Novi Christiastuti - detikNews Washington DC - Pemimpin senior Al-Qaeda di Suriah dilaporkan tewas dalam serangan drone Amerika Serikat (AS) pada Jumat (22/10) waktu setempat. Serangan itu dilancarkan dua hari setelah salah satu pangkalan militer yang digunakan koalisi pimpinan AS di Suriah diserang.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (23/10/2021), juru bicara Komando Pusat pada militer AS, Mayor Militer Johns Rigsbee, mengidentifikasi pemimpin senior Al-Qaeda yang tewas dalam serangan drone itu sebagai Abdul Hamid al-Matar.

"Serangan udara AS hari ini di Suriah bagian barat laut menewaskan pemimpin senior Al-Qaeda, Abdul Hamid al-Matar," sebut Rigsbee dalam pernyataannya pada Jumat (22/10) waktu setempat.

Disebutkan oleh Rigsbee bahwa tidak diketahui adanya korban jiwa lainnya dalam serangan drone itu. Dia menambahkan bahwa serangan dilancarkan dengan menggunakan pesawat tak berawak atau drone militer jenis MQ-9.

"Penghilangan pemimpin senior Al-Qaeda ini akan menganggur kemampuan organisasi teroris ini untuk merencanakan lebih lanjut dan melancarkan serangan global yang mengancam warga negara AS, mitra-mitra kita dan warga sipil tidak berdosa," tegas Rigsbee dalam pernyataannya.

Pada akhir September lalu, Pentagon atau Departemen Pertahanan AS menewaskan seorang komandan senior Al-Qaeda di Suriah, Salim Abu-Ahmad, dalam serangan udara di dekat Idlib.

Disebutkan bahwa dia bertanggung jawab atas 'perencanaan, pendanaan dan menyetujui serangan lintas-kawasan Al-Qaeda'.

"Al-Qaeda terus memberikan ancaman bagi Amerika dan sekutu-sekutu kita. Al-Qaeda menggunakan Suriah sebagai persembunyian aman untuk membangun kembali, berkoordinasi dengan afiliasi eksternal dan merencanakan operasi eksternal," sebut Rigsbee.

Serangan drone yang menewaskan pemimpin senior Al-Qaeda ini terjadi dua hari setelah pangkalan militer di Suriah bagian selatan, yang digunakan koalisi pimpinan AS dalam melawan militan radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), diserang.

Rigsbee tidak menyebut lebih lanjut apakah serangan drone AS ini merupakan balasan dari serangan itu.

(nvc/idh)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Uang kripto kini menjadi sumber kekayaan baru. Data The Forbes 400 menunjukkan ada 7 orang yang masuk ke dalam daftar orang terkaya Amerika Serikat karena uang kripto.

Salah satu orang kaya tersebut tersebut merupakan si kembar Cameron dan Tyler Winklevoss. Kekayaan tujuh orang tersebut mencapai US$55,1 miliar atau setara dengan Rp786,2 triliun (dengan asumsi kurs Rp14.268).

Hampir dari setengah total kekayaan tersebut yakni US$22,5 miliar dimiliki oleh satu orang, yakni CEO platform pertukaran derivatif crypto FTX Sam Bankman-Fried.

Dalam dua tahun, Bankman-Fried membangun salah satu platform perdagangan terbesar di industri dengan perputaran uang sebesar US$13,8 miliar per hari.

Sebagai bukti keberhasilannya sendiri, pada Juli, FTX menutup penggalangan dana Seri B senilai US$900 juta, putaran modal ventura terbesar crypto hingga saat ini, dengan penilaian US$18 miliar.

Orang kaya baru lainnya termasuk CEO Coinbase Brian Armstrong, yang memulai debutnya di pasar publik pada April dengan IPO terbesar dalam sejarah yakni US$86 miliar.

Tak hanya itu, si kembar Cameron dan Tyler Winklevoss, pemilik pesaing Coinbase Gemini, co-founder Coinbase Fred Ehrsam, dan Jed McCaleb, salah satu pendiri Ripple pun masuk ke dalam jajaran orang kaya baru yang berasal dari kripto.

Selain itu, Chris Larsen, salah satu pendiri Ripple lainnya masuk ke dalam jajaran orang kaya karena uang kripto. Tahun lalu kekayaan bersih dia mencapai US$2,7 miliar. Hari ini, kekayaannya diperkirakan mencapai US$6 miliar.

Peningkatan jumlah miliarder kripto sebagian besar merupakan hal baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain itu, mata uang digital telah memecahkan rekor harga baru di seluruh papan. Sejak rilis daftar tahun lalu pada September 2020, harga Bitcoin telah melonjak dari US$10.128 menjadi US$50.078.

Sementara itu, cryptocurrency terbesar kedua, Ether telah meningkat hampir 1.000 persen, dan total kapitalisasi pasar crypto melampaui US$1 triliun untuk pertama kalinya untuk memuncak pada US$2,4 triliun pada Mei.

Sejumlah startup termasuk Ripple, Kraken, Circle, BlockFi, dan eToro mengumumkan atau mengisyaratkan rencana go public.

Berikut daftar orang kaya karena kripto

1. Sam Bankman-Fried (pendatang baru) kekayaan US$22,5 miliar.
2. Brian Armstrong (pendatang baru) kekayaan US$11,5 miliar
3. Chris Larsen (kekayaan sebelumnya US$2,7 miliar) kekayaan sekarang US$6 miliar
4. Cameron Winklevoss dan Tyler Winklevoss (pendatang baru) US$4,3 miliar
5. Fred Ehrsam (pendatang baru) US$3,5 miliar
6. Jed McCaleb (pendatang baru) US$3 miliar

(age/bir)

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Angkatan udara Indonesia dan Amerika Serikat akan melakukan latihan bersama untuk meningkatkan keterampilan dalam tanggap bencana dan pemberian bantuan kemanusiaan.

Latihan Pacific Airlift Rally (PAR) 2021 yang diikuti oleh para penerbang Pacific Air Forces Amerika Serikat dan personel TNI AU Indonesia itu akan berlangsung di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 6-10 September 2021, demikian menurut keterangan tertulis Kedutaan Besar AS di Jakarta, Sabtu.

Sekitar 47 penerbang dan satu unit C-130J Super Hercules dari 36th Airlift Squadron, 374th Airlift Wing, yang berbasis di pangkalan udara Yokota, Jepang, beserta 37 personel dan satu unit C-130H Hercules dari TNI AU akan mengikuti latihan pos komando, latihan lapangan, dan pertukaran ahli.

"PAR merupakan kesempatan unik untuk mendorong kerja sama militer regional dan meningkatkan interoperabilitas penerbangan, saat kita berlatih bersama untuk mengantisipasi upaya bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana di masa depan," kata Komandan 36th Airlift Squadron Let. Kol. Steven M. Massie II.

"Melalui pelatihan itu, angkatan udara kedua negara bisa berbagi teknik dan keterampilan, tapi lebih utama lagi, membangun hubungan dengan sekutu-sekutu regional yang akan meningkatkan kemampuan kita dalam merespons bencana dan menyelamatkan nyawa," ujarnya.

PAR21 akan menjadi pengulangan latihan pertama sejak pandemi COVID-19. Langkah-langkah mitigasi yang ekstensif, disertai koordinasi dengan tenaga medis militer dan kesehatan masyarakat, akan diupayakan untuk meningkatkan keselamatan, kesejahteraan para peserta dari AS maupun Indonesia

Pewarta: Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

 

Diterbitkan di Berita

AS Gunakan Pfizer Sebagai Booster Vaksin

Sabtu, 04 September 2021 09:41

KBRN, Jakarta: Vaksin dosis jenis Pfizer rencanya akan menjadi vaksin booster atau vaksin ketiga untuk masyarakat di Amerka Serikat. 

Hal tersebut diungkapkan melalui seorang sumber yang mengetahui tentang pembahasan mengenai rencana pemberian booster vaksin pada Jumat (3/9/2021) kemarin.

Merangkum dari Reuters, Sabtu (4/9/2021) diketahui jika dalam pembahasan tersebut juga membahas tentang vaksin jenis Moderna, yang nantinya juga diajukan sebagai booster tapi ditemukan tidak memadai.

Sementara, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) juga membutuhkan data yang lebih kuat dari perusahaan. Sehingga pelaksanaan vaksin booster tersebut dapat dilakukan mungkin beberapa minggu di belakang Pfizer/BioNTech.

Sebelumnya, pejabat kesehatan AS telah mengatakan bahwa booster atau dosis ketiga vaksin Covid-19 akan tersedia secara luas pada 20 September untuk orang Amerika yang menerima dua dosis vaksin Pfizer/BioNTech atau Moderna setidaknya delapan bulan sebelumnya.

Biden pun sempat mengatakan bahwa pemerintah mengharapkan untuk memberikan 100 juta suntikan booster secara gratis di sekitar 80 ribu lokasi di seluruh AS.

Namun, rencana ini sempat menimbulkan perdebatan karena Gedung Putih disebut melangkahi FDA dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dalam membuat keputusan berbasis sains semacam ini.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Komandan Divisi Lintas Udara ke-82, Mayor Jenderal Chris Donahue, menjadi jenderal Amerika Serikat yang terakhir angkat kaki dari Afghanistan.

Donahue meninggalkan Bandara Internasional Hamid Karzai Kabul pada Senin (30/8) malam waktu setempat. Sebelumnya, Kementerian Pertahanan mengunggah foto Chris Donahue, saat akan menaiki pesawat militer C-17 meninggalkan Kabul.

Foto itu menunjukkan Donahue tengah berjalan menuju pesawat militer terakhir AS di Afghanistan. Ia terlihat memakai seragam dinas lapangan militer AS sembari membawa senjata dan dilengkapi helm.

Jenderal tertinggi komando pusat AS, Kenneth "Frank" McKenzie, mengatakan Donahue dan Kuasa Usaha Diplomat tinggi di Kabul, Ross Wilson, menjadi dua pejabat terakhir yang naik ke pesawat militer AS meninggalkan Afghanistan.

"Di pesawat terakhir yang keluar adalah Jenderal Chris Donahue, komandan divisi lintas udara ke-82 dan komandan pasukan besar saya di sana, dan dia ditemani oleh Duta Besar kami Ross Wilson, jadi mereka keluar bersama-sama," kata McKenzie, seperti dikutip CNN, Selasa (31/8).

Mc Kenzie melanjutkan, "Tim negara dan pertahanan keluar di pesawat terakhir dan sebenarnya orang terakhir yang menginjak tanah, naik ke pesawat." Dalam tradisi militer, perwira dengan pangkat tertinggi terakhir meninggalkan medan laga: "The Last Man Departing."

Penarikan terakhir pasukan AS dari bandara Kabul selesai pada Senin (30/8) malam. Pesawat militer AS terakhir lepas landas satu menit sebelum tengah malam waktu setempat dari Kabul. Keberangkatan itu juga menjadi tanda AS dan sekutunya tak lagi memiliki pasukan di Afghanistan.

Diterbitkan di Berita

Washington (ANTARA) - Pemerintahan Biden mengharapkan beberapa warga Afghanistan yang memenuhi syarat untuk visa khusus tidak akan dilarang pergi ke bandara Kabul untuk mengungsi dalam beberapa hari mendatang, bahkan ketika Taliban meminta Amerika Serikat (AS) untuk berhenti membantu mereka pergi, kata sekretaris pers Jen Psaki pada Selasa (24/8). 

Seorang juru bicara Taliban mengatakan pada Selasa bahwa kelompok itu ingin AS berhenti mendorong warga Afghanistan untuk pergi dan negara-negara asing berhenti membawa para ahli Afghanistan keluar dari Afghanistan.

"Kami meminta orang-orang Amerika untuk mengubah kebijakan Anda dan tolong jangan mendorong warga Afghanistan untuk pergi. ... Jangan bawa mereka ke luar negeri," kata juru bicara itu, menurut terjemahan BBC.

Gedung Putih mengatakan pemerintahan Biden mengharapkan warga Afghanistan yang memenuhi syarat untuk visa AS masih akan diizinkan meninggalkan negara itu.

"Orang-orang yang kami prioritaskan ... yang memenuhi syarat untuk visa imigran khusus ... harapan kami adalah mereka akan dapat mencapai bandara," kata Psaki.

Pemerintah AS sedang mengevakuasi ribuan orang dari Afghanistan, termasuk warga Afghanistan yang membantu mereka di sana.

Sumber: Reuters

Editor: Anton Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

Proses evakuasi dilakukan selama 24 jam dengan jumlah penerbangan sebanyak 61 kali. Penerbangan dilakukan bagi masyarakat yang ingin melarikan diri dari serangan Taliban.

"Sebanyak 61 penerbangan militer, komersial dan charter yang melibatkan sejumlah negara, terbang keluar dari Bandara Internasional Hamid Karzai dalam 24 jam," kata Jenderal Hank Taylor dikutip melali AFP, Selasa(24/8/2021).

Taylor juga mengatakan, dari jumlah yang dievakuasi diantara 11 ribu orang dibawa keluar melalui operasi pengangkutan udara militer AS. Bahkan, sebanyak 37 ribu di antaranya dalam operasi pengangkutan udara telah dimulai pada 14 Agustus 2021 lalu ketika Taliban merebut Kabul.

"Jumlah itu termasuk beberapa ribu warga negara AS, dan ribuan warga Afghanistan yang bekerja untuk pasukan AS. Mereka telah mengajukan atau menerima visa imigran khusus, serta warga Afghanistan yang dianggap berisiko terhadap serangan Taliban karena pekerjaan mereka di organisasi non-pemerintah, media, dan pekerjaan lainnya," jelasnya. 

Selain itu, Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan pihaknya tetap fokus menyelesaikan operasi evakuasi AS hingga tenggat waktu 31 Agustus yang telah ditetapkan Presiden Joe Biden untuk menyelesaikan penarikan AS dari Afghanistan.

"Pihak kami akan menarik 5.800 tentara AS yang pada dasarnya menjalankan operasi bandara dan menjaga keamanan sejak 14 Agustus, serta sejumlah besar peralatan yang dibawa untuk mendukung misi mereka," kata John Kirby.

Sementara diketahui jika pada Selasa ini para pemimpin kelompok negara-negara G7 akan bertemu secara virtual di Afghanistan.

Inggris saat ini memimpin G7, yang juga terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Diterbitkan di Berita

TEMPO.COJakarta - Amerika Serikat pada Selasa, 17 Agustus 2021, melaporkan ada lebih dari seribu kematian akibat Covid-19 atau sekitar 42 kematian per satu jam.

Tingginya pasien Covid-19 yang meninggal di Negeri Abang Sam dipicu oleh varian Delta Covid-19 dan masih rendahnya jumlah warga yang diimunisasi vaksin virus corona.

Dalam sebulan terakhir, kematian akibat Covid-19 di Amerika Serikat mengalami kenaikan atau rata-rata 769 per hari. Angka itu tertinggi sejak pertengahan April 2021 berdasarkan perhitungan Reuters.

 

Seorang perempuan berjalan sambil mengenakan masker di sekitar Wall Street di New York, Amerika Serikat. Reuters

 

Pada Selasa, 17 Agustus 2021, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengkonfirmasi akan memperpanjang aturan menggunakan masker sampai pertengahan Januari 2022 bagi mereka berada di transportasi umum seperti di pesawat terbang, kereta, bus, bandara dan stasiun kereta.

Seperti banyak negara lain di dunia, varian Delta Covid-19 telah menjadi sebuah tantangan besar. Berdasarkan perhitungan Reuters merujuk pada data yang ada, pada Selasa, 17 Agustus 2021 ada 1.017 kematian akibat Covid-19.

Dengan begitu pasien virus corona yang meninggal di Amerika Serikat sudah sebanyak 623 ribu orang atau tertinggi di dunia. Amerika Serikat mencatatkan angka harian kematian akibat Covid-19 tembus sampai seribu orang adalah pada Maret 2021 lalu.

Otoritas Amerika Serikat sudah mulai menyusun rencana percepatan imunisasi vaksin virus corona untuk menghadapi ancaman baru.

Angka yang dipublikasi oleh Our World in Data dalam dua pekan terakhir memperlihatkan rata-rata dalam tujuh hari ada kenaikan 14 persen dari jumlah dosis vaksin virus corona yang disuntikkan ke masyarakat.

Beberapa pemerintah negara bagian dan sektor bisnis menawarkan insentif kepada mereka yang mau suntik vaksin virus corona, seperti pemberian uang tunai dan hadiah lainnya.

Kenaikan kasus virus corona, juga telah menyebabkan sejumlah perusahaan dan negara bagian di Amerika Serikat mewajibkan suntik vaksin virus corona kepada para pegawainya jika mereka tak mau dipecat dan tidak mau melakukan tes virus corona secara berkala.

Sumber: Reuters

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Proses evakuasi staf diplomatik Amerika Serikat dari Ibu Kota Kabul, Afghanistan, pada Minggu (15/8/2021) berlangsung dramatis dan mirip dengan kejadian di Saigon, Vietnam ketika kota itu direbut oleh milisi komunis pada 1975 silam.

Dalam proses evakuasi itu, helikopter Boeing CH-47 Chinook dan Sikorsy UH-60 Blackhawk milik militer Amerika Serikat sempat singgah di atap gedung Kedutaan Besar AS di Kabul.

Akibat pemandangan itu, memori evakuasi di Saigon 46 tahun silam sempat mengemuka dalam wawancara antara Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dengan stasiun televisi ABC.

"Mari kita mundur sejenak. Ini jelas bukan Saigon," kata Blinken, seperti dikutip Reuters.

Peristiwa jatuhnya Saigon ke tangan Tentara Rakyat Vietnam terjadi pada 30 April 1975. Ketika itu Saigon adalah ibu kota Republik Vietnam atau Vietnam Selatan.

Saat Saigon dikepung, militer AS mengevakuasi sejumlah warga asing dan warga serta staf diplomatik mereka menggunakan helikopter melalui atap gedung kedutaan besar.

Hal itu juga menandai berakhirnya Perang Vietnam antara AS dengan kelompok komunis, dan awal dari reunifikasi dan pembentukan Republik Sosialis Vietnam.

AS mengerahkan sekitar 6.000 pasukan ke Kabul untuk membantu proses evakuasi staf diplomatik dan peralatan dari kota itu. Kedubes AS di Kabul juga sudah ditutup dan bendera yang berkibar juga diturunkan.

Sejumlah negara lain juga memulangkan staf diplomatik mereka dari Afghanistan.

Saat ini Bandara Internasional Kabul sangat sibuk karena sejumlah negara bergegas memulangkan staf diplomatik mereka. Selain itu, para penduduk Afghanistan yang akan mengungsi juga memadati bandara menunggu penerbangan supaya mereka bisa segera keluar dari negara itu.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyatakan saat ini mereka memperketat pengamanan di sekitar bandara. Mereka juga sementara mengutamakan penerbangan pesawat militer ketimbang sipil.

Gerilyawan Taliban saat ini menduduki ibu kota Kabul dan juga istana kepresidenan.

Saat ini utusan pemerintah Afghanistan dilaporkan tengah berunding dengan perwakilan Taliban di Qatar. Akan tetapi, Taliban dilaporkan minta pengalihan kekuasaan dari pemerintah secara menyeluruh dan menolak gagasan pemerintahan transisi.

Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, dan sejumlah pejabat kabur ke luar negeri. Melalui unggahan di media sosial Facebook, Ghani menyatakan alasan dia meninggalkan negaranya demi menghindari pertumpahan darah.

 

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia David Purnomo (14), warga keturunan Indonesia di Seattle, Amerika Serikat, akan mulai perguruan tinggi mulai September ini. David katakan sudah terbiasa menjadi murid termuda di kelas.

"Saya belum tentukan jurusan, tapi saya rencananya ambil neuroscience (ilmu saraf)," kata David kepada VOA.

David terpilih masuk kuliah di University of Washington (UW) di kota Seattle, Amerika Serikat lewat program Early Entrance UW Academy lewat Robinson Center of Young Scholars.

 

David sewaktu terima surat diterima masuk kuliah di University of Washington.
David sewaktu terima surat diterima masuk kuliah di University of Washington.

 

Di usia 14 tahun, David akan menjadi seorang freshman (mahasiswa baru/mahasiswa tahun pertama). Sementara rata-rata usia freshman di AS adalah 18 tahun.

"Tentunya ini jadi tantangan, tapi saya rasa saya siap," kata David.

"Sangat menarik bisa lihat hal-hal baru yang bisa saya pelajari, dan kuliah lebih interaktif dibandingkan SMA."

Sudah Biasa Jadi Murid Termuda

David katakan sudah terbiasa punya teman-teman sekelas yang lebih tua darinya.

"Saya pernah lompat kelas dan mulai sekolah dasar lebih awal, jadi saya selalu jadi salah satu yang termuda di kelas," jelas David.

"Saya sudah biasa dan bisa berteman dengan teman-teman sekelas, jadi saya rasa (kuliah dengan mahasiswa yang lebih tua) nggak bakal jadi masalah besar," tambahnya.​

 

David masuk SMA di usia 12 tahun dan "sudah terbiasa" jadi murid termuda di kelas.
David masuk SMA di usia 12 tahun dan "sudah terbiasa" jadi murid termuda di kelas.

 

Kemampuan akademis putra dari Li Li Novita Purnomo dan Hadi Waskito Purnomo yang berasal dari Surabaya ini sudah terlihat dari kecil, menurut sang ibu.

"(Dari kecil) dia itu ada kayak kemauan sendiri untuk bisa cepat baca, bisa cepat tulis. Kita nggak push sama sekali," kata Li Li kepada VOA.

Li Li juga bercerita David dapat tawaran untuk loncat ke kelas 4 SD saat duduk di kelas 2 SD, bahkan sempat ditanya apakah ingin lompat kelas lagi.

 

David sudah ikut dan memenangkan sejumlah kompetisi sejak duduk di kelas 5 SD, termasuk kompetisi geografi.
David sudah ikut dan memenangkan sejumlah kompetisi sejak duduk di kelas 5 SD, termasuk kompetisi geografi.

 

"Tapi saya sama suami mikir, ini anak memang academically advanced, tapi saya pikir ini mungkin tidak baik untuk interaksi sosialnya," kata Lili.

"Waktu itu ya mungkin umur 7 tahun atau lebih muda, jadi kita bilang, 'Nggak deh, tetap di kelas itu saja.'"

 

Hadi Purnomo (ayah), Mitchell Purnomo (adik), Li Li Purnomo (ibu), dan David saat Natal 2020.
Hadi Purnomo (ayah), Mitchell Purnomo (adik), Li Li Purnomo (ibu), dan David saat Natal 2020.

 

Li Li juga katakan David mulai SMA di usia 12 tahun. Sementara usia rata-rata murid yang baru masuk SMA di Amerika Serikat adalah 14 tahun, menurut organisasi USA Hello.

Badminton 'Hilangkan Stres'

David, yang aktif ikut kontes spelling bee (mengeja) dan geo bee (geografi) dari kelas 5 SD, juga sibuk mengambil kelas mata kuliah selama musim panas.

Bahkan sebelum kelas 10, David sudah ambil 2 kelas kuliah dari University of Washington dan satu dari Johns Hopkins University.

 

David saat mengikuti turnamen matematika pada tahun 2018.
David saat mengikuti turnamen matematika pada tahun 2018.

 

"Tentunya ada tekanan, dan tentunya selama ini saya sibuk," kata David. "Tapi ekspektasi ini hal baik, jadi mendorong saya untuk menjadi yang terbaik."

Badminton jadi salah satu cara David hilangkan stres. Ia biasanya habiskan waktu 5 jam di lapangan dan juga mengikuti berbagai turnamen.

"Walaupun saya main badminton lama setiap harinya, itu tetap seru buat saya. Jadi cara yang baik buat istirahat dari stres kehidupan akademik saya."

 

David mengaku lepaskan "stres kehidupan akademik" dengan berlatih badminton.
David mengaku lepaskan "stres kehidupan akademik" dengan berlatih badminton.

 

David mengaku harus mengurangi kegiatan badmintonnya begitu masuk kuliah, tapi tetap akan terus latihan.

Program 'Kuliah Lebih Awal' University of Washington

Program UW Academy di University of Washington – yang dibentuk tahun 2001 – memungkinkan murid-murid berbakat yang di duduk di kelas 10 untuk langsung masuk kuliah tanpa perlu menyelesaikan jenjang SMA.

Tahun ini, pendaftar harus menyertakan rapor sekolah, surat rekomendasi guru, dan dua esai. Dari sekitar 100 murid yang mendaftarkan diri tahun ini, hanya 40 yang terpilih – David salah satunya.

 

David di depan gedung Robinson Center for Young Scholars di University of Washington.
David di depan gedung Robinson Center for Young Scholars di University of Washington.

 

"Yang kami cari adalah murid yang menunjukkan catatan akademik yang kuat," kata Kathryn Grubbs, Interim Director untuk EEP Academy Program di University of Washington.

"Kami juga melihat aktivitas dan pencapaian para murid. Jadi kami bisa dapat gambaran siapa David di luar kelas dan apa saja yang menarik minat dia," lanjut Grubbs.

"Secara keseluruhan, dia tentunya menonjol sebagai seorang yang tidak hanya siap kuliah, tapi juga bisa memanfaatkan kesempatan sepenuhnya menjadi mahasiswa."

 

Menurut sang ibu, David mencoba beragam olah raga saat tumbuh besar – badminton pun menjadi favoritnya.
Menurut sang ibu, David mencoba beragam olah raga saat tumbuh besar – badminton pun menjadi favoritnya.

 

Meski ikut program 'kuliah lebih awal,' David akan belajar bersama mahasiswa kuliah lainnya yang usianya rata-rata 18 hingga 24 tahun.

Pihak UW Academy dan Robinson Center for Young Scholars katakan berikan dukungan dan bimbingan baik dari segi akademik dan emosi.

"Kami tidak mendorong para pelajar untuk (selesai kuliah) secepat mungkin," kata Janice DeCosmo, Interim Director untuk Robinson Center.

"Kami menawarkan kesempatan bagi mereka yang memang memerlukan (program akselerasi) dalam perjalanan akademik mereka."

Cita-Cita dan Panutan David

Salah satu hal yang paling David tunggu-tunggu dari kuliah adalah kesempatan ikut riset di University of Washington.

 

David bahkan sempat berencana selesaikan kuliah kurang dari 4 tahun, kata ibunya.
David bahkan sempat berencana selesaikan kuliah kurang dari 4 tahun, kata ibunya.

 

"Impian saya menjadi neuroscientist (ahli saraf)," ujar David. "Both bantu pasien dan ikut riset seputar otak, dan cari tahu apa yang belum kita ketahui tentang otak sejauh ini."

David juga katakan panutannya adalah kedua orang tuanya.

"Saya pikir hebat banget mereka datang dari Indonesia dengan nggak punya apa-apa, dan mereka bisa membangun kehidupan baru di sini, buat saya sama adik saya."

 

David bersama kedua orang tuanya dan adiknya, Mitchell.
David bersama kedua orang tuanya dan adiknya, Mitchell.

 

Meski menunggu-nunggu kuliah, David juga mengaku 'gelisah bisa burn out (terlalu capek)'.

Li Li berpesan kepada David untuk menikmati masa kuliahnya dan untuk selalu jaga kesehatan. Ia juga punya pesan untuk orang tua lainnya.

"Kalau kelihatan anaknya memang ada talent, nggak perlu didorong. Anaknya cuman diberi pengertian," kata Li Li. "Biarkan anaknya itu jalan sendiri, biar dia happy juga, enjoy the childhood." [np/dw]

Diterbitkan di Berita