KBRN, Jakarta: Dominasi ornamen berwarna merah, kuning, dan hijau membuat orang tidak akan menyadari bangunan yang terletak di Jalan Lautze, Pasar Baru, Jakarta Pusat itu masjid.

Kental dengan nuansa oriental, Masjid Lautze diresmikan secara langsung oleh Presiden Ketiga RI BJ Habibie pada 1994 yang kala itu mengemban tugas sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat.

Masjid yang tampak biasa itu adalah saksi masyarakat beretnis Tionghoa di Indonesia mengenal Islam. Sosok Oei Tjeng Hien atau dikenal sebagai Karim Oei memilih menjadi mualaf hingga akhirnya benar- benar mencintai dan mendedikasikan hidupnya untuk Islam di Indonesia.

Karim Oei adalah tokoh kenamaan di Muhammadiyah di eranya dan pernah bertanggung jawab atas operasional Masjid Agung Istiqlal sebagai pimpinan harian pada tahun 70-an.

Berkat usahanya hingga kini Masjid Lautze tubuh besar tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi untuk warga Tionghoa mengenal Islam, namun juga bisa tumbuh sebagai tempat ibadah di kawasan pecinan Jakarta Pusat.

Di dalam masjid banyak terkihat ornamen kaligrafi dengan aksara China merupakan hasil buah tangan dari pengunjung yang datang dan sebagian dibawah Ali Karim Oei.

Selain itu juga interior ruangan bagian dalam Masjid diberi warna putih, dan masing-masing  tembok diberi ornamen lis kayu berwarna merah yang dibentuk menyerupai kubah.

Dari pantauan rri.co.id,Jumat (23/4/2021) tidak hanya warga Tionghoa yang melakukan shalat namun warga pribumi berbaur bersama mereka.

1. Dominasi ornamen berwarna merah, kuning, dan hijau membuat orang tidak akan menyadari bangunan yang terletak di Jalan Lautze, Pasar Baru, Jakarta Pusat itu masjid.

 

 

2. Diresmikan secara langsung oleh Presiden Ketiga RI BJ Habibie pada 1994 yang kala itu mengemban tugas sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat.

 

 

3. Tidak hanya warga Tionghoa yang melakukan salat namun warga pribumi berbaur bersama mereka sebagai lambang hidup bersama.

 

 

4. Masjid Lautze tubuh besar tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi untuk warga Tionghoa mengenal Islam, namun juga sebagai tempat ibadah di kawasan pecinan Jakarta Pusat.

 

 

5. Di dalam masjid banyak terkihat ornamen kaligrafi dengan aksara China merupakan hasil buah tangan dari pengunjung yang datang dan sebagian dibawah Ali Karim Oei. 

 

 

6. Sosok Oei Tjeng Hien atau dikenal sebagai Karim Oei sebagai tokoh pendiri Masjid Lautze.

 

 

Diterbitkan di Berita

Dian Utoro Aji - detikNews Jepara - Sebuah masjid dan gereja saling berhadapan di Jepara, Jawa Tengah. Keduanya pun menjadi saksi bisu keharmonisan umat muslim dan kristiani di Jepara.

Masjid dan gereja tersebut berada di Desa Tempur Kecamatan Keling. Masjid itu bernama Nurul Hikmah dan Gereja Injili Tanah Jawa.

Untuk sampai di lokasi cukup jauh dari pusat kota Jepara. Jaraknya sekitar 50 kilometer atau sekitar 1 jam 32 menit. Belum lagi lokasi dari Kecamatan Keling menuju Desa Tempur cukup ekstrem dan menikung. Sebab letak Desa Tempur berada di lereng Gunung Muria.

Meski cukup ekstrim namun keindahan alam masih alami. Ditambah suasana pedesaan, menjadi daya tarik sendiri untuk datang ke Desa Tempur. Masjid dan gereja tersebut berada di Dukuh Pekoso Desa Tempur.

Pendeta gereja Injili Tanah Jawa Desa Tempur, Suwadi mengatakan kedua tempat ibadah tersebut dibangun terlebih dahulu gereja daripada bangunan masjid. Bangunan gereja didirikan sejak tahun 1988.

Suwadi mengatakan dulu sebelum ada gereja masyarakat kristiani menjalankan ibadah di rumah. Hingga akhir warga bergotong-royong mendirikan gereja di Desa Tempur. "Terus lama-lama ada renovasi gereja sampai sekarang itu. Dulunya di rumah tahun 1986," ungkapnya.

Sedangkan pembangunan masjid baru tahun 2003. Pengurus masjid tersebut adalah kakak kandung Suwadi bernama, Giran Hadi Sunaryo.

"Lokasi memang gereja dan masjid, yang masjid itu kan kakak saya. Masjid kakak saya, gereja adik, saya sendiri. Saudara kandung. Gereja yang dulu, tahun 2003 masjid nyusul," ungkap Suwadi.

Suwadi mengatakan selama ini meski lokasi bersebelahan justru rasa toleransi masyarakat cukup tinggi. Kedua umat islam dan kristiani bahkan saling bantu membantu.

"Masalah toleransi orang sini sangat bagus sampai sekarang. Andai kata gereja ada renovasi, umat muslim ya ikut bergotong-royong, ya tenaga ya nyumbang semen. Ya nanti kalau masjid bangun begitu juga, umat kristiani ya ikut andil masalah pembangunan juga," kata Suwadi.

Tidak hanya itu, saat perayaan hari besar pun kedua umat tersebut saling menghormati. Suwadi mencontohkan saat perayaan hari raya idul fitri, serambi masjid penuh sehingga pihak gereja menyediakan tempat.

"Kalau ada hari besar, misalnya saat Natal, gereja tidak muat, ya di serambi masjid. Kalau masjid ada lebaran, bisa di gereja," ucapnya.

Pengurus Masjid Nurul Hikmah, Abu Abdillah mengatakan kedua umat muslim dan kristiani di Desa Tempur saling bertoleransi. Menurutnya tidak pernah ada konflik meski lokasi masjid dan gereja bersebelahan.

"Ya di antaranya dua tempat ibadah ini ya saling toleransi, saling tolong menolong. Bantu membantu. Ya rukun-rukun saja, tidak saling berpendapat lain, kalau ada kerja bakti.

Misalkan masjid membangun, dari orang kristiani membantu tenaga, tapi sebaliknya kalau gereja membangun, dari umat islam juga saling membantu. Saling kerja samalah," kata Abu.

Abu menceritakan pernah suatu ketika perayaan besar umat islam dan kristiani bersamaan. Keduanya pun saling menghormati saat perayaan hari besar.

"Pernah hari raya dan Natal hampir sama. Itu di antara orang Islam bisa menjaga diri jangan sampai menganggu, kristiani juga jangan menganggu agama lain. Saling menghormati," ucapnya.

Kades Tempur, Mariyono menuturkan Desa Tempur termasuk desa yang memiliki rasa toleransi tinggi. Di desa tersebut mayoritas beragama Islam. Meskipun perbedaan keyakinan namun bisa hidup secara berdampingan.

"Tempur termasuk desa toleransi sangat tinggi, karena di wilayah presentasi 98 persen adalah Islam. Dan sisanya Kristen," terang dia.

Menurutnya di Desa Tempur terdapat 3.575 jiwa dan ada enam dukuh. Masyarakat secara administrasi beragama Islam dan Kristen. Menurutnya selama ini tidak ada konflik di lingkungan masyarakat.

"Secara administrasi di kependudukan hanya dua, Islam dan Kristen. Di tempur ada enam dukuh. Jumlah jiwa saat ini 3.575 jiwa. Untuk sampai saat ini itu konflik tidak ada dengan latar belakang agama. Itu terbukti kami hidup berdampingan," pungkasnya.

(mbr/mbr)

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Sekelompok arsitek Mesir berhasil memenangi sayembara desain pembangunan kembali Masjid Raya al-Nuri di Kota Mosul, Irak, setelah empat tahun lalu dihancurkan oleh kelompok milisi yang menyebut diri mereka Negara Islam (ISIS).

Kelompok itu meledakkan masjid peninggalan abad ke-12 tersebut pada Juni 2017 saat pasukan pemerintah Irak bergerak merebut kembali Kota Mosul. Pertempuran merebut kembali Mosul berlangsung hampir sembilan bulan, menghancurkan sebagian besar kota itu.

Ribuan warga sipil tewas dan lebih dari 900.000 lainnya kehilangan tempat tinggal.

Tiga tahun sebelumnya, pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, memproklamirkan "kekhalifahan" dari masjid tersebut.

Rekonstruksi masjid ini merupakan bagian dari proyek 'Membangkitkan Semangat Mosul' yang didanai Perserikatan Bangsa Bangsa.

Pembangunan kembali masjid raya itu "akan menjadi tonggak penting dalam proses memajukan rekonsiliasi kota itu setelah dilanda perang," kata Audrey Azoulay, yang memimpin badan PBB urusan kebudayaan, Unesco.

Delapan arsitek Mesir itu, dengan desain bernama Courtyards Dialogue, terpilih dari total 123 desain yang dilombakan.

 

masjid

Delapan arsitek Mesir itu, dengan desain bernama "Courtyards Dialogue", terpilih dari total 123 desain yang dilombakan. UNESCO

 

Desain aula salat akan dibuat seperti dulu, disertai dengan sejumlah perubahan, termasuk penggunaan cahaya alami dan perluasan ruang salat untuk perempuan dan tokoh-tokoh penting, demikian pernyataan Unesco.

 

Warisan Nur al-Din Mahmoud Zangi

Nama masjid raya itu terinspirasi dari seorang tokoh bernama Nur al-Din Mahmoud Zangi - penguasa Mosul dan Aleppo yang terkenal menyatukan laskar-laskar Muslim melawan Tentara Salib Kristen.

Dia yang memerintahkan pembangunan masjid itu pada 1172, dua tahun sebelum meninggal.

Selama 28 tahun memerintah, Nur al-Din berhasil merebut Damaskus dan turut berperan bagi keberhasilan Saladin, yang menjadi anak buahnya sebagai panglima perang di Mesir sebelum mendirikan dinasti Ayyubiyah dan merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187.

Nur al-Din juga dihormati oleh para jihadis atas upayanya untuk membuat Muslim Sunni mendominasi atas Syiah.

 

masjid

Masjid ini jadi lokasi pemimpin ISIS memproklamirkan kekalifahan ALAMY

 

Menara "Si Bungkuk"

Terlepas dari hubungannya dengan sosok termasyhur itu, yang tersisa dari wujud asli masjid hanyalah menara miring, beberapa tiang dan mihrab, sebuah relung yang menunjukkan arah ke Mekah.

Menara miring itu dijuluki "al-Hadba" atau "si bungkuk", yang rusak parah selama Pertempuran Mosul.

Menara silindris tersebut ditutupi dengan susunan batu bata rumit yang terinspirasi oleh desain Iran dan ditutup dengan kubah kecil diplester putih.

Pada saat pembangunannya selesai, menara itu memiliki tinggi 45 meter. Tetapi pada saat Ibnu Batutah mengunjungi Mosul pada abad ke-14, menara itu sudah miring secara signifikan sehingga berjuluk "al-Hadba".

 

Masjid

Menara al-Hadba saat difoto pada 1932 sudah terlihat miring. LIBRARY OF CONGRESS

 

Penyebab kemiringan menara itu tidak sepenuhnya diketahui. Menurut kepercayaan lokal, menara itu membungkuk kepada Nabi Muhammad saat naik ke surga, walau faktanya adalah Nabi wafat berabad-abad sebelum masjid itu dibangun.

Tetapi para ahli percaya hal itu disebabkan oleh tekanan angin barat laut, efek matahari pada batu bata di sisi selatan, atau terkait kualitas gipsum yang digunakan untuk menahan batu bata.

Lalu serangan bom yang menyerang Mosul selama perang Iran-Irak juga merusak pipa bawah tanah di dekat dasar menara, dan ini membuat limbah terkumpul di kolam dan melemahkan fondasinya.

Pembangunan kembali masjid yang hancur itu akan dimulai akhir tahun ini.

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Menurut organisasi nirlaba Feeding America, satu dari enam warga AS tidak punya akses ke makanan yang sehat dan aman. Salah satu bank makanan di sekitar Washington DC berusaha mengubahnya.

Akhir-akhir ini di Amerika, orang-orang mengantre untuk mengambil makanan gratis, karena banyak yang kehilangan pekerjaan. "Saya baru mulai datang sejak 3 atau 4 bulan lalu," kata seorang warga. "Saya datang kesini selama lebih dari 5 tahun."

Tak jauh dari Washington DC, Masjid Dar al-Hijra membagikan makanan gratis kepada mereka yang membutuhkan. Ada yang baru datang pertama kalinya, tapi banyak juga yang datang bertahun-tahun.

Makanan yang dibagikan termasuk ayam halal serta sayur mayur seperti bawang, tomat dan kentang. "Setiap Kamis, ada lebih dari 100 keluarga yang masuk dalam daftar kami," kata Nabila Om Salam, relawan Masjid Dar al-Hijra.

Kelaparan di Amerika bukan hal baru. Tapi keadaannya semakin buruk karena pandemi virus corona menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan.

Lembaga amal Feeding America memperkirakan 1 dari 6 warga Amerika terancam kelaparan karena pandemi.

Bank pangan di seluruh Amerika kebanjiran permintaan karena semakin banyak warga menganggur. "Orang mengira 'oh, kamu di Amerika tidak ada yang kelaparan.' Tapi Anda akan terkejut karena banyak yang kelaparan.

Mereka tak tahu apakah harus menyimpan uang untuk makan atau membayar sewa rumah. Mereka bayar sewa terlebih dulu," kata Janine Ali, Volunteer, relawan di Masjid Dar Al Hijrah lainnya.

Ratusan pusat ibadah di Amerika, seperti Dar Al Hijrah, menjadi bank pangan setiap minggu. Di sini, makanan dari bank pangan yang lebih besar dibagikan kepada yang membutuhkan. Feeding America, jaringan pangan terbesar, mengelola sekitar 200 bank pangan di seluruh Amerika.

Organisasi non-pemerintah ini mengumpulkan dan membagikan berton-ton makanan setiap tahun, dibantu oleh para relawan.

Naeem Baig dari Dar Al Hijrah datang ke Amerika dari Pakistan lebih dari 30 tahun lalu. Dia mengatakan kemiskinan di Amerika memang berbeda, tapi penderitaan yang dialami warga miskin sama saja.

Imam Naeem Baig dari Masjid Dar Al Hijrah mengatakan, "Definisi kemiskinan atau orang miskin di Pakistan, India atau negara lain itu kalau Anda tak punya sepatu atau bajunya robek. Tapi di AS, orang miskin datang naik mobil. Mobil bukan kemewahan di sini, tapi kebutuhan."

Relawan dan staf mengatakan kebanyakan warga yang minta bantuan, kurang berpendidikan dan kurang cakap berbahasa Inggris, sehingga tak punya pekerjaan yang bagus.

Ditambah pandemi COVID-19 yang memperbesar kesenjangan antara kaya dan miskin di negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini. [vm/jm]

Diterbitkan di Berita

“Nah dengan terowongan itu filosofi Pancasila, karena sebagai dasar dan pondasi bisa mempersatukan mempertemukan ragam kultural bangsa”,  kata Romo Benny dalam keterangan tertulisnya kepada rri.co.id, Jumat (26/3/2021).

Ia mengatakan keberadaan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal sejak dibangun tidak pernah ada persoalan. Hal tersebut menunjukan simbol keberagaman yang harus dijaga oleh seluruh masyarakat Indonesia.

“Istqlal dan Katedral tidak hanya menjadi simbol peradaban (simbol Kebhinekaan) tetapi mebawa kita semua, bahwa hebatnya bapak para pendiri bangsa kita, membawa intuisi bagaiamana merajut indoensia,”  tegasnya.

Dengan kerukunan yang dipupuk, maka dirinya optimistis akan memperkuat struktur ekonomi bangsa, kondusifitas maupun kesejahteraan bangsa Indonesia seperti yang dicita-citakan nenek moyang kita.

“Kita punya modal, bahawa kerukunan kalau sudah dipupuk akan memperkuat struktur ekonomi, ekonomi itu kan bukan hanya sarana, barang dan jasa, tetapi hanya iklim yang saling membantu”, terangnya.

Menyinggung pernyataan Ketua DPR RI Puan Maharani tentang “Non Muslim yang diperbolehkan masuk ke dalam Masijid Istiqlal” Romo Benny mengapresiasi karena pada saat didirikan oleh pendiri bangsa, Masjid Istiqlal yaitu simbol dari kemerdekaan yang menyatu dengan Gereja Katedral yang menunjukan simbol Kebhinekaan.

“Nah masjid Istiqlal kan dulu dibangun bekas benteng yang disebut  “citadel “ dibangun sebagai simbol kemerdekaan, yang menyatu dengan Gereja Katedral,”  ucapnya.

Ia menekankan dengan kemerdekaan bangsa Indonesia, harus mempu merawat dengan kekuatan persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

“Dan memang waktu itu luar biasa, kerjasama lintas iman dalam merawat Kebhinekaan,”  terangnya. 

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.TV- Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Pol Listyo Sigit, Prabowo mengajak seluruh pemuda masjid di Tanah Air untuk bersama-sama melawan segala bentuk intoleransi dan juga radikalisme.

Hal ini seperti diutarakan Kapolri saat menerima kunjungan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) di Mabes Polri, Senin (22/3/2021).

“Pendekatan dan diskusi dengan organisasi masyarakat (ormas) keagamaan sangat penting dilakukan guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas),” jelas Kapolri dalam pertemuan tersebut.

Jenderal bintang empat itu pun menyambut baik dimana bentuk intoleransi dilawan dengan moderasi keagamaan yang memerlukan tokoh-tokoh agama.

"Kami juga siap bekerjasama dengan pemuda masjid untuk membangun bangsa," kata mantan Kapolresta Solo dan juga Kapolda Banten tersebut.

Peran ormas yang peduli bangsa saat ini, kata Kapolri, sudah semakin bagus. Ia pun berharap, basis pemuda masjid sampai tingkat desa harus saling menguatkan.

Selain itu, seperti dikutip keterangan tertulis dari Divisi Humas Polri yang diterima Kompas.tv, mantan Kabareskrim ini meminta peran tokoh agama menyosialisasikan 3M dan ketahanan pangan melalui program Kampung Tangguh.

"Prinsipnya Polri siap bekerjasama dan mendukung program-program dalam memerangi hal-hal yang menyerang negara," ungkapnya.

Kapolri pun mengajak para tokoh dan pemuda agama bersatu membangun bangsa setelah adanya polarisasi di Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Dalam kesempatan yang sama, Ketua BKPRMI Said Aldi mengatakan, pihaknya siap bekerjasama dengan polisi di daerah dalam membina ustaz, ustazah serta dai dalam menjaga kamtibmas dan menutup kemungkinan adanya radikal masuk ke pemuda Masjid.

"Badan Pemuda Masjid dalam membina ustaz, ustazah dan dai kamtibmas sekalian untuk menutup kemungkinan adanya radikal yang akan masuk ke pemuda Masjid," sambung dia.

Adapun Ketua Penasehat BKPRMI Idrus Marham menambahkan, basis BKPRMI adalah masjid, maka jika ada masalah di Masjid dapat dikoordinasikan dengan pemuda Masjid.

"Kalau ada bencana maka pemuda masjid ikut mengambil bagian dan bagaimana polanya kerjasama pembinaan masyarakat sesuai dengan ciri karakter masing-masing daerah," tandas Idrus Marham.

Penulis : Gading Persada 

Editor : Eddward S Kennedy

Diterbitkan di Berita

SURAKARTA,  suaramerdeka.com - Menteri Agama RI Yaqut Cholil Choumas menyampaikan bahwa, pembangunan masjid Syeikh Zayed di Solo hadiah dari Pangeran UEA kepada Presiden Jokowi, adalah  bukti hubungan baik antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab, yang akan terus ditingkatkan.

“Atas nama pribadi, menteri, dan bangsa Indonesia saya berterima kasih atas (hadiah) bangunan masjid ini,” kata Gus Yaqut, Sabtu (6/3). Gus Yaqut, sapaannya, berharap hubungan tersebut dapat meningkatkan pengembangan toleransi dan moderasi di Indonesia.

“Mudah-mudahan, kita tahu Uni Emirat Arab negara di Timur Tengah yang terkenal dengan toleransi, sehingga ini bisa menginspirasi kita kembali untuk mengembangkan toleransi dan moderasi,” ujarnya. Diketahui, pembangunan masjid ini merupakan miniatur Syeikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, yang akan dibangun di lahan seluas 2,9 hektare bekas Depo Pertamina Gilingan, Banjarsari, Solo.

Rencananya masjid yang menghabiskan biaya Rp5,7 triliun itu akan mampu menampung 12.000 orang jemaah. Bukan hanya untuk tempat ibadah, masjid itu nantinya akan jadi destinasi wisata religi di Jawa Tengah, terutama di Solo.

Selain masjid di Gilingan, Solo, Pangeran UEA juga berencana membangun Islamic Center yang membutuhkan lahan seluas empat hektare. Pusat Pembelajaran Islam tersebut tidak bisa dibangun di lokasi yang sama karena besarnya ukuran masjid.

Diterbitkan di Berita
Halaman 4 dari 4