Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengadakan program vaksinasi Covid-19 secara gratis kepada para petugas pelayanan transportasi publik termasuk para pelaut, yang bertempat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada 10 - 18 Juni 2021.

“Kami sangat bersyukur para pelaut, para insan atau masyarakat maritim di lingkungan pelabuhan Tanjung Priok bisa mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan vaksinasi.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo dan Kementerian Kesehatan yang telah memberikan perhatian yang luar biasa bagi para pekerja transportasi termasuk para pelaut,” kata Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Wisnu Handoko dalam pernyataan pers, di Jakarta, Minggu.

Wisnu mengatakan vaksinasi massal yang dilakukan di simpul-simpul transportasi khususnya di pelabuhan Tanjung Priok merupakan bukti perhatian pemerintah kepada para pelaut dan juga masyarakat maritim.

Mengusung tagline "Indonesian Heroes (Healthy and Ready Onboard Seafarers), kata Wisnu, kegiatan vaksinasi tersebut menargetkan 10.000 orang dan maksimal untuk 1.000 orang setiap harinya dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai 15.00 WIB.

Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya kerumunan dan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

“Pada kegiatan vaksinasi ini, kami menargetkan 10.000 orang yang dijadwalkan mulai dari tanggal 10 sampai dengan 18 Juni mendatang. Apabila pada tanggal tersebut belum sesuai dengan target, maka kami akan perpanjang waktu agar mencapai target,” ujar Wisnu.

Dia menegaskan pentingnya vaksinasi dalam mendukung kegiatan pelayanan kepelabuhanan dan transportasi laut baik logistik maupun penumpang untuk memberikan perlindungan dari risiko penyebaran Covid-19.

Kegiatan vaksinasi ini diprioritaskan kepada para pelaut, Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), supir truk, penumpang kapal, pekerja pelabuhan, serta masyarakat sekitar pelabuhan Tanjung Priok.

“Bagi para pimpinan perusahaan, operator terminal, trucking dan pelayaran supaya memastikan bahwa karyawannya telah mendaftar untuk mengikuti vaksinasi massal covid 19 ini,” tegasnya.

Vaksinasi ini penting untuk dilakukan agar kepercayaan diri para pelayan publik transportasi semakin meningkat dalam melaksanakan tugasnya.

Sehingga kegiatan pelayanan transportasi baik penumpang maupun logistik tetap dapat berjalan dengan baik dan para insan transportasi bisa bertahan dari pandemi ini.

Karena para pelaku transportasi khususnya di pelabuhan Tanjung Priok memiliki interaksi dan mobilitas yang sangat tinggi dengan masyarakat.

Selama menunggu antrian vaksin, tetap melaksanakan protokol kesehatan 5M, dengan menjaga jarak saat duduk menunggu antrian, memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas.

Lokasi dan ruang tunggu yang disiapkan dengan mempertimbangkan akan hadir kurang lebih 1.500 orang per harinya dan selalu dijagai oleh petugas pengamanan bersama.

“Kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak baik instansi pemerintah maupun Stakeholders yang telah berpartisipasi dalam kegiatan vaksinasi ini,” tutupnya.

Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat umum, seperti lansia, pralansia, dan tenaga pendidik secara massal di Tangerang.

Rencana vaksinasi massal dicanangkan presiden untuk di banyak daerah.

"Baru saja melihat proses vaksinasi massal di Kabupaten Tangerang, Banten sebanyak kurang lebih 10 ribu masyarakat umum, lansia, pralansia, tenaga pendidik semuanya," kata Jokowi di Sport Center Kelapa Dua, Tengerang, Rabu (9/6/2021).

Pada kesempatan itu, Jokowi meminta vaksinasi dalam jumlah besar atau massal, seperti di Depok dan Tangerang.

Itu, berdasarkan peninjauan presiden hari ini supaya dapat dilakukan di kota atau provinsi lain dengan target 700 ribu vaksinasi per hari dapat tercapai.

"Kita ingin vaksinasi seperti di Tangerang ini dilakukan di provinsi, kabupaten, kota lain. Sehingga, kecepatan kita mengejar 700 ribu per hari untuk Juni, dan 1 juta per hari pada Juli bisa kita kejar," kata Jokowi.

Sebab, menurut presiden, dengan pemberian vaksinasi Covid-19 ini dapat melindungi seluruh masyarakat dari paparan virus SARS-COV 2.

"Kita harapkan melindungi kita semuanya dari penyebaran Covid," ungkap Jokowi.

Presiden Jokowi juga meninjau pelaksanaan vaksinasi massal di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Kota Depok, Jawa Barat.

Pada Juli 2021 mendatang, presiden telah menetapkan target sebanyak satu juta penyuntikan dosis vaksin per hari.

"Kita berharap pada bulan Juni ini target untuk vaksinasi per hari 700 ribu itu betul-betul bisa tercapai sehingga di bulan Juli kita sudah masuk ke target vaksinasi per hari satu juta," kata Jokowi. (DNS)

 

Diterbitkan di Berita

tagar.id Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengungkapkan, pelaksanaan vaksinasi Gotong Royong untuk pekerja resmi dimulai Selasa, 18 Mei 2021.

Vaksinasi Gotong Royong, merupakan upaya bersama pemerintah dan sektor swasta dalam menekan laju pandemi Covid-19 sekaligus menggerakkan perekonomian nasional. 

Hal ini, disampaikannya saat melakukan peninjauan pelaksanaan vaksinasi Gotong Royong untuk pekerja perdana di pabrik PT Unilever Indonesia, Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

"Kita memulai bersama-sama, bahu-membahu antara pemerintah dan pihak swasta untuk memutus mata rantai Covid-19. Tanpa terputusnya mata rantai Covid-19 ini, maka pertumbuhan ekonomi akan selalu terganjal.

Oleh sebab itu, ini adalah terobosan terbaik yang dilaksanakan pemerintah Indonesia bersama-sama dengan sektor swasta untuk menggerakan perekonomian bangsa,” tutur Lutfi, Selasa, 18 Mei 2021.

Dengan divaksinasinya para pekerja swasta ini, terutama pekerja pabrik, Mendag Lutfi berharap sektor industri bisa bergulir kembali dengan lebih nyaman dan aman serta lebih baik. 

“Supaya produksinya bisa maksimum sehingga dengan begitu kita akan mendapatkan nilai tambah yang lebih dari pergerakan ekonominya itu sendiri,” ungkapnya.

Selanjutnya Mendag mengingatkan para pekerja dan juga seluruh masyarakat untuk tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan karena pandemi masih belum berakhir. Bahkan di beberapa negara tetangga juga kembali terjadi lonjakan kasus Covid-19. 

 

Kemensos

ilustrasi vaksinasi. (Foto:Tagar/Kemensos)

 

“Saya ingatkan kepada Bapak dan Ibu seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap menjaga protokol kesehatan meskipun sudah divaksin karena hanya dengan protokol kesehatan itu kita bisa memutus mata rantai Covid-19 dan menggerakkan perekonomian,” tegasnya. 

Selain di pabrik PT Unilever Indonesia, pelaksanaan vaksinasi Gotong Royong perdana ini juga dilakukan secara serentak untuk pekerja dari belasan perusahaan yang tersebar di berbagai lokasi di Jabodetabek. 

Terkait hal yang sama, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Reisa Broto Asmoro memaparkan, vaksinasi Gotong Royong adalah program vaksinasi yang diberikan kepada karyawan/karyawati atau keluarga dan individu yang pembiayaannya dibebankan kepada badan hukum atau badan usaha. 

“Penerima vaksinasi Gotong Royong dengan skema ini tetap tidak akan dipungut biaya alias gratis, sama dengan penerima vaksin program pemerintah yang tidak dikenakan biaya apapun,” kata Reisa. 

Dia juga menjelaskan, bahwa vaksin Gotong Royong adalah upaya pihak swasta yang dipelopori oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), bekerja sama dengan pemerintah terutama Kementerian BUMN, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Kesehatan, untuk berkontribusi menyukseskan dan mempercepat vaksinasi Covid-19. 

“Inisiatif vaksin gotong royong ini adalah niat baik dari kalangan perusahaan untuk mendukung percepatan capaian vaksinasi kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Dengan program vaksinasi Gotong Royong ini diperkirakan puluhan juta karyawan yang didaftarkan oleh perusahaan akan menerima vaksin dalam waktu dekat,” pungkasnya. []

 

 
Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Ketua Asian Pacific Society of Respirology Erlina Burhan turut menanggapi kebijakan boleh melepas masker di Amerika Serikat (AS) bagi yang sudah divaksin corona. Katanya, tingkat kepesertaan vaksinasi COVID-19 yang relatif tinggi. 
 
"Kalau saya ingin menjelaskan kondisi Amerika dan Indonesia itu berbeda. Pertama, mereka sudah mencapai 'herd immunity' vaksinasi sudah cukup banyak di atas 100 juta yang divaksin karena mereka punya fasilitas itu semua Pfizer dan Moderna," kata Erlina dikutip dari Antara, Kamis (29/4).
Dokter spesialis paru di Rumah Sakit Persahabatan itu mengatakan kemampuan memproduksi vaksin secara mandiri di Amerika Serikat telah membuat program vaksinasi berjalan optimal.
 
"Mereka fokus pada rakyatnya dulu, makanya kita belum dapat Pfizer dan Moderna mereka sudah capai 'herd immunity' yang diharapkan terjadinya perlambatan, melandai dan ke depannya juga menjadi negara yang endemis saja," ujarnya.
 
Atas dasar itu, kata Erlina, otoritas terkait di Amerika Serikat memiliki wacana untuk mengizinkan rakyatnya melepas masker di ruang terbuka, kecuali saat kerumunan.
 
"Mungkin Amerika outbound olahraga di luar. Tapi tidak boleh ditiru di Indonesia, karena capaian vaksinasi kita belum banyak, jadi yang punya kekebalan baru sedikit," katanya.
 
 
Ahli: Boleh Lepas Masker di AS Jangan Ditiru RI, Cakupan Vaksinasi Masih Rendah (1)
Presiden AS Joe Biden melepas masker saat melonggarkan penggunaan masker. Foto: Kevin Lamarque/Reuters
Indonesia baru memungkinkan menerapkan kebijakan melepas masker manakala sudah sampai pada target kekebalan komunal atau 'herd immunity'.
 
Meski demikian, Erlina mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap penularan COVID-19 mengingat virus SARS-CoV-2 berkembang dinamis.
 
"Dulu awalnya hanya yang sakit yang pakai masker. Sekarang semua orang pakai masker baik yang sakit maupun yang tidak. Jadi ini jangan buru-buru meniru," katanya.
 
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperbarui panduan pemakaian masker dan mengkonfirmasi orang yang telah disuntik dua dosis vaksin COVID-19 tak perlu lagi bermasker di luar ruangan kecuali berada dalam kelompok besar orang.
 
Sementara itu, mereka yang belum divaksinasi penuh harus tetap memakai masker dalam situasi tersebut.
Diterbitkan di Berita

Agung Bakti Sarasa sindonews.com BANDUNG - Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) terus berpartisipasi dalam vaksinasi COVID-19 kepada lebih dari 8.000 alumni UI warga Jakarta dan Depok.

Pemberian vaksinasi pertama dilakukan untuk alumni lanjut usia (lansia) warga Jakarta di RSCM Kencana pada 11 Maret lalu dilanjutkan dukungan layanan vaksinasi drive thru untuk alumni UI di Depok dan dosen UI terhitung sejak 22 Maret hingga 21 Mei mendatang di RSUI Depok.

Ketua Umum ILUNI UI, Andre Rahadian menuturkan, program vaksinasi ini merupakan wujud dukungan terhadap pemerintah dalam mengatasi COVID-19 melalui program vaksinasi COVID.

"Kami membuka layanan sentra vaksinasi untuk alumni UI dan dosen UI yang diadakan di RSCM dan RSUI. Kami juga membuka kolaborasi dengan berbagai elemen, termasuk dengan swasta, seperti kerja sama vaksinasi drive thru dengan XL Axiata untuk vaksin di Depok dengan target tiga puluh ribu penerima vaksin selama durasi program," ujar Andre dalam keterangan resminya, Senin (12/4/2021) petang.

Andre mengungkapkan, sedikitnya 8.000 lebih warga Jakarta dan Depok menerima manfaat program ini, temasuk di antaranya alumni UI, pasangan alumni UI, keluarga dari alumni UI, serta dosen UI.
 
Andre menerangkan, program vaksinasi alumni di Jakarta pada 11 April 2021 kemarin merupakan vaksinasi kedua setelah sebelumnya ILUNI UI mengadakan vaksinasi tahap pertama pada 11 Maret 2021 lalu.

"Ada ratusan alumni yang berpartisipasi dalam program vaksinasi alumni pertama. Dalam program ini, ILUNI UI bekerja sama dengan RSCM dan atas pengawasan dari Dinkes Pemprov DKI Jakarta dan Kemenkes RI," ujarnya.

Lebih lanjut Andre menjelaskan, dalam program vaksinasi di RSCM, ILUNI UI berkontribusi dalam menyediakan relawan nakes dan non-nakes.

ILUNI UI juga membuka pendaftaran penerima vaksin, melakukan penjadwalan traffic management, serta pre-skrining untuk para lansia.

"Kami mendapatkan banyak dukungan dari RSCM dan juga dari relawan yang berasal dari ILUNI Fakultas," katanya.

Sementara itu, dalam progam vaksinasi Drive-Thru Sentra Vaksinasi Indonesia Bangkit di RSUI, ILUNI UI berkolaborasi dengan XL Axiata, UI, Kemenkes RI, Pemprov Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kota Depok.

Termasuk mitra bisnis lainnya, seperti Benih Baik, Protelindo, Tower Bersama Group, Alita, dan Aksi Cepat Tanggap (ACT).

"Dalam program ini, ILUNI UI memberikan dukungan kepada pihak XL Axiata berupa penyediaan tenaga relawan non-medis yang membantu proses administrasi, menyediakan pelaksana teknis lapangan, membantu proses perizinan selama vaksinasi di RSUI, serta membantu dalam hal publikasi,” jelas Andre.

Sejauh ini, sudah ada total 3.577 penerima vaksin non-lansia, termasuk di dalamnya dosen UI, dosen PNJ, dan pelayanan publik serta 4.811 peserta vaksin lansia.

Sehingga, per 8 April 2021 lalu, tercatat 8.388 orang berpartisipasi dalam program vaksinasi Drive-Thru Sentra Vaksinasi Indonesia Bangkit.

Sementara itu, Presiden Direktur & CEO XL Axiata Dian Siswarini menyatakan rasa terima kasih atas sinergi antara XL Axiata dan ILUNI UI dalam pelaksanaan progam vaksinasi Drive-Thru Sentra Vaksinasi Indonesia Bangkit.

Dia menyebut, ILUNI UI dan XL Axiata memiliki kesamaan visi-misi dalam mendukung program vaksinasi dari pemerintah.

Dia juga berharap, kerja sama yang terjalin mampu memberi dampak signifikan akan penyaluran vaksinasi kepada masyarakat.

"Tentunya merupakan suatu kehormatan bisa bekerja sama dengan RSUI dan ILUNI UI dalam program vaksinasi ini. Semoga kerja sama dapat terjalin lebih erat dan memberikan manfaat luas kepada masyarakat. XL Axiata berkomitmen untuk membantu penyelenggaraan vaksinasi sebagai bagian dari pencegahan penyebaran COVID-19," katanya.

Direktur Utama RSUI, Astuti Giantini menyampaikan apresiasinya atas dukungan berbagai pihak dalam penyediaan sentra vaksinasi untuk warga Depok dan dosen-dosen UI.

"RSUI mengapresiasi atas penyelenggaraan vaksin drive thru ini. Meski telah mendapatkan vaksin, tentunya kita tetap harus menerapkan protokol kesehatan. RSUI juga akan tetap memberi pelayanan terbaik untuk warga UI dan masyarakat," ujarnya.
 
 
Diterbitkan di Berita

Akbar Ridwan alinea.id - Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, per 4 April 2021, total ada 12,5 juta vaksin Covid-19 telah diberikan. Menurut dia, cakupan dosis itu sudah 21,33% dari target 40 juta sasaran pada tahap satu.

"Dan tahap kedua itu sudah kurang lebih 8,5 juta orang mendapatkan suntikan vaksin Covid-19," kata dia saat diskusi dalan jaringan yang disiarkan kanal Youtube Kementerian Kesehatan, Minggu (4/4).

Nadia mengklaim, capaian tersebut lebih baik dari negara-negata di kawasan Eropa. Sebab, menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, negara di benua biru lambat dalam vaksinasi.
 
"Menurut WHO dinilai lebih lambat karena rata-rata negara-negara di kawasan Eropa ini cakupan vaksinasi dosis mereka masih kurang dari 10%," ujarnya.

Ke depan, kapasitas vaksinasi bakal ditingkatkan. Namun, Nadia mengatakan, terdapat kendala khususnya bagi masyarakat yang berusia di atas 60 tahun. Padahal, kata dia, vaksinasi Covid-19 terhadap lansia penting karena kelompok itu memiliki risiko kematian dan kesakitan tiga kali lebih besar dari golongan usia lain.

Kendala yang dihadapi, jelas Nadia, misalnya kesulitan akses sentra vaksinasi, takut aktivitas di luar rumah, keterbatasan fisik mencapai pos-pos vaksin, dan kesulitan melakukan pendaftaran elektronik. 

"Saat ini, kita tahu bahwa baru sekitar 8% usia di atas 60 tahun yang telah mengikuti vaksinasi Covid-19," ucapnya.

Atas kendala tersebut, Nadia mendorong partisipasi dari keluarga dan masyarakat agar mau membantu warga lansia melakukan vaksinasi. Diharapkan juga, publik ikut serta mensosialisasikan program vaksinasi Covid-19.

"Kami memahami tidak mudah mengajak orang tua untuk mendapatkan vaksinasi, tetapi tentunya dengan kita menyampaikan hal-hal yang secara baik dan tentunya ini adalah perlu untuk menjaga kesehatan orang tua kita, maka kita dorong orang tua kita untuk bisa segera mendapatkan vaksinasi," ucapnya.
 
Diterbitkan di Berita

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan tenaga pendidik dalam hal ini guru harus diprioritaskan untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19. Ia menyebut dari seluruh petugas publik yang diprioritaskan pada vaksinasi tahap kedua, tenaga pendidik paling diprioritaskan.

"Jadi di sini saya bisa melakukan konfirmasi dan penegasan bagi seluruh aparat pemerintah daerah bahwa bagi 17,6 juta petugas publik, pendidik itu yang paling tinggi prioritasnya dan paling banyak mendapatkan jatah," tegas Menkes Budi dalam konferensi pers Selasa (30/3/2021).

"Saya melihat banyak sebenarnya diberikan ke pegawai pemerintah dan BUMN, ini saatnya kita kembali menaruh prioritas untuk petugas publik kita berikan itu kepada para pendidik," lanjutnya.

Menkes mengatakan target vaksinasi untuk tenaga pendidik yang berjumlah 5,6 juta ini harus bisa selesai sampai akhir bulan Juni. Untuk mempercepatnya, Menkes ingin bekerja sama untuk membuat program-program vaksinasi COVID-19 untuk para pendidik.

Menurutnya, tenaga pendidik harus menjadi prioritas dari semua petugas publik yang ada dan perlu didorong dengan program-program penyuntikan. Misalnya seperti program satu sekolah melakukan penyuntikan bersama.

"Jadi kami mohon semua sekolah, semua universitas, semua pemerintah daerah bantu para pendidik untuk membuat program satu sekolah suntik berasama atau beberapa sekolah di satu kota suntik bersama, sehingga mempercepat akselerasi karena kita harus menyelesaikan 5,6 juta suntikan ini sampai akhir Juni," pungkasnya.

(sao/up)

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Gatra.com Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang telah divaksin Covid-19 per hari Jumat (26/3) diperkirakan mencapai 10 juta orang.

Budi Gunadi dalam keterangan tertulis, menyampaikan, dengan jumlah tersebut, maka kecepatan pemberian vaksin secara harian telah mendekati angka 500 ribu penyuntikan dosis vaksin.

"Alhamdulillah dan insyaallah hari ini vaksinasi akan menembus 10 juta vaksinasi dengan kecepatan harian kita sudah mendekati 500 ribu penyuntikan per hari," ujarnya usai rapat terbatas (Ratas) dengan Presiden dan jajaran kabinet terkait di Kantor Presiden, Jakarta.

Dengan demikian, lanjut Budi Gunadi yang memberikan keterangan bersama Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, diharapkan pada bulan Maret dan April ketersediaan vaksin sejumlah 15 juta per bulan. "Kita sudah sesuai kecepatan penyuntikannya," ujarnya.

Namun, berdasarkan dinamika terkini, Menkes memberikan catatan mengenai terjadinya lonjakan kasus di beberapa negara yang memungkinkan terjadinya embargo pengiriman vaksin.

Hal itu berpotensi mengganggu jadwal kedatangan dan ketersediaan vaksin di Indonesia selama beberapa bulan ke depan, utamanya yang berasal dari negara-negara yang melakukan embargo.

Mengantisipasi hal tersebut, Budi Gunadi mengatakan bahwa pihaknya perlu berhati-hati dan melakukan manajemen yang baik untuk mengatur laju penyuntikan dosis vaksin agar nantinya tidak ada kekosongan stok vaksin di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Menkes juga mengajak masyarakat untuk membantu mendaftarkan para orang tua dan saudara-saudaranya yang lanjut usia (lansia) untuk mengikuti vaksinasi Covid-19.

Berdasarkan data yang dimiliki, warga lansia merupakan kelompok pasien terbanyak yang membutuhkan perawatan Covid-19 di rumah sakit sehingga pemberian vaksinasi ini diharapkan mampu menekan penyebaran virus di kalangan lansia.

"Tolong dibantu semua orang tuanya, kakek-neneknya, mertua, tante, semua yang di atas 60 tahun tolong segera diajak untuk divaksinasi. Untuk semua kepala daerah dan tenaga kesehatan harap konsentrasi memberikan vaksinasi ke para lansia," katanya.

Editor: Iwan Sutiawan

Diterbitkan di Berita

voi.id  JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), melalui PT Bio Farma (Persero) telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) terkait pelaksanaan kegiatan vaksinasi gotong royong atau vaksinasi mandiri.

Tujuannya untuk mempercepat target herd immunity atau kekebalan kelompok. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan melalui kerja sama tersebut pemerintah membuka kesempatan bagi perusahaan-perusahaan swasta untuk berpartisipasi dalam program vaksinasi.

Adapun caranya melalui penyediaan vaksin gratis bagi karyawan beserta anggota keluarga mereka. "Program vaksin gotong royong ditargetkan menyasar 10,1 juta orang," katanya dalam webinar Universitas Indonesia, Kamis, 25 Maret.

Erick berharap dengan bantuan para pengusaha swasta dalam program vaksinasi ini, herd immunity di Indonesia dapat segera tercapai.

Sebelumnya, Erick memastikan pelaksanaan vaksin COVID-19 yang akan digunakan untuk program vaksinasi mandiri berasal dari BUMN. Proses pembelian itu diwajibkan pemerintah kepada perusahaan swasta dalam negeri.

Dalam catatan pemerintah, pihak swasta membutuhkan 7,5 juta dosis vaksin. Meski begitu, pemerintah baru bisa menyediakan 3,5 juta dosis pada Maret 2021 mendatang. Targetnya, vaksinasi mandiri juga dilakukan pada Maret 2021.

"Ini gratis tapi melibatkan swasta. Mereka beli dari pemerintah atau BUMN dan dibagikan pada para pekerja di perusahaan swasta," ujar Erick.

Pengusaha yang tergabung dalam Kadin Indonesia telah memastikan akan menjamin biaya dari vaksin gotong royong atau vaksin mandiri. Artinya, biaya vaksinasi tersebut tak akan dibebankan kepada karyawan melainkan akan ditanggung oleh pengusaha.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani menjelaskan, harga vaksin gotong royong akan ditetapkan oleh pemerintah. Namun, bukan untuk komersialisasi.

Sementara itu, kata Shinta, pengadaan vaksin akan dilakukan oleh PT Bio Farma (Persero) sebagai holding BUMN farmasi. Nantinya, pengusaha akan membeli vaksin tersebut.

"Tujuannya adalah untuk perusahaan itu bisa membiayai karyawannya untuk divaksinasi, jadi ini tidak ada unsur komersialisasi," tutur Shinta.

Shinta mengatakan, pengusaha berperan membelikan vaksin untuk kemudian disuntikkan kepada buruh atau karyawan. Adapun perusahaan yang mengikuti program ini bersifat sukarela dan tidak diwajibkan.

"Jadi perusahaan itu membiayai untuk karyawannya bisa mendapatkan vaksin secara gratis. Ini optional. Tidak harus mengikuti program ini," ujarnya.

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
Sudah divaksin Sinovac bukan berarti kebal dari virus COVID-19. Tetap harus menerapkan protokol kesehatan. Bahkan dalam 3 tahun ke depan disarankan vaksin lagi. 
"Kalau sudah lewat tahun ketiga, kita sudah ganti vaksinnya," kata Guru Besar Unpad sekaligus Ketua Tim Riset Vaksin COVID-19 Prof Kusnandi Rusmil, Selasa (23/3).
 
Menurut Kusnandi, virus COVID-19 selalu berubah. Bila diibaratkan, kini virus hanya sebesar mobil sedan, maka dalam satu hingga dua tahun mendatang virus dapat berubah sebesar truk.
 
 
Mereka yang Sudah Divaksin Sinovac Disarankan Vaksin Lagi 3 Tahun Kemudian (1)
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 Sinovac ke seorang guru saat vaksinasi massal di Gedung Pemerintah Kota Tangerang, Banten. Foto: Fauzan/ANTARA FOTO
 
Dengan begitu, vaksin yang digunakan untuk mencegahnya pun mesti disesuaikan.
 
"Jadi begini, yang sudah disuntik tidak akan timbul kekebalan seumur hidup, tidak akan. Karena bentuk kumannya seperti kuman influenza, jadi selalu berubah," ucap dia.
 
Kusnandi memberi perbandingan lain yakni dengan virus influenza. Menurut dia, virus tersebut pun selalu berubah sehingga vaksinasi berubah tiap satu tahun. Diketahui, uji klinis vaksin Sinovac yang digelar di Bandung itu melibatkan ribuan relawan.
 
 
***
 
Diterbitkan di Berita