Mengapa 'Bahasa Ibu' Tak Boleh Mati di Era Digital? Pilihan

Minggu, 22 Februari 2026 15:48
(1 Pilih)

Setiap tanggal 21 Februari, dunia merayakan Hari Memperingati Bahasa Ibu Internasional _(Internasional Mother's Language). Bagi masyarakat modern, peringatan tersebut mungkin sekadar seremoni kalender. Namun, bagi ribuan suku di pelosok Nusantara, ini adalah alarm tentang identitas yang sedang sekarat.

Bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah "rumah" bagi jiwa dan cara kita memaknai semesta. 

Realitas Pahit

Indonesia adalah laboratorium bahasa terbesar di dunia dengan lebih dari 718 bahasa daerah. Namun, kekayaan ini berada di tepi jurang.

Data dari Badan Bahasa Kemendikbudristek menunjukkan fakta menggetarkan: puluhan bahasa daerah telah punah, dan ratusan lainnya dalam status kritis, terutama di wilayah Timur seperti Papua, Maluku, dan Sulawesi.

Kepunahan ini bukan sekadar proses alami, melainkan dampak dari "imperialisme linguistik" di era digital. Ken Hale, seorang ahli linguistik dari MIT, pernah memberikan analogi yang sangat tajam:

"Kehilangan satu bahasa daerah sama saja dengan menjatuhkan bom atom ke atas Museum Louvre."

Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap bahasa yang punah membawa serta karya seni, sejarah, dan filosofi manusia yang tak ternilai harganya ke dalam liang lahat.

Kerugian Besar

Manakala sebuah bahasa daerah padam karena penuturnya meninggalkannya, kita kehilangan lebih dari sekadar kosakata.

  1. Kehilangan Epistemologi Lokal: Menurut Noam Chomsky, bahasa adalah cermin pikiran. Banyak istilah tentang tanaman obat, navigasi laut, dan mitigasi bencana hanya ada dalam bahasa daerah. Saat bahasanya hilang, ilmu tersebut menguap.
  2. Terputusnya Akar Budaya: Benjamin Lee Whorf melalui hipotesisnya menyatakan bahwa struktur bahasa memengaruhi cara penuturnya berpikir. Tanpa bahasa daerah, persepsi unik sebuah suku terhadap waktu, ruang, dan hubungan sosial akan lenyap, menyisakan manusia-manusia yang tercerabut dari akarnya.
  3. Krisis Identitas: Individu yang kehilangan bahasa ibunya seringkali mengalami apa yang disebut para sosiolog sebagai cultural amnesia, sebuah kondisi di mana generasi baru gagal memahami jati diri kolektif mereka.

Strategi Pelestarian

Kita tidak bisa menghentikan kemajuan teknologi, maka kita harus menungganginya. Pelestarian Bahasa Ibu harus melibatkan pendekatan multi-dimensi:

  • Digitalisasi dan Revitalisasi: Membangun korpus digital dan aplikasi belajar bahasa daerah. Pemanfaatan media sosial untuk memproduksi konten berbahasa daerah adalah kunci agar bahasa tersebut dianggap "keren" oleh Gen Z.
  • Peran Ranah Domestik: Orang tua harus kembali menjadikan rumah sebagai benteng terakhir. Bahasa daerah harus tetap menjadi bahasa kasih sayang di meja makan.
  • Kebijakan Afirmatif: Pemerintah harus memperkuat kurikulum muatan lokal. Sebagaimana pendapat Joshua Fishman, pakar sosiolinguistik terkemuka, keberhasilan bahasa pelestarian sangat bergantung pada "transmisi antar-generasi" yang dilakukan secara sadar dan sistematis. 

Refleksi

Bahasa daerah adalah warna-warna yang membentuk pelangi keindonesiaan kita. Jika semua warna itu memudar menjadi putih seragam, kita kehilangan keindahan sebagai sebuah bangsa.

Memperingati "Hari Bahasa Ibu Internasional" merupakan  momentum untuk menyadari bahwa mencintai bahasa Indonesia adalah kewajiban, menguasai bahasa asing adalah keharusan, namun merawat bahasa ibu adalah sebuah kehormatan.

Jangan biarkan lidah kita menjadi asing di tanah sendiri. Karena saat sebuah bahasa mati, sebagian dari kemanusiaan kita ikut terkubur bersamanya. Allahu a’lam***

Baca 103 kali
Bagikan: