Kritik Ulama Klasik Lebih Keras Dibandingkan Kritik Pandji Pragiwaksono  Pilihan

Sabtu, 17 Januari 2026 11:55
(3 pemilihan)

Dalam episode komedi panggung "Mens Rea" Pandji Pragiwaksono melontarkan beberapa kalimat tentang shalat yang dituduhkan oleh sebagian kelompok Islam sebagai penistaan agama, khususnya ketika ia menyinggung bagaimana sebagian orang mensyaratkan pemimpin harus selalu tidak “bolong” dalam shalat, dan kemudian mengaitkannya dengan realitas bahwa ada orang yang rajin shalat tetapi tetap melakukan korupsi atau maksiat. 

Pernyataan ini dianggap oleh Rizieq Shihab dan beberapa kelompok sumbu pendek lainnya sebagai menyinggung agama karena meremehkan atau meragukan hubungan antara shalat dan perilaku moral.

“Sudah disampaikan lagi ‘Ah, shalat itu nggak bolong, rutin shalat, ternyata apa? Masih banyak yang korupsi, masih banyak yang maksiat’. Ini penghinaan terhadap Ayat Suci Al-Qur’an. Seolah-olah yang dia mau sampaikan pesan ‘bohong kalau shalat itu jadi benteng maksiat’. Dengan dalil banyak yang shalat tetap maksiat, ada pejabat shalat tapi tetap korupsi, itu dijadikan dalil. Jadi seolah-olah dikatakan nggak betul itu shalat benteng dari maksiat,” kata Rizieq Shihab.

Ucapan Rizieq ini jelas menunjukkan bahwa dia dan banyak orang awam lainnya tidak bisa membedakan antara kritik terhadap perilaku orang shalat dengan kritik terhadap shalat itu sendiri.

Gagal paham semacam ini sebenarnya sangat memalukan bila dialami oleh tokoh yang oleh kaumnya diberi gelar “imam besar umat Islam”.

Menafsirkan kritik terhadap praktik sosial umat sebagai penolakan terhadap ajaran shalat merupakan straw man fallacy, karena menciptakan argumen palsu untuk diserang. Kritik pada orang yang melakukan shalat dipelintir seolah-olah menyerang shalatnya.

Pandji dalam komedi panggung "Mens Rea" tentu bukan bermaksud menolak ajaran shalat tetapi mengkritik perilaku orang yang mempraktekkan shalat.

Kritik Atas Perilaku Pelaku Sholat

Ulama generasi tabi’in terkemuka Imam Hasan al-Basri pernah mengatakan tentang shalat:

“Siapa yang shalat tetapi shalatnya tidak mencegahnya dari maksiat, maka shalat itu hanya menambah jauhnya dari Allah.”

Ungkapan ini sebenarnya lebih keras dari kritik Pandji, tapi tidak pernah dianggap penistaan terhadap ajaran shalat. Tidak ada aliansi pemuda ini dan pemuda itu yang melaporkannya kepada polisi.

Dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam al-Ghazali membagi shalat menjadi beberapa tingkat:

  • Shalat orang awam yang sekadar menggugurkan kewajiban
  • Shalat khawash yang menghadirkan hati
  • Shalat khususul khusus yang pelakunya mengalami fana’ dalam kehadiran Allah.

Imam Ghazali juga menulis:

“Gerakan lahir tanpa kehadiran hati adalah seperti jasad tanpa ruh.”

Artinya meskipun shalat seseorang sah secara fikih, tapi dilakukan tanpa kehadiran hati maka shalatnya mati secara ruhani.

Tokoh-tokoh tasawuf klasik seperti Imam Junaid al-Baghdadi, Imam Sahl al-Tustari dan Imam Abu Yazid al-Busthami sepakat bahwa:

“Ibadah tanpa akhlak adalah kesombongan terselubung.” Shalat yang tidak membuahkan kerendahan hati, keadilan, kasih sayang, dianggap hijab, bukan kedekatan dengan Allah.

Sayyidina Umar RA pernah berkata:

“Jangan kalian tertipu oleh rukuk dan sujud seseorang, tetapi lihatlah kejujurannya ketika berbicara, amanahnya ketika diberi kepercayaan, dan wara’nya ketika berhadapan dengan yang haram.”

Ini adalah kritik langsung terhadap religiositas performatif.

Ajaran al-Qur'an dan Rasulullah SAW

Al-Qur’an sendiri bahkan mengkritik shalat formalistik. Islam tidak pernah menganggap shalat cukup sebagai gerakan fisik. Dalam surah Al-Ma’un 4–7 Allah SWT berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ

Celakalah orang-orang yang shalat, yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya’, dan enggan menolong dengan barang berguna.

Jika ayat ini diperhatikan maka “Celaka” bukan ditujukan kepada orang yang tidak shalat, tapi kepada orang yang shalat namun kosong secara moral dan sosial.

Rasulullah SAW bersabda:

“Betapa banyak orang yang shalat, tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali lelah dan letih.”

(HR. Ahmad)

Shalat seperti yang disebutkan hadits di atas adalah shalat yang tidak ikhlas, bisa karena hanya menjalankan kebiasaan, tekanan sosial atau pencitraan kesalehan.

Sabda Rasulullah ini selaras dengan al-Qur’an surah al-Ma’un 4-5 di atas. Artinya kesia-siaan dan celaka bukan karena ajaran shalatnya, tapi disebabkan oleh kelalaian dari hakikat shalat.

Konsep Munafik Dalam Islam: Rajin Ibadah Tapi Rusak Moral

Ciri munafik sebenarnya bukan karena malas ibadah. Di dalam Surah An-Nisa' 142 Al-Qur’an menyebut:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka melakukannya dengan malas dan riya’ di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali”

Artinya orang munafik tetap shalat, tapi motivasinya sosial dan politik, bukan spiritual.

Kesimpulan

  • Shalat adalah sarana penghambaan kepada Sang Maha Pencipta, dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), bukan simbol status kesalehan
  • Shalat yang tidak membuahkan akhlak adalah indikasi kegagalan spiritual
  • Kritik terhadap shalat formalistik bukan penistaan, tapi amar ma’ruf
  • Jika shalat tidak mencegah keji dan mungkar, yang bermasalah bukan ayat, tapi kualitas shalat dan kejujuran pelakunya.

Kembali kepada ungkapan Pandji Pragiwaksono dan sebagian besar orang bahwa ada realita orang yang rajin shalat tapi tetap melakukan korupsi, zhalim dan bermaksiat, maka penjelasannya adalah sederhana: 

Fenomena ini memberikan pertanda bahwa shalat orang tersebut tidak diterima oleh Allah SWT.

Selamat berlibur di hari Peringatan Isra’ Mi’raj.

 

Noor Hilmi, Cicit mu'assis NU, anggota redaksi inharmonia.id dan etiks.id

 

Baca 227 kali Terakhir diubah pada Sabtu, 17 Januari 2026 14:59
Bagikan: