Wahhabisme Bagian II - Sejarah Pilihan

Sisa reruntuhan kota Dir’iyah dari zaman Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Sa’ud. Sisa reruntuhan kota Dir’iyah dari zaman Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Sa’ud.
Selasa, 06 April 2021 11:41
(3 pemilihan)

Sejarah singkat Muhammad bin Abdul Wahhab

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf at-Tamimi. Ia dilahirkan di desa Uyainah di daerah Najd. Ulama dan sejarawan berselisih tentang tahun kelahirannya. Ada yang mengatakan tahun 1690 M (1111 H), 1694 M (1115 H), 1700 M (1121 H), dan 1703 M (1124 H).

Pada mulanya Muhammad bin Abdul Wahhab hidup di lingkungan kaum ahlus sunnah waljama’ah, pengikut madzhab Hanbali. Ayahnya yakni Syaikh Abdul Wahhab adalah salah seorang ulama ahlus sunnah terkemuka di Najd, begitu pula guru-gurunya.

 

 

Ayahnya menikahkannya pada usia muda (12 tahun). Setelah akil baligh ia diajak ayahnya menunaikan ibadah haji ke Makkah dan ditinggal ayahnya agar belajar agama disana.

Setelah itu dia juga sempat belajar di Madinah. Banyak ulama yang dituju oleh Muhammad bin Abdul Wahhab di kota tersebut, antara lain yang terkenal ialah; Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syaikh Muhammad Hayat al-Sindi.

Saat di Madinah ia sangat tertarik mempelajari kitab-kitab karangan Ibnu Taimiyyah dan sangat terpengaruh dengannya,  terutama pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan aqidah.

Saat itu ia pun sudah mempunyai pendapat dan pandangannya sendiri, yang bertentangan dengan pemahaman mayoritas ulama disana. Akibatnya dia ditolak ulama-ulama Makkah dan Madinah dan diusir dari kota tersebut, lalu ia mengembara menuju Bashrah, Iraq.

Disana ia mulai lagi menyebarkan ajarannya dan berbincang dengan beberapa ulama fuqaha’. Lalu ia memberikan dan menyatukan beberapa pandangan baru dan lama, akan tetapi dia justru dimarahi dan diusir lagi.

Dia pun mengungsi ke Mesir. Namun, keadaannya di Mesir pun tidak berbeda dengan di tempat-tempat sebelumnya. Akhirnya ia pun diusir lagi dan memutuskan pergi ke Syam. Lagi-lagi di Syam ia mengalami pengusiran serupa, maka ia akhirnya kembali lagi ke kampung halamannya di Uyainah.

Sejak semula ayah dan guru-gurunya sudah mempunyai firasat yang buruk tentangnya, bahwa dia kelak akan tersesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar adanya. Setelah hal itu terbukti, ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya.

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa kerusakan Islam itu disebabkan oleh orang Yahudi dan Nasrani yang membuat infiltrasi ajaran mereka ke dalam ajaran Islam sehingga praktek beragama para pemeluk Islam tidak murni lagi. 

Dalam hal ini Muhammad bin Abdul Wahhab mempunyai pemikiran yang berbeda, menurutnya keruntuhan Islam tidak hanya disebabkan oleh faktor yang datang dari luar, tetapi justru faktor yang datang dari Islam sendiri yang menghancurkannya. Oleh karena itu ia berfikir bahwa Islam harus dibersihkan dari dalam dengan menghabisi orang-orang Islam yang tidak sependapat dengannya, dengan dalih berdakwah memurnikan tauhid.

Ayahnya (Syaikh Abdul Wahhab) meninggal dunia tahun 1153 H (1740 M). Setelah ayahnya meninggal ia merasa lebih leluasa untuk menyebarkan ajarannya, akan tetapi tetap banyak ulama yang menentangnya. Bahkan kakak kandungnya, Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, seorang ulama dari madzhab Hanbali juga ikut menentangnya. Muhammad bin Abdul Wahhab pun menjadi marah kepadanya, kemudian berusaha menangkap kakaknya dan hendak membunuhnya, akan tetapi Syaikh Sulaiman akhirnya dapat meloloskan diri ke Makkah.

Debut kekerasan Muhammad bin Abdul Wahhab adalah penghancuran makam Zaid bin Khatthab (adik dari Sayyidina Umar bin Khatthab) di Jubailah yang kuburnya dia tetapkan sebagai tempat kemusyrikan dengan dibantu oleh Utsman bin Mu’ammar, penguasa daerah Uyainah. Namun demikian selanjutnya Utsman bin Mu’ammar berselisih dengannya dan mengusirnya dari Uyainah.

Setelah membaca tulisan dari Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab,  Utsman bin Mu’ammar kemudian sadar dan kembali ke ajaran ahlus sunnah wal jama’ah.

Pada tahun 1750 M (1163 H) Utsman dibunuh oleh pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab sesaat setelah ia shalat Jum’at di sebuah masjid, karena dinyatakan sebagai kafir dan musyrik, serta dianggap sebagai penghianat yang membahayakan penyebaran ajarannya.

Aliansi Muhammad bin Abdul Wahhab dengan penguasa Najd

Setelah meninggalkan Uyainah, Muhammad bin Abdul Wahhab kemudian meneruskan misinya ke wilayah Dir’iyah. Ia memilih wilayah tersebut karena berbagai faktor, antara lain jarak perjalanan yang tidak terlalu jauh dari Uyainah, serta penguasanya yang terkenal baik dan tidak tertekan di bawah kekuasaan penguasa wilayah lain.

Pilihan Muhammad bin Abdul Wahhab pindah ke Dir’iyah sangatlah tepat untuk mengembangkan dakwahnya. Penguasa (amir) wilayah tersebut, Muhammad bin Sa’ud bin Muhammad bin Muqrin (1685-1765) menerimanya dengan tangan terbuka dan bahkan berjanji melindunginya seperti melindungi keluarga sendiri. Pada tahun 1744 M (1157 H) Muhammad bin Abdul Wahhab membuat sebuah kesepakatan politik dengan Muhammad bin Sa’ud.

Aliansi ini menguntungkan kedua belah fihak. Muhammad bin Sa’ud membutuhkan agamawan untuk menguatkan basis dukungan politiknya, sementara Muhammad bin Abdul Wahhab membutuhkan penguasa untuk menjamin proses penyebaran ideologinya. Bahkan hubungan mereka kemudian menjadi lebih erat lagi; Abdul Aziz anak Muhammad bin Sa’ud diambil menantu oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Sebagai mitra yang setia, Muhammad bin Sa’ud senantiasa mendukung secara penuh kehendak Muhammad bin Abdul Wahhab dan memanfaatkan pengikut Wahhabi yang militan untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Muhammad bin Sa’ud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahhab. Jika dia disuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang, maka dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik, dan bahwa membunuh orang musyrik dijamin masuk surga.

Pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab menjadi semakin banyak dan wilayah kekuasaan sekutunya, yakni Muhammad bin Sa’ud menjadi semakin luas pula. Tahun 1765 M Muhammad bin Sa’ud meninggal dunia, dan komando kekuasaannya diteruskan oleh anaknya yang bernama Abdul Aziz yang juga agresif meluaskan wilayah kekuasaannya.

Sedangkan Muhammad bin Abdul Wahhab tinggal di Dir’iyah selama 48 tahun dan tetap gencar menyebarkan ajarannya, hingga ia meninggal dunia disana tahun 1793 M (1206 H) dalam usia yang tua.

Catatan Samping:

Saat ini di internet banyak sekali beredar dalam berbagai versi, foto-foto seorang Arab yang diberi keterangan sebagai Muhammad bin Abdul Wahhab.

Narasi ini dapat dipastikan hoaks, karena foto Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mungkin ada di dunia ini. Pada saat Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal dunia saja teknologi fotografi belum ditemukan, apalagi saat ia masih hidup.

Ini adalah potret jarak dekat manusia pertama yang diambil oleh Robert Cornellius pada tahun 1839, atau 46 tahun setelah Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal.

