalkan herd immunity atau kekebalan kelompok.

"Kami terus mendorong warga Singapura untuk divaksinasi... Namun penting untuk diingat bahwa kami tidak dapat mengandalkan herd immunity," ucap Gan, dikutip dari The Straits Times, Jumat (14/5/2021).

"Akan ada beberapa orang yang tak bisa divaksinasi, karena kondisi medis. Meski (vaksin Corona) dapat melindungi dari penyakit parah, itu tidak sepenuhnya menghentikan infeksi atau penularan," tambahnya.

Menurut Gan, vaksinasi COVID-19 bukanlah satu-satunya cara untuk melawan virus Corona. Oleh karena itu, kata Gan, herd immunity tak bisa menjadi jaminan Singapura bisa terbebas dari COVID-19.

"Vaksinasi harus dilihat sebagai salah satu dari banyak alat yang bisa kita gunakan... Tindakan seperti menjaga jarak tetap sangat penting dilakukan dan upaya pelacakan kontak (contact tracing) adalah bagian tak terpisahkan dari rangkaian alat yang kami gunakan untuk melindungi Singapura," jelasnya.

Diterbitkan di Berita