Liputan6.com, Kabul - Sebuah bom magnet yang dipasang pada sebuah mobil van kecil meledak pada Sabtu di daerah mayoritas Syiah di ibu kota Afghanistan, Kabul, kata sejumlah laporan.

Menurut seorang pejabat Taliban yang menolak disebutkan namanya, enam orang tewas dan sedikitnya tujuh orang terluka. Hitungan resmi belum diumumkan dan belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, seperti dilansir dari Sky News, Minggu (14/11/2021). 

Ledakan itu terjadi di daerah Dashte Barchi di Kabul barat dan merupakan yang terbaru dari serangkaian serangan di Afghanistan dalam beberapa pekan terakhir. Dashte Barchi memiliki populasi besar etnis Muslim Syiah Hazara, yang telah berulang kali menjadi sasaran militan ISIS.

Dalam sebuah tweet, Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban, mengatakan kebakaran telah terjadi di distrik itu yang menewaskan sedikitnya satu warga sipil dan melukai dua lainnya. Dia mengatakan bahwa investigasi sedang berlangsung.

 

Krisis di Afghanistan Akan Bertambah Buruk

 

Sebuah serangan bom di sebuah sekolah di distrik itu terjadi awal tahun ini, sebelum penarikan koalisi dari Afghanistan dan pengambilalihan berikutnya oleh Taliban. Sedikitnya 55 orang tewas dalam serangan itu, kebanyakan dari mereka diyakini sebagai mahasiswi berusia antara 11 dan 15 tahun, dan sedikitnya 150 lainnya terluka.

Pemerintah Afghanistan saat itu menyalahkan Taliban, tetapi Zabihullah membantah terlibat pada saat itu dan pada gilirannya menyalahkan ISIS.

Ledakan hari Sabtu menghantam sebuah negara di mana jutaan orang berisiko kelaparan musim dingin ini karena kekeringan dan ekonomi yang runtuh membuat negara bagian itu dalam bahaya.

PBB khawatir krisis hanya akan bertambah buruk tanpa tindakan drastis, karena pola cuaca menunjukkan kekeringan lebih lanjut di daerah penghasil gandum utama Afghanistan kemungkinan terjadi pada musim dingin ini.

Reporter: Cindy Damara

 

Sumber: https://www.liputan6.com/global/read/4710444/ledakan-bom-magnet-targetkan-daerah-mayoritas-syiah-di-kabul-afghanistan

 

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia Serangan bom bunuh diri saat ibadah salat Jumat di masjid-masjid yang dihadiri umat Syiah Hazara di Afghanistan, yang menewaskan ratusan orang pada bulan lalu, meneror warga Syiah di Afghanistan. Beberapa bahkan tidak berani keluar rumah untuk beraktivitas sehari-hari.

Asif Lali tak lagi pergi beribadah salat Jumat ke masjid. Belum lama ini, gelombang serangan terhadap komunitasnya, yang sebagian besar beretnik Syiah Hazara, telah menewaskan adik laki-lakinya. Kini, ia ketakutan setiap pergi keluar rumah.

“Kami ketakutan dalam situasi apa pun. Saya bahkan tidak berani ke jalan raya, saya hanya berjalan lewat gang-gang saja, karena saya takut ada serangan bunuh diri.

Setiap kali saya terjebak macet atau ada di tengah keramaian, saya takut ada serangan bunuh diri, karena komunitas kami diancam langsung oleh ISIS," kata Lali yang merupakan seorang dokter di sebuah klinik setempat.

Jumat pada 8 dan 15 Oktober, serangan bom bunuh diri meledak di beberapa masjid, menewaskan lebih dari 100 orang. ISIS mengaku bertanggung jawab atas kedua serangan yang menyasar umat Syiah, kelompok minoritas di sana.

Setelah kejadian tersebut, beberapa warga Hazara seperti Lali memutuskan untuk tidak beribadah ke masjid untuk sementara waktu.

 

Kondisi masjid setelah ledakan, di Kunduz, Afghanistan, 8 Oktober 2021. (Foto: Reuters)
Kondisi masjid setelah ledakan, di Kunduz, Afghanistan, 8 Oktober 2021. (Foto: Reuters)

 

“Adik laki-laki saya tewas dalam serangan bunuh diri yang dilakukan ISIS di bandara. Umurnya 23 tahun. Hampir 43 hari telah berlalu sejak serangan itu terjadi, akan tetapi hati kami masih terluka dan masih ada rasa duka di rumah kami. Kami bahkan tidak bisa memajang foto adik kami di dinding. Kami pun menghapus foto-fotonya dari handphone kami, karena kenangan tentangnya sangat menyakitkan bagi kami," ujar Lali.

Saking banyaknya korban tewas akibat serangan bom bunuh diri, warga Hazara memiliki pemakaman khusus di Kabul, dengan sebutan “Kebun Para Martir,” yang menjadi tempat peristirahatan terakhir korban-korban tewas dalam serangan bom sekolah Mei lalu.

Warga etnik Hazara di Afghanistan telah lama didiskriminasi dengan berbagai alasan, salah satunya agama yang mereka anut.

Meski ribuan telah tewas saat Taliban memerintah pada 1996-2001, keberadaan ISIS di Afghanistan pada awal tahun 2015-lah yang menjadikan mereka dan komunitas Syiah secara umum sebagai target sistematis.

Ratusan orang tewas dalam banyak serangan bunuh diri di masjid maupun pusat keramaian oleh militan Sunni garis keras yang tidak menganggap mereka sebagai Muslim sejati, menimbulkan kekerasan sektarian yang menghancurkan negara-negara seperti Irak dan Afghanistan.

Meski Taliban telah berjanji semua kelompok etnik di Afghanistan akan dilindungi, aksi-aski pembunuhan terus terjadi semenjak mereka merebut kekuasaan Agustus lalu. Dengan lebih dari 400 masjid Syiah di Kabul saja, rasa aman sulit terwujud karena tidak ada yang tahu di mana serangan berikutnya akan terjadi.

Hussain Rahimi (23), warga etnik Hazara, mengatakan setiap kali ia berangkat ke masjid untuk beribadah, ia selalu membaca kalimat syahadat, karena tak tahu apakah ia akan selamat pulang ke rumah.

Rahimi sendiri kehilangan adik perempuannya yang duduk di kelas 12 dalam serangan bom di sebuah sekolah di Kabul Mei lalu, yang kebanyakan menewaskan murid perempuan.

“Ini rasa takut yang muncul dengan sendirinya, karena keluarga dan saya sendiri ketakutan. Ketika saya akan pergi ke masjid, saya membaca syadahat, karena saya khawatir tidak bisa kembali ke rumah dengan selamat," ujarnya.

 

Personel keamanan Afghanistan memeriksa lokasi ledakan bom di Kabul, Afghanistan, Kamis, 3 Juni 2021. (Foto: AP)
Personel keamanan Afghanistan memeriksa lokasi ledakan bom di Kabul, Afghanistan, Kamis, 3 Juni 2021. (Foto: AP)

 

Warga Hazara, yang berbahasa Persia dan diperkirakan merupakan keturunan tentara penakluk Mongol abad ke-13, Genghis Khan, dianggap sebagai kelompok etnik terbesar ketiga di Afghanistan, setelah Pashtun dan Tajik. Tidak ada data sensus terbaru, tetapi secara keseluruhan, warga Syiah diperkirakan mewakili 10-20 persen populasi.

Selain itu, warga Hazara juga kerap menjadi korban persaingan etnis dan ekonomi yang merajalela dalam politik Afghanistan.

Di bawah pemerintahan sebelumnya, warga Syiah ditawari sejumlah persenjataan dan pelatihan dasar agar dapat melindungi masjid-masjid mereka. Akan tetapi, Taliban telah mencabut sebagian pesar penawaran tersebut, sehingga membuat mereka merasa lebih rentan.

 

“Masyarakat kami merasa suatu saat, hari Jumat nanti misalnya, dua atau tiga hari setelahnya, mungkin Herat yang akan meledak, mungkin Kabul akan meledak, mungkin kota lainnya, misalnya Helmand atau tempat dan masjid-masjid lain di mana umat Syiah berkumpul untuk berJumatan," kata Mohammad Baqer Sayed, dosen Afghan University.

Pihak berwenang Taliban berjanji akan meningkatkan pengamanan di masjid-masjid Syiah dua pekan lalu, akan tetapi jaminan itu tidak cukup bagi banyak orang, yang memiliki sedikit kepercayaan pada kelompok yang sejak lama dianggap sebagai musuh mereka. [rd/jm]

 

Diterbitkan di Berita

ALMERIA, KOMPAS.com - Kegemaran makan kebab dilaporkan membuat seorang teroris Inggris yang kabur dari ISIS ditangkap polisi Spanyol. Mantan rapper Abdel-Majed Abdel Bary beratnya naik signifikan, sehingga aparat harus menggunakan telinga untuk mengidentifikasinya. 

Pria asal London itu bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah, dan perawakannya mirip dengan rekan senegaranya sesama teroris, Jihadi John.  

Dia kabur dari ISIS ke Aljazair, sebelum tertangkap pada 2020 bersama dua komplotannya ketika memesan kebab. Detektif setempat berhasil mengidentifikasi Adbeizerrak Seddiki, seorang penyelundup manusia asal Aljazair, sebagai si pemesan makanan. 

Berkat unggahan di media sosial Seddiki, kepolisian mengerahkan tim dan memantau sebuah alamat di Almeria. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email Harian Spanyol El Pais memberitakan, Seddiki memesan kebab secara daring pada 15 April 2020 pukul 22.46 waktu setempat, lima hari sebelum penangkapan.

Dilansir Daily Mirror Selasa (28/9/2021), esok malamnya mereka memesan dari toko Makro Doner pada pukul 22.00. Pesanan ketiga, diantar oleh Uber Eats pada 18 April 2020 pukul 14.48 mengantarkan penegak hukum ke rumah Seddiki.  

Di sana, mereka tidak hanya melihat Seddiki, tapi juga Abdel Bary yang begitu gemuk, namun bisa dikenali dari telinganya. Begitu hakim mengizinkan penangkapan, mereka langsung menangkap Bary, Seddiki, dan pria ketiga bernama Kossaila Chollouah. 

Kepolisian juga menyita bitcoin dengan nilai 43.000 pounsterling (sekitar Rp 839,2 juta) dan barang bukti lainnya. Bary tetap berada dalam Penjara Soto del Real dekat Madrid, dengan penyidik mencurigai dia hendak melakukan aksi teroris.

Bary merupakan anak Adel Abdel Bari, yang mengaku bertanggung jawab atas pengeboman di Afrika yang membunuh 200 orang. Saat berusia enam tahun, Bary dibawa orangtuanya ke Inggris dari Mesir. Sebelum pergi ke Suriah di 2013, musik rap-nya sempat diputar di Radio1.

Penulis : Ardi Priyatno Utomo

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok ekstremis ISIS mengklaim sebagai dalang di balik pengeboman yang menargetkan anggota Taliban di Jalalabad, Afghanistan, pada akhir pekan lalu.

ISIS Khorasan mengklaim bom tersebut melalui pengumuman di media propaganda mereka, Kantor Berita Amaaq, pada Minggu (19/9). Sebagaimana dilansir Reuters, dalam pemberitaan itu, ISIS mengklaim memakan korban puluhan anggota Taliban, tapi belum ada pihak yang dapat memverifikasi.

"Lebih dari 35 anggota Taliban tewas atau terluka dalam serangan ledakan tersebut," demikian pernyataan ISIS tersebut. Taliban juga mengakui bahwa anggotanya menjadi target sejumlah serangan bom di Jalalabad pada Sabtu hingga Minggu lalu.

Seorang sumber mengatakan kepada Reuters bahwa setidaknya tiga orang tewas dan sekitar 20 lainnya terluka akibat ledakan di Jalalabad pada Sabtu. Serangkaian ledakan ini menimbulkan pertanyaan terkait keamanan di Afghanistan setelah Taliban mengambil alih kuasa pada pertengahan Agustus lalu.

Ini bukan kali pertama ISIS-K berulah setelah Taliban berkuasa. Pada Agustus lalu, ISIS-K juga melakukan serangan bom bunuh diri di bandara Kabul, ketika warga sedang berbondong menanti evakuasi.

Setelah itu, Taliban mengklaim bahwa mereka dapat membendung ISIS-K jika AS sudah angkat kaki. Namun ternyata, setelah AS hengkang pada akhir Agustus lalu, ISIS-K masih dapat menargetkan anggota Taliban.

"Kami kira sejak Taliban datang, akan ada perdamaian," ujar Feda Mohammad, salah satu warga yang abangnya tewas dalam serangan bom ISIS-K pada Minggu lalu.

Ia kemudian berkata, "Namun, sekarang tak ada perdamaian. Tak ada keamanan. Kalian tak bisa mendengar apapun selain kabar mengenai ledakan bom yang membunuh siapa.

"Bom ISIS ini terjadi ketika Taliban masih berupaya membentuk pemerintahan. Dengan pemerintahan yang belum lengkap ini, Afghanistan harus menghadapi berbagai krisis akibat pembekuan berbagai aliran dana asing setelah Taliban berkuasa. "Ini merupakan puncak dari kesengsaraan kami," ucap seorang warga di Jalalabad, Abdullah.

(has)

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Jakarta – Pasukan Prancis berhasil menewaskan salah satu pemimpin ISIS cabang Sahara dan sekitarnya (ISGS), Adnan Abu Walid al-Sahrawi.

Keberhasilan itu, membuat pasukan Prancis makin gencar melakukan operasi untuk memburu para pemimpin ISIS lainnya di kawasan Afrika Utara.

Dikutip dari kantor berita Reuters, pasukan Prancis menyebut perburuan perlu dilanjutkan untuk secepat mungkin mengembalikan stabilitas dan keamanan di Afrika, terutama kawasan Sahel, Afrika Barat.

ISGS, yang berbasis di Burkina Faso dan Nigeria, adalah dalang dari ratusan serangan teror terhadap warga sipil dan militer di Afrika. Serangan mereka berhasil membuat kawasan Sahel di Afrika Barat tidak terurus karena tingginya ancaman teror di sana.

Hal itulah yang mendorong operasi kontra-terorisme Prancis. “Kematian Sahrawi adalah pukulan telak untuk ISGS dan komplotannya,” ujar Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Florence Parly, Kamis (16/9/2021).

Parly melanjutkan, meski Sahrawi telah meninggal, ISGS tidak bisa dianggap remeh. ISGS, kata ia, masih memiliki ratusan anggota yang mampu melakukan serangan teror sewaktu-waktu di Afrika. Adapun Nigeria ia prediksi masih akan tetap menjadi target serangan teror favorit.

“Kami belum mendapat informasi apapun soal siapa penerus Sahrawi. Namun, kami yakini tak akan mudah menemukan pimpinan yang mampu memberikan pengaruh sama besarnya dengan Sahrawi,” ujar Parly.

Kepala Agensi Intelijen Eksternal Prancis, Bernard Emie, mengatakan bahwa fokus Prancis sekarang adalah menghentikan Iyad Ag Ghaly. Ghaly, kata Emie, adalah kepala cabang Al-Qaeda di Afrika yang bertanggung jawab atas serangan teror di Pantai Gading dan Senegal.

Sama seperti Parly, Emie menyakini kematian Sahrawi hanya akan menghentikan sementara aktivitas kelompok teror di Afrika. Sebelumnya, Prancis berhasil melacak keberadaan Sahrawi dan kemudian membunuhnya di Mali pada pertengahan Agustus lalu.

Prancis menghajarnya dengan serangan drone ketika Sahrawi tengah mengendarai motor di Mali. Bersama ISGS, Sahrawi memerintahkan berbagai serangan teror. Pada tahun 2017, misalnya, ia memerintahkan serangan teror kepada Militer Amerika.

Selain itu, pada Agustus 2020, ia memerintahkan pembunuhan enam pekerja amal Prancis dan warga Nigeria yang menjadi sopir mereka. Total, korban serangan kelompok teroris pimpinan Sahrawi diperkirakan mencapai 3000 orang di mana kebanyakan dari mereka adalah Muslim.

Diterbitkan di Berita

damailahindonesiaku.com Tangerang – Indonesia harus mewaspadai potensi radikalisme dan terorisme pasca kehancuran kelompok ISIS di Irak dan Suriah, dan berkuasanya kelompok Taliban di Afghanistan.

Pasalnya, banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang pernah bergabung dengan jaringan kelompok teroris Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) di Suriah dan Irak di era 2014-2019, serta ikut pelatihan dengan Taliban di Afghanistan pada 1990-an yang melahirkan kelompok Al Jamaah Al Islamiyah.

“Ini menjadi tantangan bangsa Indonesia untuk melawan radikalisme dan terorisme. ISIS memang sudah selesai, tetapi simpatisan dari Indonesia yang ingin kembali masih banyak. Lalu kemudian Al Jamaah Al Islamiyah Indonesia yang kita ketahui bersama ada generasi 1 sampai 4 dan sudah diidentifikasi oleh negara,” ujar mantan Deputi Kerjasama Internasional dan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irjen Pol (Purn) Drs. Hamidin di Tangerang, Jumat (10/9/2021).

Ia mengungkapkan, ada beberapa kembalinya simpatisan ISIS dan isu Taliban di Afghanistan yang harus diwaspadai. Potensi pertama adalah orang-orang yang kembali pasca kekalahan ISIS.

Ia mengaku pernah datang langsung ke Irbil, Irak, untuk menjemput deportan eks simpatisan ISIS tahun 2017 lalu. Di situ, ia melihat fakta, tidak semua simpatisan ISIS tidak semua kembali ke negaranya.

Dari penelusurannya, Hamidin mengatakan, ada eks militan asal Indonesia yang tidak pulang ke Indonesia, tetapi pulang ke Tunisia karena menikah dengan orang Tunisia. Kemudian ada juga militan dari negara lain yang justru ke Indonesia.

Ada yang kembali ke Tunisia misalnya orang Indonesia atau wanita Indonesia yang kemudian menikah dengan orang Tunisia. Kemudian ada yang dari negara lain juga ke Indonesia.

“Saya menyebut mereka relocator. Mereka adalah dia orang dari suatu negara,tapi dia ikut berjuang pada ISIS, dia kembali, kemudian dia tinggal di suatu negara tertentu dan bergabung dengan sel-sel terorisme di negara tersebut,” ungkap mantan Kapolda Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur ini.

Menurutnya, relocator ini dulu pernah terjadi di Indonesia saat ramai-ramainya kelompok Al Qaeda seperti Noordin M Top dan Dr. Azahari dari Malayia. Pun dengan tokoh teroris lainnya Muhammad Hasan dari Singapura yang ditangkap tahun 2008 lalu.

Mereka adalah contoh nyata relocator masa lalu. “Sekarang orang yang dari ISIS bisa saja berada di tengah-tengah kita, kemudia dia bergabung kepada sel lamanya. Kemudian suatu saat ketika ada momentum, maka dia akan hidup lagi untuk menggelorakan itu,” jelas Hamidin.

Ia mengungkapkan, tidak semua relocator itu teridentifikasi saat masuk ke Indonesia. Seperti Muhammad Bojoglan dan kawan-kawan dari Uighur, yang pernah bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso. Kedua, lanjut Hamidin, yang perlu diwaspadai adalah pengelana yang frustasi atau frustatated traveller.

Saat ISIS berjaya, orang-orang ini sebenarnya ingin berangkat ke Suriah dan Irak tetapi tidak ada sponsor, tidak ada yang bisa mengajak, tidak ada yang bisa mengantar tapi gairahnya sangat tinggi.

“Kita sudah melihat bagaimana kasus misalnya penyerangan Kapolsek di Tangerang pada saat itu. Dia mau berangkat, tapi tidak ada uang. Hanya melihat polisi dia hajar. Nah ini termasuk pengelana yang frustasi,” tegasnya.

Ketiga, ungkapnya, adalah sel-sel hibernasi atau hibernate cells atau sel tiarap. Mereka bila BNPT, Densus 88, dan BIN banyak kegiatan, mereka tiarap, tapi bukan mati. Kendati demikian, semangat dan motivasi mereka tetap ada dan tinggi.

Kemudian yang keempat adalah sleeping cell atau sel tidur. Mereka ini tidak ada gerakan, tapi sebetulnya radikal. Mereka tidak melakukan apa-apa, dan lebih banyak menunggu momen. Contohnya adalah kasus tero bom Surabaya dan bom Gereja Katedral Makassar.

Empat hal itulah yang harus diwaspadai terutama seiring berkuasanya Taliban di Afghanistan sekarang ini. Pasalnya, ideologi Tablian di masa lalu adalah ideologi terorisme.

“Semua kita paham itu. Jadi tetaplah kita Waspada, kita ikuti perkembangan perkembangan Taliban di sana. Kita berharap mereka akan melaksanakan apa yang sudah Taliban deklarasikan kepada Amerika dan lain-lain bahwa mereka akan menjadi demokrasi dan mengikuti tata aturan global. Saya kira itu yang saya lihat. Lebih baik kita wait and see,” papar Ketua Kelompok Ahli Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ini.

Selain itu, Hamidin mengungkapkan ada tantangan besar bangsa Indonesia dalam mewaspadai radikalisme dan terorisme di masa pandemi Covid-19. Ia mengakui pandemi membuat banyak sektor terpuruk dan perekonomian nasional menurun, serta kegiatan masyarakat harus dibatasi.

Di sisi lain, pemerintah juga fokus menangani pandemi Covid-19. Menurutnya di tengah isu-isu pandemi Covid-19, bukan berarti isu terorisme selesai. Sebab, kadang-kadang kelompok-kelompok teroris memanfaatkan isu itu menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Misalnya mau percaya takut kepada siapa? Mau takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau takut kepada Covid ? Nah ini yang mereka campur adukkan. Sebetulnya jawabannnya tidak seperti itu. Dua duamya memang harus kita waspadai. Jadi kalau Allah memang tempat kita bermohon, tetapi Covid ini juga tidak bisa dihindari. Karena dia berada di tengah-tengah kita jadi saya kira dua hal ini harus sama-sama kita waspadai. Dan semua komponen bangsa harus turut serta didalamnya,” tuturnya.

Untuk itulah, ia menyarankan BNPT sebagai koordinator penanggulangan terorisme di Indonesia menggandeng ulama-ulama untuk ikut juga memberikan pencerahan terhadap bagaimana mencegah pandemi covid dan juga mengembalikan apa namanya pemahaman kita kepada ideologi dan agama yang benar.

Keterlibatan ulama sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Ia khawatir bila masyarakat menerima pemikiran yang salah dan karena tidak ada yang meluruskan akhirnya mereka melaksanakan ajaran itu.

Terbukti banyak isu-isu menyesatkan selama pandemi seperti disebutkan bahwa pandemi ini konspirasi.

“Saya kira itu untuk kelompok-kelompok radikal selalu itu yang dijadikan bahan propaganda,” tegasnya.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, NU Online Pengamat Politik Timur Tengah, M Najih Arromadloni, menginventarisasi beberapa persamaan antara kelompok Taliban dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Pertama, lahir dari ideologi yang sama, yakni ideologi Salafi-Wahabi, bukan Sunni. Gus Najih, sapaan akrabnya, menyampaikan hal tersebut dalam diskusi daring bertajuk Serial Kajian Studi Kehidupan Agama Kontemporer yang disiarkan langsung di kanal YouTube TVNU, Jumat (29/8).

“Mereka eksklusif. Mengklaim kebenarannya sendiri dan merasa sebagai representasi Islam. Keduanya mengaku mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah. Menentang mereka berarti menentang Allah dan rasul-Nya,” kata dia.

Kedua, sama-sama lahir dari negara konflik. Baik Taliban di Afghanistan maupun ISIS di Suriah, keduanya lahir dari negara yang memiliki konflik berkepanjangan. “Juga sama-sama lahir atas peran Amerika,” terangnya.

Dijelaskan, kelahiran ISIS, Taliban, dan kelompok-kelompok teror, langsung maupun tidak langsung merupakan peran AS. ISIS muncul setelah negara Adi Kuasa ini menginvasi Irak, dan Taliban membesar setelah AS menginvasi Afghanistan. 

“Meskipun kalau kita baca peta geopolitiknya, lahirnya Taliban itu sendiri tidak lepas dari Amerika. Tadi saya katakan bahwa mereka dulu dididik di kembaga-lembaga pendidikan yang didanai oleh Arab Saudi,” ujar Gus Najih.

Menurut dia, Taliban mendapatkan pelatihan militer justru dari CIA (Central Intelligence Agency). “Sebetulnya, sampai sekarang pun CIA masih bisa memegang orang-orang Taliban, sebagaimana dikatakan Kiai As’ad Said Ali (mantan Wakil Kepala BIN),” sambungnya.

Ketiga, sama-sama mempunyai visi Negara Islam. “Dua-duanya sama, hanya ISIS negara Islamnya transnasional, kalau Taliban lokal,” ungkap Gus Najih. Keempat, kedua kelompok ini sama-sama suka menggunakan kekerasan dan teror dalam mencapai tujuan.

Kelima, dalam hal memahami teks agama, dua-duanya sangat tekstual. “Termasuk dalam hukum qishas, masih menerapkan hukum potong tangan, hukum rajam dan seterusnya,” terang penulis buku Bid’ah Ideologi ISIS: Catatan atas Penistaan ISIS terhadap Hadis (2017) itu.

Keenam, menggunakan narasi memerangi kafir. Ketujuh, mengeliminasi peran perempuan. Di Afghanistan, perempuan dijadikan budak dan diperdagangkan. Di tangan Taliban, perempuan menjadi kelompok terpinggirkan.

“Terbukti, Taliban membatasi peran-peran perempuan di ruang publik: tidak boleh sekolah dan seterusnya. Kemudian juga memposisikan perempuan di belakang laki-laki saat berjalan,” jelas Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (ALSYAMI) ini.

“Mereka juga tidak menganggap eksistensi anak perempuan. Orang Afghanistan kalau punya anak lima, misalnya, yang dua perempuan, ketika ditanya anaknya berapa, dia bilang tiga. Hanya menghitung laki-laki, yang perempuan tidak,” imbuhnya.

Dari persamaan itulah, banyak pihak yang mengkhawatirkan eksistensi Taliban, terlebih semenjak mereka menguasai Afghanistan. “Meski beberapa letupan konflik antara Taliban terjadi akhir-akhir ini, tetapi kerja sama dan persamaan-persamaan itu memang ada,” terang Gus Najih.

Ia menambahkan, perbedaan di antara keduanya yaitu Taliban lebih permisif. Dalam arti berteman baik dengan Syi’ah dan Komunis. Seperti saat perayaan Hari Asyura yang digelar beberapa waktu lalu. “Taliban menghadiri perayaan Syi’ah, yaitu Hari Asyura’.

Kemudian Taliban juga berkawan dekat dengan komunis, baik Tiongkok maupun Rusia,” ungkap alumnus Universitas Kuftaro Damaskus, Suriah, itu. Hal itu berbeda dengan ISIS yang justru relatif permisif terhadap Israel.

“ISIS saat berkuasa selama 2014-2019 di Irak dan Suriah, tidak pernah sekali pun berkonfrontasi dengan Israel. Satu peluru dari ISIS belum pernah sampai Israel, padahal ISIS mempunyai semua senjata,” pungkasnya. 

Kontributor: Ahmad Naufa KF Editor: Musthofa Asrori


Diterbitkan di Berita

sindonews.com BAGHDAD - Serangan bom bunuh diri menewaskan sedikitnya 35 orang dan melukai puluhan lainnya di pasar yang ramai di Kota Sadr, Baghdad, Irak pada Senin, menjelang perayaan Idul Adha. Hal itu diungkapkan sumber keamanan dan rumah sakit setempat.

"Lebih dari 60 orang terluka," kata sumber polisi seperti dikutip dari Al Arabiya, Selasa (20/7/2021). ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, kata kantor berita kelompok itu Nasheer di Telegram. Dikatakan salah satu gerilyawan meledakkan rompi peledaknya di antara kerumunan.

Sumber rumah sakit mengatakan jumlah korban tewas bisa meningkat karena beberapa yang terluka berada dalam kondisi kritis.

Dalam sebuah pernyataan singkat, kantor perdana menteri Irak mengatakan Perdana Menteri Mustafa al-Kadhimi mengadakan pertemuan mendesak dengan komandan keamanan tinggi untuk membahas serangan itu

"Dengan kejahatan yang mengerikan mereka menargetkan warga sipil di kota Sadr pada malam Idul Adha. Kami tidak akan beristirahat sebelum terorisme terputus dari akarnya," kata Presiden Barham Salih dalam tweetnya

Pada bulan April, kelompok ISIS juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom mobil di sebuah pasar di Kota Sadr, lingkungan Syiah di Baghdad, yang menewaskan empat orang dan melukai 20 orang.

ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas serangan bom Januari lalu yang menewaskan lebih dari 30 orang di pasar Tayaran Square yang ramai di Baghdad tengah - bom bunuh diri besar pertama Irak selama tiga tahun

Serangan bom besar pernah terjadi hampir setiap hari di Ibu Kota Irak tetapi telah berkurang sejak invasi ISIS ke Irak utara dan barat dikalahkan pada 2017.

(ian)

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia - Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, Senin (28/6), bertemu dengan Paus Fransiskus dan sejumlah pejabat lainnya di Vatikan, dengan topik pembahasan mengenai perubahan iklim, hak asasi manusia dan perdagangan manusia.

Kunjungan di Vatikan itu dilakukan menjelang pertemuan Oktober antara paus dan Presiden AS Joe Biden, seorang Katolik kedua yang memimpin Amerika.

Blinken dan Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio, Senin (28/6) , juga memimpin pertemuan Koalisi Global untuk Mengalahkan ISIS.

Pejabat Departemen Luar Negeri mengatakan para menteri akan membahas upaya mempertahankan tekanan pada kelompok militan di Irak dan Suriah sambil melawan afiliasi-afiliasinya di tempat lainnya di dunia.

 

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berfoto bersama pada pertemuan tingkat menteri koalisi global tentang Suriah dan negara Islam, di Roma, Italia, 28 Juni 2021. (ANSA/GIUSEPPE LAMI/ Handout via REUTERS)
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berfoto bersama pada pertemuan tingkat menteri koalisi global tentang Suriah dan negara Islam, di Roma, Italia, 28 Juni 2021. (ANSA/GIUSEPPE LAMI/ Handout via REUTERS)

 

Patrick Worman, penjabat direktur Kantor Utusan Khusus AS untuk Mengalahkan ISIS, kepada wartawan mengatakan fokus khusus pertemuan itu adalah “tantangan baru ISIS di Afrika,” khususnya di Afrika Barat dan Sahel.

Amerika meluncurkan upaya koalisi, yang kini melibatkan 83 anggota, untuk mengalahkan kelompok Negara Islam (ISIS) pada tahun 2014 setelah militan itu menguasai wilayah yang luas di Suriah utara dan Irak.

Upaya koalisi itu pada tahun 2019 menyatakan militan ISIS telah digulingkan dari wilayah-wilayahterakhir mereka yang tersisa

“ISIS tetap menjadi musuh yang gigih,” kata Worman kepada wartawan. “Masih banyak yang harus dilakukan di Irak dan Suriah, di mana ISIS terus melakukan serangan dan menabur ketakutan di antara penduduk setempat.”

Worman mengatakan koalisi itu bekerja sama dengan pemerintah Irak, termasuk mendukung pasukan keamanan Irak, untuk “menargetkan sel-sel ISIS yang tersisa, menolak menjadi tempat perlindungan ISIS, dan memberantas jaringan media, keuangan, dan fasilitasi ISIS.”

 

Worman juga menekankan perlunya membantu korban kekejaman ISIS, meminta pertanggungjawaban mereka yang melakukan kejahatan, dan memusatkan perhatian pada upaya kemanusiaan.

Pertemuan lainnya, Senin (28/6) secara khusus akan berfokus pada Suriah, di mana selain masalah yang terkait dengan kelompok ISIS, Blinken, De Maio dan menteri-menteri lainnya akan berfokus pada pembaharuan upaya-upaya untuk mengakhiri konflik selama satu dekade di Suriah.

Departemen Luar Negeri mengatakan akses kemanusiaan, khususnya kemampuan PBB untuk memberikan bantuan lintas batas, akan menjadi salah satu masalah yang disoroti Blinken. [my/ab]

Diterbitkan di Berita

medcom.id Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut ada ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang terhasut jaringan teroris global. Mereka semua dibawa ke Irak dan Suriah.

"Berdasarkan catatan keberangkatan itu setidaknya 1.500 warga negara kita telah berangkat ke sana," kata Kepala BNPB Boy Rafli Amar dalam rapat internal secara virtual dengan Media Group, Senin, 21 Juni 2021.

Boy mengatakan jaringan teroris yang membawa mereka terafiliasi dengan Al-Qaeda, ISIS, dan Taliban. WNI yang ikut ke Irak dan Suriah diiming-imingi sejumlah uang dan fasilitas.

"Mereka menjanjikan ketika berangkat akan mendapatkan sejumlah gaji, fasilitas pendidikan, dan fasilitas asuransi, dan sebagainya," ujar Boy.

Namun, fasilitas dan uang itu hanya omong kosong. Setibanya di Irak maupun Suriah mereka hidup sengsara.

"Sebagian besar dari mereka masih berada di camp-camp tahanan. Untuk yang pria, dan wanita, dan bahkan anak-anak berada di camp pengungsian," kata Boy.

BNPT juga mencatat sebagian dari mereka ada yang dideportasi dari Irak dan Suriah. Beberapa orang di antaranya dinyatakan meninggal.

"Ada yang telah meninggal dunia estimasi sekitar seratus dan kemudian melakukan relokasi ke negara-negara yang sedang konflik lainnya," ucap Boy.

Boy mengatakan mereka semua terhasut karena narasi propaganda yang disebar kelompok teroris. Narasi itu harus dimusnahkan agar warga negara tidak ada lagi yang tertipu dengan muslihat kelompok teroris.

Untuk itu, BNPT menggelar kerja sama dengan Media Group. Kerja sama itu diharap bisa menghapuskan narasi sesat dari kelompok teroris di Indonesia. BNPT juga ingin mengadakan acara terbuka dengan Media Group.

"Menurut hemat kami ini perlu perlibatan semua masyarakat agar masyarakat bisa tercerahkan, kemudian tentunya kita berupaya agar jangan sampai banyak lagi masyarakat yang terperdaya untuk berangka ke Irak dan Suriah tersebut," kata Boy.
 
(JMS)

Diterbitkan di Berita