Serangan Covid-19 Gelombang Kedua Pilihan

Minggu, 01 November 2020 10:57
(10 pemilihan)

Di tengah serangan Covid-10 gelombang kedua di Eropa yang lebih menakutkan, ada sedikit harapan untuk Indonesia.

Melihat grafik “Active Cases in Indonesia” tentang Covid-19 yang disiarkan worldometers.info (01/01/2020), ada sedikit rasa gembira, karena grafiknya menurun. Ini berarti jumlah penderita Covid-19 yang sembuh lebih banyak dari pada jumlah penderita baru. (Angka-angka tentang Covid-19 diperoleh dari worldometers.info).

Namun setelah disimak dengan cermat, rasa gembira itu berkurang, karena menurunnya jumlah penderita baru Covid-19 itu terjadi karena menurunnya jumlah test yang dilakukan. Sekarang, jumlah test kurang dari 35.000 test di seluruh Indonesia.

Sebelumnya jumlah test lebih dari 40.000 test, misalnya tanggal 7 dan 8 Oktober 2020, dilaksanakan lebih dari 43.000 test. Jumlah penderita baru lebih banyak daripada jumlah penderita yang sembuh, sehingga grafik “Active Cases in Indonesia” cenderung naik .

Dengan demikian ada kemungkinan, jika jumlah test ditambah, penderita baru pun bertambah juga. Diperkirakan jumlah penderita baru 10% dari jumlah test yang dilakukan. Jika jumlah penderita yang sembuh lebih sedikit daripada jumlah penderita baru, maka beban rumah sakit akan bertambah.

Oleh karena itu, ikhtiar sosialisasi 3M harus terus digencarkan. Diharapkan kegiatan memakai masker, menjaga jarak fisik, dan sering mencuci tangan akan makin membudaya di masyarakat Indonesia. Jika 3M ini sudah membudaya, diharapkan penyebaran Covid-19 bisa dihambat. Mari kita pantau perkembangan Covid-19 setelah libur Panjang Maulud Nabi. Jika jumlah penderita Covid-18 tidak meningkat secara mencolok, berarti 3M sudah lebih membudaya, jika peningkatan tetap mencolok, berarti pembudayaan 3M harus lebih digalakkan. Apalagi ada serangan Covid-19 gelombang kedua di Eropa yang lebih menakutkan.

 Lockdown di Perancis & Jerman

Kompas.com menyiarkan, Perancis dan Jerman mengumumkan lockdown kedua, setelah kasus Covid-19 meningkat. (29/10/2020, 06.28 WIB). Lockdown di Perancis dimulai tanggal 30 Oktober sampai 1 Desember 2020, sedangkan di Jerman dimulai tanggal 2 November 2020 untuk empat pekan. (https://www.kompas.com/global/read/2020/10/29/062841270/perancis-dan-jerman-umumkan-lockdown-kedua-setelah-kasus-covid-19?page=all).

Jika active cases di Indonesia hari ini (01/01/2020) berjumlah 58.428 orang, di Perancis berjumlah 1.213.179 orang. Sebelum bulan Agustus 2020, active cases di Perancis belum mencapai 100.000 orang.

Akhir bulan Oktober 2020, terjadi lonjakan yang tinggi di Perancis. Dalam sehari, pada tanggal 5 Oktober 2020, ada 5.084 kasus baru, sedangkan pada tanggal 30 Oktober 2020 ada 49.215 kasus baru. Hampir 10 kali lipat.

Active Cases Jerman tidak sebanyak Perancis, “hanya” 175.507 orang pada tanggal 31 Oktober 2020. Serangan gelombang pertama Covid-19 di Jerman, paling tinggi pada 6 April yang lalu, yaitu 72.865 orang. Lonjakan akibat serangan gelombang kedua pada bulan Oktober 2020 itulah yang mendorong pemerintah Jerman melakukan lockdown mulai Selasa, 2 November 2020.

 Pertahanan Indonesia

Semoga gelombang kedua serangan Covid-19 di Eropa tidak menjalar ke Asia, khususnya ke Indonesia. Untuk menangkis serangan itu perlu ada peningkatan pertahanan di Indonesia, khususnya pembudayaan 3M.

Tidak mudah melakukan pembudayaan ini, karena sebagian masyarakat Indonesia tidak percaya adanya Covid-19, atau menganggap Covid-19 itu adalah flu biasa.

Pertahanan Indonesia akan semakin kuat jika vaksin sudah bisa digunakan. Ada dua hambatan dalam vaksinasi nanti, yaitu keterbatasan jumlah vaksin, dan perlawanan terhadap vaksinasi dengan menyatakan bahwa vaksin itu mengandung enzim babi dan unsur haram lainnya. Perlawanan terhadap vaksinasi itu sudah berlangsung saat ini di berbagai media sosial. Semoga hambatan ini bisa diatasi dengan sebaik-baiknya.***

(Muh Ridlo Eisy adalah Pemimpin Redaksi inharmonia.co, anggota Dewan Pers 2010-2016.)

 

Baca 915 kali Terakhir diubah pada Jumat, 13 November 2020 13:28
Bagikan: