KBRN, Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi menerbitkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) kepada vaksin Covid-19 Moderna.

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan hal ini sebagai upaya melawan infeksi Covid-19 di tanah air. Menurut Penny, pada bulan Juni, pihaknya sudah menerbitkan izin UEA pada vaksin CoronaVac, AstraZeneca, Bio Farma dan Sinopaharm.

"Kemarin menambahkan satu vaksin lagi yang dapat UEA dari BPOM, vaksin Covid-19 Moderna. Moderna menjadi vaksin platform mRNA pertama yang dapat izin BPOM," kata Penny dalam konferensi pers virtual, Jumat (2/7/2021).

Penny menjelaskan vaksin Moderna ini akan masuk secara bilateral dan merupakan bantuan dari Amerika Serikat (AS) dan multilateral Covax Facility.

“Vaksin ini akan diberikan pada mereka yang berusia 18-65 tahun dengan efikasi atau kemanjuran 94,1%,” tandas Penny.

Diterbitkan di Berita

MURIANEWS, Jepara – Gebyar vaksinasi yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara, Rabu (30/6/2021) terbilang sukses. Pasalnya, hanya dalam waktu tiga jam, seribu vaksin ludes diserbu masyarakat.

DKK Jepara menjadwalkan vaksinasi hari ini dimulai pukul 08.00 WIB. Namun, ternyata antusiasme masyarakat sangat tinggi. Sejak pukul 06.00 WIB, masyarakat sudah mengantre di depan gerbang Gedung Wanita.

Nur Mahmudah (30), salah satu peserta vaksinasi asal Kecamatan Jepara, mengaku rela meninggalkan pekerjannya demi mendapatkan vaksin. Beruntung pihak perusahan tempat ia bekerja memberikan izin.

“Ini saya izin ninggalin kerjaan sebentar. Kalau kita nunggu kan, ada yang berbayar. Kalau ada yang gratis kenapa enggak mau,” kata Mahmudah, Rabu (30/6/2021). Menurutnya, vaksinasi sangat penting.

Sebab, selain menjaga diri, kekebalan imunitas yang timbul dari vaksin juga bisa melindungi keluarga dan orang terdekat. “Kalau kita tidak vaksin, prosesnya (pandemi, red) akan lama. Kita sudah ingin kondisi kembali normal,” ujar dia.

Sementara itu, Nur Aini, warga Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo, gagal mendapatkan vaksin hari ini. Sebab, ia datang terlambat. Namun, dirinya tetap akan kembali besok pagi. “Saya terlambat ini. Formulirnya sudah kehabisan.

Katanya kuotanya cuma seribu. Besok saya datang lebih pagi lah. Katanya jam tujuh sudah dimulai,” ujar dia. Sedangkan, Bupati Jepara Dian Kristiandi, menyebut seribu formulir peserta vaksin ludes hanya sekitar tiga jam.

Bahkan, tak sedikit warga yang terpaksa pulang meski belum tervaksin. “Kita targetkan 3.900 vaksin per hari di semua fasilitas kesehatan. Hari ini di Gedung Wanita kita pusatkan supaya bisa dipercepat vaksinasinya.

Di sini dua hari. Nanti kita evaluasi,” kata Andi saat meninjau vaksinasi.

Jika vaksinasi terpusat dirasa efektif, Andi akan melanjutkannya. Dari seribu orang yang divaksin hari ini, tidak ditemukan satupun peserta yang terkena Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Reporter: Faqih Mansur Hidayat Editor: Ali Muntoha

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia kembali kedatangan 14 juta dosis vaksin Covid-19 Sinovac dari China pada Rabu (30/6/2021). Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, jutaan dosis vaksin covid-19 tersebut masih berupa bahan baku.

"Total bahan baku vaksin dari Sinovac yang sudah datang di kita adalah 105 juta dosis vaksin," kata Budi dalam siaran langsung yang ditayangkan Kanal Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (30/6/2021).

Berhubung vaksin yang tiba masih dalam bentuk bahan baku, Budi menyebut perlu waktu kurang lebih satu bulan untuk membuat vaksin itu bisa digunakan. Vaksin itu akan diolah oleh Biofarma.

"Dari 105 juta ini, nantinya akan jadi 85 juta vaksin jadi yang bisa kita pakai dan itu akan siap satu bulan setelah sekarang. Jadi mungkin di awal Agustus akan ada 85 juta vaksin Sinovac yang sudah siap bisa kita gunakan," papar Budi.

Donasi Vaksin Bertambah

Budi memastikan ke depannya vaksin Covid-19 yang akan masuk ke Tanah Air bakal semakin banyak. Menurutnya Covax Gavi juga memberikan donasi vaksin ke pemerintah Indonesia.

"Kita juga bulan ini akan masuk dari AstraZeneca. Bulan Agustus nanti akan masuk dari Pfizer sehingga jumlah vaksin yang masuk di semester kedua tahun ini akan menjadi semakin banyak," ucapnya.

Dengan begitu, lanjut Budi, pihaknya bakal semakin mempercepat proses vaksinasi Covid-19 terhadap masyarakat Indonesia.

"Agar InsyaAllah di akhir tahun, 181,5 juta rakyat Indonesia sudah divaksin, at least satu kali," pungkasnya.

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Sebanyak lima juta dosis vaksin COVID-19 jenis CanSino asal China, menurutDirektur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir, akan tiba di Indonesia mulai Juli 2021.

"Rencananya kita akan supply agreement dengan mereka sejumlah lima juta dosis, dengan vaksin pertama sekitar 3 juta dosis itu akan datang sekitar Juli-September dan sisa 2 juta dosis akan datang pada kuartal IV 2021," katanya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, seperti dilansir dari Antara, Minggu (27/6).

Mengutip laman Bloomberg, vaksin CanSino China memiliki tingkat kemanjuran 65,7% dalam mencegah gejala COVID-19 berdasarkan analisis dari uji coba tahap akhir. Uji coba tahap akhir melibatkan 30.000 peserta dan 90,98% efektif dalam mencegah penyakit parah.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebuah vaksin perlu memberikan setidaknya 50% tingkat perlindungan agar dianggap efektif.

Meskipun data, CanSino sekilas tampak lebih rendah daripada tingkat perlindungan 95% yang diberikan oleh bidikan dari Pfizer Inc. dan Moderna Inc. Data ini hanya memerlukan satu bidikan, bukan dua.

Meskipun angka kemanjurannya lebih rendah, vaksin tersebut menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan inokulasi mRNA mutakhir dari Pfizer dan Moderna. Vaksin CanSino lebih murah disimpan dan hanya memerlukan satu kali suntikan.

“Satu vaksin, satu kali kunjungan dan logistik yang lebih murah, itulah kelebihannya,” kata Penasihat Kesehatan Pakistan Faisal Sultan.

Selain Indonesia, vaksin CanSino juga akan memasok 35 juta dosis ke Meksiko. Sementara Malaysia sedang dalam pembicaraan untuk mendapatkan 3,5 juta suntikan. Pakistan, di mana salah satu uji coba terbesar CanSino sedang dilakukan, akan mendapatkan 20 juta dosis.

Diterbitkan di Berita
Kadek Melda Luxiana - detikNews Jakarta - Menko Polhukam Mahfud Md bercerita soal sulitnya pemerintah menangani pandemi Corona atau COVID-19. Dia mengatakan hal itu dipicu banyaknya perbedaan pendapat yang muncul terkait Corona.

"Menyikapi pandemi itu bukan hanya terjadi antara masyarakat dan pemerintah. Di kalangan masyarakat juga beda-beda, sehingga bagi pemerintah tidak mudah," kata Mahfud dalam webinar virtual bertajuk 'Pandemi Sebagai Momentum Perubahan Kebijakan Ekonomi Pro Pemerataan', Sabtu (26/6/2021).

Mahfud mencontohkan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan dokter. Dia menyebut masih ada dokter yang tidak percaya dengan masker dan juga vaksin.

"Di kalangan dokter aja sampai hari ini ada yang mengatakan bahwa itu tidak perlu masker itu. Itu nanti hilang sendiri. Ada yang mengatakan nggak perlu vaksin. Itu seorang profesor, doktor, masih ada yang mengatakan begitu," ujarnya.

Dia juga menyebut perbedaan pendapat terjadi pada kalangan akademisi hingga tokoh agama. Mahfud mengatakan permasalahan ini menjadi salah satu hal yang harus ditangani pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19.

"Apalagi antara dokter dengan bukan dokter, sosiolog ya, soalnya ramai memperdebatkan apakah mudik itu perlu dilarang atau tidak perlu, lockdown atau tidak, dikarenakan sosiologi, dokter, beda-beda. Tokoh agama juga berbeda-beda ini persoalan kita," ucapnya.

Kasus COVID-19 Terus Melonjak

Kasus COVID-19 di RI sendiri terus bertambah. Pada 26 Juni 2021, rekor penambahan kasus kembali terjadi yakni sebanyak 21.095 positif Corona ditemukan di RI.

Data penambahan kasus Corona ini disampaikan oleh Kementerian Kesehatan RI, Sabtu (26/6). Data diperbarui setiap hari per pukul 12.00 WIB.

Dengan penambahan 21.095, total kumulatif kasus COVID-19 yang ditemukan di RI hingga hari ini sebanyak 2.093.962 kasus. Sementara itu, kasus aktif COVID-19 sampai hari ini sebanyak 194.776 kasus.

Pemerintah juga melaporkan kasus sembuh Corona. Hari ini terdapat 7.396 pasien telah sembuh dari Corona, sehingga kasus sembuh hingga saat ini 1.842.457.

Selain itu, sebanyak 358 pasien Corona meninggal dunia hari ini. Jumlah pasien COVID-19 di Indonesia yang meninggal dunia sebanyak 56.729 orang.

(haf/haf)
Diterbitkan di Berita

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sedang mengkaji kemungkinan pemberian vaksin COVID-19 untuk anak berusia di bawah 18 tahun.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan kebijakan itu ditempuh seiring dengan melonjaknya kasus COVID-19 di Tanah Air dan semakin banyak kelompok anak berusia 18 tahun ke bawah yang terjangkit virus corona.

Kemenkes saat ini sedang melakukan penelitian mengenai tingkat severity atau keparahan terhadap anak usia di bawah 18 tahun di Indonesia yang tertular virus corona.

Ia menjelaskan, berdasarkan data global, anak usia 18 tahun ke bawah yang terpapar COVID-19 menunjukkan 99 persen sembuh dibandingkan dengan kelompok usia dewasa atau 18 tahun ke atas.

Maka dari itu, pihaknya saat ini sedang mengkaji vaksin-vaksin COVID-19 mana saja yang sudah memiliki emergency use of authorization (EUA) untuk diberikan kepada anak di bawah 18 tahun.

 

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan , Jakarta, Senin (7/6) mengatakan sekolah Tatap muka dilakukan secara Terbatas (biro pers).
Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan , Jakarta, Senin (7/6) mengatakan sekolah Tatap muka dilakukan secara Terbatas (biro pers).

 

“Yang sudah kita amati sekarang yang ada di list kita, yakni Sinovac, yang bisa antara umur 3-17 tahun, kemudian Pfizer yang bisa umur 12-17 tahun. Itu sudah keluar EUA-nya,” ungkap Budi dalam telekonferensi pers, di Jakarta, Jumat (25/6).

Budi mengatakan pihaknya sedang berdiskusi dengan badan independen Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) terkait pemberian vaksin COVID-19 kepada anak.

Selain itu, Kemenkes juga akan melihat bagaimana negara-negara lain, seperti Eropa dan Amerika Serikat, dalam melakukan vaksinasi ini kepada anak-anak di bawah 18 tahun tersebut.

“Dan di grup mana mereka memberikan sehingga dengan demikian kita bisa mengeluarkan keputusan yang komprehensif berdasarkan data yang ada di kita, data penggunaan atau policy di negara-negara lain, dan juga data ilmiah kesehatan EUA yang sudah diberikan terhadap perusahaan vaksin tersebut,” jelasnya.

Vaksinasi Anak Tidak Mudah

Ketua ITAGI, Sri Rezeki Hadinegoro, mengonfirmasi diskusi antara pihaknya dengan Kemenkes terkait pemberian vaksinasi COVID-19 pada anak-anak.

Ia menegaskan jika rencana vaksinasi pada anak usia di bawah 18 tahun direalisasikan, maka hal ini akan dilakukan secara bertahap untuk memastikan keamanannya.

“Jadi kalau pun untuk anak, kita akan kelompokkan. Kelompok yang besar-besar dulu seperti umur 12-17 tahun, terus nanti yang umur 6-11 tahun. Baru nanti di bawah 5 tahun," kata Sri Rezeki Hadinegoro kepada VOA.

Jadi, tambahnya, akan ada tiga kelompok yang mungkin berbeda-beda waktu pelaksanan vaksinasinya.

 

Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin Sinovac untuk COVID-19 saat vaksinasi massal untuk petugas medis di stadion Istora Senayan, Jakarta, 4 Februari 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin Sinovac untuk COVID-19 saat vaksinasi massal untuk petugas medis di stadion Istora Senayan, Jakarta, 4 Februari 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

 

"Karena ini kan vaksin baru ya. Kita musti coba dulu di anak yang lebih besar, aman atau tidak? kalau bagus baru kita (beri) ke adiknya, baru nanti ke bawahnya lagi. Jadi secara bertahap,” ungkap Sri.

Meski begitu, ia tidak bisa memastikan kapan hal ini akan dilakukan, mengingat masih banyak data dan penelitian yang harus dipelajari untuk memastikan agar pemberian vaksin COVID-19 ini aman. Selain itu, ia menggarisbawahi bahwa teknis pelaksanaannya nanti tidak akan mudah.

“Dan pelaksanaannya gak gampang, sekarang aja yang dewasa belum selesai. Kita musti pikirkan pemberiannya mau gimana? Apakah lewat sekolah, atau bukan.

Biasanya kan imunisasi anak-anak sekolah ini lewat sekolah, kita kan sudah punya strukturnya, apakah kita mau pakai itu atau bagaimana? karena kan sekolah belum buka. Jadi itu kan harus dibicarakan, makanya ini belum matang,” katanya.

Pemerintah Buka Program Vaksinasi Untuk Remaja Usia 18 Tahun

Ditambahkannya, yang harus dipikirkan pemerintah selanjutnya adalah masalah logistik, yakni ketersediaan vaksin itu sendiri. Pasalnya, stok vaksin COVID-19 masih terbatas dan banyak negara yang masih memperebutkan vaksin COVID-19 ini.

“Lalu bagaiimana pemberiannya? Apakah sama seperti orang dewasa atau bagaimana? Pang paling penting sistem imun anak-anak itu kan beda sama orang dewasa. Kalau di atas 12 tahun hampir seperti dewasa, tapi kalau di bawah 12 tahun, kan beda. Ini kita musti hati-hati juga,” pungkasnya. [gi/ah]

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo meminta kepada seluruh masyarakat agar segera melakukan vaksinasi bila sudah mendapat jatah.

"Jika sudah ada kesempatan mendapat vaksin, segera ambil, jangan ada yang menolak," kata Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Rabu.

Presiden mengingatkan bahwa agama apapun tidak ada yang menolak pemberian vaksin COVID-19.

"Ini demi keselamatan kita. Vaksin merupakan upaya terbaik yang tersedia saat ini," tambah Presiden.

Alasannya adalah karena pemerintah menargetkan tercapainya kekebalan komunitas untuk mengatasi pandemi COVID-19.

"Maka sebelum itu (kekebalan komunitas) tercapai, kita harus tetap berdisiplin dan menjaga diri terutama memakai masker. Saya minta satu hal yang sederhana ini, tinggallah di rumah jika tidak ada kebutuhan mendesak," ungkap Presiden.

Presiden menegaskan hanya dengan langkah bersama, Indonesia dapat menghentikan pandemi COVID-19.

"Semua orang harus berperan serta, semua warga harus ikut berkontribusi, tanpa kesatuan itu kita tidak akan mampu menghentikan penyebaran COVID-19," ungkap Presiden.

Presiden Jokowi pun meminta agar gubernur, bupati dan wali kota untuk meneguhkan komitmen dan mempertajam penerapan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro.

"Optimalkan posko-posko COVID-19 yang telah terbentuk di masing-masing wilayah desa atau kelurahan," tambah Presiden.

Fungsi utama posko adalah mendorong perubahan perilaku masyarakat agar disiplin 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan.

Berdasarkan data Satgas COVID-19 per 22 Juni 2021, kasus COVID-19 di Indonesia bertambah 13.668 kasus sehingga totalnya mencapai 2.018.113 kasus.

Pasien yang dinyatakan sembuh bertambah 8.375 orang menjadi 1.810.136 orang dan pasien meninggal dunia bertambah 335 orang sehingga totalnya 55.291 orang telah meninggal.

Sedangkan jumlah orang yang sudah menerima vaksinasi COVID-19 dosis pertama di Indonesia sampai Selasa (22/6) pukul 12.00 WIB mencapai 23.789.884 orang atau bertambah 524.111 dibanding hari sebelumnya.

Sementara jumlah warga yang sudah mendapat suntikan pertama dan kedua atau dosis lengkap adalah sebanyak 12.514.917 orang atau bertambah 194.531 dibanding sehari sebelumnya.

Sampai 20 Juni 2021, jumlah total vaksin yang telah diterima Indonesia saat ini adalah sebanyak 104.728.400 dosis vaksin COVID-19 dari target 426,8 juta dosis.

Rincian vaksin COVID-19 yang dimiliki Indonesia adalah vaksin produksi Sinovac sebanyak 94,5 juta dosis, AstraZeneca 8.228.400 dosis, dan Sinopharm 2 juta dosis.

#ingatpesanibu
#sudahdivaksintetap3m
#vaksinmelindungikitasemua

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Khadijah Nur Azizah - detikHealth Jakarta - Laporan terbaru menunjukkan vaksin AstraZeneca efektif melawan varian Delta, varian Corona yang disebut sangat cepat penularannya dan ditemukan pertama kali di India. Kemanjuran vaksin terhadap Kappa, varian lain yang ditemukan di India, juga telah terbukti.

Hasil tersebut didapatkan dari penelitian terbaru Universitas Oxford terhadap kemampuan antibodi monoklonal dalam darah seseorang yang pulih, dan dari mereka yang divaksin untuk menetralkan varian tersebut.

"Hasil studi Oxford dibangun berdasarkan analisis terbaru oleh Public Health England (PHE)," kata perusahaan merujuk otoritas kesehatan di Inggris tersebut, dikutip dari Reuters, Rabu (23/6/2021).

 
 
Tak Boleh Lagi Pakai Nama Negara! Ini Daftar Nama Baru Varian Corona
Tak Boleh Lagi Pakai Nama Negara! Ini Daftar Nama Baru Varian Corona Foto: infografis detikHealth

 

Pekan lalu, PHE juga mengeluarkan hasil riset yang menunjukkan AstraZeneca menawarkan perlindungan tinggi terhadap varian Delta. Vaksin memberikan 92 persen perlindungan ke penerimanya, dari risiko rawat inap ke rumah sakit akibat varian Delta.

Pembuat obat di seluruh dunia bergegas untuk menguji kemanjuran vaksin terhadap varian yang muncul dari COVID-19 yang terbukti lebih mudah menular daripada varian aslinya.

Varian Delta juga telah menjadi varian yang mendominasi secara global, membuat para ahli menyarankan mempercepat program vaksinasi yang telah berlangsung di banyak negara di dunia.


(kna/up)

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia Gedung Putih telah menguraikan rencana untuk membagikan 55 juta dosis vaksin COVID-19 ke luar negeri. Sebagian besar alokasi disalurkan ke negara-negara di Amerika Latin, Karibia, Asia dan Afrika.

Pemerintahan Biden pada Senin (21/6) mengatakan sebagian besar dosisnya akan dibagikan melalui program berbagi vaksin internasional, COVAX.

Langkah itu menandai dipenuhinya komitmen Presiden Joe Biden untuk membagikan 80 juta dosis vaksin buatan AS dengan negara-negara di seluruh dunia.

Associated Press pada Senin (21/6) melaporkan bahwa pemerintahannya kemungkinan tidak bisa memenuhi janji untuk membagikan vaksin sebelum akhir Juni, karena regulasi dan hambatan lain.

Para pejabat yang dikutip oleh kantor berita itu mengatakan dosis-dosis itu sudah siap tapi tertunda karena persyaratan hukum, logistik dan regulasi baik di AS dan negara penerima.

Biden menguraikan rencana pembagian 25 juta dosis awal bulan ini. Pada Senin (21/6), Gedung Putih mengungkap rencana untuk membagikan 55 juta dosis yang tersisa, termasuk 14 juta untuk Amerika Latin dan Karibia, 16 juta untuk Asia, dan sekitar 10 juta untuk Afrika.

14 juta dosis lain dibagikan ke "prioritas regional," termasuk Kolombia, Haiti, Afghanistan, Irak, Ukraina, Afrika Selatan, Tepi Barat, dan Gaza.

AS telah mulai mengirim vaksin ke Taiwan, Meksiko, Kanada dan Korea Selatan. [vm/jm]

Diterbitkan di Berita

Anadolu Agency JAKARTA Pemerintah Malaysia pada Senin mengumumkan telah melakukan vaksinasi Covid-19 sebanyak 140.573 dosis dalam 24 jam terakhir.

Jumlah ini di bawah target 200.000 harian yang ditetapkan pemerintah dalam Program Vaksinasi Nasional COVID-19.

Dalam pernyataannya, Menteri Kesehatan Adham Baba mengatakan 116.514 orang menerima dosis pertama vaksin, sementara 24.059 lainnya menerima dosis kedua.

Dia mengatakan total 1.612.753 orang telah menerima dua dosis vaksin dan 4.202.601 orang menerima dosis pertama atau 12.9 persen dari total populasi​​​​​​​

Dari tambahan ini, total jumlah dosis yang diberikan di Malaysia sejauh ini telah mencapai 5.815.575.

Diterbitkan di Berita