Vidya Pinandhita - detikHealth Jakarta - Kuba menjadi negara pertama di dunia yang memberikan vaksin COVID-19 pada anak-anak berusia mulai dari dua tahun. Jenis vaksin COVID-19 yang digunakan adalah buatan sendiri yang tidak diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dikutip dari France24, vaksin Kuba ini pertama kali dikembangkan di Amerika Latin dan belum menjalani tinjauan sejawat internasional. Mereka berbasis teknologi protein rekombinan seperti pada Novavax Amerika Serikat dan Sanofi Prancis yang juga tengah menunggu persetujuan WHO.

Setelah menyelesaikan uji klinis pada anak di bawah umur dengan vaksin Abdala dan Soberana, Kuba memulai kampanye inokulasi untuk anak-anak berusia 12 tahun ke atas mulai Jumat (3/9/2021).

Berlanjut pendistribusian tusukan pada anak-anak berusia 2-11 tahun di provinsi tengah Cienfuegos, Senin (6/9/2021). Hal tersebut dilaksanakan Kuba untuk menginokulasi semua anak sebelum kembali melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Mengingat, tahun ajaran baru dimulai Senin ini melalui program televisi lantaran sebagian besar rumah di Kuba tidak memiliki akses internet.

Di sejumlah negara lainnya, vaksin COVID-19 mulai diberikan pada anak-anak berusia 12-17 tahun. China, Uni Emirat Arab, dan Venezuela telah mengumumkan rencana vaksinasi anak-anak di bawah usia 12 tahun.

Namun kini, Kuba resmi menjadi pertama yang merealisasikan rencana tersebut. Lainnya di Chili, penggunaan vaksin COVID-19 Sinovac baru saja disetujui untuk digunakan pada anak-anak berusia 6-12 tahun per Senin (6/9/2021).

Dalam beberapa bulan terakhir, Kuba mengalami ledakan kasus COVID-19 yang menekan sistem kesehatan. Dari total 5.700 kematian akibat virus Corona yang tercatat sejak wabah dimulai, hampir setengahnya terjadi bulan lalu, setara sepertiga dari total kasus yang dilaporkan.

(vyp/up)

Diterbitkan di Berita

Brasil Tangguhkan 12 Juta Dosis Vaksin Sinovac

Minggu, 05 September 2021 09:44

Langkah tersebut menyusul temuan bahwa semua vaksin tersebut diproduksi di pabrik yang tidak resmi. 

Anvisa mengaku telah diperingatkan oleh Institut Butantan di Sao Paulo pada Jumat (3/9/2021), bahwa sebanyak 25 batch atau 12,1 juta dosis vaksin yang dikirim ke Brasil telah dibuat di pabrik yang tidak sah tersebut. 

Institut Butantan adalah pusat biomedis yang bermitra dengan Sinovac untuk mengisi dan merampungkan vaksin secara lokal di Brasil. 

“Unit manufaktur itu belum diperiksa dan tidak masuk dalam fasilitas produksi yang disetujui oleh Anvisa dalam otorisasi penggunaan darurat vaksin (buatan Sinovac) yang disebutkan,” ungkap Anvisa dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters, Minggu (5/9/2021). 

Menurut Anvisa, penangguhan itu sebagai bagian dari tindakan pencegahan untuk menghindari penduduk penerima vaksin dari kemungkinan risiko terpapar kontaminan. 

Butantan juga mengatakan kepada Anvisa bahwa 17 batch vaksin corona lainnya, dengan total 9 juta dosis, telah diproduksi di pabrik yang sama. Saat ini, vaksin-vaksin tersebut sedang dalam perjalanan ke Brasil.

 

Diterbitkan di Berita

tek.id Kementerian Kesehatan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) melakukan tata kelola perlindungan data dan keamanan sistem PeduliLindungi.

Hal ini merupakan buntut perkara sertifikat vaksin Presiden Joko Widodo yang diakses orang lain sehingga menjadi topik panas di Twitter.

Staf Khusus Menteri Kominfo Bidang Digital dan SDM Dedy Permadi memaparkan, Kemenkes akan bertanggungjawab atas pemanfaatan data pada sistem PeduliLindungi yang terintegrasi dengan Pusat Data Nasional (PDN), sesuai dengan PP No. 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE) serta Perpres No. 39 Tahun 2019 tentang Inisiatif Satu Data Indonesia.

Sementara BSSN sebagai lembaga yang berwenang melaksanakan kebijakan teknis keamanan siber bertanggungjawab untuk melakukan pemulihan dan manajemen risiko keamanan siber Sistem Elektronik sesuai dengan PP PSTE dan Pepres No. 28 Tahun 2021 tentang BSSN.

Terakhir, sesuai PP PSTE, PM Kominfo No. 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik, serta Pepres No. 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik, Kominfo selaku regulator akan melakukan langkah strategis pemutakhiran tata kelola data sistem PeduliLindungi.

Sebelumnya, Kominfo juga sudah melakukan migrasi sistem PeduliLindungi ke PDN pada 28 Agustus 2021. Migrasi meliputi sistem, layanan aplikasi, database aplikasi PeduliLindungi, serta sistem aplikasi SiLacak, dan PCare.

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keamanan Sistem Pedulilindungi. Dedy menambahkan, agar masyarakat tidak terprovokasi terkait isu kebocoran data dan tetap menggunakan aplikasi PeduliLindungi yang akan terus disempurnakan.

“Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak tepat terkait sistem PeduliLindungi. Pemerintah menghimbau agar masyarakat dapat mengunduh dan tetap memanfaatkan aplikasi PeduliLindungi yang saat ini fiturnya terus dikembangkan untuk mendukung aktivitas masyarakat dalam masa adaptasi pengendalian pandemi Covid-19,” ujar Dedy.

Diterbitkan di Berita

AS Gunakan Pfizer Sebagai Booster Vaksin

Sabtu, 04 September 2021 09:41

KBRN, Jakarta: Vaksin dosis jenis Pfizer rencanya akan menjadi vaksin booster atau vaksin ketiga untuk masyarakat di Amerka Serikat. 

Hal tersebut diungkapkan melalui seorang sumber yang mengetahui tentang pembahasan mengenai rencana pemberian booster vaksin pada Jumat (3/9/2021) kemarin.

Merangkum dari Reuters, Sabtu (4/9/2021) diketahui jika dalam pembahasan tersebut juga membahas tentang vaksin jenis Moderna, yang nantinya juga diajukan sebagai booster tapi ditemukan tidak memadai.

Sementara, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) juga membutuhkan data yang lebih kuat dari perusahaan. Sehingga pelaksanaan vaksin booster tersebut dapat dilakukan mungkin beberapa minggu di belakang Pfizer/BioNTech.

Sebelumnya, pejabat kesehatan AS telah mengatakan bahwa booster atau dosis ketiga vaksin Covid-19 akan tersedia secara luas pada 20 September untuk orang Amerika yang menerima dua dosis vaksin Pfizer/BioNTech atau Moderna setidaknya delapan bulan sebelumnya.

Biden pun sempat mengatakan bahwa pemerintah mengharapkan untuk memberikan 100 juta suntikan booster secara gratis di sekitar 80 ribu lokasi di seluruh AS.

Namun, rencana ini sempat menimbulkan perdebatan karena Gedung Putih disebut melangkahi FDA dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dalam membuat keputusan berbasis sains semacam ini.

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Saat ini muncul varian baru virus corona baru yang dinamai "mu" yang mungkin bisa menghindari kekebalan yang diinduksi vaksin.

Varian ini dikenal sebagai B.1.621 dan pertama kali terdeteksi di Kolombia pada Januari 2021 dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikannya sebagai variant of interest (VOI).

Label VOI, seperti dikutip dari Livescience, Jumat, berarti prevalensi varian tersebut meningkat di beberapa area dan mutasi ini cenderung mempengaruhi karakteristik virus, seperti penularan atau tingkat keparahan penyakit.

Menurut WHO, varian mu memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan vaksin.

Data awal studi laboratorium menunjukkan antibodi yang dihasilkan sebagai respons terhadap vaksinasi COVID-19 atau infeksi sebelumnya kurang mampu menetralisir atau mengikat dan menonaktifkan varian mu. Namun, temuan ini masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian selanjutnya.

Sejauh ini, varian mu telah terdeteksi di 39 negara, termasuk di Amerika Selatan, Eropa dan Amerika Serikat. Sebuah studi dari University of Miami mendeteksi varian ini pada 9 persen kasus di Jackson Memorial Health System di Miami, menurut Medpage Today.

Meskipun mu ditemukan kurang dari 0,1 persen dari semua kasus COVID-19 di seluruh dunia, tetapi varian ini menyumbang 39 persen dari kasus di Kolombia dan 13 persen di Ekuador, dan telah meningkat prevalensinya di area tersebut.

WHO menyatakan masih memerlukan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami varian mu dan penyebarannya. Terkait penularannya, otoritas kesehatan di Inggris mencatat varian ini tidak menyebar sangat cepat dan tak lebih menular daripada varian delta.

Tetapi mu punya kemampuan menghindari kekebalan yang diinduksi vaksin. Selain mu, WHO saat ini juga memantau empat VOI lainnya yakni eta, iota, kappa dan lambda serta empat variant of concern (VOC) yaitu alfa, beta, gamma dan delta.

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Nafilah Sri Sagita K - detikHealth Jakarta - Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menegaskan hingga kini sudah ditemukan tiga jenis variant of concern (VoC) yaitu varian Alpha, Beta, dan varian Delta.

Total varian Beta di Indonesia 17 kasus, disusul varian Alpha yang sudah mencapai 64 kasus, dan paling banyak mendominasi hampir di seluruh provinsi Indonesia adalah varian Delta dengan 2.240 kasus.

Sementara lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia pada umumnya dikembangkan dengan varian asli yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan. Maka dari itu, menurut dia, masih ada kemungkinan efikasi vaksin menurun saat melawan varian baru Corona.

"Meski menurun, masyarakat tidak perlu khawatir khususnya pada kelima jenis vaksin yang telah digunakan di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan bahwa standar vaksin dengan kemampuan membentuk kekebalan yang baik ialah yang memiliki efikasi atau efektivitas di atas 50 persen," sebut Prof Wiku dalam konferensi pers, Kamis (2/8/2021).

Wiku kemudian mengingatkan untuk tidak berpuas diri dengan cakupan vaksinasi 70 persen. Dengan adanya varian baru Corona, lebih baik mencapai total vaksinasi di atas 70 persen untuk memastikan herd immunity atau kekebalan kelompok benar-benar terbentuk.

Berikut rangkuman efektivitas vaksin COVID-19 di Indonesia melawan varian baru Corona.

Varian Alpha

- Vaksin Sinovac memiliki efikasi di atas 50 persen

Varian original (Wuhan)

Lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti ampuh melawan varian virus asli yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, dengan efikasi di atas 50 persen, ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Sinopharm
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Varian Alpha

Tiga dari lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti mampu melawan COVID-19 varian Alpha dengan efikasi di atas 50 persen. Berikut daftarnya.

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Adapun vaksin COVID-19 yang masih butuh studi lanjutan terkait efektivitasnya meliputi:

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin Sinopharm

Varian Beta

Tiga dari lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti mampu melawan COVID-19 varian Beta dengan efikasi di atas 50 persen. Berikut daftarnya.

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Sementara vaksin COVID-19 yang masih butuh studi lanjutan terkait efektivitasnya meliputi:

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin Sinopharm

Varian Delta

Ada dua di antara lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti ampuh melawan varian Delta di Indonesia.

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Pfizer

Vaksin COVID-19 yang masih butuh studi lanjutan efektivitasnya pada varian Delta adalah:

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin Moderna

Vaksin COVID-19 yang masih diteliti untuk varian Delta.

  • Vaksin Sinopharm

Varian Gamma

Baru ada satu vaksin COVID-19 yang terbukti ampuh melawan varian Gamma di Indonesia yaitu vaksin Sinovac.

Masih butuh studi lebih lanjut:

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Masih menunggu hasil studi:

  • Vaksin Sinopharm

(naf/up)

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Ketua DPD AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengapresiasi inovasi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang berhasil menemukan teknologi alat penyimpanan vaksin COVID-19 yang disebut Smart Vaccine Tube.

"Saya mengapresiasi temuan teknologi tersebut. Kiprah perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah ditunjukkan Kampus UGM yang berinovasi mengembangkan alat penyimpanan vaksin COVID-19," katanya dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Kamis.

Menurut dia inovasi teknologi yang ditemukan UGM itu patut menerima perhatian agar dapat dikembangkan ke depannya. Ia meniIai menilai Smart Vaccine Tube amat berguna bagi pemerintah dalam mendistribusikan vaksin ke daerah-daerah terpencil yang membutuhkan waktu penyaluran.

"Alat ini dapat digunakan untuk pendistribusian ke daerah-daerah terpencil dan kepulauan yang memerlukan waktu berhari-hari di dalam perjalanan," katanya.

Dengan alat yang mampu menjaga suhu 2-8 derajat Celcius itu, kata dia, sehingga vaksin dapat disalurkan dengan aman meski memiliki waktu distribusi yang lama dan dapat mempercepat pencapaian vaksinasi untuk mendapatkan kekebalan kelompok akan COVID-19.

Temuan itu, katanya, dapat mengakselerasi program vaksinasi dengan kemampuan menjangkau ke seluruh daerah.

Dia berharap inovasi teknologi penyimpanan vaksin itu dapat dikembangkan lebih lanjut karena akan mempermudah jangkauan vaksin ke setiap daerah termasuk wilayah tertinggal, terdepan dan terluar atau 3T.

"Terkait dengan hal ini, sebagaimana permintaan BPOM agar vaksin terjaga mutunya hingga di pelosok desa, teknologi ini dapat dijadikan jawaban. Tinggal perlu segera difinalisasi mengenai kapasitas dan keunggulan teknologi tersebut," demikian LaNyalla.

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, meminta Dinas Kesehatan tiap kabupaten/kota untuk kembali mengecek ulang data stok vaksin.
Sehingga, mereka tidak kehabisan stok yang dapat menghambat jalannya vaksinasi. "Pengiriman vaksin bagi kabupaten/kota dengan estimasi stok lebih dari 30 hari akan ditunda terlebih dahulu.
 
Kabupaten/kota diberikan waktu 2 hari untuk melakukan cross-check dan update terkait data stok yang telah disampaikan, untuk memastikan tidak ada kekurangan pada saat pelaksanaan vaksinasi karena ditundanya pengiriman vaksinasi," kata Nadia dalam keterangan pers virtual, Rabu (1/9). Nadia menjelaskan, pengiriman vaksin corona dapat diprioritaskan pada daerah yang stok vaksinnya lebih sedikit. Selama ini pun pengiriman vaksin dilakukan setiap minggu.
 
Untuk itu, pihaknya meminta kepada seluruh dinkes kabupaten/kota untuk memastikan stok vaksinnya paling tidak memenuhi paling sedikit sampai 7 hari ke depan. "Alokasi vaksin di kabupaten/kota mempertimbangkan laju penyuntikan pada minggu sebelumnya. Sehingga alokasi vaksin diharap dapat memenuhi kebutuhan dosis 1 dan 2 minimal 7 hari," ungkapnya.
 
Selain itu, dinkes provinsi juga dapat merealokasikan stok vaksin pada kabupaten/kota yang stoknya berlimpah kepada daerah lain yang stoknya menipis.
 
 
Kemenkes Tunda Distribusi Vaksin Corona ke Daerah yang Stoknya Cukup Sebulan (1)
Petugas kesehatan menyuntikan vaksinasi Pfizer. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
 
"Dinkes provinsi perlu didorong untuk mempercepat laju distribusi vaksin dari provinsi ke kabupaten/kota mengikuti laju pengiriman pusat terutama bagi daerah yang mudah dijangkau. Bila perlu pemerintah provinsi bisa realokasi pada kabupaten/kota yang masih memiliki stok vaksin yang cukup banyak untuk diberikan kepada kabupaten/kota lain yang tentu memiliki stok vaksin sedikit di minggu tersebut," jelas Nadia.
 
Dengan adanya pendistribusian vaksin ke daerah yang masih kekurangan stok, Nadia optimistis dapat mengejar target penyuntikan hingga 2 juta dosis sehari pada September ini. "Dengan distribusi vaksin sebanyak 15,2 juta di minggu ke-4 Agustus ini dan 20,3 juta di minggu ke 5 Agustus hingga awal September nanti. Maka kami yakin target 2 juta dosis per hari bisa dicapai," pungkasnya.
Diterbitkan di Berita

KOMPAS.com - Pemerintah melalui Satuan Gugus Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 meminta masyarakat agar tidak mencetak sertifikat vaksinasi. Hal itu penting untuk diketahui untuk melindungi data pribadi.

Seperti diketahui, sertifikat vaksin Covid-19 memuat sejumlah data pribadi dari orang yang divaksinasi.

Kebocoran data Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pencetakan kartu vaksin rawan kebocoran data yang dapat disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab. Karena itu pihaknya mengingatkan warga yang telah divaksin untuk tidak perlu mencetak sertifikat vaksin tersebut. 

“Masyarakat tidak perlu lagi mencetak sertifikat vaksin sekaligus juga dapat melindungi data pribadi dari potensi kebocoran penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Wiku seperti dikutip dari Kompas.com, 26 Agustus 2021.

Mencetak kartu sertifikat vaksin berarti harus menjaga agar tidak tercecer atau hilang, sebab termuat informasi data diri yang penting seperti: Nama lengkap Nomor Induk Kepegawaian (NIK) Tanggal lahir Kode batang (barcode) ID Tanggal vaksin diberikan Informasi vaksinasi dosis ke berapa Merek vaksin yang diperlukan Nomor batch vaksin Pernyataan kesesuaian dengan peraturan Menteri Kesehatan Indonesia.

Adapun mencetak sertifikat vaksin menggunakan jasa cetak berisiko kebocoran data pribadi, yang dapat disalahgunakan oleh penyedia jasa untuk berbagai hal negatif. Seperti salah satunya mengakses pinjaman online hingga tidak kriminal lainnya.

Pemerintah tidak mewajibkan Perlu diketahui, tidak ada persyaratan yang mengharuskan masyarakat mencetak sertifikat vaksin dalam bentuk kartu. Pemerintah maupun penyedia layanan perjalanan dan layanan publik tidak mewajibkan sertifikat vaksin dalam bentuk kartu fisik.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menuturkan, Kemenkes tak mengatur ketentuan boleh-tidaknya sertifikat vaksinasi dicetak dalam bentuk fisik. “Ini (cetak sertifikat vaksin) tidak kami atur ya,” tutur Nadia.

Masyarakat dapat menggunakan aplikasi PeduliLindungi di ponsel untuk menjaga keamaanan informasi pribadi. Dengan mengunduh aplikasi ini, seseorang dapat dengan mudah menunjukkan sertifikat vaksin saat dibutuhkan dan data pribadi juga aman terlindungi.

Pantauan Kompas.com, akses ke aplikasi Peduli Lindungi membutuhkan akun untuk akses masuk. Jika belum mempunyai akun, maka dapat melakukan pendaftaran dengan alamat e-mail atau nomor telepon, dan ikuti petunjuk yang tersedia.

Setelah memiliki akun, buka aplikasi dan masukkan e-mail atau nomor telepon yang terdaftar. Ketikkan kode OTP yang dikirimkan ke nomor telepon untuk verifikasi.

Setelah itu, di bagian atas akan muncul menu Akun, klik menu tersebut. Pilih menu Sertifikat Vaksin, dan sertifikat akan muncul. Jika ingin memperbesar, tinggal klik gambar vaksinnya.

Penjual jasa cetak kartu vaksin Melansir situs Covid-19, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah memblokir penjual jasa cetak kartu vaksin di marketplace, yang bertujuan mencegah kebocoran data.

Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kemendag Veri Anggrijono memaparkan, ada sebanyak 2.453 produk dan jasa pencetakan kartu vaksin di marketplace telah diblokir oleh pemerinah.

“Sejauh ini sudah dilakukan sebanyak 137 kata kunci (keywords) dan 2.453 produk dan jasa pencetakan kartu vaksin,” ujar Veri.

Ia menyampaikan, dalam marketplace terdapat berbagai penawaran jasa mencetak kartu vaksin Covid-19 yang dapat berpotensi melanggar ketentuan perlindungan data pribadi.

Kemendag melalui Direktorat Jenderal PTKN meningkatkan pengawasan jasa layanan cetak kartu vaksin Covid-19 di marketplace Indonesia.

Hal itu menyusul ditemukannya 83 tautan pedagang yang menawarkan jasa layanan cetak kartu atau sertifikat vaksin dengan harga yang beragam.


Penulis : Mela Arnani
Editor : Rizal Setyo Nugroho

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Hanoi - Penyebaran Virus Corona varian Delta di Vietnam sangat cepat hingga menggagalkan upaya pemerintah untuk menahan penyebaran virus. 

Vietnam telah berhasil menahan virus corona untuk sebagian besar tahun lalu, tetapi kemudian berubah sejak varian Delta menyerang kota Ho Chi Minh. 

Melansir Channel News Asia, Kamis (26/8/2021), hampir semua dari 370.000 kasus COVID-19 telah terdeteksi sejak Mei dan infeksi harian melonjak di atas 10.000 untuk pertama kalinya bulan ini.

Hal ini pun membebani rumah sakit di bagian selatan negara itu dan meningkatkan tingkat kematian kasus.

"Ini adalah contoh yang sangat baik dari sebuah negara tertinggal ketika semua negara kaya di dunia mengambil vaksin terlebih dahulu," kata Dale Fisher, ahli penyakit menular senior di National University Hospital di Singapura.

"Kerugian ini hanya akan diperburuk karena negara-negara yang sama menerapkan dosis ketiga pencegahan, sementara negara-negara seperti Vietnam berjuang dalam tingkat vaksin satu digit." 

 

Tingkat Vaksinasi

 

Vietnam telah sepenuhnya menginokulasi hanya 2 persen dari 98 juta orangnya, di antara yang terendah di Asia, karena memilih kebijakan penahanan dan tidak terburu-buru untuk mendapatkan vaksin, yang dianggap terlalu berisiko secara finansial karena kekurangan global yang parah.

“Jika tingkat vaksinasi tetap terlalu rendah, Vietnam tidak hanya dapat menyusul Indonesia (sebagai episentrum berikutnya) tetapi juga berisiko memilih varian lain yang lebih mungkin terjadi pada populasi yang tidak divaksinasi,” kata Roger Lord, dosen senior ilmu kedokteran di Universitas Katolik Australia. 

Perdana Menteri Pham Minh Chinh mengirim surat kepada kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (24/8) dan mendesak program vaksin COVAX untuk memprioritaskan Vietnam "dengan cara tercepat dan dengan volume sebesar mungkin". 

Upaya vaksinasi yang lambat juga dipengaruhi oleh rencana pengadaan Vietnam, berbeda dengan banyak tetangganya yang sangat bergantung pada China untuk pasokan karena akses terbatas ke dosis vaksin dari negara Barat.

Diterbitkan di Berita