[Verse 1]Bagaimana harus kutulishidup yang hilang di pengungsian?Lampu padam berhari-hari,makanan tinggal sisa genggam. Air bersih hanya cukupmeneguk harapan malam-malam.Rumah-rumah runtuh bersama hujan,seakan ingin menghapus namayang masih bertahan di bumi ini. [Verse 2]Bagaimana harus kusampaikanresah yang hampir tanpa suara?Istri kehilangan suami,anak-anak lenyap tanpa berita. Tangan kecil di balik reruntuhanmemanggil siapa saja yang lewat.Namun tak ada daya selain doayang pecah nadanyadi antara runtuhan berat. [Pre-Chorus]Maukah kau dengarkanjalan yang terputus,jembatan yang runtuh,sungai penuh kayu terbawa arus? Bantuan tertahan entah di mana,sinyal pun pergi…entah kapan kembali. [Chorus]Bagaimana…bagaimana harus kuceritakan?Pedih yang tak sempat ditangisi,derita yang ingin kubagi. Dan bila suaraku terdengar biasa,atau kau anggap drama murahan—izinkan tetap kubisikkan,karena ini satu-satunyayang bisa kukirimkan. [Outro]Biarkan laguku mengetuk pintumu,pelan… rapuh…tapi sungguh. Karya AlHilal Hamdi, alumnus ITB 1973.