JK: Sang Juru Damai yang Kini  di Pusaran Fitnah Pilihan

Selasa, 21 April 2026 12:00
(1 Pilih)

Dunia seringkali memiliki ingatan yang pendek, terutama ketika kebisingan digital mulai menutupi jejak-jejak sejarah yang ditulis dengan keringat dan air mata.

Dalam lembaran sejarah bangsa kita, ada nama yang identik dengan kata "Jalan Keluar". Jusuf Kalla, atau yang akrab kita sapa JK, bukan sekadar politisi; ia adalah seorang arsitek perdamaian yang hadir saat nalar publik sedang buntu oleh amarah.

Jika kita menilik kembali sebelas konflik bersenjata yang pernah mengoyak rahim ibu pertiwi, hampir seluruhnya diselesaikan melalui laras senjata dan operasi militer.

Namun, ada tiga luka menganga yang sembuh melalui sentuhan kemanusiaan: Poso, Ambon, dan Aceh.

Ketiganya memiliki satu benang merah, yakni tangan dingin JK yang memilih meja perundingan ketimbang medan perang.

**

Di Poso dan Ambon, saat aroma mesiu bercampur dengan isu sensitif agama, JK hadir bukan sebagai penguasa yang mendikte, melainkan sebagai seorang humanis yang merangkul.

Beliau melobi tokoh adat, mengetuk pintu hati para pemuka agama, dan mendengarkan keluh kesah rakyat kecil. Bahkan, sejarah mencatat betapa beliau tak segan merogoh kocek pribadi hingga miliaran rupiah demi memastikan roda perdamaian tetap berputar.

Baginya, persatuan bangsa tak bisa dinilai dengan angka; ia adalah harga mati yang diperjuangkan dengan nurani.

Namun, sungguh ironis melihat apa yang terjadi hari ini. Sang mediator yang menghabiskan separuh hidupnya menjaga kesucian antarumat beragama, kini justru dituduh menodainya.

Sebuah potongan ceramah didekontekstualisasi, maknanya dipelintir, dan narasinya dimanipulasi sedemikian rupa hingga melahirkan fitnah yang keji. Tuduhan pelecehan agama dialamatkan kepada sosok yang justru paling paham bagaimana menjaga sensitivitas keyakinan di tengah bara konflik.

Kita patut bertanya dalam perenungan yang dalam: Di manakah letak keadilan ketika para provokator, yang selama ini hanya menjadikan agama sebagai komoditas politik dan memanen suara dari perpecahan, justru merasa paling suci?

Mereka yang menciptakan jarak sosial dan merusak kohesi bangsa dengan opini-opini destruktif, kini beramai-ramai menyerang sang juru damai melalui jalur hukum yang dipaksakan.

"Sejarah akan mencatat siapa yang membangun jembatan dan siapa yang sibuk membakar talinya."

**

Kejadian ini menjadi cermin retak bagi demokrasi kita. Ketika sebuah permintaan sederhana untuk menunjukkan keabsahan dokumen pendidikan direspons dengan serangan personal yang manipulatif, kita tahu ada yang salah dengan kesehatan mental publik kita.

Cara-cara premanisme intelektual dan penggunaan kekuatan finansial untuk membungkam akal sehat adalah bentuk pelecehan terhadap martabat bangsa yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, badai fitnah ini justru menjadi filter alami yang memperjelas pandangan rakyat.

Di satu sisi, kita melihat seorang Negarawan yang berdiri tegak dengan rekam jejak perdamaiannya. Di sisi lain, kita melihat barisan "begundal" yang bergerak atas pesanan, menebar kebencian demi kepentingan majikan.

JK tetaplah JK—sang Jalan Keluar. Biarlah waktu yang menjadi hakim yang paling adil. Sebab, seribu fitnah tak akan mampu menghapus kenyataan bahwa tanpa ketulusannya, mungkin hari ini kita masih mendengar dentuman senjata di tanah Poso atau Ambon.

Menjaga kerukunan adalah tugas yang berat, dan memfitnah orang yang menjaganya adalah bentuk pengkhianatan terhadap kemanusiaan itu sendiri.

Allahu a'lam.***

 

Baca 71 kali Terakhir diubah pada Selasa, 21 April 2026 12:07
Bagikan: