Khadijah Nur Azizah - detikHealth Jakarta - PeduliLindungi saat ini menjadi syarat aktivitas di masa PPKM yang kembali diperpanjang hingga 13 September mendatang. Aplikasi PeduliLindungi digunakan sebagai skrining untuk pelacakan pergerakan yang banyak digunakan terutama di aktivitas perdagangan dan transportasi.

Berdasarkan hasil evaluasi penerapan aplikasi PeduliLindungi di enam sektor masyarakat, pemerintah menemukan fakta masih ada masyarakat yang berkeliaran meski terkonfirmasi positif COVID-19.

Wakil Menteri Kesehatan RI dr Dante Saksono Harbuwono mengatakan melalui aplikasi PeduliLindungi, ada sekitar 1.625 orang yang terdeteksi masuk ke kategori hitam. Kriteria hitam ini adalah mereka yang positif COVID-19 atau kontak erat dengan yang positif.

"Ini banyak terdeteksi khususnya ketika masuk di mal," kata dr Dante.

Ada empat kriteria di aplikasi PeduliLindungi; hijau untuk yang sudah dua kali vaksin dan tidak ada catatan kontak erat, kuning baru mendapatkan satu dosis vaksin atau penyintas COVID-19, merah belum divaksinasi, dan hitam adalah mereka yang positif COVID-19 atau kontak erat dengan pasien Corona.

Dalam kesempatan yang sama, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan total masyarakat yang melakukan skrining dengan menggunakan PeduliLindungi mencapai 20,9 juta orang.

Dari total 20,9 juta orang tersebut, terdapat 761 ribu orang yang masuk kategori merah, tidak diperkenankan masuk/melakukan aktivitas di tempat publik oleh sistem.

"Dan juga terdapat 1.603 orang dengan status positif dan kontak erat mencoba untuk melakukan aktivitas publik," kata Luhut.

Pemerintah disebut akan menindak dengan tegas orang yang masuk kriteria hitam di PeduliLindungi yang masih berusaha melakukan aktivitas di area publik dengan membawa mereka ke tempat isolasi terpusat.

"Hal ini dilakukan untuk sama-sama menjaga dan melindungi kita semua," tegasnya.

(kna/up)

Diterbitkan di Berita

Brasil Tangguhkan 12 Juta Dosis Vaksin Sinovac

Minggu, 05 September 2021 09:44

Langkah tersebut menyusul temuan bahwa semua vaksin tersebut diproduksi di pabrik yang tidak resmi. 

Anvisa mengaku telah diperingatkan oleh Institut Butantan di Sao Paulo pada Jumat (3/9/2021), bahwa sebanyak 25 batch atau 12,1 juta dosis vaksin yang dikirim ke Brasil telah dibuat di pabrik yang tidak sah tersebut. 

Institut Butantan adalah pusat biomedis yang bermitra dengan Sinovac untuk mengisi dan merampungkan vaksin secara lokal di Brasil. 

“Unit manufaktur itu belum diperiksa dan tidak masuk dalam fasilitas produksi yang disetujui oleh Anvisa dalam otorisasi penggunaan darurat vaksin (buatan Sinovac) yang disebutkan,” ungkap Anvisa dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters, Minggu (5/9/2021). 

Menurut Anvisa, penangguhan itu sebagai bagian dari tindakan pencegahan untuk menghindari penduduk penerima vaksin dari kemungkinan risiko terpapar kontaminan. 

Butantan juga mengatakan kepada Anvisa bahwa 17 batch vaksin corona lainnya, dengan total 9 juta dosis, telah diproduksi di pabrik yang sama. Saat ini, vaksin-vaksin tersebut sedang dalam perjalanan ke Brasil.

 

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia Pada Juli lalu, Jawa Barat tercatat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah pasien isoman yang meninggal dunia terbanyak. Kisah dari empat keluarga ini, meski telah terjadi sekitar dua bulan lalu, menjadi catatan buruknya penanganan Covid di puncak pandemi.

Febi terkesiap melihat ayahnya terkulai lemas di kursi roda. Sang ayah menghembuskan napas terakhir saat mengantre di pelataran Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Kota Bogor, 9 Juli 2021 lalu.

Febi tak sempat menemani di saat-saat terakhirnya karena sibuk berkeliling mencari oksigen. Dia hanya bisa menangis dan memeluknya untuk terakhir kali.

Ayah Febi sebelumnya mengeluh sakit lambung. Beberapa kali berobat ke klinik, diagnosis dokter adalah sakit asam lambung, sementara tes usap antigen menyebutkan ayahnya negatif Covid-19.

"Tidak ada gejala Covid, seperti batuk, demam, atau flu. Ayah juga masih bisa berdiri, bisa jalan. Tapi memang ada penyakit bawaan, jantung dan stroke," kisah Febi kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Dua hari setelah tes antigen yang hasilnya negatif itu, sang ayah mulai mengeluh pernapasannya terganggu dan minta dibawa ke rumah sakit.

Sejumlah rumah sakit yang didatangi Febi menolak dengan alasan penuh. Status ayahnya yang saat itu negatif Covid juga menjadi alasan rumah sakit menolak perawatan. "Takut tertular Covid di rumah sakit," kata Febi menirukan.

Namun karena kondisi ayahnya terus memburuk, pada Kamis (08/07) malam, Febi bersikeras membawa ayahnya ke rumah sakit. Lagi-lagi, tiga rumah sakit yang didatanginya, menolak.

"Saya sedikit memaksa, tidak apa-apa saya menunggu, dari pada menunggu di rumah tanpa penanganan lebih baik saya menunggu di rumah sakit," kisahnya. Waktu menunjukkan hampir pukul 24.00 WIB. Mobil mengular memasuki area rumah sakit, antrean juga terlihat di depan IGD.

"Saya pikir, enggak mungkin ketika ayah saya kenapa-kenapa akan dibiarkan saja oleh pihak rumah sakit. Akhirnya boleh, tetapi tes Covid dulu," lanjut Febi. Hasil tes di rumah sakit itu mengkonfirmasi ayahnya positif Covid-19.

 

rumah sakit penuh

Pada bulan Juli, lonjakan kasus yang terjadi di sebagian besar wilayah Jawa-Bali membuat rumah sakit kewalahan. GETTY IMAGES

 

Sementara itu, kondisi ayahnya semakin lemah dengan saturasi oksigen 33 persen. Melihat sang ayah yang susah payah menghirup oksigen, Febi beranjak mencari depo pengisian oksigen.

Namun dini hari itu, meski telah mengelilingi Kota Bogor, semua depo tutup. Saat Febi akhirnya kembali ke rumah sakit, sang ayah sudah meninggal dunia.

Febi mengaku ikhlas melepaskan ayahnya "pulang" sebulan jelang hari pernikahannya. Ia tahu, keinginan ayahnya untuk sembuh untuk sembuh sangat kuat lantaran ingin mengantar anak gadisnya melepas masa lajang.

"Ternyata benar, cuma kita gak ada firasat ke sana. Makanya kenapa tetap menikah, walaupun belum 40 hari [ayah meninggal] karena kita berpikir ini permintaan terakhir ayah saya," ucap Febi.

Meninggal di ambulans

"Neneknya sudah meninggal, Sean, jangan cari ya," ucap Tresia Wulandari kepada Sean, anaknya yang baru berusia empat tahun.

"Neneknya bobok," timpal Sean, sesaat sebelum pemakaman sang nenek, Aminah, yang meninggal di dalam ambulans saat melaju ke rumah sakit.

 

meninggal saat isoman

Tresia Wulandari di makam ibunya, Aminah, yang wafat karena Covid-19 sebelum mendapat perawatan di rumah sakit. DOKUMENTASI PRIBADI

 

Aminah, ibu Tresia itu, sebelumnya mengeluh merasakan nyeri lambung. Karena tiga hari sakitnya tak juga mereda, Tresia menyarankan Aminah tes usap antigen. Hasilnya, positif.

Tresia, yang tinggal di Kota Bandung, kemudian berangkat menemui sang ibu di Subang, Jawa Barat, sekaligus menjemput Sean yang selama ini tinggal bersama neneknya.

"Saya ambil anak, terus saya tanya ibu, mau dibawa ke rumah sakit enggak? Katanya nggak usah, ini yang terasa lambungnya saja," ungkap Tresia.

Namun kemudian, Aminah mulai terserang sesak napas dan harus mendapatkan asupan oksigen. Keadaan di Subang kala itu, seluruh rumah sakit penuh dan pasokan oksigen sulit.

Pada Sabtu (17/07), Aminah semakin sulit bernapas, dan saturasi oksigennya merosot hingga 56 persen. Tresia mendapatkan rumah sakit yang mau menerima sang ibu, namun lokasinya di Purwakarta.

Masalah lain menanti. Ambulans yang sedianya mengantarkan sang ibu ke Purwakarta dari Subang, masih dipakai. Aminah harus menunggu — dalam keadaan sesak napas berat — selama lima jam sebelum ambulans dapat menjemputnya.

"Cuma jarak beberapa kilometer dari rumah, ibu sudah tidak bergerak. Padahal oksigen masih terpasang, tabung oksigen masih ada [isinya]," tutur Tresia dengan suara bergetar.

Tresia merasa, dirinya kurang peka terhadap kondisi Aminah sehingga terlambat ditangani. Tapi di sisi lain, ia merasa tidak mendapat bantuan dari pemerintah di kala menghadapi situasi sulit saat pandemi ini.

 

meninggal saat isoman

Tresia Wulandari dan ibunda, Aminah, semasa masih hidup. DOKUMENTASI PRIBADI

 

Sejak ibunya dinyatakan positif Covid-19 hingga meninggal, tak satu pun aparat dari dinas kesehatan atau satgas setempat yang memantau kondisi ibunya. Semua penanganan selama ibunya isoman murni dilakukan pihak keluarga.

"Kita sudah laporan [bahwa] Bunda positif ke [perangkat] desa, terus sudah, tidak ada tindak lanjut apa-apa. Tidak ada dinas yang datang, tidak ada pendataan lebih lanjut," ungkap dosen ilmu komunikasi ini.

Terpengaruh kabar hoaks dan minim pemahaman

Semasa hidupnya, Lubis tidak percaya Covid-19. Padahal, usahanya berdagang air mineral kemasan membuat dia berinteraksi dengan banyak orang dan membuat dia rawan tertular ataupun menularkan virus corona.

Sampai ketika Lubis sakit dengan gejala Covid-19 pun, menurut seorang tetangganya, Lubis menolak dibawa ke rumah sakit karena "takut di-Covid-kan."

 

isoman

Jenazah Lubis saat dievakuasi dari rumahnya di sebuah komplek perumahan di Kota Bandung. ISTIMEWA

 

"Sering ngobrol dengan saya bahwa beliau salah satu yang tidak yakin dengan keberadaan Covid," ujar sang tetangga, Iwan Hermawan, yang menyarankan Lubis melapor ke Satgas Covid-19 di RT dan RW agar dibawa ke rumah sakit.

"Sampai malam harinya pun, dia sudah sesak, mau dibantu dengan oksigen, dia juga menolak," cerita Iwan.

Tanpa penanganan medis, kondisi Lubis terus memburuk. Hingga paginya, "Anaknya teriak-teriak, 'Bapak meninggal, bapak meninggal'."

Tetangga menghubungi puskesmas yang kemudian melakukan uji usap Covid-19 terhadap jenazah Lubis. Kakek 75 tahun itu diketahui terinfeksi virus corona, termasuk tujuh orang anggota keluarganya yang tinggal serumah.

Iwan menyebut, Lubis terpengaruh hoaks dari media sosial. Kepada Iwan, pria itu mengaku percaya pandemi Covid-19 adalah upaya konspirasi global dan rekayasa pemerintah.

Semua yang berkaitan dengan penanganan Covid-19, seperti vaksin dan uji usap, ditolak Lubis. Iwan menduga, sikap Lubis juga diikuti anak dan istrinya.

 

meninggal saat isoman

Ilustrasi. Keluarga dari pasien isoman yang meninggal dunia, saat petugas mengevakuasi jenazah di Bogor, 15 Juli 2021. GETTY IMAGES

 

Namun setelah kematian Lubis, "Mungkin setelah orang tuanya meninggal, [mereka menjadi] yakin bahwa Covid itu ada. Mereka mau di-rapid [tes] dan sudah mendaftarkan diri untuk divaksin," kata Iwan.

Selain hoaks, permasalahan lain yang menyebabkan tingginya tingkat kematian karena Covid di Indonesia adalah keterlambatan penanganan.

Seperti yang terjadi pada Saepudin, di awal Juli lalu. Saat jatuh sakit, Saepudin tak menunjukkan gejala khusus, hanya mengaku sakit perut saja. Saepudin juga masih berselera makan dan beraktivitas mandiri, seperti salat dan pergi ke kamar mandi, kata sang istri Kuswati.

Namun kemudian, kisah Kuswati, "Tiga hari bapak tidak bisa bicara. Seperti sesak. Sakit memegang-pegang dada. Hari keempatnya meninggal."

Hasil swap antigen pada jenazah Saepudin menunjukkan positif Covid. Begitupun pada Kuswati dan dua anaknya yang tinggal serumah.

Hasil tersebut sama sekali di luar dugaan Kuswati. Meski beberapa hari menjelang kematian Saepudin, Kuswati dan anaknya sempat mengalami anosmia atau kehilangan kemampuan menghidu. Kuswati hanya mencium satu jenis bau saja.

"Masuk ke belakang [dapur], ini bau apa. Saya kira ada makanan busuk. Oh, mungkin bajunya yang bau, ganti [baju] yang baru. Tapi kok sama baunya. Begitu saja, tidak ada curiga apa-apa," akunya.

Anggota Gugus Tugas Penanggulangan Wabah Covid setempat, Witarsa Watarman mengungkapkan, pihaknya sempat meminta Saepudin melakukan uji usap Covid-19 saat diketahui sakit.

Namun permintaan itu ditolak lantaran keluarga meyakini Saepudin sakit biasa. Situasi itu menurut Witarsa mengkhawatirkan karena berakibat lambannya penanganan, seperti yang kemudian terjadi pada Saepudin.

"Pada saat-saat kritis barulah yang bersangkutan diminta oleh pengurus RW atau RT atau satgas untuk dilakukan tes, akhirnya ketahuan positif," ujar Witarsa.

Diterbitkan di Berita

sindonews.com JAKARTA - Kepala bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia memaparkan berdasarkan data terkini Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta , dilakukan tes PCR sebanyak 19.260 spesimen.

"Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 11.941 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 430 positif dan 11.511 negatif. Selain itu, dilakukan pula tes Antigen hari ini sebanyak 14.736 orang dites, dengan hasil 227 positif dan 14.509 negatif," kata Dwi di Jakarta, Kamis (2/9/2021). 

Lebih lanjut, Dwi juga menyampaikan target tes WHO adalah 1.000 orang dites PCR per sejuta penduduk per minggu (bukan spesimen), artinya target WHO untuk Jakarta adalah minimum 10.645 orang dites per minggu.

"Target ini telah Jakarta lampaui selama beberapa waktu. Dalam seminggu terakhir ada 80.358 orang dites PCR. Sementara itu, total tes PCR DKI Jakarta kini telah mencapai 545.121 per sejuta penduduk," terangnya.

Adapun jumlah kasus aktif di Jakarta turun sejumlah 417 kasus, sehingga jumlah kasus aktif sampai hari ini sebanyak 6.244 (orang yang masih dirawat/ isolasi). Sedangkan, jumlah kasus konfirmasi secara total di Jakarta sampai hari ini sebanyak 851.686 kasus.

Perlu diketahui, hasil tes antigen positif di Jakarta tidak masuk dalam total kasus positif karena semua dikonfirmasi ulang dengan PCR.

Dari jumlah total kasus positif, total orang dinyatakan telah sembuh sebanyak 832.130 dengan tingkat kesembuhan 97,7%, dan total 13.312 orang meninggal dunia dengan tingkat kematian 1,6%, sedangkan tingkat kematian Indonesia sebesar 3,3%. 

Untuk positivity rate atau persentase kasus positif sepekan terakhir di Jakarta sebesar 4,3%, sedangkan persentase kasus positif secara total sebesar 14,7%. WHO juga menetapkan standar persentase kasus positif tidak lebih dari 5%.

(kri)

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Saat ini muncul varian baru virus corona baru yang dinamai "mu" yang mungkin bisa menghindari kekebalan yang diinduksi vaksin.

Varian ini dikenal sebagai B.1.621 dan pertama kali terdeteksi di Kolombia pada Januari 2021 dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikannya sebagai variant of interest (VOI).

Label VOI, seperti dikutip dari Livescience, Jumat, berarti prevalensi varian tersebut meningkat di beberapa area dan mutasi ini cenderung mempengaruhi karakteristik virus, seperti penularan atau tingkat keparahan penyakit.

Menurut WHO, varian mu memiliki konstelasi mutasi yang menunjukkan sifat potensial untuk lolos dari kekebalan vaksin.

Data awal studi laboratorium menunjukkan antibodi yang dihasilkan sebagai respons terhadap vaksinasi COVID-19 atau infeksi sebelumnya kurang mampu menetralisir atau mengikat dan menonaktifkan varian mu. Namun, temuan ini masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian selanjutnya.

Sejauh ini, varian mu telah terdeteksi di 39 negara, termasuk di Amerika Selatan, Eropa dan Amerika Serikat. Sebuah studi dari University of Miami mendeteksi varian ini pada 9 persen kasus di Jackson Memorial Health System di Miami, menurut Medpage Today.

Meskipun mu ditemukan kurang dari 0,1 persen dari semua kasus COVID-19 di seluruh dunia, tetapi varian ini menyumbang 39 persen dari kasus di Kolombia dan 13 persen di Ekuador, dan telah meningkat prevalensinya di area tersebut.

WHO menyatakan masih memerlukan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami varian mu dan penyebarannya. Terkait penularannya, otoritas kesehatan di Inggris mencatat varian ini tidak menyebar sangat cepat dan tak lebih menular daripada varian delta.

Tetapi mu punya kemampuan menghindari kekebalan yang diinduksi vaksin. Selain mu, WHO saat ini juga memantau empat VOI lainnya yakni eta, iota, kappa dan lambda serta empat variant of concern (VOC) yaitu alfa, beta, gamma dan delta.

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita
Nafilah Sri Sagita K - detikHealth Jakarta - Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menegaskan hingga kini sudah ditemukan tiga jenis variant of concern (VoC) yaitu varian Alpha, Beta, dan varian Delta.

Total varian Beta di Indonesia 17 kasus, disusul varian Alpha yang sudah mencapai 64 kasus, dan paling banyak mendominasi hampir di seluruh provinsi Indonesia adalah varian Delta dengan 2.240 kasus.

Sementara lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia pada umumnya dikembangkan dengan varian asli yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan. Maka dari itu, menurut dia, masih ada kemungkinan efikasi vaksin menurun saat melawan varian baru Corona.

"Meski menurun, masyarakat tidak perlu khawatir khususnya pada kelima jenis vaksin yang telah digunakan di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan bahwa standar vaksin dengan kemampuan membentuk kekebalan yang baik ialah yang memiliki efikasi atau efektivitas di atas 50 persen," sebut Prof Wiku dalam konferensi pers, Kamis (2/8/2021).

Wiku kemudian mengingatkan untuk tidak berpuas diri dengan cakupan vaksinasi 70 persen. Dengan adanya varian baru Corona, lebih baik mencapai total vaksinasi di atas 70 persen untuk memastikan herd immunity atau kekebalan kelompok benar-benar terbentuk.

Berikut rangkuman efektivitas vaksin COVID-19 di Indonesia melawan varian baru Corona.

Varian Alpha

- Vaksin Sinovac memiliki efikasi di atas 50 persen

Varian original (Wuhan)

Lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti ampuh melawan varian virus asli yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, dengan efikasi di atas 50 persen, ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Sinopharm
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Varian Alpha

Tiga dari lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti mampu melawan COVID-19 varian Alpha dengan efikasi di atas 50 persen. Berikut daftarnya.

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Adapun vaksin COVID-19 yang masih butuh studi lanjutan terkait efektivitasnya meliputi:

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin Sinopharm

Varian Beta

Tiga dari lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti mampu melawan COVID-19 varian Beta dengan efikasi di atas 50 persen. Berikut daftarnya.

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Sementara vaksin COVID-19 yang masih butuh studi lanjutan terkait efektivitasnya meliputi:

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin Sinopharm

Varian Delta

Ada dua di antara lima jenis vaksin COVID-19 di Indonesia terbukti ampuh melawan varian Delta di Indonesia.

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Pfizer

Vaksin COVID-19 yang masih butuh studi lanjutan efektivitasnya pada varian Delta adalah:

  • Vaksin Sinovac
  • Vaksin Moderna

Vaksin COVID-19 yang masih diteliti untuk varian Delta.

  • Vaksin Sinopharm

Varian Gamma

Baru ada satu vaksin COVID-19 yang terbukti ampuh melawan varian Gamma di Indonesia yaitu vaksin Sinovac.

Masih butuh studi lebih lanjut:

  • Vaksin AstraZeneca
  • Vaksin Moderna
  • Vaksin Pfizer

Masih menunggu hasil studi:

  • Vaksin Sinopharm

(naf/up)

Diterbitkan di Berita

tagar.id Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono melalui siaran virtual yang ditayangkan pada Kamis, 2 September, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus Covid-19 telah menunjukkan penurunan secara drastis.

Menurutnya, penurunan per hari itu mencapai angka 10,36 persen dan juga ada penurunan angka kematian angka kematian yang menyentuh 37 persen. "Tren kasus Covid-19 makin lama makin menurun," ujarnya, Kamis, 2 September 2021.

Wamenkes menjelaskan, bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani pandemi. Sehingga, sejumlah indikator penurunan Covid-19 menurun secara tajam beberapa waktu belakangan ini.

Kunci dalam menekan angka positif Covid-19, kini terletak pada disiplin melakukan protokol kesehatan (prokes) dalam kegiatan sehari-hari. Melalui disiplin prokes akan dapat membuat pencegahan yang efektif dalam menghadapi ancaman nyata pandemi saat ini.

Amerika Serikat, Inggris, Israel, dan Jepang kembali mengalami lonjakan kasus itu karena protokol kesehatan yang tidak dilakukan. "Makin menurun sejalan dengan berbagai macam protokol kesehatan yang kita kampanyekan," katanya.

Belajar dari lonjakan Covid-19 di berbagai negara disebabkan oleh tidak patuhnya terhadap prokes yang diterapkan. Akibatnya, lonjakan kasus positif yang meningkat tajam dalam beberapa waktu belakangan.

"Amerika Serikat, Inggris, Israel, dan Jepang kembali mengalami lonjakan kasus itu karena protokol kesehatan yang tidak dilakukan," katanya.[]

Diterbitkan di Berita

alinea.id Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia menyatakan bahwa pada Rabu (1/9), 450 konsentrator oksigen yang diberikan Jepang telah tiba di Bandara Soekarno Hatta.

Konsentrator oksigen tersebut diberikan Jepang melalui kerja sama dengan United Nations Office for Project Services (UNOPS).

Bantuan tersebut merupakan bagian dari 2.800 konsentrator oksigen yang diberikan kepada Indonesia dengan menggunakan skema bantuan hibah darurat senilai US$5,6 juta dolar yang diumumkan pada 20 Juli yang lalu. 

Bersama dengan 500 konsentrator oksigen yang telah diberikan oleh Jepang pada 29 Agustus lalu, secara total 950 konsentrator oksigen telah tiba di Indonesia.

Kedubes Jepang menyatakan bahwa bantuan dari pemerintah Jepang bermaksud mendukung penanganan Covid-19 di Indonesia yang merupakan mitra strategis bagi Jepang. 

"Jepang akan terus mendukung upaya Indonesia dalam menekan penularan dan mengatasi pandemik Covid-19," jelas pernyataan tersebut.

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku Jakarta – Kelompok teroris menggunakan kondisi pandemi Covid-19 untuk memotivasi anggotanya untuk melakukan aksi teror. Mereka membuat narasi bahwa pandemi Covid-19 adalah kondisi akhir zaman, lalu memantik motivasi untuk melakukan aksi teror.

“Lalu masyarakat atau jemaahnya ini harus menyiapkan diri untuk menyambut adanya akhir zaman itu,” kata Kadensus 88 Antiteror Mabes Polri Irjen Pol Martinus Hukom dala diskusi daring yang digelar Humas Polri, Selasa (31/8).

Martinus mencontohkan beberapa kasus di Brebes, Kendal, Maluku, dan Sulawesi Tenggara beberapa waktu lalu. Densus 88 mengungkap bahwa sejumlah anggota kelompok teroris tengah membuat bom untuk aksi teror. Itu semua adalah upaya untuk mempersiapkan datangnya akhir zaman.

Menurutnya, Densus 88 melakukan banyak penindakan hukum selama masa pandemi saat ini. Hal itu, membuktikan bahwa aktivitas teroris tetap berjalan selama masa pandemi.

Selain isu pandemi, Martinus menyebut kelompok teroris juga banyak menggunakan platform-platform media sosial untuk menjaring simpatisan, sehingga percaya ideologi yang mereka anut. Biasanya kelompok teroris memanfaatkan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Itu mereka menggunakan isu-isu pandemi ini sebagai satu trigger untuk memotivasi kelompoknya untuk bergerak,” kata Martinus.

Sebelumnya, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan ada 4.093 laporan terkait aliran dana yang diduga berasal dari kelompok teroris dalam lima tahun terakhir.

Ribuan informasi tersebut disusun menjadi 207 laporan analisis, lalu diserahkan ke Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN). Dilanjutkan dengan proses hukum dan penangkapan para tersangka teroris jika ditemukan bukti-bukti yang cukup.

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Ketua DPD AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengapresiasi inovasi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang berhasil menemukan teknologi alat penyimpanan vaksin COVID-19 yang disebut Smart Vaccine Tube.

"Saya mengapresiasi temuan teknologi tersebut. Kiprah perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah ditunjukkan Kampus UGM yang berinovasi mengembangkan alat penyimpanan vaksin COVID-19," katanya dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Kamis.

Menurut dia inovasi teknologi yang ditemukan UGM itu patut menerima perhatian agar dapat dikembangkan ke depannya. Ia meniIai menilai Smart Vaccine Tube amat berguna bagi pemerintah dalam mendistribusikan vaksin ke daerah-daerah terpencil yang membutuhkan waktu penyaluran.

"Alat ini dapat digunakan untuk pendistribusian ke daerah-daerah terpencil dan kepulauan yang memerlukan waktu berhari-hari di dalam perjalanan," katanya.

Dengan alat yang mampu menjaga suhu 2-8 derajat Celcius itu, kata dia, sehingga vaksin dapat disalurkan dengan aman meski memiliki waktu distribusi yang lama dan dapat mempercepat pencapaian vaksinasi untuk mendapatkan kekebalan kelompok akan COVID-19.

Temuan itu, katanya, dapat mengakselerasi program vaksinasi dengan kemampuan menjangkau ke seluruh daerah.

Dia berharap inovasi teknologi penyimpanan vaksin itu dapat dikembangkan lebih lanjut karena akan mempermudah jangkauan vaksin ke setiap daerah termasuk wilayah tertinggal, terdepan dan terluar atau 3T.

"Terkait dengan hal ini, sebagaimana permintaan BPOM agar vaksin terjaga mutunya hingga di pelosok desa, teknologi ini dapat dijadikan jawaban. Tinggal perlu segera difinalisasi mengenai kapasitas dan keunggulan teknologi tersebut," demikian LaNyalla.

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita