Jakarta (ANTARA) - Booster atau suntikan tambahan vaksin COVID-19 Pfizer dikatakan menghasilkan lebih banyak antibodi dan bahkan lebih baik dalam mencegah infeksi SARS-CoV-2, menurut data awal studi.

Para peneliti di Tel Hashomer Hospital, Israel menemukan antibodi yang dihasilkan suntikan booster mampu memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan dengan dua dosis pertama vaksin.

Selain itu, suntikan booster juga terbukti efektif setidaknya selama 9-10 bulan atau bahkan lebih lama, demikian seperti dikutip dari Medical Daily, Kamis.

Temuan ini didapat setelah para peneliti menganalisis data dari 728.321 orang yang menerima suntikan booster. Mereka lalu membandingkannya dengan data kelompok orang yang sama saat hanya mendapat suntikan dua dosis vaksin.

“Hasilnya menunjukkan dengan cara yang sangat meyakinkan dosis ketiga vaksin sangat efisien,” kata kepala inovasi Clalit, Ran Balicer. Badan POM Amerika Serikat (FDA) secara resmi mengizinkan penggunaan booster vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech pada September lalu.

Selama peluncuran awal, individu berusia 65 tahun ke atas harus diprioritaskan, bersama dengan orang berusia 18-64 tahun yang berisiko tinggi menderita infeksi parah.

Sebulan setelahnya, FDA juga secara resmi mengizinkan penggunaan booster untuk vaksin Moderna dan Johnson & Johnson (J&J atau Janssen).

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) kemudian mengeluarkan pedoman bahwa penerima vaksin Pfizer, Moderna dan Janssen diizinkan untuk mendapatkan suntikan booster dari salah satu dari tiga merek itu.

Namun, CDC mengatakan, beberapa penerima J&J mungkin menyukai booster dari dua merek lainnya karena vaksin Janssen memiliki efektivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan vaksin berbasis mRNA.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

 

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2516101/booster-vaksin-covid-19-pfizer-efektif-9-10-bulan

 

 

Diterbitkan di Berita

AN Uyung Pramudiarja- detikHealth Jakarta - Hampir 2 tahun pandemi COVID-19 melanda dunia, para ilmuwan terus mempelajari perbedaan respons individual yang nyatanya sangat beragam. COVID-19 bisa mematikan pada sebagian orang, tapi bahkan tidak memicu gejala pada sebagian yang lain.

Benarkah ada yang sama sekali kebal? Para ilmuwan meyakini, perbedaan genetik memberikan keunikan pada setiap individu. Mereka kini tengah mencari keunikan yang membuat imunitas seseorang lebih kuat dari yang lain, dengan harapan bisa menirunya lewat obat baru.

Saat ini, para ilmuwan tengah mencari orang-orang yang diyakini kebal terhadap SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19. Gen yang mereka miliki dipercaya memegang kunci penting dalam pengobatan COVID-19.

"Hadirnya SARS-CoV-2 pada populasi naif dalam skala global telah memberikan contoh lain bahwa keragaman klinis yang nyata antara individu dalam hal infeksi, dari infeksi asimptomatis hingga penyakit yang mengancam nyawa," kata Evangelos Andreakos dari Academy of Athens, dikutip dari Sciencealert.

"Pemahaman kami tentang patofisiologi dari COVID-19 yang mengancam jiwa berkembang secara pesat sejak penyakit ini pertama kali dipaparkan pada Desember 2019 tetapi masih sedikit yang kita tahu tentang genetika manusia dan kekebalan imunologis bawaan terhadap SARS-CoV-2," jelasnya.

Meski pengetahuan masih terbatas, tidak berarti hal itu tidak ada. Para ilmuwan beberapa kali menemukan individu yang tidak tertular meski di lingkungannya banyak yang terinfeksi. Sudah banyak pula penelitian dilakukan, meski sejauh ini hasilnya baru menunjukkan perbedaan yang kecil.

Sebagai contoh, laporan tahun lalu menyebut golongan darah O tampak memberikan sedikit kekebalan terhadap infeksi SARS-CoV-2.

Lalu ada juga penelitian yang menyebut protein tertentu seperti reseptor ACE2 atau TMEM41B kemungkinan dibutuhkan oleh virus Corona untuk menggandakan diri di dalam sel.

"Kami menawarkan strategi utnuk mengidentifikasi, merekrut, dan menganalisis secara genetis individu yang secara alami kebal terhadap infeksi SARS-CoV-2," kata Andreakos.

(up/up)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh ACEHKINI
 
Meski tidak bisa berjalan tegak seperti biasa, Usman Majid, seorang kakek berusia 84 tahun, warga Desa Cot, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, tetap antusias untuk divaksin.

Dibantu personel kepolisian, pelan-pelan ia melangkah dari kursi ruang tunggu menuju tempat screening test peserta vaksin di Gerai Vaksin Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Cot Seumereng.

Bagi Usman yang telah lansia, vaksin merupakan anjuran pemerintah yang positif, ditengah pandemi COVID-19 yang belum berakhir ini.

“Ini karena dorongan jiwa saya, bukan paksaan, untuk ikut program (vaksin) pemerintah. Dengan vaksin ini kita bisa jadi lebih kebal,” kata Usman terbata-bata kepada Jurnalis, Jumat (22/10).

Usman beranggapan, meski banyak terpaan isu akan efek samping vaksin yang membuat gelisah, dirinya yakin bahwa vaksinasi itu tidak berbahaya dan cukup baik untuk tubuh. Karena hal itu, dirinya bersedia divaksin walau usianya sudah tua.

Usman mengaku sedih jika anak-anak muda masih ada yang takut divaksin. “Saya sudah buktikan, vaksin ini halal dan aman. Saya merasa agak lebih bugar usai divaksin, saya tidak takut,” tutur mantan imam Masjid Cot Samatiga itu.

 

 Kisah Usman Majid, Orang Tertua Penerima Vaksin di Aceh Barat (1)

Usman mendapat bingkisan usai divaksin. Foto: Siti Aisyah/acehkini
 
Karena dianggap peserta vaksin tertua, Kapolsek Samatiga, Puskesmas dan aparat desa Usman berdomisili, memberi apreasiasi kepadanya. Karena tindakannya itu, mereka memberikan bingkisan.

“Saya sangat mengapresiasi pak Usman ini, di usia 84 tahun masih mau vaksin, dan memohon kepada masyarakat Samatiga untuk ikut vaksin. Kegiatan ini adalah vaksin massal untuk warga, kita menyediakan tiga dokter dan enam petugas medis, agar masyarakat jangan lama-lama menunggu,” kata Kapolsek Samatiga, Iptu Pipin Panggabean.

Ia mengajak masyarakat untuk mencontoh sikap Usman Majid yang tidak takut dan termakan informasi hoaks akan vaksin. Apalagi, lelaki 84 tahun itu saat ini tercatat sebagai penerima vaksin tertua di Aceh Barat.

“Kalau untuk Aceh saya belum bisa pastikan, tapi informasi sementara beliau (pak Usman) ini penerima vaksin tertua di daerah kita,” ujarnya.

Pipin mengatakan, pelaksanaan vaksinasi di daerah tersebut terdapat di beberapa titik, di kantor kepolisian, Puskesmas dan gerai vaksin di setiap desa. Bagi warga yang tidak sempat untuk ikut vaksin di Puskesmas, bisa menanti giliran vaksin di desa masing-masing.

“Untuk hari ini vaksin cukup, besok vaksin kita sudah habis, masih menunggu penggadaan vaksin lagi oleh dinas terkait,” terangnya. []

 

Diterbitkan di Berita

Khadijah Nur Azizah - detikHealth Jakarta - Vaksin COVID-19 Pfizer menunjukkan efikasi atau kemanjuran lebih dari 90 persen pada anak usia 5-11 tahun. Hasil ini didapatkan dari uji klinis pada kelompok tersebut.

Dikutip dari CNA, hasil studi pada sekitar 2.250 peserta uji coba menemukan 16 anak yang mendapat plasebo terinfeksi COVID-19, sementara hanya tiga yang disuntik vaksin tertular Corona. Data ini dikumpulkan ketika varian Delta dominan di Amerika Serikat dan dunia.

Vaksin pada kelompok anak diberikan dengan dosis 10 mikrogram, sedangkan kelompok usia yang lebih tua telah menerima 30 mikrogram. Dosis diberikan tiga minggu terpisah.

Hasilnya, tidak ada kasus COVID-19 yang parah dan tidak ada kasus sindrom inflamasi multisistem pada anak-anak (MIS-C), kondisi pasca virus yang langka namun serius.

"Meskipun tingkat kematian untuk COVID-19 pada anak-anak secara substansial lebih rendah daripada pada orang dewasa, COVID-19 termasuk di antara 10 penyebab utama kematian untuk anak-anak berusia 5 hingga 14 tahun antara Januari dan Mei 2021 di AS," ujar Pfizer dalam pernyataannya.

Ini adalah pertama kalinya Pfizer merilis perkiraan kemanjuran untuk vaksin COVID buatannya pada anak di bawah 12 tahun, bersama dengan kumpulan data yang lebih rinci.

Menurut dokumen yang dirilis, profil kejadian buruk pada kelompok anak-anak tidak menunjukkan masalah keamanan dari vaksin. Perusahaan telah mengatakan sebelumnya bahwa profil keamanan pada kelompok usia umumnya sebanding dengan usia 16 hingga 25 tahun.

(kna/kna)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) mengungkapkan setidaknya 85 persen pasien terpapar virus corona yang dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) rata-rata seluruhnya belum menerima suntikan vaksin Covid-19.

Sekretaris Jenderal PERSI Lia Gardenia Partakusuma menyebut 85 persen pasien tersebut mengalami gejala berat, namun memang rata-rata mereka juga memiliki komorbid alias penyakit penyerta.

"Terbanyak pasien itu yang berat di ICU ada 85 persen mereka yang belum divaksinasi, dan itu biasanya komorbid juga," kata Lia dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Lawan Covid-19 ID, Selasa (12/10).

Melihat temuan itu, Lia meminta pemerintah agar benar-benar melakukan akselerasi pada program vaksinasi nasional. Sementara warga diminta untuk tidak memilih-milih vaksin covid-19 agar pelaksanaan vaksinasi dapat berjalan lancar.

Kendati mayoritas warga yang belum divaksin memiliki potensi perburukan gejala saat terpapar covid-19. Namun menurutnya masih ada sejumlah warga yang sudah menerima vaksin lengkap, namun masih mengalami kondisi yang kurang baik.

"Ada orang yang sudah dua kali vaksin kok tetap kena, misalnya. Nah, ternyata ada varian mutan yang didapatkan di beberapa provinsi itu memang menyebabkan penularan lebih tinggi dari yang lain," kata dia.

Untuk itu, Lia juga meminta agar pemerintah menggenjot pemeriksaan strain virus baru menggunakan metode pengurutan genom secara keseluruhan (Whole Genome Sequencing/WGS) lantaran varian-varian Covid-19 tampaknya sudah menjadi penularan lokal.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan mencatat sudah ada ribuan variant of concern (VoC) di Indonesia. Rinciannya 3.114 kasus varian Delta, 65 kasus varian Alfa, dan 22 kasus varian Beta.

"Umumnya mereka yang sudah divaksin tidak menunjukkan gejala berat, tetapi ada juga yang sedang diteliti ini adalah karena varian itu," ujar Lia.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono pada akhir Juli lalu juga sempat mengungkapkan setidaknya 90-94 persen kasus kematian warga yang meninggal akibat terinfeksi covid-19 di Indonesia disumbang oleh mereka yang belum menerima suntikan vaksin covid-19.

Dante menambahkan berdasarkan laporan, mayoritas orang yang telah mendapatkan suntikan dosis lengkap vaksin covid-19 tidak mengalami perburukan gejala hingga gejala berat saat terpapar covid-19.

Adapun Kemenkes per Selasa (12/10) Pukul 12.00 WIB mencatat sebanyak 101.362.894 orang telah menerima suntikan dosis pertama vaksin virus corona. Sementara baru 58.405.580 orang telah rampung menerima dua dosis suntikan vaksin covid-19 di Indonesia.

Dengan demikian, target vaksinasi pemerintah dari total sasaran 208.265.720 orang baru menyentuh 48,67 persen dari sasaran vaksinasi yang menerima suntikan dosis pertama. Sedangkan suntikan dosis kedua baru berada di angka 28,04 persen.

(khr/DAL)

Diterbitkan di Berita

Dalam makalah mereka yang diterbitkan di jurnal Science, kelompok tersebut menjelaskan studi mereka tentang sistem interferon dan perannya dalam memerangi virus SARS-CoV-2.

Ketika pandemi global telah menyebar, menjadi jelas bahwa beberapa orang memiliki gejala yang jauh lebih serius ketika tertular COVID-19 daripada yang lain.

Memang, beberapa orang ditemukan tidak menunjukkan gejala sama sekali, sementara yang lain menjadi sangat sakit sehingga mereka meninggal. 

Dalam upaya baru ini, para peneliti melakukan skrining ekspresi gen terstimulasi interferon yang ekstensif untuk mengisolasi kemungkinan enzim yang terlibat dalam memperingatkan sistem kekebalan terhadap infeksi, seperti dikutip dari Medical Xpress, Kamis (30/9/2021). 

Interferon adalah protein-protein sinyal yang memperingatkan tubuh ketika entitas invasif seperti bakteri dan virus terdeteksi. Pekerjaan oleh para peneliti membawa mereka ke OAS1, enzim yang bereaksi terhadap sinyal interferon dengan meminta respons imun ketika virus SARS-CoV-2 terdeteksi. 

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa OAS1 menempel pada membran menggunakan gugus prenyl sebagai bagian dari proses pensinyalan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa pensinyalan ini dapat menghambat replikasi virus SARS-CoV-2. 

Memperhatikan nilainya dalam melindungi orang dari COVID-19, para peneliti melihat transkriptomika dari 500 pasien COVID-19 yang telah mengalami berbagai gejala dan menemukan bahwa mereka yang tidak memiliki prenylated OAS1 mengalami gejala yang jauh lebih parah. 

Mengapa beberapa orang dilahirkan tanpa enzim ini masih menjadi misteri, tetapi pekerjaan tim dapat membantu menghasilkan jenis vaksin baru untuk melawan COVID-19 dan jenis infeksi lainnya.

Penasaran dengan temuan mereka, para peneliti mengalihkan perhatian mereka ke mamalia lain yang mungkin terlibat dalam pandemi ini — kelelawar tapal kuda.

Mereka menemukan bahwa hewan itu tidak memiliki bentuk prenylated OAS1 yang melindungi manusia dari virus, dan membantu menjelaskan mengapa virus itu sangat mematikan bagi spesies tersebut.

Temuan ini juga dapat membantu menjelaskan mengapa kelelawar merupakan inang yang sangat produktif bagi berbagai virus.

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Jumlah warga Indonesia yang telah dua kali mendapat suntikan vaksin COVID-19 atau sudah menjalani vaksinasi lengkap sebanyak 47,71 juta orang, menurut data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pada Jumat pukul 12.00 WIB.

Data Satuan Tugas yang diterima di Jakarta, Jumat, menunjukkan jumlah penduduk yang telah selesai menjalani vaksinasi COVID-19 bertambah 727.794 orang menjadi seluruhnya 47.708.141 (47,71 juta) orang.

Sementara itu, jumlah warga yang sudah mendapat suntikan dosis pertama vaksin pada Jumat tercatat bertambah 1.615.771 (1,62 juta) orang menjadi total 84.863.899 (84,86 juta) orang. Adapun total vaksinasi untuk dosis ketiga bertambah sebanyak 11.866 menjadi 890.455 orang.

Pemerintah berencana melakukan vaksinasi COVID-19 pada 208.265.720 juta warga guna mewujudkan kekebalan komunal terhadap penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus corona tipe SARS-CoV-2.

Dengan demikian, jumlah warga yang mendapat suntikan dosis pertama vaksin COVID-19 baru 40,74 persen dari total sasaran dan warga yang sudah selesai menjalani vaksinasi baru mencapai 22,90 persen dari seluruh target vaksinasi.

Pemerintah berupaya mempercepat peningkatan cakupan vaksinasi COVID-19 dengan menyediakan lebih banyak fasilitas pelayanan vaksinasi, termasuk di antaranya menyediakan pelayanan vaksinasi keliling, fasilitas lantatur vaksinasi, dan fasilitas pelayanan vaksinasi terapung.

Secara terpisah, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengajak semua pihak harus berkolaborasi untuk meyakinkan masyarakat bahwa vaksinasi COVID-19 aman dan halal, agar kekebalan komunitas segera tercapai.

"Semua pihak harus berkolaborasi, yakinkan masyarakat bahwa vaksinasi aman dan halal, mempercepat vaksinasi di tempat-tempat yang bisa dijangkau, untuk menyentuh sebanyak mungkin masyarakat," kata Presiden Jokowi.

Presiden mengatakan itu secara virtual pada Gerakan Nasional Vaksinasi 7 Juta Warga Perkebunan dan Desa-desa Produktif di 17 Provinsi, yang digelar organisasi Projo dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) diikuti dari kanal Youtube GAPKI IPOA, di Jakarta, Jumat.

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Dian Utoro Aji detikTravel Kudus - Bupati Kudus meminta wisatawan di Kudus harus sudah divaksin dengan menunjukkan aplikasi PeduliLindungi. Wisatawan yang belum boleh divaksin tak boleh masuk.

"Harus (sudah divaksin), kalau tidak, tidak boleh masuk (ke tempat wisata). Hari ini kita koordinasi (terbentuk satgas independen untuk mengawasi protokol kesehatan), Minggu depan harus sudah terbentuk dan baru kelapangan," kata Bupati Kudus HM Hartopo saat ditanya soal wisata pemberlakukan aplikasi PeduliLindungi kepada wartawan ditemui di Pendapa Kabupaten Kudus, Jumat (24/9/2021).

Hartopo mengatakan akan membentuk satgas yang akan mengawasi protokol kesehatan di objek wisata. Mereka ada 10 orang yang bertugas keliling ke semua wisata.

"Saya akan bentuk tim independen untuk pembinaan satgas yang ada di sektor-sektor kegiatan wisata. Jadi 10 orang menjadi kelompok dua orang di sektor-sektor tempat kegiatan masyarakat. Di sana nanti akan dibina harus tegas, yang penting satgasnya (di masing-masing wisata)" ungkap Hartopo.

Menurutnya, satgas tersebut akan berkeliling mengawasi protokol kesehatan di sejumlah wisata dan pusat keramaian. Apabila melanggar protokol kesehatan maka akan langsung ditutup.

Bupati Kudus meminta kepada wisatawan yang datang harus sudah divaksin dengan menunjukan aplikasi PeduliLindungi. Wisatawan yang belum boleh divaksin belum boleh masuk.

Bupati Kudus, HM Hartopo Foto: (Dian Utoro Aji/detikcom)

 

"Maka saya sendiri punya SK untuk tim independen untuk memantau keberadaan kegiatan yang ada di masyarakat dan pembinaan satgas kegiatan wisata di masyarakat. Sehingga nanti punya kewenangan untuk menghentikan kegiatan itu nanti ketika nanti tidak punya satgas dan melanggar prokes," ungkap Hartopo.

Dia menuturkan, penyebaran kasus Corona atau COVID-19 di Kabupaten Kudus sudah mulai turun. Disebutkan ada sekitar 114 dari 132 desa kelurahan yang dinyatakan zona hijau atau bebas dari Corona.

"Ya, ada (sudah ratusan desa zona hijau), tapi seperti mobilitas menjadi indikator, termasuk target vaksinasi salah satunya. Karena kita sendiri mempunyai target adalah herd immunity itu harus di atas 90 persen. Kita targetnya tahun ini agar bisa mencapai paling tidak 50 persen," terangnya.

"Tapi mengingat droping vaksin terutama anak-anak usia 12 tahun ke bawah ini yang kita belum ada. Maka kita prioritaskan untuk yang lansia ini untuk kita vaksinasi. Kita macam mobilitasi lansia usia rentan ini agar segera tervaksin semua," sambung dia.

Hartopo menjelaskan, capaian vaksinasi baru 36 persen dosis pertama dan 24 persen dosis kedua. Disebutkan, keseluruhan 600 jiwa di Kudus yang ditargetkan harus sudah tervaksin Corona.

"Ini baru 36 persen untuk dosis satu, untuk dosis dua baru 24 persen dari 600 jiwa yang ada di Kudus," terang Hartopo.

(elk/elk)

Diterbitkan di Berita

Menteri Kesehatan Sajid Javid mengatakan kepada anggota parlemen bahwa pemerintah telah menerima rekomendasi dari Komite Bersama untuk Vaksinasi dan Imunisasi (JCVI) dan akan mulai menawarkan suntikan penguat minggu depan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta negara-negara kaya untuk menunda suntikan penguat sampai setiap negara telah memvaksinasi setidaknya 40% populasi mereka.

"JCVI menyarankan agar dosis penguat ditawarkan kepada mereka yang lebih rentan, untuk memaksimalkan perlindungan individu menjelang musim dingin yang tidak terduga," kata Profesor Wei Shen Lim, ketua panel. "Sebagian besar orang-orang ini juga akan memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin flu tahunan dan kami sangat menyarankan mereka menerima tawaran ini juga."

JCVI mengatakan suntikan penguat diperlukan untuk memastikan orang yang rentan terlindungi dari COVID-19, karena penelitian telah menunjukkan bahwa kekebalan yang diberikan oleh vaksin melemah dari waktu ke waktu. Panel tersebut merekomendasikan agar setiap orang di atas 50 tahun, serta petugas kesehatan, orang-orang dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya, dan mereka yang tinggal dengan orang-orang yang mengalami imunosupresi, mendapatkan suntikan penguat setidaknya enam bulan setelah mereka menerima dosis vaksin kedua, seperti dikutip dari Medical Xpress, Rabu (15/9/2021).

Langkah itu dilakukan meskipun ada seruan WHO untuk menunda dosis penguat di tengah kekurangan vaksin global. Badan tersebut mengatakan bahwa COVID-19 akan terus mengancam orang di mana-mana sampai semua negara memvaksinasi cukup banyak orang untuk mencegah varian baru yang berpotensi berbahaya.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengulangi seruan itu pekan lalu setelah banding yang disampaikan sebelumnya diabaikan secara luas.

“Saya tidak akan tinggal diam ketika perusahaan dan negara yang mengontrol pasokan vaksin global berpikir bahwa orang miskin dunia harus puas dengan sisa,” katanya pada 8 September. 

Pejabat WHO bersikeras pembenaran ilmiah untuk penguat masih belum jelas.

 
 
Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.TVWakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan vaksin produksi Johnson & Johnson, vaksin Janssen, sudah tiba di Indonesia dan akan dipakai untuk vaksinasi masyarakat umum.

Namun, masyarakat yang akan menjadi sasaran vaksinasi ini adalah mereka yang berusia 18 tahun ke atas.

"Vaksin ini akan dipakai untuk vaksinasi masyarakat umum yang berusia 18 tahun ke atas dengan dosis tunggal sebanyak 0,5 mililiter," ujar Dante dalam konferensi pers virtual melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (11/9/2021).

Vaksin Johnson & Johnson yang telah diterima pemerintah merupakan bantuan dari pemerintah Belanda melalui skema bilateral, dan diberikan sebanyak 500.000 dosis. "Atas nama pemerintah Indonesia saya ucapkan terimakasih atas bantuan dari pemerintah Belanda," tutur Dante.

Seperti diberitakan sebelumnya, Vaksin Johnson & Johnson telah mendapatkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 7 September 2021.

Dalam keterangan berbeda, Kepala BPOM Penny K Lukito mengungkapkan indikasi penggunaan Janssen Covid-19 Vaccine dan Vaksin Convidecia, vaksin produksi Johnson & Johnson, adalah sama-sama untuk pencegahan Covid-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV-2.

Kedua jenis vaksin tersebut hanya diberikan pada orang berusia 18 tahun ke atas. "Dengan pemberian sekali suntikan atau dosis tunggal sebanyak 0,5 mL secara intramuscular," katanya.

Sementara itu, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Lambert Grijns juga menegaskan bahwa vaksin yang diproduksi oleh perusahaan Jenssen itu hanya membutuhkan satu kali suntikan, sehingga akan efektif untuk menjangkau orang-orang di daerah terpencil.

“Penerima vaksin hanya perlu melakukan satu kali perjalanan,” tutur Dubes Grijns dalam keterangan virtual yang ditayangkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu.

Kata Grijns, Pemerintah Belanda sangat senang dapat mendukung Indonesia dalam upaya untuk memvaksin sebanyak dan secepat mungkin warga negaranya, dengan sumbangan vaksin yang diberikan.

Selain vaksin, Pemerintah Belanda juga akan menyumbangkan alat pelindung diri (APD).

Grijns menyebut sebuah kapal berisi APD telah meninggalkan pelabuhan Rotterdam minggu lalu dan akan tiba di Jakarta dalam beberapa minggu mendatang.

“Saya berharap donasi yang kami berikan akan membantu rakyat Indonesia. Indonesia memiliki tempat berarti di hati kami,” terangnya.

Penulis : Hedi Basri | Editor : Edy A. Putra

Diterbitkan di Berita