VOA Indonesia - Kementerian Pertahanan Afghanistan mengatakan angkatan udaranya telah melakukan lebih banyak serangan udara terhadap posisi Taliban di Afghanistan Selatan, sementara kelompok pemberontak tersebut kembali meraih kemajuan di bagian utara negara itu.

Sebuah pernyataan kementerian pertahanan menyebutkan serangan udara itu sendiri sebetulnya dilangsungkan di berbagai penjuru negara itu, termasuk di provinsi Helmand, di bagian selatan Afghanistan, di mana ibu kota provinsinya -- Lashkar Gah -- sedang diperebutkan dengan sengit.

Taliban menguasai sembilan dari 10 distrik polisi di kota itu. Penduduk di Lashkar Gah melaporkan pengeboman besar-besaran terjadi di dekat stasiun radio dan televisi pemerintah, yang berada di bawah kendali Taliban.

Beberapa balai pernikahan dan wisma gubernur provinsi itu terletak di dekat stasiun radio dan televisi itu.

Di Afghanistan Utara, Taliban menguasai sebagian besar ibu kota provinsi, Sar-e-Pul, kata kepala dewannya, Mohammad Noor Rahmani. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok tersebut telah menguasai puluhan distrik di beberapa provinsi di wilayah utara negara itu.

Serangan Taliban tampaknya meningkat dengan dimulainya penarikan terakhir pasukan AS dan NATO pada akhir April. Pasukan keamanan Afghanistan menanggapinya dengan mengintensifkan serangan udara, dengan bantuan pasukan Amerika Serikat.

Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran banyak pihak tentang jatuhnya korban sipil di berbagai penjuru negara itu.

"Kami sangat prihatin dengan keselamatan orang-orang di Lashkar Gah, di Afghanistan Selatan, di mana puluhan ribu orang kemungkinan terjebak dalam pertempuran," kata Stephane Dujarric, juru bicara PBB, Rabu (4/8).

“Kami, bersama dengan mitra-mitra bantuan kemanusiaan kami di Afghanistan, kini sedang mengevaluasi kebutuhan dan tanggapan yang diperlukan di Afghanistan Selatan, jika akses memungkinkan,'' katanya. [ab/uh]

Diterbitkan di Berita

hops.id Prajurit Amerika Serikat (AS) baru-baru ini terkena jebakan hutan milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), bahkan Departemen Pertahanan AS sampai ikut angkat bicara.

Momen terjeratnya tentara AS oleh jebakan TNI AD tersebut terjadi saat keduanya melaksanakan Latihan Bersama (Latma) Garuda Shield 2021.

Saling unjuk kemampuan dalam pertempuran di lapangan tersebut diperagakan langsung oleh prajurit AS maupun TNI AD.

Kebersamaan kedua prajurit itu diunggah oleh akun Twitter resmi milik Departemen Pertahanan AS (US Departement of Defense).
Melalui sebuah cuitan, pihak Departemen Pertahanan AS pun menjelasakan momen tersebut.

Traversing the jungle and need to make a trap? Soldiers at #GarudaShield can teach you everything you need to know! @USArmy and @tni_ad soldiers are testing their jungle warfare abilities at Baturaja Training Area, Indonesia. (Melintasi hutan dan perlu membuat jebakan? Tentara di #GarudaShield dapat mengajari Anda semua yang perlu Anda ketahui! @USArmy dan @tni_ad, tentara sedang menguji kemampuan perang hutan mereka di Area Pelatihan Baturaja, Indonesia),” kicaunya, dikutip Hops pada Kamis, 5 Agustus 2021.

 
Kegiatan latihan bersama prajurit AS dan TNI
Prajurit AS kena jebakan hutan milik TNI AD. Foto: Twitter
Prajurit AS kena jebakan hutan milik TNI AD. Foto: Twitter

 

Dalam sebuah video berdurasi kurang dari satu menit yang dibagikan, terlihat kegiatan latiahn bersama antar kedua pihak prajurit kebanggaan AS dan Indonesia tersebut.

Namun uniknya dalam Latma Garuda Shield ke-15 ini, sejumlah prajurit TNI mengajarkan para tentara AS membuat jebakan di hutan dengan peralatan yang cukup sederhana.

Dengan hanya bermodalkan seutas tali, batang ranting pohon, dan dedaunan prajurit TNI berhasil membuat tentara AS kagum. Dibantu oleh seorang penerjemah yang juga merupakan anggota TNI Angkatan Darat, prajurit TNI menunjukkan aksinya dalam membuat jebakan di hutan.

Terlihat pula latihan tersebut dilakukan di sebuah area yang dikelilingi oleh pepohonan. Sejumlah tentara Amerika pun tampak dengan serius menyaksikan keahlian dari prajurit TNI dalam membuat jebakan.

 

Prajurit AS kena jebakan hutan milik TNI AD. Foto: Twitter
Prajurit AS kena jebakan hutan milik TNI AD. Foto: Twitter

 

Kemudian video tersebut dilanjutkan oleh seorang tentara AS yang mencoba memastikan jebakan yang dipasang prajurit TNI berfungsi secara maksimal.

Adapun berdasarkan tanda pengenal seragam tempurnya, tentara asal Negeri Paman Sam itu bernama Contreras.

Entah apa yang dilakukan oleh Contreras, dia pun terkena jebakan hutan yang dipasang oleh prajurit TNI. Terlihat dalam akhir video, tangan kiri Contreras terlilit tali jebakan.

Walhasil para prajurit TNI dan tentara AS yang melihatnya tertawa geli, bahkan beberapa di antara mereka ada pula yang merekam momen tersebut.

Sebagaimana diketahui, para prajurit TNI sejak lama memang dikenal memiliki kemampuan yang baik dalam peperang di hutan atau yang disebut gerilya. Makanya enggak heran kalau prajurit TNI mahir dalam membuat jebakan hutan.

 
 
 
Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia - Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) hari Rabu (4/8) mengatakan 93% dari seluruh kasus baru virus corona di Amerika adalah varian delta.

Angka terbaru CDC untuk minggu yang berakhir 31 Juli menunjukkan varian delta, termasuk sub-varian keturunannya, yang semuanya diklasifikasikan sebagai varian yang menjadi perhatian, mencakup 93% dari semua kasus di Amerika selama dua minggu terakhir Juli lalu.

Varian itu menyumbang kasus yang lebih tinggi di wilayah tertentu di Amerika, antara lain di Midwest – termasuk Iowa, Kansas, Missouri dan Nebraska – di mana delta menyumbang 98% dari semua kasus.

Di wilayah seperti North dan South Dakota, Colorado, Montana, Utah dan Wyoming, varian delta mencakup 95% dari semua kasus. Angka-angka itu mewakili peningkatan pesat prevalansis varian itu sejak akhir Mei lalu, ketika hanya 3% dari semua kasus yang merupakan varian delta.

CDC juga mengatakan rata-rata kasus harian baru selama seminggu terakhir naik dari 40.597 kasus per hari menjadi 66.606 kasus per hari pada minggu lalu, atau berarti meningkat lebih dari 64%.

Meskipun masih lebih rendah dibanding puncak kasus baru pada perebakan Januari lalu ketika ada 300.000 kasus baru per hari, lonjakan kasus baru ini jauh lebih tinggi dibanding Mei lalu ketika rata-rata kasus harian baru hanya lebih dari 8.000 kasus. [em/jm]

Diterbitkan di Berita

LAS VEGAS, POSKOTA.CO.ID Seorang ayah di Las Vegas yang sekarat karena Covid-19 mengirimi tunangannya teks yang memilukan "Saya seharusnya mendapatkan vaksin sialan itu" tepat sebelum dia meninggal. 

Dilansir dari laman New York Post, Michael Freedy (39) sempat pergi berlibur dengan tunangan Jessica du Preez dan anak-anak mereka yang berusia 17, 10, 7, 6 dan 17 bulan, pada pertengahan Juli 2021.

Beberapa saat setelah mereka kembali, Freedy pergi ke rumah sakit dengan gejala yang paling umum dialami oleh pasien Covid-19 sepert demam, batuk kering dan kelelahan. Akhirnya beberapa hari kemudian dia dinyatakan positif Covid19.

Dia pulang ke rumah untuk mencoba mengatasi penyakitnya dengan memisahkan dirinya dari keluarganya, tetapi gejalanya menjadi semakin parah.

"Selasa pagi, sekitar jam 3 atau 4 pagi, dia membangunkan saya dengan panik.  Dia mengatakan seperti, 'Saya tidak bisa bernapas. Saya tahu ada yang tidak beres.’” kata du Preez kepada stasiun TV Fox.

Freedy bahkan tidak bisa berdiri, jadi tunangannya mengantarkan Freedy kembali ke rumah sakit. Dia dirawat dengan gejala pneumonia di kedua paru-paru dan pindah ke rumah sakit lain, di mana du Preez diizinkan untuk melihatnya.

"Saya terus mengatakan kepadanya, 'Kamu akan melewati ini, kamu harus pulang kepada kami,'" katanya. Sebaliknya, kondisinya memburuk, dan dia dipindahkan ke ICU.

"Saya bisa menelepon sebelum mereka membawanya masuk, dan dia duduk di telepon," kata du Preez. “Dan aku bisa mendengarnya. Saya seperti, 'Tolong terus berjuang. Jangan menyerah.'

Dan dia seperti, 'Saya mencoba untuk melawan, tetapi mereka akan mengintubasi saya dan menempatkan saya di bawah.'”

Pada suatu ketika, Freedy mengirimi du Preez SMS dari rumah sakit. “Ya Tuhan [sumpah serapah] saya. Ini mengerikan. Aku seharusnya mendapatkan vaksin sialan itu." ,” tulisnya, menurut afiliasi CBS-TV, KLAS. 

Freedy meninggal di rumah sakit Kamis (29/7/2021) pagi dan tetap ada du Preez di sisinya.

“Saya berada di rumah sakit mengunjungi Mike dan menceritakan semua tentang hari anak-anak kami dan bagaimana semua orang mendukungnya,” du Preez memposting di halaman GoFundMe. “Nomornya jatuh dan mereka tidak dapat mengembalikannya.

“Cinta dalam hidupku, batuku, segalanya bagiku. Ayah dari bayi saya, tidak lagi bersama kami. Saya tidak tahu harus berbuat apa.” Freedy tidak divaksinasi - meskipun tunangannya mengatakan pasangan itu telah merencanakan untuk vaksinasi tetapi semuanya sekarang sudah telat. (cr03)

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia - Studi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Amerika Serikat menunjukkan tiga perempat orang yang terinfeksi COVID-19 pada sebuah acara publik Juli di Cape Cod, Massachusetts, AS, telah divaksinasi penuh.

Studi CDC menemukan individu yang divaksinasi memiliki jumlah virus yang sama dengan yang tidak divaksinasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa, tidak seperti varian lain, orang yang divaksinasi tapi terinfeksi varian Delta, dapat menularkan virus tersebut.

 

Dr. Rochelle Walensky, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, bersaksi dalam sidang Senat di Capitol Hill di Washington, 18 Maret 2021. (Foto: AP)
Dr. Rochelle Walensky, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, bersaksi dalam sidang Senat di Capitol Hill di Washington, 18 Maret 2021. (Foto: AP)

 

Direktur CDC Rochelle Walensky mengatakan tersebut adalah "penemuan penting" yang mengarah pada rekomendasi CDC minggu ini bahwa masker harus digunakan di wilayah yang terjadi lonjakan kasus.

Langkah itu dilakukan sebagai tindakan pencegahan terhadap kemungkinan penularan oleh orang yang telah divaksinasi penuh.

CDC mengatakan 469 kasus ditemukan di antara penduduk Massachusetts dari 3 hingga 26 Juli terkait dengan wabah Cape Code. Dari jumlah tersebut, 74% di antaranya adalah warga yang telah divaksinasi lengkap.

CDC mengatakan studinya tidak mengikutsertakan penduduk dari 22 negara bagian lain. Barnstable County melaporkan bahwa pada 30 Juli, terdapat 934 total kasus dikaitkan dengan wabah tersebut.

CDC mengatakan bahwa secara keseluruhan, 79% dari individu yang divaksinasi yang terinfeksi COVID-19 juga melaporkan gejala seperti batuk, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan demam. Empat korban harus dirawat di rumah sakit.

Menurut data, individu yang divaksinasi telah menerima salah satu dari tiga suntikan yang tersedia yang dibuat oleh Pfizer Inc dan BioNTech, Moderna Inc atau Johnson & Johnson. [ah]

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Utah - Di tengah kebangkitan infeksi dan angka kematian virus corona COVID-19 varian delta di Amerika Serikat, beberapa orang yang pernah menolak vaksin atau hanya menunggu terlalu lama sekarang bergulat dengan konsekuensinya.

"Kami tidak mendapatkan vaksin," kata Mindy Greene menulis di postingan Facebook-nya, ketika menghabiskan satu hari lagi di unit perawatan intensif COVID-19, mendengarkan mesin berputar yang sekarang bernapas untuk suaminya yang berusia 42 tahun, Russ. 

"Saya membaca semua jenis hal tentang vaksin dan itu membuat saya takut. Jadi saya membuat keputusan dan berdoa tentang hal itu dan mendapat kesan bahwa kami akan baik-baik saja," lanjutnya seperti diwartakan oleh the New York Times, disadur pada Minggu (1/8/2021).

Suaminya, ayah untuk empat anak mereka, sekarang melayang antara hidup dan mati, tentakel tabung tumpah dari tubuhnya.

Pasien di kamar sebelah suaminya telah meninggal beberapa jam sebelumnya. Hari itu, 13 Juli, Greene memutuskan untuk menambahkan suaranya ke sekelompok orang yang tidak mungkin berbicara dalam debat nasional terpolarisasi tentang vaksinasi: penyesalan.

 

 

"Jika saya memiliki informasi yang saya miliki hari ini, kami akan mendapatkan vaksinasi," tulis Greene.

"Saya memiliki rasa bersalah yang luar biasa," kata Greene suatu pagi ketika dia duduk di lobi lantai empat di luar I.C.U. di rumah sakit Utah di Provo, yang melihat ke pegunungan di mana keluarganya pernah pergi mendaki.

"Saya masih menyalahkan diri saya sendiri. Setiap hari."

Lonjakan infeksi dan rawat inap baru-baru ini di antara orang-orang yang tidak divaksinasi telah membawa realitas suram COVID-19 menerjang rumah bagi banyak orang yang berpikir mereka telah melewati pandemi.

Tapi sekarang, dengan kemarahan dan kelelahan menumpuk di semua sisi, pertanyaannya adalah apakah cerita mereka benar-benar dapat berubah pikiran.

Beberapa orang yang dirawat di rumah sakit dengan virus masih bersumpah untuk tidak mendapatkan vaksinasi, dan survei menunjukkan bahwa mayoritas orang AS yang tidak divaksinasi tidak bergeming.

Tetap Menyangkal Meski Tengah Terinfeksi dengan COVID-19
 

 

Dokter di unit COVID-19 mengatakan beberapa pasien masih menolak untuk percaya bahwa mereka terinfeksi apa pun, kecuali anggapan bahwa itu hanya sebatas flu.

"Kami memiliki orang-orang di I.C.U dengan COVID-19 yang menyangkal mereka memiliki COVID-19," kata Dr. Matthew Sperry, seorang dokter perawatan kritis paru yang telah merawat suami Greene. "Tidak peduli apa yang kita katakan, mereka tetap menyangkal."

Rawat inap COVID-19 di Utah telah meningkat 35 persen selama dua minggu terakhir, dan Dr. Sperry mengatakan unit perawatan intensif di seluruh sistem 24 rumah sakit tempatnya bekerja 98 persen penuh.

Namun, beberapa rumah sakit yang dibanjiri pasien di daerah yang sebagian besar berhaluan politik konservatif dan tidak divaksinasi telah mulai merekrut penyintas COVID-19 sebagai utusan kesehatan masyarakat dari upaya terakhir.

Harapannya adalah bahwa skeptis satu kali mungkin hanya membujuk orang lain yang menolak kampanye vaksinasi yang dipimpin oleh Presiden Biden, Dr. Anthony S. Fauci dan pasukan dokter dan petugas kesehatan setempat.

Mereka adalah cerita Scared Straight untuk pandemi yang telah berkembang pada informasi yang salah, ketakutan dan divisi partisan yang mengeras tentang apakah akan divaksinasi atau tidak.

"Orang-orang menciptakan berita dari tempat tidur rumah sakit mereka, dari bangsal," kata Rebecca Weintraub, seorang asisten profesor kesehatan global dan kedokteran sosial di Harvard Medical School.

"Ini adalah aksesibilitas pesan: 'Saya tidak melindungi keluarga saya sendiri. Biarkan aku membantumu melindungimu.'"

 

 

Di Springfield, Missouri, di mana kasus coronavirus meningkat musim panas ini, Russell Taylor duduk dengan gaun rumah sakit, cup oksigen yang terbungkus di wajahnya, untuk menawarkan testimoni pro-vaksin dalam video rumah sakit.

"Saya berharap bisa mendapatkannya sekarang," katanya. Seorang pria Texas yang menjalani transplantasi paru-paru ganda setelah tertular virus membuat permohonan di televisi lokal bagi orang lain untuk mendapatkan vaksinasi.

Dan dengan suara gemetar, seorang administrator klinik rumah sakit di pedesaan Utah menggambarkan bagaimana dia telah dipukul oleh pneumonia ganda dan sepsis setelah memilih untuk tidak mendapatkan vaksinasi.

Wanita itu, Stormy, mengatakan butuh berminggu-minggu untuk untuk berbicara dalam video yang diposting oleh departemen kesehatan setempat.

Dia melakukannya hanya menggunakan nama depannya karena dia khawatir bahwa penyangkal COVID-19 akan mengatakan dia mengada-ada.

"Saya benar-benar takut dengan aspek negatif yang bisa datang darinya," katanya dalam sebuah wawancara pekan ini. "Saya adalah bagian dari masalah yang ingin saya hindari."

Beberapa orang yang cepat merangkul vaksin sekarang memilih untuk berbicara tentang anggota keluarga yang tidak selamat.

Itu adalah peran yang tidak pernah diinginkan Kimberle Jones, tetapi satu dia memeluk setelah putrinya, Erica Thompson, 37, seorang ibu dari St. Louis, meninggal pada 4 Juli, hampir tiga bulan setelah dia memiliki apa yang dia pikir adalah serangan asma yang buruk.

"Saya ingin menjadi suara untuknya," kata Jones, yang mendapat vaksinasi segera setelah dia bisa. "Saya benar-benar berpikir putri saya ingin saya mengatakan, 'Pergilah mendapatkan vaksinasi.'"

Ibunya mengatakan Thompson telah skeptis tentang seberapa cepat vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech telah diluncurkan - puncak dari penelitian ilmiah selama beberapa dekade.

Dia juga percaya bahwa kampanye yang dikelola pemerintah adalah plot terhadap orang Kulit Hitam seperti dia, menurut ibunya.

Tingkat vaksinasi untuk orang Amerika Hitam dan Hispanik tertinggal dari populasi kulit putih, celah yang dikaitkan para peneliti dengan ketidakpercayaanyang berakar pada sejarah diskriminasi medis dan kurangnya akses dan penjangkauan.

"Kata-kata terakhirnya kepada saya adalah, 'Mama, saya tidak bisa bernapas,'" kata Nn. Jones.

 

 

Di Utah, Greene mengatakan suaminya telah meninggalkan keputusan vaksinasi keluarga di tangannya. Dia awalnya berencana untuk mendapatkan tembakan segera setelah tetangga sebelahnya, seorang dokter, mendapatkan miliknya.

Tetapi dia memiliki kekhawatiran tentang vaksin, dan menemukan banyak alasan untuk ragu-ragu ketika dia menggulir melalui media sosial atau berbicara dengan teman-teman anti-vaksin. "Anda perlu menonton ini," tulis salah satu padanya.

Mengklik beberapa tautan membawanya ke lubang kelinci teori konspirasi yang disebut-sebut oleh pengacara anti-vaksin dan YouTuber, dan video di mana dokter dan perawat anti-vaksin menyatakan tembakan Covid-19 sebagai "bioweapon."

COVID-19 menerjang dunia keluarga pada akhir Juni ketika dua putra tertua mereka membawa pulang virus dari kamp gereja di mana sembilan anak laki-laki terinfeksi.

Virus menyapu seluruh keluarga. Kemudian datang pada hari ketika Mr Greene, seorang pemburu yang mendaki melintasi pegunungan, harus dilarikan ke rumah sakit ketika kadar oksigennya jatuh.

"Saya akan selalu menyesal bahwa saya mendengarkan informasi yang salah yang diletakkan di luar sana," kata Ms Greene. "Mereka menciptakan rasa takut."

Pandangannya bergeser saat virus merusak tubuh suaminya dan dokter menempatkannya di ventilator.

Mereka bergeser ketika dia berbicara dengan dokter dan perawat tentang pasien yang tidak divaksinasi mengalir ke rumah sakit dan duduk di luar I.C.U., mendengarkan helikopter penerbangan hidup tiba.

Ms Greene mengatakan dia telah membuat janji untuk mendapatkan anak-anaknya divaksinasi.

 
Diterbitkan di Berita
 
 
VOA Indonesia - Pegawai federal di Washington DC dan beberapa kota lain hari Rabu (28/7) mulai kembali mengenakan masker di tempat kerja mereka, di tengah perebakan luas varian Delta.
Pegawai pemerintah diperkirakan akan diberitahu secara resmi pada hari Kamis (29/7) bahwa mereka perlu divaksinasi atau mengikuti uji medis secara teratur.
 
Karine Jean-Pierre, wakil juru bicara Gedung Putih
Karine Jean-Pierre, wakil juru bicara Gedung Putih 
 
“Meskipun belum ada keputusan final, saya ingin mengatakan bahwa bukti vaksinasi bagi pegawai federal merupakan salah satu opsi yang sedang menjadi pertimbangan utama,” ujar Karine Jean-Pierre, wakil juru bicara Gedung Putih kepada wartawan di Air Force One dalam penerbangan singkat dari Pangkalan Udara Andrews di Maryland ke Pennsylvania.
 
Ketika wartawan menanyakan tentang keharusan mengenakan masker kepada Presiden Joe Biden ketika ia meninggalkan pesawat, ia mengatakan akan berbicara tentang hal-hal terkait virus corona pada hari Kamis (29/7).
Tanda-tanda kewajiban mengenakan masker bagi pegawai federal telah tampak di sebagian gedung federal, termasuk di ruang jumpa pers Gedung Putih, yang meminta agar mereka yang telah divaksinasi pun untuk mengenakan masker. 

 

 

“Di kawasan yang memiliki penularan substansial atau tinggi, badan-badan federal harus mewajibkan semua pegawai federal, kontraktor dan pengunjung atau tamu yang datang – terlepas apakah mereka sudah divaksin atau belum – untuk mengenakan masker di dalam gedung federal,” demikian petikan pernyataan Kantor Manajemen dan Anggaran dalam email ke seluruh badan federal Selasa malam (27/7).

“Mulai hari ini, kebijakan itu mencakup wilayah Washington DC,” tambah pernyataan itu.

Mengenakan Masker Jadi Keharusan di DPR

Masker juga menjadi suatu keharusan di DPR setelah dokter yang hadir di gedung Capitol mengambil langkah itu pasca rekomendasi Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) hari Selasa bahwa mereka yang sudah divaksinasi sekali pun harus tetap mengenakan masker di dalam ruangan pada fasilitas umum di daerah-daerah dengan tingkat perebakan substansial atau tinggi.

 

Pemimpin faksi Republik di DPR AS, Kevin McCarthy menolak "wajib masker".
Pemimpin faksi Republik di DPR AS, Kevin McCarthy menolak "wajib masker".

 

Pemimpin faksi Republik di DPR, Kevin McCarthy, menolak hal itu dengan mengatakan keharusan mengenakan masker “bukan keputusan yang didasarkan pada sains.”

Ketika dimintai pendapat terhadap pernyataan McCarthy itu, Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan “ia orang bodoh.”

 

https://twitter.com/DaniellaMicaela/status/1420387417358577664

 

Partai Republik telah “membangkang” untuk mengikuti sains tentang masker dan vaksin di tengah perebakan pandemi virus corona, tambah Pelosi kepada wartawan dalam konferensi pers regular di Capitol Hill.

Departemen Urusan Veteran Jadi Badan Federal Pertama yang Haruskan Masker

Departemen Urusan Veteran yang mengelola sekitar 1.400 fasilitas medis di Amerika, Senin lalu (26/7) menjadi badan federal pertama yang mengharuskan vaksinasi seluruh pegawai layanan kesehatannya.

Departemen itu mengatakan hampir 150 pegawainya telah meninggal dunia karena tertular COVID-19 sejak Maret 2020.

Gubernur New York Andrew Cuomo hari Rabu (28/7) mengumumkan bahwa semua pegawai negara bagian itu – yang jumlahnya mencapai sekitar 10.000 orang – harus sudah divaksinasi selambat-lambatnya pada Hari Buruh 6 September mendatang.

“Ini tindakan yang pintar, adil dan demi kepentingan semua orang,” tegas Cuomo. Walikota New York Bill de Blasio menyampaikan pengumuman serupa Senin lalu pada 300.000 pegawainya.

 

 

Setelah California, Kini New York

New York menjadi negara bagian kedua setelah California yang memberlakukan kebijakan seperti itu bagi seluruh pegawai pemerintah.

Kebijakan yang diumumkan Gubernur California Gavin Newsom Senin lalu tidak hanya mencakup 246.000 pegawai pemerintah negara bagian, tetapi juga lebih dari dua juta petugas layanan kesehatan di sektor pemerintah dan swasta.

Kasus COVID-19 di Amerika meningkat pesat empat kali lipat dibanding bulan lalu. Johns Hopkins University mengatakan jumlah kasus COVID-19 di Amerika adalah yang tertinggi di dunia yaitu lebih dari 34,6 juta orang, dan sekitar 611.000 ribu kematian. [em/lt]

Diterbitkan di Berita

Dalam beberapa bulan mendatang, pasukan Amerika Serikat (AS) di Irak akan mengakhiri misi tempurnya. Presiden Joe Biden mengumumkan hal itu pada Senin (26/7) dalam pertemuan di Gedung Putih dengan Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi.

Menanggapi pertanyaan wartawan di Oval Office, Biden yang didampingi pemimpin Irak itu mengatakan, peran baru pasukan Amerika di Irak adalah "terus melatih, membantu, menolong dan menghadapi ISIS jika bangkit, tapi menjelang akhir tahun ini, kita tidak akan lagi dalam misi tempur."

Biden menolak mengatakan berapa banyak dari sekitar 2.500 tentara AS yang akan tetap berada di Irak.

Dalam pernyataan bersama AS-Irak yang dikeluarkan pada Senin (26/7) setelah pertemuan teknis, kedua negara mengatakan, "Hubungan keamanan akan sepenuhnya beralih ke peran pelatihan, pemberian nasihat, bantuan, dan berbagi intelijen. Tidak akan ada pasukan AS yang melakukan peran tempur di Irak menjelang 31 Desember 2021."

"Ini adalah pergeseran misi. Ini bukan menarik kemitraan atau kehadiran kita atau hubungan erat kita dengan para pemimpin Irak," kata juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki, kepada wartawan sesaat sebelum pertemuan di Oval Office itu.

Pasukan AS di Irak "mampu melakukan banyak hal," kata Menteri Pertahanan Lloyd Austin kepada sekelompok wartawan di Alaska, Sabtu (24/7).

Ditanya oleh VOA apakah ia akan mengklasifikasikan pasukan Amerika yang saat ini berada di Irak sebagai pasukan tempur atau utamanya untuk melatih, memberi nasihat dan membantu, Austin menjawab: "Saya rasa sangat sulit untuk membuat perbedaan itu. Namun, saya akan mengatakan, kuncinya adalah apa tujuan kita, apa tugas yang diberikan kepada kita pada saat itu."

Para pejabat mengatakan penekanannya akan tetap pada mencegah terulangnya apa yang terjadi tujuh tahun lalu, ketika kelompok ISIS menyapu Mosul dan puluhan ribu pejuang asing mengalir ke Irak dan negara tetangga Suriah. Pasukan pemerintah Irak hampir tidak berdaya, dan puluhan serangan bom bunuh diri terjadi setiap bulan. [my/ka]

Diterbitkan di Berita

Diaspora Jawa merupakan salah satu kelompok etnis asal Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Di ibu kota AS Washington, D.C., dan sekitarnya kelompok ini bersatu dalam wadah bernama Paguyuban Orang Jawa (Paguyuban Tiyang Jawi/PTJ) dengan tujuan untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa serta ikut memperkenalkan keragaman budaya Indonesia di Amerika.

Paguyuban Orang Jawa (Paguyuban Tiyang Jawi/PTJ) didirikan sebagai ajang silaturahmi warga Jawa dan bertujuan untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa, terutama bagi generasi muda dan penerus, serta untuk membantu memperkenalkan keragaman budaya Indonesia di Amerika.

Sebagai warga Jawa di Amerika, pengurus dan para anggota PTJ juga ingin mempertahankan ciri-ciri yang khas, nilai-nilai yang luhur, dan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari etnis Jawa, serta tidak melupakan asal-usulnya, atau tidak ingin seperti kata peribahasa, “kacang lupa pada kulitnya.”

Lantip Sri Sadewo, Pengurus PTJ (foto: courtesy).
Lantip Sri Sadewo, Pengurus PTJ (foto: courtesy).

 

Lantip Sri Sadewo, atau yang akrab dipanggil Dewo, adalah salah seorang penggagas, pendiri dan aktivis PTJ. Pria berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah ini telah tinggal di Amerika selama 21 tahun.

Lulusan IKIP Semarang ini mengelola seksi seni budaya dalam kepengurusan PTJ, dan ikut berperan sebagai salah seorang pelatih grup seni reog Ponorogo.

Dewo mengatakan bahwa sebenarnya PTJ berdiri untuk memfasilitasi keinginan dan kerinduan banyak warga diaspora Jawa di Washington, D.C. dan sekitarnya.

"Masyarakat Jawa di sini menanyakan apa sebenarnya wadah untuk berkumpulnya komunitas Jawa karena selama ini, selama puluhan tahun, di Washington tidak ada wadah yang tepat, yang bisa dijadikan sebagai ajang komunikasi antar diaspora Jawa. Makanya kami kemudian membentuk satu tim untuk membentuk kepengurusan PTJ agar kegiatan-kegiatan yang bersifat kejawaan itu kemudian bisa terorganisir, dan alhamdulillah melalui beberapa kegiatan termasuk yang bertempat di kediaman ambassador (Duta Besar RI), bisa kami lakukan,” ujarnya.

Menurut Dewo, masing-masing anggota dan pengurus memiliki kesibukan dengan urusan pekerjaan masing-masing.

Namun, pengurus bertekad akan mengelola PTJ dengan baik dan terus berusaha mengadakan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan untuk mengobati kerinduan tersebut, sekaligus memupuk persaudaraan di antara para anggotanya serta merawat dan meneruskan warisan budaya Jawa kepada generasi muda sekarang dan generasi penerus mendatang.

 

Pengurus grup seni Singo Lodoyo menunjukkan piagam penghargaan yang diterima dari Duta Besar RI di Washington DC (foto: courtesy).
Pengurus grup seni Singo Lodoyo menunjukkan piagam penghargaan yang diterima dari Duta Besar RI di Washington DC (foto: courtesy).

 

"Aktivitas-aktivitas yang kita lakukan salah satunya aktivitas kemanusiaan, aktivitas budaya. Itulah hal yang paling kita pentingkan, yakni ikut melestarikan kebudayaan Jawa sehingga kebudayaan Jawa ini bisa tetap lestari. Walaupun kita berada jauh dari tanah air, akan tetapi kecintaan kita terhadap budaya kita masih tetap kita pertahankan.”

Selain itu, Dewo mengatakan bahwa selama pandemi COVID-19, PTJ ikut merasa prihatin dan peduli dengan kondisi saudara-saudara di Indonesia.

 

Reog Singo Lodoyo pentas pada Festival Bunga Sakura (Cherry Blosson Festival) di Washington DC (foto: courtesy).
Reog Singo Lodoyo pentas pada Festival Bunga Sakura (Cherry Blosson Festival) di Washington DC (foto: courtesy).

 

"Melalui kegiatan ini, kami, baik PTJ maupun Singo Lodoyo, kita bekerja sama, bahu-membahu untuk kemudian mencoba melakukan fund raising, mengumpulkan dana dari teman-teman. Dasar kenapa kita melakukan itu karena kita ikut prihatin, ikut sedih melihat dan mendengar situasi di Indonesia.

COVID-19 begitu merajalela dan banyak sekali kekurangan di antara warga kita, saudara-saudara kita di Indonesia sehingga kami berupaya untuk membantu semampu kami. Kami bukan orang yang mampu dengan jumlah besar, tetapi kami memiliki usaha, memiliki empati untuk berusaha ikut membantu melalui dana yang sampai saat ini kita belum bisa menghitung. Jadi, seberapapun hasil dari kegiatan ini, maupun hasil dari aktivitas panitia nanti sepenuhnya akan kita serahkan ke Indonesia. Siapa dan di mana penerimanya, itu nanti akan kami rembuk lagi.”

Pihak KBRI, menurut Dewo, memberikan sumbangan secara moril, dorongan dan motivasi, dan izin penggunaan fasilitas, seperti juga kepada semua perkumpulan diaspora Indonesia di Washington, D.C. Dia menambahkan, “sangat kami harapkan bahwa tidak hanya KBRI tetapi juga semua pihak, termasuk dari Indonesia bisa mendukung kami untuk tetap melestarikan budaya Jawa di tanah Paman Sam ini.”

Singo Lodoyo adalah grup reog Ponorogo yang walaupun dibentuk jauh sebelum lahirnya PTJ, kini menjadi salah satu bentuk perkumpulan seni kebanggaan warga Jawa di ibu kota Amerika dan sekitarnya.

 

Bandi Wiyono, Ketua grup seni Reog Singo Lodoyo (foto: courtesy).
Bandi Wiyono, Ketua grup seni Reog Singo Lodoyo (foto: courtesy).

 

Bandi Wiyono, pria asli dari Ponorogo, adalah ketua grup yang telah bertahan selama 15 tahun itu.

"Reog Singo Lodoyo didirikan bulan Mei tahun 2006 karena sebagai orang Jawa di perantauan, rasa “kangen” dan cinta budaya Jawa itu tidak bisa dibendung lagi, sehingga akhirnya saat itu kita mengumpulkan iuran, mengumpulkan dana dan akhirnya kita bisa membeli reog satu unit lengkap langsung dari Ponorogo. Reog itu dibawa ke Washington melalui kerjasama dengan Embassy of Indonesia.”

Bandi mengatakan sumbangan KBRI “sangat luar biasa,” terutama dari segi pendanaan. “Kadang-kadang ketika grup reog ini mengadakan tur ke luar daerah, misalnya Chicago atau New York, KBRI juga selalu membantu soal dana, di samping grup juga mendapatkan sponsor,” tambahnya.

Berbagai kegiatan pentas telah dilakukan oleh grup ini, baik partisipasi rutin dalam perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, maupun berbagai event internasional.

“Setiap (ada perayaan) Indonesian Independence Day kita selalu ikut berperan serta, terus sebelum COVID, kita selalu aktif mengikuti kegiatan di International Festival di Takoma Park setiap bulan September. Kita juga mengikuti Bowie International Festival dan kita sudah pernah main di New York dua kali di diaspora community New York, juga di Chicago dan di Philadelphia malah empat kali.”

 

Reog Singo Lodoyo pentas untuk peringatan HUT RI di Wisma Indonesia Washington DC (foto: courtesy).
Reog Singo Lodoyo pentas untuk peringatan HUT RI di Wisma Indonesia Washington DC (foto: courtesy).

 

Menurut Bandi, Singo Lodoyo juga telah pentas di berbagai kota di negara bagian Virginia dalam berbagai event internasional, seperti Asian Heritage Festival. “Jadi kita ikut di dalamnya, semua untuk mempromosikan budaya reog dari lokal ke dunia internasional,” ujarnya.

Bandi merasa bersyukur bahwa reog Ponorogo sebagai salah satu bentuk seni Jawa dihargai di Amerika. “Yang jelas masyarakat Amerika sangat menerima dan sangat antusias dengan budaya reog yang berada di Amerika dan kami mendapatkan support yang luar biasa. Makanya kami bisa berdiri sampai sekarang.”

Kiprah Singo Lodoyo telah membuahkan berbagai penghargaan, mulai dari Duta Besar RI di Washington, D.C., hingga berbagai penyelenggara festival, termasuk untuk kategori “good performance award” pada festival diaspora di Chicago.”

 

Ketua grup Reog Singo Lodoyo menerima penghargaan dari Duta Besar RI di Wasington DC (foto: courtesy).
Ketua grup Reog Singo Lodoyo menerima penghargaan dari Duta Besar RI di Wasington DC (foto: courtesy).

 

Bandi mengatakan sejauh ini telah terjadi tiga kali regenerasi pemain Singo Lodoyo. “Mulai sekarang ini jathil itu semua dari orang kita, tapi kelahirannya di Amerika. Jadi, biar sambil memperkenalkan budaya reog dari orang-orang kita itu, biar mengerti reog itu apa sih. Alhamdulillah anak-anak yang kelahiran di sini mengerti reog semua sekarang ini.”

Bandi menambahkan bahwa Singo Lodoyo sudah bersilaturahmi dengan Bupati Ponorogo untuk mencoba menjajaki kerja sama dengan pemerintah daerah kabupaten di Jawa Timur itu. “Kami juga sudah dua kali melakukan (pertemuan) virtual dan alhamdulillah dia juga sangat mendukung dengan adanya reog yang berada di sini. Semoga nanti menjadi kerja sama yang bagus sekali dan memajukan budaya Ponorogo ke Amerika. Kita hidup di Amerika selalu sibuk bekerja, tapi kita akan cinta dan rindu akan reog Ponorogo. Kita akan melanjutkan supaya reog Ponorogo maju, dari lokal ke pentas internasional.”

 

Franklin Paul Norris, Penulis dan Peneliti (foto: courtesy).
Franklin Paul Norris, Penulis dan Peneliti (foto: courtesy).

 

Berbicara kepada VOA, Franklin Paul Norris, warga Amerika yang beristrikan seorang wanita Jawa menyatakan sangat mendukung berdirinya Paguyuban Tiyang Jawi. “Sumbangan organisasi-organisasi warisan budaya seperti PTJ di Washington, D.C., sebenarnya sangat berharga, terutama bagi orang-orang di Amerika Serikat yang mungkin sama sekali belum pernah mendengar tentang Indonesia maupun penduduk Jawa.”

Paul, yang bekerja sebagai penulis dan peneliti lepas, mengatakan fungsi sumbangsih budaya seperti yang dilakukan oleh PTJ jelas tidak hanya memperkaya ragam dan khazanah budaya dalam suatu komunitas, tetapi terlebih penting lagi dapat menambah perspektif orang-orang dalam komunitas bersangkutan. "Jadi, fungsi sumbangsih budaya dari organisasi semacam ini memberi orang perspektif tambahan untuk memahami dan menemukan arti informasi di sekitar mereka, pengalaman-pengalaman mereka. Dalam dunia modern yang terglobalisasi, orang benar-benar membutuhkan sebanyak mungkin alat perspektif yang berbeda-beda yang dapat mereka kumpulkan untuk membantu mereka menghadapi dan mengatasi dunia modern ini serta semua informasi berbeda yang mereka hadapi setiap hari. Jadi, melalui uluran tangannya, organisasi PTJ benar-benar memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

PTJ, yang menurut pengurusnya beranggotakan sekitar 300 orang (dari perkiraan sekitar 500 orang Jawa di Metropolitan Washington, D.C.), hanyalah salah satu kelompok sosial kemasyarakatan berbasis etnis yang dibentuk oleh diaspora Indonesia di Amerika.

Yudho Sasongko, Minister Counselor dan Kepala Fungsi Penerangan dan Sosial-Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) menyatakan sesuai data yang ada di KBRI, warga negara Indonesia yang mencatatkan diri ke perwakilan RI di seluruh AS jumlahnya diperkirakan 150 ribu orang. Dari jumlah itu, menurutnya, jumlah WNI yang bermukim di District of Columbia, Maryland dan Virginia (DMV) tercatat sekitar 3.000 orang. [lt/ab]

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat akan terus melancarkan gempuran udara untuk membantu pasukan Afghanistan melawan Taliban, demikian menurut seorang petinggi militer AS.

Taliban meningkatkan serbuan dalam beberapa pekan ke belakang dan menguasai perbatasan serta beberapa wilayah pedesaan, setelah presiden AS Joe Biden pada April lalu mengatakan pasukannya akan ditarik pada September nanti.

"Amerika Serikat telah meningkatkan serangan udara untuk mendukung pasukan Afghanistan dalam beberapa hari terakhir, dan kami bersiap untuk terus meningkatkan serangan ini dalam beberapa pekan ke depan jika Taliban juga meningkatkan kekuatan," demikian ujar Jenderal Militer Kenneth McKenzie dalam konferensi pers di Kabul.

McKenzie yang memimpin Pusat Komando AS, badan yang mengendalikan pasukan AS di wilayah Afghanistan, tidak menyatakan soal sikap AS setelah operasi militer mereka di Afghanistan berakhir 31 Agustus nanti.

"Pemerintah Afghanistan menghadapi ujian yang besar dalam beberapa hari ke depan... Taliban tengah berupaya menciptakan nuansa bahwa serangan mereka tidak terhindarkan," kata McKenzie

Namun, menurutnya, kemenangan Taliban bukan suatu hal yang tidak terhindarkan dan masih ada kemungkinan penyelesaian politik.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah Afghanistan dan negosiator Taliban telah bertemu di Doha, Qatar, meski para diplomat mengatakan belum ada kemajuan yang berarti sejak pertemuan perjanjian damai dimulai September tahun lalu.

Saat ini pasukan Afghanistan tengah merancang ulang strategi perang mereka melawan Taliban dengan berkonsentrasi di wilayah-wilayah kritis seperti Kabul, wilayah perbatasan, dan juga infrastruktur penting.

McKenzie mengatakan kekerasan akan meningkat usai masyarakat menjalani libur IdulAdha pekan lalu, dan Taliban bisa menargetkan wilayah perkotaan yang padat penduduk.

"Jika mereka ingin meraih kekuasaan, mereka harus berhadapan dengan wilayah perkotaan," katanya.

"Namun, bukan kesimpulan yang tepat jika mengatakan bahwa mereka bisa mengambil alih wilayah urban tersebut."

(Reuters/vws)

Diterbitkan di Berita