Iran "Buka" Selat Hormuz, Kapal Afiliasi Musuh Tetap Dilarang Melintas

Minggu, 22 Maret 2026 21:17
(0 pemilihan)

KOMPAS.com - Ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran mengeluarkan pernyataan resmi terkait status operasional Selat Hormuz.

Jalur perairan paling strategis di dunia ini dinyatakan tetap terbuka untuk pelayaran internasional, namun dengan pengecualian tegas bagi kapal-kapal yang dianggap berafiliasi dengan musuh-musuh Iran.

Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Apa yang Perlu Diketahui?

Syarat melintas di Selat Hormuz Perwakilan Iran untuk badan maritim PBB (IMO), Ali Mousavi memberikan klarifikasi mengenai status Selat Hormuz pada Minggu (22/3/2026). Menurut Mousavi, jalur perairan tersebut pada dasarnya tetap terbuka bagi pengiriman internasional.

Selat Hormuz, Strategi Iran untuk Menekan AS-Israel Artikel Kompas.id Meski begitu, Iran memberikan pengecualian tegas: kapal yang memiliki hubungan dengan "musuh-musuh Iran" dilarang melintas.

“Selat Hormuz terbuka untuk siapa saja, kecuali ‘musuh’,” kata Mousavi menurut laporan agensi berita Iran Mehr dikutip dari CNN, Minggu (22/3/2026). Bagi kapal-kapal yang tidak terkait dengan kelompok “musuh”, Iran tetap mewajibkan adanya koordinasi dengan otoritas keamanan dan keselamatan mereka sebelum melewati selat.

“Keamanan kapal dan seluruh awaknya memerlukan koordinasi dengan pihak berwenang Iran,” imbuhnya.  Mousavi menegaskan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan IMO dan negara lain untuk menjaga keamanan pelayaran dan melindungi para kru kapal di Teluk. Menurutnya, diplomasi adalah prioritas utama Iran.

Meski begitu, penghentian agresi sepenuhnya membutuhkan rasa saling percaya sebagai jaminan penting.

Ultimatum 48 jam dari Donald Trump

Pemerintahan Presiden Donald Trump memberikan kelonggaran sementara terhadap sanksi pembelian minyak Iran di laut selama 30 hari. Kebijakan ini ditempuh sebagai upaya meredam lonjakan harga minyak dunia di tengah konflik dengan Iran.

Pemerintahan Presiden Donald Trump memberikan kelonggaran sementara terhadap sanksi pembelian minyak Iran di laut selama 30 hari. Kebijakan ini ditempuh sebagai upaya meredam lonjakan harga minyak dunia di tengah konflik dengan Iran.(AFP/MANDEL NGAN)

Langkah Iran ini tidak lepas dari tekanan eksternal. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. Trump memberikan ultimatum agar Selat Hormuz dibuka sepenuhnya dalam waktu 48 jam.

Jika permintaan tersebut tidak dipenuhi hingga tenggat waktu pada Senin (23/3/2026), Amerika Serikat mengancam akan menargetkan infrastruktur pembangkit listrik di Iran sebagai bentuk tindakan militer.

Trump juga sempat menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan segera melakukan pengawalan terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi jalur tersebut. Ancaman krisis energi dunia Selat Hormuz memiliki peran yang sangat krusial bagi ekonomi global.

Wilayah ini merupakan jalur utama bagi sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Saat ini, sebagian besar perusahaan pelayaran memilih untuk menghindari jalur tersebut karena risiko serangan di tengah konflik bersenjata yang sedang berlangsung.

Jika gangguan terus berlanjut, para analis memperingatkan adanya potensi guncangan energi global yang masif. Terkait Selat Hormuz Di lapangan sendiri, ketegangan antara Iran dan AS maupun Israel belum mereda.

Setelah ultimatum yang dikeluarkan Trump, pihak Iran menjawabnya dengan tegas siap membalas jika AS benar-benar menyerang infrastruktur pembangkit listrik mereka. Dilaporkan BBC, Sabtu (21/3/2026), rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam area pemukiman di Dimona serta kota Arad, Israel.

Sumber: https://internasional.kompas.com/read/2026/03/22/160000870/iran-buka-selat-hormuz-kapal-afiliasi-musuh-tetap-dilarang-melintas?page=all.

Baca 60 kali
Bagikan: