KBRN, Jakarta: Pancasila di tengah pandemi, radikalisme, dan terorisme menjadi tema dialog RRI dan BNPT hari ini, Jumat (11/6/2021). 

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid menyatakan pancasila merupakan dasar negara dan pemersatu bangsa.

"Pancasila produk jenius tokoh bangsa, tokoh nasional yang tidak hanya memiliki kemampuan kognisi, tetapi kemampuan spiritualnya, semua radikalisme dan terorisme indikatornya anti pancasila," ujarnya di studio Pro 3 RRI. 

Ia menambahkan, semua mahzab mewajibkan untuk mentaati perjanjian dan menghormati pancasila. 

"Ketika orang berdiskusi apakah khilafah bagian dari sejarah agama, itu sebenarnya multi tafsir di kalangan ulama sendiri, yang harus dipahami bahwa semua agama, semua mahzab mewajibkan untuk mentaati perjanjian dan menghormati pancasila," tandasnya.

Maka, siapapun yang ingin merongrong pancasila dan ideologi negara maka masuk dalam indikator radikal dan teroris. 

"Pola radikalisme dan terorisme harus dipahami bahwa akar masalah utama yang mengatasnamakan agama itu adalah ideologi yang menyimpang," tukasnya.

Diterbitkan di Berita
 

KBRN, Jakarta: Indonesia belakangan dirundung berbagai isu radikalisme, bahkan tindakan kriminal terorisme juga merebak di banyak daerah, tidak semata di Pulau Jawa.

Tapi, berbagai pemahaman radikal atau sebagai isme---sebagai suatu ideologi, dari sudut pandang lembaga negara khusus menangani terorisme, yaitu Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) selama ini belum diungkap dengan lugas.

Guna mengetahui arti dari penggunaan kata “radikalisme” dari BNPT, rri.co.id melakukan wawancara khusus dengan Direktur Pencegahan (DP) BNPT Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid, pada Jumat (28/5/2021).

Berikut ini wawancara khusus rri.co.id.

Tanya: Apa definisi BNPT sendiri, karena radikal itu, banyak arti ya, kalau digunakan?

Jawab (Ahmad): Kalau terorisme kan, sudah ada definisinya secara yuridis, secara hukum. Itu, di Pasal 1 Ayat 2 Undang Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang terorisme.

Sementara, radikalisme adalah paham yang menjiwai aksi terorisme. Paham, atau ideologi menuju fase terorisme.

Jadi, semua teroris, pasti berpaham radikal, ya. Pasti bersikap intoleran dan ekslusif. Oke?

Intoleran dan ekslusif itu adalah watak dasar dari pada radikalisme dan terorisme.

Jadi, kalau ada orang terpapar paham radikal, ataupun teroris, kesannya tidak toleran, inklusif, tidak ekslusif, yakinlah mereka bahwa sedang takiyah.

Takiyah itu, sedang bersiasat menyembunyikan diri tujuan dan rencana, ataupun visi dan misinya. Oke, itu satu.

Yang kedua, memang, belum ada definisi yang baku terhadap istilah radikalisme, atau ekstremisme.

Tetapi, kalau definisi yuridis belum ada, kita cukup menggunakan definisi yang ada di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Karena, Kamus Besar Bahasa Indonesia ini kan, resmi. Ya, kan? Di situ didefinisikan, radikalisme itu adalah paham, atau ideologi yang menginginkan perubahan tatanan sosial dan politik yang sudah mapan.

Secara radik, secara mengakar. Makanya, radik, radikalisme---secara mengakar yang cenderung dilakukan dengan cara cara ekstrem, atau kekerasan. Itu untuk radikalisme.

Nah, di luar negeri, (radikalisme, red) lebih dikenal dengan ekstremisme, ya.

Nah, ada Konferensi Internasional Para Ulama di Kairo, Mesir, bulan Februari tahun 2021. Itu, mendefinisikan dengan tegas, tentang ekstremisme, atau radikalisme dalam konteks Indonesia, ya.

Ekstremisme adalah paham atau ideologi yang dibangun di atas manipulasi agama, dan distorsi agama.

Karena apa? Memang sejatinya, radikalisme dalam realitanya, adanya adalah gerakan politik, yang ingin mengambil alih kekuasaan, atau merebut kekuasaan, dengan memanipulasi agama, dengan tujuan mengganti sistem negara dan ideolgi negara.

Tanya: Jadi, ada basic (dasar) agama di pemahaman radikalisme itu?

Jawab (Ahmad): Agama. Tetapi, begini. Semua tindakan teroris, tidak ada kaitannya dengan agama apapun.

Karena, tidak ada satupun agama di dunia ini yang membolehkan, atau membenarkan aksi terorisme.

Tetapi, sangat terkait dengan cara beragama, dan beragam pemahaman secara menyimpang dari oknum bersangkutan.

Tanya: Apa contohnya, pak?

Jawab (Ahmad): Misalnya, aksi di Mabes Polri, pengeboman di (Gereja) Katedral), atau terorisme ISIS. Ini enggak ada Islam membolehkan itu. Tetapi, dia (pelaku, red) beragama Islam.

Artinya, memang tidak ada kaitannya dengan agama apapun, karena tidak ada satupun agama yang membenarkannya, membolehkannya.

Tapi, memang terkait dengan pemahaman dan cara beragama oknum umat beragama yang bersangkutan.

Tanya: Apa kriteria para oknum dari pengamatan BNPT selama ini?

Jawab (Ahmad): Dan ini memang biasanya didominasi oleh umat beragama mayoritas di suatu wilayah, atau negara.

Tanya: Apa seperti di Indonesia?

Jawab (Ahmad): Indonesia mayoritasnya (agama), apa? Muslim.

Nah, waktu di Myanmar, mayoritas (agama, red) apa (di sana, red)? Buddha. Makanya, oknum beragama Buddha.

Di Papua, mayoritas apa? Ya, fair, ya. Clear, ya. 

 

 

Diterbitkan di Berita

Lansia Berdaya Melawan Radikalisme

Minggu, 30 Mei 2021 14:10

Lansia tidak bermakna hanya menghabiskan waktu dengan momong cucu. Karena itulah, Juhariyah merasa perlu mendirikan sekolah "Yang Eyang" pada 2012, untuk memberi warna pada keseharian lansia.

Sekolah yang ada di Ledokombo, Jember, Jawa Timur ini, membekali para lansia dengan pengetahuan baru yang mereka perlukan. Kata Juhariyah ini penting, karena mereka yang lahir di era tahun 50-an, kini harus menghadapi cucu dari generasi milenial.

Upaya mereka untuk terus belajar bahkan merambah jauh hingga ke soal radikalisme. Hal ini, kata Juhariyah, didorong pengalaman salah satu peserta sekolah sendiri.

Salah satu anak lansia ini, dikenal cerdas dan penurut sepanjang menghabiskan pendidikan dasar hingg SMA. Namun, semua berubah setelah dia menempuh pendidikan tinggi di kota.

 

 

Juhariyah pendiri sekolah Yang Eyang, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)
Juhariyah pendiri sekolah Yang Eyang, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)

 

“Setelah keluar rumah kemudian kuliah, itu yang menjadi pemikiran, karena setiap pulang, dia itu sedikit-sedikit mengatakan kepada orang tuanya. ini haram, ini tidak boleh. Jadi dari anak pendiam dan cerdas, dia kemudian membentak dan berani kepada orang tua,” kata Juhariyah.

Aktivis yang sejak 2007 bergerak dalam pemberdayaan lansia itu berbicara dalam obrolan lansia Menangkal Radikalisme, Sabtu (29/5).

Perbincangan itu diselenggarakan WGWC, Tanoker dan Aman Indonesia. Indonesia memang memperingati 29 Mei setiap tahunnya, sebagai Hari Lanjut Usia Nasional.

Peran lansia dinilai cukup strategis karena salah satu upaya melawan paham radikal adalah dengan meningkatkan peran pencegahan di tingkat komunitas dan kelompok.

Wacana alternatif berbasis nilai tradisi ini antara lain dibangun oleh Tanoker dan Sekolah "Yang Eyang" melalui gerakan Sistem deteksi dini ekstrimisme (SITI).

 

S. Parlindungan Gultom, seorang dokter berusia 76 tahun, menerima suntikan pertama vaksin Biotek Sinovac China untuk COVID-19, sebagai penggunaan vaksin yang disetujui untuk populasi lansia, di Jakarta, 8 Februari 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
S. Parlindungan Gultom, seorang dokter berusia 76 tahun, menerima suntikan pertama vaksin Biotek Sinovac China untuk COVID-19, sebagai penggunaan vaksin yang disetujui untuk populasi lansia, di Jakarta, 8 Februari 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

 

Pertanian Sebagai Sarana

Zaka Ardiansyah, salah satu pendamping gerakan Desa Damai mengakui peran penting kelompok masyarakat ini.

Karena itulah, di pedesaan upaya menangkal radikalisme dilakukan melalui pendekatan terhadap kegiatan masyarakat seperti pengajian, yang juga dikenal sebagai majelis taklim.

Kegiatan pendampingan dengan mengajak tokoh masyarakat dan guru ngaji ini dilakukan dalam bentuk sederhana.

“Mengumpulkan masyarakat yang memiliki kegelisahan yang sama, untuk melakukan pencegahan ekstremisme kekerasan, atau radikalisme menjangkiti anaknya, berkumpul bersama, belajar menanam sayuran dan memelihara ikan dalam ember,” kata Zaka.

 

Zaka Ardiansyah, pendamping gerakan Desa Damai, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)
Zaka Ardiansyah, pendamping gerakan Desa Damai, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi)

 

Karena semua memiliki sayuran dan ikan lele yang dibudidayakan dalam ember besar, tokoh dan masyarakat memiliki kesempatan untuk rutin bertemu setidaknya dua kali dalam sebulan.

Pertamuan ini menyertakan anggota keluarga mereka, sehingga diharapkan mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik. Di sela acara merawat tanaman dan ikan bersama-sama itulah, dialog dan berbagi pengalaman terjalin, mengenai tema-tema aktual di sekitar mereka.

Salah satu yang diperbincangkan, adalah bagaimana kecenderungan radikalisme muncul di kalangan anak-anak mereka atau generasi muda secara umum.

“Bagi tim SITI, tujuan akhirnya adalah menggandeng para tokoh potensial yang memiliki kegelisahan yang sama tadi, untuk bisa belajar berbagi pencegahan dan potensi penyebaran radikalisme di lingkungannya.

Dan ini cukup efektif meningkatkan pemahaman dampingan serta menjadi ajang untuk berbagi potensi radikalisme di lingkungan masing-masing,” tambah Zaka.

Menurut Zaka, gerakan berbasis komunitas ini juga memiliki sejumlah tantangan, misalnya bagaimana mengidentifikasi gejala-gejala radikalisme itu sendiri. Langkah itu penting karena menjadi kunci bagi para lansia kelompok binaan, terkait identitas kelompok tersebut. 

“Di beberapa kesempatan kami tidak dapat secara terbuka mengungkap identitas, namun menunjukkan gejala intoleransi dan radikalisme yang kadang ditemukan,” tambah Zaka.

 

80 tenaga kesehatan lansia menerima vaksinasi COVID-19 di RSUP Fatmawati.(Foto: Courtesy/Kemenkes)
80 tenaga kesehatan lansia menerima vaksinasi COVID-19 di RSUP Fatmawati.(Foto: Courtesy/Kemenkes)

 

Lansia Sebagai Subyek

Dihubungi terpisah, Dr Pinky Saptandari mengakui masih ada stigma di masyarakat terhadap lansia sebagai pihak yang perlu dilindungi dan tidak berdaya. Padahal, di sisi lain kelompok masyarakat ini memiliki potensi yang dapat diberdayakan.

 

Dr Pinky Saptandari, Dosen Unair pendiri LSS. (Foto: Courtesy/Unair)
Dr Pinky Saptandari, Dosen Unair pendiri LSS. (Foto: Courtesy/Unair)

 

Pinky adalah pendiri Lansia Sejahtera Surabaya (LSS) dan dosen di Fakultas Fisipol, Universitas Airlangga. Dalam kaitan keterlibatan lansia mencegah radikalisme, kata Pinky, mungkin yang masih perlu diberikan adalah hal-hal terkait teknologi informasi.

“Mengajari mereka teknik yang berkaitan dengan penggunaan media komunikasi informasi berbasis teknologi infomrasi ini saya kira penting, agar mereka melek IT. Dan itu tidak terlalu sulit, karena makin lama makin canggih dan makin mudah,” ujar Pinky kepada VOA.

Perempuan, Terorisme, dan Tawaran Feminisme untuk Mengatasinya

Pinky hanya berpesan agar masyarakat menempatkan lansia sebagai subyek, dan bukannya obyek dalam berbagai kegiatan. Karena faktor usia, mereka memiliki pengalaman yang sebenarnya dapat memberdayakan generasi lebih muda.

Dalam masyarakat Indonesia, lansia juga mampu memberikan pengaruh sosial karena diposisikan sebagai pemberi arahan dan nasehat. Selain itu, lansia juga menjadi teman curhat dan berbagi pengalaman

“Dan kalau dia enak diajak ngomong dan berwibawa, maka kewibawaannya ini bisa menjadi sarana untuk memberi pengaruh.

Dalam konteks pengaruh inilah, lansia bisa menjalankan peran mulai dari mendorong kesadaran dan perubahan yang harus dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal berbau fundamentalisme, intoleran dan, radikalisme,” tambahnya. [ns/ah]

 

 
Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid mengatakan para pemuka agama merupakan ujung tombak dalam upaya pencegahan penyebaran paham radikal terorisme di tengah masyarakat.

"Selama ini kelompok radikal terorisme dalam melakukan penyebaran pahamnya selalu membungkusnya dengan motif agama. Padahal, hal tersebut tentunya sangat merugikan dan juga memfitnah agama tersebut," kata Ahmad Nurwakhid dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (29/5/2021).

Maka, keberhasilan penanggulangan radikal terorisme yang mengatasnamakan agama, menurut dia, ujung tombaknya ada pada para pemuka agama.

"Maraknya radikalisme ini merupakan cermin dari krisis spritualisme," kata Ahmad Nurwakhid seperti dikutip dari Antara.

Direktur Pencegahan BNPT itu juga mengimbau para tokoh pemuka lintas agama untuk senantiasa mendoakan keberhasilan dan kesuksesan penanggulangan radikalisme terorisme yang telah diusahakan melalui program Gugus Tugas Pemuka Agama.

"Permasalahan radikal terorisme adalah tanggung jawab bersama seluruh lapisan elemen bangsa ini. Semua agama meyakini bahwa seseorang tidak akan menjadi sadar dan moderat tanpa hidayah dari Tuhan YME," kata alumnus Akpol tahun 1989 ini.

Mantan Kepala Bagian Banops Densus 88/Antiteror Mabes Polri ini mengatakan bahwa semua tokoh pemuka agama hendaknya lebih menonjolkan hal-hal yang sifatnya spiritual, yang tercerminkan dalam perilaku akhlakul karimah (akhlak yang terpuji), serta terus menyampaikan hal-hal baik tersebut kepada umat.

"Perlu disampaikan kepada umat bahwa semua aksi radikalisme dan terorisme tidak ada kaitannya dengan agama apa pun tetapi terkait dengan pemahaman dan cara beragama yang menyimpang," katanya.

Ia juga mengatakan bahwa aksi radikalisme adalah musuh semua agama karena semua aksi terorisme dan radikalisme sangat bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip agama yang menjaga persatuan, perdamaian, dan rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam).

"Aksi terorisme dan radikalisme ini dapat menimbulkan fitnah, perpecahan, dan juga menjadi musuh negara. Hal itu bertentangan dengan konsesus atau perjanjian bangsa ini, yaitu Pancasila," ujarnya.

Radikalisme Musuh Bersama

Sementara itu, Sekjen Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) H. Denny Sanusi menyampaikan harapannya untuk sinergi antara LPOI dan LPOK bersama BNPT yang ke depannya dengan melakukan sosialisasi ke bawah, terutama pada komunitas keagamaan masing-masing.

Serta memberikan pengertian betapa berbahayanya paham radikalisme dan terorisme ini.

"Ajaran agama merupakan ajaran penuh kasih sayang, tidak ada ajaran agama yang mengajarkan hal negatif. Kalaupun ada, itu hanya oknum. Oleh karena itu, radikalisme adalah musuh kita bersama," katanya.

Dalam kesempatan yang sama Wakil Ketua Pembina Pengurus Pusat Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PP Perti) Dr. K.H. Anwar Sanusi berharap Gugus Tugas Pemuka Agama yang telah dibentuk BNPT makin menguatkan upaya pencegahan penyebaran paham radikal terorisme di semua agama.

"Melalui Gugus Tugas Pemuka Agama ini, insyaallah, kami bisa mencegah adanya paham radikal terorisme di tengah masyarakat yang sengaja dilakukan oleh oknum tertentu yang miskin terhadap spiritual," ujar Anwar Sanusi.

Diterbitkan di Berita

Kiswondari sindonews.com JAKARTA - Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Nasdem, Ahmad Sahroni mengingatkan pentingnya fungsi empat pilar kebangsaan dalam mencegah terorisme dan radikalisme di Tanah Air. Hal ini disampaikannya dalam Sosialisasi Empat Pilar di Kebon Bawang, Jakarta Utara.

Menurut dia, pemahaman dan pengamalan Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dapat menjadi pilar utama dalam mencegah penyebaran paham terorisme maupun radikalisme di lingkungan masyarakat. 

“Akhir-akhir ini kita kerap mendengar adanya aksi penangkapan terhadap terduga teroris di berbagai daerah. Ini sangat menyedihkan karena tentunya keberadaan teroris ini menyebabkan munculnya rasa tidak aman dan keresahan di masyarakat,” ujar Sahroni di hadapan para peserta, Selasa (25/5/2021) kemarin.

Karena itu, Wakil Ketua Komisi III DPR ini mengingatkan warga agar tetap berpegang teguh pada nilai-nilai empat pilar demi membendung munculnya paham terorisme dan radikalisme. Menurutnya, pemahaman ekstrimis bisa menjamur karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap keempat pilar tadi.

“Saya melihat, paham ekstremisme dapat masuk dan mempengaruhi masyarakat karena kurangnya pemahaman di masyarakat akan nilai-nilai tersebut. Karenanya, saya hadir di sini untuk membantu memberikan pemahaman terkait nilai penting Empat Pilar MPR,” terangnya.

Selain itu, legislator asal Tanjung Priok itu juga mengimbau kepada masyarakat untuk selalu mengedepankan nilai-nilai toleransi antarsesama, karena radikalisme muncul dari sikap intoleran dan ekslusif. 

“Perlu kita pahami bahwa teroris itu tidak bisa ditunjuk ke satu agama tertentu. Paham terorisme ini datang dari pemahaman yang eksklusif dan intoleran, karenanya kita harus selalu mengutamakan keterbukaan, diskusi, dan inklusifitas di masyarakat,” tutup Sahroni.
Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Surabaya - Peran perguruan tinggi, orangtua dan kontrol media sosial bisa menjadi benteng diri untuk menangkal paham radikalisme dan ekstrimisme.

Hal tersebut terungkap pada acara webinar nasional Menjernihkan Hati Melawan Radikalisme, yang digelar Pusat Pembinaan Ideologi LPPM Universitas Negeri Surabaya, Jumat (30/4/2021).

Wakil Rektor Bidang Akademik Unesa, Bambang Yulianto mengatakan, tujuan kegiatan tersebut untuk menguatkan nilai Pancasila, konsep sistem tangkal radikalisme dan peran penting nilai-nilai agama kepada segenap civitas academica Unesa dan semua peserta webinar. 

"Secara yuridis, perguruan tinggi dituntut terlibat aktif dalam menangkal radikalisme maupun Ekstrimisme di kampus. Karena itu, Unesa turut aktif menjadi patner pemerintah dan masyarakat dalam menangkal paham yang bertentangan dengan Pancasila," ujarnya.

Sementara itu, pembicara yang hadir dalam acara tersebut, mantan napi teroris dan mantan Jihadis ISIS di Suriah, Wildan Fauzi mengungkapkan, radikalisme bisa masuk lewat lewat pergaulan dan bisa pula lewat media sosial.

"Media sosial justru lebih berbahaya, para pelaku bisa bergerak secara lone wolf atau operasi sendiri. Operasinya bisa terputus dari jaringan, tidak memiliki kelompok, tetapi bisa melakukan sendiri dengan panduan yang ada di internet," ucapnya.

Menurut Wildan, masuknya paham ekstrimisme karena kurangnya control sosial dan orang tua. Padahal itu penting sekali dan menjadi tembok pertahanan yang penting dalam menangkal pengaruh paham yang bertentangan dengan Pancasila. 

Kontrol Sosial

Wildan becerita banyak tentang awal mula ia bertolak ke Siriah. Dari pengalamannya, penyebar radikalisme bukan asli Timur Tengah, tetapi justru banyak dari Indonesia yang memodifikasi ajaran agama untuk kepentingan sendiri.

“Paling penting adalah perkuat kontrol sosial dan keluarga, dengan siapa anak kita bergaul dan kepada siapa mereka mengaji,” ujarnya.  

Diterbitkan di Berita
Candra Yuri Nuralam medcom.id Jakarta: Pengungkapan kasus dugaan terorisme di Front Pembela Islam (FPI) diharapkan tidak berhenti pada penangkapan Munarman. Polisi diminta segera menangkap mantan anggota FPI lain yang diduga terpapar radikalisme.
 
"Ini adalah yang sangat besar, keberadaan yang sangat besar. Bukan hanya pada titik penangkapan Munarman tapi lebih besar lagi bagaimana hal itu memberikan efek deteren bagi kelompok-kelompok atau simpatisan pada tindakan ekstrimisme, dan itu sebagian ada di FPI," kata peneliti institute for security and strategic studies (ISESS) Bambang Rukminto dalam diskusi Crosscheck by Medcom.id dengan tema 'Munarman Teroris?', Minggu, 2 Mei 2021.
 
Bambang mengatakan banyak terduga teroris yang memanfaatkan nama FPI untuk beraksi. Polisi diminta segera mengungkap terduga teroris yang bersembunyi di balik nama FPI. "Terorisme atau simpatisan ekstrimisme itu banyak sekali, di FPI pun tidak semuanya juga mempunyai paham ekstrimisme atau terorisme," ujar Bambang.
  
Polisi juga diminta menggencarkan penangkapan eks anggota FPI yang terpapar radikalisme. Penangkapan diyakini bisa menimbulkan efek jera bagi mantan anggota FPI lain yang sudah terpapar radikalisme namun belum tertangkap.
 
"Jangan sampai yang semula hanya simpatisan pada gerakan sosial yang dilakukan FPI kemudian semakin besar kebenciannya kepada pemerintah, kepada kepolisian, ini yang mengarah kepada ekstrimisme," tutur Bambang.
 
(AZF)
 
Diterbitkan di Berita

Herianto Batubara - detikNews Manokwari - 

Pangdam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa mengingatkan ancaman tumbuhnya radikalisme di kampus. Ia meminta semua pihak untuk waspada akan radikalisme.

"Dalam menghadapi ancaman-ancaman radikal ini, mari kita terus dan harus waspada terhadap infiltrasi dan kaderisasi radikalisme, yang masih banyak masuk ke anak-anak, kalangan generasi muda, kampus atau mahasiswa, juga ke keluarga kita," ucap Nyoman Cantiasa dalam keterangannya, Minggu (2/5/2021).

Hal itu Nyoman ungkap di pergelaran forum group discussion (FGD) yang diselenggarakan di Hotel Swiss Bell, Manokwari, Papua Barat. FGD tersebut diikuti berbagai ormas, lembaga, komunitas dan ikatan mahasiswa se-wilayah Provinsi Papua Barat.

Di kesempatan yang sama, Nyoman juga bicara mengenai kelompok separatis yang tumbuh subur di tanah Papua. TNI-Polri, jelas Nyoman, tak segan memberikan tindakan yang tegas jika kelompok tersebut melawan dan hendak memecah belah persatuan Indonesia.

"Namun demikian kalau ada pihak-pihak atau kelompok yang berseberangan dengan kita, yang masih tetap keras kepala, kepala batu, diajak baik-baik tidak mau dan tetap melawan, memberontak, dan angkat senjata kepada negara dan Pemerintah Republik Indonesia, maka terpaksa kita tegakkan hukum tumpas," tegasnya.

 

FGD bersama Pangdam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa (Dok TNI AD)
Foto: FGD bersama Pangdam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa (Dok TNI AD)

 

Nyoman sangat menyayangkan adanya WNI yang menyeberang dan menjadi bagian dari kelompok separatis. Selain itu, Nyoman prihatin dengan lahirnya kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan agama.

"Mari kita kompak, karena agama ini dibangun, dibuat dalam rangka agar manusia atau umat itu menjadi baik. Untuk itu, mari kita cari orang-orang yang memang jelas, cakap untuk bisa menuntun kita di bidang agama kita masing-masing," tutur Nyoman.

"Ada buku yang berjudul 'Destruction Power of Religion', di situ disampaikan bahwa agama itu bisa membangun dan juga bisa menghancurkan. Untuk itu kami berharap, sebagai tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan lain sebagainya, mari kita sampaikan kepada saudara-saudara, anak-anak kita, generasi-generasi kita," sambungnya.

(isa/isa)

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai NasDem Ahmad Ali mengatakan NasDem dan Partai Keadilan Sejahtera berkomitmen menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan menjaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini disampaikan Ali seusai pertemuan antara DPP NasDem dan PKS pada Jumat petang, 30 April 2021.

"Partai Nasdem dan PKS sepakat apa pun perbedaan yang terjadi tapi kami akan tetap berkomitmen konsisten menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan kemudian tetap menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Ali seusai pertemuan di Akademi Bela Negara NasDem, Pancoran, Jakarta Selatan.

Ali mengatakan NasDem juga setuju untuk tak memberi tempat bagi radikalisme di Tanah Air. Dia berujar tak ada tempat bagi penganut radikalisme di Indonesia yang menganut demokrasi.

"NasDem dan bersama-sama (PKS) bersepakat untuk memerangi paham-paham radikal dan teroris," kata Ali.

Ketua Fraksi Partai NasDem di Dewan Perwakilan Rakyat ini mengakui setiap partai memiliki tujuan dan kepentingan masing-masing, termasuk NasDem dan PKS. Namun dia berpendapat perbedaan itu bisa dipertemukan lewat dialog yang terus-menerus dilakukan.

Kalaupun tak ada titik temu, ujarnya, setidaknya kedua partai dapat memahami posisi masing-masing.

"Perbedaan yang terjadi antara Partai Nasdem dan PKS insya Allah bisa akan terus-menerus bisa dicairkan titik temunya, paling tidak kita bisa saling memahami ketika perbedaan itu tidak bisa dipertemukan," ucap Ali.

Ali mengatakan pertemuan petang ini merupakan kunjungan dari PKS yang memang berkeliling menemui pimpinan partai-partai politik dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, PKS memang diketahui sudah bertemu dengan Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrat, PDI Perjuanganz Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Golkar.

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta - Ayo Mengajar Indonesia menggelar dialog publik dalam program Ayo Bahas Vol.9 dengan tema Tolerance, Yes! Radicalism, No! Cegah Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme di Dunia Pendidikan yang digelar pada Sabtu, 24 April 2021 di Meeting Room, Favehotel Gatot Subroto Jakarta.

Dalam dialog tersebut membahas tentang bagaimana peran serta semua pihak, dari mulai guru, pemerintah, sampai lembaga masyarakat dalam menolak radikalisme dan menjadi toleransi didalam dunia pendidikan.

 

Acara berjalan dengan konsep hybrid secara online dan offline dengan cara dialog paralel serta tanya jawab antara narasumber dengan peserta.

Direktur Ayo Mengajar Indonesia Adi Raharjo mengatakan, kegiatan ini memiliki tujuan untuk menyampaikan nilai-nilai toleransi.

Karena, menurut dia, sekolah mengajarkan untuk membuat karakter dalam nilai-nilai yang baik dan kondisi intoleransi di dunia pendidikan.

"Pendidikan harus membuat karakter bangsa bersih dari nilai-nilai intoleransi," ucap Adi, melalui keterangan tertulis, Minggu (25/4/2021).

Sementara itu, peneliti dari Setara Institute Iif Fikriyati Ihsani menjabarkan, pola pendidikan di Indonesia semakin kehilangan ruhnya.

Hal tersebut menurut dia karena hanya bergerak dalam wilayah kompetisi, bukan menumbuhkan nilai nilai yang membangun toleransi.

"Kita menemukan, intoleransi terjadi di perguruan tinggi, ketika meneliti 10 kampus, kami menemukan tingkat intoleransi cukup tinggi sapai 20-30 persen," ucap Iif.

Lalu, lanjut dia, ketika penelitian di sekolah pun sama, cukup tinggi tingkat intoleransi, dan bukan tumbuh tiba-tiba, tapi memang ada peningkatan dari zaman di sekolah sampai ke perguruan tinggi.

"Darahnya Indonesia itu adalah intoleransi, seperti sejarah yang ada, Ini bukan sesuatu yang tumbuh tiba-tiba, tapi tumbuh secara perlahan dan dari pola pola kecil, bahwa orang itu cenderung radikal karena dalam keluarganya tidak memberikan ruang interaksi," papar Iif.

 

Dibayangi Radikalisme
 

 

Menurut Cendikiawan Islam Azzyumardi Azra, kita selalu dibayang-bayangi oleh radikalisme dan seolah-olah Indonesia itu jauh lebih buruk dari negara lain.

Karena, kata dia, jika dibombardir dengan isu radikalisme, maka kita sebagai bangsa akan merasa minder dengan negara lain, walau memang benar ada gejala radikalisme tapi jangan dilebih-lebihkan.

"Ayo mengajar Indonesia harus membuat anak anak peserta didik kita tidak kecut, harus mengajarkan pemahaman keagamaan yang moderasi, dan toleransi, serta pemerintah harus inisiatif, agar guru guru diberikan pelatihan tentang pancasila dan nasionalisme, agar dalam pengajarannya bisa memberikan nilai-nilai toleransi, dan saya mengapresiasi gerakan Ayo Mengajar Indonesia ini, agar bisa menekankan perbaikan karakter," ucap Azzyumardi.

Kemudian, Jejen Musfah, Pakar Pendidikan dan Wakil Sekjen PB PGRI menyampaikan, Ppndidikan untuk karakter itu melalui 3 cara, yaitu modeling, kebiasaan, pengajaran.

"Benar bahwa indonesia sudah baik toleransinya namun bukan berarti kita mengabaikan pikiran intoleran," terang Jejen.

"Pencegahan radikalisme, bahwa banyak dalam riset, bahwa radikalisme itu benih benihnya dari intoleransi, jika model pengajarannya inklusif atau kolaboratif atau pembelajaran aktif, saya rasa akan berkurang rasa intoleransi," tegas dia.

Brigjen Polisi Ahmad Nurwahid selaku Direktur Pencegahan BNPT menyampaikan, radikalisme dan terorisme dalam segi agama yang kita bicarakan, yaitu ingin mengganti konstitusi negara menjadi khilafah, atau daulah islam.

"Yang belum dilarang oleh negara yaitu ajaran yang radikalisme atau ajaran agama yang ingin merubah konsitusi negara menjadi negara islam. Namun undang-undang sudah bisa menangkap untuk mencegah dalam tidakan terorisme," kata Ahmad.

"Yang belum terpapar 87,8 persen radikalisme, namun rentan untuk terpapar, maka harus diajarkan spritualitas yang rahmatan lil alamin, dan juga jangan memfollow ustad yang berfaham radikal, seperti ustad yang berfaham salafi wahabi, dan juga jangan mengeneralkan salafi wahabi semua teroris ya," sambung dia.

Ahmad pun berpesan jangan sampai intolerasi berkembang dan berkeliaran di seluruh lapisan masyarakat.

"Apalagi memfitnah dan menjelakan satu sama lain, maka satu sama lain harus saling mengenal satu sama lain, satu sama lain harus menghargai, saling menyayangi, dan jangan biarkan intoleransi merajalela, karena intoleransi adalah embrio radikalisme dan terorisme," pungkas Ahmad Nurwahid.

Untuk diketahui, acara itu dihadiri beragam narasumber yaitu Cendikiawan Islam Azyumardi Azra, Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol R. Ahmad Nurwahid, Wakil Sekjen PB PGRI Jejen Musfah, peneliti Setara Institute Iif Fikriyati Ihsani, dan Adi Raharjo (Direktur Ayo Mengajar Indonesia).

Peserta yang hadir dari berbagai elemen masyarakat, mahasiswa, serta relawan Ayo Mengajar Indonesia, jumlah peserta yang hadir dalam offline ada 30 orang, hadir dalam online ada 300 orang.

Diterbitkan di Berita