Tim detikcom - detikNews Tangerang - Kompleks Perumahan Illago di Gading Serpong, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, digeruduk massa. Insiden ini terjadi setelah salah satu warga di perumahan tersebut memprotes pengeras suara di masjid. Namun situasi sudah kondusif setelah pihak kepolisian melakukan mediasi.

Kapolres Tangerang Selatan AKBP Iman Imanuddin membenarkan adanya kejadian itu. Iman memastikan situasi di lokasi kondusif, meski warga sempat berkumpul di depan perumahan warga tersebut.

"Sudah clear semalam. Sejak kejadian juga sudah kita amankan dan tidak ada masalah. Yang protes juga sudah bikin permintaan maaf," kata Iman saat dihubungi detikcom, Kamis (20/5/2021).

Iman menjelaskan peristiwa bermula ketika seorang sopir di Illago menyampaikan protes ke pengurus masjid soal pengeras suara. Sopir tersebut menyampaikan bahwa majikannya merasa terganggu oleh volume pengeras suara.

Protes ini disampaikan sopir tersebut beberapa hari yang lalu. Namun warga baru berdatangan ke Illago pada tadi malam.

"Dia cerita ke pengurus masjid itu setiap pulang kerja lelah, corong masjidnya ke tempat dia, dia minta agar digeserin. Tapi yang dia sampaikan ke pengurus masjid ini beda, dia bilang bahwa majikannya yang terganggu," jelasnya.

"Sebetulnya sudah beberapa hari yang lalu, tapi warga baru denger tadi malam, akhirnya pada datang," katanya.

Iman memastikan situasi di lokasi malam tadi kondusif. Tidak ada korban ataupun kerugian materi yang ditimbulkan.

"Nggak ada, itu cuma pada kumpul saja dan langsung dibubarkan tadi malam," katanya.

Dihubungi terpisah, Kapolsek Gading Serpong AKP Fredy mengungkapkan kejadian tersebut hanya kesalahpahaman. Polisi telah meminta keterangan kepada pihak terkait hingga pengurus DKM masjid tersebut.

"Masalah kesalahpahaman, infonya jadi kan ini yang diinikan (diprotes) masjid, (letaknya) ada di permukiman warga situ juga. Yang omong itu orang yang di cluster, jadi dibilangnya berisiklah," kata AKP Fredy saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (19/5/2021) malam.

Peristiwa ini terjadi pada Rabu (19/5) menjelang pukul 22.00 WIB. Bermula, ketika seorang sopir dari warga di cluster tersebut menyampaikan protes majikannya ke pihak masjid soal pengeras suara.

"Tapi kita konfirmasi ke majikannya bilang, 'Saya nggak merasa bilang gitu, Pak'," jelasnya.

Meski begitu, pernyataan yang disampaikan oleh sopir ini mengundang amarah warga. Sejumlah warga kemudian berdatangan ke gerbang Cluster Illago.

"Jadi sebetulnya warga yang datang ke situ juga nggak ngerti permasalahannya, hanya mereka ini terprovokasi saja," ucapnya.

Fredy mengungkapkan pihaknya telah datang ke lokasi dan membubarkan kerumunan warga. Ia mengatakan tidak ada korban jiwa maupun materi akibat kejadian tersebut.

"Nggak ada, nggak ada yang dianiaya, nggak ada perusakan juga. Mereka cuma kumpul-kumpul depan gerbang Illago itu," tuturnya.

Polisi juga telah meminta keterangan kepada pihak pengurus masjid. Fredy mengatakan saat ini situasi di lokasi kondusif.

"Suah kondusif, sudah kita bubarkan, karena kan ini sedang pandemi COVID, jangan sampai nanti bikin kerumunan," katanya.

Dalam rekaman video yang viral, terlihat kerumunan warga di depan Cluster Illago, Gading Serpong. Warga tampak berkumpul di depan gerbang, dan ada yang tidak memakai masker.

"Situasi sudah kondusif. Kami sudah imbau agar mereka bubar dan sudah bubar malam itu juga," katanya.

Penelusuran detikcom, masjid yang diprotes sopir warga Cluster Illago itu ada di RT 02 RW 01 Desa Curug Sangereng, Kecamatan Kelapa Dua. Posisi masjid dan rumah warga yang protes itu bersampingan. Antara masjid dan rumah warga yang protes itu dibatasi sebuah tembok pembatas.

Abdul Haer, selaku Ketua RT 02 sekaligus pengurus masjid, menjelaskan awal mula kejadian tersebut. Menurut Haer, warga tersebut merasa terganggu karena pengeras suara mengarah ke rumah tempatnya bekerja sebagai sopir.

"Jadi awalnya ada utusan dari cluster disuruh menggeser pengeras suara sedikit, itu juga nggak saya hiraukan, makanya memang berdirinya masjid sama cluster, cuma dia ngerasa agak keganggu, bukan keganggu, minta tolong digeser (Toa).

Cuma tadi juga udah klarifikasi, udah negosiasi, kesepakatan, kekeluargaan," jelas Haer di lokasi.

Haer menjelaskan pengurus masjid dengan warga yang protes sebetulnya sudah selesai. Namun cerita ini sampai ke masyarakat sehingga warga berdatangan ke Cluster Illago.

"Emang ramainya semalam itu cuma kesalahpahaman, omongan itu ada yang sedikit menyimpang, dari pihak masjid udah nggak ada masalah. Istilahnya pihak masjid udah aman. Jadi udah bereslah," katanya.

 

(mei/fjp)

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Sebanyak 12 orang tewas akibat ledakan bom di masjid di ibu kota Afghanistan, Kabul. Insiden berdarah tersebut terjadi saat Salat Jumat. Jubir Kepolisian Kabul, Ferdous Faramarz, mengatakan imam masjid menjadi salah satu korban jiwa. Selain itu, terdapat pula 15 orang korban luka.
 
Meski demikian Ferdous tidak mengungkap di masjid mana ledakan tersebut terjadi, demikian dikutip dari Reuters. Sampai saat ini masih belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.
 
Teroris Taliban, yang biasanya menjadi otak serangan di Afghanistan, kini tengah melakukan gencatan senjata untuk menghormati Idul Fitri.
 
Ledakan di Kabul terjadi sepekan usai ledakan besar di sebuah sekolah. Kejadian berdarah itu mengakibatkan 80 orang lebih tewas.
 
Kekerasan di Afghanistan makin meningkat seiring rencana AS menarik seluruh pasukannya dari negara itu. Rencananya, semua tentara AS akan angkat kaki sebelum 11 September 2021.
Diterbitkan di Berita

Novi Christiastuti - detikNews Yerusalem - Sedikitnya 178 warga Palestina mengalami luka-luka dalam bentrokan dengan polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, pada Jumat (7/5) malam waktu setempat.

Polisi Israel menggunakan peluru karet dan granat kejut terhadap warga Palestina yang melemparkan batu ke arah mereka.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (8/5/2021), bentrokan ini pecah saat kemarahan memuncak di kalangan warga Palestina terkait potensi penggusuran sejumlah keluarga Palestina dari rumah-rumah mereka yang tanahnya diklaim oleh para pemukim Yahudi yang menggugat ke pengadilan.

Dalam bentrokan ini, ribuan warga Palestina berhadapan dengan ratusan polisi Israel yang memakai perlengkapan antihuru-hara.

Sebelum bentrokan pecah di kompleks Masjid Al-Aqsa, bentrokan lainnya terjadi di wilayah Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, di mana sejumlah keluarga Palestina terancam digusur usai pengadilan memutuskan tanah yang menjadi tempat tinggal mereka secara legal dimiliki para pemukim Yahudi.

Puluhan ribu warga Palestina memenuhi perbukitan di sekitar Masjid Al-Aqsa saat salat Jumat, dan banyak dari mereka bertahan di lokasi itu untuk memprotes putusan terkait sengketa tanah tersebut.

Usai waktu berbuka puasa, bentrokan tiba-tiba terjadi di Masjid Al-Aqsa. Seorang pejabat Masjid Al-Aqsa dengan menggunakan pengeras suara masjid mengimbau semuanya tetap tenang.

"Polisi harus segera berhenti menembakkan granat kejut ke arah jemaah, dan kaum muda harus tenang dan diam!" demikian seruan pejabat Al-Aqsa.

Bentrokan kecil juga dilaporkan terjadi di dekat Sheikh Jarrah, yang berlokasi di dekat Gerbang Damaskus, Kota Tua. Polisi Israel menggunakan meriam air untuk membubarkan ratusan demonstran yang berkumpul di dekat rumah-rumah keluarga Palestina yang berpotensi digusur.

"Jika kita tidak mendukung orang-orang ini, (penggusuran) akan (datang) ke rumah saya, rumahnya dan setiap warga Palestina yang tinggal di sini," teriak salah satu demonstran bernama Bashar Mahmoud (23).

Laporan paramedis Palestina menyebut 178 warga Palestina mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut. Dengan layanan ambulans Bulan Sabit Merah Palestina menyebut 88 warga Palestina di antaranya dilarikan ke rumah sakit setelah terkena peluru karet.

Menurut Bulan Sabit Merah Palestina, satu warga Palestina kehilangan salah satu matanya, dua orang lainnya mengalami cedera kepala serius dan dua lainnya mengalami retak tulang rahang. Sisanya mengalami luka-luka ringan.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kepolisian Israel menyebut warga Palestina melemparkan batu, kembang api dan benda-benda lainnya ke arah polisi. Disebutkan bahwa enam polisi Israel mengalami luka-luka dalam bentrokan dan membutuhkan perawatan medis.

"Kami akan merespons dengan tegas setiap gangguan kekerasan, kerusuhan atau tindakan membahayakan personel kami, dan akan berupaya mencari pihak yang bertanggung jawab dan mengadili mereka," tegas juru bicara Kepolisian Israel tersebut.

Mahkamah Agung Israel dijadwalkan akan menggelar sidang terbaru soal sengketa tanah di Sheikh Jarrah itu pada Senin (10/5) mendatang.

Diketahui bahwa sengketa tanah antara warga Palestina dan pemukim Yahudi di Sheikh Jarrah telah memicu pertikaian selama bertahun-tahun. Kasus hukum ini berpusat pada rumah-rumah empat keluarga Palestina yang diklaim oleh pemukim Yahudi.

Awal tahun ini, sebuah pengadilan distrik Yerusalem memutuskan bahwa rumah-rumah itu secara legal milik keluarga Yahudi, dengan mengutip pembelian tanah yang dilakukan beberapa dekade lalu.

Pemukim Yahudi yang mengajukan gugatan mengklaim keluarga mereka kehilangan tanah itu saat perang yang berujung pembentukan Israel tahun 1948 silam -- konflik yang juga membuat ratusan ribu warga Palestina kehilangan rumah mereka.

Namun keluarga-keluarga Palestina yang digugat menyediakan bukti bahwa rumah mereka diperoleh dari otoritas Yordania yang menguasai Yerusalem Timur antara tahun 1948 hingga 1967 silam.

Otoritas Yordania melakukan intervensi dalam kasus ini, dengan menyediakan dokumen untuk mendukung klaim keluarga Palestina.

(nvc/idh)

Diterbitkan di Berita

BEKASI, KOMPAS.com - Konflik akibat larangan bermasker di Masjid Al Amanah, Tanah Apit, Medan Satria, Kota Bekasi, telah berakhir damai. Kedua belah pihak, yakni Roni Oktavian sebagai korban dan Ustaz Abdul Rahman serta seorang pemuda bernama Nawir sudah berbaikan.

Nawir, pemuda yang viral karena bertindak arogan, membentak, bahkan mencopot masker yang sedang dikenakan Roni, malah didapuk sebagai duta masker protokol kesehatan. Kejadian bermula ketika Roni kembali mendatangi Masjid Al Amanah pada Rabu (5/5/2021) sore.

Ia kemudian menyatakan bahwa ia dan Nawir maupun Abdul Rahman sudah saling mengakui kesalahan.

"Tadi saya sudah sampaikan ke Mas Nawir, beliau kemarin arogan sekali, sudah kita sampaikan, sudah ketemu sama Pak Ustaz Abdul Rahman," kata Roni. "Kita sebagai umat marilah berlapang dada, seperti halnya memang kita mengikuti hadis atau sifat nabi kita Muhammad SAW.

Marilah kita berlapang dada, saling memaafkan, dan Mas Nawir juga beserta pengurus masjid ini sudah mengakui akan kesalahannya," ungkapnya.

Roni juga melontarkan ajakan senada untuk warganet yang sempat ikut tergerak emosinya menyaksikan konflik tersebut.

"Jadi, dalam arti sudah selesai, saya minta sahabat kami, netizen, untuk menerima kembali sahabat-sahabat kami ini, menjadi saudara kita yang kita saling cintai," kata dia.

"Islam itu indah, tidak ada ajaran-ajaran Islam untuk saling ribut," lanjut dia.

Roni kemudian memasang masker di wajah Nawir. Hal itu sekaligus simbolisasi atas penyerahan bantuan 2 dus masker terhadap Masjid Al Amanah petang itu.

"Mas, ada dua pilihan. Mas Nawir memilih secara hukum, atau Mas Nawir akan menjadi duta masker prokes yang akan dijalankan di tidak hanya masjid, tapi Indonesia?" tanya Roni kepada Nawir.

"Duta prokes, sumpah demi Allah," jawab Nawir. Nawir kemudian menyatakan pula permintaan maafnya atas arogansi yang telah ia perlihatkan dalam konflik yang terjadi pada akhir April 2021 itu.

"Untuk semua masalah yang terjadi, alhamudlillah saya dan Pak Roni sudah menyelesaikannya di polsek dan kepada media," ujar pemuda itu.

"Adapun pembicaraan saya yang kemarin, arogansi, saya mohon maaf, karena saya juga manusia, yang penuh khilaf, saya mohon maaf kepada media dan para netizen," lanjut Nawir.

"Alhamdulillah, dipercaya jadi duta masker, jalankan sebaik mungkin supaya tak terulang lagi. Dan saya akan menjalankan sebaik mungkin prokes dari pemerintah," katanya.


Penulis : Vitorio Mantalean
Editor : Jessi Carina

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyayangkan kejadian pengusiran terhadap seseorang yang sedang melaksanakan sholat dan i’tikaf di sebuah masjid di Bekasi oleh beberapa pemuda dengan alasan yang bersangkutan menggunakan masker.

Terlebih pengusiran itu didasarkan dengan menggunakan ayat suci Al Qur’an.

“Perlu kami tegaskan bahwa pengggunaan masker (adalah) bukan tindakan kriminal dan menggunakan masker bukan sesuatu yang membatalkan sholat ataupun membatalkan peribadatan,” kata Sekretaris Jenderal PBNU Gus Helmy Faishal Zaini dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (5/3).

Bahkan di Masjidil Haram, Kebijakan dari dua masjid suci Makkah al Mukarramah dan Madinah al Munawwarah, jama’ah diharuskan menggunakan masker dalam peribadatan. Justru yang berbahaya, kata Gus Helmy, mereka yang mengatasnamakan agama, tetapi justru merusak agama.

“Mohon maaf contohnya adalah menggunakan ayat bahwa barang siapa yang masuk ke baitullah akan dijaga keamanan dan keselamatannya, ayat ini benar tapi kita tidak kemudian meletakkannya secara keliru,” ujar Gus Helmy

“Bahwa dalam keadaan pandemi situasi wabah, penggunaan masker ataupun menjaga protokol kesehatan itu bagian dari hifzun nafs yaitu menjaga keselamatan jiwa,” tambahnya.

Kiai Muda kelahiran Cirebon ini mengungkapkan bahwa hifzun nafs dianjurkan dalam beragama. Maka untuk itu mari saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang baik dan jika ada perbedaan, maka selesaikan dengan cara yang baik.

“Saya mendengar para pemuda itu sudah meminta maaf, mari kita maafkan. Mudah mudahan jadi pelajaran kita semua. Dakwah Islam harus dijalankan dengan cara yang ramah, bukan marah.

Mari kita saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang baik, sehingga kita mendapatkan hikmah yang baik,” pesannya.

Kronologis
Beredar video seorang jemaah salat menggunakan masker di dalam masjid justru diusir oleh takmir masjid. Dari informasi yang dihimpun, insiden tersebut terjadi di Masjid Al Amanah, kawasan perumahan Harapan Indah Bekasi, Jawa Barat.

Dalam video berdurasi 2 menit 20 detik tersebut tampak seorang jemaah pria yang baru saja menyelesaikan salat mengenakan masker itu didatangi oleh beberapa takmir masjid. Mereka memarahi jemaah yang salat di dalam masjid mengenakan masker.

“Jangan pakai masker, ada perbedaan masjid dengan pasar,” kata salah seorang takmir, Ahad (2/5/2021).

Pria yang mengenakan jubah berwarna kuning dengan peci itu mengutip Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 96 yang artinya “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam”.

Sang jemaah tetap bersikeras bahwa mengenakan masker di dalam masjid merupakan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19.

Namun, alasan si jemaah terus dibantah oleh takmir masjid. Mereka menyebut masjid memiliki aturan tersendiri yang berbeda dengan pemerintah. (fqh)

Diterbitkan di Berita

sindonews.com

Entah setan apa yang merasuki pengurus masjid di Kp Tanah Apit, Medan Satria, Kota Bekasi ini. Para pengurus mesjid ini membentak dan mengusir salah satu jamaah yang hendak sholat.

Masalahnya sepele, hanya karena jamaah masuk ke dalam masjid mengenakan masker. Pengurus Masjid Al Amanah berdalih mereka telah membuat aturan melarang penggunaan masker di dalam masjid. Ironisnya mereka berkeyakinan virus corona tidak akan menyebar di dalam masjid.

Padahal jelas ada beberapa kasus penyebaran corona yang terjadi di tempat ibadah salah satunya masjid. Penggunaan masker di tempat umum dan tempat ibadah sendiri sebagai upaya untuk mencegah penyebaran covid 19.

Kasus pengusiran jamaah di Masjid Al Amanah ditangani Polsek Medan Satria. Polisi menegur pengurus DKM Al Amanah yang dinilai arogan

Hingga akhirnya Ketua DKM Al Amanah Abdul Rahman membuat surat pernyataan dan meminta maaf kepada jamaah. Mereka berjanji tidak akan melarang penggunaan masker di dalam masjid.

(sir)
Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Krisis pandemi Covid-19 di India nampaknya sudah semakin parah setiap harinya. 

Hal tersebut terlihat pada sebuah masjid di India yang berubah menjadi sebuah rumah sakit darurat pasien Covid-19. Masjid tersebut adalah masjid Jahangipura.

Melansir dari Arab News, Jumat (30/4/2021) kondisi tersebut dilakukan oleh komunitas Muslim India yang terhitung minoritas. Fasilitas di dalamnya terdapat 50 kasur medis tampak bersusun rapi memenuhi aula. 

“Situasi Covid-19 di kota tidak baik dan orang-orang tidak mendapatkan tempat tidur di rumah sakit, Jadi kami memutuskan untuk membuka fasilitas untuk memberikan bantuan kepada orang-orang," ujar Irfan Sheikh, pengawas masjid.

"Dalam beberapa hari setelah fasilitas ini dibuka, semua 50 tempat tidur terisi. Anda bisa membayangkan tekanan seperti apa yang dialami rumah sakit," tambahnya. 

Bahkan rencananya 50 tempat tidur lagi akan ditambahkan, jika pasokan oksigen dapat diandalkan. 

Tidak hanya masjid Jahangipura,  Masjid Darool Uloom di kota yang sama mereka juga membuka pintunya untuk 142 tempat tidur yang dilengkapi dengan oksigen dengan 20 perawat dan tiga dokter yang berada di lokasi.

"Kami bisa membuat fasilitas Covid-19 dengan 1.000 tempat tidur, tapi pasokan oksigen menjadi kendala," kata Ashfaq Malek Tandalja, anggota komite pengelola masjid, kepada Arab News.

Diketahui Masjid Jahangirpura terletak di negara bagian barat kota Vadodara Gujarat. Negara bagian asal Perdana Menteri Narendra Modi ini adalah salah satu yang paling parah terkena dampak di India.

Di Gujarat, hampir 1.500 kasus dan lebih dari 150 kematian dilaporkan pada hari Selasa. Untuk keseluruhan, India melaporkan 323.144 infeksi baru dengan total lebih dari 17.6 juta kasus.

Diterbitkan di Berita

Dian Firmansyah - detikNews Purwakarta - Masjid Al-Karomah, salah satu mesjid di Kabupaten Purwakarta nampak berdiri megah dan indah. Namun, siapa sangka masjid yang berdiri di Desa Cibogo Girang, Kecamatan Plered itu tak memiliki pengeras suara.

Indahnya kubah berwarna hijau menjulang di atas bangunan itu, bagian interior masjid dibangun layaknya bangunan masjid pada umumnya di zaman modern. Masjid ini juga menggunakan aliran listrik sebagai penerangan di malam hari.

Namun sejak berdiri puluhan tahun yang lalu, masjid ini tidak menggunakan fasilitas pengeras suara, baik untuk adzan, khutbah atau keperluan lain di dalam masjid ini.

Menurut pengurus masjid ini Arif Ghozali, warga dan pengurus masjid sepakat tetap memegang teguh ajaran dan aturan yang diterapkan para leluhurnya.

 

Masjid Al-Karomah Purwakarta
Masjid Al-Karomah Purwakarta Foto: Dian Firmansyah

 

"Pertama memang itu udah wasiat dari para sesepuh yang mendirikan mesjid ini, kedua karena memang dalil atau keterangan daripada kitab pengeras suara digunakan bilamana dibutuhkan," ujarnya saat ditemui di masjid Al-Karomah belum lama ini.

Arif mengatakan sejauh ini masyarakat sekitar tertib dalam melaksanakan salat sesuai waktunya. Tanpa mengumandangkan adzan, para jamaah datang tepat waktu.

"Mayoritas di sini para santri dan pernah jadi santri, jadi Insya Allah taat waktu ibadah. Mereka datang di waktu yang tepat meski tanpa pengeras suara. Tanpa pengeras suara, suara imam masih terdengar jelas hingga ke makmum paling belakang," katanya.

Masih kata Arif, ilmu yang masih dipegang teguh oleh warga dan para jamaah adalah ilmu tasawuf, terlebih tokoh ulama di wilayah sekitar sangat kental dengan ilmu itu.

"Mamah Sempur ikut mendirikan bangunan mesjid ini. Kita masih mengikuti aturan dan ajaran beliau," ungkapnya.

Untuk diketahui masjid ini digunakan untuk pengajian, shalat wajib, shalat Jumat dan shalat ied dengan kapasitas makmum cukup banyak.

 

(mso/mso)

Diterbitkan di Berita

Dian Utoro Aji - detikNews Kudus - Tak hanya menjadi saksi penyebaran Islam di Tanah Jawa, Masjid Sunan Muria memiliki beragam kisah lain yang menarik untuk ditelusuri. Penasaran?

 

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Agama menyebut pengeras suara di masjid bukan untuk membangunkan sahur dan hanya dipergunakan untuk azan.

Pernyataan itu merespons polemik membangunkan sahur pakai toa dalam unggahan aktris Zaskia Adya Mecca di media sosialnya.

"Pengeras suara masjid tidak untuk dipakai membangunkan sahur apalagi jika dengan cara-cara dan muatan yang mengganggu orang lain," kata Direktur Jenderal Bina Masyarakat Islam Kemenag Kamaruddin Amin, lewat pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/4).

 Penggunaan pengeras suara di masjid telah diatur Kemenag lewat Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musalla.

Aturan itu menyebut pengeras suara ke luar hanya dipergunakan untuk mengumandangkan azan. Sementara untuk doa, salat, dan zikir dilakukan dengan pengeras suara ke dalam ruangan masjid.

"Kami menghimbau masyarakat yang ingin membangunkan sahur tetangganya dengan cara-cara yang baik dan tidak mengganggu orang lain," tutur Kamaruddin.

Sebelumnya, aktris Zaskia Adya Mecca mengkritik cara membangunkan sahur dengan berteriak. Hal itu ia sampaikan lewat unggahan video di akun Instagram @zaskiadyamecca.

Zaskia menayangkan cara masjid di sekitar kediamannya dalam membangunkan sahur. Menurutnya, ajakan sahur dengan berteriak tidak tepat.

"Cuma mau nanya ini bangunin model gini lagi HITS katanya?! Trus etis ga si pake toa masjid bangunin model gini?? Apalagi kita tinggal di Indonesia yang agamanya pun beragam.. Apa iya dengan begini jadi tidak menganggu yang lain tidak menjalankan Shaur?!" tulis Zaskia dalam akun Instagram @zaskiadyamecca.


(dhf/arh)

Diterbitkan di Berita
Halaman 3 dari 4