MOSUL, NETRALNEWS.COM - Paus Fransiskus mendengarkan cerita penduduk Muslim dan Kristen di Mosul, Irak, saat mereka hidup di bawah pemerintahan brutal kelompok ISIS.

Fransiskus yang sedang berada di Irak untuk perjalanan bersejarah yang menandai pertama kalinya seorang paus berkunjung ke negara itu, terbang ke Mosul menggunakan helikopter pada Minggu (7/3/2021), untuk memulihkan luka sektarian dan berdoa bagi korban tewas dari agama apa pun.

"Betapa kejamnya bahwa negara ini, tempat lahirnya peradaban, harus dilanda pukulan yang begitu biadab, dengan tempat-tempat ibadah kuno dihancurkan dan ribuan orang Muslim, Kristen, Yazidi, dan lainnya secara paksa mengungsi atau dibunuh," kata Paus Fransiskus.

"Hari ini, bagaimanapun, kami menegaskan kembali keyakinan kami bahwa persaudaraan lebih langgeng daripada pembunuhan antar saudara, bahwa harapan lebih kuat daripada kebencian, bahwa perdamaian lebih kuat daripada perang," ujar dia, menambahkan.

Kota Tua Mosul adalah rumah bagi gereja dan masjid kuno yang dihancurkan pada 2017 selama pertempuran berdarah oleh pasukan Irak dan koalisi militer internasional untuk mengusir ISIS.

Korupsi dan pertikaian di antara politisi Irak masih memperlambat upaya untuk membangun kembali Mosul dan sebagian besar kota tetap menjadi reruntuhan.

Paus berusia 84 tahun itu berjalan melewati reruntuhan rumah dan gereja ke alun-alun yang dulunya merupakan pusat kota tua yang berkembang pesat. Kota utara Mosul diduduki oleh ISIS dari 2014 hingga 2017.

Merujuk langsung ke ISIS, Paus mengatakan bahwa harapan tidak akan pernah bisa "dibungkam oleh darah yang tumpah oleh mereka yang menyesatkan nama Tuhan untuk mengejar jalan kehancuran."

Dia kemudian membaca doa yang mengulangi salah satu tema utama perjalanannya, bahwa selalu merupakan kesalahan untuk membenci, membunuh, atau berperang atas nama Tuhan.

 

Takut untuk kembali

Komunitas Kristen Irak, salah satu yang tertua di dunia dan sangat terpukul oleh konflik selama bertahun-tahun, menurun jumlahnya menjadi sekitar 300.000 dari sekitar 1,5 juta sebelum invasi Amerika Serikat pada 2003 dan kekerasan militan Islam yang brutal yang menyusulnya.

Pastor Raid Adel Kallo, pendeta dari Gereja Kabar Sukacita, menceritakan bagaimana pada 2014 dia tinggal dengan 500 keluarga Kristen dan saat ini hanya kurang dari 70 keluarga tersisa. "Mayoritas telah beremigrasi dan takut untuk kembali," kata dia.

"Tetapi saya tinggal di sini, dengan dua juta warga Muslim yang memanggil saya ayah dan saya menjalankan misi saya dengan mereka," ujar Kallo menambahkan.

Ia juga mengatakan kepada Paus tentang komite keluarga Mosul yang mempromosikan hidup berdampingan secara damai antara Muslim dan Kristen. Paus Fransiskus, yang dijaga ketat oleh petugas keamanan selama perjalanannya ke Irak, telah menekankan toleransi beragama.

Sebelumnya pada Sabtu (6/3), dia mengadakan pertemuan bersejarah dengan ulama Syiah Irak dan mengunjungi tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Paus mengutuk kekerasan atas nama Tuhan sebagai "hujatan terbesar".

Reporter : Sesmawati
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita

BBC Indonesia

Paus Fransiskus akan mengunjungi beberapa daerah di Irak utara yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok yang menamai diri mereka Negara Islam (ISIS) pada hari ketiga perjalanan bersejarahnya ke negara itu. Militan menyerbu wilayah itu pada tahun 2014, menghancurkan gereja-gereja bersejarah dan melakukan penjarahan.

Umat ​​Kristen telah kembali ke sana sejak ISIS dikalahkan pada 2017. Paus juga akan merayakan Misa di sebuah stadion sepak bola di kota Erbil, acara yang diperkirakan akan dihadiri 10.000 peserta.

Ada kekhawatiran acara itu bisa menyebarkan virus corona. Kasus Covid-19 di negara itu telah mengalami peningkatan tajam selama sebulan terakhir, membuat perjalanan Paus sangat berisiko. Pemimpin Gereja Katolik berusia 84 tahun itu dan rombongannya semuanya telah divaksinasi, tetapi Irak baru menerima dosis pertama minggu lalu.

 

Pope Francis greets people as he arrives to hold a Mass at the Chaldean Cathedral of "Saint Joseph" in Baghdad, Iraq, 6 March 2021

Beberapa kelompok militan Syiah dilaporkan telah menentang kunjungan tersebut, dan menyatakan bahwa tur tersebut merupakan campur tangan Barat dalam urusan negara.

Pada hari Minggu, Paus akan mengunjungi Mosul - bekas benteng ISIS selama tiga tahun. Di sana dia akan berdoa di Church Square untuk para korban perang yang menewaskan puluhan ribu warga sipil.

Dia kemudian akan mengunjungi gereja terbesar Irak, yang sebagian dihancurkan oleh ISIS, di dekat Qaraqosh, tapi orang-orang Kristen telah kembali sejak kekalahan kelompok itu.

Sekitar 10.000 personel Pasukan Keamanan Irak telah dikerahkan untuk melindungi Paus selama kunjungannya, sementara jam malam juga telah diberlakukan untuk membatasi penyebaran Covid.

Pemimpin gereja Katolik berusia 84 tahun itu sebelumnya berkata kepada wartawan bahwa ia merasa "terikat oleh tugas" untuk melakukan perjalanan "simbolik" ke berbagai situs di Irak.

 
Diterbitkan di Berita
Syarifudin sindonews.com MOSKOW - Komisaris Presiden Rusia untuk Hak Anak, Anna Kuznetsova, mengungkapkan negaranya telah memulangkan 145 anak Rusia mantan militan ISIS dari Suriah dan Irak sejak wabah Covid-19.
Kuznetsova mengatakan sejak awal tahun lalu, agensinya telah melakukan enam perjalanan untuk membawa anak-anak itu kembali ke Rusia, berkoordinasi dengan pihak berwenang Suriah dan Irak.
 
Tindakan pencegahan diambil setiap saat terkait virus corona. Dia menjelaskan sulit menentukan jumlah anak yang tersisa di Suriah dan Irak, tetapi sejauh ini ada dokumen yang disiapkan untuk mengembalikan 105 anak lagi. 
November lalu, Administrasi Otonomi Kurdi di timur laut Suriah menyerahkan 30 anak Rusia dari militan ISIS yang ditahan di Kamp Al-Hol, tenggara Hasakah.

Sebelumnya, Prancis telah memulangkan tujuh anak pejuang ISIS dari timur laut Suriah. Ini adalah upaya terbaru negara Eropa memulangkan warganya setelah bertahun-tahun enggan melakukannya.
Anak-anak itu berusia antara 2 dan 11 tahun. Mereka tinggal di kamp Al-Hol dan Roj yang dijalankan milisi Kurdi seperti Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG).

Menurut Kementerian Luar Negeri Prancis, anak-anak itu rentan dan telah dirawat di layanan sosial. Pemulangan terakhir ini membuat jumlah anak-anak yang dipulangkan ke Prancis menjadi 35 anak, yang sebagian besar adalah yatim piatu.

Banyak dari mereka yang ditahan di kamp adalah warga asing yang melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung ISIS beberapa tahun setelah revolusi Suriah pecah. Menurut Save the Children, lebih dari 9.000 anak warga asing tetap tinggal di wilayah tersebut dan banyak dari mereka adalah warga negara Eropa, termasuk Inggris.

Di kamp Al-Hol saja, dilaporkan ada 43.000 anak. Meskipun ada seruan organisasi hak asasi manusia dan Amerika Serikat (AS) agar Inggris dan negara Eropa lainnya memulangkan warganya serta mengadili mereka di negara asalnya, banyak yang menolak atau enggan melakukannya.
Pemerintah negara-negara Eropa berdalih risiko keamanan yang akan mereka hadapi jika mereka dipulangkan.
 
Diterbitkan di Berita

medcom.id Kabul: Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan tiga wanita pekerja media di Afghanistan. Serangan yang sama melukai seorang wanita lainnya, yang kini kritis di rumah sakit.

ISIS mengklaim para petempurnya telah menargetkan tiga wanita yang bekerja di sebuah stasiun televisi di kota Jalalabad Timur, pada Selasa, 2 Maret 2021, malam waktu setempat.

Kelompok militan itu mengklaim anggotanya melakukan pembunuhan terhadap apa yang disebutnya sebagai "wartawan yang bekerja untuk salah satu stasiun media yang setia kepada pemerintah Afghanistan yang murtad".

Ketiga wanita, yang bekerja untuk televisi lokal Enikas TV, diketahui berusia antara 18- 20 tahun. Menurut pejabat Afghanistan, ketiganya ditembak ketika dalam perjalanan pulang kerja.

Pemakaman ketiganya akan dilaksanakan pada Rabu, 3 Maret 2021, waktu setempat.

Selain tiga korban meninggal dunia, diketahui ada satu wanita lain yang mengalami luka-luka akibat serangan itu. Kini, wanita itu tengah dirawat di sebuah rumah sakit dalam kondisi kritis.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengutuk serangan itu, di mana awalnya polisi setempat menuduh pemberontak Taliban, yang kemudian membantah terlibat. 
(KHL)

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, - Paus Fransiskus akan mengunjungi Irak pada 7 Maret mendatang. Salah satu agendanya bakal melihat gereja-gereja yang dihancurkan ISIS di Mosul.

Para pekerja pun sibuk membersihkan tempat-tempat yang bakal didatangi pemimpin umat Katolik itu. Salah satu yang terlibat adalah Anas Zeyad asisten koordinator situs untuk UNESCO di Irak.

“Sebagai seorang Muslim saya bangga membantu membangun kembali gereja-gereja ini,” kata Zeyad dikutip dari Reuters, Ahad, 28 Februari 2021.

Salah satu gereja yang sedang diperbaiki adalah gereja Katolik Suriah Al-Tahera dengan bantuan dari UNESCO, Uni Emirat Arab, dan mitra lokalnya. Gereja ini dirusak oleh ISIS dan dijadikan tempat pengadilan.

Kondisi gereja ini makin parah setelah terdampak serangan udara saat pasukan Irak mengusir para militan ISIS. Bagian atapnya hancur.

"Saya berharap kami melihat orang Kristen kembali ke tempat-tempat ini, sehingga kami hidup bersama lagi seperti yang kami lakukan selama berabad-abad," ucap Zeyad.

Ada empat gereja di Mosul yakni Gereja Katolik Suriah, Ortodoks Siria, Ortodoks Armenia, dan Katolik Kasdim. “Dulunya mirip dengan Yerusalem di dataran Niniwe,” kata Uskup Agung Mosul dan Akra Khaldea Najeeb Michaeel.

Michaeel menuturkan sebelum invasi AS pada 2003, umat Kristen Irak dari berbagai komunitas akan menghadiri kebaktian satu sama lain di festival keagamaan

Hari-hari itu telah berlalu. Hari ini hanya satu dari gereja Mosul yang masih hidup menawarkan kebaktian Ahad mingguan untuk populasi Kristen yang menyusut menjadi hanya beberapa lusin keluarga dari sekitar 50 ribu orang.

Dalam kunjungan ke Irak, Paus Fransiskus akan mengadakan doa untuk para korban perang di Hosh al-Bieaa, yang dikenal sebagai Alun-Alun Gereja, sebagai bagian dari perjalanan empat hari yang dimulai pada 5 Maret.

Sumber: REUTERS

Diterbitkan di Berita

Berlianto sindonews.com LONDON - Pengantin ISIS , Shamima Begum , sangat marah, kesal dan menangis setelah dilarang kembali ke Inggris untuk memperjuangkan kewarganegaraannya. Begum saat ini terjebak di kamp tahanan di Suriah setelah Mahkamah Agung Inggris dengan suara bulat menolak permintaannya untuk kembali ke negara itu beberapa hari lalu.

Begum, yang saat ini tinggal di kamp al-Roj Suriah utara, menolak untuk berbicara dengan wartawan atas nasihat pengacaranya.

"Dia sangat marah. Dan dia sangat kesal dan menangis. Dia tidak ingin berbicara dengan kita," kata teman-temannya kepada Sky News yang dikutip Metro, Minggu (28/2/2021).

Menyatakan bahwa lima hakim Mahkamah Agung telah dengan suara bulat menolak permintaan Begum untuk kembali ke Inggris, Ketua MA Inggris Robert Reed berkata: "Hak atas persidangan yang adil tidak mengalahkan semua pertimbangan lain, seperti keselamatan publik."

Keputusan Mahkamah Agung Inggris menuai kritik dari lima kuasa hukum Begum karena membuat penilaiannya sendiri terhadap persyaratan keamanan nasional dan mengabaikan Menteri Dalam Negeri meskipun tidak ada bukti yang relevan sebelumnya, atau temuan fakta yang relevan oleh pengadilan di bawah ini.

Menteri Dalam Negeri Priti Patel menyambut baik putusan itu, dengan mengatakan itu menegaskan kembali otoritasnya untuk membuat keputusan keamanan nasional yang vital.

Pendahulunya Sajid Javid juga mendukung keputusan Mahkamah Agung, mengatakan bahwa setiap pembatasan hak dan kebebasan yang dihadapi Begum adalah akibat langsung dari tindakan ekstrimnya.

"Tidak ada solusi sederhana untuk situasi ini tetapi setiap pembatasan hak dan kebebasan yang dihadapi oleh individu ini adalah konsekuensi langsung dari tindakan ekstrim yang dia dan orang lain telah lakukan, yang melanggar pedoman pemerintah dan moralitas bersama," Javid menambahkan.

Tetapi kelompok hak asasi manusia Liberty, yang ikut campur dalam kasus Begum, mengatakan keputusan itu menetapkan preseden yang sangat berbahaya.

"Hak atas pengadilan yang adil bukanlah sesuatu yang harus diambil oleh pemerintah yang demokratis, dan juga bukan kewarganegaraan Inggris seseorang," ucap salah satu pengacara Begum, Rosie Brighouse.

"Jika pemerintah diizinkan untuk menggunakan kekuatan ekstrim seperti pengusiran tanpa perlindungan dasar dari pengadilan yang adil, ini akan menjadi preseden yang sangat berbahaya," imbuhnya.

"Badan keamanan telah dengan aman mengatur pemulangan ratusan orang dari Suriah tetapi pemerintah telah memilih untuk menargetkan Shamima Begum," ujarnya.

Direktur kelompok hak asasi manusia Reprieve, Maya Foa, mengatakan melarang Begum masuk adalah taktik sinis untuk menjadikannya tanggung jawab orang lain.

"Seperti banyak negara Eropa lainnya, Inggris lebih dari mampu membawa pulang tahanan Inggris di Suriah, banyak dari mereka pergi saat remaja setelah diperdagangkan atau dipersiapkan secara online," ucapnya.

"Meninggalkan mereka dalam lubang hitam hukum - dalam kondisi seperti Guantanamo - tidak sejalan dengan nilai-nilai Inggris dan kepentingan keadilan dan keamanan," tegasnya.

Pemerintah Inggris sejauh ini telah mencabut kewarganegaraan sekitar 150 warga negaranya dengan alasan keamanan nasional.

Begum berusia 15 tahun ketika dia dan dua siswi sekolah dari London Timur lainnya melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok Negara Islam (IS, sebelumnya ISIS) pada Februari 2015.

Kewarganegaraan Inggrisnya kemudian dicabut dengan alasan keamanan nasional tak lama setelah dia ditemukan dalam kondisi hamil sembilan bulan di sebuah kamp pengungsi Suriah pada Februari 2019.

Pada Juli tahun lalu, Pengadilan Banding Inggris memutuskan Begum, yang sekarang berusia 21 tahun, harus diizinkan kembali ke negara itu agar dia memiliki banding yang adil dan efektif terhadap keputusan tersebut.

Namun pada bulan November, Kantor Dalam Negeri Inggris menolak keputusan tersebut di Mahkamah Agung, dengan alasan kembalinya Begum akan menciptakan risiko keamanan nasional yang signifikan dan mengekspos publik pada peningkatan risiko terorisme.

Sejak bepergian ke Suriah, Begum memiliki tiga anak bersama suaminya Yago Riedijk, seorang terpidana militan ISIS dari Belanda yang saat ini ditahan di kamp penjara yang berbeda.

Mereka memiliki tiga anak bersama, dua di antaranya meninggal karena kekurangan gizi dan penyakit dan satu lagi karena pneumonia pada usia kurang dari tiga minggu.

(ian)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- 

Mukarram alias Sungoh bin Sabirin (24) mencium Sang Merah Putih sambil menghirupnya dalam-dalam. Diikrarkannya sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) setelah sebelumnya sempat bersumpah setia kepada negara Islam Irak-Suriah (ISIS).

Begitulah prosesi yang dijalani mantan terpidana kasus terorisme eks tentara ISIS, Mukarram, sebelum keluar dari Lapas Kelas 1 Surabaya pada Kamis (25/2). Pria asal Aceh itu sempat mendekam di Lapas selama 2 tahun lebih.

Ia mengaku mulai memasuki dunia terorisme saat mempelajari Daulah Islamiyah melalui aplikasi Telegram selama kurang lebih satu tahun pada medio 2017. Pria kelahiran Mon Alue, Aceh, itu lantas di-baiat atau diambil sumpah setianya kepada pimpinan ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi.

"Saat itu setelah sholat IduI Adha, saya dibaiat dua kali," kisah Mukkarram. Dikutip dari direktori putusan Mahkamah Agung, Mukarram mulai mengenal 'Daulah' dari imam musala di Mon Alue, Muhammad Yusuf Amin alias TGK SUH.

Nama terakhir mengajaknya untuk mengikuti kajian di pondok milik kawannya, Abu Nuh, di Aceh Besar. Keikutsertaannya dalam kajian terhenti karena kuliah.

Rekannya, Irfan, kemudian mengenalkan Mukarram kepada kanal Telegram Abdillah Assyami, Millahtu Ibrahi, dan Guroba, yang berisi tentang tauhid, jihad, dan video-video perang Suriah. Pada Iduladha 2017, Mukarram, di Gubuk milik Ustaz Aulia Mukarram melakukan baiat kepada ISIS. Hal itu diulanginya dua pekan kemudian di tempat yang sama.

Atas saran Ustaz Aulia, Mukarram yang ingin berhijrah memutuskan untuk berangkat ke Afghanistan, sebagai salah satu negara yang diklaim dikuasai oleh ISIS. Berangkatlah ia melalui penerbangan dari Bandara Kualanamu ke Bangkok dengan menggunakan paspor resmi. Sesampai di Bandara Don Mueang, Bangkok,  12 Juni 2019, Imigrasi setempat menginterogasi Mukarram bersama rombongannya.

Keesokan harinya, mereka dideportasi ke RI oleh pihak Imigrasi Thailand karena kedapatan hendak ke Afghanistan untuk bergabung dengan ISIS. Dia dan rombongan kemudian diperiksa kepolisian di Medan terkait kasus terorisme.

Rombongannya dipulangkan ke Indonesia dan menjalani pengadilan kasus terorisme. Selama persidangan, Mukarram dianggap kooperatif, sopan, dan berterus terang.

Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur kemudian memvonisnya 3 tahun 8 bulan penjara dikurangi masa tahanan lantaran melanggar Pasal 15 juncto Pasal 12 A ayat (1) UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Yakni, terkait persiapan, percobaan tindak pidana terorisme di negara lain. 

Usai menjalani masa tahanan yang dipotong remisi di Lapas Kelas 1 Surabaya, Mukarram kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Disaksikan oleh Danaramil Porong, Wakapolsek Porong, Bhabinkamtibnas Kebon agung, Babinsa Kebon Agung, dan Kepala Lapas Kelas I Surabaya Beserta Pejabat Struktural, ia berucap setia kepada NKRI.

Kepala Lapas Klas 1 Surabaya Gun Gun Gunawan meminta Mukarram selalu menjaga diri dan setia kepada NKRI. Dia menganggapnya dan warga binaan pemasyarakatan (WBP) lainnya adalah keluarga sehingga harus saling menjaga satu sama lain.

"Kami berharap momen ini bisa menjadi inspirasi bagi WBP kasus terorisme lainnya di seluruh lapas/rutan se-Indonesia agar kembali setia kepada NKRI," harapnya.

Keberangkatan WNI ke luar negeri untuk bertempur sebagai tentara ISIS sendiri sudah menjadi kasus kronis sejak lama. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar mengungkap hingga 2021 ada 1.250 WNI terpapar radikalisme dan berangkat ke Irak dan Suriah.

 

Insert Infografis Artikel ISIS
Insert Infografis Artikel ISIS. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

 

"Jadi tercatat dalam data keberangkatan itu ada 1250-an orang," kata dia, Jumat (5/2).

Seribuan WNI yang bertolak ke Irak dan Suriah ini kata dia terdiri dari berbagai usia; pria dewasa, perempuan dewasa, remaja, hingga anak-anak.

Nasib mereka kini beragam. Ada yang masih tinggal di pengungsian, namun tak sedikit juga yang telah meninggal dunia saat ikut berperang.

"Sebagian mereka sudah mati, sebagian mereka ditahan. Ada wanita di dalam camp pengungsian. Anak-anak juga demikian," jelas Boy Rafli.

ISIS Tak Hilang

Cendekiawan muslim Azyumardi Azra mengatakan boleh jadi pergerakan ISIS mundur usai kekalahannya atas tentara AS dan sekutunya di Irak dan Suriah. Akan tetapi, ide-ide mereka tetap berkembang.

Pengikutnya juga tidak menjadi hilang, apalagi sekarang berbaiat ke ISIS bisa cukup melalui media sosial. "Buktinya ISIS kalah beberapa tahun ini, tetap saja selnya ada di Indonesia," kata dia, dikutip dari Antara.

Direktur Penegakan Hukum BNPT Brigjen Pol. Edy Hartono menyebut lebih dari 2.000 orang ditangkap dalam kasus terorisme sejak era Reformasi. Pemerintah juga sudah menetapkan Jamaah Islamiyah dan Jamaah Ansharut Dualah (JAD) sebagai organisasi terlarang. Tokoh-tokoh dua organisasi itupun ditangkap.

Akan tetapi, kata Edy, penyebaran paham radikal tidak putus.

 

Insert Infografis Artikel ISIS
Insert Infografis Artikel ISIS. (Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)

 

"Mereka terus melaksanakan dakwah, menyebarkan paham radikal dan terorisme, mereka juga memperbarui pedoman umum dan strategi operasi. Bagaimana cara menghindar dari kejaran aparat, sampai mereka merekrut seksi pendanaan. Terakhir terungkap kotak amal sebagai modus pendanaan," ucap Edy, kemarin, dikutip dari Antara.

Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2020-2024 pun diterbitkan untuk menanggulangi strategi kelompok terorisme itu.

"Perpres ini menyinergikan program kementerian/lembaga untuk bersama menanggulangi terorisme sejak hulu. Jadi, bukan untuk mengekang," kata Edy. 

 

(frd/Antara/arh)

Diterbitkan di Berita
DAMASKUS, KOMPAS.com - Pesawat jet tempur Rusia meluncurkan puluhan serangan udara yang menargetkan posisi ISIS di Gurun Suriah. Melansir BBC pada Kamis (25/2/2021), serangan Jet itu mendukung operasi pasukan pro-pemerintah Suriah untuk mengamankan jalan antara Homs dan Deir al-Zour, menurut kelompok monitor.
 
Militan ISIS telah melakukan serangkaian penyergapan mematikan dan serangan tabrak lari di wilayah tersebut baru-baru ini. Terbaru pada Rabu (24/2/2021), serangan ISIS dilaporkan telah mengakibatkan terbunuhnya 9 tentara dan militan.
 
Observatorium Suriah untuk HAM yang berbasis di Inggris memantau perang di Suriah melalui jaringan sumber, mengatakan telah ada 3 orang lainnya tewas pada Selasa (23/2/2021), ketika ranjau darat yang ditanam oleh ISIS meledak di gurun dekat ak-Mayadeen, di tenggara Deir provinsi al-Zour.
 
Serangan udara Rusia pada Selasa (22/2021) membunuh setidaknya 10 militan ISIS di Deir al-Zour dan tenggara provinsi Hama. Sementara, tidak ada laporan tentang korban dari serangan pada Rabu (24/2/2021) di daerah al-Shawla dan lokasi yang disebut sebagai "segetiga Aleppo-Raqqa-Hama". 
Syria TV, saluran TV oposisi juga mengatakan bahwa jet Rusia menyerang posisi ISIS di gurun wilayah Badiya sebagai bagian dari perlawanan oleh pasukan dan militan.
 
Namun, media pemerintah Suriah tidak menyebutkan operasi yang dilaporkan tersebut.  ISIS pernah menguasai 88.000 Km persegi wilayah yang membentang dari Suriah barat hingga Irak timur dan memberlakukan aturan brutalnya pada hampir 8 juta orang.
 
Terlepas dari kekalahan teritorial ISIS di Irak pada 2017 dan Suriah pada 2019, para ahli PBB memperkirakan bahwa lebih dari 10.000 militan tetap aktif di kawasan itu. Mereka diatur dalam kelompok-kelompok kecil yang bersembunyi di gurun dan daerah pedesaan, dan dapat bergerak melintasi perbatasan yang tidak terlindungi.
 
Kepala anti-terorisme PBB, Vladimir Voronkov, memperingatkan pada pekan lalu "sisa-sisa (anggota ISIS) yang cukup besar ini dinilai sebagai ancaman besar, jangka panjang dan global".
 
Dalam perkembangan terpisah pada Rabu (24/2/2021), polisi Turki mengatakan mereka telah menangkap 2 anggota senior ISIS di Ankara dan membebaskan seorang gadis berusia 7 tahun dari minoritas Yazidi Irak yang ditahan. Salah satu tersangka diidentifikasi sebagai mantan perwira militer Irak.

Editor : Shintaloka Pradita Sicca

Diterbitkan di Berita

detiknews Berlin - Penceramah terkenal asal Irak, Abu Walaa dijatuhi hukuman penjara 10 tahun 6 bulan penjara oleh pengadilan Jerman pada Rabu (24/2). Abu Walaa dijatuhi hukuman setelah dituduh sebagai pemimpin de facto kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Jerman.

Seperti dilansir AFP, Rabu (24/2/2021) pria berusia 37 tahun itu diadili bersama tiga pria lainnya dalam persidangan berpengamanan tinggi yang dimulai pada 2017 di kota Celle, Jerman utara.

Abu Walaa didakwa atas keanggotaannya di ISIS, sementara tiga terdakwa lainnya didakwa mendukung organisasi teroris itu.

"Putusan itu menandai akhir dari 'kasus khusus' yang sangat panjang dan sangat kompleks", kata hakim Frank Rosenow saat dia menjatuhkan putusan setelah 245 hari pemeriksaan. Tiga rekan terdakwa dijatuhi hukuman penjara mulai dari empat hingga delapan tahun karena mendukung ISIS.
Abu Walaa memiliki nama asli Ahmad Abdulaziz Abdullah Abdullah dan dituduh menjadi "perwakilan ISIS di Jerman". Ia disebut melakukan radikalisasi kaum muda di Eropa dan membawa mereka untuk berangkat ke Irak dan Suriah.Sebelumnya, jaksa menuntut hukuman penjara 11,5 tahun untuk Abu Walaa.

Namun pihak pembela menuntut pembebasannya. Abu Walaa sendiri menolak untuk membuat pernyataan penutup minggu lalu.

Tuduhan terhadap Abu Walaa didasarkan atas kesaksian seorang informan dinas keamanan Jerman. Informan itu menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan bukti. Ia dibebaskan dari kesaksian langsung di depan pengadilan guna menghindari bahaya yang mengancam dirinya.

Informan kunci lainnya adalah seorang bekas militan yang setuju bekerja sama setelah kembali ke Jerman dari wilayah yang dikuasai ISIS. Ia memberi tahu penyidik bagaimana dia telah menjadi bagian dari jaringan Abu Walaa sebelum melakukan perjalanan ke Suriah.

Pengacara Abu Walaa, Peter Krieger, bersikeras bahwa kesaksian dua informan itu tidak dapat dipercaya. Dia mengatakan kepada pengadilan bahwa saksi kunci adalah seorang "pembohong terkenal".

'Penceramah Tanpa Wajah'

Abu Walaa tiba di Jerman sebagai pencari suaka pada 2001, dan ditangkap pada November 2016 setelah penyelidikan panjang oleh Dinas Keamanan Jerman.

Berbasis di sebuah masjid di Hildesheim, Lower Saxony, dia diduga telah merekrut sedikitnya delapan orang - kebanyakan dari mereka "masih sangat muda" - ke ISIS, termasuk sepasang saudara kembar Jerman yang melakukan serangan bunuh diri di Irak di 2015.

Ia dijuluki "penceramah tanpa wajah" karena semua video ceramahnya dilakukan dengan membelakangi kamera. Abu Walaa juga dituduh menggaungkan jihad di masjid Hildesheim, yang sejak saat itu ditutup.

Teroris terkenal lainnya yang diduga terkait dengan Abu Walaa adalah Anis Amri, warga Tunisia yang menewaskan 12 orang ketika dia mengendarai truk ke pasar Natal Berlin pada tahun 2016. Amri terbunuh oleh polisi di Italia saat melarikan diri.

Abu Walaa diduga dibantu oleh satu dari tiga remaja yang dihukum karena serangan bom tahun 2016 di sebuah kuil Sikh di Essen, Jerman barat.

Meski begitu, hubungan antara Amri dan Abu Walaa masih belum terbukti. Menurut Kementerian Dalam Negeri Jerman, pasukan keamanan telah mencegah 17 serangan ISIS sejak 2009, mayoritas sejak serangkaian serangan yang berhasil pada 2016.

(izt/ita)

Diterbitkan di Berita

Muhaimin sindonews.com  DEIR EZZOR - Aksi pemenggalan kepala dan pemboman bunuh diri oleh sisa-sisa militan ISIS kembali terjadi di Deir Ezzor, Suriah , dan memicu kekhawatiran bahwa kelompok teroris itu telah bangkit lagi.

Pada 2014 lalu, sekitar 10.000 fanatik ISIS [Islamic State of Iraq and Syria] yang haus darah berkumpul di Irak utara dan Suriah untuk melepaskan jenis kekerasan yang disaksikan dunia ketika mereka mengamuk di kedua negara itu.

Belakangan ini, kekerasan ISIS meningkat di provinsi gurun Deir Ezzor—juga dikenal sebagai Deir al-Zour—dan kota dengan nama yang sama, di timur laut Suriah.

ISIS pada tahun lalu dilaporkan telah menguasai wilayah di gurun sekitar 24 km dari pusat kota Deir Ezzor—tanah pertama yang dikuasainya sejak akhir “kekhalifahan” kelompok tersebut.

Seorang peneliti Suriah bernama Ali, yang bekerja untuk organisasi non-pemerintah The Syria Observatory for Human Rights, mengatakan kepada BBC bahwa teror ISIS terjadi dalam berbagai bentuk.

”Pemenggalan kepala, pemboman, [pemboman] bunuh diri sepeda motor, pembunuhan, dan penculikan—dan kami hanya berbicara tentang area kecil di timur kota Deir al-Zour,” katanya, yang dilansir Selasa (23/2/2021).

Dalam serangan baru-baru ini, 40 orang tewas ketika sel tidur ISIS menyergap sebuah bus dan warga sipil yang jarang keluar setelah gelap ketika para “jihadis” muncul.

Dia mengatakan pada malam hari orang-orang "ketakutan" dan "di tangan" milisi ISIS ketika penduduk mulai mengungsi.

“Mereka dulu pergi ke pihak berwenang tapi tidak ada yang menanggapi. Mereka selalu bilang kami tidak punya cukup senjata untuk melawan mereka, jadi mereka mengungsi,” katanya.

ISIS pernah menguasai sebagian besar wilayah di Irak dan Suriah, direbut dalam serangan yang mengerikan pada tahun 2014, yang berpuncak pada pemimpinnya Abu Bakr al-Baghdadi mendeklarasikan “Kekhalifahan Islam” versinya sendiri di sebuah masjid di Mosul.

Para “jihadis” yang haus darah memerintah dengan sangat brutal sebelum koalisi pasukan Kurdi yang didukung oleh kekuatan udara Barat mendorong mereka ke kantong terakhir wilayah mereka di Baghouz, Suriah, pada tahun 2018.

Tetapi sejak kekalahannya, sisa-sisa kelompok ISIS perlahan-lahan bangkit lagi, meskipun al-Baghdadi tewas oleh serangan pasukan khusus Amerika Serikat.

Sirwan Barzani, seorang komandan pasukan Kurdi Peshmerga yang ditempatkan di dekat kota utara Erbil mengatakan para teroris telah memanfaatkan jeda operasi terhadap mereka.

Pasukannya memperkirakan ada sekitar 7.000 milisi ISIS yang siap menyerang—meskipun PBB menempatkan angka tersebut lebih tinggi, yaitu 10.000 milisi.

Aktivitas ISIS telah meningkat di seluruh dunia, dari Afrika hingga Filipina. Pada akhir tahun lalu, para “jihadis” ISIS memenggal kepala lebih dari 50 orang dan memotong tubuh korban dalam serangan brutal di Mozambik utara.

Serangan mereka di negara Afrika timur semakin mendekati cadangan minyak negara tersebut.

Para “jihadis” melancarkan serangan berani Desember lalu hanya 13 mil dari instalasi yang dijalankan oleh perusahaan Perancis; Total, di provinsi Cabo Delgado.

Tahun lalu, ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas pemboman yang memuakkan di Sri Lanka yang menewaskan 321 orang pada Minggu Paskah.
 
Diterbitkan di Berita