BANDUNG, itb.ac.id--Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., beserta jajarannya menerima kunjungan dari Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad, Senin (22/3/2021) di Gedung Rektorat ITB Jalan Tamansari No.64, Bandung. Kunjungan tersebut dilakukan MPR dalam rangka meminta masukan dari ITB terhadap salah satu bagian dari pokok-pokok haluan begara yang sedang dipersiapkan oleh MPR.

Dalam kunjungan tersebut, Fadel mengatakan salah satu pokok bahasan dalam pokok-pokok haluan negara adalah terkait pengembangan biosains di Indonesia. MPR dalam hal ini ingin membuat pokok haluan negara yang akan berlaku selama 25 tahun. Untuk itu MPR meminta pendapat dari anggota DPR, DPD, tokoh masyarakat, dan perguruan tinggi. Dijelaskan Fadel, masukan dari ITB akan menjadi bahan utama berhubungan dengan pokok-pokok haluan negara dalam bidang pengembangan industri dan teknologi ke depan.

"Ternyata ini merupakan 7 program utama dari ITB dan nomor 1 yang berhubungan dengan itu (pengembangan bioteknologi). Dalam waktu dekat ini ITB akan memberikan dukungan dalam bentuk masukan berupa makalah, paper, sehingga ini bisa melengkapi dukungan bahan yang ada di MPR," ujar alumni Teknik Fisika ITB angkatan 78 ini.

 

 

ITB menyambut baik atas rencana tersebut. Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., mengatakan, saat ini di ITB memiliki pusat-pusat penelitian dan Pusat Unggulan Iptek (PUI). Salah satunya adalah Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi. Dengan demikian harapan MPR dari ITB berupa hasil penelitian, paper, laporan senat akademik, dan seminar tentang pokok-pokok haluan negara yang nantinya akan menjadi produk pemerintah dalam realisasinya.

"Naskah akademiknya akan kita sampaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kita tidak melakukan dari nol karena kita sudah mempunyai kajian mengenai hal itu (biosains/nanosains). Tinggal mempertajam untuk kebutuhan nasional," ujar Prof. Reini.

Prof. Reini melanjutkan, bahwa pokok-pokok haluan negara ini akan digunakan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pihaknya mencoba mengidentifikasi bagaimana arah bagi Indonesia yang paling optimal di pokok-pokok haluan negara, di samping pemilihan topik juga kebutuhan pokoknya. "Seperti yang sudah disampaikan bagaimana tujuan kelembagaannya, programnya bagaimana, bukan hanya penentuan risetnya saja. Sehingga semuanya bisa ditata dan dijaga oleh pemerintah," ujar Prof. Reini.

 

 

Saat menerima kunjungan tersebut, Rektor ITB didampingi oleh Sekretaris Institut, Prof. Dr.-Ing. Ir. Widjaja Martokusumo, Kepala Biro Kemitraan, Prof. Taufiq Hidajat, dan Staf Ahli, Dr. Sonny Yuliar. Kunjungan tersebut diakhiri dengan sesi pemberian cinderamata di antara Rektor ITB dan Wakil Ketua MPR RI.

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Bandung - Institut Teknologi Bandung (ITB) punya tiga akses untuk penerimaan calon mahasiswa baru, namun hanya sebuah jalur yang bisa dijajal lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dari berbagai jurusan untuk masuk ke ITB.

Seleksinya dengan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) lewat jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Direktur Pendidikan ITB Arief Hariyanto berdalih karena kurikulum yang sangat variatif sehingga pihaknya kesulitan mengolah data. “Selain itu pada dasarnya SMK secara kurikulum diarahkan untuk pendidikan vokasi atau terapan,” ujarnya lewat keterangan tertulis, Rabu 24 Maret 2021.

Lewat jalur SBMPTN, menurut Arief, logikanya siswa harus bersaing. “Bila lolos tes SBMPTN artinya siswa memiliki kemampuan mengikuti kurikulum di ITB,” kata dia. Seluruh program studi yang ditawarkan ITB bisa menjadi pilihan lulusan SMK melalui SBMPTN.

Sesuai ketentuan di laman Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), pendaftar SBMPTN lulusan SMA sederajat 2019, 2020, dan 2021.

Pendaftaran UTBK SBMPTN dibuka hingga 1 April 2021 pukul 15.00 WIB. Sementara dari laman https://admission.itb.ac.id/, dinyatakan bahwa lulusan SMK tidak bisa mendaftar ke ITB lewat jalur SNMPTN maupun Seleksi Mandiri.

ITB mensyaratkan peserta SNMPTN yang memilih fakultas atau sekolah bidang Sains dan Teknik di ITB harus merupakan lulusan SMA/MA/Paket C bidang IPA. Sedangkan peminat Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB harus merupakan lulusan SMA/MA/Paket C bidang IPA/IPS. 

Khusus peminat Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB dapat merupakan merupakan lulusan SMA/MA/Paket C bidang IPA/IPS/Bahasa, atau lulusan SMK bidang Seni Rupa dan Desain, serta harus mengunggah portofolio bidang Seni Rupa dan Desain pada saat pendaftaran peserta SNMPTN. 

Calon mahasiswa peserta Seleksi Mandiri ITB yang memilih fakultas/sekolah bidang Sains dan Teknik di ITB harus merupakan lulusan SMA/MA/Paket C bidang IPA serta memiliki nilai UTBK Saintek dari tahun berjalan.

Sedangkan peminat Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB dan peminat Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB harus merupakan lulusan SMA/MA/Paket C bidang IPA/IPS serta memiliki nilai UTBK Saintek/Soshum dari tahun berjalan. 

Diterbitkan di Berita

M Purwadi sindonews.com JAKARTA - Institut Teknologi Bandung (ITB) selalu menjadi universitas yang memiliki daya tarik tersendiri bagi mayoritas calon mahasiswa selama Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Selain kampusnya yang konsisten menduduki peringkat tiga besar universitas terbaik di Indonesia, juga banyaknya program studi (Prodi) yang cukup diminati para calon mahasiswa. Bahkan, beberapa jurusan di ITB juga membuka kuota SBMPTN 2021 cukup banyak dan bisa dijadikan pertimbangan oleh calon mahasiswa.

ITB memiliki 20 jurusan yang terdiri dari 17 jurusan Saintek dan 3 jurusan Soshum. Jurusan tersebut tersebar di beberapa kampus ITB seperti Kampus Ganesha dan Kampus Cirebon.

Meskipun sedikit, beberapa jurusan di ITB membuka kuota atau daya tampung SBMPTN 2021 cukup banyak. Sehingga, calon mahasiswa bisa lebih mudah mencari peluang masuk ITB.

Berikut ini 10 jurusan di ITB yang memiliki kuota SBMPTN 2021 terbanyak.

1. Sekolah Teknologi Elektro & Informatika
Daya Tampung 2021: 190
Peminat 2020: 2.752

2. Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam
Daya Tampung 2021: 142
Peminat 2020: 1.237

3. Sekolah Ilmu & Teknologi Hayati Program Rekayasa
Daya Tampung 2021: 120
Peminat 2020: 483

4. Fakultas Teknologi Industri - Kampus Ganesha
Daya Tampung 2021: 112
Peminat 2020: 1.515

5. Fakultas Teknik Pertambangan & Perminyakan
Daya Tampung 2021: 108
Peminat 2020: 1.813

6. Fakultas Teknik Sipil & Lingkungan - Kampus Ganesha
Daya Tampung 2021: 107
Peminat 2020: 1.588

7. Fakultas Senirupa dan Desain
Daya Tampung 2021: 102
Peminat 2020: 1.618

8. Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian
Daya Tampung 2021: 95
Peminat 2020: 921

9. Fakultas Teknik Mesin & Dirgantara
Daya Tampung 2021: 93
Peminat 2020: 1.423

10. Fakultas Teknik Pertambangan & Perminyakan-Kampus Cirebon
Daya Tampung 2021: 77
Peminat 2020: 418
 
(mpw)
 
Diterbitkan di Berita

KONTAN.CO.ID Bagi siswa yang akan mengikuti seleksi jalur UTBK 2021, masih ada waktu cukup banyak untuk mempersiapkannya. 

Sesuai dengan jadwal yang dirilis LTMPT, UTBK tahun ini akan diselenggarakan pada pertengahan bulan April hingga awal bulan Mei 2021.

Peserta akan mengikuti dua jenis tes pada UTBK 2021, yaitu Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Potensi Akademik (TPA). Mekanisme tes ini berbeda dari tahun sebelumnya yang hanya menggunakan TPS saja. 

Prof. Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi pada peluncuran Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) awal Januari 2021 mengatakan, karena sudah ada gambaran situasi yang akan dihadapi, materi UTBK dikembalikan seperti tahun-tahun sebelumnya.

PTN dengan nilai UTBK 2020 tertinggi

Tahun lalu ada beberapa Perguruan Tinggi Negeri atau PTN yang mendapatkan nilai rerata UTBK tertinggi nasional.  Nilai rata-rata tersebut terbagi dalam dua kelompok, yakni Sains dan Teknologi (Saintek) dan Sosial Humaniora (Soshum).

Informasi ini disampaikan melalui siaran di YouTube LTMPT pada 14 Agustus 2020 lalu. Mari simak 10 PTN dengan nilai rerata tertinggi di UTBK 2020 dirangkum dari data LTMPT.

UTBK tertinggi soshum 2020

  • Institut Teknologi Bandung: 628,59. 
  • Universitas Indonesia: 608,63.
  • Universitas Gadjah Mada: 608,04.
  • Institut Teknologi Sepuluh Nopember: 586,63.
  • Universitas Diponegoro: 583,80.
  • Universitas Padjadjaran: 582,63.
  • Universitas Airlangga: 581,39.
  • Universitas Brawijaya: 572,96.
  • UPN "Veteran" Yogyakarta: 569,75.
  • UPN "Veteran" Jakarta: 569,12.

UTBK tertinggi saintek 2020

  • Institut Teknologi Bandung: 624,07. 
  • Universitas Indonesia: 620,01.
  • Universitas Gadjah Mada: 611,45.
  • Institut Teknologi Sepuluh Nopember: 606,77.
  • Universitas Diponegoro: 592,55.
  • Universitas Padjadjaran: 589,08.
  • Universitas Airlangga: 588,48.
  • Universitas Sebelas Maret: 587,39.
  • Institut Pertanian Bogor: 586,18.
  • UPN "Veteran" Jakarta: 585,77.

Jadwal UTBK-SBMPTN 2021

  • Registrasi akun LTMPT: 7 Februari-12 Maret 2021.

  • Pendaftaran UTBK dan SBMPTN: 15 Maret-1 April 2021.

  • Pelaksanaan UTBK (2 gelombang): Gelombang 1 pada 12-18 April 2021 dan Gelombang 2 pada 26 April-2 Mei 2021. 

  • Pengumuman hasil seleksi jalur SBMPTN: 14 Juni 2021 pada pukul 15.00 WIB.

Diterbitkan di Berita

KONTAN.CO.ID Quacquarelli Symonds World University Rankings atau biasa disingkat QS WUR, merupakan salah satu lembaga pemeringkatan universitas. 

Secara rutin QS WUR merilis daftar kampus terbaik di dunia. Lembaga pemeringkatan ini juga merilis daftar universitas terbaik sesuai dengan jurusan tertentu. 

Tahun ini, Institut Teknologi Bandung atau ITB memiliki banyak jurusan yang masuk daftar terbaik di ASEAN dan nasional. 

Melansir situs resmi ITB, Rektor ITB, Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., menyambut baik rilisnya daftar universitas terbaik oleh QS WUR tahun 2021. 

Melalui skema QS Asia University Rankings 2021, tiga universitas di Indonesia masuk dalam daftar 100 besar universitas terbaik di Asia. 

Universitas tersebut adalah Universitas Gadjah Mada Universitas Indonesia dan ITB. 

Tiga universitas tersebut bersama dengan Universitas Airlangga, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Sepuluh November, Binus University, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, masuk dalam daftar 10 universitas terbaik di Indonesia versi QS WUR 2021.

Prof. Reini menyampaikan jika ITB dan beberapa perguruan tinggi lain di ASEAN meraih posisi yang lebih baik dalam QS terbaru tersebut meski tidak nomor satu. 

ITB sendiri mengalami kenaikan peringkat dibandingkan tahun 2020. ITB semula menempati peringkat 331 dunia, kemudian naik menjadi posisi 313 tahun 2021.  

Bersumber dari situs ITB, ada sebanyak 10 program studi (prodi) di ITB yang masuk daftar terbaik se ASEAN. 

Jurusan-jurusan yang masuk dalam daftar terbaik di ASEAN diantaranya adalah

  • Seni dan Desain
  • Teknik Perminyakan
  • Ilmu Komputer dan Sistem Informasi
  • Teknik Sipil
  • Teknik Elektro
  • Teknik Mesin
  • Matematika
  • Astronomi
  • Arsitektur

Sedangkan dalam lingkup nasional, selain 10 jurusan tersebut, ada satu lagi jurusan di ITB yang masuk daftar terbaik di Indonesia yaitu Teknik Kimia. 

“Ini tantangan kita bersama, dan kita perlu saling bergandengan tangan untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi dan riset, dan sejalan dengan prinsip ITB, yaitu ‘in harmonia progressio, bekerja bersama membangun bangsa,” ungkap Prof. Reini. 

Diterbitkan di Berita

Siti Afifiyah tagar.id Jakarta - Ikatan alumni Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor, berkolaborasi menginisiasi pengembangan human capital dan sumber daya Jawa Barat. Kolaborasi ikatan alumni empat perguruan tinggi di Jawa Barat ini ditandai penandatanganan para Ketua Ikatan Alumni di kantor Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM Jakarta, Senin, 1 Maret 2021. 

Hadir lengkap Ketua Umum ITB Ridwan Djamaluddin yang juga adalah Dirjen Minerba ESDM, Ketua Umum IKA Unpad Ira Hermawan, Ketua Umum ILUNI Andre Rahadian, dan Ketua Umum Himpanan Alumni IPB R. Fathan Kamil.

"Kerja sama ini adalah bukti nyata dukungan alumni perguruan tinggi di Jawa Barat dalam mengoptimalkan potensi besar Jawa Barat sebagai provinsi berpenduduk terbesar dengan sumber daya human capital unggul, ekonomi, dan daya tarik wisata yang kaya," ujar Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni ITB Bernardus Djonoputro.

Ketua Ikatan Alumni Unpad Ira Hermawan menkankan pentingnya kerja sama dalam membangun Jawa Barat dalam aspek budaya yang unggul. "Sejak digulirkan ide awal bersama IA ITB, diikuti ILUNI dan HA IPB, kegiatan ini diharapkan berdampak positif pada daerah melalui kerja sama jejaring alumni."

  

Ikatan Alumni ITB
Ketua Umum Ikatan alumni ITB, Unpad, UI, dan IPB, menandatangi kolaborasi menginisiasi pengembangan human capital dan sumber daya Jawa Barat, di kantor Direktorat Jenderal Minerba Kementerian ESDM Jakarta, Senin, 1 Maret 2021. (Foto: Tagar/Ikatan Alumni ITB)

 

Kolaborasi ini akan dilanjutkan dengan penyelenggaraan dua acara besar, yaitu Dialog Peradaban Jawa Barat dan kegiatan Festival Kebudayaan dan Pariwisata Jabar (Jabar Cultural and Tourism Festival). Rangkaian kegiatan berlansung 22-25 Maret 2021 di beberapa kota di Jawa Barat termasuk Bandung, Bogor, Cirebon, Garut, dan Lembang.

Penandatanganan MOU empat ikatan alumni ini akan diiikuti penyelenggaraan kegiatan di kota-kota Jawa Barat, baik dalam skala nasional maupun internasional. Panitia pusat dalam waktu dekat akan melansir jadwal kegiatan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. []

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh kumparan
 
Stres atau depresi kerap dialami mahasiswa. Namun masih suka dihiraukan atau dianggap enteng, sehingga tanda-tandanya enggak diketahui. 
 
Nah, buat membantu mendeteksinya, sekelompok mahasiswa ITB yang terdiri dari Maha Yudha Samawi, Alifia Zahratul Ilmi, dan Gardin M. Andika Saputra menciptakan alat pendeteksi dini sederhana berdasarkan pemeriksaan urine.
 
Menurut Yudha, alat ini bekerja dengan mendeteksi beberapa biomarker spesifik berupa sorbitol, asam urat, dan asam azelat, yang berpotensi mengindikasikan depresi.
 
Biomarker ini akan dideteksi dan diukur dengan metode elektrokimia, untuk kemudian diputuskan apakah seseorang mengidap depresi atau enggak.
 

Alat Pendeteksi Depresi Klinis Pertama di Indonesia

 

Pertama di Indonesia, Mahasiswa ITB Ciptakan Alat Pendeteksi Depresi dari Urine (1)

Maha Yudha Samawi, Alifia Zahratul Ilmi, dan Gardin M. Andika Saputra dok ITB

 
Dia mengeklaim ini merupakan inovasi alat pendeteksi depresi klinis noninvasif pertama di Indonesia. Sebab umumnya masih menggunakan kuesioner yang rawan risiko subjektivitas.
 
"Makanya kami membuat alat pendeteksi yang bersifat klinis, menggunakan biomarker atau zat penanda yang dihasilkan tubuh akibat perubahan metabolisme saat seseorang terkena depresi,” terangnya, dikutip dari laman ITB.
 
Ia mengatakan, biomarker di urine digunakan untuk memudahkan penggunaan sehingga dapat dipakai tanpa tenaga ahli. Sebab penderita depresi cenderung malu untuk memeriksakan kondisi kejiwaannya.
 
Penggunaan alat ini seperti test pack kehamilan. Setelah beberapa menit hasil akan ditampilkan di layar. Hasilnya dikalibrasi dengan tes BDI yang saat ini umum digunakan di kedokteran jiwa, sehingga terdapat tiga level penderita depresi, yakni rendah, sedang, dan berat.
 
Alat tersebut juga memberikan tips kegiatan yang dapat dilakukan oleh penderita depresi ringan, dan contact center untuk penderita sedang dan berat sehingga bisa segera mendapat penanganan ahli.
 
“Kami berharap, alat ini dapat mengurangi fatalitas depresi yang secara signifikan menurunkan produktivitas masyarakat, sehingga di masa mendatang angka kasus depresi dapat menurun,” ucap Yudha.
 
Dari idenya tersebut, mereka meraih medali emas untuk kategori presentasi dan medali perunggu untuk kategori poster, pada Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta, beberapa waktu lalu.
Diterbitkan di Berita

Bandung, itb.ac.id -- Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar sidang terbuka peringatan Dies Natalis ke-61 di Gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB, Senin, 2 Maret 2020. Sidang terbuka diikuti oleh Rektor, Pimpinan ITB, Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, Forum Guru Besar, tamu kehormatan, dosen dan mahasiswa, serta segenap ITB.


Pada peringatan Dies Natalis ke-61, ITB memberikan anugerah Doktor Kehormatan kepada Prof. Ben L. Feringa dan gelar Profesor Kehormatan kepada Prof. Julie Willis dari The University of Melbourne Australia, Prof. Ben L. Feringa dari University of Groningen Belanda, dan Prof. Johan Woltjer dari University Westminster Inggris atas kontribusi dan kiprah mereka selama ini dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Prof. Julie Willis adalah profesor di bidang arsitektur pada Faculty of Architecture, Building, and Planning  The University of Melbourne Australia, Prof. Johan Woltjer adalah profesor di bidang Urban Infrastructures pada University Westminster Inggris.

Prof. Ben L. Feringa adalah peraih Nobel Prize di bidang Kimia tahun 2016. Ia seorang kimiawan organik (organic chemist) yang berhasil membuat suatu senyawa unik, yaitu turunan alkena dengan substituen meruah (overcrowded alkenes), dengan sifat fisik yang unik pula. Sifat unik dari senyawa organik jenis ini adalah adanya dua keisomeran sekaligus, yaitu keisomeran-cis/trans, dan keisomeran kiralitas “helik-kanan/helik-kiri” akibat substituen yang meruah tersebut, sehingga menghasilkan total empat isomer yang stabil.

Adapun tim promotor pemberian doktor kehormatan dan profesor kehormatan tersebut diantaranya adalah Prof. Akhmaloka, Ph.D., Prof. Yana Maolana Syah, M.S., Ph.D., Prof. Dr. Euis Holisotan Hakim, M.S., Prof. Dr. Daryono Hadi Tjahjono, Apt., M.Sc., dan Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D.

