Meskipun, beberapa negara sudah sempat menyatakan masker tidak diwajibkan, karena dinilai program vaksinasi sudah cukup merata.

Namun demikian belakangan setidaknya ada 5 negara wajib masker lagi, setelah ditemukan peningkatan kasus Covid-19 yang terjadi di negara-negara itu. Kelima negara tersebut merupakan negara-negara yang sempat dianggap berhasil dalam menangani pandemi Covid-19. 

Setelah ditemukannya varian Delta baru-baru ini, negara tersebut kemudian mengalami lonjakan kasus yang cukup tinggi, sehingga harus kembali menerapkan kebijakan wajib masker. Negara mana saja? Berikut rangkumannya.

1. Amerika Serikat

Setelah mendapat dua dosis vaksin, warga Amerika sempat diberikan kelonggaran tidak menggunakan masker. 

Namun demikian pada beberapa negara bagian terdapat lonjakan yang cukup besar, sehingga wajib masker kembali diberlakukan secara umum di negara tersebut.

2. Israel

Salah satu negara yang berhasil melakukan vaksinasi dengan cepat dan efektif, Israel adalah satu dari 5 negara wajib masker lagi. 

Serupa dengan keputusan empat negara sebelumnya, regulasi pelonggaran penggunaan masker juga berbuah buruk pada lonjakan kasus infeksi Covid-19 varian Delta.

3.  Perancis

Sempat melonggarkan kewajiban menggunakan masker pada bulan Juni 2021 lalu. Negara ini kemudian kembali menerapkan wajib masker setelah ditemukan lonjakan kasus akibat varian Covid-19 yang baru. 

Varian Delta, memiliki kemampuan menular lebih cepat sehingga negara tersebut kembali menerapkan kewajiban bermasker.

4. Korea Selatan

Negara yang kini jadi salah satu trendsetter hiburan dunia ini juga masuk dalam 5 negara wajib masker lagi. Padahal pada fase awal hingga 2021 lalu, Korea Selatan dianggap sebagai salah satu negara yang paling berhasil mengendalikan pandemi yang terjadi. 

Namun serupa dengan Perancis, wajib masker kembali diterapkan menghadapi varian Delta.

5. Belanda

Dampak pelonggaran kewajiban menggunakan masker pada Juni 2021 lalu ternyata berbuah pahit untuk Belanda. Bersamaan dengan ditemukannya varian Delta, penularan Covid-19 terus meningkat di negara ini.

Perdana Menteri Belanda kemudian meminta maaf atas kebijakan yang diambil sebelumnya, dan menyatakan pemberlakuan kembali wajib masker.

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Level 4 berakhir per hari ini, Senin 2 Agustus 2021.

Lalu kebijakan PPKM diperpanjang sampai tanggal berapa? Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, untuk berita PPKM terbaru, PPKM Level 4 dilanjutkan di 21 provinsi dengan 25 kabupaten/kota di luar Pulau Jawa-Bali.

Perpanjangan PPKM Level 4 tersebut dilakukan usai masih tingginya angka penularan varian Delta. PPKM pada daerah-daerah itu diperpanjang hingga tanggal 9 Agustus 2021 (PPKM diperpanjang sampai tanggal 9 Agustus 2021). 

"Kami mengkonsentrasikan pada kabupaten yang naik di luar Jawa-Bali di 21 provinsi dan 45 kabupaten/kota yang (PPKM) level 4 dan ini dilanjutkan," kata Airlangga dalam keterangan resminya pada Senin (2/8/2021).

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pemberlakuan PPKM merupakan satu dari empat strategi membatasi penyebaran Covid-19. Tiga strategi lainnya yakni deteksi, terapeutik, dan vaksinasi.

Ia menyebut, penanganan pandemi sangat tergantung dari banyak faktor. Sehingga masa berlaku pengendalian pandemi bisa bersifat dinamis (berita PPKM terbaru). Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email "Saya ingin update, semua pandemi yang ada di dunia strategi pertama adalah kita bagaimana bisa mengurangi laju penularan, agar jangan sampai orang yang dirawat di rumah sakit tidak lebih besar dari kapasitas rumah sakit itu.

Karena pandemi tidak mungkin cepat selesai," jelas Budi dikutip dari Yuotube Kementerian Kesehatan RI. "Ada yang 5 tahun, 10 tahun, event yang 100 tahun pun ada yang belum selesai. Tujuan utama awal penanganan pandemi, adalah kita kendalikan penularan," kata dia lagi.

Sementara itu dilansir dari Antara, Budi mengatakan pemerintah memiliki skenario terburuk penambahan kasus Covid-19 harian hingga sebesar 70 ribu kasus, namun hal itu berhasil dicegah dan tidak terjadi.

“Skenario sebelumnya terburuk 70 ribu penambahan kasus Covid-19 per hari. Kita lihat, kita bersyukur peak-nya (puncak) itu terjadi di 57 ribu per hari, itu dengan peningkatan testing (pengujian) luar biasa,” kata Budi.

Budi mengatakan salah satu penyebab skenario terburuk bisa dihindari adalah dengan peningkatan secara signifikan kapasitas tes.

Awalnya, pemerintah melakukan tes sebanyak 50 ribu per hari. Jumlah kemampuan tes kemudian naik hingga mencapai 200 ribu tes per hari dan akan terus dilipatgandakan.

“Kami akan terus meningkatkan testing ini,” ujarnya. Baca juga: Komunikasi Kepemimpinan dalam Era Kenormalan Baru Peningkatan kapasitas tes juga dibarengi dengan pelacakan dan perawatan.

Hal ini agar kondisi di lapangan tergambarkan secara faktual dan aktual, sehingga pemerintah mampu mengambil kebijakan yang tepat dalam penanganan pasien.

“Jadi kita bersyukur, dengan peningkatan kapasitas testing selama sebulan terakhir, dari 50 ribuan sampai 200 ribuan tes, dari kasus yang kita prediksi 70 ribu, kita amati puncaknya 57 ribu” ujar dia.

Menurut Budi, puncak penambahan kasus Covid-19 secara harian sejauh ini berada di 57 ribu kasus, dan tren penambahan kasus Covid-19 saat ini telah menurun.

Dia menyampaikan pesan Presiden Joko Widodo agar seluruh pihak tetap waspada dan antisipatif terhadap persebaran virus Corona varian Delta, meskipun tren penularan kasus Covid-19 telah menurun.

“Bapak Presiden menekankan selain kita bersyukur kita harus tetap waspada, karena memang virus ini sulit diduga, terjadi dimana-mana persebarannya, di seluruh dunia,” ujarnya.

“Kita bersyukur karena kerja keras kita sudah turun, tapi harus tetap waspada,” ia menambahkan.

Kritis Budi juga menyimpulkan peningkatan kasus kematian akibat Covid-19 di 20 kabupaten/kota di Pulau Jawa karena pasien yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi berat dan kritis.

"Kita mengamati, ada perbedaan dibandingkan dengan yang sebelumnya, bahwa kematian itu terjadi kalau sebelumnya rata-rata itu delapan hari dirawat, sekarang rata-rata empat sampai delapan hari sudah wafat.

Jadi lebih cepat," kata Budi. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, sebanyak 50 persen kasus kematian akibat Covid-19 dilaporkan dari 20 kabupaten/kota di pulau Jawa.

Kasus kematian secara kumulatif pada kurun 19 hingga 25 Juli 2021 dilaporkan mencapai 2.873 kasus dari total 616 Puskesmas di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Dulu angka kematian di IGD itu hampir tidak ada. Sedikit sekali. Dulu paling banyak meninggal di ICU atau kamar isolasi. Tapi dalam dalam tiga bulan terakhir di IGD justru kenaikannya meningkat dengan tinggi porsinya," katanya.

Editor : Muhammad Idris

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, pihaknya telah merealokasi anggaran hingga hampir Rp 2 triliun pada tahun 2021. Hal itu dilakukan oleh Yaqut, sebagai bentuk kontribusi kementeriannya dalam menangani pandemi Covid-19.

"Pemerintah sangat serius dalam penanganan pandemi. Anggaran kementerian, termasuk di Kemenag, direalokasi untuk itu. Kita bahkan hampir Rp 2 triliun," kata Yaqut dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/8/2021). 

Yaqut menambahkan, realokasi kementeriannya tidak akan berhenti sampai di situ. Dia menegaskan, akan melakukan realokasi lagi dengan anggaran mencapai lebih dari Rp 300 miliar.

"Saat ini sedang dalam proses realokasi berikutnya yang juga untuk menyukseskan pelaksanaan PPKM dengan realokasi anggaran mencapai Rp 399,91 miliar," papar Gus Yaqut, sapaan akrab Menteri Agama ini.

Yaqut merinci, realokasi anggaran untuk penanganan pandemi sudah dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, sekitar Rp 483,54 miliar anggaran Kemenag ikut direalokasi dalam rangka pelaksanaan program vaksinasi.

Tahap Kedua, sekitar Rp 712,78 miliar untuk berkontribusi dalam Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Kemudian tahap Ketiga, sekitar Rp 385,46 miliar untuk mendukung penanganan pandemi Covid-19.

Realokasi Anggaran Rp 1,9 Triliun

"Jadi total anggaran Kemenag yang direalokasi untuk bersama-sama menangani kondisi pandemi mencapai Rp1,981 triliun," dia menandasi.

 
Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia - Studi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Amerika Serikat menunjukkan tiga perempat orang yang terinfeksi COVID-19 pada sebuah acara publik Juli di Cape Cod, Massachusetts, AS, telah divaksinasi penuh.

Studi CDC menemukan individu yang divaksinasi memiliki jumlah virus yang sama dengan yang tidak divaksinasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa, tidak seperti varian lain, orang yang divaksinasi tapi terinfeksi varian Delta, dapat menularkan virus tersebut.

 

Dr. Rochelle Walensky, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, bersaksi dalam sidang Senat di Capitol Hill di Washington, 18 Maret 2021. (Foto: AP)
Dr. Rochelle Walensky, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, bersaksi dalam sidang Senat di Capitol Hill di Washington, 18 Maret 2021. (Foto: AP)

 

Direktur CDC Rochelle Walensky mengatakan tersebut adalah "penemuan penting" yang mengarah pada rekomendasi CDC minggu ini bahwa masker harus digunakan di wilayah yang terjadi lonjakan kasus.

Langkah itu dilakukan sebagai tindakan pencegahan terhadap kemungkinan penularan oleh orang yang telah divaksinasi penuh.

CDC mengatakan 469 kasus ditemukan di antara penduduk Massachusetts dari 3 hingga 26 Juli terkait dengan wabah Cape Code. Dari jumlah tersebut, 74% di antaranya adalah warga yang telah divaksinasi lengkap.

CDC mengatakan studinya tidak mengikutsertakan penduduk dari 22 negara bagian lain. Barnstable County melaporkan bahwa pada 30 Juli, terdapat 934 total kasus dikaitkan dengan wabah tersebut.

CDC mengatakan bahwa secara keseluruhan, 79% dari individu yang divaksinasi yang terinfeksi COVID-19 juga melaporkan gejala seperti batuk, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan demam. Empat korban harus dirawat di rumah sakit.

Menurut data, individu yang divaksinasi telah menerima salah satu dari tiga suntikan yang tersedia yang dibuat oleh Pfizer Inc dan BioNTech, Moderna Inc atau Johnson & Johnson. [ah]

Diterbitkan di Berita

INDOZONE.IDPasien COVID-19 di Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara (Sumut) yang sempat viral karena dikeroyok warga dikabarkan telah meninggal dunia pada Minggu (1/8/2021).

Salamat meninggal saat sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Adam Malik. Salamat sendiri sudah berada di RS Adam Malik sejak tanggal 28 Juli 2021. Kabar duka ini disampaikan oleh keponakan Salamat Sianipar, Jhosua Lubis melalui akun Instagram-nya. 

"KABAR DUKACITA. TULANG SALAMAT SIANIPAR korban pemukulan di bulusilape, kab.tobasa, sumut telah meninggal dunia di RUMAH SAKIT ADAM MALIK, Sore Tadi Tanggal, 01 Agustus 2021," tulis Jhosua pada captionnya.

"TERPUJILAH ENGKAU TUHAN, yang telah menetapkan semua ini dan memberikan yang terbaik buat kita semua. Selamat jalan TULANG. Sudah sembuh semua sakit dan penderitaanmu, tenanglah bersama BAPA di Surga," lanjut Jhosua.

Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Pandemi covid-19 yang masih melanda Indonesia merupakan ujian berat bagi bangsa. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen bangsa bahu-membahu berupaya melawan pandemi Covid-19 ini.

“Saya mengajak seluruh elemen bangsa untuk bergandengan tangan, merapatkan barisan, bahu-membahu melakukan ikhtiar lahir dan batin bersama-sama menghadapi pandemi Covid-19," kata Jokowi dalam acara Zikir dan Doa Kebangsaan 76 Tahun Indonesia Merdeka yang disiarkan Youtube Sekretariat Presiden, Minggu (1/8/2021).

Selain berusaha, Kepala Negara juga mengingatkan agar tidak lupa memanjatkan doa kepada Tuhan. Jokowi menyatakan, doa adalah penyembuh dan penumbuh harapan.

Pada kesempatan itu pula, Presiden Jokowi mengucapkan terima kasih kepada para ulama dan tokoh lintas agama yang senantiasa mengajak para umat mematuhi protokol kesehatan. Presiden berharap, Indonesia segera mencapai kemenangan melawan pandemic Covid-19 ini.

"Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa membuka jalan kita semua, meridohi dan memudahkan semua upaya dan langkah-langkah kita sampai mencapai kemenangan melawan pandemi Covid-19," kata Jokowi.

Sementara itu dalam laporannya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qouas mengatakan acara Zikir dan Doa Kebangsaan 76 Tahun Indonesia Merdeka bertujuan tidak hanya untuk mensyukuri kemerdekaan, tetapi juga menyempurnakan ikhtiar bangsa dalam melewati pandemi Covid-19.

“Dalam rangka mensyukuri kemerdekaan dan menjaga spirit serta menyempurnakan ikhtiar lahir bangsa kita dalam melewati masa-masa sulit di pandemi Covid-19 ini, sebagai umat beragama hendaknya kita semua melengkapinya dengan zikir dan doa kepada Allah Swt. Tuhan Yang Maha Bijaksana,” kata Menag Yaqut.

Menag pun menyerukan kampanye protokol kesehatan untuk menekan angka penyebaran covid-19.

“Kampanye protokol kesehatan seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, mengurangi kerumunan, dan menambah 1 lagi yaitu doa. Atau kampanye 5M + 1D perlu dimasifkan untuk menjangkau semua lapisan masyarakat di mana pun,” ujar Menag yang akrab disapa Gus Yaqut ini.

Acara Zikir dan Doa Kebangsaan 76 Tahun Indonesia Merdeka tersebut digelar dalam rangka menyambut peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-76 tahun, pada 17 Agustus mendatang.

Kegiatan yang digelar secara daring dan luring ini mengangkat tema 'Bersyukur Atas Kemerdekaan, Berdoa dan Berikhtiar Untuk Mewujudkan Indonesia Maju' diikuti oleh sejumlah tokoh agama dan tokoh-tokoh bangsa yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Diterbitkan di Berita

BEIJING, NETRALNEWS.COMPemerintah China pada Minggu (1/8/2021) melaporkan 75 kasus baru COVID-19 di wilayah daratan yang tercatat pada 31 Juli, termasuk kasus baru penularan lokal di delapan provinsi. Angka itu naik dari 55 kasus sehari sebelumnya.

Gelombang baru itu jadi bagian dari wabah varian Delta COVID-19 yang terus meluas dan makin memburuk, setelah berbulan-bulan China mencatat nol kasus atau sedikit kasus penularan lokal.

Provinsi Jiangsu di bagian timur mencatat 30 kasus baru penularan lokal, naik dari 19 dari hari sebelumnya. Sebelumnya dikabarkan pada Sabtu bahwa sebuah klaster di ibu kota provinsi itu, Nanjing, telah meningkat menjadi 184 kasus.

Para pejabat pada Jumat mengatakan kasus awal wabah di Nanjing terkait dengan pekerja Bandara Internasional Lukou yang tertular setelah membersihkan sebuah pesawat dari Rusia yang membawa penumpang terinfeksi.

Mereka mengonfirmasi bahwa kasus-kasus tersebut disebabkan oleh varian Delta virus corona. Sebanyak 12 kasus baru juga dilaporkan di Henan, China bagian tengah, di mana kota Zhengzhou yang terhantam banjir melaporkan 11 kasus baru pada Sabtu, selain 16 kasus tanpa gejala.

China tidak memasukkan jumlah kasus tanpa gejala ke data resmi. Total jumlah kasus infeksi terkini China mencapai 1.022 kasus, dengan nol kematian baru yang dilaporkan. Selama pandemi, negara itu mencatat 93.005 kasus COVID-19.

Hingga 30 Juli, China telah memberikan 1,6 miliar dosis vaksin COVID-19 kepada penduduknya.

Reporter : Antara
Editor : Sesmawati

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Sebanyak 150 warga Arab Saudi meninggalkan Indonesia, terbang kembali ke negaranya pada Minggu (1/8/2021). Kepulangan mereka sesuai perintah pemerintah Arab Saudi seiring dengan tingginya kasus COVID-19 di Indonesia akibat merebaknya varian Delta. 
Mengutip Okaz, 150 warga Arab Saudi itu terbang dari Jakarta. Dijelaskan, kepulangan mereka sebagai tindak lanjut dan koordinasi tingkat tinggi dari Kedutaan Besar Saudi di Indonesia, mengingat rekor kasus corona harian di Indonesia mencapai lebih 40 ribu.
 
Dalam video yang diunggah, tampak calon penumpang antre melakukan check in di konter maskapai di bandara, lengkap dengan barang bawaan di atas troli. Tidak disebutkan pesawat terbang yang mereka gunakan, tapi diduga Saudia Airlines. Saudia di akun Instagramnya mengumumkan bahwa mereka membuka penerbangan dari Jakarta ke Jeddah pada 26 Juli dan 1 Agustus. Penerbangan ini hanya dikhususkan bagi:
 
1. Warga Negara Arab Saudi beserta keluarga.
2. Diplomat beserta keluarga.
3. Praktisi kesehatan beserta keluarga.
 
150 Warga Negara Arab Saudi Tinggalkan Indonesia Hari Ini (1)
Pesawat Saudia milik maskapai nasional Arab Saudi. Foto: Shutterstock
Jadwal penerbangan ini juga sesuai dengan pernyataan Dubes Arab Saudi di Indonesia Esam A Abid Althagafi pada pekan lalu yang mengatakan bahwa sekitar 200 warga negara Arab Saudi akan meninggalkan Indonesia pada 26 Juli dan 1 Agustus. 
Pada 21 Juli, Kemendagri Arab Saudi melarang warganya terbang ke Indonesia dan meminta warganya yang berada di Indonesia segera pulang. Hal ini karena tingginya kasus corona di Indonesia dan penanganan yang belum terkendali.
 
150 Warga Negara Arab Saudi Tinggalkan Indonesia Hari Ini (2)
WN Arab Saudi yang kritis karena sakit corona dipulangkan dari Indonesia pada 28 Juli 2021. Foto: Dok. Kedubes Arab Saudi
 
Pada 27 Juli, Kemendagri Arab Saudi kembali merilis pengumuman. Isinya, warga negara Arab Saudi yang nekat ke Indonesia akan diberi sanksi larangan pergi ke luar negeri selama 3 tahun.
Pada 28 Juli, Arab Saudi mengevakuasi warga negaranya yang kritis karena sakit COVID-19 dari Jakarta dengan pesawat medis udara. Ini merupakan evakuasi kedua yang dilakukan setelah evakuasi pada pekan kedua Juli.
Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Utah - Di tengah kebangkitan infeksi dan angka kematian virus corona COVID-19 varian delta di Amerika Serikat, beberapa orang yang pernah menolak vaksin atau hanya menunggu terlalu lama sekarang bergulat dengan konsekuensinya.

"Kami tidak mendapatkan vaksin," kata Mindy Greene menulis di postingan Facebook-nya, ketika menghabiskan satu hari lagi di unit perawatan intensif COVID-19, mendengarkan mesin berputar yang sekarang bernapas untuk suaminya yang berusia 42 tahun, Russ. 

"Saya membaca semua jenis hal tentang vaksin dan itu membuat saya takut. Jadi saya membuat keputusan dan berdoa tentang hal itu dan mendapat kesan bahwa kami akan baik-baik saja," lanjutnya seperti diwartakan oleh the New York Times, disadur pada Minggu (1/8/2021).

Suaminya, ayah untuk empat anak mereka, sekarang melayang antara hidup dan mati, tentakel tabung tumpah dari tubuhnya.

Pasien di kamar sebelah suaminya telah meninggal beberapa jam sebelumnya. Hari itu, 13 Juli, Greene memutuskan untuk menambahkan suaranya ke sekelompok orang yang tidak mungkin berbicara dalam debat nasional terpolarisasi tentang vaksinasi: penyesalan.

 

 

"Jika saya memiliki informasi yang saya miliki hari ini, kami akan mendapatkan vaksinasi," tulis Greene.

"Saya memiliki rasa bersalah yang luar biasa," kata Greene suatu pagi ketika dia duduk di lobi lantai empat di luar I.C.U. di rumah sakit Utah di Provo, yang melihat ke pegunungan di mana keluarganya pernah pergi mendaki.

"Saya masih menyalahkan diri saya sendiri. Setiap hari."

Lonjakan infeksi dan rawat inap baru-baru ini di antara orang-orang yang tidak divaksinasi telah membawa realitas suram COVID-19 menerjang rumah bagi banyak orang yang berpikir mereka telah melewati pandemi.

Tapi sekarang, dengan kemarahan dan kelelahan menumpuk di semua sisi, pertanyaannya adalah apakah cerita mereka benar-benar dapat berubah pikiran.

Beberapa orang yang dirawat di rumah sakit dengan virus masih bersumpah untuk tidak mendapatkan vaksinasi, dan survei menunjukkan bahwa mayoritas orang AS yang tidak divaksinasi tidak bergeming.

Tetap Menyangkal Meski Tengah Terinfeksi dengan COVID-19
 

 

Dokter di unit COVID-19 mengatakan beberapa pasien masih menolak untuk percaya bahwa mereka terinfeksi apa pun, kecuali anggapan bahwa itu hanya sebatas flu.

"Kami memiliki orang-orang di I.C.U dengan COVID-19 yang menyangkal mereka memiliki COVID-19," kata Dr. Matthew Sperry, seorang dokter perawatan kritis paru yang telah merawat suami Greene. "Tidak peduli apa yang kita katakan, mereka tetap menyangkal."

Rawat inap COVID-19 di Utah telah meningkat 35 persen selama dua minggu terakhir, dan Dr. Sperry mengatakan unit perawatan intensif di seluruh sistem 24 rumah sakit tempatnya bekerja 98 persen penuh.

Namun, beberapa rumah sakit yang dibanjiri pasien di daerah yang sebagian besar berhaluan politik konservatif dan tidak divaksinasi telah mulai merekrut penyintas COVID-19 sebagai utusan kesehatan masyarakat dari upaya terakhir.

Harapannya adalah bahwa skeptis satu kali mungkin hanya membujuk orang lain yang menolak kampanye vaksinasi yang dipimpin oleh Presiden Biden, Dr. Anthony S. Fauci dan pasukan dokter dan petugas kesehatan setempat.

Mereka adalah cerita Scared Straight untuk pandemi yang telah berkembang pada informasi yang salah, ketakutan dan divisi partisan yang mengeras tentang apakah akan divaksinasi atau tidak.

"Orang-orang menciptakan berita dari tempat tidur rumah sakit mereka, dari bangsal," kata Rebecca Weintraub, seorang asisten profesor kesehatan global dan kedokteran sosial di Harvard Medical School.

"Ini adalah aksesibilitas pesan: 'Saya tidak melindungi keluarga saya sendiri. Biarkan aku membantumu melindungimu.'"

 

 

Di Springfield, Missouri, di mana kasus coronavirus meningkat musim panas ini, Russell Taylor duduk dengan gaun rumah sakit, cup oksigen yang terbungkus di wajahnya, untuk menawarkan testimoni pro-vaksin dalam video rumah sakit.

"Saya berharap bisa mendapatkannya sekarang," katanya. Seorang pria Texas yang menjalani transplantasi paru-paru ganda setelah tertular virus membuat permohonan di televisi lokal bagi orang lain untuk mendapatkan vaksinasi.

Dan dengan suara gemetar, seorang administrator klinik rumah sakit di pedesaan Utah menggambarkan bagaimana dia telah dipukul oleh pneumonia ganda dan sepsis setelah memilih untuk tidak mendapatkan vaksinasi.

Wanita itu, Stormy, mengatakan butuh berminggu-minggu untuk untuk berbicara dalam video yang diposting oleh departemen kesehatan setempat.

Dia melakukannya hanya menggunakan nama depannya karena dia khawatir bahwa penyangkal COVID-19 akan mengatakan dia mengada-ada.

"Saya benar-benar takut dengan aspek negatif yang bisa datang darinya," katanya dalam sebuah wawancara pekan ini. "Saya adalah bagian dari masalah yang ingin saya hindari."

Beberapa orang yang cepat merangkul vaksin sekarang memilih untuk berbicara tentang anggota keluarga yang tidak selamat.

Itu adalah peran yang tidak pernah diinginkan Kimberle Jones, tetapi satu dia memeluk setelah putrinya, Erica Thompson, 37, seorang ibu dari St. Louis, meninggal pada 4 Juli, hampir tiga bulan setelah dia memiliki apa yang dia pikir adalah serangan asma yang buruk.

"Saya ingin menjadi suara untuknya," kata Jones, yang mendapat vaksinasi segera setelah dia bisa. "Saya benar-benar berpikir putri saya ingin saya mengatakan, 'Pergilah mendapatkan vaksinasi.'"

Ibunya mengatakan Thompson telah skeptis tentang seberapa cepat vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech telah diluncurkan - puncak dari penelitian ilmiah selama beberapa dekade.

Dia juga percaya bahwa kampanye yang dikelola pemerintah adalah plot terhadap orang Kulit Hitam seperti dia, menurut ibunya.

Tingkat vaksinasi untuk orang Amerika Hitam dan Hispanik tertinggal dari populasi kulit putih, celah yang dikaitkan para peneliti dengan ketidakpercayaanyang berakar pada sejarah diskriminasi medis dan kurangnya akses dan penjangkauan.

"Kata-kata terakhirnya kepada saya adalah, 'Mama, saya tidak bisa bernapas,'" kata Nn. Jones.

 

 

Di Utah, Greene mengatakan suaminya telah meninggalkan keputusan vaksinasi keluarga di tangannya. Dia awalnya berencana untuk mendapatkan tembakan segera setelah tetangga sebelahnya, seorang dokter, mendapatkan miliknya.

Tetapi dia memiliki kekhawatiran tentang vaksin, dan menemukan banyak alasan untuk ragu-ragu ketika dia menggulir melalui media sosial atau berbicara dengan teman-teman anti-vaksin. "Anda perlu menonton ini," tulis salah satu padanya.

Mengklik beberapa tautan membawanya ke lubang kelinci teori konspirasi yang disebut-sebut oleh pengacara anti-vaksin dan YouTuber, dan video di mana dokter dan perawat anti-vaksin menyatakan tembakan Covid-19 sebagai "bioweapon."

COVID-19 menerjang dunia keluarga pada akhir Juni ketika dua putra tertua mereka membawa pulang virus dari kamp gereja di mana sembilan anak laki-laki terinfeksi.

Virus menyapu seluruh keluarga. Kemudian datang pada hari ketika Mr Greene, seorang pemburu yang mendaki melintasi pegunungan, harus dilarikan ke rumah sakit ketika kadar oksigennya jatuh.

"Saya akan selalu menyesal bahwa saya mendengarkan informasi yang salah yang diletakkan di luar sana," kata Ms Greene. "Mereka menciptakan rasa takut."

Pandangannya bergeser saat virus merusak tubuh suaminya dan dokter menempatkannya di ventilator.

Mereka bergeser ketika dia berbicara dengan dokter dan perawat tentang pasien yang tidak divaksinasi mengalir ke rumah sakit dan duduk di luar I.C.U., mendengarkan helikopter penerbangan hidup tiba.

Ms Greene mengatakan dia telah membuat janji untuk mendapatkan anak-anaknya divaksinasi.

 
Diterbitkan di Berita

Inisiatifnews.com – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD kembali safari dialog virtual dengan berbagai elemen. Hari ini, Sabtu (31/7), Menko Polhukam berbincang membahas penanganan pandemi Covid-19 dengan alim ulama, pengasuh pondok pesantren, pimpinan ormas lintas agama, dan Forkopimda se-Jawa Tengah (Jateng).

Hadir dalam dialog virtual ini jajaran dari BNPB, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Kakanwil Kemenag Jateng, dan puluhan perwakilan ormas keagamaan di Jateng.

Mahfud MD lebih banyak mendengar masukan dan saran dari berbagai tokoh agama dan masyarakat dalam dialog ini.

Masukan muncul beragam, mulai soal vaksinasi Covid-19, penyaluran bantuan sosial (Bansos), masyarakat yang masih abai protokol kesehatan, hingga hoaks yang beredar di media sosial yang makin menyusahkan penanganan Covid-19.

Perwakilan Pengurus Fatayat Jepara, Nanik misalnya, dia mengeluhkan, penyaluran bantuan sosial yang rumit. Tetutama bagi masyarakat yang sudah sepuh dan di pelosok desa yang susah sekali dapat bansos karena administrasi.

“Apakah tertib administratifnya agar dihilangkan dulu. Supaya terakses sampai ke bawah. Apalagi yang di desa, di pelosok. Selain itu, hoaks di media sosial ini meresahkan. Menghancurkan pekerjaan kita semua di lapangan,” kata Nanik.

Serupa, perwakilan PWNU Jateng Musahadi mengingatkan, pandemi ini akan lebih mudah jika ditangani bersama. Masalahnya, musuh saat pandemi tak hanya Covid-19. Tetapi juga kelompok masyarakat yang tidak percaya Corona, dan menebarkan ketidakpercayaannya kepada publik.

“Kita medan pertempurannya dan perang wacananya di media sosial. Hoaks soal Corona ini amat berpengaruh terhadap cara pikir masyarakat, apalagi di desa yang jauh dari sumber informasi. Pemerintah saya kira kurang perhatian dengan hoaks, provokasi di media sosial yang amat merusak ini,” kata dia.

Dikatakannya, masyarakat yang diprovokasi biasanya kelompok yang kurang beruntung saat PPKM berlangsung. Karenanya, harus ada pendekatan budaya kepada kelompok masyarakat ini. Jangan melulu memakai pendekatan hukum. Pendekatan personal perlu kepada orang yang kena pengaruh hoaks.

“Soal Bansos, problem formal yang bikin tidak tersalurkan harus diurai. Ajak tokoh masyarakat dan agama menyalurkan. Agar ada trust. Agar administrasi tetap bisa dilakukan tanpa melanggar,” saran dia.

Mursidi perwakilan dari FKUB Wonogiri mengamini, hoaks di medsos berhasil mematahkan kampanye pemerintah. “Tolong ini diberantas. Kita mati-matian sebarkan info yang benar, sirna karena informasi hoaks di medsos. Surat edaran tidak sampai ke bawah.

Seperti prokes tempat ibadah, masih massif yang melanggar karena hoaks ini,” keluhnya. Sedangkan dari PC Muslimmat NU Sukoharjo Hafidah ingih Pemda merangkul tempat ibadah yang gencar meng-counter instruksi pemerintah.

“Di wilayah saya ada, sangat meresahkan. Ini perlu dikoordinasikan dengan pemerintah daerah. Rangkul mereka, yang enggan prokes di masjid, di pengajiannya, dengan pendekatan yang pas. Turun langsung atasi ini. Kalau yang bilang kami, ada sekat. Kalau aparat, pasti bisa deh,” yakinnya.

Sementara perwakilan ormas lainnya mengungkapkan, telah membantu Pemda dalam penanganan Covid-19. Seperti Tri Wahono dari Parisada Hindu Dharma Indonesia Jateng.

Dia menyatakan, Pura di Jateng sudah ditutup. Kegiatan doa bersama dilakukan di rumah masing-masing. Romo Parso Subroto dari Gereja Salatiga, juga turut melayani vaksinasi untuk warga.

Sementara PW Muhammadiyah juga telah mengerahkan Covid-19 Command Centre dan jajarannya untuk membantu masyarakat.

Sedangkan Moh Jazuli dari Pesantren Pancasila Sakti Klaten, ingin kerja kolosal dilakukan kongkret dengan melibatkan berbagai komunitas secara maksimal dan konsisten. Akses informasi dan koordinasi juga mestinya dipermudah.

Menanggapi berbagai keluhan dan masukan ini, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta warganya melapor jika ada individu atau kelompok masyarakat yang menyebarkan hoaks atau mengajak melanggar aturan. Namun, Ganjar juga meminta dukungan saat dia bertindak tegas.

“Saya online tetus. Saya akan ambil tindakan tegas. Saya ingatkan yang di Sukoharjo, ayo ditutup. Laporkan ke saya. Bapak Ibu, kalau ada tindakan tegas, saya minta dukungan. Saya sudah mendekati satu persatu ulama yang provokatif. Saya telfon ulama yang lagi ngaji untuk stop. Saya ambil risiko loh. Bisa digoreng secara agama,” kata Ganjar.

Dia pun mengingatkan, pandemi ini bisa kelar jika ada kerja bersama seluruh elemen.

“Bangun kelompok dan komunitas. Sepeti Covid Ranger di Rembang, mereka punya data dan bantuin orang yang lagi isoman. Ada komunitas yang khusus beli produk UMKM. Daripada demo di jalanan, mending bantu UMKM. Kalau nunggu pemerintah, nggak akan bisa. Harus bareng-bareng,” ucapnya.

Selain itu, pejabat juga harus memberi contoh. Pemprov Jateng telah mencontohkan memproses para pejabat melanggar prokes dan aturan hingga pengadilan. Soal bansos, kata Ganjar, peran Baznaz dan CSR diperlukan di luar bantuan resmi pemerintah pusat dan daerah.

Sedangkan Menko Polhukam Mahfud MD mengingatkan pentingnya kolaborasi dan kerja kolektif berdasarkan kesadaran bersama. Tidak hanya mengandalkan pemerintah, tidak juga mengandalkan ormas keagamaan, dan berbagai kekuatan masyarakat yang dibiarkan bekerja sendiri.

“Kita perlu dukungan dan perantara alim ulama, pengasuh ponpes, pimpinan agama, untuk mendukung peningkatan implementasi kesehatan dan percepatan vaksinasi pada masyarakat. Mari kolaborasinya diperkuat,” ajaknya.

Soal hoaks di media sosial, Mahfud menyatakan, aparat akan tegas namun tetap berhati-hati.

“Kita sudah punya UU ITE. Tapi memang dilema, kalau dilaporkan, nanti dibilang antidemokrasi. Sehingga lalu Presiden mengatakan, jangan sembarang menindak di medsos saat menggunakan pasal UU ITE. Harus selektif, jangan sampai orang nggak salah jadi korban. Selain itu, kita kedepankan restorative justice dan humanis,” terangnya. (INI)

Diterbitkan di Berita