JAKARTA, HOLOPIS.COM  Pemerintah terus dorong program vaksinasi terus berjalan sampai masyarakat Indonesia secara keseluruhan telah rata mendapatkan.

Oleh karena itu ditegaskan Presiden Joko Widodo bahwa pemerintah daerah segera percepat program vaksinasi dan bukan malah ditimbun selama berhari hari.

“Jangan biarkan vaksin itu berhenti sehari-dua hari, langsung suntikkan kepada masyarakat,” kata Jokowi dalam rapat terbatas, Sabtu (7/8).

Jokowi kemudian malah memerintahkan agar pemerintah daerah langsung minta saja stok vaksin jika memang ketersediaan mereka telah habis. Padahal, selama ini sendiri masih banyak beberapa daerah yang belum mendapatkan pasokan vaksin secara merata.

“Habis, minta (pemerintah) pusat lagi. Jangan ada stok vaksin terlalu lama, baik di dinkes maupun di rumah sakit dan puskesmas,” tukasnya.

Jokowi juga memerintahkan agar program vaksinasi ini bisa dibuat secepat mungkin. Terlebih ketika saat ini menurutnya kondisi di luar Pulau Jawa dan Bali mulai mengalami peningkatan kasus harian yang cukup drastis.

“Perintahkan segera semua, segera suntikkan. Karena kecepatan ini juga akan memberikan proteksi pada rakyat kita. Akan saya ikuti terus, angka-angka harian ini,” tandasnya.

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemberian vaksin untuk dosis ketiga (booster) untuk tenaga kesehatan (nakes) bisa mencampurkan dua jenis vaksin berbeda.

"Dicampur (jenis vaksin)-nya bisa," kata Budi saat ditemui tengah meninjau Sentra Vaksinasi Ikatan Alumni Taruna Nusantara (IKASTARA) di Ancol Beach City (ABC) Mall, Pantai Carnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Sabtu.

Ia mengatakan pemerintah sedang bekerja keras untuk mencapai target vaksinasi pada Agustus sebanyak 70 Juta per bulan.

Sedangkan, jumlah dosis yang datang dalam kurun waktu tujuh bulan, dari Januari hingga akhir Juli 2021, baru 90 juta. Adapun vaksin yang Pemerintah Republik Indonesia dapat saat ini sekitar 140 juta dosis vaksin Covid-19.

"Jadi harus di vaksinnya, betul-betul kerja keras. Dan enggak mungkin pemerintah melakukan sendiri, kalau tidak berkolaborasi dengan seluruh unsur masyarakat. Harus kita bangun Gerakan Vaksinasi Nasional lah, jangan hanya diprogram pemerintah," kata Budi.

Ia percaya kalau semua komponen bangsa sudah datang bergotong royong dan bekerja sama, seharusnya pandemi ini bisa diatasi dan menjadi hadiah paling bagus untuk menyambut Hari Kemerdekaan nanti.

"Vaksin booster itu jangan dulu, masih 140 juta baru dapat. Jadi vaksin booster baru buat nakes saja dulu ya," kata Menkes RI menjelaskan.

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Anadolu Agency JAKARTA Indonesia akan menerima tiga juta dosis vaksin Covid-19 dari pemerintah Prancis.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan pemberian bantuan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasinya dengan Menlu Prancis Jean-Yves Le Drian pada 22 Juli lalu.

“Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada pemerintah Prancis,” kata Menlu Retno dalam konferensi pers daring, Kamis. 


Berdasarkan informasi sementara dari Kementerian Luar Negeri RI, vaksin yang akan diberikan Prancis yakni AstraZeneca.

Nantinya, pengiriman pertama dijadwalkan pada akhir Agustus sebanyak 1,3 juta dosis vaksin.

Indonesia memiliki lebih dari 3,53 juta kasus Covid-19, termasuk penambahan 35.867 pasien baru pada Rabu.

Indonesia sekaligus melaporkan tambahan 1.747 kasus kematian Covid-19 pada kemarin sehingga totalnya mencapai 100.636.

 

 

 

 

 

 

 

Diterbitkan di Berita

VIVA – Saat ini total ada 11 vaksin COVID-19 yang disetujui untuk digunakan di berbagai belahan dunia. Namun, menurut penelitian terbaru, satu-satunya vaksin yang terbukti paling efektif adalah Oxford-Astrazeneca atau Covishield.

AstraZeneca, yang merupakan vaksin yang paling populer digunakan di seluruh dunia, menjanjikan tingkat kemanjuran yang tinggi. Namun, diliputi kumpulan kontroversi, karena ada laporan munculnya efek samping yang tidak biasa akhir-akhir ini.

Tetapi, evaluasi kritis yang lebih baru telah membuktikan bahwa vaksin Covishield benar-benar telah melakukan tugasnya dengan baik, dengan memberikan lebih banyak antibodi pelindung, terutama dalam melawan varian Delta. 

Dilansir Times of India, studi yang dilakukan oleh ICMR dan NIV bernama 'Netralisasi varian Delta dengan serum vaksin Covishield dan individu yang divaksinasi COVID-19 yang pulih' menetapkan bahwa Covishield atau AstraZeneca yang menjadi vaksin utama di India, sangat efektif terhadap varian Delta. 

Melalui penelitian tersebut diamati bahwa vaksin vektor virus yang dibangun dengan menggunakan teknologi vaksin tradisional itu, mampu menghasilkan lebih banyak antibodi penetralisir yang dapat bekerja melawan virus corona. 

Vaksin yang pertama kali disetujui untuk digunakan di India itu memiliki tingkat kemanjuran hingga 70 persen dan meningkat menjadi 91 persen, setelah dosis kedua diberikan dengan jarak 8-12 minggu. Vaksin ini juga meningkatkan respons antibodi yang lebih tinggi sehingga mencegah COVID-19 yang parah. 

Studi lebih lanjut juga telah memastikan bahwa AstraZeneca lebih efektif pada orang-orang yang reinfeksi atau pernah tertular sebelumnya.

Diamati bahwa orang yang telah pulih dari COVID-19 dan telah mendapat dosis penuh vaksin ini, memiliki lebih banyak antibodi dan respons penetralisir dibanding individu yang belum pernah terinfeksi COVID-19 sebelumnya. Namun, studi investigasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengonfirmasi hal yang sama.

Para ahli menyatakan, mereka yang telah sembuh dari COVID-19 memiliki konsentrasi sel memori-B dan T yang lebih tinggi, sehingga dapat mengingat infeksi dan meningkatkan respons antibodi yang lebih tahan lama dan efektif dengan vaksin ini. 

Ini juga bisa menjadi alasan mengapa seseorang yang telah sembuh dapat mengalami efek samping yang lebih parah dibanding seseorang yang tidak memiliki riwayat COVID-19

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
 
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerbitkan Keputusan Gubernur (Kepgub) No. 966 Tahun 2021 tentang perpanjangan PPKM Level 4. Kepgub ini berlaku mulai 3-9 Agustus 2021.
  
Dalam aturan terbaru, para pengendara, pekerja, dan pengguna moda transportasi publik harus sudah divaksin.
 
“Pengendara, pekerja dan pengguna transportasi publik telah divaksinasi,” ujar Anies dalam Kepgub No. 966, dikutip Kamis (5/8).
 
 
 
 
Selama masa perpanjangan PPKM Level 4, untuk masyarakat yang ingin berkegiatan di setiap sektor juga harus wajib vaksinasi minimal dosis pertama.
 
Namun hal ini dikecualikan bagi warga yang masih dalam masa 3 bulan usai terkonfirmasi COVID-19. Hal ini harus dibuktikan dengan hasil laboratorium.
 
Aturan Baru PPKM Level 4 Jakarta, Naik Transportasi Publik Wajib Sudah Vaksin (1)
 
Area vaksinasi di Stasiun Gambir. Foto: KAI
 
Kemudian pengecualian juga diberikan kepada warga yang kontraindikasi atau tak bisa divaksin COVID-19 karena alasan kesehatan, dengan bukti surat keterangan dokter, serta bagi anak-anak usia kurang dari 12 tahun.
 
Nantinya, warga juga dapat dengan mudah menunjukkan bukti vaksinasi melalui aplikasi JAKI kepada petugas.
Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengemukakan stok vaksin yang tersedia saat ini di fasilitas pemerintah pusat mencukupi untuk memenuhi permintaan daerah.

"Kita punya stok cukup vaksin. Tapi harus dipahami bahwa vaksin itu tidak bisa sekaligus vaksinasi semua sasarannya, karena dosis vaksin juga datang bertahap," kata Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), total kedatangan vaksin di Indonesia hingga Selasa (3/8) berjumlah 179,4 juta dosis vaksin terdiri atas 144,7 juta dosis berbentuk bahan baku dan 34,7 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi.

Sedangkan total vaksin jadi produksi PT Bio Farma berjumlah 152 juta dosis vaksin. Sebanyak 117,3 juta berupa bahan baku dan 34,7 juta berupa vaksin jadi. Bahan baku vaksin tersebut berjenis Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm dan Moderna.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes melaporkan hingga Senin (2/8), vaksin yang telah didistribusikan menuju 34 provinsi berjumlah 90.988.817 dosis. Sebanyak 68.641.750 dosis di antaranya telah digunakan.

Menurut Nadia Indonesia tidak ada masalah dengan stok vaksin. Tapi, masyarakat harus paham bahwa vaksin didistribusikan secara bertahap.

Kekosongan vaksin di beberapa daerah, kata Nadia, penyebabnya karena data stok vaksin tidak diperbarui, sehingga Kemenkes melihat stok vaksin di daerah masih aman.

Menurut Nadia, masalah ini sudah diperbaiki. Jutaan dosis vaksin sudah dan akan didistribusikan ke daerah.

"Kami sudah mendistribusikan pada pekan ketiga itu 3 juta untuk vaksin dosis kedua dan yang pekan keempat ini ada sekitar 6 juta. Nanti kami akan kirim lagi sekitar 6 juta," katanya.

Nadia mengatakan antusiasme masyarakat yang tinggi untuk mengikuti vaksinasi juga mempengaruhi persediaan vaksin di Tanah Air. Apalagi, sekarang usia sasaran vaksinasi semakin luas.

"Sekarang ini vaksinasi tidak ada batasan khusus, artinya siapapun, usia di atas 12 tahun bisa divaksin. Jadi tentu harus cermat mengatur kuota vaksinnya," ujarnya.

Nadia meminta masyarakat tidak perlu khawatir jika tidak menerima vaksin dosis kedua tepat pada tanggal yang sudah ditetapkan vaksinator. Masih ada waktu sampai 28 hari setelah dosis pertama disuntikkan.

Pemerintah juga memperluas kerja sama dengan swasta untuk menjangkau lebih banyak masyarakat yang divaksin. "Potensi swasta ini kan akan sangat banyak, bagaimana semakin banyak sentra-sentra vaksinasi yang kita buka," ujarnya.

Kemenkes juga berupaya menambah tenaga vaksinator mengingat Indonesia akan menerima sangat banyak dosis vaksin pada Oktober 2021.

"Oktober itu kemungkinan dua kali lipat dari yang saat ini kita terima jumlah vaksinnya. Tentunya kita harus segera menyuntikkan kepada masyarakat. Jadi memang harus segera diperluas (akses vaksin)," katanya.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

KBRN, Krakow: Dalam konteks pandemi COVID-19, menjadi penting untuk memahami mengapa orang menolak atau menunda divaksin tanpa batas waktu.

Sebuah studi Polandia baru, yang dilakukan di Universitas Jagiellonian (Krakow, Polandia) dan Universitas Ilmu Sosial dan Kemanusiaan SWPS (Wroclaw, Polandia) dan diterbitkan dalam jurnal Social Psychological Bulletin, mengemukakan dampak dari penyebaran aktif argumen anti-vaksin yang menarik perhatian, serta ketidakpercayaan keseluruhan pada Farmasi Besar, sains, dan penyedia kesehatan.

Dalam studi mereka, dengan menggunakan data dari total 492 peserta, yang telah mengidentifikasi diri sebagai ambigu terhadap atau menentang vaksinasi, tim peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Katarzyna Stasiuk, menyimpulkan bahwa penyangkal vaksin sebagian besar disebabkan sikap negatif umum terhadap vaksin, seperti dikutip dari Medical Xpress, Rabu (4/7/2021).

Argumen-argumennya dikumpulkan selama konferensi, di mana orang-orang yang menentang vaksinasi mempresentasikan pendirian mereka tentang masalah ini.

Anehnya, meskipun mereka sering melaporkan pendirian mereka didasarkan pada pengalaman negatif mereka sendiri atau pengamatan dengan vaksin, ketika ditanya tentang alasannya, mereka agak kabur dalam memberikan penjelasannya.

Banyak yang melaporkan bahwa mereka tidak mengingat sumber informasi, sementara yang lain mengaitkan dengan autisme, alergi, atau anak-anak yang sakit karena vaksin, meskipun korelasi bukti nya hilang.

Contoh-contoh itu dapat dijelaskan dengan kecenderungan orang untuk cenderung mengingat laporan negatif, bahkan jika itu hanya dibaca secara online.

"Bias konfirmasi terdiri dari individu yang secara aktif mencari informasi yang konsisten dengan hipotesis yang sudah ada sebelumnya, dan menghindari informasi yang menunjukkan penjelasan alternatif," kata para peneliti.

"Sehingga, sikap negatif yang sudah ada sebelumnya terhadap vaksin dapat menyebabkan individu menafsirkan gejala-gejala negatif sebagai konsekuensi dari vaksinasi, yang semakin memperkuat sikap negatif."

Tim peneliti juga mengingatkan bahwa ketika diberikan informasi serupa dari berbagai sumber, orang cenderung lupa bagaimana mereka mempelajarinya, seringkali mencampuradukkan  dengan pengalaman mereka sendiri atau pengalaman orang terdekat mereka.

Akibatnya, mereka bisa berubah menjadi sumber informasi yang salah.

Secara keseluruhan, para penyangkal vaksin percaya bahwa vaksin menyebabkan efek samping negatif yang serius, tidak melindungi individu dan masyarakat dari penyakit menular, dan belum cukup menerima pengujuan sebelum diberikan.

Lebih jauh, mereka meyakini bahwa para pemimpin anti-vaksinasi memiliki informasi yang lebih baik tentang vaksin dibandingkan dokter.

Menariknya, jika dibandingkan dengan kelompok yang mengaku ragu-ragu terhadap vaksin, para penentang vaksin lebih cenderung percaya bahwa pengobatan modern mampu menangani epidemi.

Sementara itu, para peserta survei yang meragukan vaksin sebagian besar yakin akan kemanjuran vaksin, serta sudah diteliti dengan benar. Namun, mereka masih rentan terhadap pernyataan gerakan anti-vaksin tentang efek samping dan "konspirasi Farmasi Besar".

Apalagi jika ini disajikan dengan argumen yang disiapkan dengan baik, mereka cenderung menjadi penyangkal vaksin.

Sebagai kesimpulannya, para ilmuwan mencatat bahwa bukti-bukti yang ada cukup pesimistis tentang kemungkinan mengubah sikap penentang vaksin, dan dengan demikian merekomendasikan bahwa upaya-upaya perlu difokuskan untuk meyakinkan kelompok yang meragukan vaksin, sehingga kekhawatiran mereka tentang efek negatif berkurang.

Peneliti juga menyarankan bahwa mereka perlu disajikan dengan argumen prososial tentang mengapa profesional medis merekomendasikan vaksin, untuk memperkuat poin positif dari sikap mereka.

Diterbitkan di Berita
Nafilah Sri Sagita K - detikHealth Jakarta - Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) mengungkap hasil autopsi pemuda Jakarta Timur, Trio Fauqi Virdaus yang meninggal usai vaksinasi AstraZeneca. Disebutkan, tidak ada indikasi pembekuan darah yang dikhawatirkan timbul dari vaksin AstraZeneca.

"Kami turut berduka cita dengan kejadian ini. Berdasarkan permintaan pihak Dinas Kesehatan DKI Jakarta, tim forensik RSCM telah melakukan otopsi klinis terhadap almarhum Trio Fauqi Virdaus. Autopsi klinis dilakukan dengan sangat teliti, oleh karena itu diperlukan waktu yang cukup panjang," jelas Prof Dr dr Hindra Irawan Satari, Ketua Komnas KIPI dalam rilis Kemenkes RI, dikutip Selasa (3/8/2021).

"Selain itu, autopsi klinis dilakukan oleh tim dokter profesional dan independen. Kesimpulannya, tidak cukup bukti sampai dengan saat ini untuk mengaitkan KIPI yang terjadi dengan imunisasi yang diberikan. Hasil otopsi klinis juga tidak menunjukkan adanya pembekuan darah, atau blood clot, yang selama ini diduga dapat ditimbulkan karena vaksin AstraZeneca," sambungnya.

Dr dr Ade Firmansyah Sugiharto, SpFM(K), Ketua Tim Autopsi Klinis, menyampaikan otopsi memakan waktu lama dikarenakan jenazah sudah dimakamkan sekitar 2 minggu sebelum akhirnya diperiksa.

Dari pemeriksaan, ditemukan adanya kelainan di paru tetapi tidak bisa dipastikan sebagai penyebab pasti meninggalnya yang bersangkutan karena jenazah sudah dalam kondisi membusuk.

"Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh secara makroskopik dan mikroskopik serta laboratorium dengan melibatkan ahli kedokteran forensik dan medikolegal, patologi anatomik, patologi klinik, mikrobiologi, dan ilmu penyakit dalam," sebut Dr Ade.

"Dari hasil autopsi klinis ditemukan kelainan di paru, namun tidak adekuat untuk ditetapkan sebagai penyebab kematian karena jenazah telah membusuk lanjut saat diotopsi," sambungnya.

Prof Hindra mengaku kejadian tersebut akan menjadi catatan laporan KIPI serius untuk terus memantau pelaksanaan vaksinasi ke depan, meskipun bukti yang ada belum bisa menunjukkan apakah vaksin AstraZeneca benar menjadi penyebabnya.


(naf/up)

Diterbitkan di Berita

LAS VEGAS, POSKOTA.CO.ID Seorang ayah di Las Vegas yang sekarat karena Covid-19 mengirimi tunangannya teks yang memilukan "Saya seharusnya mendapatkan vaksin sialan itu" tepat sebelum dia meninggal. 

Dilansir dari laman New York Post, Michael Freedy (39) sempat pergi berlibur dengan tunangan Jessica du Preez dan anak-anak mereka yang berusia 17, 10, 7, 6 dan 17 bulan, pada pertengahan Juli 2021.

Beberapa saat setelah mereka kembali, Freedy pergi ke rumah sakit dengan gejala yang paling umum dialami oleh pasien Covid-19 sepert demam, batuk kering dan kelelahan. Akhirnya beberapa hari kemudian dia dinyatakan positif Covid19.

Dia pulang ke rumah untuk mencoba mengatasi penyakitnya dengan memisahkan dirinya dari keluarganya, tetapi gejalanya menjadi semakin parah.

"Selasa pagi, sekitar jam 3 atau 4 pagi, dia membangunkan saya dengan panik.  Dia mengatakan seperti, 'Saya tidak bisa bernapas. Saya tahu ada yang tidak beres.’” kata du Preez kepada stasiun TV Fox.

Freedy bahkan tidak bisa berdiri, jadi tunangannya mengantarkan Freedy kembali ke rumah sakit. Dia dirawat dengan gejala pneumonia di kedua paru-paru dan pindah ke rumah sakit lain, di mana du Preez diizinkan untuk melihatnya.

"Saya terus mengatakan kepadanya, 'Kamu akan melewati ini, kamu harus pulang kepada kami,'" katanya. Sebaliknya, kondisinya memburuk, dan dia dipindahkan ke ICU.

"Saya bisa menelepon sebelum mereka membawanya masuk, dan dia duduk di telepon," kata du Preez. “Dan aku bisa mendengarnya. Saya seperti, 'Tolong terus berjuang. Jangan menyerah.'

Dan dia seperti, 'Saya mencoba untuk melawan, tetapi mereka akan mengintubasi saya dan menempatkan saya di bawah.'”

Pada suatu ketika, Freedy mengirimi du Preez SMS dari rumah sakit. “Ya Tuhan [sumpah serapah] saya. Ini mengerikan. Aku seharusnya mendapatkan vaksin sialan itu." ,” tulisnya, menurut afiliasi CBS-TV, KLAS. 

Freedy meninggal di rumah sakit Kamis (29/7/2021) pagi dan tetap ada du Preez di sisinya.

“Saya berada di rumah sakit mengunjungi Mike dan menceritakan semua tentang hari anak-anak kami dan bagaimana semua orang mendukungnya,” du Preez memposting di halaman GoFundMe. “Nomornya jatuh dan mereka tidak dapat mengembalikannya.

“Cinta dalam hidupku, batuku, segalanya bagiku. Ayah dari bayi saya, tidak lagi bersama kami. Saya tidak tahu harus berbuat apa.” Freedy tidak divaksinasi - meskipun tunangannya mengatakan pasangan itu telah merencanakan untuk vaksinasi tetapi semuanya sekarang sudah telat. (cr03)

Diterbitkan di Berita

alinea.id Indonesia menerima hibah vaksin Moderna sebanyak 3,5 juta dosis dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Vaksin yang tiba pada Minggu (1/8) ini, dicatat dalam kedatangan tahap ke-32 dan merupakan hasil kerja sama multilateral dengan skema COVAX Facility.

Selain itu, Indonesia juga menerima hibah dosis sebanyak 620.000 dosis vaksin AstraZenecca dari Kerajaan Inggris. Vaksin tahap ke-33 itu dijadwalkan Senin (2/8), merupakan hasil kerja sama bilateral dengan Kerajaan Inggris.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, saat ini dirinya berada di Washington DC melakukan kunjungan kerja atas undangan Menlu AS Antony Blinken. 

Pertemuan pertama telah dia mulai di hari yang sama dengan Kurt Campbell, Deputy National Security Council White House, yang juga memiliki portofolio sebagai Koordinator Indo-Pasifik pada Dewan Keamanan Nasional AS.

Menurut Menlu Retno, selain berbagai isu strategis di kawasan, pertemuan tersebut juga membahas kerja sama penanganan Covid-19.

Sebagai hasil diskusi yang intensif baik dengan Secretary Blinken maupun dengan NSA Jack Sullivan, Amerika Serikat telah memberikan tambahan dukungan vaksin dose-sharing AS melalui COVAX Facility, sebanyak 3.5 juta dosis vaksin jadi yang tiba kemarin, di Jakarta.

"Ini adalah ketibaan vaksin Moderna dari AS tahap tiga," ujarnya. Sebelumnya, Indonesia telah menerima 4.500.160 dosis vaksin dari AS dalam dua tahap. Tahap pertama 3.000.060 dosis vaksin dan tahap kedua 1.500.100.

Dengan ketibaan kemarin, maka jumlah vaksin Moderna, dukungan kerja sama Pemerintah AS melalui COVAX Facility yang telah diterima Indonesia adalah 8.000.160 dosis vaksin jadi.

Menlu Retno menambahkan, hari ini sekitar pukul 15.40 WIB, Indonesia juga akan menerima 620.000 vaksin Astra Zeneca dukungan kerja sama dose-sharing bilateral dari Pemerintah Inggris.

Dukungan vaksin dari Inggris ini juga merupakan hasil komunikasi intensif yang dilakukan dengan Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab.

"Diskusi terakhir untuk mematangkan kerja sama dose sharing ini, saya lakukan dengan Secretary Raab di sela-sela pertemuan G-20 di Mattera, Italia, pada 29 Juni 2021," ujarnya.

Menlu Retno menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Pemerintah AS atas dukungan tambahan vaksin. Juga kepada Pemerintah Inggris. 

Menurutnya, kerja sama melalui dose-sharing mechanism merupakan salah satu cara yang penting untuk dilakukan agar dunia dapat keluar dari pandemi ini.

Dengan ketibaan vaksin Moderna 3,5 juta ini, maka dalam catatan Kementerian Luar Negeri, Indonesia telah menerima di titik ketibaan 178.357.880 dosis vaksin yang terdiri dari vaksin curah atau bulk sebesar 144.700.280 dan vaksin jadi sebesar 33.657.600.

Jika dipilah lagi dari sisi sumbernya maka Indonesia telah menerima pengiriman sebanyak  19.704.960 dosis vaksin dari COVAX Facility, secara gratis dan semuanya merupakan vaksin yang sudah jadi.

"Pemerintah akan terus bekerja keras untuk mengamankan pengadaan vaksin bagi kepentingan rakyat Indonesia," ujarnya.

Diterbitkan di Berita