Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Indonesia karena angka penularan infeksi virus corona (Covid-19) yang dinilai tinggi dan kemungkinan adanya serangan teror.

Larangan itu dikeluarkan melalui travel advisory yang dirilis dalam laman travel.state.gov sejak Selasa (8/6) lalu. AS mengeluarkan peringatan Level 3 bagi warganya yang berencana berkunjung ke Indonesia.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) AS menyebut bahwa peringatan level 3 berarti orang-orang diminta untuk menghindari masuk ke Indonesia, kecuali untuk kepentingan mendesak. Warga diminta mempertimbangkan kembali rencana keberangkatannya.

"Tindakan karantina yang dijalankan pemerintah diberlakukan untuk semua orang asing. Kunjungi situs Kedutaan Besar AS di Indonesia untuk informasi Covid-19 di Indonesia," tulis laman tersebut.

Selain karena Covid-19, kekhawatiran akan serangan teror juga menjadi pertimbangan AS untuk mengimbau warganya tak mengunjungi RI.

"Teroris dapat menyerang dengan sedikit atau tanpa peringatan, menargetkan kantor polisi, tempat ibadah, hotel, bar, klub malam, pasar/pusat perbelanjaan, dan restoran," tulis mereka.

Tak hanya itu, AS juga mengimbau warganya untuk mempertimbangkan perjalanan ke Sulawesi Tengah dan Papua akibat kerusuhan sipil yang terjadi belakangan ini.

Selain itu, AS juga menyoroti rawannya bencana alam di Indonesia seperti gempa bumi, tsunami, atau letusan gunung berapi untuk setidaknya menjadi pertimbangan perjalanan.

(nly/asr)

 

 

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Amerika Serikat (AS) mengambil langkah baru untuk mempersulit kelompok teror ISIS memindahkan uang, termasuk sumbangan dari pendukung internasional, melalui Suriah dan Turki.

Departemen Keuangan AS, Senin (17/5), mengumumkan sanksi terhadap tiga orang dan satu perusahaan, yang semuanya memainkan peran kunci dalam apa yang oleh para pejabat digambarkan sebagai jaringan keuangan terlarang kelompok teror itu.

Salah seorang individu yang dijatuhi sanksi, Alaa Khanfurah, dituduh menggunakan perusahaan jasa keuangannya yang berbasis di Turki untuk mentransfer ribuan dolar ke agen-agen ISIS di seluruh Suriah.

Para pejabat Departemen Keuangan AS juga mengatakan Khanfurah pada 2017 dan sekali lagi pada 2019 memfasilitasi transfer uang antara para pemimpin puncak ISIS.

Sanksi baru itu juga menarget Perusahaan Al-Fay, bisnis jasa keuangan yang berbasis di Turki, dan dua bersaudara, Idris al-Fay dan Ibrahim al-Fay.

Departemen Keuangan AS mengatakan Idris al-Fay telah menggunakan perusahaan tersebut untuk menyalurkan donasi kepada para anggota ISIS, termasuk ke agen-agen yang bekerja di kamp pengungsi al-Hol di Suriah timur laut.

Menurut pernyataan Departemen itu, Idris al-Fay kini ditahan di Irak. [lt/em]

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat merilis laporan deretan berbagai bentuk pelanggaran kebebasan beragama di berbagai negara selama 2020, termasuk Indonesia.

Dalam laporan yang dirilis di situs Kementerian Luar Negeri AS pada pekan lalu ini, Gedung Putih juga membeberkan setidaknya sepuluh bentuk pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia.

1. Pembunuhan di luar hukum

AS menyoroti setidaknya dua dugaan kasus pembunuhan di luar hukum, salah satunya penembakan enam anggota Front Pembela Islam (FPI) di jalan tol Jakarta-Cikampek oleh anggota kepolisian.

Selain itu, AS juga menyoroti kematian Yeremia Zanambani, seorang pendeta yang merupakan pemimpin Gereja Kristen Evangelis Indonesia di Intan Jaya, Papua.

Aktivis lokal dan para pemimpin agama mendesak penyelidikan independen terkait insiden itu. Mereka menduga personel TNI merupakan dalang di balik kematian Yeremia.

2. Dugaan pelanggaran berdasarkan Undang-Undang Penodaan Agama

Dalam dokumen ini, AS menyoroti laporan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia pada Agustus yang menyebutkan bahwa setidaknya ada 38 kasus penodaan agama pada periode Januari hingga Maret, dua di antaranya melibatkan anak di bawah 18 tahun.

AS juga membahas pernyataan Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, bahwa ketidakjelasan UU Penodaan Agama menyebabkan hukum itu kerap digunakan untuk menargetkan kelompok agama minoritas.

3. Larangan beribadah

Gedung Putih juga menyoroti larangan beribadah bagi kelompok-kelompok agama minoritas di Indonesia. Salah satu isu yang menjadi sorotan besar adalah kesulitan para umat Muslim aliran Syiah untuk beribadah.

AS menjabarkan sejumlah kasus tersebut, salah satunya keputusan Tim Pengawas Aliran Kepercayaan dan Masyarakat (PAKEM) Ternate yang terdiri dari kepolisian, kejaksaan, FKUB, dan MUI.

"Tim PAKEM menerapkan larangan aktivitas kelompok agama Syiah Jafariah di Kota Maluku Utara," tulis Kemlu AS.

Selain itu, AS juga membahas Majelis Desa Adat Bali melarang seluruh aktivitas International Society for Krishna Consciousness (ISKCON). Majelis itu menganggap ajaran ISKCON berbeda dengan ajaran Hindu.

4. Kesulitan izin membangun atau menggunakan tempat ibadah

Beberapa larangan aktivitas keagamaan Kristen juga dibahas dalam laporan ini. Menurut AS, kebanyakan kasus ini berkaitan dengan perizinan.

"Pemerintah lokal, polisi, dan organisasi keagamaan dilaporkan mencoba menutup tempat ibadah kelompok-kelompok minoritas atas dasar pelanggaran izin, sering kali setelah ada protes dari 'kelompok intoleran', meski kelompok-kelompok minoritas itu sudah punya izin resmi," tulis Kemlu AS.

Mereka juga menuliskan, "Pejabat pemerintahan dan kepolisian terkadang gagal mencegah "kelompok intoleran" melanggar kebebasan beragama kelompok lain dan melakukan tindakan intimidasi, seperti menghancurkan rumah ibadah."

5. Penutupan tempat keagamaan lainnya

Selain tempat ibadah, penutupan sejumlah tempat keagamaan lainnya juga disoroti oleh AS, salah satunya penyegelan makam sesepuh Sunda Wiwitan di Kuningan, Jawa Barat.

Setelah Komnas HAM turun tangan untuk memediasi pejabat lokal dengan anggota Sunda Wiwitan, makam itu akhirnya dibuka kembali.

6. Pemaksaan belajar agama di sekolah

Dalam laporan ini, Kemlu AS juga menuliskan, "Kelompok-kelompok minoritas melaporkan banyak sekolah memaksa muridnya untuk mengikuti ajaran agama berdasarkan enam agama yang diakui."

7. Penggunaan parameter keagamaan untuk naik jabatan

Penggunaan parameter salah satu agama untuk menentukan kenaikan jabatan di lingkungan pemerintahan juga tak luput dari perhatian AS.

Mereka membahas keputusan Pemerintah Gowa, Sulawesi Selatan, untuk menerapkan tes baca Alquran untuk ASN yang ingin naik pangkat. Dari 76 orang yang mengikuti tes, 14 di antaranya gagal.

8. Kesulitan akses layanan pemerintah

Berdasarkan penelusuran AS, meski pemerintah Indonesia mengizinkan penduduk untuk mengosongkan kolom agama di KTP, masih ada warga yang mengeluhkan kesulitan mengakses layanan pemerintah jika mereka mengosongkan kolom itu.

9. Kesulitan menikah beda agama

Dalam laporan ini, Kemlu AS juga menuliskan, "Pria dan perempuan beda agama yang ingin menikah masih kesulitan mencari pejabat keagamaan untuk melaksanakan upacara pernikahan."

10. Penerapan Syariah di Aceh

AS menekankan bahwa terdakwa non-Muslim satu kasus di Aceh memang bisa memilih untuk diadili dengan hukum Syariah atau tidak.

Namun, banyak warga non-Muslim dilaporkan memilih untuk mengikuti hukum Syariah karena takut kasus mereka jadi terlalu panjang.

(has)

 

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Operator jaringan pipa distribusi bahan bakar minyak Amerika Serikat (AS), Colonial Pipeline, telah menghentikan operasi seluruh jaringannya yang menjadi sumber dari hampir separuh pasokan bahan bakar di Pantai Timur AS.

Langkah itu diambil setelah sebuah serangan siber yang diduga disebabkan oleh ransomware yaitu serangan yang meminta uang tebusan.

Perusahaan itu menyalurkan 2,5 juta barel bensin, diesel, avtur, dan produk bahan bakar minyak (BBM) lain melalui jalur pipa sepanjang 8.850 km yang menghubungkan kilang-kilang BBM di Pantai Teluk ke AS bagian timur dan selatan.

Dalam pernyataanya, Colonial mengatakan pihaknya menghentikan sistem itu untuk mengendalikan ancaman, setelah mengetahui tentang serangan itu pada Jumat (7/5).

Menurut Colonial, langkah itu menyebabkan penangguhan operasi dan berdampak pada sebagian sistem teknologi informasi (TI).

Penyelidikan pemerintah AS masih dalam tahap awal. Namun, seorang mantan pejabat pemerintah AS dan dua sumber industri mengatakan para peretas kemungkinan besar merupakan kelompok kriminal siber profesional.

Mantan pejabat itu mengatakan, para penyelidik sedang mempelajari apakah sebuah kelompok yang dijuluki "DarkSide" berada di balik serangan itu.

Administrasi Keamanan Transportasi AS mengatakan kepada Reuters pihaknya bekerja sama dengan instansi-instansi lain untuk menangani situasi itu.

Colonial tidak memerincikan lebih jauh ataupun mengatakan berapa lama jaringan pipa itu akan ditutup. [vm/ft]

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Ketua Asian Pacific Society of Respirology Erlina Burhan turut menanggapi kebijakan boleh melepas masker di Amerika Serikat (AS) bagi yang sudah divaksin corona. Katanya, tingkat kepesertaan vaksinasi COVID-19 yang relatif tinggi. 
 
"Kalau saya ingin menjelaskan kondisi Amerika dan Indonesia itu berbeda. Pertama, mereka sudah mencapai 'herd immunity' vaksinasi sudah cukup banyak di atas 100 juta yang divaksin karena mereka punya fasilitas itu semua Pfizer dan Moderna," kata Erlina dikutip dari Antara, Kamis (29/4).
Dokter spesialis paru di Rumah Sakit Persahabatan itu mengatakan kemampuan memproduksi vaksin secara mandiri di Amerika Serikat telah membuat program vaksinasi berjalan optimal.
 
"Mereka fokus pada rakyatnya dulu, makanya kita belum dapat Pfizer dan Moderna mereka sudah capai 'herd immunity' yang diharapkan terjadinya perlambatan, melandai dan ke depannya juga menjadi negara yang endemis saja," ujarnya.
 
Atas dasar itu, kata Erlina, otoritas terkait di Amerika Serikat memiliki wacana untuk mengizinkan rakyatnya melepas masker di ruang terbuka, kecuali saat kerumunan.
 
"Mungkin Amerika outbound olahraga di luar. Tapi tidak boleh ditiru di Indonesia, karena capaian vaksinasi kita belum banyak, jadi yang punya kekebalan baru sedikit," katanya.
 
 
Ahli: Boleh Lepas Masker di AS Jangan Ditiru RI, Cakupan Vaksinasi Masih Rendah (1)
Presiden AS Joe Biden melepas masker saat melonggarkan penggunaan masker. Foto: Kevin Lamarque/Reuters
Indonesia baru memungkinkan menerapkan kebijakan melepas masker manakala sudah sampai pada target kekebalan komunal atau 'herd immunity'.
 
Meski demikian, Erlina mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap penularan COVID-19 mengingat virus SARS-CoV-2 berkembang dinamis.
 
"Dulu awalnya hanya yang sakit yang pakai masker. Sekarang semua orang pakai masker baik yang sakit maupun yang tidak. Jadi ini jangan buru-buru meniru," katanya.
 
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperbarui panduan pemakaian masker dan mengkonfirmasi orang yang telah disuntik dua dosis vaksin COVID-19 tak perlu lagi bermasker di luar ruangan kecuali berada dalam kelompok besar orang.
 
Sementara itu, mereka yang belum divaksinasi penuh harus tetap memakai masker dalam situasi tersebut.
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat kembali mengizinkan penggunaan vaksin Covid-19 produksi Johnson & Johnson setelah penghentian sementara akibat kasus penggumpalan darah berujung kematian beberapa waktu lalu.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengambil keputusan ini pada Jumat (23/4), setelah sejumlah ahli merekomendasikan penggunaan kembali vaksin Johnson & Johnson.

"Kami menyimpulkan bahwa manfaat vaksin Johnson & Johnson lebih besar dari risikonya," ujar Kepala Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS, Janet Woodcock, dalam pernyataan bersama dengan CDC.

 Meski demikian, CDC menyatakan bahwa Johnson & Johnson harus memasukkan pemberitahuan bahwa vaksin tersebut berisiko penggumpalan darah setelah penyuntikan.

"Komite keamanan menyimpulkan bahwa peringatan tentang pembekuan darah yang tidak biasa dengan trombosit darah rendah harus ditambahkan ke informasi produk untuk suntikan J&J," demikian pernyataan CDC yang dikutip AFP.

Sejumlah warga AS memang sempat mengalami penggumpalan darah setelah menerima vaksin Johnson & Johnson.

Dari 3,9 juta perempuan penerima vaksin Johnson & Johnson, 15 di antaranya mengalami penggumpalan darah serius. Dari 15 orang itu, tiga di antaranya meninggal dunia.

"Mayoritas kasus yang dikonfirmasi, 13 (yang meninggal) dari 15 berusia di bawah 50 tahun. Tidak ada kasus yang dilaporkan di antara pria," demikian bunyi laporan CDC.

Kepala CDC, Rochelle Walensky, pun menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan pemantauan ketat terhadap penggunaan vaksin ini.

"Peristiwa penggumpalan yang sangat langka telah diidentifikasi, memperkuat alasan regulator untuk terus memantau peluncuran vaksin," kata dia.

(tst/has)

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Setelah 20 tahun menginvasi Afghanistan, tentara AS dan Inggris bersiap angkat kaki. Bulan ini Presiden Biden mengumumkan bahwa 2.500-3.500 pasukan AS yang tersisa di sana akan sudah pergi pada 11 September. Inggris juga melakukan hal yang sama, menarik sisa 750 pasukannya.

Pilihan tanggal tersebut amatlah penting. Itu tepat 20 tahun sejak serangan 11 September terhadap Amerika oleh Al-Qaeda, direncanakan dan diarahkan dari Afghanistan, yang mendorong koalisi AS-Inggris menggulingkan Taliban dan menyingkirkan Al-Qaeda untuk sementara.

Harga yang harus dibayar selama 20 tahun peperangan ini amat sangat tinggi - diukur dalam nyawa, kehidupan, dan uang. Lebih dari 2.300 prajurit AS telah tewas dan lebih dari 20.000 lainnya terluka, bersama lebih dari 450 prajurit Inggris serta ratusan dari beberapa negara lain.

Namun warga Afghanistan sendirilah yang menanggung paling banyak korban jiwa, dengan lebih dari 60.000 anggota aparat keamanan tewas dan hampir dua kali lipatnya warga sipil.

Biaya finansial yang ditanggung duit pajak dari rakyat AS mendekati 1 triliun dolar AS.

Jadi pertanyaan canggung yang harus ditanyakan adalah: apakah hasilnya sepadan?

Jawabannya tergantung cara Anda mengukurnya.

Mari kita mundur sejenak dan memikirkan alasan tentara Barat datang ke Afghanistan serta tujuan mereka.

Selama lima tahun, dari 1996 hingga 2001, Al-Qaeda, yang disebut sebagai kelompok teroris trans-nasional, berkembang di Afghanistan, di bawah pemimpinnya yang karismatik Osama Bin Laden.

Al-Qaeda mendirikan kamp pelatihan teroris, termasuk bereksperimen dengan gas beracun menggunakan anjing, dan merekrut serta melatih sekitar 20.000 relawan jihadis dari seluruh dunia.

Mereka juga mengarahkan serangan kembar terhadap kedutaan AS di Kenya dan Tanzania pada 1998, yang menewaskan 224 orang, sebagian besar warga sipil Afrika.

 

Warga berkumpul di acara peringatan yang diadakan di lokasi pengeboman Kedubes AS di Nairobi, Kenya pada 12 Agustus 1998.

Keadaan kedubes AS di Nairobi setelah pengeboman. REUTERS

 

Al-Qaeda dapat beroperasi dengan impunitas di Afghanistan karena mereka dilindungi oleh pemerintah saat itu: Taliban, yang menguasai seluruh negeri pada 1996 menyusul penarikan Tentara Merah Soviet dan bertahun-tahun perang sipil yang destruktif.

AS, melalui sekutunya di Saudi, berusaha membujuk Taliban untuk mendepak Al-Qaeda, tetapi mereka menolak. Setelah serangan 11 September 2001, komunitas internasional meminta Taliban untuk menyerahkan mereka yang bertanggung jawab — namun Taliban kembali menolak.

Jadi, bulan berikutnya pasukan Afghanistan anti-Taliban yang disebut Aliansi Utara menyerang Kabul, dengan dukungan tentara AS dan Inggris. Mereka berhasil menggulingkan Taliban dari kekuasaan dan mengusir Al-Qaeda ke negara tetangga, Pakistan.

Pekan ini seorang sumber pejabat keamanan senior berkata kepada BBC bahwa sejak saat itu tidak ada satu pun serangan teroris internasional yang sukses direncanakan dari Afghanistan.

Jadi, hanya dari ukuran kontra-terorisme internasional, kehadiran militer dan pasukan keamanan Barat di sana sukses mencapai tujuannya.

Namun itu, tentu saja, pengukuran yang terlalu sederhana dan mengabaikan jumlah korban jiwa yang berjatuhan akibat konflik itu - dan masih berjatuhan sampai sekarang - dari warga Afghanistan, baik sipil maupun militer. Dua puluh tahun kemudian, negeri itu belum juga damai.

Menurut kelompok penelitian Action on Armed Violence, pada tahun 2020 ada lebih banyak warga Afghanistan yang terbunuh oleh alat peledak dibandingkan negara mana pun di dunia.

Al-Qaeda, Negara Islam (IS), dan kelompok militan lainnya belum musnah, mereka bangkit kembali dan tak diragukan lagi menjadi bersemangat dengan kepergian tentara Barat yang tak lama lagi.

 

Para perempuan berduka di luar rumah sakit di Kabul setelah serangan bom truk.

Para perempuan berduka di luar rumah sakit di Kabul setelah serangan bom truk. REUTERS

 

Pada tahun 2003, saat liputan di sebuah markas militer terpencil di Provinsi Paktika bersama Divisi Gunung ke-10 Tentara AS, saya ingat seorang kolega veteran di BBC, Phil Goodwin, meragukan warisan kehadiran pasukan Koalisi di sana.

"Dalam 20 tahun," katanya, "Taliban akan kembali menguasai sebagian besar wilayah Selatan."

Hari ini, menyusul perundingan damai di Doha dan pergerakan militer di lapangan, mereka bersiap memainkan peran yang menentukan masa depan seluruh negeri.

Namun Jenderal Sir Nick Carter, Staf Kepala Pertahanan Inggris, yang bertugas dalam beberapa tur di sana, menyoroti bahwa "komunitas internasional telah membangun masyarakat sipil yang mengubah kalkulus tentang legitimasi populer seperti apa yang diinginkan Taliban."

"Kondisi negeri ini lebih baik daripada di tahun 2001," ujarnya, "dan Taliban telah menjadi lebih terbuka."

Dr. Sajjan Gohel dari Yayasan Asia Pasific berpandangan lebih pesimis. "Ada kekhawatiran nyata," katanya, "bahwa Afghanistan bisa kembali menjadi tempat perkembangbiakan ekstremisme seperti di tahun 1990-an." Kekhawatiran ini juga dirasakan banyak agensi intelijen Barat.

Akan tetapi itu belum tentu terjadi, tergantung pada dua faktor: pertama, apakah Taliban mengizinkan aktivitas Al-Qaeda dan ISIS di area yang dikuasainya setelah menang, dan kedua sejauh mana komunitas internasional bersiap untuk mengatasinya ketika mereka tidak lagi memiliki sumber daya di Afghanistan.

Jadi gambaran keamanan di masa depan untuk Afghanistan masih samar. Negara yang akan ditinggalkan tentara Barat musim panas ini jauh dari aman. Namun tak banyak yang mengira, dalam hari-hari penuh amarah menyusul serangan 11 September, mereka akan mampu bertahan di sana sampai dua dekade.

Saat saya mengingat kembali berbagai perjalanan liputan saya di Afghanistan, bersama pasukan AS, Inggris, dan Emirat, ada satu kenangan yang paling berkesan. Itu terjadi di markas tentara AS yang terletak hanya 6km dari perbatasan dengan Pakistan.

Kami berjongkok di atas kotak-kotak amunisi dalam benteng berdinding lumpur di bawah langit yang penuh bintang. Semuanya baru saja berpesta dengan steik ribeye Texas yang diterbangkan dari Ramstein di Jerman - ya, ini benar-benar terjadi - sebelum roket Taliban menghantam markas tersebut.

Seorang serdadu berusia 19 tahun dari New York bercerita bahwa dia telah kehilangan banyak kawannya selama dia bertugas di sana. "Jika memang sudah waktunya saya, biarlah," katanya sambil mengangkat bahu. Kemudian seseorang mengeluarkan gitar dan menyanyikan tembang populer Radiohead, Creep.

Lagu itu ditutup dengan kata-kata, "What the hell am I doing here? I don't belong here." (Apa yang kulakukan di sini? Aku tidak semestinya berada di sini). Dan saya ingat waktu itu berpikir: tidak, barangkali memang tidak.

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Presiden Amerika Joe Biden dan Ibu Negara Jill Biden Senin sore (12/4) menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah bulan suci Ramadan kepada seluruh komunitas Muslim di Amerika dan di seluruh dunia.

Biden merujuk kondisi pandemi yang membuat begitu banyak keluarga menjalankan ibadah puasa “tanpa orang-orang yang mereka cintai.”

"Namun, komunitas Muslim kita memulai bulan turunnya wahyu dengan harapan baru. Banyak yang meningkatkan kesadaran mereka dengan kehadiran Tuhan dalam kehidupan mereka, memastikan kembali komitmen untuk melayani orang lain yang didorong oleh keimanan mereka, dan menunjukkan rasa syukur atas berkat yang mereka nikmati – kesehatan, kesejahteraan dan kehidupan itu sendiri,” demikian petikan pernyataan Biden.

Lebih jauh Biden menyampaikan betapa warga Muslim-Amerika telah memperkaya Amerika sejak pertama kali negara ini didirikan.

Ia juga menyebut upaya warga Muslim untuk ikut memberantas Covid-19, memainkan peran penting dalam pengembangan vaksin dan sebagai petugas layanan kesehatan di garis depan, maupun sebagai pelayan publik di berbagai bidang lain; “memainkan peran utama dalam perjuangan berkelanjutan demi kesetaraan ras dan keadilan sosial.”

“Tetapi tetap saja warga Muslim-Amerika terus menjadi sasaran perundungan (target bullying), kefanatikan dan kejahatan bermotif kebencian. Prasangka dan serangan-serangan ini salah.

Hal ini tidak dapat diterima. Ini harus dihentikan. Tidak boleh ada satu orang pun di Amerika yang hidup dalam ketakutan untuk mengungkapkan keyakinannya. Pemerintahan saja bekerja tanpa kenal lelah untuk melindungi hak dan keamanan seluruh warga,” tegas Biden.

Biden menggarisbawahi bagaimana pada hari pertama menjabat ia mengakhiri “travel ban” atau larangan perjalanan bagi warga Muslim yang “memalukan.”

Biden berjanji akan terus membela hak asasi di mana pun, termasuk hak warga Uighur di China, warga Rohingya di Birma dan komunitas Muslim di seluruh dunia.

“Ketika kita mengenang orang-orang yang telah meninggalkan kita sejak Ramadan lalu, kita berharap akan datang hari-hari yang lebih cerah di masa depan,” ujar Biden.

Presiden Joe Biden juga mengutip satu ayat dalam Surat An Nur ayat 35 bahwa “Allah adalah pemberi cahaya di langit dan bumi", yang membimbing kita keluar dari kegelapan.

Perayaan-perayaan di Gedung Putih saat ini masih dilangsungkan secara virtual, tetapi di bagian akhir pernyataannya ia mengatakan, “Insya Allah saya dan Jill berharap dapat melangsungkan perayaan Idul Fitri secara langsung di Gedung Putih tahun depan.” [em/lt]

Diterbitkan di Berita

Muhaimin sindonews.com WASHINGTON - Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi adalah pria yang diidentifikasi sebagai pemimpin baru ISIS setelah pemimpin sebelumnya, Abu Bakr al-Baghdadi, tewas selama operasi militer Amerika Serikat (AS) di Suriah tahun 2019.

Bos baru ISIS itu ternyata mantan tahanan militer AS yang kooperatif, yang membantu Amerika dengan memberikan informasi penting tentang kelompok teror tersebut.

Catatan riwayat al-Qurashi ini terungkap dari dokumen AS yang tak dipublikasikan, yang diperoleh The Washington Post.

Menurut dokumen itu, al-Qurashi adalah mantan tahanan yang membantu AS melenyapkan rivalnya di organisasi teroris cikal bakal kelompok ISIS. Dia bekerja dengan AS ketika dia berada di penjara pada akhir tahun 2000-an untuk mengidentifikasi para petinggi kelompok teroris.

Laporan tersebut didasarkan pada interogasi rahasia sebelumnya yang mencatat informasi penting yang diserahkan al-Qurashi kepada Amerika.

Dokumen AS menyebut dia kadang-kadang ingin membocorkan informasi yang membantu pasukan AS melakukan operasi kritis terhadap kelompok teror itu.

Itu termasuk informasi yang membantu pasukan AS menemukan markas besar media rahasia ISIS.

“Tahanan tampaknya lebih kooperatif dengan setiap sesi,” bunyi laporan tahun 2008 yang diperoleh oleh The Washington Post, menggunakan nama asli al-Qurashi, yakni Amir Muhammad Sa'id Abd-al-Rahman al-Mawla.

"Tahanan memberikan banyak informasi tentang rekanan ISIS.” Al-Qurashi ditahan pada akhir 2007 atau awal 2008 dengan catatan interogasi dihentikan pada Juli 2008. Dokumen tersebut tak menyebutkan kapan dia dibebaskan AS.

Namun, selama dua bulan—saat jadi tahanan AS—dia memberikan "harta karun" berupa informasi penting bagi AS, termasuk menyediakan nomor telepon 19 pejabat kelompok cikal bakal ISIS.

Kelompok teroris itu sendiri secara resmi dideklarasikan oleh pemipin pertamanya, Abu Bakr al-Baghdadi, di Mosul, Irak, pada 2014.

Al-Qurashi, lanjut laporan The Washington Postkemarin, juga membantu AS untuk mengembangkan sketsa para pemimpin kelompok teroris.

Pada titik yang tidak diketahui al-Qurashi berhenti bekerja sama, dan laporan tersebut mengatakan bahwa dia menjadi "cemas" atas statusnya. "Menunjukkan bahwa dia mengharapkan imbalan atas jumlah informasi yang dia berikan," tulis The Washington Post.

Pemerintah Amerika belum berkomentar atas bocornya dokumen tentang sosok pemimpin baru ISIS tersebut. Sosok al-Qurashi kini jadi buron, di mana Amerika menawarkan hadiah USD10 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya.
(min)

Diterbitkan di Berita

KBRN, Yerusalem: Kantor Kepresidenan Palestina menyambut baik pernyataan Presiden AS Joe Biden dan komitmennya terhadap solusi dua negara sebagai dasar bagi penyelesaian konflik Palestina-Israel.

Palestina juga menyambut baik pernyataan Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken soal melanjutkan bantuan ekonomi, pembangunan, dan kemanusiaan kepada rakyat Palestina, terutama memberikan dukungan finansial kepada United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees (UNRWA).

Palestina mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa paket bantuan yang ditujukan kepada UNRWA akan berkontribusi bagi pendidikan dan kesehatan ratusan ribu siswa dan jutaan orang yang tinggal di kamp-kamp pengungsi di Palestina dan negara-negara tetangga, serta bantuan ekonomi dan pembangunan lainnya untuk Jalur Gaza dan Tepi Barat melalui Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) 

Seperti dikutip dari MENAFN, Jumat (9/4/2021), Palestina meyakini bantuan ini akan berkontribusi dalam mendukung infrastruktur dan layanan dasar yang diperlukan untuk menghadapi kondisi sulit yang dialami rakyat Palestina di bawah pendudukan dan akibat pandemi corona.

Pimpinan Palestina yang dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas menegaskan kesiapannya untuk bekerja sama dengan pihak internasional, khususnya International Quartet, untuk mencapai solusi politik yang menjamin keamanan dan stabilitas kawasan dengan mendirikan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya dan hidup berdampingan dengan Israel.

Kepresidenan Palestina memperbarui komitmennya terhadap solusi dua negara berdasarkan dasar legitimasi internasional, dan kesediaannya untuk menanggapi setiap upaya internasional untuk mencapai tujuan ini.

Diterbitkan di Berita