VOA Indonesia

Menurut organisasi nirlaba Feeding America, satu dari enam warga AS tidak punya akses ke makanan yang sehat dan aman. Salah satu bank makanan di sekitar Washington DC berusaha mengubahnya.

Akhir-akhir ini di Amerika, orang-orang mengantre untuk mengambil makanan gratis, karena banyak yang kehilangan pekerjaan. "Saya baru mulai datang sejak 3 atau 4 bulan lalu," kata seorang warga. "Saya datang kesini selama lebih dari 5 tahun."

Tak jauh dari Washington DC, Masjid Dar al-Hijra membagikan makanan gratis kepada mereka yang membutuhkan. Ada yang baru datang pertama kalinya, tapi banyak juga yang datang bertahun-tahun.

Makanan yang dibagikan termasuk ayam halal serta sayur mayur seperti bawang, tomat dan kentang. "Setiap Kamis, ada lebih dari 100 keluarga yang masuk dalam daftar kami," kata Nabila Om Salam, relawan Masjid Dar al-Hijra.

Kelaparan di Amerika bukan hal baru. Tapi keadaannya semakin buruk karena pandemi virus corona menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan.

Lembaga amal Feeding America memperkirakan 1 dari 6 warga Amerika terancam kelaparan karena pandemi.

Bank pangan di seluruh Amerika kebanjiran permintaan karena semakin banyak warga menganggur. "Orang mengira 'oh, kamu di Amerika tidak ada yang kelaparan.' Tapi Anda akan terkejut karena banyak yang kelaparan.

Mereka tak tahu apakah harus menyimpan uang untuk makan atau membayar sewa rumah. Mereka bayar sewa terlebih dulu," kata Janine Ali, Volunteer, relawan di Masjid Dar Al Hijrah lainnya.

Ratusan pusat ibadah di Amerika, seperti Dar Al Hijrah, menjadi bank pangan setiap minggu. Di sini, makanan dari bank pangan yang lebih besar dibagikan kepada yang membutuhkan. Feeding America, jaringan pangan terbesar, mengelola sekitar 200 bank pangan di seluruh Amerika.

Organisasi non-pemerintah ini mengumpulkan dan membagikan berton-ton makanan setiap tahun, dibantu oleh para relawan.

Naeem Baig dari Dar Al Hijrah datang ke Amerika dari Pakistan lebih dari 30 tahun lalu. Dia mengatakan kemiskinan di Amerika memang berbeda, tapi penderitaan yang dialami warga miskin sama saja.

Imam Naeem Baig dari Masjid Dar Al Hijrah mengatakan, "Definisi kemiskinan atau orang miskin di Pakistan, India atau negara lain itu kalau Anda tak punya sepatu atau bajunya robek. Tapi di AS, orang miskin datang naik mobil. Mobil bukan kemewahan di sini, tapi kebutuhan."

Relawan dan staf mengatakan kebanyakan warga yang minta bantuan, kurang berpendidikan dan kurang cakap berbahasa Inggris, sehingga tak punya pekerjaan yang bagus.

Ditambah pandemi COVID-19 yang memperbesar kesenjangan antara kaya dan miskin di negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini. [vm/jm]

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Serangan di kompleks Gedung Capitol AS, Washington DC, mengakibatkan satu petugas polisi tewas dan satu lainnya terluka parah.

Sebuah mobil menghantam penghalang keamanan sebelum pengemudinya menerjang ke arah petugas yang berjaga dengan pisau, menurut keterangan polisi. Petugas melepaskan tembakan dan tersangka ditembak mati.

Aparat mengatakan serangan tersebut, yang terjadi tiga bulan setelah kerusuhan di tempat yang sama pada Januari lalu, tampak tidak berkaitan dengan terorisme.

"Apakah serangan ini ditujukan pada penegak hukum, atau siapapun, kami bertanggung jawab untuk mencari penjelasan atas kejadian ini dan kami akan melakukannya," kata Robert Contee, pelaksana kepala Departemen Kepolisian Metropolitan Washington DC, dalam jumpa pers.

Pelaksana Kepala Kepolisian Capitol Yogananda Pittman berkata "dengan berat hati saya mengumumkan bahwa salah satu petugas kami telah meninggal karena luka yang dideritanya."

Dalam pernyataan berikutnya, dia menyebut nama petugas yang meninggal adalah William "Billy" Evans, yang telah menjadi anggota kepolisian Capitol selama 18 tahun dan merupakan bagian dari unit tanggap darurat departemen tersebut.

"Mohon doanya untuk Evans dan keluarga," ujarnya.

Produser CNN Kristin Wilson mengatakan petugas polisi tersebut adalah "orang yang sangat baik".

 

William "Billy" Evans

Petugas polisi yang tewas dalam serangan di kompleks Gedung Capitol bernama William "Billy" Evans US CAPITOL POLICE

 

Dua aparat penegak hukum yang terlibat dalam penyelidikan memberi tahu mitra BBC, CBS News, bahwa terduga pelaku serangan adalah Noah Green, laki-laki berusia 25 tahun dari Indiana.

Mereka berkata tidak ada informasi tentang dirinya yang ditemukan dalam basis data polisi di manapun.

Dalam tulisan yang diunggah pada bulan Maret di sebuah laman Facebook yang kini sudah dihapus, Green berkata dia baru keluar dari pekerjaannya, "sebagian karena penyakit, tetapi utamanya, untuk mencari perjalanan spiritual".

Dia menambahkan bahwa selama ini dia tanpa sadar menderita "efek samping dari obat yang aku konsumsi". Green juga menulis panjang lebar tentang ketertarikannya pada organisasi nasionalis-religius kulit hitam, Nation of Islam.

Seorang juru bicara Facebook mengonfirmasi kepada BBC bahwa laman tersebut memang milik Green.

"Setelah kejadian mengerikan ini, kami mengirimkan doa dan simpati kepada Kepolisian Capitol dan orang-orang terkasih mereka," kata Facebook dalam sebuah pernyataan. "Kami menganggap insiden ini berada di bawah kebijakan Individu dan Organisasi Berbahaya kami, yang berarti kami telah menghapus akun tersangka dari Facebook dan Instagram, dan menghapus konten apapun yang memuji, mendukung, atau merepresentasikan serangan tersebut atau pelakunya. Kami berkontak dengan aparat penegak hukum setelah mereka melakukan penyelidikan."

Pengamanan diperketat di sekitar Gedung Capitol, tempat Kongres AS bekerja.

Kongres saat ini sedang dalam masa reses, yang berarti sebagian besar politikus tidak berada di kompleks Capitol ketika serangan terjadi.

 

Apa yang kita ketahui tentang serangan ini?

Sekitar pukul 13:00 waktu setempat (Sabtu 00:00 WIB), sistem peringatan Kepolisian Capitol mengirim email kepada penegak hukum dan para staf yang memerintahkan mereka untuk menjauh dari jendela dan pintu yang menghadap ke luar karena ada ancaman.

Mereka yang di luar diminta untuk mencari perlindungan.

Pada waktu itu, seorang pria yang mengendarai sedan berwarna biru menabrakkan mobil tersebut ke dua petugas yang berjaga di Barikade Utara, menurut keterangan polisi.

Pria itu lalu keluar dari mobil dan berlari ke arah petugas - setidaknya satu dari mereka mengeluarkan senjata dan menembak terduga pelaku. Para petugas kemudian dibawa ke rumah sakit, satu dengan ambulans dan satu lagi dengan mobil polisi.

 

72 Officials investigate the scene after a vehicle rammed a barricade outside the US Capitol in Washington, DC, USA, 02 April 2021.

Rekaman peristiwa menunjukkan helikopter terbang di atas lokasi dan pemandangan dua orang di atas tandu dipindahkan ke dalam ambulans. EPA

 

Warga yang menonton diminta untuk meninggalkan lokasi.

Polisi berkata terduga pelaku meninggal karena luka-lukanya pada pukul 13:30 waktu setempat. Kepala polisi Contee mengatakan kepada wartawan bahwa terduga tampaknya beraksi sendirian.

Kantor FBI di Washington mengatakan mereka membantu Kepolisian Capitol melakukan penyelidikan.

 

Serangan kedua dalam kurang dari tiga bulan

Analisis Samantha Granville, wartawan BBC di Gedung Capitol AS

Gedung Capitol berada dalam kondisi menegangkan dalam tiga bulan terakhir ini. Sejak kerusuhan pada 6 Januari, kompleks ini bagaikan benteng dengan kawat berduri, pagar besi, dan pengamanan ketat.

Tetapi hanya beberapa minggu kemudian, kami kembali di sini dengan jalan yang ditutup, tambahan pasukan, dan perasaan khidmat.

Kongres sedang reses hari ini dan para staf yang saya ajak bicara, bersyukur bisa pulang sekaligus gelisah tentang kembali bekerja setelah liburan Paskah.

Mereka bilang, sungguh menakutkan bila tempat kerja Anda diserang dua kali dalam rentang waktu yang pendek.

Mereka khawatir dengan fakta bahwa bahkan dengan pengamanan yang sangat ketat, peristiwa yang berujung pada kematian seorang petugas ini masih terjadi.

 

Bagaimana reaksi terhadap serangan ini?

Presiden AS Joe Biden berkata "hati saya hancur mendengar tentang serangan ini".

Dia menyampaikan "belasungkawa yang tulus kepada keluarga Petugas Evans, dan semua orang berduka atas kehilangannya", dan mengatakan bahwa dia telah memerintahkan bendera di Gedung Putih diturunkan setengah tiang.

Ketua Dewan Demokrat Nancy Pelosi mengatakan "hati Amerika telah hancur" dan menyebut Evans "martir bagi demokrasi kita".

 

National Guard members stand guard streets surrounding the U.S. Capitol and congressional office buildings following a security threat at the U.S. Capitol in Washington, U.S., April 2, 2021.

Pemimpin mayoritas partai Demokrat di Senat, Chuck Schumer, berkata dia "sedih atas kematian petugas polisi" dan "berutang budi kepada Kepolisian Capitol". REUTERS

 

Pemimpin minoritas partai Republik di Senat, Mitch McConnel, menulis bahwa dia "berdoa" bagi mereka yang diserang.

Diterbitkan di Berita

Mengutip Reuters, Selasa (23/3/2021), seorang tersangka yang terluka dalam insiden tersebut berhasil diamankan.

Hanya sedikit informasi yang diberikan oleh pihak kepolisian. Adapun motif penembakan belum diketahui.

Peristiwa itu terjadi di toko grosir King Soopers sekira pukul 15.00 waktu setempat. Toko tersebut berada di Table Mesa di Boulder, sebuah kota di kaki Gunung Rocky sebelah timur, yang berjarak sekira 45 km barat laut dari Denver.

Insiden berdarah itu menandai penembakan massal mematikan yang kedua di AS dalam sepekan. Pada Senin pekan lalu (15/3/2021), kekerasan senjata menelan delapan korban jiwa, termasuk enam perempuan Asia, di tiga lokasi di Atlanta dan sekitarnya. Seorang pria berusia 21 tahun didakwa atas pembunuhan tersebut.

Kepala Kepolisian Boulder, Maris Herold, menyebutkan bahwa, 10 orang tewas dalam serangan di toko King Soopers.

Herold merupakan petugas yang lebih dulu tiba di lokasi penembakan, 3.2 kilometer dari kampus utama Universitas Colorado, juga tewas dalam kejadian tersebut.

Polisi mengungkapkan bahwa, seorang tersangka bersenjata yang berhasil dibekuk, diyakini menjadi korban luka serius satu-satunya yang selamat dalam insiden maut itu.

Rekaman video dari adegan yang sebelumnya ditayangkan oleh berbagai stasiun TV menunjukkan seorang pria berjanggut, dan menggunakan celana pendek, digiring keluar dari toko tersebut dalam keadaan diborgol. Ia kemudian direbahkan ke tandu dan dimasukkan ke dalam ambulans. (Buy)

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Jakarta - Kampanye vaksinasi COVID-19 di Amerika terus melaju. Dikutip dari kantor berita Al Jazeera, angka vaksinasi COVID-19 di Amerika sudah mencapai 101 juta orang per Sabtu kemarin. Walau begitu, Amerika belum puas akan hasilnya dan berniat untuk menggenjot lagi kampanye vaksinasi COVID-19 mereka.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika, CDC, menyatakan bahwa angka 101 juta tersebut menggabungkan antara mereka yang sudah dan yang belum divaksin penuh. Jika dispesifikkan ke mereka yang sudah divaksin penuh (dua kali menerima dosis), CDC menyatakan baru 35 juta orang di kategori tersebut.

"Jadi, kurang lebih hanya 10,5 persen dari populasi Amerika yang bisa dikatakan sudah tervaksinasi penuh," ujar CDC dalam pernyataan persnya, Sabtu, 13 Maret 2021

Di antara beberapa negara yang sudah melakukan vaksinasi COVID-19, Amerika memang salah satu yang tercepat saat ini. Hal tersebut terbantu dari agresifnya kampanye vaksinasi COVID-19 Amerika dan suplai vaksin yang konsisten bertambah.

Menurut data New York Times, Amerika sudah mendistribusikan kurang lebih 133 juta dosis vaksin COVID-19. Vaksinasi COVID-19 per harinya mencapai 2,3 juta suntikkan, jauh lebih besar dibanding target Presiden Amerika Joe Biden yaitu 1,5 juta suntikkan per hari.

Stok vaksin yang banyak tidak lepas dari penerapan kebijakan Defense Production Act oleh Joe Biden. Lewat kebijakan itu, Joe Biden bisa meminta produsen vaksin untuk mengutamakan suplai bagi Amerika. Sebagai gantinya, Amerika akan membantu proses produksi vaksin COVID-19, termasuk penyediaan bahan baku,

Dengan kondisi vaksinasi COVID-19 Amerika seperti sekarang, Presiden Joe Biden optimistis target herd immunity bisa dicapai tahun ini. Selain itu, ia juga yakin seluruh warga dewasa di Amerika sudah bisa divaksin per 1 Mei nanti karena stok vaksin yang memadai. Jika semua berjalan sesuai rencana, Joe Biden berharap normalnya Amerika bisa dirayakan di Hari Kemerdekaan nanti, 4 Juli 2021.

Meski Joe Biden Optimistis, beberapa pakar kesehatan tetap waspada. Menurut mereka, segencar apapun vaksinasi COVID-19, jika warga kemudian tidak mematuhi jaga jarak sosial, maka sama saja membantu penyebaran virus COVID-19. Sebab, fungsi vaksin bukan mematikan virus, tetapi membentuk kekebalan tubuh.

Reporter: Non Koresponden

Editor: Istman Musaharun Pramadiba

Diterbitkan di Berita

Syaiful W Harahap tagar.id Jakarta - Konflik di Suriah memasuki babak baru setelah militer Turki melancarkan serangan terhadap posisi milisi Kurdi di timur laut Suriah. Inilah faksi-faksi yang berperang di Suriah. Elizabeth Schumacher dan Alexander Pearson menuliskannya untuk dw.com/id.

suriah1

Perang Tiada Akhir (Foto: dw.com/id)

 

Perang Tiada Akhir - Suriah telah dilanda kehancuran akibat perang saudara sejak 2011 setelah Presiden Bashar Assad kehilangan kendali atas sebagian besar negara itu karena berbagai kelompok revolusioner. Sejak dari itu, konflik menarik berbagai kekuatan asing dan membawa kesengsaraan dan kematian bagi rakyat Suriah.

suriah2

Kelompok Loyalis Assad (Foto: dw.com/id)

 

Kelompok Loyalis Assad - Militer Suriah yang resminya bernama Syrian Arab Army (SAA) alami kekalahan besar pada 2011 terhadap kelompok anti-Assad yang tergabung dalam Free Syrian Army. SAA adalah gabungan pasukan pertahanan nasional Suriah dengan dukungan milisi bersenjata pro-Assad. Pada bulan September, Turki meluncurkan invansi militer ketiga dalam tiga tahun yang menargetkan milisi Kurdi.

suriah3

Militer Turki (Foto: dw.com/id)

 

Militer Turki – Hampir semua negara tetangga Suriah ikut terseret ke pusaran konflik. Turki yang berbatasan langsung juga terimbas amat kuat. Berlatar belakang permusuhan politik antara rezim di Ankara dan rezim di Damaskus, Turki mendukung berbagai faksi militan anti-Assad.

suriah4

Tentara Rusia (Foto: dw.com/id)

 

Tentara Rusia - Pasukan dari Moskow terbukti jadi aliansi kuat Presiden Assad. Pasukan darat Rusia resminya terlibat perang 2015, setelah bertahun-tahun menyuplai senjata ke militer Suriah. Komunitas internasional mengritik Moskow akibat banyaknya korban sipil dalam serangan udara yang didukung jet tempur Rusia.

suriah5

Sekutu Barat (Foto: dw.com/id)

 

Sekutu Barat – Sebuah koalisi pimpinan Amerika Serikat yang terdiri lebih dari 50 negara, termasuk Jerman, mulai menargetkan Isis dan target teroris lainnya dengan serangan udara pada akhir 2014. Koalisi anti-Isis telah membuat kemunduran besar bagi kelompok militan. AS memiliki lebih dari seribu pasukan khusus di Suriah yang mendukung Pasukan Demokrat Suriah.

suriah6

Pemberontak Free Syrian Army (Foto: dw.com/id)

 

Pemberontak Free Syrian Army - Kelompok Free Syrian Army mengklaim diri sebagai sayap moderat, yang muncul dari aksi protes menentang rezim Assad 2011. Bersama milisi nonjihadis, kelompok pemberontak ini terus berusaha menumbangkan Presiden Assad dan meminta pemilu demokratis. Kelompok ini didukung Amerika dan Turki. Tapi kekuatan FSA melemah, akibat sejumlah milisi pendukungnya memilih bergabung dengan grup teroris.

suriah7

Pemberontak Kurdi (Foto: dw.com/id)

 

Pemberontak Kurdi - Perang Suriah sejatinya konflik yang amat rumit. Dalam perang besar ada perang kecil. Misalnya antara pemberontak Kurdi Suriah melawan ISIS di utara dan barat Suriah. Atau juga antara etnis Kurdi di Turki melawan pemerintah di Ankara. Etnis Kurdi di Turki, Suriah dan Irak sejak lama menghendaki berdirinya negara berdaulat Kurdi.

suriah8

Islamic State ISIS (Foto: dw.com/id)

 

Islamic State ISIS - Kelompok teroris Islamic State (Isis) yang memanfaatkan kekacauan di Suriah dan vakum kekuasaan di Irak, pada tahun 2014 berhasil merebut wilayah luas di Suriah dan Irak. Wajah baru teror ini berusaha mendirikan kekalifahan, dan namanya tercoreng akibat genosida, pembunuhan sandera serta penyiksaan brutal.

suriah9

Afiliasi Al Qaeda (Foto: dw.com/id)

 

Afiliasi Al Qaeda - Milisi teroris Front al-Nusra yang berafiliasi ke Al Qaeda merupakan kelompok jihadis kawakan di Suriah. Kelompok ini tidak hanya memerangi rezim Assad tapi juga terlibat perang dengan pemberontak yang disebut moderat. Setelah merger dengan sejumlah grup milisi lainnya, Januari 2017 namanya diubah jadi Tahrir al-Sham.

suriah10

Pasukan Iran (Foto: dw.com/id)

 

Pasukan Iran - Iran terlibat pusaran konflik dengan mendukung rezim Assad. Konflik ini juga jadi perang proxy antara Iran dan Rusia di satu sisi, melawan Turki dan AS di sisi lainnya. Teheran berusaha menjaga perimbangan kekuatan di kawasan, dan mendukung Damaskus dengan asistensi startegis, pelatihan militer dan bahkan mengirim pasukan darat (dw.com/id). []

Diterbitkan di Berita

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pemerintahan AS Joe Biden menetapkan dua afiliasi ISIS di Mozambik dan Republik Demokratik Kongo sebagai "organisasi teroris asing," dan menjatuhkan sanksi luas pada kelompok-kelompok itu.

Sanksi tersebut diumumkan oleh Kementerian Keuangan AS pada Rabu (10/3/2021) melansir AP. Baca juga: Bentrok dengan Kelompok Teroris, 10 Tentara Nigeria Tewas Sanksi ini juga membekukan aset apa pun yang mungkin dimiliki grup tersebut di yurisdiksi AS.

Orang AS juga dilarang melakukan bisnis dengan mereka. Lebih signifikan, entitas asing yang berbisnis dengan keduanya sekarang akan dikenakan sanksi AS juga. Kementerian Keuangan AS juga memberikan sanksi pribadi kepada para pemimpin kelompok itu.

Mereka menyebutnya "teroris global yang ditandai secara khusus".

Kedua kelompok itu disalahkan atas beberapa serangan di Afrika selatan dan tengah yang telah menewaskan ratusan orang sejak 2017.

Di Kongo, ISIS-DRC dituding bertanggung jawab atas serangan di provinsi timur Kivu Utara dan Ituri, yang terutama menargetkan pasukan keamanan pemerintah dan warga sipil.

Di Mozambik, kelompok yang dikenal sebagai Ansar al-Sunna diduga telah membunuh lebih dari 1.300 warga sipil, dalam pemberontakan di bagian utara negara yang telah merenggut nyawa lebih dari 2.300 orang secara keseluruhan.


Penulis : Bernadette Aderi Puspaningrum

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Gubernur Texas Greg Abbott, Selasa (2/3), mengeluarkan kebijakan mencabut kebijakan pembatasan sosial terkait virus corona yang paling luas dibanding negara bagian mana pun di Amerika.

Abbott mengatakan sebagian besar bisnis mungkin akan beroperasi dengan kapasitas penuh minggu depan. Ia juga mencabut keharusan mengenakan masker.

Perintah eksekutif itu dikeluarkan ketika banyak negara bagian dan kota-kota utama di Amerika mulai melonggarkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya seiring dengan penurunan tajam penyebaran virus corona dan jumlah orang yang dirawat di rumah sakit.. Lockdown tersebut diberlakuan satu tahun lalu,

“Ini saatnya untuk membuka Texas 100 persen,” ujar Abbott, gubernur dari Partai Republik, dalam konferensi pers pada Selasa (2/3). Ia mengatakan perintah eksekutif itu akan berlaku penuh mulai 10 Maret mendatang.

Perintah eksekutif Abbot itu juga mencabut semua keharusan mengenakan masker di seluruh negara bagian dan melarang otoritas lokal untuk menghukum warga yang tidak mengenakan masker. Perintah itu juga mencabut seluruh pembatasan terhadap bisnis di kabupaten-kabupaten di mana tidak banyak orang dirawat di rumah sakit.

Perintah eksekutif itu diberlakukan ketika pemerintahan Abbott memulihkan kondisi pasca penurunan suhu sangat tajam di seluruh kawasan itu Februari lalu, yang memicu pemadaman listrik dan membuat jutaan orang menggigil dalam kegelapan. Suhu sangat dingin membuat jaringan operator listrik dan air tidak siap menghadapi lonjakan permintaan listrik.

Abbott mengatakan di kabupaten-kabupaten di mana jumlah orang yang dirawat di rumah sakit masih tinggi, para pejabat setempat masih dapat memberlakukan sebagian pembatasan pada bisnis, namun tidak bisa mengharuskan mereka untuk beroperasi kurang dari 50 persen dari kapasitasnya.

Abbott mengatakan ia dapat mencabut pembatasan itu karena Texas, negara bagian dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Amerika, telah memvaksinasi hampir 5,7 juta orang dari 29 juta penduduknya. [em/my]

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Pakar penyakit menular yang disegani di Amerika Dr. Anthony Fauci hari Minggu (28/2) menyerukan warga Amerika untuk mendapatkan salah satu dari tiga vaksin virus corona yang tersedia.

Fauci mengatakan akan disuntik vaksin Johnson&Johnson yang baru diotorisasi, dan menyerukan kepada warga Amerika untuk mau divaksinasi salah satu dari tiga vaksin yang ada.

“Ketiganya benar-benar cukup bagus, dan orang-orang harus mengambil salah satu yang paling tersedia untuk mereka. Jika pergi ke suatu tempat dan disediakan Johnson&Johnson, dan itulah yang tersedia sekarang, maka saya akan menerimanya,” ujarnya dalam program “Meet the Press” di stasiun televisi NBC.

 

Pemerintah Amerika Sabtu lalu (28/2) telah mengesahkan vaksin dengan dosis tunggal Johnson&Johnson, menjadikannya sebagai vaksin ketiga yang tersedia setelah Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Dua vaksin sebelumnya membutuhkan dua dosis yang disuntik dalam rentang waktu tertentu dan harus didistribusikan dalam keadaan beku. Namun vaksin Johnson&Johnson dapat didistribusikan dan disimpan pada suhu lemari es normal.

Vaksin Johnson&Johnson diharapkan mendapat persetujuan akhir untuk digunakan secara luas pada hari Minggu (28/2) dan dapat mulai didistribusikan pada hari Minggu atau Senin (1/3).

Baik vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna menunjukkan tingkat kemanjuran yang lebih tinggi dalam uji coba yang menggunakan dua dosis, dibanding vaksin satu dosis Johnson&Johnson.

Namun Fauci dan beberapa pakar lain mengatakan perbandingan langsung sulit dilakukan karena uji coba memiliki tujuan yang berbeda, dan uji coba vaksin Johnson&Johnson dilakukan ketika varian baru yang lebih cepat menular muncul.

Lebih jauh Fauci mengatakan saat ini sedang berlangsung kajian untuk menentukan keefektifan dan keamanan vaksin bagi anak-anak di bawah usia 18 tahun yang tampaknya tidak terlalu terpapar virus ini.

Siswa sekolah dasar diharapkan akan divaksinasi pada akhir tahun ini atau awal tahun depan, sementara siswa SMP dan SMA kemungkinan akan divaksinasi pada musim gugur ini, ujar Fauci.

Vaksin baru itu memberi pilihan pada pemerintah Amerika, yang sedang berupaya memvaksinasi sebanyak mungkin warga sesegera mungkin. Menurut data pemerintah, sekitar 14% warga Amerika telah divaksinasi dosis pertama.

Presiden Joe Biden mengatakan sedianya ada cukup pasokan vaksin untuk memvaksinasi seluruh warga Amerika selambatnya pada akhir Juli nanti.

Covid-19 telah merenggut nyawa lebih dari setengah juta orang di Amerika dan negara-negara bagian menuntut lebih banyak dosis untuk membendung kasus, jumlah orang yang dirawat di rumah sakit dan kematian. [em/jm]

Diterbitkan di Berita

Jalaludin Rumi - Hops.ID Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika Serikat, Akhmad Sahal atau yang karib disapa Gus Sahal kembali menyoroti kinerja Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam penanggulangan banjir di Ibu Kota. Dia menilai, Anies belum menunaikan tugasnya dengan baik dan benar.

Dikutip dari video berjudul ‘Gubernur Seiman tapi Amburadul Buat Apa?’ di saluran Youtube CokroTV, tokoh NU itu mengatakan, banjir yang melanda Jakarta menjadi bukti sahih ketidakmampuan Anies Baswedan mengelola Ibu Kota. Alih-alih bertidak, kata dia, Anies justru lebih sering bicara dan menyalahkan pihak-pihak lain.

“Banjir besar yang melanda DKI, dan amburadulnya penanganan yang dilakukan Anies Baswedan adalah contoh terbaru dari rentetan bukti ketidakbecusannya sebagai Gubernur Jakarta,” ujar Gus Sahal, dikutip Senin 22 Februari 2021.

“Bukan hanya tak becus kerja, Anies juga terbukti lebih banyak ngomong ketimbang aksi, hobinya nyalahin pihak lain, ngeyel, dan suka ngeles. Sehingga, begitu banyak warga Jakarta yang sengsara karenanya. Inilah akibatnya, kalau gubernur dipilih semata-mata karena iman,” sambungnya.

 

Lambang NU. Foto: kholidintok.net

 

Lebih jauh, Gus Sahal juga berkisah, bahwa Jakarta pernah dipimpin gubernur yang bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh, dia adalah Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok. Namun, kasus politisasi agama membuatnya terjungkal, lalu digantikan gubernur baru yang menurut dia kurang kompeten.

“Politisasi ayat di Jakarta ini terbukti merugikan Jakarta itu sendiri. Jakarta kan kota metropolitan dengan segepok persoalan yang kompleks. Ini butuh pemimpin yang bersih, tegas, berani galak untuk kepentingan warga, dan mengerti detail persoalan.”

“Namun dengan adanya politisasi SARA, kepemimpinan Jakarta yang harusnya urusan dunia tiba-tiba dibelokkan menjadi soal akhirat,” terangnya.
 

Jakarta banjir, tokoh NU sebut Anies pemimpin zalim

Gus Sahal mengatakan, sebenarnya ada banyak warga DKI yang kala itu puas dengan kinerja Ahok. Namun, setelah politisasi agama menyeruak dan mereka ditakut-takuti dengan ayat, maka tak ada pilihan lain selain memilih Anies Baswedan.

Padahal, kata Gus Sahal, kualitas pemimpin bukan diukur dari imannya, melainkan pada kinerja dan kesungguhannya melayani rakyat. “Kepemimpinan menurut Islam adalah seberapa jauh sang pemimpin tersebut kompeten.
Seberapa jauh dia becus dalam menegakkan kemaslahatan, bukan soal iman. Karena iman pemimpin hanya berdampak pada dirinya sendiri, itu urusan dia dengan Allah di akhirat,” urainya.

 

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Foto: Antara

 

Seharusnya, kata dia, prinsip tersebut menjadi acuan warga DKI dalam memilih pemimpin, yakni dengan melihat kinerja bukan iman atau kepercayaannya.

“Jakarta telah memilih pemimpin seiman, tapi enggak becus kerja. No action talk only, ngeyel, dan suka ngeles. Akibatnya, yang kita rasakan saat ini, Jakarta jadi salah urus. Ini adalah tipe pemimpin zalim,” kata Gus Sahal.

 

 
Diterbitkan di Berita

Nefan Kristiono MATA INDONESIA, JAKARTA – Akhirnya, Indonesia memutuskan membeli pesawat tempur baru buatan Amerika Serikat, F-15EX. Tapi jangan harap kita bisa menang perang dengan AS menggunakan pesawat itu, karena versi ekspornya tidak dilengkapi sistem elektronik untuk meningkatkan kemampuan bertahan yang disebut EPAWSS.

EPAWSS atau Eagle Passive / Active Warning Survivability System adalah sistem elektronik penuh yang mendukung F-15 Eagle itu saat digunakan untuk berperang.

Seperti disebut laman airforcemag.com, Indonesia memang negara pertama di luar Amerika Serikat yang akan menggunakan F-15 EX pada 2022. Namun, tanpa EPAWSS jelas pesawat berjuluk Eagle itu tidak akan setangguh milik USAF.

Alasan Indonesia melakukan pengadaan alutsista itu adalah untuk meremajakan armada tempur udaranya karena pesawat tempur andalan kita buatan tahun 1990 -an, bahkan lebih tua lagi. Armada itu terdiri dari 33 unit F-16 campuran model A/B dan C/D, lima Su-27, 11 Su-30, dan 23 Hawk 200.
 
Namun, Indonesia tidak hanya membeli delapan unit F-15 EX buatan Boeing tersebut. Paling banyak akan mengakuisisi pesawat buatan Dassault Aviation, Rafale, berjumlah 36 unit.
Diterbitkan di Berita