Contoh hoaks terkait foto Muhammad bin Abdul Wahhab ada disini https://tirto.id/m/muhammad-bin-abdul-wahhab-Xa atau disini https://www.republika.co.id/berita/pt68w2282/siapa-sebenarnya-yang-dimaksud-Wahhabi

Orang yang dikatakan sebagai Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam foto tersebut sebenarnya adalah Sultan bin Bajad bin Hamid al-Utaibah (1876-1932), salah seorang dari 3 pemimpin utama Badui dari kelompok milisi Ikhwan yang tadinya turut membantu Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Faisal bin Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Saud mendirikan kerajaan Saudi, namun kemudian pada akhirnya memberontak kepadanya. Foto yang sangat terkenal ini diambil pada awal abad 20, yakni lebih dari satu abad setelah Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal.

Sejarah Gerakan Wahhabi

Setelah kematian Muhammad bin Abdul Wahhab, dakwah Wahhabiyah kemudian diteruskan oleh keturunannya dan tetap mendapat bantuan dari keturunan Muhammad bin Sa’ud sebagai pihak penguasa.

Doktrin Wahhabisme pun diteruskan kepada generasi berikutnya. Konsekuensi dari mencap orang Islam selain pengikut Wahhabi sebagai musyrik adalah bahwa memerangi mereka bukan saja boleh, melainkan wajib. Karena itu, menumpahkan darah mereka, menjarah harta mereka dan menjadikan perempuan dan anak-anak mereka sebagai budak adalah tindakan yang dibenarkan.

Pada tahun 1802 Abdul Aziz bin Muhammad bin Sa’ud membawa sepuluh ribu tentara Wahhabi untuk menyerang kota Karbala di Irak, menghancurkan bangunan dan kubah makam Sayyidina Husain RA, dan membunuhi penduduknya. Setelah itu di tahun 1803 M tentara Wahhabi-Saudi yang bengis itu menduduki kota Tha’if.

Kaum Wahhabi sama sekali tidak segan untuk melakukan pembantaian dalam rangka memaksakan doktrin mereka terhadap penduduk di kedua kota itu. Di kota itu mereka membunuh ribuan penduduk sipil, termasuk wanita, anak-anak yatim dan ulama disana.

 

 

Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan

 

Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan (1816 M – 1886 M), seorang ahli sejarah dan mufti di Masjidil Haram yang lahir di kota Makkah, dalam kitabnya Khulaashatul Kalam fi Umara’ al-Balad al-Haram mengatakan:

“Ketika orang-orang Wahhabi masuk Thaif mereka benar-benar membunuh manusia secara massal dan membantai yang tua, kecil, rakyat dan gubernur, yang berpangkat, dan yang hina, bahkan mereka menyembelih bayi yang masih menyusu di hadapan ibunya. Mereka masuk ke rumah-rumah, mengeluarkan penghuni rumah dan membunuhnya. Kemudian mereka mendapatkan sekelompok orang yang sedang belajar al-Qur’an, maka mereka membunuh seluruhnya dan bahkan mereka menyisir setiap kedai dan masjid, dan membunuh setiap orang yang berada di dalamnya. Mereka juga membunuh seorang laki-laki yang sedang ruku’ atau sujud di dalam masjid sehingga mereka semua binasa. Semoga adzab penguasa langit menimpa mereka”.

Kemudian beliau mengatakan:

“Kemudian mereka juga merampok harta, barang dagangan, perkakas rumah dan kasur, kemudian mereka tumpuk hingga barang-barang yang mereka rampas menggunung di perkemahan mereka. Semuanya mereka tumpuk kecuali kitab, mereka biarkan kitab-kitab tersebut berserakan di jalanan, lorong-lorong jalan dan pasar-pasar. Kitab-kitab tersebut diterpa angin padahal di antara kitab-kitab tersebut ada mushhaf-mushhaf dan ribuan kitab-kitab dari naskah al-Bukhari, Muslim dan kitab-kitab hadits, fiqih, nahwu dan lainnya dari semua disiplin keilmuan. Selama berhari-hari kitab-kitab tersebut berserakan terinjak-injak oleh kaki mereka dan tak seorangpun yang mampu mengangkat satu kertaspun darinya.”

Dua bulan setelah menguasai Tha’if, Abdul Aziz sempat memasuki Makkah dan memaksa ulama Makkah untuk berbai’at kepadanya. Akan tetapi pendudukan Wahhabi ini tidak berlangsung lama, karena Syarif Ghalib berhasil membebaskan kembali kota Makkah dua bulan setengah setelah itu. Tak lama kemudian Abdul Aziz bin Muhammad bin Sa’ud tewas terbunuh pada tahun 1803 M.

Sepeninggal Abdul Aziz, kekuasaan dinasti Sa’ud diteruskan oleh anaknya yang bernama Sa’ud bin Abdul Aziz. Dua tahun kemudian (1805 M), pasukan Sa’ud bin Abdul Aziz menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah (ruangan) makam Nabi Muhammad SAW.

Setelah menduduki kota Madinah, agresi Wahhabi berlanjut. Mereka masuk ke Makkah pada tahun 1806 M dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutera.

Di kota Makkah kubah-kubah yang terdapat di atas rumah-rumah yang dikenal sebagai tempat kelahiran Nabi, Siti Khadijah RA, Sayyidina Ali KW, dan Sayyidina Abu Bakar RA dihancurkan. Selain itu, makam-makam dan mushalla-mushalla yang terdapat di tempat pemakaman bersejarah Ma‘la juga diratakan dengan tanah.

Di Madinah, barang-barang berharga yang terdapat di Masjid Nabawi dijarah, namun upaya untuk menghancurkan kubah yang menaungi makam Nabi SAW gagal tatkala secara misterius beberapa orang yang ditugasi untuk melakukan penghancuran itu terjatuh hingga mati.

Seluruh bangunan dan nisan di pemakaman yang dikenal sebagai Jannatul Baqi‘, yang terhubung dengan Masjid Nabawi dihancurkan. Di sana terdapat makam para isteri dan sahabat Nabi, beberapa Imam keturunan Rasulullah SAW, dan beberapa tokoh penting dalam sejarah Islam.

Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum shalihin sambil bersorak-sorai. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur.

Selain itu dilakukan pelarangan terhadap sejumlah perkara yang ditetapkan haram oleh kaum Wahhabi, seperti cara-cara shalat sebagaimana dikerjakan oleh Mazhab Hanafi dan Maliki, penggunaan tasbih, peringatan Maulid Nabi, khususnya pembacaan syair-syair, pembacaan sejumlah hadits sebelum khutbah Jum’at, memiliki atau merokok tembakau dan minum kopi. Pada masa itu rombongan haji dari Syria dan Mesir, yang dianggap membawa wabah syirik, ditolak masuk ke Haramain.

 

 

Kedai Starbuck di Madinah, di tempat mana dahulu kaum Wahhabi pernah mengharamkan kopi.

Sejarawan Wahhabi yang hidup di saat pendudukan Haramain yang bernama Utsman bin Abdullah bin Bisyir an-Najdi (Ibnu Bisyr) dalam kitabnya Unwanul Majdi fi Tarikhi Najd (jilid 1, halaman 285, cetakan King Abdul Aziz Research Centre) menceritakan penderitaan penduduk Makkah akibat keganasan tentara Wahhabi pada tahun 1220 H (1806 M):

“Adapun di Makkah, masalahnya jauh lebih hebat dari apa yang telah kami sebutkan, disebabkan perang, pengepungan, dan terputusnya suplai makanan dan tranportasi. Dan itu akibat dilanggarnya perjanjian damai antara Ghalib dan Sa’ud. Maka semua jalan di Makkah dari arah Yaman, Tihamah, Hijaz dan Najd ditutup. Karena mereka itu semua adalah rakyat Saud dan dibawah perintahnya. Maka pasti dan mutawatir bagi kami (berita) bahwa harga satu kail beras dan biji-bijian mencapai 6 riyal di Makkah. Ukuran 1 kail mereka lebih sedikit dari 1 sha’ Najd.

Dan disana (Makkah), daging-daging keledai dan bangkai dijual dengan harga sangat mahal, daging-daging anjing dimakan. Harga 1 pon lemak minyak mencapai 2 riyal. Orang-orang banyak yang mati karena kelaparan.”

Gerakan kaum Wahhabi ini membuat Sultan Turki Utsmani saat itu, yakni Sultan Mahmud II menjadi murka. Maka dikirimlah pasukannya yang bermarkas di Mesir dibawah pimpinan gubernur Muhammad Ali Pasha, untuk melumpuhkan kaum Wahhabi. Pada tahun 1813 M, Madinah dan Makkah bisa direbut kembali dari kaum Wahhabi, setelah diduduki selama enam setengah tahun.

Pada tahun 1814 Sa’ud bin Abdul Aziz meninggal. Setelah itu diteruskan lagi oleh anaknya, Abdullah bin Sa’ud. Pasukan Wahhabi dibawah pimpinan Abdullah bin Sa’ud mengalami kekalahan telak saat berperang melawan pasukan pimpinan Muhammad Ali Pasha dari Turki Utsmani pada tahun 1815.

Tahun 1818 kota Riyadh yang menjadi basis dinasti Sa’ud kembali dikuasai oleh pasukan Turki Utsmani. Abdullah bin Sa’ud beserta beberapa anggota keluarganya akhirnya ditawan dan dibawa ke kota Kairo dan kemudian dipindahkan ke Istanbul, ibukota kekhalifahan Turki Utsmani.

 

 

Lukisan Abdullah bin Sa’ud , penguasa terakhir negara Saudi Pertama

 

Kemudian Abdullah bin Sa’ud dihukum dan dipenggal kepalanya di Istanbul. Sedangkan sisa-sisa keluarganya dipenjara di kota Kairo. Gerakan Wahhabi pun menjadi surut bersamaan dengan kejatuhan dinasti Sa’ud.

 

Silsilah Penguasa Dinasti Saud

 

Kerajaan Saudi Kedua dan bangkitnya Wahhabi

Tahun 1824 salah seorang cucu Muhammad bin Sa’ud yang bernama Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Sa’ud mengambil alih pimpinan klan Sa’ud dan merebut kembali Riyadh, kemudian berkuasa disana hingga akhirnya ia tewas dibunuh oleh anggota dinasti Sa’ud lainnya di tahun 1834.

Setelah itu terjadi perebutan kekuasaan diantara anggota keluarga Sa’ud. Anaknya yang bernama Faisal bin Turki lalu mengambil alih kekuasaan. Sepeninggal Faisal bin Turki, anak-anaknya pun kembali berebut kekuasaan.

Abdullah bin Faisal kemudian merebut kekuasaan dan berkuasa hingga 1871 dan dilanjutkan oleh Sa’ud bin Faisal hingga ia meninggal tahun 1875. Tahun 1889 Abdurrahman bin Faisal mengambil alih kekuasaan, tapi hanya bertahan hingga 1891 karena Riyadh jatuh ke tangan Muhammad bin Abdullah bin Rasyid dari dinasti Rasyidi.

 

 

Abdurrahman bin Faisal (ayah Abdul Aziz)

Aliansi dinasti Sa’ud - Inggris melawan Turki Utsmani

Abdurrahman terusir dari Riyadh, pergi menuju ke Bahrain dan akhirnya mengungsi di Kuwait bersama anaknya Abdul Aziz bin Abdurrahman yang dikemudian hari menjadi raja Arab Saudi di era modern. Keluarga ini tinggal di Kuwait dengan perlindungan dari klan Al Sabah (penguasa Kuwait).

Sewaktu berada di Kuwait, Abdul Aziz bertemu dengan Kapten William Shakespear, utusan dari pemerintah Inggris di India yang kemudian menjadi penasehat militernya.

Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Sa’ud ini di dunia barat dikenal dengan nama Ibn Saud. Penamaan oleh orang barat ini kadang bersifat ambigu dengan Muhammad bin Saud, kakek moyang dari Abdul Aziz bin Abdurrahman.

 

Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Faisal tahun 1911

 Pada tahun 1901 Abdul Aziz mulai menggalang kekuatan bersenjata dan berangkat menuju Najd. Pada tahun 1902 pasukan Abdul Aziz dengan bantuan Inggris menyerang dan merebut kota Riyadh serta membunuh Ajlan, gubernur Riyadh dari klan Rasyidi.

Tahun 1906 pasukan Abdul Aziz mengalahkan tentara gabungan Turki dan Rasyidi di Qasim.

 

 

Captain William Henry Shakespear

Tahun 1915 William Shakespear ikut berperang bersama dengan pasukan Abdul Aziz melawan pasukan Rasyidi dan tertembak pahanya. Tentara Rasyidi kemudian memenggal kepalanya. Topi safari (solar helmet) nya kemudian diserahkan kepada pemerintah Turki Utsmani, lalu topi itu digantung di pintu gerbang kota Madinah sebagai bukti kepada masyarakat bahwa klan Sa’ud telah bekerjasama dengan penjajah Inggris.

Pada tahun 1915 Abdul Aziz membuat perjanjian dengan Inggris (Treaty of Darin). Mereka berunding untuk menentukan batas-batas kekuasaan Abdul Aziz, yang ditentukan oleh Sir Percy Cox, komisioner tinggi Inggris (British High Commisioner) di India.

Perjanjian Darin menjadikan wilayah klan Saud sebagai protektorat Inggris dan menetapkan batas-batas wilayahnya. Inggris mengakui kekuasaan Abdul Aziz di Najd, Hasa, Qatif, dan Jubail. Inggris akan membantunya bila wilayah-wilayah ini diserang. Tujuan Inggris adalah untuk memastikan kedaulatan Kuwait, Qatar dan negara-negara ke-emir-an teluk lainnya. Abdul Aziz berjanji tidak menyerang protektorat Inggris, tetapi tidak ada perjanjian bahwa ia tidak akan menyerang Syarif Makkah. Abdul Aziz juga berjanji untuk menjadi sekutu Inggris dalam memerangi Kesultanan Turki Utsmani, termasuk menumpas klan Rasyidi yang merupakan sekutu kesultanan Turki.

Setelah perjanjian itu, pada tahun 1916 Abdul Aziz menerima 1000 pucuk senapan dan uang £20.000 dari Inggris. Pasokan senjata, amunisi dan uang akan terus diberikan secara teratur hingga tahun 1924. Setiap bulannya Abdul Aziz juga menerima uang pelicin sebesar £5.000. Dengan bantuan keuangan dan senjata itu Abdul Aziz semakin berjaya dan mengalahkan seluruh kekuatan klan Rasyidi pada tahun 1922.

 

 

TE Lawrence (Lawrence of Arabia)

Sementara itu di daerah Hijaz otoritas Turki yang mulai melemah akibat kekalahan dalam perang dunia pertama, mengalami serangan dari berbagai fihak. Gubernur Makkah Syarif Husain, yang pada tahun 1908 diangkat oleh Sultan Hamid II,  memberontak kepada Turki Utsmani, dengan bantuan dari T.E Lawrence, perwira intelijen Inggris yang mengajari pemberontak Arab teknik perang gerilya. Jalur kereta api Hijaz yang membentang dari Damaskus hingga ke Madinah menjadi sasaran utama perang gerilya Arab.

 

 

Jalur kereta api Hijaz

Seluruh pasukan Turki Utsmani berhasil dipukul mundur dari Hijaz pada 27 September 1918. Syarif Hussein akhirnya berkuasa penuh di Hijaz dan tidak lagi menjadi bawahan Turki. Setelah meninggal pada 1924, ia digantikan oleh anak tertuanya, Pangeran Ali bin Husain.

Namun kekuasaan klan tersebut tidak berlangsung lama karena mulai diganggu oleh klan Saud. Abdul Aziz segera mengincar kekuasaan Husain di Hijaz dan lagi-lagi, mereka mendapatkan bantuan Inggris.

Pada 1926 Abdul Aziz menguasai Hijaz termasuk Makkah, Madinah dan Jeddah. Keturunan Syarif Husain pun tersingkir dari Makkah dan Madinah.

Anak Syarif Husain, Pangeran Faisal menjadi penguasa di Irak dan Suriah (dikenal dengan nama Faisal I of Iraqi) dan anaknya yang lain, Pangeran Abdullah, menjadi penguasa di Yordania (terkenal dengan nama Raja Abdullah I dari Yordania).

 

Syarif Hussain bin Ali

Negara Saudi Ketiga melanjutkan Wahhabisme

Tahun 1926 Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Sau’d memproklamirkan diri sebagai raja Hijaz dan sultan Najd. Dia juga mulai menerapkan ideologi kerajaan yang berdasarkan ajaran Wahhabi yang keras dan kaku. Termasuk melarang kegiatan dalam ibadah haji yang dianggap menyelisihi ajaran dari Muhammad bin Abdul Wahhab. Pada tahun 1926 rombongan haji dari Mesir dalam perjalanan menuju Makkah dipukuli oleh kaum Wahhabi karena meniup terompet yang diharamkan oleh ajaran Wahhabi.

 

 

Jannatul Baqi’ sebelum dihancurkan oleh pengikut Wahhabi

 

Jannatul Baqi’ yang pernah dihancurkan pada tahun 1806 dan dibangun kembali pada pertengahan abad 19 oleh pemerintah Turki Utsmani, dihancurkan kembali oleh para pengikut Wahhabi ekstrim, yakni kelompok milisi badui Ikhwan pada tahun 1926. Setiap pekerja dalam penghancuran makam Baqi’ ini mendapat upah 1000 Riyal Majidi dan mereka meratakan semua bangunan hingga kompleks kuburan Baqi’ seolah diguncang gempa bumi.

Semenjak itu satu persatu bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dihancurkan hingga jejak sejarah dan kebudayaan Islam tidak dapat disaksikan lagi oleh generasi muslim berikutnya.

Silakan baca artikel mengenai pengrusakan bangunan bersejarah Makkah dan Madinah disini:

https://www.citiesfromsalt.com/blog/the-destruction-of-mecca-and-medinas-historic-landscapes

Pada tahun 1927 perjanjian dengan Inggris diperbarui lagi dengan Treaty of Jeddah yang menghapus Treaty of Darin. Inggris kemudian mengakui kerajaan Hijaz dan Najd. Dalam kesepakatan itu Abdul Aziz berjanji tidak akan mengganggu wilayah protektorat Inggris.

Abdul Aziz pada masa itu berhasil menyatukan dinasti Sa’ud, menguasai Riyadh, Najd, Hasa, Asir, dan wilayah Hijaz lainnya dan memproklamirkan al-Mamlakah al-Arabiyah as-Su’udiyah pada 23 September 1932 yang mana wilayah kekuasaannya dikenal saat ini sebagai Kerajaan Saudi Arabia. Pada tahun 1933 Amerika Serikat diberi izin untuk melakukan eksplorasi minyak di wilayah timur Arab Saudi dan mengantarkan Arab Saudi sebagai eksportir minyak sejak tahun 1939. Sejak saat itu Amerika Serikat menjadi mitra setia Arab Saudi hingga kini.

 

 

Pada tahun 1935 Abdul Aziz dianugerahi gelar “Ksatria Ordo Bath” oleh Kerajaan Inggris karena dinilai sukses sebagai Ksatria yang membela ajaran Wahhabi. Ia meninggal dunia karena serangan jantung di tahun 1953 dan meninggalkan 45 orang anak.

 

 

Bintang kehormatan Ordo Bath

 

 

Raja Abdul Aziz dan Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt (1945)

 

Kekuasaannya diteruskan oleh anak-anaknya (Sa’ud, Faishal, Khalid, Fahd, Abdullah, Salman) sedangkan ajaran Wahhabi tetap menjadi ideologi resmi kerajaan hingga kini.

(Bersambung)

Baca 2714 kali Terakhir diubah pada Selasa, 06 April 2021 15:35
Bagikan: