Tabahlah Sumatra Pilihan

AlHilal Hamdi Minggu, 28 Desember 2025 13:44
(2 pemilihan)

[Verse 1]
Bagaimana harus kutulis
hidup yang hilang di pengungsian?
Lampu padam berhari-hari,
makanan tinggal sisa genggam.

Air bersih hanya cukup
meneguk harapan malam-malam.
Rumah-rumah runtuh bersama hujan,
seakan ingin menghapus nama
yang masih bertahan di bumi ini.

[Verse 2]
Bagaimana harus kusampaikan
resah yang hampir tanpa suara?
Istri kehilangan suami,
anak-anak lenyap tanpa berita.

Tangan kecil di balik reruntuhan
memanggil siapa saja yang lewat.
Namun tak ada daya selain doa
yang pecah nadanya
di antara runtuhan berat.

[Pre-Chorus]
Maukah kau dengarkan
jalan yang terputus,
jembatan yang runtuh,
sungai penuh kayu terbawa arus?

Bantuan tertahan entah di mana,
sinyal pun pergi…
entah kapan kembali.

[Chorus]
Bagaimana…
bagaimana harus kuceritakan?
Pedih yang tak sempat ditangisi,
derita yang ingin kubagi.

Dan bila suaraku terdengar biasa,
atau kau anggap drama murahan—
izinkan tetap kubisikkan,
karena ini satu-satunya
yang bisa kukirimkan.

[Outro]
Biarkan laguku mengetuk pintumu,
pelan… rapuh…
tapi sungguh.

 

Karya AlHilal Hamdi, alumnus ITB 1973.

 

 

Baca 194 kali Terakhir diubah pada Minggu, 28 Desember 2025 14:04
Bagikan: