Suara.comSeorang teroris ISIS melakukan kesalahan fatal yang mengakibatkan puluhan rekannya terbunuh di Sammara, Irak. Ia menekan tombol peledak di lokasi yang salah dan menewaskan 21 teroris secara tidak sengaja.

Menyadur Mehr News Senin (15/02) kejadian ini sudah dikonfirmasi oleh komandan operasi Samarra, Mayor Jenderal Jabbar Hajim Darraji.

Awalnya, teoris itu akan melakukan aksi bom bunuh diri menggunakan peledak dalam mobil dengan target utama markas polisi Samara.

Sebelum mencapai titik yang direncanakan, bom mobil itu tiba-tiba meledak dengan dahsyat. Rupanya ia tak sengaja memencet tombol ketika berada di kerumunan rekannya.

"Dengan demikian, setelah ledakan bom mobil di dekat pertemuan Takfiri, 21 dari teroris ini tewas, jelas Komandan Irak."

Ilustrasi terorisme. [Shutterstock]
Ilustrasi terorisme. [Shutterstock]

Sumber informasi melaporkan bahwa teroris itu sempat memencet klakson untuk mengucapkan selamat tinggal pada rekannya dan hal itu mengakibatkan bom bereaksi dan meledak.

Sebelumnya, Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhimi mengumumkan pasukan keamanan telah membunuh Abu Yaser al-Issawi di Irak. Komandan ISIS ini mengaku sebagai pemimpin ISIS.

"Angkatan bersenjata kami telah melenyapkan komandan Daesh (Negara Islam) Abu Yaser Al-Issawi sebagai bagian dari operasi yang dipimpin intelijen," cuit Kadhimi, menyebut ISIS dengan akronim bahasa Arab.

"Saya berjanji untuk mengejar teroris Daesh, kami memberi mereka tanggapan yang luar biasa."

Charles Lister, direktur lembaga pemikir Institut Timur Tengah di Washington menyebut hal ini sebagai berita penting yang harus segera dikonfirmasi mengingat Al-Issawi adalah pemimpin seluruh operasi ISIS di Irak.

Diterbitkan di Berita

Victor Maulana sindonews.com STOCKHOLM - Sejumlah mantan pengantin ISIS yang saat ini terjebak di kamp-kamp interniran di Suriah kini menuntut Swedia di Pengadilan Eropa karena "gagal" membawa mereka "pulang". Mereka anggap ini sebagai "pelanggaran serius" terhadap HAM.

Tuntunan ini datang di tengah meningkatnya tekanan terhadap Swedia dari PBB, yang meminta Stockholm untuk mengajukan diri dan mengambil kembali perempuan, dan anak-anak dengan kewarganegaraan Swedia dari kamp-kamp interniran di Suriah.

"Kami percaya bahwa kegagalan Swedia untuk membawa wanita dan anak-anak Swedia dari kamp-kamp di timur laut Suriah melanggar HAM mereka," ujar ketua tim pengacara mereka, Percy Bratt, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (21/2/2021).

"Sebagai perwakilan dari sejumlah wanita dan anak-anak di kamp Roj, karena itu kami mengajukan keluhan ke Pengadilan Eropa dan mengklaim bahwa Swedia memiliki kewajiban hak asasi manusia untuk membawa mereka pulang ke Swedia," sambungnya.

Tim hukum menggambarkan kondisi di kamp al-Hol dan Roj di timur laut Suriah sebagai "tidak manusiawi".

Mereka mengutip kekerasan fisik dan seksual, kurangnya produk makanan pokok, sanitasi yang buruk, dan perawatan medis yang tidak memadai dan merujuk pada Utusan Khusus PBB Fionnuala Ni Aolain menyamakannya dengan penyiksaan.

“Mudah-mudahan, Swedia akan segera menanggapi seruan dari PBB untuk bertanggung jawab dan membantu orang-orang ini (kembali) ke rumah. Para wanita dan anak-anak Swedia di kamp-kamp itu sepenuhnya bergantung pada intervensi negara Swedia untuk menyelamatkan mereka dari situasi mengerikan disana," ungkapnya.

Mereka menekankan bahwa Kementerian Luar Negeri Swedia hingga hari ini tidak aktif bekerja, atau tertarik untuk membantu para wanita ini kembali ke Swedia. 

Sebaliknya, tegasnya, beberapa negara Eropa telah memenuhi tuntutan PBB dan permintaan pemerintah Kurdi yang mengontrol kamp untuk membawa pulang perempuan dan anak-anak.

"Misalnya, Jerman dan Finlandia baru-baru ini melakukannya pada Desember 2020," tegasnya. 
(esn)
Diterbitkan di Berita

DAMASKUS, KOMPAS.com – Rusia dilaporkan melancarkan serentetan serangan udara di sebuah gurun di Suriah dan menewaskan sedikitnya 21 anggota ISIS.

Laporan tersebut disampaikan oleh kelompok pemantau hak asasi manusia (HAM) Syrian Observatory for Human Rights sebagaimana dilansir dari AFP, Sabtu (20/2/2021). Kelompok tersebut menambahkan, Rusia melancarkan setidaknya 130 serangan udara selama 24 jam terakhir.

Serangan tersebut menyasar guru di tepi provinsi Aleppo, Hama, dan Raqqa. Serangan itu berlanjut hingga Sabtu. Pada Jumat (19/2/2021) ISIS melancarkan serangan terhadap pemerintah dan pasukan sekutu.

Sedikitnya, delapan anggota milisi pro- suriah tewas akibat serangan itu. Dalam beberapa bulan terakhir, gurun yang dikenal sebagai Badia tersebut telah menjadi tempat pertempuran yang semakin sering.

Baca juga: Israel Lancarkan Serangan Rudal ke Suriah, Ditangkis Sistem Pertahanan Udara

Bentrokan-bentrokan itu terjadi antara anggota ISIS melawan pasukan Suriah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia. ISIS memplokamirkan berdirinya sebuah “negara” dengan menduduki sebagian wilayah Suriah dan Irak pada 2014.

Namun, kelompok tersebut segera digempur oleh pasukan koalisi dari berbagai negara secara terus menerus. Baca juga: Pasukan AS Bantah Lindungi Ladang Minyak di Suriah Perlahan, wilayah kekuasaannya semakin menyempit dan posisi ISIS semakin terpojok.

Hingga akhirnya, ISIS dinyatakan kalah pada 2017 dan wilayah teritorialnya benar-benar habis pada awal 2019. Kendati demikian, ISIS masih memiliki sel-sel aktif dan anggotanya masih melancarkan serangan sporadis.

Di Suriah, anggota ISIS biasanya melancarkan serangan di gurun Badia, gurun yang yang membentang dari provinsi tengah Homs hingga perbatasan dengan Irak. Lebih dari 1.300 tentara pemerintah telah tewas akibat beberapa bentrokan dengan ISIS.

Selain itu, 145 anggota milisi pro-Iran dan lebih dari 750 anggota ISIS juga tewas, menurut Syrian Observatory for Human Rights. Sejak perang saudara Suriah meletus pada 2011, lebih dari 387.000 orang telah terbunuh dan jutaan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Editor : Danur Lambang Pristiandaru

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Pemimpin baru kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS telah berkuasa selama dua tahun. Namun, sejauh mana yang diketahui tentang orang yang dipanggil Haji Abdullah itu?

Wartawan BBC Arab, Feras Kilani, selama berminggu-minggu melakukan perjalanan di Irak untuk mengetahui lebih jauh tentang pengganti Abu Bakar al Baghdadi tersebut.

Pemimpin baru ISIS ini memiliki nama asli Abdullah Qurdash Amir Mohamed Saied Abdulrahhman.

Pada puncaknya dahulu, kelompok ISIS menguasai wilayah yang cukup luas, membentang dari Suriah ke Irak.

 
bendera ISIS
 

Pemimpin mereka, Abu Bakar al Baghdadi, tewas dalam serangan militer dan ISIS terpojok di satu wilayah kecil, Baghuz, di tepi Sungai Efrat.

Namun, saat itu, rencana rahasia telah dijalankan untuk menunjuk pemimpin baru.

"Ya betul, inilah Abdullah Qurdash atau nama lainnya Amir Mohamed Saied Abdulrahhman," kata Salem, seorang tahanan ISIS yang diciduk intelijen Irak. Salem menunjuk ke foto yang dibawa Feras Kilani, wartawan BBC Arab.

"Tetapi ia tampak berbeda di foto ini, jangkutnya tebal," kata Salem tentang pemimpin baru ISIS yang bahkan sebelum kematian penggantinya telah melakukan "sebagian besar tugas untuk "kekhalifahan".

Pemimpin baru ISIS ini lahir di Al Mehalabiya, sekitar 35 kilometer dari Mosul, kota kedua terbesar kedua di Irak.

 

Berasal dari keluarga terpandang

Baghdadi mulai melatih Abdullah menjadi penggantinya.

 

Investigasi tentang pemimpin ISIS yang dipanggil "Haji Abdullah" itu bermula dengan mengikuti unit kontra terorisme Irak, yang disebut Bridage Elang.

Mayor Ahmad (bukan nama sebenarnya, untuk menjaga keselamatan), sebagai komandan brigade ditugaskan untuk melacak pemimpin baru ISIS, dengan tugas yang sangat berisiko untuk keamanannya.

"Ayahnya dulu menjadi muazin di salah satu dari dua masjid di sini. Dan ayahnya memiliki dua istri," kata komandan itu.

Keluarga ini memiliki 17 anak dan Abdullah, salah seorang di antaranya, lahir pada 1976.

Warga daerah itu masih mengingat mereka sebagai keluarga yang dihormati.

Namun, Abdullah disebut menjadi radikal karena pengaruh kelompok-kelompok setempat.

"Kawasan ini sangat terpencil...Al-Qaida berkembang di Irak pada 2003. Pendukungnya cukup banyak," kata Abdul Rahman al Dawla, wali kota Al Mehalabiya.

"Sebagian besar pemimpin militer ISIS berasal dari daerah ini, khususnya di dekat Tala'far," tambahnya.

Namun pada 2003, saat pasukan yang dipimpin AS menyerang Irak, Abdullah telah ikut bergabung dengan kelompok jihad yang lebih kecil.

Seperti yang lain, ia meninggalkan kelompok itu dan bergabung dengan operasi yang lebih besar: Al-Qaida.

Irak terjerumus dalam kekerasan. Keterlibatan Abdullah dengan kelompok-kelompok ekstrem menjadikannya anggota yang terkenal.

Namun pada 2008, Amerika menahannya di Penjara Bucca. Selama berbulan-bulan ia diinterogasi oleh pasukan Amerika.

Mereka mengatakan Abdullah memberikan informasi tentang puluhan anggota organisasi itu. Namun informasi ini belum dapat diverifikasi oleh BBC.

Pada 2010, tiba-tiba Abdullah dibebaskan.

 

Bergabung dengan ISIS

Pada 2019, wilayah kekuasaan ISIS, hanya tinggal di Baghouz, Suriah.

 

Setelah dibebaskan dari penjara, Abdullah langsung bergabung dengan Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS saat itu.

"Ia menjadi anggota senior organisasi itu di Provinsi Nineveh," kata Kolonel Ahmad.

"Tak diragukan lagi, ia menjadi salah satu pemimpin yang menonjol dan sangat dekat dengan Al-Baghdadi," tambahnya.

Pada Mei 2012, Abdullah mendapatkan identitas baru. Penampilannya sedikit berbeda.

Saat itu, sejumlah besar pasukan AS telah ditarik dari Irak, sehingga ISIS kembali memperkuat jaringan.

Dengan pemerintahan Irak yang lemah, kelompok itu mulai menguat.

Seorang mantan anggota ISIS, yang saat ini menjadi informan, memastikan kepada BBC yang menunjukkan foto, bahwa itulah Abdullah, pemimpin baru organisasi itu.

Informan ini mengklaim pernah bertemu beberapa kali.

"Iya, itu dia. Ia sangat ekstrem dalam sejumlah isu. Secara umum, ia tidak percaya pada siapapun, kecuali orang dekatnya," katanya.

"Yang saya perhatikan adalah ia tak begitu pintar. Ia tak mampu berpidato seperti Al-Baghdadi yang pernah berpidato tanpa kertas di tangannya. Saya rasa Abdullah tak bisa seperti itu."

 

Kekejaman Abdullah

Sekitar 7.000 perempuan ditangkap dan dijadikan budak oleh ISIS menurut kelompok HAM.

 

Saat ISIS menguasai kota Sinjar pada 2014, kekejaman Abdullah dan pengaruhnya mulai terlihat.

Mereka membunuh ribuan warga minoritas Yazidi.

Tetapi pertanyaan apa yang perlu dilakukan dengan perempuan Yazidi memecah ISIS.

Berdasarkan pemahaman mereka, sebagian ingin memperbudak perempuan.

Salem al Jubouri menyaksikan sengketa dalam organisasi itu. Ia dekat dengan Al-Baghdadi.

"Terkait penahanan perempuan Yazidi, pendapat salah seorang syekh, Abu Ali al Anbari, adalah melarang perbudakan, karena saat itu kami baru pada tahapan awal menerapkan Syariah," katanya.

Namun, Abdullah tetap berkeras menjadikan perempuan budak.

 

Inilah foto terakhir Abdullah yang diperoleh pada 2012.
Inilah foto terakhir Abdullah yang diperoleh pada 2012.

 

Salem mengatakan saat itu Abdullah mengatakan, "Sepanjang ini bagian dari agama, maka akan kita laksanakan berdasarkan ajaran."

"Ia memiliki komite di Irak dan Suriah. Pasukan di Irak tak mau menjadikan budak perempuan Yazidi karena mereka juga orang Irak dan mereka takut atas keselamatan istri dan keluarga mereka," kata saksi lain yang menjadi anggota ISIS.

"Anggota di Irak tidak setuju dengan gagasan menjadikan budak orang Kristen. Anggota di Suriah lebih dekat ke Al-Baghdadi, sejak ia tinggal di Raqqa. Akhirnya isu itu berakhir dengan kompromi. Perempuan Yazidi diperbudak dan yang Kristen dibebaskan," kata saksi itu.

Berbagai anggota kelompok hak asasi mengklaim sekitar 7.000 perempuan ditahan dan dijadikan budak oleh ISIS.

PBB menyebut kejahatan itu seperti layaknya genosida.

Ketika ISIS mulai melakukan kebrutalan di sejumlah kota besar di Irak seperti Erbin dan Baghdad, mulailah dunia internasional bertindak.

Pemboman dilakukan dan banyak pemimpin ISIS tewas, sehingga naiklah Abdullah ke rantai atas.

Ia menjadi orang terpenting di lingkaran Al-Bahdadi dan banyak yang memburunya, menurut para saksi mata.

"Ia hampir terbunuh dalam satu insiden," kata para saksi mata.

"Dia menjadi sasaran drone Amerika, dan ia terluka. Kakinya diamputasi dan ia berada di rumah sakit selama empat bulan lebih sampai sembuh."

Pada 2017, saat kota kedua di Irak yang dikuasai ISIS jatuh, mulailah era berakhirnya kelompok ini.

 

Abdullah naik sebagai pemimpin

Pemboman udara terus menerus semakin menekan ISIS.

"Jelas bahwa Al-Baghadi mengetahui bahwa kami akan kehilangan wilayah kekuasaan kami. Jadi, ia mempersiapkan kami untuk kembali ke wilayah tempat ISIS dideklarasikan," kata Salem, salah seorang tahanan pasukan Irak.

Pada Oktober 2017, Al-Baghdadi dan Abdullah pindah ke kota Al Bukamal, Suriah. Di kota ini, mereka hampir meninggal akibat serangan udara.

"Pesawat jet menggempur Al Bukamal. Syekh Abdullah mengalami luka ringan, namun pengawalnya tewas. Abdullah terkena pecahan bom, dan dibawa ke rumah sakit," kenang Salem.

Di tengah gempuran konstan ini, ISIS menarik diri ke kota kecil Suriah, Baghouz. Di sinilah, ribuan pejuang ISIS dan keluarga mereka menyerahkan diri pada 2019.

Al-Baghdadi muncul dalam rekaman video beberapa bulan kemudian dari tempat rahasia di Idlib, Suriah bagian utara.

Abdullah diyakini adalah satu dari tiga orang yang tampil bersamanya dengan wajah disamarkan.

Saat itu, Abdullah telah disiapkan menjadi calon pemimpin.

Pada 26 Oktober, 2019, Abu Bakar Al-Baghdadi tewas dalam serangan Amerika, sehingga Abdullah naik menjadi peminmpin.

Di sinilah jejak Abdullah hilang. Badan intelijen Irak mengatakan ia bersembunyi di Suriah utara, kemungkinan di wilayah yang dikuasai oleh pasukan Kurdi.

Ia diperkirakan bekerja bersama sejumlah pemimpin Irak untuk membangun kembali organisasinya, dengan menggunakan sentimen ketidakadilan di antara populasi Sunni di Irak dan Suriah.

Proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun. Mungkin terlalu lama bagi seorang khalifah tanpa kekhalifahan.

Diterbitkan di Berita

Yosafat Diva Bayu Wisesa - Hops.ID

Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) atau dalam bahasa Indonesia Negara Islam Irak dan Syam jadi salah satu kelompok miltan ekstrimis yang mengatasnamakan agama dalam setiap perjuangannya.

Meski mengaku ingin mendirikan negara berdasarkan ajaran Islam, ternyata ISIS justru pernah jadikan kitab suci Al-Quran sebagai bom peledak.

Berdasarkan laporan Press TV pada beberapa tahun silam, Menteri Luar Negeri Irak, Ibrahim al-Jafari sempat membeberkan bahwa ISIS pernah melakukan perbuatan biadab, yakni menyembunyikan bom dan sejumlah bahan peledak lainnya di dalam Al-Quran.

Namun perilaku tidak terpuji itu malah seakan menjadi bumerang bagi pihak ISIS lantaran militer Irak justru mendapat pecutan motivasi untuk segera menghabisi kelompok radikal ekstrimis tersebut.

“Perbuatan biadab mereka hanya akan memberikan motivasi kepada tentara Irak untuk secara habis-habisan melawan mereka,” kata Al-Jafari, dikutip Hops pada Jumat, 19 Februari 2021.

 
Ilustrasi pasukan ISIS. Foto: The Muslim Post
Ilustrasi pasukan ISIS. Foto: The Muslim Post

 

Sebenarnya perilaku ISIS yang menggunakan media kitab suci Al-Quran sebagai media penyeludupan bom dan bahan peledak tersebut dilakukan karena mereka sudah putus asa. 

Menteri Al-Jafari menjelaskan, setelah tentara Irak beberapa kali memukul mundur ISIS, terutama di kawasan Fallujah, ISIS kerap menggunakan taktik yang terbilang tidak masuk akal dan aneh.

Kekalahan tersebut membuat mereka putus asa dan menghalalhkan berbagai cara, salah satunya mengunakan taktik yang justru secara tidak langsung menghina agama Islam, yakni menggunakan Al-Quran sebagai tempat membunyikan bom serta berbagai bahan peledak lainnya.
 

Buat biaya perang, ISIS sampai jual narkoba

Ilustrasi kelompok militan ISIS. Foto: Antara
Ilustrasi kelompok militan ISIS. Foto: Antara

 

Pihak kepolisian Italia menduga, ISIS menjadi dalang dibalik beredarnya pil Captagon. Lantaran pihaknya sempat menyita tiga kapal Kontainer berisi muatan pil Captagon seberat 14 ton di Pelabuhan Selatan Salerno.

Bahkan pemerintah Italia mengungkapkan, penemuan penyeludupan obat terlarang senilai US$1,6 miliar ini menjadi operasi penyitaan amfetamin terbesar dalam sejarah.

Penyeludupan itu terkuak ketika kepolisian setempat menemukan sekitar 84 juta pil Captagon yang berada di dalam mesin dan tabung besar salah satu bagian kapal.

Dilansir dari Republika, pil Captagon atau yang biasa dikenal sebagai ‘Obat Jihad’ kerap digunakan kelompok militan Negara Islam (ISIS) ketika berperang. Penggunaan obat ini memiliki efek yang berbahaya namun dinilai baik ketika berperang dan terjadi baku tembak di medan perang.

Sejumlah pihak menilai kandungan kimia di dalamnya dapat memberikan efek penghambat rasa takut dan stimulisinya juga terbukti berguna selama berlangsungnya perang berkepanjangan di sejumlah konflik.

Dugaan pil Captagon diproduksi oleh kelompok jaringan ISIS diperkuat dengan sejumlah temuan di tempat-tempat persembunyian tentara ISIS. Termasuk adanya laporan dari sejumlah pihak yang menunjukkan bahwa Suriah menjadi tempat produksi besar pil tersebut.

Tak hanya menghilangkan rasa takut pada pasukan ISIS, obat jihad ini juga dijual ke sejumlah belahan dunia. Adapun dana hasil penjualan tersebut menjadi sumber pemasukan bagi kelompoknya untuk menggelontorkan dana dalam sejumlah agenda militannya, seperti membeli perlengkapan senjata, perbekalan perang, dan kegiatan lainnya.

 

Peredaran Pil Captagon

Salah satu dampak penggunaan pil Captagon yang terkenal akhir-akhir ini adalah peristiwa serangan teater Bataclan pada tahun 2015 yang menewaskan 90 orang di Kota Paris, Prancis. Teroris yang menembak secara brutal ke arah warga itu terbukti mengkonsumsi pil Captagon.

Diketahui, Pil Captagon merupakan sejenis amfetamin fenethylline hydrochloride. Bahan baku yang digunakan berbahan dasar obat sintesis Fenethyline yang diracik bersama kafein dan senyawa lainnya.

Penggunaan awal dari pil ini adalah untuk mengobati penyakit-penyakit dengan gangguan seperti hiperaktif, narkolepsi, hingga depresi.

Penggunaan obat ini secara resmi dilarang oleh hampir seluruh negara sejak tahun 1980-an. Namun, obat versi tiruan ini dengan senyawa yang sama masih tetap beredar dan diproduksi di wiayah timur tengah.

Dalam laporan World Drug Report, Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), tujuan utama dari peredaran Captagon untuk saat ini ialah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Bahkan ditargetkan bisa masuk ke benua Afrika melalui Libya dan Sudan. 

Diterbitkan di Berita

jpnn.com JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri dinilai perlu memeriksa mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman yang sempat diduga berafiliasi dengan teroris.

Pemeriksaan akan membuka titik terang dugaan Munarman terlibat aksi terorisme. "Saya kira Munarman bisa dimintai keterangan oleh Densus 88 Antiteror," kata mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI Laksamana Muda (Purn) Soleman Ponto di Jakarta pada Selasa (16/2).

Munarman diduga menghadiri acara baiat jaringan terorisme ISIS di Makassar, Sulawesi Selatan. Ini terungkap setelah ada pengakuan dari terduga teroris.

Selain itu juga beredar video Munarman menghadiri pembaiatan terduga teroris. Namun, hingga kini Densus 88 belum memeriksa Munarman terkait dugaan tersebut.

Terkait kemungkinan Densus mengajukan pencekalan terhadap Munarman, menurut Soleman, itu tergantung data yang dimiliki Densus.

"Mungkin Densus masih mengumpulkan data lebih akurat lagi biar sekali jalan. Kan tidak mungkin terlalu cepat," sambung Soleman. Sementara itu Ketua Cyber Indonesia Husin Alwi mengatakan Munarman patut diduga menyembunyikan informasi tentang aktivitas teroris.

Dia menghadiri pembaiatan kelompok ISIS tapi tidak melapor ke polisi. Karena tidak melapor aktivitas terorisme, Munarman patut diduga melanggar Pasal 13 huruf C Undang-Undang Terorisme.

Baca Juga: Ssst, Densus 88 Dalami Dugaan Munarman Hadiri Pembaiatan Simpatisan ISIS

"Sampai saat ini Munarman tidak pernah melaporkan kepada polisi terkait adanya itu (kegiatan pembaiatan)," ujar Husin dalam sebuah diskusi online. Sebelumnya, Munarman sudah membantah ikut menghadiri kegiatan baiat itu.

Menurut Munarman tudingan dia terlibat mendukung ISIS merupakan bagian dari operasi sistematis yang terus berlanjut terhadap FPI dan mantan pengurus.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hatono menegaskan Densus 88 pasti memeriksa jika menemukan keterlibatan Munarman. "Tentunya Densus akan memproses sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku,” pungkas Rusdi.

(flo/jpnn)

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Hampir dua tahun setelah Abu Bakar al-Baghdadi tewas, tanpa banyak orang yang tahu, ISIS telah memiliki pemimpin baru. Dia adalah Amir Mohammed Said Abdul Rahman, yang oleh pengikutnya dipanggil 'Haji Abdullah'. Apa yang kita tahu tentangnya?

Ia lahir di al-Mahalabiya, sebuah kota kecil tak jauh dari Mosul, kota terbesar kedua di Irak. Pada 2003, ia bergabung dengan al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Ia menjadi anggota ISIS pada 2010, dan dengan cepat menjadi dekat dengan sang pemimpin, Abu Bakar al-Baghdadi.

Koresponden BBC News Arabic Feras Kilani menghabiskan berminggu-minggu menelusuri jejak Haji Abdullah dalam laporan eksklusif ini.

Diterbitkan di Berita

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman diduga menyembunyikan informasi tentang aktivitas teroris. Pasalnya, Munarman menghadiri acara pembaiatan kelompok ISIS tapi tidak melapor kepada pihak kepolisian. Tudingan ini disampaikan Ketua Cyber Indonesia Husin Alwi dalam sebuah diskusi virtual.

”Sebetulnya kalau dia (Munarman) tahu ada pembaiatan terhadap Abu Bakar Al Baghdadi, Munarman bisa diduga telah melakukan tindak pidana penyembunyian informasi terkait terorisme,” katanya, dalam diskusi virtual, Minggu, 14 Februari 2021.

Husin mengatakan Munarman diduga melanggar Pasal 13 huruf C Undang-Undang Terorisme karena tidak melaporkan aktivitas pembaiatan teroris. Menurut dia, Munarwan juga salah karena menjadi pembicara dalam acara itu dan tidak melapor.
 
”Ini baru ramai setelah ada statement dari Aulia (terduga teroris yang tertangkap) bahwa ‘Saya anggota FPI dibaiat oleh ISIS di hadapan Munarman’, kita bisa duga ada pelanggaran di situ,” katanya.
 
Husin mengatakan Munarman sengaja menyembunyikan aktivitas pembaiatan teroris. Sebab, Munarman terlalu pintar untuk tidak mengetahui Pasal 13 huruf C Undang-Undang Terorisme. ”Jadi menurut saya Munarman ini kan sarjana hukum, mengerti mengenai hukum, dia tahu mengenai UU Terorisme,” katanya.
 
Sebelumnya, keterlibatan Munarman dalam gerakan ISIS ini pertama kali keluar dari mulut terduga teroris Ahmad Aulia (AA). Ahmad Aulia adalah terduga teroris yang ditangkap di Makassar.
 
Ahmad Aulia mengatakan, dirinya berbaiat ke Abu Bakar Al Baghdadi, pimpinan ISIS, saat deklarasi FPI mendukung Daulatul Islam pada Januari 2015.
Diterbitkan di Berita

COPENHAGEN, KOMPAS.com - Empat belas orang telah ditangkap di Denmark dan Jerman karena dicurigai mempersiapkan satu atau beberapa serangan di kedua negara tersebut, kata polisi Denmark pada Jumat (12/2/2021).

Dalam penggerebekan itu polisi menemukan bendera ISIS, yang mengindikasikan para tersangka “memiliki hubungan atau simpati dengan organisasi teror tersebut."

“Temuan itu mengkhawatirkan. Tetapi menurut penilaian kami tidak ada bahaya yang akan terjadi," kata Flemming Drejer, Kepala Operasi Badan Keamanan dan Intelijen Denmark melansir AP.

Dreyer mengatakan tujuh orang pertama yang ditangkap di Denmark telah memperoleh beberapa senjata laras panjang. Pihaknya juga menemukan hal-hal yang dapat digunakan untuk membuat bom.

Namun, dia tidak dapat memberikan rincian lebih lanjut tentang kasus Denmark atau hubungannya dengan Jerman. "Kami sekarang dalam tahap awal penyelidikan dan kami perlu menyimpan “kartu” kami sebagai informasi rahasia," kata Dreyer.

Baca juga: Arkeolog yang Kepalanya Dipenggal ISIS karena Lindungi Kota Kuno Palmyra Ditemukan

Semua kecuali satu dari 14 penangkapan terjadi di Denmark. Tiga dari tersangka adalah warga negara Suriah, berusia 33, 36 dan 40 tahun. Satu orang ditangkap akhir pekan lalu di Jerman menurut pejabat negara itu.

Otoritas Denmark mengumumkan delapan penangkapan pada Kamis, dan polisi mengatakan enam orang lainnya ditahan Jumat (12/2/2021). Sidang penahanan di Denmark akan diadakan dalam mekanisme “pintu tertutup ganda.

” Artinya kasus tersebut diselimuti kerahasiaan dan hanya sedikit detail yang bisa dipublikasikan. Pejabat tidak mengidentifikasi tersangka.

Pada Kamis (11/2/2021), Dinas Keamanan Denmark (Denmark PET) mengatakan tujuh orang pertama, yang ditangkap di Denmark, diduga telah “memperoleh bahan dan komponen untuk pembuatan bahan peledak, kepemilikan senjata, atau berpartisipasi dalam hal ini" Mereka dicurigai "telah merencanakan satu atau lebih serangan teroris atau berpartisipasi dalam percobaan terorisme".

Sebelumnya, otoritas Jerman mengumumkan tiga penangkapan pertama, dua di Denmark dan satu di Jerman. Para tersangka diduga telah membeli beberapa kilogram bahan kimia pada Januari, yang dapat digunakan untuk membuat bahan peledak.

“Sebuah pencarian tempat tinggal di kota Dessau-Rosslau Jerman, barat daya Berlin, menemukan 10 kilogram bubuk hitam dan sekering,” kata jaksa penuntut Jerman. Dilaporkan lebih banyak bahan kimia disita di Denmark.

Baca juga: Pemimpin Sayap Kanan Perancis Hadapi Ancaman Penjara Setelah Sebar Gambar Kekejaman ISIS

Kantor berita DPA Jerman melaporkan bahwa ketiganya bersaudara. Sementara dua orang telah memasuki Jerman untuk pertama kalinya pada 1998 dan menerima status pengungsi kemudian.

Bahan kimia yang diduga mereka dapatkan berasal dari sumber di Polandia, dikirim ke Dessau-Rosslau, dan kemudian dibawa ke Denmark, DPA melaporkan.

Menteri Kehakiman Denmark Nick Haekkerup dalam kicauan di Twitter pada Kamis malam (11/2/2021) menulis "kasus tersebut menunjukkan bahwa ancaman teroris terhadap Denmark tetap serius."

Negara Skandinavia berpenduduk 6 juta itu telah mengkhawatirkan kemungkinan serangan ekstremis sejak September 2005. Tepatnya ketika sebuah surat kabar Denmark menerbitkan 12 kartun yang menampilkan Nabi Muhammad.

Kartun tersebut menyebabkan kemarahan dan protes di dunia Muslim, di mana penggambaran Muhammad secara umum dianggap menghujat. Surat kabar tersebut mengatakan ingin menguji apakah kartunis akan menerapkan sensor diri ketika diminta untuk memerankan Muhammad.

Tidak ada hukum Denmark yang dilanggar dengan publikasi kartun tersebut.

Diterbitkan di Berita