Gusjigang Pintu Ajaran Sunan Kudus Pilihan

Gusjigang Pintu Ajaran Sunan Kudus Foto: ANTARA/Yusuf Nugroho/Bro
Rabu, 22 Jun 2022 08:54
(5 pemilihan)

Ajaran Sunan Kudus tentu lebih luas dan lebih dalam dari gusjigang. Istilah gusjigang mungkin baru muncul setelah tahun 2000, kemudian dapat dilihat di musium jenang Kudus. Gusjigang adalah singkatan dari bagus, ngaji dan dagang. Singkatan yang mudah diingat untuk lebih mendalami ajaran Sunan Kudus.

Seingat saya ulama-ulama besar di Kudus belum pernah memperkenalkan istilah gusjigang. Yang saya maksud ulama besar Kudus adalah Almarhum KH Arwani, KH Turaikhan, dan KH Sya’roni. Di kalangan ulama di Indonesia, beliau adalah ulama papan atas, bukan sekadar Gus. Gus di kalangan NU adalah anak kiai, belum kelas Kiai. Oleh karena itu KH Abdurrahman Wahid pernah merasa jengkel kalau dipanggil Gus, oleh para ulama senior di kalangan NU pada awal tahun 1980-an. “Beliau-beliau masih memanggil saya Gus, karena belum mengakui saya sebagai kiai,” kata KH Abdurrahman Wahid waktu saya berkunjung ke kantor PBNU.

Istilah gusjigang memang relatif baru. Semasa hidupnya, ayah saya juga tidak pernah menyebut gusjigang. Ayah saya pernah menjadi Kepala Desa Kauman Kudus. Di tanah perdikan Kauman Kudus itulah Sunan Kudus dimakamkan.

Lebih luas dan lebih dalam

Tentu saja, ajaran Sunan Kudus lebih luas dari gusjigang. Sunan Kudus bukan hanya mengajarkan bersikap bagus, beradab, tetapi beliau mendahulukan kebenaran. Jadi langkah pertama yang dilakukan Sunan Kudus adalah memilih yang benar dan meninggalkan yang salah, kemudian menyampaikannya dengan hikmah dan bagus. Namun, Sunan Kudus bersikap tegas dan keras menentang sikap ulama yang mengaku-aku bahwa dirinya adalah Tuhan.

Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kudus menghormati pandangan yang dianut masyarakat sebelumnya. Sebelum agama Islam masuk ke wilayah Kudus, masyarakat Kudus beragama Hindu dan Budha. Oleh karena itu Sunan Kudus meminta masyarakat Islam di Kudus untuk tidak menyembelih sapi yang dihormati oleh masyarakat Hindu. Sunan Kudus juga membangun Menara yang mirip candi. Dengan sikap seperti itu, masyarakat Hindu waktu itu menerima Sunan Kudus dan ajaran Islam yang dibawanya.

Untuk menghormati masyarakat Budha, Sunan Kudus membuat delapan patung, yang saat ini menjadi tempat jamaah masjid Menara Kudus mengambil wudhu. Budha mengajarkan 8 jalan kebenaran bagi umatnya. Dengan adanya 8 patung di tempat wudhu masjid, masyarakat yang mengenal ajaran Budha tidak ragu-ragu mendatangi masjid.

Pintu masuk ajaran Sunan Kudus

Gagasan merumuskan gusjigang akhir-akhir ini perlu mendapat apresiasi, karena mudah diingat dan mudah dimengerti untuk memasuki ajaran Sunan Kudus.

Sunan Kudus tentu lebih menjujung tinggi kebenaran, namun cara yang digunakan tergantung pada situasinya. Secara umum Sunan Kudus menyebarkan ajaran kebenaran dengan cara yang bagus, penuh hikmat, sehingga yang menerimanya merasa nyaman dan senang. Hal ini ditunjukkan oleh anjuran untuk tidak menyembelih sapi di Kudus.

Ayah saya pernah bercerita, bahwa almarhum KH Asnawi, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dari Kudus, ingin menghapus anjuran Sunan Kudus agar orang Kudus tidak menyembelih sapi di Kudus. Menurut ayah saya adalah santri KH Asnawi. Waktu Hari Raya Idul Adha KH Asnawi pergi ke Pesantren Kajen, Pati. Pada waktu penyembelihan qurban, KH Asnawi menyembelih sapi sendiri, setelah itu membawa beberapa bungkus daging sapi itu untuk dibawa ke Kudus. Menurut rencana, daging sapi itu akan dimasak di pesantren Kudus, dimakan bersama, dan setelah itu, masyarakat Kudus boleh bebas menyembelih sapi.

Namun pesta sate dan soto sapi batal dilakukan di pesantren Kudus, karena bungkusan daging sapi yang dibawa KH Asnawi tertinggal di bus. Kemudian, KH Asnawi membatalkan niatnya untuk menghapus anjuran Sunan Kudus, agar masyarakat Kudus tidak menyembelih sapi di Kudus. Tertinggalnya bungkusan daging sapi yang dibawa KH Asnawi dari Kajen, Pati, dianggap sebagai peringatan Sunan Kudus kepada KH Asnawi. KH Asnawi salah seorang pendiri NU itu meninggal tahun 1959.

Mengenai ngaji, bagian dari Gusjigang -bagus, ngaji, dan dagang-, Kudus adalah pusat pengajian menghafal Alquran, khususnya di Pesantren KH Arwani almarhum. KH Arwani pernah menjadi Ketua Umum Thariqah Mu’tabarah tahun 1980-1985, hampir semua tarekat di Indonesia bernaung di bawah Thariqah Mu’tabarah. Karya KH Arwani adalah Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran Kudus. Pondok dan sekolah ini mendidik anak-anak untuk mengaji alquran sampai hafal, dengan standar kualitas yang tinggi.

Kekokohan pengajian Alquran di bawah pimpinan KH Arwani almarhum dan murid-muridnya di Kudus inilah yang menjadi ciri khas Kudus sebagai kota mengaji. Selain pengajian Alquran, banyak sekali para kiai mengajarkan berbagai ilmu agama di Kudus. Pengajian pun berkembang ke ilmu-ilmu umum, yang ditandai dengan lahirnya beberapa universitas di Kudus, antara lain Universitas Muria.

Unsur yang ketiga dari Gusjigang adalah dagang. Tentu saja pengertian dagang ini luas sekali maknanya, dimulai dari produksi sampai kebutuhan konsumsi. Produsen dan konsumen dihubungkan oleh perdagangan. Produsen menawarkan produk-produk yang dibuatnya, konsumen membeli produk-produk yang dibutuhkannya.

Banyak masyarakat Kota Kudus yang bergerak dalam perdagangan, antara lain menjual pakaian dan kain yang sudah dibordir. Produsennya adalah para istri, kaum wanita di kota Kudus, dan penjualnya adalah para suami, para lelaki. Mereka menjual kain bordir itu bukan hanya di Kudus tetapi juga di luar Kudus, sehingga bordir Kudus terkenal.

Perdagangan adalah cara mencari rezeki yang halal, karena tidak ada proses pemaksaan antara penjual dan pembeli. Terjadi kesetaraan antara penjual dan pembeli. Yang terpenting dalam perdagangan dan seluruh kegiatan mencari rezeki untuk hidup harus berlandaskan ajaran Islam yang diajarkan di pengajian, yaitu harus yang halam, dan cara mencarinya dilakukan dengan cara yang bagus. Bagus dalam arti efektif dan efisien serta diperdagangan dengan cara-cara yang elegan.

Dengan pengertian inilah, gusjigang -bagus, ngaji, dan dagang-, dipahami. Bagus secara hukum agama dan negara, serta adat istiadat. Ngaji, mulai dari mengaji alquran sampai kepada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dagang, mulai dari produksi sampai konsumsi dan proses perdagangan yang menghubungkan kegiatan ekonomi masyarakat.***

Muhammad Ridlo Eisy adalah Pemimpin Redaksi inharmonia.co, dosen FISIP Universitas Pasundan Bandung, pernah menjadi wartawan Pikiran Rakyat Bandung, anggota Dewan Pers 2010-2016.

 

Baca 1283 kali Terakhir diubah pada Rabu, 22 Jun 2022 09:06
Bagikan: