sindonews.com JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap seorang terduga teroris yang berbaiat kepada organisasi terlarang ISIS di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan menjelaskan, selain berbaiat ke ISIS, terduga DR alias AQD juga merupakan jaringan dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) wilayah Jawa Barat.

"Ditangkap 1 orang DR alias AQD penangkapan hari ini, Jumat jam 13.30 di Desa Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Tasikmalaya, Jabar," kata Ramadhan dalam jumpa pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (18/6/2021).

Ramadhan menjelaskan, terduga teroris tersebut merupakan anggota JAD di bawah pimpinan terduga teroris T yang sudah terlebih dahulu ditangkap oleh Detasemen berlambang burung hantu.

Terduga DR alias AQD diketahui pada September 2019 lalu juga terlibat Idad di Gunung Galunggung, bersama tiga teroris JAD yang sudah ditangkap juga, yakni BRK, AF dan RA.

"Kemudian, telah baiat ke pimpinan organisasi terlarang ISIS pada Desember 2019 dirumah saudara Y dipandu saudara T. Terakhir peranannya mufakat pembentukan RQ Sabilunajah yang digagas oleh T yang telah ditangkap," tutup Ramadhan.

(cip)

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Pejabat tinggi Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) memberi peringatan yang serius tentang bahaya kelompok teroris terhadap AS, kalau pasukan AS dan koalisi sudah meninggalkan negara itu dalam bulan-bulan mendatang.

Menteri Pertahanan Lloyd Austin, Kamis (17/6), mengatakan kepada anggota Kongres, diperkirakan dibutuhkan waktu “mungkin dua tahun” bagi kelompok seperti Al-Qaida atau ISIS untuk menyusun kekuatan dan kapabilitas merencanakan serangan terhadap AS dan sekutu Barat.

Perwira militer tertinggi Amerika yang juga Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley lebih jauh memperingatkan potensi kebangkitan organisasi-organisasi teroris ini bisa lebih cepat lagi, tergantung pada nasib pemerintahan Afghanistan yang sekarang.

“Kalau pemerintah ambruk atau pembubaran dari pasukan keamanan Afghanistan, risiko itu sudah tentu semakin besar,” kata Milley.

Presiden Joe Biden pada April lalu mengumumkan keputusan untuk menarik semua sisa pasukan dari Afghanistan, di mana ia mengatakan AS telah mencapai sasarannya, yakni menuntut pertanggungjawaban Al Qaida dan pemimpinnya Osama bin Laden atas serangan mematikan pada 11 September 2001 terhadap Gedung WTC di New York dan Pentagon. [jm/em]

Diterbitkan di Berita

Tim detikcom - detikNews Sambisa - Pemimpin kelompok militan Boko Haram, Abubakar Shekau dilaporkan tewas bunuh diri saat perang melawan kelompok teroris lainnya dari Negara Islam Provinsi Afrika Barat (ISWAP). Hal tersebut diungkap langsung oleh Pimpinan kelompok ISWAP.

"Shekau lebih suka dipermalukan di akhirat daripada dipermalukan di dunia. Dia bunuh diri seketika dengan meledakkan bahan peledak," bunyi sebuah rekaman suara dalam bahasa Kanuri yang mirip dengan suara pemimpin ISWAP Abu Musab Al-Barnawi, seperti dilansir AFP, Senin (7/6/2021).

Rekaman yang terindikasi berisi suara pimpinan kelompok ISWAP tersebut baru muncul ke publik 2 minggu setelah kabar meninggalnya Abubakar Shekau beredar.

Kelompok militan Boko Haram belum secara resmi mengomentari kematian pemimpin mereka tersebut. Sementara itu tentara Nigeria juga masih menyelidiki klaim tersebut.

Kelompok ISWAP menjelaskan dalam audio bahwa merek mengirim pejuang ke kantong Boko Haram di hutan Sambisa. Ketika itu kelompok tersebut menemukan Shekau duduk di dalam rumahnya dan terlibat dalam baku tembak.

"Dari sana dia mundur dan melarikan diri, berlari dan berkeliaran di semak-semak selama lima hari. Namun, para pejuang terus mencari dan memburunya sebelum mereka dapat menemukannya," kata suara itu.

Setelah menemukannya di semak-semak, para pejuang ISWAP mendesak dia dan para pengikutnya untuk bertobat. Tetapi Shekau menolak dan bunuh diri.

"Kami sangat senang," kata suara itu, menambahkan bahwa Shekau adalah "seseorang yang melakukan terorisme dan kekejaman yang tak terbayangkan."

(maa/maa)

Diterbitkan di Berita
 
Ouagadougou (ANTARA) - Korban tewas akibat serangan milisi terparah dalam beberapa tahun terakhir di Burkina Faso naik menjadi 132, menurut pemerintah pada Sabtu (5/6), setelah kelompok bersenjata  mengepung sebuah desa di wilayah timur laut.
Mereka menyerang pada Jumat (4/6) malam, membunuh warga desa Solhan di Provinsi Yagha, yang bebatasan dengan Nigeria. Para penyerang juga membakar rumah dan pasar, demikian penyataan pemerintah.

Otoritas mengumumkan masa berkabung nasional 72 jam, menggambarkan penyerang sebagai teroris, meski tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Sebanyak 40 warga lainnya terluka, kata juru bicara pemerintah Ousseni Tamboura kepada wartawan.
Perserikatan Bangsa Bangsa mengatakan Sekjen Antonio Guterres berang dengan serangan tersebut, yang korbannya melibatkan tujuh anak.

Kendati ada kehadiran ribuan penjaga perdamaian PBB, serangan kelompok yang terkait dengan al Qaeda dan ISIS di kawasan Sahel Afrika Barat melonjak tajam sejak awal tahun, terutama di Burkina Faso, Mali dan Nigeria, dengan warga sipil yang menanggung bebannya.
Kekerasan di Burkina Faso menyebabkan lebih dari 1,14 juta orang mengungsi hanya dalam waktu dua tahun, selagi negara miskin dan gersang itu menampung sekitar 20.000 pengungsi dari negara tetangga Mali.

Serangan terbaru kelompok bersenjata di kawasan Sahel menambah korban tewas menjadi 500 lebih sejak Januari, menurut direktur Human Rights Watch Afrika Barat Corinne Dufka.
"Alurnya yakni para milisi datang, mereka menguasai pos pertahanan sipil dan terlibat dalam hukuman kolektif terhadap semua desa - sebuah pola yang kami temui di mana pun tahun ini," kata Dufka.

Pada Maret para penyerang menewaskan 137 orang dalam serangan terencana di desa wilayah barat daya Nigeria.

Sumber: Reuters

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Amerika Serikat (AS) mengambil langkah baru untuk mempersulit kelompok teror ISIS memindahkan uang, termasuk sumbangan dari pendukung internasional, melalui Suriah dan Turki.

Departemen Keuangan AS, Senin (17/5), mengumumkan sanksi terhadap tiga orang dan satu perusahaan, yang semuanya memainkan peran kunci dalam apa yang oleh para pejabat digambarkan sebagai jaringan keuangan terlarang kelompok teror itu.

Salah seorang individu yang dijatuhi sanksi, Alaa Khanfurah, dituduh menggunakan perusahaan jasa keuangannya yang berbasis di Turki untuk mentransfer ribuan dolar ke agen-agen ISIS di seluruh Suriah.

Para pejabat Departemen Keuangan AS juga mengatakan Khanfurah pada 2017 dan sekali lagi pada 2019 memfasilitasi transfer uang antara para pemimpin puncak ISIS.

Sanksi baru itu juga menarget Perusahaan Al-Fay, bisnis jasa keuangan yang berbasis di Turki, dan dua bersaudara, Idris al-Fay dan Ibrahim al-Fay.

Departemen Keuangan AS mengatakan Idris al-Fay telah menggunakan perusahaan tersebut untuk menyalurkan donasi kepada para anggota ISIS, termasuk ke agen-agen yang bekerja di kamp pengungsi al-Hol di Suriah timur laut.

Menurut pernyataan Departemen itu, Idris al-Fay kini ditahan di Irak. [lt/em]

Diterbitkan di Berita

LONDON, KOMPAS.com - Pasukan tentara Inggris terlibat dalam operasi untuk menyita senjata ISIS di Mali di tengah badai pasir dan suhu lebih dari 50 derajat Celcius.

Sekitar 100 tentara Inggris dari Light Dragoons dan Royal Anglian Regiment, menemukan senjata ISIS, berupa senapan AK47, ratusan butir amunisi, pakaian kamuflase, radio, ponsel, dan ratusan liter bahan bakar.

Kementerian Pertahanan (MoD) mengatakan misi penemuan senjata ISIS tersebut dilakukan dengan dukungan khusus tim pencari, Royal Engineers, di tengah kondisi sangat menantang.

Melansir Sky News pada Sabtu (15/5/2021), kadang-kadang jarak pandang para tentara hanya 30 meter di tengah badai pasir.

Sementara, mereka membawa peralatan sebesar 45 kg dengan suhu di atas 50 derajat Celcius, saat dalam perjalanan menuju Mali dekat perbatasan Niger, pada awal Mei. Itu adalah operasi "pengepungan dan pencarian" pertama, yang bertindak atas dasar data intelijen yang dikumpulkan secara proaktif oleh pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Mali.

Sementara, mereka mencurigai militan ISIS telah melarikan diri dengan berenang melintasi Sungai Niger sebelum tentara Inggris tiba di sana.

Kementerian Pertahanan mengatakan, ISIS di Kawasan Gurun Sahara (ISGS) telah mengintimidasi penduduk setempat di Mali, memeras uang, dan menyerang orang-orang yang menolak untuk memenuhi tuntutan mereka.

"Menghapus senjata dan mensabotase operasi ekstremis akan membuat perubahan nyata bagi masyarakat lokal," ungkap Menteri Angkatan Bersenjata Inggris James Heappey.

"Terpenting data intelijen yang dikumpulkan akan membantu mengembangkan pemahaman kami dan membantu mencegah ancaman dari kelompok bersenjata di masa depan," imbuh Heappey.

Letnan Kolonel Tom Robinson, komandan Light Dragoons, mengatakan, "Dengan menggunakan intelijen yang dikumpulkan selama patroli kami, kami fokus pada di mana kelompok ekstremis mengintimidasi penduduk setempat."

Setelah itu, diharapkan dapat menemukan dan menyita persediaan senjata ISIS, mengintervensi pengaruh berbahaya mereka pada komunitas lokal.

Selain itu, untuk dapat "mengumpulkan lebih banyak informasi yang akan membantu menghentikan aktivitas ekstremis lebih lanjut.

" Tiga ratus tentara Inggris dikerahkan ke negara Afrika barat yang dilanda perang pada Desember, untuk bekerja bersama 16.000 penjaga perdamaian dari 56 negara berbeda.

Peran tentara Inggris tersebut adalah untuk menyediakan pengintaian jarak jauh spesialis untuk misi PBB, mengumpulkan intelijen di wilayah negara yang sulit dijangkau.

Penulis : Shintaloka Pradita Sicca

Diterbitkan di Berita

Jenewa (ANTARA) - Lebih dari 17.500 orang di Burkina Faso terpaksa mengungsi dari rumah-rumah mereka dalam 10 hari terakhir karena karena serangkaian serangan oleh kelompok bersenjata tak dikenal yang telah menewaskan 45 orang, demikian menurut laporan Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR).

Serangan oleh kelompok bersenjata jihadis yang terkait dengan al Qaeda dan ISIS di wilayah Sahel Afrika Barat telah meningkat tajam sejak awal tahun, terutama di Mali, Niger, dan Burkina Faso, dengan warga sipil yang menanggung beban tersebut.

Laporan UNHCR mengatakan orang-orang bersenjata telah melakukan serangkaian serangan di tiga wilayah terpisah, membakar rumah-rumah, dan menembak mati warga sipil. Para penyerang juga menggeledah pusat kesehatan dan merusak rumah serta toko.

"Jelas salah satu alasannya adalah menyebabkan kekacauan dan menyiksa warga sipil," kata juru bicara UNHCR Boris Cheshirkov dalam pengarahan di Jenewa, Jumat.

Situasi keamanan di wilayah Sahel memicu salah satu krisis pengungsian yang tumbuh paling cepat di dunia, kata dia.

Sumber keamanan mengatakan kepada Reuters pada Senin bahwa para penyerang bersenjata telah menewaskan sekitar 30 orang dalam serangan di sebuah desa di timur Burkina Faso.

Pekan lalu, dua jurnalis Spanyol dan seorang warga Irlandia tewas dalam penyergapan bersenjata oleh tersangka militan selama patroli anti perburuan di dekat cagar alam di Burkina Faso timur.

"Tren yang kami lihat hanya menunjukkan lebih banyak kekerasan yang akan datang," kata Cheshirkov.

Kekerasan di Burkina Faso telah membuat lebih dari 1,14 juta orang mengungsi hanya dalam dua tahun, sementara negara gersang yang miskin itu juga menampung sekitar 20.000 pengungsi dari negara tetangga Mali yang mencari keselamatan dari kekerasan.

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Tiga orang warga Indonesia eks napi teroris, yang pernah menjadi petempur kelompok militan ISIS di Suriah, menyadari kesalahannya dan berusaha menebusnya dengan menyebarkan narasi anti-ekstremisme di masyarakat.

Inilah kisah tiga pria asal Surabaya, Pasuruan dan Malang, Jawa Timur, yang terpapar gerakan ekstremisme yang menghalalkan kekerasan, dengan berangkat ke medan perang di Suriah dan bergabung dengan kelompok militan yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS.

Mereka terpikat menjadi 'jihadis radikal' melalui propaganda di internet, persinggungan dengan seorang perekrut ISIS, serta proses panjang dan perlahan yang membuat mereka makin terdorong ke dalam ekstremisme.

Ujungnya, atas nama persaudaraan dan, tentu saja, petulangan adrenalin, Abu Farros (nama sebutan), Wildan Bahriza, dan Syahrul Munif, meninggalkan ayah, ibu, anak dan keluarganya.

Dihadapkan kekejaman perang di Suriah, kekejian ISIS, dan perangai negatif sang perekrut, kesadaran intelektual dan ruhani, juga situasi di Indonesia, mereka akhirnya memutuskan meninggalkan Suriah.

Apa yang terjadi setelah mereka diadili dan mendekam di penjara?

Di titik mana dalam kehidupan para eks jihadis ini sehingga mereka akhirnya berhasil keluar dari ideologi kebencian?

Bagaimana mereka beradaptasi di masyarakat ketika dihadapkan adanya stigma tentang latar belakang mereka sebagai mantan napi teroris?

Berikut kesaksian tiga orang itu dalam wawancara terpisah di Surabaya dan Malang:

'Ibu yang membuka mata saya, saya bersumpah tak ulangi kesalahan'

(Abu Farros, 43 tahun, pernah ke Suriah dan berbaiat kepada ISIS, sudah bebas dari hukuman penjara, berusaha aktif kampanye melawan ekstremisme )

Abu Farros, begitu dia minta dipanggil, memiliki sahabat bernama Husni. Persahabatan itu terjalin semenjak mereka belia dan tumbuh dewasa di kawasan Ampel, Surabaya — wilayah yang didiami warga peranakan Arab dan etnis lainnya.

Keduanya kemudian berkongsi dalam bisnis jual-beli baju koko. "Saya percaya sekali dengan Husni," akunya.

Sekitar 2013, ketika Suriah diguncang perang saudara, dua sahabat ini 'terhubung' dengan apa yang terjadi di sana setelah mengonsumsi antara lain berbagai film propaganda yang beredar di media sosial.

 

Abu Farros

Abu Farros saat mendekam di penjara. "Saya tidak bisa tidur selama dua bulan, suara anak saya terus menggaung, bagaimana masa depannya..." DOKUMEN PRIBADI

 

Atas nama persaudaraan (ukhuwah) sesama muslim, Husni dan Abu suatu saat saling bertanya "apa kontribusi kita terhadap mereka" — kata 'mereka' ini merujuk kepada orang-orang atau kelompok yang melawan rezim Bashar al-Assad.

Husni, yang usianya lebih tua lima tahun, lantas mengajak Abu — kelahiran 1978 — berangkat ke Suriah untuk "memberikan bantuan khusus".

"Ada teman yang bisa mengajak kita ke sana," ujar Husni, seperti ditirukan Abu. Lalu mereka yang besar dengan tradisi Sunni ini bertemu 'teman' itu di Kota Malang. "Saya ingat pertemuannya di rumah makan sate."

Dalam perjumpaan, Salim Mubarok Attamimi — nama 'teman' itu tadi kelak dikenal sebagai Abu Jandal, anggota ISIS yang bertugas merekrut orang-orang Indonesia untuk berangkat ke Suriah — akhirnya mampu membujuk Abu dan Husni.

 

Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal

Abu Jandal alias Salim Mubarok Attamimi, anggota ISIS, yang berhasil membujuk Abu Farros meninggalkan keluarganya dan berangkat ke Suriah untuk 'berjihad'. AL HAYAT

 

Keduanya kemudian diminta Salim — "kami memanggilnya Ustaz Salim," akunya — menyediakan paspor dan uang US$500. "Saya juga diminta tidak ngomong [rencana ke Suriah] kepada keluarga."

Akhirnya, pada Maret 2014, Abu Farros berangkat dari Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta, menuju Suriah. Mereka berangkat bersama 19 orang Indonesia untuk "berjihad" di Suriah.

"Tidak ada yang saya kenal, kecuali Husni dan Salim," ungkap Abu Farros saat ditemui BBC News Indonesia di rumahnya di Jalan Ampel Kembang, Surabaya, pertengahan April 2021 lalu.

Saat itu, Salim meminta Abu dan orang-orang itu menggunakan nama samaran. "Saya memakai nama Abu Farros. Itu nama anak sulung saya, Muhammad Farros."

Setelah transit di Kuala Lumpur, Malaysia, rombongan tersebut terbang ke Istanbul, Turki dan berlanjut ke Kota Gaziantep, sebelum menyeberang ke Suriah.

Abu, Husni, dan belasan orang Indonesia ditempatkan di sebuah wilayah pedesaan di luar Kota Aleppo — situasinya mirip "desa-desa yang hancur akibat lumpur Lapindo di Sidoarjo," kata Abu Farros.

Ketika rombongan itu tiba di lokasi tujuan, ISIS dan kelompok pemberontak lainnya berusaha dan bersaing satu sama lain untuk menguasai beberapa wilayah di dekat perbatasan dengan Turki.

Tujuh tahun kemudian, Abu Farros mengeklaim kehadirannya di Suriah semata untuk menolong anak-anak yang terlantar akibat perang saudara dan berharap ditempatkan di bagian logistik atau perbaikan bangunan.

 

Abu Farros

Abu Farros (kanan) bersama pengacaranya saat acara besuk di penjara. DOKUMEN ABU FARROS

 

Faktanya, mereka saat itu mengikuti latihan militer selama dua bulan di sebuah kamp di luar kawasan pedesaan.

Dua orang warga Ampel, Surabaya itu, bersama warga Indonesia lainnya, kemudian ditempatkan di pos penjagaan yang berjarak kira-kira 500 meter dari posisi musuh.

Mereka juga dipersenjatai dan melakukan baiat (bersumpah) mendukung ISIS. "Saya pegang AK-47, tapi saya bukan petempur utama," akunya.

Dalam perjalanannya, Abu Farros menggambarkan, "situasinya mencekam, sesekali kita dihujani mortir, peluru tank."

Ketika itu pesawat-pesawat pemerintah Suriah menjatuhkan bom di berbagai kawasan yang dikuasai kelompok pemberontak.

"Saya tidak bisa tidur selama dua bulan, suara anak saya terus menggaung, bagaimana masa depannya..."

Rupanya kekejaman perang yang dia saksikan sendiri membuatnya "tidak siap". "Nah, saya mulai sadar, saya memutuskan untuk pulang [ke Indonesia]," katanya dalam wawancara.

 

Kampung Ampel, Surabaya.

Abu Farros tinggal di kawasan Ampel, Surabaya, yang sebagian penduduknya adalah warga Indonesia peranakan Arab. BBC NEWS INDONESIA

 

Setelah empat bulan berada di Suriah, Abu mengaku untuk pertama kalinya mendapat akses internet saat berkunjung ke Kota Al-Bab, kira-kira satu jam perjalanan dari kamp.

"Lewat internet, saya jadi tahu situasinya [aktivitas ISIS dan perang saudara di Suriah] seperti ini," kata bekas mahasiswa Teknik Perkapalan ITS Surabaya ini. Dia juga menjadi tahu bagaimana sikap pemerintah Indonesia tentang keterlibatan WNI di Suriah.

Dihadapkan situasi seperti itu, dia memutuskan untuk menelpon istri, ibu dan keluarganya di Surabaya.

"'Pulang, pulang'... keluarga saya menangis. Saya pun menangis. Saya menyesal kenapa saya sudah sampai sini [Suriah]." Dia kemudian bertekad bulat untuk meninggalkan Suriah.

 

Abu Farros

Abu Farros saat diwawancarai di rumahnya di kawasan Ampel, Surabaya, April 2021. "Kita berbuat baik dan bersungguh-sungguh itu jihad." BBC NEWS INDONESIA

 

Namun masalahnya, paspornya ditahan Salim Attamimi alias Abu Jandal. Dia ditanya apa alasannya pulang. "Intinya, saya tidak boleh pulang."

Di titik inilah, Abu Farros teringat ibunya. Dia meminta ibunya untuk meyakinkan Abu Jandal — pria yang membujuknya berangkat ke negeri yang luluh-lantak akibat perang saudara itu.

"Salim, Abu Farros itu punya ibu, yang mana jihad itu tidak harus ke Suriah. Bakti ke ke orang tua itu termasuk jihad," Abu menirukan suara ibunya — melalui sambungan telepon — saat membujuk Salim agar mengizinkan anaknya pulang.

Singkatnya, Abu akhirnya berhasil pulang ke Indonesia sekitar Agustus 2014, namun sahabatnya, Husni, sejak awal ragu-ragu untuk pulang, karena takut ditangkap saat tiba di Indonesia.

Setelah sampai di Surabaya, Abu Farros mengetahui sahabatnya itu meninggal akibat bom. "Sampai sekarang, saya selalu memikirkan dia." Nada suara Abu Farros terdengar sedikit bergetar.

 

Kota Aleppo

Abu, Husni, dan belasan orang Indonesia kemudian ditempatkan ke sebuah wilayah pedesaan di sekitar Kota Aleppo. (Foto: Seorang bocah perempuan berdiri di sudut Kota Aleppo, Suriah, 13 Februari 2013). BRUNO GALLARDO/AFP

 

Di hadapan ibunya, istri, anak-anaknya, dan keluarga besarnya, Abu kemudian menyadari kesalahannya bergabung ISIS ke Suriah.

Kondisi ibunya yang sakit akibat memikirkan tindakannya juga membuat "matanya terbuka". Di hadapan ibunya dia bersumpah tidak mengulangi perbuatannya. "Saya janji kepada ibu saya."

Dia masih teringat perkataan yang diulang-ulang oleh ibu dan pamannya: "Jangan berlebihan dalam bersikap, jangan aneh-aneh. Ayahmu (yang meninggal saat dia masih kuliah), keluargamu, tidak ada yang aneh-aneh."

Tiga tahun kemudian ayah tiga anak ini ditangkap Densus 88 dan divonis 3,5 tahun penjara pada 2018 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena terbukti bergabung organisasi teroris ISIS.

 

Abu Farros

Kondisi ibunya yang sakit akibat tindakannya juga membuat "matanya terbuka". Di hadapan ibunya dia lantas bersumpah tidak mengulangi perbuatannya. "Saya janji kepada ibu saya." BBC NEWS INDONESIA

 

Dia hanya menjalani hukuman 2,5 tahun penjara, karena mendapatkan pembebasan bersyarat setelah menyadari kesalahannya di masa lalu dan menyatakan setia kepada NKRI.

"Ketika di dalam penjara, saya bertambah sadar bahwa setiap perbuatan, pasti ada pertanggungjawabannya," ungkapnya. Dia kemudian mengikuti program deradikalisasi.

Pada 29 Mei 2020, Abu Farros menghirup udara bebas dan dia mengaku sepenuhnya sudah berubah.

"Islam itu rahmatan lil alamin, tidak meneror. Islam itu memberikan akhlak. Jadi dakwah itu bisa lewat akhlak (berbuat baik), bukan lewat yang lain-lain," ujarnya.

Dia juga menerima Pancasila sebagai dasar negara dan semua aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Dan perlahan-lahan dia pun menekuni lagi bisnis baju koko yang dulu digelutinya.

 

Kota Aleppo

Pasangan suami-istri menyaksikan upaya evakuasi tim penolong di tengah reruntuhan akibat serangan bom di sudut Kota Aleppo, Suriah, 28 April 2014. ZEIN AL-RIFAI/AFP

 

Ketika saya bertanya apakah statusnya sebagai eks napi teroris menganggu aktivitas bisnisnya, Abu tak memungkiri. "Saya agak minder."

Dan, kebetulan rekanan bisnisnya beragama Kristen. Dia awalnya merasa rekanannya itu "lebih bersikap hati-hati" terhadap dirinya. Namun ketakutannya itu, ternyata, terlalu berlebihan.

Buktinya, "saya tetap dihutangi lagi, karena saya baik dengan dia, dan dia baik dengan saya." Abu Farros tertawa kecil.

"Kalau saya tidak menghormati mereka [rekanannya yang beragama Kristen], ngapain saya harus bayar hutang. Kewajiban saya [untuk bayar hutang] tetap kewajiban saya," katanya, memberikan contoh.

Namun tiba-tiba, sambil menarik napas panjang, Abu menyinggung nasib anak-anaknya. Dia sangat berharap apa yang terjadi pada dirinya tidak dialami oleh tiga anaknya. "Kasihan mereka."

Kepada anak bungsunya yang masih kanak-kanak, dia menutupi 'aktivitasnya' di masa lalu. "Saya bilang abi (ayah) mondok."

Sebaliknya dia menjelaskan lebih terbuka kepada anak sulungnya, Farros dan adiknya, bahwa ayahnya pernah dipenjara. Kebetulan anak pertamanya yang berusia 15 tahun itu pernah membesuknya di penjara.

Saat wawancara, dia lalu mengutarakan rencananya bersama eks napi terorisme lainnya, Syahrul Munif, untuk mendirikan organisasi Fajar Ikhwan Sejahtera.

 

Setia NKRI

Napi teorisme mengucap ikrar setia kepada NKRI di aula Sahardjo, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/04). ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO

 

Mereka menginginkan organisasi itu kelak dapat membantu para eks napi terorisme supaya "memiliki kesibukan dan tidak lagi berpikir aneh-aneh... Juga agar negara peduli kepada mereka."

Belajar dari pengalamannya dulu, dia berujar kepada siapapun agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial. "Harus benar-benar dipahami. Jangan sampai setelah berbuat, menyesali."

Termasuk memaknai jihad? Tanya saya. "Jihad itu artinya sungguh-sungguh. Kita berbuat baik dan bersungguh-sungguh itu jihad."

Jadi, apa jihad Anda sekarang? "Mengayomi keluarga sebagai kepala rumah tangga dan bertanggungjawab, itu namanya jihad."

'Saya insaf, setelah tahu perangai pendukung ISIS tak sesuai ucapannya'

(Wildan bin Fauzi Bahriza, ikut bertempur bersama ISIS di Suriah, menyadari kesalahannya dan kini mengampanyekan perdamaian)

Wildan Fauzi Bahriza masih berusia 22 tahun ketika bergabung dengan kelompok militan ISIS di Suriah pada Juni 2013 lalu.

Dia merupakan salah-satu generasi pertama dari Indonesia yang berangkat 'berjihad' ke negara itu.

"[Di usia muda] Semua orang pasti pernah merasakan bagaimana mengutamakan adrenalin daripada berpikir jernih," katanya kepada BBC News Indonesia, pertengahan April lalu. Kami menemuinya di pondokannya di pinggiran Kota Malang.

 

Wildan Bahriza

Wildan Bahriza berpose di depan kamera dari balik terali besi — saat masih dipenjara. DOKUMEN WILDAN BAHRIZA

 

Hal itu dia utarakan ketika saya bertanya apakah saat itu dia tidak menyadari kompleksitas di balik perang saudara di Suriah.

"Semangat itu meluap-luap, apapun akan aku lakukan untuk mencapai target itu," tambah sarjana strata satu bidang informatika di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang, Jatim ini.

Pria kelahiran Pasuruan, 17 Juni 1991 ini nekad berangkat ke Suriah setelah bertemu anggota ISIS asal Pasuruan dan tinggal di Malang, Abu Jandal.

Sepekan kemudian dia berangkat ke negara yang saat itu dilanda perang saudara. "Sesederhana itu malah."

Selain dorongan adrenalin, anak kelima dari enam bersaudara asal kota kecil Bangil, Jatim, ini mengaku semenjak kecil gampang tersentuh ketika bersentuhan dengan isu kemanusiaan.

 

Wildan Bahriza

Wildan Bahriza (tengah) — saat berada di dalam penjara — bersama dua orang petugas lembaga pemasyarakatan. DOKUMEN WILDAN

 

Dalam situasi seperti itu, Wildan mendapat informasi — yang sangat mungkin tidak utuh alias sepihak — seputar konflik Ambon, perang Afghanistan, Irak, hingga Suriah.

Dan mirip yang dialami eks napi teroris lainnya, yaitu Abu Farros, Wildan mengaku 'terpanggil' untuk berangkat ke Suriah atas nama persaudaraan sesama muslim.

"Rentetan peristiwa itu yang membuat aku ingin membantu mereka [di Suriah], setidaknya aku ingin berguna," katanya.

Dari mana Anda mengetahui kondisi di Suriah, saat itu? Tanya saya. Wildan tidak memungkiri dia mendapatkannya dari media sosial.

"Aku melihat video-video anak-anak kecil yang kehilangan orang tuanya."

 

Wildan Bahriza

Wildan Bahriza (tengah, berkacamata) bersama petugas lembaga pemasyarakatan dan anggota polisi. DOKUMEN WILDAN

 

Setelah tiba di Suriah pada September 2013, Wildan dan sekitar sembilan orang WNI — di antaranya Abu Jandal, yang merekrutnya — dikirim ke kamp militer, dua pekan kemudian. Mereka dipersenjatai.

"Dan kami ditaruh di front-front pertempuran," akunya. Jadi Anda ikut bertempur? Tanya saya. "Iya."

Ketika itu Wildan mengaku nyaris dimasukkan dalam rombongan 'bom syahid' alias bom bunuh diri. Dia mengaku sudah dikarantina, namun akhirnya batal.

Belakangan dia mengaku dipindahkan ke rumah sakit untuk menjadi petugas evakuasi. "Ini sesuai keinginanku [menjadi petugas medis]," akunya.

Selama bertugas di rumah sakit, Wildan mengaku menyaksikan anak-anak dan warga sipil yang menjadi korban kekejaman perang saudara.

 

Wildan Bahriza

"Tunjukkan dengan akhlak (berbuat baik), jangan balas dengan keburukan," Wildan mengutip ulang nasihat orang tuanya. Perkataan ini pula menguatkan dirinya untuk berubah. (Foto Wildan Bahriza saat diwawancarai pada pertengahan April 2021).

 

"Sampai sekarang, saya kesulitan tidur, saya selalu terbayang-bayang apa yang saya saksikan," Wildan menerawang, lalu menarik napas panjang. Matanya terlihat basah.

Dihadapkan situasi yang tidak terbayangkan itu, pada awal 2014, Wildan memutuskan kembali ke Indonesia dengan sikap ekstrim yang belum sepenuhnya berubah.

Dua tahun kemudian dia ditangkap Tim Densus 88, setelah sempat menikahi perempuan asal Indramayu, Jawa Barat, setahun sebelumnya.

Dia divonis bersalah karena terlibat organisasi teroris ISIS dan dihukum lima tahun penjara.

 

Aleppo

Dua orang dari kelompok pemberontak sedang berbincang dengan sebuah keluarga yang terjebak di lokasi pertempuran di pinggiran Kota Aleppo, Suriah, 5 Januari 2013. Mereka menunggu kabar ayahnya tak tak kunjung kembali. MAURICO MORALES/AFP

 

Di dalam penjara, Wildan semula menolak melakukan ikrar kesetiaan pada NKRI, karena dia mengaku "diancam keselamatannya oleh beberapa napi teroris ISIS".

Namun dia kemudian mengalami titik balik — melakukan ikrar setia kepada NKRI dan mengikuti program deradikalisasi — setelah mengetahui para pengancamnya itu disebutnya "akhlak dan sikapnya bertentangan jauh dengan apa yang diucapkannya."

Akhirnya dia mendapatkan remisi dan hukumannya diubah menjadi tiga tahun sembilan bulan. Dia dibebaskan pada 2 Oktober 2019.

Dalam wawancara, Wildan menyebut peran orang tuanya yang "sangat luar biasa" saat dirinya berada di titik nol dalam kehidupannya — mendekam di balik terali besi.

 

Aleppo

Zakia Abdullah, warga Distrik Tariq Al-Bab, Aleppo, duduk termenung di lokasi reruntuhan gedung yang hancur akibat perang, 23 Februari 2013. PABLO TOSCO/AFP

 

"Tunjukkan dengan akhlak (berbuat baik), jangan balas dengan keburukan," Wildan mengutip ulang nasihat orang tuanya. Perkataan ini pula menguatkan dirinya untuk berubah.

Ketika diberi kesempatan untuk membagikan pengalamannya keluar dari jeratan gerakan ekstrim di berbagai acara diskusi, Wildan selalu menyisipkan pentingnya memelihara kedekatan dengan orang tua.

Hal penting lainnya yang sering dia utarakan adalah menyadari pentingnya perdamaian. "Jadi selagi diberi nikmat perdamaian, kenapa kita harus berperang."

Wildan juga mengoreksi konsep 'jihad' yang dulu disebutnya identik dengan perang. Dia memahami jihad itu "banyak pintunya", di antaranya membantu fakir miskin dan anak-anak yatim yang terlantar.

 

Wildan Bahriza

Wildan saat ini bekerja sebagai tenaga kontrak fotografer dan videografer di Dinas Koperasi dan Perdagangan di Kota Malang. BBC NEWS INDONESIA

 

"Apalagi di negara kita banyak fakir miskin," ungkapnya. Kini Wildan aktif membantu memasarkan produk makanan sebuah yayasan yatim piatu di Malang.

Kritikan juga dia sampaikan kepada aliran-aliran di dalam kelompok Islam tertentu yang disebutnya "terlalu ekstrim". "Misalnya suka mengkafirkan sesama muslim. Saya pun dikafirkan juga."

"Mungkin itu yang memicu radikalisme yang begitu kuat karena kesalahan pemikiran seperti itu," kata Wildan. "Padahal Islam itu agama yang rahmat, dan tidak ada yang mengekstrimkan seperti itu."

Dia berharap nantinya dapat memiliki yayasan sendiri untuk membantu para yatim piatu yang terlantar.

"Karena semakin banyak berinteraksi dengan anak-anak itu membuat saya semakin merasa tenang," ujarnya.

Saat ini Wildan memulai menekuni aktivitas baru sebagai fotografer dan videografer di Kantor Dinas Koperasi dan Perdagangan Kota Malang.

"Yang lalu biarlah berlalu, case closed, aku sekarang membangun kehidupan yang baru."

'Kamu harus pulang, ayah-ibumu tak restui 'jihadmu' ke Suriah'

(Syahrul Munif, kelahiran 1982, bergabung ISIS di Suriah, dan setelah bebas dari penjara aktif menyuarakan nilai-nilai anti-radikalisme)

Dalam rentang sekitar tujuh tahun, Syahrul Munif, 39 tahun, yang dulu berangkat 'berjihad' ke medan perang Suriah dengan bergabung ISIS, dapat berubah seratus delapan puluh derajat.

Kini pria kelahiran Juli 1982 ini berulang-ulang menyebut ISIS sebagai "virus yang merusak citra Islam" — hal yang diakuinya tak "terpikirkan" saat dia bersumpah mendukung ISIS tujuh tahun silam.

Saya lantas bertanya kepada Syahrul — lulusan strata satu Fakultas Hukum di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang — perihal bagaimana dia bisa berubah dalam rentang tujuh tahun.

 

Syahrul Munif

Syahrul Munif saat diwawancarai pada pertengahan April 2021: "Saya tidak ingin generasi setelah saya itu akan lahir 'Syahrul-Syahrul yang salah' seperti saya." BBC NEWS INDONESIA

 

Berubah dalam artian, misalnya saja, dia tidak lagi menganggap jihad itu harus mengangkat senjata atau tentang ketegasan sikapnya yang menolak konsep kekhalifahan.

"Saat di dalam penjara saya mulai berpikir," ujarnya dalam wawancara dengan BBC News Indonesia di rumah kontrakannya di Singosari, Malang, pertengahan April 2021 lalu.

Selama mengikuti program deradikalisasi yang disponsori pemerintah Indonesia, mantan aktivis dakwah kampus ini mengaku "banyak belajar" tentang konsep keislaman secara lebih luas.

"Termasuk jihad di Indonesia seharusnya seperti apa, jihad sesungguhnya menurut syariah seperti apa," ungkapnya.

Lalu, apa yang terjadi pada Anda ketika disuguhi video-video propaganda tentang apa yang terjadi di Suriah oleh Abu Jandal alias Salim Mubarok Attamimi, sehingga nekad ke Suriah? Saya bertanya lagi.

"Saya tidak berpikir ke sana," jawab Syahrul, mencoba menggambarkan apa yang ada di benaknya, saat itu.

Dia menyebut posisinya saat itu sebagai murid yang "mencari ilmu" kepada Salim yang disebutnya sebagai ustaz alias guru.

"Dan saat itu, saya percaya kepadanya, berprasangka baik saja" — termasuk isi video itu.

 

Syahrul Munif

Syahrul Munif (nomor dua dari kanan) saat acara pengenalan produk bisnisnya. "Saya anggap itu dakwah saya. Bentuk koneksi jihad saya sudah berubah. Itu cocok buat di Indonesia yang merupakan negara damai," ungkapnya. DOKUMEN ARIF BUDI SETYAWAN

 

Mirip yang dialami Abu Farros dan Wildan, Syahrul juga menggunakan alasan persaudaraan sesama muslim dan alasan kemanusiaan yang membuatnya "berpikir sempit" untuk memberi penguatan makna jihadnya saat itu.

"Mungkin pikiran saya saat itu sempit dan berpikir, pokoknya saya bisa menolong dan bisa berarti bagi saudara-saudara saya di Suriah," katanya.

Kalimat inilah yang mengantarkannya dalam perjalanan berisiko dan berbahaya ke medan perang di Suriah pada Maret 2014.

Demi tujuan 'jihad' itulah Syahrul saat itu membohongi ibu dan ayahnya, dengan mengatakan bahwa kepergiannya itu untuk umroh dan ambisi belajar agama di Arab Saudi.

 

Napi terorisme

Narapidana tindak pidana terorisme mencium bendera Merah Putih usai mengucap ikrar setia kepada NKRI di Aula Sahardjo, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/04). ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO

 

Kepada istrinya, Syahrul hanya bercerita sekilas tentang rencana kepergiannya. Sang istri saat itu sudah mengingatkannya bahwa dirinya harus bertanggungjawab untuk membesarkan dua anaknya yang masih kecil.

Syahrul dan Abu Farros terbang ke Malaysia dan bertemu beberapa orang lainnya, sebelum terbang ke Turki dan akhirnya melintasi perbatasan menuju "penampungan" di Kota Tell Abyad, Suriah.

Setelah mengikuti latihan militer oleh ISIS di Kota Raqqa selama 25 hari, mereka kemudian ditempatkan di lokasi "perbatasan" dengan Kota Aleppo.

Dalam perjalanannya, Syahrul mengaku mulai bimbang atas pilihan 'jihadnya' ke Suriah, setelah mengetahui ada peristiwa deklarasi kekhalifahan apa yang disebut sebagai Negara Islam.

 

Terorisme

Personel kepolisian bersenjata berjaga di depan Gedung Mabes Polri, Jakarta, Kamis (01/04/2021). APRILLIO AKBAR/ANTARA FOTO

 

"Pemahaman saya khilafah itu rujukan seluruh muslimin di seluruh dunia, tahu-tahu kok ISIS deklarasikan khilafah. Ini menurut saya terburu-buru dan prematur," katanya belakangan.

Syahrul mengeklaim dirinya mulai sedikit berubah setelah mengetahui perangai Abu Jandal yang dianggapnya mulai memurtadkan kelompok Islam lainnya.

"ISIS kok seperti itu," ujarnya. Belum lagi informasi yang dia terima praktek kekejaman ISIS terhadap tawanan perang.

"Saya mendengar di alun-alun kota itu ada kepala-kepala [manusia] yang dipajang di pagar," katanya. Pada titik inilah, katanya tujuh tahun kemudian, dia memutuskan untuk segera meninggalkan Suriah.

Apakah sebelum Anda berangkat ke Suriah tidak menyadari hal itu, saya bertanya. Syahrul dulu mengaku 'mengidealkan' ISIS. "Tapi itu sebelum saya lihat faktanya saat di Suriah."

 

Syahrul Munif

"Kalau salah sebut virus takfiri mulai kelihatan dan neo-khawarijnya sudah kelihatan, itu yang membuat saya berpikir bahwa ISIS itu virus bagi umat Islam," katanya. BBC NEWS INDONESIA

 

Selama berproses mengikuti program deradikalisasi di dalam penjara itulah, Syahrul kemudian menyimpulkan bahwa "ISIS sudah melenceng dari konsep keislaman".

"Kalau salah sebut virus takfiri mulai kelihatan dan neo-khawarijnya sudah kelihatan, itu yang membuat saya berpikir bahwa ISIS itu virus bagi umat Islam," katanya.

Namun momen puncak yang menguatkan tekadnya untuk meninggalkan Suriah adalah saat dia memberanikan diri menelpon keluarga besarnya.

"Orang tua saya sangat terpukul ketika mengetahui saya berbohong untuk pergi ke Suriah, dan saudara-saudara saya bilang 'mas, pokoknya kamu harus pulang, karena umi dan aba tidak merestui kepergian mas'," katanya.

Pada momen itulah, dia merasa sangat berdosa. "Andaikata saya mati di Suriah, dan orang tua tidak merestui, itu sangat berdosa," tambahnya.

 

Pengungsi Suriah.

Warga Kota Raqqah, Suriah, melarikan diri untuk menghindari peperangan, dengan menunggu di perbatasan Turki-Suriah, 18 September 2014. HALIL FIDAN/GETTY

 

Itulah sebabnya, masih dalam tahun yang sama, Syahrul akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan berhasil.

Tiga tahun kemudian, yaitu pada 2017, Syahrul ditangkap oleh Densus 88 atas keterlibatannya bersama ISIS di Suriah. Dia divonis tiga tahun penjara dan dibebaskan pada 2019 setelah mendapat remisi.

Dalam wawancara, kehadiran ayah dan ibunya disebutnya sebagai faktor paling penting yang membuatnya menyadari kesalahannya bergabung dengan ISIS di Suriah.

"Keajaiban itu saya kira dari doa orang tua yang senantiasa mendoakan saya," katanya. Dia meyakini doa orang tua lah yang membuatnya berhasil kembali ke Indonesia.

 

Syahrul Munif

Setelah menghirup udara bebas, Syahrul (kiri) menjalankan bisnis yaitu menjual permen buah dan mendistribusikan lembar kerja siswa (LKS). BBC NEWS INDONESIA

 

Dan dua tahun setelah menghirup udara bebas, Syahrul belum menceritakan masa lalunya itu dengan tiga anaknya yang masih kecil. Kelak saat mereka sudah dewasa, Syahrul akan mengungkapkannya — tanpa menutup-nutupinya.

"Paling tidak setiap orang pernah melakukan kesalahan, barangkali abi (ayah) dulu pernah salah dengan berangkat ke sana [Suriah], dan abi sudah berusaha memperbaiki diri, dan bahkan mendidik anak-anak untuk hati-hati melangkah, supaya tidak seperti abi," kata Syahrul.

Saat ditemui BBC News Indonesia, Syahrul sedang menjalankan bisnisnya yaitu menjual permen buah dan mendistribusikan lembar kerja siswa (LKS).

"Saya anggap itu dakwah saya. Bentuk koneksi jihad saya sudah berubah. Itu cocok buat di Indonesia yang merupakan negara damai," ungkapnya.

Dari sisi pemahaman keislaman, Syahrul mengaku memperluas 'pergaulannya' dengan para ulama yang selama ini 'di luar' pemahamannya dulu tentang Islam.

"Yaitu ulama yang memiliki wawasan lebih longgar, luas dan luwes, karena Islam ternyata mengajarkan seperti itu," katanya.

 

Aksi menolak terorisme.

Seorang peserta aksi menolak aksi terorisme — tergabung Forum Rakyat Bersatu — memegang bunga saat aksi solidaritas di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (04/04). ABRIAWAN ABHE/ANTARA FOTO

 

Ketika saya bertanya apakah dirinya mengalami stigma dari masyarakat terkait status eks napi teroris yang dilekatkan padanya, Syahrul tidak terlalu memusingkannya.

Dia ingin menunjukkan kepada siapapun bahwa dirinya adalah "orang baik" dengan membuktikan dengan dakwahnya sekarang yang disebutnya lebih humanis.

"Itu semua akan menjawab dari sebuah stigma, dan itu akan hilang dengan sendirinya, yaitu dengan kita tunjukkan dengan amal nyata yang lebih baik," ujar Syahrul.

Saat ini Syahrul sedang menyelesaikan sebuah buku yang isinya tentang pengalamannya selama ini yang diharapkannya dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dia juga rajin membagikan pengalamannya di berbagai kampus dan sekolah.

"Saya tidak ingin generasi setelah saya itu akan lahir 'Syahrul-Syahrul yang salah' seperti saya," tandasnya.

Diterbitkan di Berita

Ouagadougou, IDN Times - Sebuah kabar pilu diterima oleh Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, pada hari Selasa (27/4). Pemerintah Burkina Faso yang mengirimkan kabar dan memberitahu bahwa dua warga Spanyol tewas di negara Afrika tersebut.

Perdana Menteri kemudian mengkonfirmasi kematian dua warganya yang bekerja sebagai jurnalis. Melalui unggahan di akun media sosialnya, ia menyebutkan nama dua orang itu adalah David Beriain dan Roberto Fraile.

Burkina Faso melaporkan ada empat orang yang hilang dalam sebuah penyergapan ketika satgas satwa liar melakukan patroli. Tiga di antaranya adalah orang asing yang terdiri dari dua warga Spanyol dan satu lagi warga Irlandia Utara. Satu orang lagi warga Burkinabe masih hilang.

1. Jurnalis Spanyol sedang membuat film dokumenter
 
 

Namun ketika sedang bekerja di hutan taman nasional, mereka disergap oleh kelompok bersenjata. Satgas satwa liar yang bersama mereka telah mencoba melindungi dengan terlibat baku tembak. Saat baku tembak itu terjadi, karena kalah jumlah, pasukan keamanan tidak menyadari bahwa orang asing yang ada di rombongan mereka telah diculik. Peristiwa itu terjadi pada hari Senin, 26 April 2021.

Satgas satwa liar adalah gabungan dari pasukan militer, polisi dan polisi hutan. Mereka baru menjalani pelatihan dan baru memulai operasi di kawasan konservasi. Dua personel  mengalami luka tembak di kaki dan tangan dan harus di amputasi. Sedangkan satu personel lainnya masih belum ditemukan.

Burkina Faso, seperti sebagian besar negara yang berada di wilayah Sahel, menghadapi kelompok ekstrimis yang berafiliasi dengan Al-Qaeda dan ISIS. Kelompok tersebut secara berkala melakukan serangan terhadap tentara dan warga sipil.

2. Rombongan memasuki wilayah yang berbahaya

 

 

Warga Irlandia yang juga menjadi satu dari tiga orang asing yang tewas, adalah pelatih dari dua jurnalis Spanyol tersebut. Mereka sedang membuat film dokumenter tentang bagaimana otoritas Burkina Faso menangani perburuan, dan bagaimana pemerintah memberdayakan komunitas penduduk yang tinggal di cagar alam.

Mereka melakukan perjalanan bersama dengan rombongan gabungan pasukan yang bertugas dan memasuki wilayah yang berbahaya. Melansir dari laman El Pais, Arancha Gonzalez Laya, Menteri Luar Negeri Spanyol dalam konferensi pers di Madrid mengatakan "itu adalah daerah berbahaya tempat teroris, bandit, dan jihadis biasanya beroperasi."

Rombongan jurnalis dan para penjaga sedang melakukan liputan dengan menerbangkan drone untuk merekam tempat tersebut yang bernama Taman Nasional Arly. Tapi tak berapa lama, kelompok bersenjata dengan dua truk dan lusinan sepeda motor datang menyergap, membuat rombongan jurnalis bubar dan berantakan. Baku tembak pun terjadi.

Satu jurnalis asing berhasil selamat dengan beberapa personel satgas lainnya sedangkan tiga orang asing, dua warga Spanyol dan satu dari Irlandia, hilang. Satu orang tentara lokal hingga kini nasibnya belum diketahui. Awalnya mereka dilaporkan diculik.

Fraile, salah satu jurnalis Spanyol yang tewas, telah meliput beberapa konflik sebagai juru kamera lepas. Dia juga pernah meliput konflik di Suriah dan pernah terluka oleh proyektil peluru di panggulnya pada tahun 2012. Dia bisa selamat saat itu.

3. Kelompok jihadis mengaku bertanggung jawab atas serangan

Melansir dari laman Associated Press, Jamaah Nusrat ul-Islam wa al-Muslimin (JNIM) yang terkait dengan al-Qaeda, mengaku bertanggung jawab atas penyergapan tersebut. "Kami membunuh tiga orang kulit putih. Kami juga mendapat dua kendaraan bersenjata, dan 12 sepeda motor," kata sebuah pesan audio yang diterima oleh Associated Press.

Jihadis yang telah beroperasi di Burkina Faso, baik itu yang berafiliasi dengan al-Qaeda atau ISIS, telah membuat banyak penduduk setempat mengungsi. Ribuan warga sipil juga telah menjadi sasaran selama konflik berlangsung. Mereka juga menculik warga negara asing untuk meminta tebusan.

Heni Nsaibia, salah satu peneliti konflik bersenjata setempat mengatakan bahwa "warga negara asing adalah target yang lebih disukai untuk digunakan sebagai alat tawar-menawar dengan imbalan tebusan," jelasnya.

Diterbitkan di Berita

Novi Christiastuti - detikNews Kairo - Sebuah kelompok militan di Mesir yang berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas eksekusi mati terhadap tiga orang di wilayah Sinai yang rawan konflik. Ketiganya dibunuh karena dianggap mendukung militer Mesir.

Seperti dilansir AFP, Senin (19/4/2021), klaim itu disampaikan militan ini dalam sebuah video yang diposting ke saluran Telegram mereka pada Sabtu (17/4) malam waktu setempat.

Militan terkait ISIS itu mengklaim telah menewaskan seorang warga penganut Kristen Koptik dan dua anggota kelompok suku di Sinai.

Dalam video berdurasi 13 menit itu, seorang pria berusia 62 tahun, yang disebut penganut Kristen Koptik dari Bir al-Abd di Sinai Utara, ditembak mati dari jarak dekat oleh seorang militan, yang dikawal oleh dua militan lainnya yang membawa senapan.

"Bagi Anda warga Kristen di Mesir, inilah harga yang Anda bayar karena mendukung militer Mesir," ucap militan yang mengeksekusi mati pria 62 tahun tersebut.

Dua orang lainnya, yang disebut berusia lebih muda dan merupakan anggota kelompok suku Sinai juga terlihat dibunuh di sebuah gurun pasir setempat, dengan militan menuding keduanya bertempur bersama militer Mesir.

Dalam pernyataan terpisah pada Minggu (18/4) waktu setempat, pihak Gereja Koptik Mesir menyebut pria 62 tahun itu bernama Nabil Habashi Salama. Komunitas warga Kristen Koptik di Mesir diketahui mencapai antara 10-15 persen dari total 100 juta jiwa populasi negara tersebut.

"Dia mempertahankan imannya hingga saat dia dibunuh... Gereja menegaskan dukungan teguh untuk upaya-upaya pemerintah Mesir dalam memberantas aksi teror penuh kebencian," demikian pernyataan kelompok Kristen Koptik di Provinsi Sinai.

Kelompok-kelompok militan lokal semakin meningkatkan aktivitasnya di Sinai Utara sejak tahun 2013, saat militer Mesir melengserkan Presiden Mohamed Morsi.

Sebagian besar serangan dilakukan di wilayah Semenanjung Sinai, namun kelompok militan setempat juga menggunakan wilayah itu sebagai landasan peluncuran untuk serangan-serangan di wilayah Mesir lainnya.

Pada Februari 2018 lalu, pemerintah Mesir meluncurkan operasi besar-besaran untuk menumpas kelompok-kelompok militan yang difokuskan di wilayah Sinai Utara. Militer Mesir menyebut sekitar 970 terduga militan tewas dalam operasi keamanan yang terus berlangsung.

(nvc/ita)

Diterbitkan di Berita