REPUBLIKA.CO.ID, GROZNY -- Dalam upaya mendorong inokulasi massal Covid-19, pihak berwenang di Republik Chechnya, Rusia memperkenalkan kebijakan ketat.

Pemimpin Republik Chechnya Ramzan Kadyrov melarang penduduk setempat yang masih belum melakukan vaksinasi Covid-19 memasuki masjid atau toko dan menggunakan transportasi umum.

Aturan baru yang merupakan bagian dari beberapa aturan yang paling ketat ini diumumkan oleh Wakil Perdana Menteri Chechnya Vakhit Usmayev, Senin (26/7). "Saat berkunjung ke masjid, wajib memiliki sertifikat vaksinasi," kata Usmayev, dilansir di RT, Kamis (29/7).

Vaksinasi kepada lansia saat vaksinasi massal secara drive thru bagi lansia dan mitra Gojek, di Monumen Perjuangan (Monju), Kota Bandung.

Usmayev juga menekankan pemeriksaan akan dilakukan di gerai-gerai ritel, kegiatan olahraga, dan fasilitas hiburan. Mereka yang menggunakan transportasi umum juga akan diharuskan yang telah disuntik vaksin Covid-19 dan mengenakan masker.

Pada hari yang sama, menteri kesehatan wilayah Chechnya Elkhan Suleimanov mengumumkan 60 persen dari populasi orang dewasa di kawasan itu telah menerima komponen pertama dari vaksin Covid-19.

Dengan demikian, Chechnya menjadi daerah pertama di seluruh negeri yang mencapai prestasi dalam vaksinasi tersebut.

Persentase ini sering merupakan angka yang dinyatakan untuk perolehan kekebalan kelompok (herd immunity). Melalui Telegram, pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov mendorong semua orang mendapatkan vaksinasi.

Menurutnya, hal itu adalah satu-satunya cara untuk mengatasi pandemi. Di sini, Kadyrov mengimbau penduduk setempat mendengarkan saran dari para profesional medis.

"Kami berkewajiban menangani masalah ini dengan penuh tanggung jawab dan melindungi warga kami dari infeksi berbahaya. Saya menekankan kita tidak boleh berhenti pada angka 60 persen, tetapi memvaksinasi seluruh populasi orang dewasa!" tulis Kadyrov di Telegram.

Vaksinasi massal Covid-19 telah berlangsung di Rusia sejak 18 Januari 2021 dan telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengungkapkan penentangannya terhadap aturan wajib suntik vaksin, keputusan kebijakan vaksinasi telah berada di tangan kepala daerah.

Banyak daerah di negara ini yang kini memaksa para pekerja di sektor tertentu, seperti katering dan transportasi, untuk disuntik vaksin Covid-19.

Vaksinasi di Rusia benar-benar gratis, dan warga memiliki pilihan empat suntikan buatan dalam negeri yang berbeda, di antaranya Sputnik V, Sputnik Lite, EpiVacCorona, dan CoviVac.

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia - Sebanyak delapan masjid di Pantai Gading, yang gaya bangunannya diyakini berasal dari Kekaisaran Mali tujuh abad yang lalu, telah mendapatkan status Warisan Dunia dari Unesco.

Bangunan-bangunan tersebut adalah "saksi yang sangat penting bagi perdagangan trans-Sahara" yang memfasilitasi penyebaran agama Islam dan budaya Islam, kata lembaga PBB urusan kebudayaan itu.

Bentuk masjid-masjid tersebut merupakan perpaduan dari gaya arsitektur Islam dan arsitektur lokal.

 

Masjid bergaya Sudano-Sahelian di Kouto, Pantai Gading.

Masjid bergaya Sudano-Sahelian di Kouto, Pantai Gading. SUMBER GAMBAR,CORBIS/GETTY IMAGES

 

Masjid-masjid yang terletak kota Tengréla, Kouto, Sorobango, Samatiguila, M'Bengué, Kong, dan Kaouara adalah yang terlestarikan dengan paling baik di antara 20 masjid besar yang tersisa di Pantai Gading, tempat ratusan masjid pernah berdiri pada awal abad ke-20, menurut Unesco.

🔴BREAKING!

Sudanese style mosques in northern #CotedIvoire🇨🇮recognized as @UNESCO #WorldHeritage site.

Bravo!👏

ℹ️ https://t.co/X7SWIos7D9 #44WHC pic.twitter.com/POaqI2Wo09

— UNESCO 🏛️ #Education #Sciences #Culture 🇺🇳 (@UNESCO) July 27, 2021 ">
 
 
 

Menurut Unesco, mereka menampilkan interpretasi gaya arsitektur yang berasal dari abad ke-14 di Kota Djenné, bagian dari Kekaisaran Mali. Gaya itu menyebar ke Sudan pada abad ke-16 dan berkembang untuk menyesuaikan dengan iklim yang lebih basah.

Masjid-masjid di Pantai Gading memiliki gaya arsitektur khas Sudan, diduga dikembangkan antara abad ke-17 dan abad ke-19 ketika pedagang dan cendekiawan Muslim datang dari Kekaisaran Mali di selatan, memperpanjang rute perdagangan trans-Sahara.

 

Masjid di Kong, Pantai Gading utara

Masjid di Kong, Pantai Gading utara AFP/GETTY IMAGES

Dua jemaat Muslim bercakap-cakap di dalam masjid di Kong

Dua jemaat Muslim bercakap-cakap di dalam masjid di Kong, Pantai Gading. AFP/GETTY IMAGES

Diterbitkan di Berita

 

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Satu lagi masjid Indonesia diresmikan penggunaannya di Jepang kemarin (20/7/2021).

“Peresmian Masjid NU At Taqwa Ibaraki oleh Bapak Dubes Heri Akhmadi kemarin  (20/7/2021)di kota Koga,” ungkap Ketua PCI NU Miftakhul Huda kepada Tribunnews.com Rabu (21/7/2021).

Huda juga memohon  doa dan dukungannya kepada para Nahdliyin semuanya agar proses penyelesainnya berjalan lancar. “Kami masih membuka kesempatan donasi untuk pelunasan Masjid dan proses renovasi maupun pembelian tanah tempat parkir.”

Mohon doanya agar kegiatan Masjidnya semarak bermanfaat berkah untuk umat Islam di Jepang menunaikan dakwah Islam Rohmatal lil’alamiiin, pusat pendidikan, sosial, maupun ekonomi masyarakat sekitar, tambahnya.

“Sekarang status tanah sudah di DP (Down Payment) untuk pembelian dan dalam proses mengangsur.” Peresmian Masjid NU At Taqwa sekaligus peresmian PKBM Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)

Peresmian oleh Duta Besar Heri Akhmadi didampingi Atase Pendidikan dan Kebudayaan Yusli Wardiatno. Tak hanya itu, hadir pula Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang Miftakhul Huda.

Acara dibuka dengan pidato sambutan Heri Akhmadi. Ia menyebut, organisasi yang baik adalah organisasi yang membela negaranya. Di mana nilai tersebut telah sejak lama dipraktikkan oleh NU. Khususnya sejak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"Adanya Masjid NU di Jepang ini diharapkan dapat semakin memperkokoh persatuan Warga Negara Indonesia (WNI) di Jepang. Seperti halnya lagu Yaa Lal Wathan karya KH Wahab Chasbullah yang berisi semangat cinta tanah air. Di mana lagu tersebut kerap terdengar di berbagai acara-acara besar NU," tuturnya.

Masjid direncanakan sejak Maret 2021 bekas pabrik sayur dan kontrak pembelian sejak Mei 2021.

Selain Ketua PCINU Jepang juga dihadiri oleh Mashiko Hironori dari perwakilan Pemda Koga, Rois Syuriyah PCINU Jepang Kyai Abdul Aziz, Ketua Lazisnu Jepang Kyai Ahmad Munir, Ketua DKM Masjid Robihun.

 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang Editor: Johnson Simanjuntak

 
Diterbitkan di Berita
Tiara Aliya Azzahra - detikNews Jakarta - Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengungkap ada 36 masjid di Jakarta yang menggelar salat hari raya Idul Adha. Ketua DMI DKI Jakarta Makmun Al Ayyubi mengatakan laporan masjid melaksanakan salat Id paling banyak di wilayah Jakarta Utara.

"Kita baru terima laporan di beberapa tempat saja. Saya lihat (laporan dari) lapangan (di) Jakarta Utara. Kemudian Jakarta Pusat ada nih, Masjid Nurussamaniyah," kata Makmun saat dihubungi, Selasa (20/7/2021).

Makmun mengatakan hal ini akan dijadikan evaluasi bersama. Ke depan, dia meminta masjid-masjid dapat mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak melaksanakan salat berjemaah di masa PPKM Darurat.

"Kami hanya anjuran, imbauan bersama sama MUI dan NU dan semua lembaga kelembagaan dan ormas islam. Biarpun kenyataannya di lapangan masih banyak viral yang menyelenggarakan. ini menjadi evaluasi kita ke depan," ujarnya.

Berikut ini daftar 36 masjid di Jakarta yang menggelar salat Idul Adha: 

Jakarta Utara
Kelurahan Sunter Jaya
1. Masjid Al-Barkah
2. Masjid Nurussalaf

Kelurahan Sunter Agung
3. Masjid Nurul Huda
4. Masjid Nurul Wathan
5. Masjid Al-Maghfiroh
6. Masjid Al-Jihad
7. Masjid Jami An-Nur
8. Masjid Dinul Qoyyimah
9. Masjid Al-Amanah
10. Masjid At-Taqwa
11. Masjid Al-Ikhlas

Kelurahan Sungai Bambu
12. Lapangan Sungai Bambu (Jama'ah Musala Al-Jihad)
13. Masjid Baiturrohim
14. Masjid Al-Hidayah
15. Masjid Siratal Mustaqim
16. Masjid Al-Muin
17. Masjid At-Tauhid
18. Masjid Assabqin

Kelurahan Warakas
19. Masjid Ar-Ruhama
20. Masjid Al-Muhaimin
21. Masjid Al-Musabbihin
22. Masjid Al-Jihad
23. Masjid Hidayatul Mukhlisin

Kelurahan Tanjung Priok
24. Masjid Anni'mah
25. Masjid Baburrahman
26. Masjid Attoibah
27. Masjid Nurussa'adah
28. Masjid Baitul Ihsan
29. Masjid At-Taqwa
30. Masjid Al-Muqarrabien
31. Masjid Istiqomah

Kelurahan Papanggo
32. Masjid Baiturrahman
33. Di jalan Jl. Papanggo 2 RT005/03
34. Masjid Al Hidayah

Kelurahan Kebon Bawang
35. Masjid Nurul Falah


Jakarta Pusat
Kelurahan Duri Pulo
36. Masjid Nurussamaniyah

(zap/zap)

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ustaz Abdul Somad marah gegara keputusan Menteri Agama menutup masjid selama PPKM Darurat diberlakukan.

Namun tokoh Gus Sahal atau Akhmad Sahal justru mempertanyakan apa yang dilakukan UAS dengan membandingkan apa yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi yang menutup 782 masjid untuk cegah Covid-19.  

“Kalo UAS konsisten, harusnya dia mara mara juga dong ama Saudi...,” kata Gus Sahal, Minggu 4 Juli 2021.

 

 

Sebelumnya, bereda video  di media sosial, Ustaz Abdul Somad menggebu-gebu menyampaikan kritikan keras hingga menilai kegiatan di masjid tidak terlalu berbahaya.

 

Pembatasan kegiatan keagamaan disampaikan langsung oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas seusai rapat bersama kementerian yang dipantau dari Jakarta, Jumat 2 Juli 2021.

"Kementerian Agama juga sudah menyiapkan peraturan peniadaan peribadatan di tempat-tempat ibadah di luar agama Islam seperti di pura, wihara, kelenteng, dan sebagainya," ujar Gus Yaqut dikutip Zonajakarta.com dari Antara News pada Sabtu 3 Juli 2021.

Gus Yaqut menyampaikan Kementerian Agama akan mengeluarkan suarat edaran yang mengatur pelaksanaan ibadah saat PPKM Darurat sekaligus menjadi penguat dari edaran sebelumnya.

Sementara dinukil Okezone, Kementerian Urusan Islam, Dakwah dan Bimbingan Islam Arab Saudi menutup sementara 18 masjid di seluruh wilayah Kerajaan tersebut, setelah kasus virus corona (COVID-19) terdeteksi di antara jemaah.

Saudi Press Agency melaporkan bahwa wilayah Riyadh ada 11 masjid yang ditutup, sementara tiga masjid ditutup di Provinsi Syarqiyah. Dua masjid lain yang ditutup masing-masing di Baha dan Asir.

Melansir Arab News, Minggu (25/4/2021), kasus virus corona di Arab Saudi telah menyebabkan penutupan sementara 782 masjid dalam 75 hari terakhir. Sedangkan 725 masjid sudah dibuka kembali setelah tindakan sanitasi.

Sebanyak 24 masjid di Riyadh, Qassim, Makkah, Tabuk, Baha, Provinsi Syarqiyah, Asir, dan Perbatasan Utara telah dibuka kembali usai dilakukan tindakan pencegahan, termasuk sanitasi dan pemeliharaan.

Bacajuga: Melihat Makam Kesepian yang Menakjubkan di Kota Nabi Saleh

Pemerintah memuji jemaah dan pegawai masjid karena mematuhi protokol kesehatan dan keselamatan.

“Pihak berwenang Saudi akan terus menerapkan langkah-langkah untuk memastikan keamanan jamaah,” kata Kementerian Urusan Islam dan Dakwah.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sulha Handayani

Diterbitkan di Berita

MerahPutih.com - Pemberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat resmi dimulai hari ini (Sabtu, 3/7). Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat untuk mematuhi kebijakan PPKM Darurat.

Menurut MUI pembatasan ketat ini demi mewujudkan kemaslahatan bersama.

"MUI secara umum mendukung kebijakan yang diambil Pemerintah untuk mengendalikan penyebaran wabah COVID-19. Ini adalah cara mencegah semaksimal mungkin timbulnya korban," ujar Ketua Umum MUI Miftahul Akhyar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (3/7).

MUI, lanjut Miftahul, telah mengeluarkan sejumlah fatwa terkait penyelenggaraan ibadah dalam situasi pandemi COVID-19 yang bisa menjadi rujukan dalam menentukan kebijakan secara teknis di lapangan.

 

Salat Jamaah
Ilustrasi: Sejumlah jamaah datangi masjid istiqlal (MP/Kanugraha)

 

Menurutnya, pelaksanaan PPKM Darurat ini bakal semakin menguatkan fatwa yang telah dikeluarkan MUI dalam upaya pencegahan dan penanggulangan pandemi.

Sejumlah rekomendasi yang dikeluarkan MUI dalam masa PPKM Darurat antara lain, aktivitas ibadah di masjid, mushalla, dan tempat ibadah publik lainnya yang bersifat kerumunan, seperti pengajian, majlis taklim, tahlil, istighatsah kubra, dan sejenisnya agar memerhatikan kondisi faktual di kawasan tersebut.

Untuk kawasan yang penyebaran COVID-19 tidak terkendali bisa mengambil rukhshah dengan melaksanakan ibadah di rumah. Sedangkan untuk daerah yang terkendali, penyelenggaraan ibadahnya dilakukan dengan protokol kesehatan secara ketat.

Masjid dan tempat Ibadah tetap menyerukan azan dan dilakukan oleh petugas yang secara khusus dan rutin melakukan seruan azan. Tidak boleh berganti. Untuk Shalat Rawatib bagi jamaah umum dapat dilakukan di rumah masing-masing.

Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, maka kegiatan ibadah di masjid tersebut tidak boleh diselenggarakan. Seperti Shalat Jumat. Umat Islam bisa melakukan shalat Zuhur di rumah/kediaman masing-masing. 

Sementara untuk Shalat Idul Adha, MUI menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan pemerintah atas dasar mewujudkan kemaslahatan.

“Pengurus masjid dapat mengoptimalkan masjid dan tempat ibadah sebagai sarana edukasi, penyuluhan, serta pertolongan bagi jamaah yang menjadi korban COVID-19,” katanya seperti dilansir Antara. (*)

Diterbitkan di Berita

hops.id Pemerintah Pusat resmi menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat mulai 3 hingga 20 Juli 2021. Pada aturan tersebut, pengetatan berlaku di 122 kabupaten/kota di Jawa dan Bali.

Bahkan, imbasnya, rumah ibadah seperti masjid juga ditutup. Lantas, bagaimana tanggapan UAS mengenai hal ini?

Melalui video yang beredar di media sosial, Ustaz Abdul Somad alias UAS terlihat menggebu-gebu dan setengah mengamuk saat menyampaikan materi ceramahnya. Dia kecewa lantaran pemerintah melarang masjid beroperasi, sementara tempat umum lainnya masih dibuka.

“Melarang orang ke masjid, tapi di mal, di pasar malah dibiarkan. Di mana letak hati kecilmu?” ujar UAS, dikutip dari Wartaekonomi, Jumat 2 Juli 2021.

 
Jemaah menunaikan shalat Jumat di Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (29/5/2020).
Jemaah menunaikan shalat Jumat di Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (29/5/2020). Foto: IG @GNFI

 

Padahal, menurutnya, berkumpul di masjid tidak terlalu berbahaya. Sebab, saat ibadah, orang hanya menetap di ruangan selama 5 hingga 10 menit saja. Tidak sampai berjam-jam atau berlama-lama.

Itulah mengapa, dia seakan bertanya kepada pemerintah, tak malukah mereka dengan Sang Pencipta? “Tak malukah engkau nanti berjumpa dengan Allah? Di masjid orang hanya 5-10 menit, Hanya 5 menit saja di masjid.

Sementara orang lain duduk lima jam di mal dan di pasar,” terangnya.

 
 

Pemuka agama berdarah Sumatera itu beranggapan, selama pandemi melanda Indonesia, masjid kerap dijadikan kambing hitam penularan COVID-19. Padahal, kenyataannya belum tentu demikian.

“Lima jam orang duduk di mal beramai-ramai. Ketawa dan tertular penyakit. Tapi, masjid yang engkau salahkan,” tegasnya.

 
 
Ustaz Abdul Somad. Foto: Youtube
Ustaz Abdul Somad. Foto: Youtube

 

Sekali lagi, dia bertanya, apakah pemerintah tak malu kepada Tuhan usai membuat larangan tersebut? Sebab, menurutnya, masjid merupakan tempat yang paling disenangi Tuhan dan Rasul-Nya.

“Tak malukah nanti engkau menyebut nama Allah dan Rasulullah? Padahal, tempat ini (masjid) yang dipanggil Allah dan Rasulullah?” kata dia.

Berkaca dari kenyataan tersebut, Ustaz Somad dalam ceramahnya mengimbau, masyarakat sebaiknya tetap beribadah, namun jangan lupa mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

 
 
 
Diterbitkan di Berita
 

Liputan6.com, Jakarta - Kegiatan ibadah di masjid-masjid kawasan DKI Jakarta ditutup hingga 5 Juli 2021. Hal itu sesuai kebijakan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis Mikro untuk menekan laju penullaran Covid-19.

Perpanjangan PPKM Mikro ini sesuai dengan Keputusan Gubernur (Kepgub) No 796 Tahun 2021 yang ditandatangani langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Kepgub tersebut mengatur pembatasan di sejumlah sektor, termasuk masjid.  

“Kegitan beribadatan dilaksanakan di rumah,” demikian bunyi kutipan Kepgub 796 Tahun 2021 yang dikutip Liputan6.com pada Kamis (24/6/2021).

Dewan Masjid Indonesia (DMI) DKI Jakarta mendukung kebijakan Pemprov terkait upaya pengendalian Covid-19 di Ibu Kota. DMI DKI Jakarta pun mengeluarkan surat edaran untuk semua masjid dan musala di ibu kota.

Surat yang diteken Ketua Umum MUI DKI Jakarta KH Munahar Muchtar HS dan Ketua Pimpinan Wilayah DMI DKI Jakarta KH Ma’mun al Ayyubi itu menyerukan, meniadakan Salat Jumat berjemaah dan menggantinya dengan Salat Zuhur di rumah masing-masing.

Azan Tetap Dikumandangkan Tiap Waktu

Selain itu, salat wajib atau rawatib berjemaah di masjid juga ditiadakan dan dilakukan di rumah masing-masing.

Meski demikian, pengurus masjid tetap dibolehkan mengumandangkan azan sebagai pengingat masuk waktu salat.

“Azan dan iqamah tetap dilakukan setiap waktu salat,” demikian isi edaran itu.

Infografis Jakarta Terancam Genting Covid-19
 
Diterbitkan di Berita

Komunitas Tionghoa Muslim di Indonesia menjadikan Laksamana Cheng Ho sebagai salah satu tokoh pemersatu. Namanya bahkan diabadikan sebagai nama belasan masjid di Tanah Air.

Namun, ada dugaan pemahaman yang tidak tepat mengenai apa agama Cheng Ho sebenarnya.

Upaya untuk menelusuri agama Cheng Ho antara lain dilakukan oleh Novi Basuki. Dia adalah santri salah satu pesantren di Jawa Timur, yang kini sedang menempuh pendidikan S3 Politik Internasional di Universitas Sun Yat-sen, China.

 

Novi Basuki, penulis buku Islam di China Dulu dan Kini. (Foto: VOA/Nurhadi)
Novi Basuki, penulis buku Islam di China Dulu dan Kini. (Foto: VOA/Nurhadi)

 

“Saya tidak menampik, terus terang, bahwa Cheng Ho ini dilahirkan dari keluarga seorang muslim, sebagaimana epitaf tadi, ayahnya adalah seorang haji. Mungkin dia terlahir sebagai seorang muslim, tetapi saya curiga jangan-jangan setelah dia dewasa, dia mungkin mengubah keyakinannya,” kata Novi.

Muslim Konfusianis

Bahasan terkait itu ditulis Novi dalam buku berjudul "Islam di China Dulu dan Kini" yang belum lama diterbitkan. Buku itu dibedah oleh Pusat Penelitian Politik LIPI dan Penerbit Buku Kompas, Rabu (2/6).

Novi sendiri menempuh pendidikan S1 jurusan Bahasa dan Budaya China di Universitas Huaqiao, China dan melanjutkan studi S2 Hubungan Internasional, Universitas Xiamen. Dia juga duduk sebagai Sekjen Forum Sinologi Indonesia dan Pemimpin Redaksi di laman Aseng.ID.

Novi tentu saja tidak begitu saja mengambil kesimpulan. Dia memastikan telah membaca teks-teks berbahasa Mandarin, terutama literatur kedinastian klasik, yang masih memakai model penulisan kuno.

Dalam penelusurannya, Novi tidak menemukan bukti langsung yang menyatakan bahwa Cheng Ho seorang muslim.

 

Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

 

Selain itu, dalam sebuah naskah sutera Budhis yang dilelang di sebuah balai lelang di New York tahun 2015, Cheng Ho justru menyebut dirinya sebagai kasim Kaisar Ming yang menganut Budha dan mempunyai nama darma Fu Jixiang.

“Sementara yang menyebut Cheng Hho adalah muslim, hanya berdasar kepada satu bukti, yaitu satu epitaf atau batu nisan ayah Cheng Ho yang bermana Haji Ma. Epitaf ayah Cheng Ho ini sekarang ada di Yunan,” lanjut Novi.

Menurut silsilah, Cheng Ho memang lahir di tengah keluarga muslim. Dia masih keturunan Sayyid Ajal Syamsuddin Umar, gubernur pertama Provinsi Yunan.

Sayyid adalah julukan lain untuk Habib, atau keturunan Nabi Muhamamad. Nenek moyang Cheng Ho, berasal dari Bukhara, sebuah kota yang kini ada di wilayah Uzbekistan.

Kemungkinan pertama, Cheng Ho mengubah agamanya pada umur belasan tahun, setelah menjadi tawanan dalam era Dinasti Ming.

Ini adalah dinasti yang sangat anti pada segala sesuatu berbau asing, dan tentu saja tidak mudah bagi Cheng Ho untuk tetap menjadi muslim.

Kemungkinan kedua, kata Novi, jika Cheng Ho tetap muslim, maka dia mengamalkan juga ajaran Konfusianisme. Di China sendiri, Konfusianisme tidak dianggap sebagai agama, tetapi sebagai ajaran tata krama.

Praktik ini juga berlaku di sebagian muslim Indonesia, seperti Islam Kejawen, yang beragama tetapi tetap mempraktikan ajaran leluhurnya.

“Ketika Cheng Ho mau berangkat muhibah tujuh kali ke mancanegara, dia nyekar ke makam muslim, dan di waktu yang sama, dia juga melakukan ibadah di Kuil Mazu, yang dikenal sebagai dewi laut,” tambahnya.

Cheng Ho sendiri dianugerahi gelar Laksamana oleh Kaisar Zhu Di, yang kemudian memerintahkannya melakukan perjalanan internasional. Cheng Ho masuk ke perairan Nusantara pada 1405 dan singgah di sejumlah wilayah, mulai dari Aceh, Palembang, hingga Surabaya.

Banyak Versi Sejarah

Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam mengakui sejumlah versi terkait peran Cheng Ho dalam penyebaran Islam di Nusantara. Salah satu pertanyaan yang mengemuka misalnya adalah apakah benar Cheng Ho singgah di Semarang dan menyebarkan agama.

Ada pendapat lain yang meyakini, yang turun adalah salah satu anak buahnya.

“Wang jinghong yang turun di Semarang karena sakit. Dan karena sakit, dia ditinggal dan kemudian tidak mau ikut rombongan Cheng Ho dan menetap di Jawa. Dan Wang Jinghong yang kemudian disebut sebagai Kyai Juru Mudi Dampo Awang, yang menyebarkan agama Islam,” kata Asvi.

 

Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam. (Foto: VOA/Nurhadi)
Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam. (Foto: VOA/Nurhadi)

 

Menurut Asvi, ada banyak tarik menarik soal kebenaran sejarah peristiwa tertentu. Misalnya terkait buku karya sejarawan Slamet Muljono yang terbit 1968. Buku ini berjudul "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara Islam di Nusantara."

Buku ini, kata Asvi, dilarang terbit oleh Kejaksaan Agung. Alasannya, Slamet Muljono meyakini bahwa jika tidak semuanya, sebagian Walisongo berasal dari China.

Walisongo adalah sembilan tokoh agama Islam di Jawa, yang dianggap menjadi tokoh sangat penting dalam penyebaran agama.

Slamet sendiri mendasarkan pendapatnya pada tiga buku yaitu Serat Kanda, Babad Tanah Jawi dan buku Tuanku Rao. Buku yang disebut terakhir tersebut, mendasarkan datanya pada arsip-arsip yang hingga saat ini tidak dapat diakses kembali.

Terkait penyebaran agama, Asvi meyakini bahwa sebuah tanggal atau tahun tertentu tidak dapat dipastikan dalam sejarah sebagai acuan.

 

Lukisan dinding bergambar Muhammad Cheng Ho di Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Lukisan dinding bergambar Muhammad Cheng Ho di Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, 7 Desember 2019. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

 

“Karena masuknya agama itu paling tidak ada tiga hal. Ada utusan datang. Ada saudagar yang berkunjung kemudian pada waktu lain dia menyebarkan agama. Dan terakhir, ketika agama itu berkembang, misalnya ketika sultan ataupun raja sudah menganutnya,” ujar Asvi.

Tiga periode ini, tambahnya, adalah proses yang tidak terjadi pada saat yang sama. Karena itulah, masuknya suatu agama ke suatu wilayah, terjadi pada periode yang cukup panjang.

“Menurut Denys Lombard, yang mengambil dari catatan Ma Huan, ada seribu keluarga China di Tuban. Seribu keluarga, artinya cukup banyak orang China di Tuban ketika armada Cheng Ho datang kesana. Jadi artinya, sudah ada orang Islam sebelum kedatangan armada Cheng Ho ini di Jawa,” papar Asvi.

Menjadi Nama Masjid

Hamdan Basyar, peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI menyebut, salah satu persoalan terkait Cheng Ho ini adalah karena anggapan yang melekat padanya.

“Tokoh ini sudah terlanjur mashur di Indonesia, sebagai tokoh Islam dan ikut andil menyebarkan Islam di Nusantara. Saat ini, kita melihat ada beberapa masjid dengan nama Cheng Ho sebagai penghargaan,” kata Hamdan.

Mengutip beberapa contoh, Hamdan menyebut Masjid Cheng Ho ada di Surabaya, Palembang hingga Malang. Sebagian bahkan cukup besar dan diresmikan oleh pejabat setingkat menteri agama.

Menurut data yang ada, selain di tiga kota itu Masjid Cheng Ho setidaknya sudah berdiri di Semarang, Batam, Purbalingga, Banyuwangi, Gowa, Kutai, Samarinda, hingga Jambi.

 

Umat Muslim membawa barang-barang yang disumbangkan oleh konsulat China di Masjid Cheng Ho di Surabaya pada 6 Mei 2021, menjelang Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)
Umat Muslim membawa barang-barang yang disumbangkan oleh konsulat China di Masjid Cheng Ho di Surabaya pada 6 Mei 2021, menjelang Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. (Foto: AFP/Juni Kriswanto)

 

“Temuan Mas Novi tentang agama Cheng Ho ini mestinya akan menjadi sebuah diskusi yang menarik bagi kalangan sejarawan Islam di Indonesia,” tambahnya.

Hamdan bahkan merekomendasikan penelitian perlu dilakukan, dengan mendasarkan sejumlah pendapat yang sudah ada dalam buku-buku yang telah terbit di Indonesia.

Klaim yang ada harus disandingkan dengan temuan Novi Basuki, yang diperoleh dari naskah-naskah kuno berbahasa mandarin, agar fakta sejarah yang disimpulkan lebih pas. [ns/ab]

Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Pihak berwenang di Arab Saudi menyatakan mendukung kebijakan pembatasan volume pengeras suara di masjid-masjid di negara itu.

Kementerian Urusan Islam Saudi mengumumkan pekan lalu semua pengeras suara harus disetel hanya sepertiga dari volume maksimum.

Menteri Urusan Islam Abdullatif al-Sheikh mengatakan tindakan itu sebagai tanggapan atas keluhan dari masyarakat.

Namun langkah itu memicu berbagai reaksi di media sosial.

Tagar yang menyerukan agar musik keras dilarang di restoran-restoran maupun kafe mulai menjadi trending.

Sheikh mengatakan keluhan itu di antaranya dilayangkan oleh para orang tua yang mengaku bahwa pengeras suara dari masjid itu mengganggu tidur anak-anak.

 

Menara masjid

Kementerian Urusan Islam Arab Saudi mengumumkan pekan lalu semua pengeras suara harus disetel hanya sepertiga dari volume maksimumnya. (Foto: Menara sebuah masjid di Kota Jeddah, Arab Saudi) ERIC LAFFORGUE/GETTY

 

Berbicara dalam video yang ditayangkan oleh televisi pemerintah, Sheikh mengatakan bahwa mereka yang ingin salat tidak perlu menunggu panggilan azan.

Dia menyebut orang-orang yang mengkritik kebijakan itu melalui online sebagai "musuh kerajaan" dan mengeklaim mereka "ingin menggerakkan opini publik".

Peraturan pembatasan volume pengeras suara masjid ini muncul ketika Putra Mahkota Mohammed bin Salman melanjutkan upaya guna membuat Arab Saudi lebih liberal dan mengurangi peran agama dalam kehidupan publik.

Kebijakan pembatasan sosial telah dilonggarkan, seperti diakhirinya larangan pengemudi bagi kaum perempuan. Tapi sang putra mahkota juga menindak kebebasan berekspresi di negara itu. Ribuan kritikus telah ditangkap dan dipenjarakan.

Tempat ibadah mulai dibuka dalam pengawasan ketat

Sementara itu, beberapa situs paling penting di dunia Islam telah dibuka kembali dua bulan setelah pandemi virus corona memaksa situs-situs itu ditutup.

Pembukaan ini memungkinkan para jamaah masuk ke dalamnya dengan aturan ketat.

Ratusan orang Muslim masuk ke Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem, situs tersuci ketiga bagi umat Islam, untuk salat subuh pada hari Minggu.

 

Palestinians perform the dawn prayer inside the Al-Aqsa mosque compound, Islam's third holiest site, in Jerusalem's Old City

Ratusan orang Muslim masuk ke Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem, situs tersuci ketiga bagi umat Islam, untuk salat subuh pada hari Minggu. GETTY IMAGES

 

Beberapa orang meneriakkan "Allah Akbar", sementara lainnya mencium lantai saat kerumunan orang memasuki kompleks suci itu.

Di dalam masjid, tindakan pencegahan dilakukan guna mengurangi risiko penyebaran virus Covid-19.

 

Worshippers, some wearing masks, hold up their mobile phones while entering the compound housing the Al-Aqsa Mosque

Beberapa orang meneriakkan "Allah Akbar", sementara lainnya mencium lantai saat kerumunan orang memasuki kompleks suci itu. REUTERS

 

Para jamaah diperiksa suhu tubuhnya, berdiri berjauhan satu sama lain, dan diminta mengenakan masker dan membawa sajadah sendiri.

"Setelah mereka membuka masjid, saya merasa bisa bernafas kembali. Alhamdulillah," kata Umm Hisham, seorang warga Yerusalem, terlihat emosional tatkala memasuki masjid.

 

A Palestinian man performs the morning prayer inside the Al-Aqsa mosque

Di dalam masjid, tindakan pencegahan dilakukan guna mengurangi risiko penyebaran virus Covid-19. GETTY IMAGES

 

Masjid Al-Aqsa, dan banyak tempat suci lainnya, dibatasi bagi jemaahnya semenjak pertengahan Maret lalu, yang berarti mereka tidak dapat melakukan salat setiap hari selama bulan Ramadan.

Kendatipun ancaman virus corona masih tetap ada, banyak negara melonggarkan pembatasan secara bertahap setelah berminggu-minggu dilockdown, dengan membuka tempat-tempat suci untuk para jemaah dan pengunjung yang dibatasi.

 

Muslim worshippers enter the Al-Aqsa Mosque compound in Jerusalem's old city

Masjid Al-Aqsa merupakan salah-satu situs paling penting bagi umat Islam. EPA

 

Di Arab Saudi pada hari Minggu, ada suasana serupa di Masjid Nabawi di kota Madinah, ketika para jamaah berkumpul untuk salat.

Masjid itu adalah salah satu dari sekitar 90.000 masjid yang tengah dipersiapkan untuk dibuka kembali oleh otoritas Saudi.

Menjelang pembukaan kembali masjid-masjid, jutaan orang diyakini telah dikirimi pesan tertulis dalam berbagai bahasa untuk memberi tahu mereka perihal aturan baru selama salat berjamaah.

 

Muslims pray at a mosque in Saudi Arabia

Menjelang pembukaan kembali masjid-masjid, jutaan orang diyakini telah dikirimi pesan tertulis dalam berbagai bahasa untuk memberi tahu mereka perihal aturan baru selama salat berjamaah. REUTERS

 

Dalam pesan tertulis itu, yang dikirim oleh Kementerian Urusan Islam, memerintahkan para jamaah untuk salat secara terpisah dalam jarak dua meter, dan menahan diri untuk tidak saling menyapa dengan pelukan atau jabat tangan.

Masyarakat diminta untuk melakukan ritual wudu di rumah, lantaran kamar mandi di masjid akan tetap ditutup.

 

Muslims perform prayers inside the Al-Rajhi Mosque while practicing social distancing in Saudi Arabia

Para jamaah diperintahkan salat secara terpisah dalam jarak dua meter, dan menahan diri untuk tidak saling menyapa dengan pelukan atau jabat tangan. REUTERS

 

Khotbah dan salat berlangsung tidak lebih dari lima belas menit.

Masjidil Haram di Mekah akan tetap ditutup sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Situs tersuci bagi umat Islam, yang biasanya dikunjungi jutaan jemaah setiap tahun, di mana kebanyakan dari mereka melakukan ibadah haji.

 

Diterbitkan di Berita
Halaman 2 dari 4