Silaturahim atau reuni bagi kelompok masyarakat yang berusia di atas 70 tahun, adalah reuni yang sangat berarti. Segala daya diusahakan untuk hadir, bertemu, saling menyapa, saling memaafkan, dan saling mendoakan, dan berikhtiar bersinergi sampai akhir hayat. Suasana bahagia itulah yang terasa pada reuni Fortuga di NuArt Sculpture Park, Bandung, hari Sabtu, 25 April 2026. Fortuga adalah Forum Tujuh Tiga, alumni ITB Angkatan 1973. Jadi usia pertemanan Fortuga sudah lewat dari setengah abad, 53 tahun. Oleh karena itu logo reuni Fortuga merupakan gabungan angka 73 dan 53. Dalam hidup ini, sangat sering suasana bahagia selalu bercampur dengan rasa sedih. Dalam suasana reuni yang meriah itu Fortuga teringat kepada para sahabat yang telah meninggal, dan yang tidak bisa hadir karena kurang sehat. Doa Fortuga Rasa bahagia bercampur prihatin itu diungkapkan dalam doa, mengawali silaturahim Fortuga, yang dipimpin oleh M. Effendi, Elektro 1973. Silaturahim Fortuga memanjatkan doa bersama: Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat-Mu. Engkau telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Mu, hingga pada hari yang penuh kebahagiaan ini kami dapat berkumpul dalam keadaan sehat, dalam suasana penuh kebersamaan dan persaudaraan. Ya Allah, Yang Maha Penolong, kami memohon pertolongan dan kesembuhan bagi saudara-saudara kami yang sedang sakit atau dalam kesulitan. Ringankanlah beban mereka, angkatlah segala penyakit dan penderitaan mereka, serta kembalikanlah mereka kepada keadaan yang sehat dan sejahtera. Ya Allah, Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, ampunilah segala dosa dan kesalahan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu Engkau panggil. Terimalah seluruh amal ibadah mereka, limpahkanlah rahmat dan kasih sayang-Mu kepada mereka, serta tempatkanlah mereka di sisi-Mu dalam kedudukan yang mulia Ya Allah, Yang Maha Pemelihara, kami memohon keberkahan bagi saudara-saudara kami yang berulang tahun. Anugerahkanlah kepada mereka: umur yang panjang dalam kebaikan, kesehatan yang sempurna, rezeki yang melimpah, serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadikanlah mereka insan yang senantiasa berada dalam lindungan dan hidayah-Mu, sehingga dapat terus menjalankan amal ibadah dengan ikhlas dan Istiqamah. Ya Allah Tuhan kami, limpahkanlah rahmat, keselamatan, kemudahan, dan keberkahan kepada kami semua yang hadir di tempat ini. Jauhkanlah kami dari segala kesulitan, mara bahaya, dan cobaan yang melemahkan. Bimbinglah langkah kami di jalan yang Engkau ridhoi, agar hidup kami senantiasa penuh dengan keberkahan dan kedamaian. Dari data yang dikumpulkan, jumlah mahasiswa ITB Angkatan 1973 adalah sekira 1.200 orang, yang sudah meninggal dunia 285 orang. Data sementara yang sempat dipantau, jumlah anggota Fortuga yang menyatakan kesediaannya hadir pada acara reuni berjumlah 314 orang, dan ternyata yang jadi hadir mencapai 256 orang. Ada beberapa yang sudah masuk daftar hadir tetapi tidak datang, antara lain karena ada acara mendadak, ada yang sakit, dan banyak yang tidak memberi informasi kepada panitia. Tentu saja yang hadir bukan hanya alumni ITB 1973, sebagian ditemani oleh istri, suami, anak bahkan cucu. Namun dari pantauan jumlah yang hadir mencapai 340 orang. Seribu Pelita Bangsa Selain doa, yang menarik adalah pembacaan karya Herman Darnel Ibrahim, Teknik Elektro 1973. Sajak karya Herman berjudul “Fortuga, Seribu Pelita Bangsa”. Dr. Herman Darnel Ibrahim, pernah menjadi anggota Dewan Energi Nasional dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Waktu acara reuni, sajak itu dibacakan oleh temannya, Darwanto, EL73, karena Herman tidak hadir, sedang berobat. Waktu membaca sajak, nada haru terdengar dari suara Darwanto. Inilah sebagian cuplikan dari sajak Herman, bagi yang ingin membaca sajak itu secara lengkap bisa berkunjung ke inharmonia.id. Waktu mengangkat sebagian menjadi nakhoda bangsa, pejabat negara, pemimpin perusahaan, serta pengabdi sunyi yang berkarya nyata, namun di balik gemerlap jabatan dan karya yang penuh makna, kami tetap saudara. dipersatukan oleh cita yang sama. Di sisa waktu yang dianugerahkan dengan bijaksana, kami memilih hidup dengan makna yang sederhana, berbagi ilmu, menebar kebaikan tanpa pamrih dan prasangka, menjaga persahabatan, merawat cinta dalam setiap langkah nyata. Kini usia menulis kisah dengan tinta senja, satu per satu sahabat berpulang ke haribaan-Nya, meninggalkan kami dalam rindu yang tak sirna namun nyala itu tak pernah padam, terus hidup dalam sukma, menjadi pelita, yang menerangi generasi berikutnya. Dan bila kelak nama kami hanya tinggal cerita, biarlah ia berpendar dalam ingatan bangsa serta hidup dalam kenangan keturunan kami yang setia, sebagai nyala kecil, yang setia menjaga cahata. Fortuga – seribu pelita, abadi dalam jiwa Indonesia. Ketekunan panitia dan buku baru. Doa dan sajak di atas dapat mewakili suasana reuni Fortuga yang sangat meriah. Acara berlangsung dari pagi hari pukul 08.00 dan secara resmi diakhiri pada pukul 15.00. Sebagaian Fortuga melanjutkan reuni jurusan. Acara yang meriah dan sukses itu tentu hasil kerja keras dan ketekunan panitia. Semua sudah disiapkan, termasuk kalau ada suatu hal yang tidak dikehendaki, yaitu kalau ada peserta reuni yang sakit. Tempat reuni di NuArt Sculpture Park relatif dekat dengan beberapa rumah sakit. NuArt Sculpture Park ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk berbagai pertemuan yang pesertanya bisa lebih dari 500 orang. Perlu dicatat, Nyoman Nuarta, pemilik NuArt Sculpture Park adalah anggota Fortuga, alumni Senirupa ITB 1973. Selain menjadi tuan rumah reuni, Nyoman Nuarta menuturkan karyanya di IKN (Ibukota Nusantara), antara lain Istana Garuda dan Masjid Negara. Yang menarik adalah ajakan panitia untuk anggota Fortuga untuk menulis pengalamannya untuk diterbitkan dalam buku “Fortuga Bercerita” jilid kedua. Jilid pertama dengan tebal 770 halaman sudah terbit pada bulan Desember 2023. Tentu saja kegiatan reuni seperti ini bukan dilakukan oleh Fortuga, tetapi hampir semua angkatan di ITB, dan tentu saja oleh perguruan tinggi yang lain. Alangkah baiknya jika para alumni perguruan tinggi di Indonesia menuliskan pengalamannya untuk menjadi bahan kajian generasi berikutnya.***