Kedatangan bulan Ramadan selalu disambut dengan sukacita oleh umat Muslim di berbagai penjuru dunia. Sebagai ekspresi atas kegembiraan mereka berkembanglah berbagai ungkapan kegembiraan berupa sejumlah tahniah atau ucapan selamat. Salah satu tahniah yang cukup populer, khususnya di kalangan umat Islam di negara-negara Barat, dan belakangan diikuti juga oleh sebagian kecil muslim di negara kita, yakni Ramadan Kareem. Padahal penggunaan istilah "Ramadan Kareem", baik ditinjau secara linguistik maupun teologis sesungguhnya bermasalah. Secara etimologi, Kareem berarti "Maha Pemurah" atau "Maha Mulia". Penting untuk diingat bahwa Al-Kareem adalah salah satu dari "Asmaul Husna," nama-nama Allah yang paling indah yang hanya layak disematkan kepada Sang Khalik. Ketika kita menyebut "Ramadan Kareem", secara kalamiah kita mengatakan bahwa bulan Ramadan-lah yang memiliki sifat kemurahan hati tersebut. Para ulama, termasuk Syekh Muhammad bin Shalih al-Uthaimin, mengingatkan bahwa Ramadan adalah 'zaman' atau 'waktu', sebuah makhluk yang tidak memiliki kehendak untuk memberi pahala atau kemurahan. Memberikan sifat Al-Kareem kepada waktu berisiko menjerumuskan seseorang pada kekeliruan akidah, bahkan titik ekstremnya bisa menyerempet pada syirik (menyekutukan Allah dalam sifat-Nya), karena seolah-olah menganggap bulan tersebutlah yang mendatangkan berkah, bukan Allah SWT. Seperti sudah disinggung, penggunaan istilah "Ramadan Kareem" masif ditemukan di kalangan Muslim di negara-negara Barat. Hingga kini belum diketahui secara pasti siapa tokoh Islam yang memulakanya dan sejak kapan. ** Adapun pada tradisi masyarakat di negara-negara Arab dan yang paling merujuk pada lisan Al-Qur'an serta hadis Nabi SAW, istilah yang digunakan adalah Ramadan Mubarak atau Ramadan Al-Mubarak. Kata 'mubarak' berarti "yang diberkahi". Istilah ini jauh lebih tepat secara tauhid karena memosisikan Ramadan sebagai objek yang diberi berkah oleh Allah. Rasulullah SAW sendiri dalam hadisnya sering menggunakan kata "mubarak" ketika menyambut bulan ini, sebagaimana sabdanya: "Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkahi (Syahrun Mubarak)..." (HR. Ahmad). Dengan demikian, sebagai upaya menjaga kemurnian akidah dan mengikuti sunnah, sudah sepatutnya sebagai muslim kita mulai meninggalkan tahniah dengan redaksi "Ramadan Kareem". Karena sesungguhnya Ramadan hanyalah makhluk. Tidak layak dinisbati sebagai Al-Kareem. Menggantinya dengan "Ramadan Mubarak" bukan sekadar soal pilihan kata, melainkan bentuk ketundukan kita untuk menempatkan Allah sebagai satu-satunya sumber kemurahan, sementara Ramadan adalah ruang waktu mulia tempat kita menjemput keberkahan tersebut. Cukup menarik, respon di kalangan ulama Timur Tengah manakala mereka ditahniai ucapan Ramadan Kareem oleh seseorang. Mereka akan menjawab: "Allahu Akram" —yang berarti "Allah jauh lebih Pemurah". Jawaban ini seolah menjadi upaya pelurusan pemahaman yang tidak tepat tersebut namun tetap dalam keramahan kepada si penyapa. Mereka mengembalikan segala pujian kemurahan itu kepada sumber aslinya, yakni Allah SWT. Sebuah komunikasi dengan pragmatika yang luar biasa. Mari kita luruskan lisan dalam menggelari bulan Ramadan, agar ibadah kita diawali dengan pemahaman yang benar, sesuai dengan tuntunan syariat dan lisan para pendahulu kita yang saleh. Allahu a'lam.