Pada momen Dies Natalis ke-61 ini juga, ITB memberikan penghargaan kepada sejumlah dosen, tenaga kependidikan, dan pihak lainnya sebagai bentuk apresiasi terhadap karya, prestasi, dan dedikasi yang luar biasa kepada institusi. Penghargaan meliputi lima bidang yaitu penghargaan Ganesa Wira Adiutama diberikan kepada 18 orang, penghargaan bidang pengajaran diberikan kepada 12 orang, penghargaan bidang penelitian diberikan kepada 12 orang, penghargaan bidang karya inovasi kepada 16 orang, dan penghargaan bidang pengembangan institusi kepada 11 orang.

https://www.youtube.com/watch?v=x3KEuqtuFz0

 

Implementasi Kampus Merdeka
Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah mengatakan, selama 61 tahun berkiprah, ITB telah meraih berbagai kemajuan dan prestasi dalam pengembangan dan pengajaran IPTEKS Ilmu Sosial dan Humaniora, serta dalam pemanfaatannya di berbagai bidang pembangunan bangsa Indonesia. “Begitu pula, segenap alumni ITB telah menunjukkan pengabdian dan sumbangsihnya terhadap bangsa dan negara melalui kiprah mereka di berbagai lembaga dan organisasi,” ujarnya.

Selama periode Oktober 2019 - Februari 2020, beberapa prestasi telah diraih, yaitu ITB meraih predikat Badan Publik Informatif (skor 90-100) pada Anugerah Keterbukaan Informasi Publik tahun 2019 kategori Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dalam Implementasi UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang diselenggarakan Komisi Informasi Pusat (KIP) Republik Indonesia, di Jakarta, 21 November 2019.

Kemudian, ITB meraih peringkat Terbaik 3 kategori media sosial Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) pada Anugerah Humas Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), di Jakarta, 4 Desember 2019. ITB juga meraih peringkat 3 terbaik universitas di Indonesia versi webometric Tahun 2020.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menggulirkan kebijakan Kampus Merdeka. Kebijakan tersebut diimplementasikan sebagai sebuah langkah untuk memperluas kebebasan kampus, serta memperkuat peranan perguruan tinggi dalam membangun SDM Indonesia yang unggul dan memiliki daya saing yang tinggi di era disrupsi global. Secara garis besar, kebijakan Kampus Merdeka memperluas kebebasan kampus dalam empat aspek yaitu pengembangan program studi, akreditasi program studi, transformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum, dan pembelajaran di luar program studi.

Prof. Reini mengatakan, berkenaan dengan kebijakan Kampus Merdeka, ITB telah melaksanakan kegiatan yang relevan. Dalam pengembangan program studi, ITB senantiasa mencermati perkembangan-perkembangan yang terjadi pada lingkungan nasional maupun global, serta implikasinya pada kebutuhan SDM Indonesia.

“ITB telah melakukan berbagai kajian terhadap efek-efek disruptif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Dalam lima tahun terakhir ITB telah memperkenalkan emerging fields seperti Big Data, Artificial Intelligence (AI), dan Internet of Things (IoT) baik dengan cara disisipkan ke dalam kurikulum, maupun sebagai bagian penelitian dosen dan mahasiswa. ITB juga terus- menerus melakukan penyempurnaan kurikulum dan sistem pembelajaran baik pada jenjang S1, S2, maupun S3,” tambahnya.

Mengenai akreditasi program studi, disampaikan Rektor, hingga saat ini, sebanyak 92% dari keseluruhan jumlah program studi di ITB sudah meraih akreditasi A dari BAN-PT. Hampir sepertiga dari keseluruhan jumlah prodi telah meraih akreditasi internasional. “Selanjutnya mengenai transformasi menjadi PTN Badan Hukum. ITB telah mengadopsi paradigma Perguruan Tinggi Otonom sejak menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT-BHMN) dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No.155 Tahun 2000,” jelas Prof. Reini.

Sementara itu mengenai pembelajaran di luar program studi, ITB telah mengembangkan berbagai skema untuk meningkatkan outreach dan engagement dengan berbagai elemen di masyarakat. Diantaranya adalah KKN yang diselenggarakan berdasarkan tema yang kontekstual (KKN-Tematik), Kerja Praktek (KP) yang diselenggarakan dengan melibatkan industri dan alumni, dan program magang di industri atau di komunitas sosial.

“Izinkan saya memaknai kebijakan Kampus Merdeka sebagai kemerdekaan dalam kecendekiaan serta pengembangan akhlak dan budi pekerti para sarjana, kemerdekaan dalam pengembangan ilmu pengetahuan demi kemajuan dan kedaulatan bangsa Indonesia, kemerdekaan untuk kesejahteraan bangsa Indonesia, dan kemerdekaan untuk kemaslahatan masyarakat dunia,” tambahnya.
Diterbitkan di Berita

KBRN, Jakarta: Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menegaskan bahwa pihaknya mengapresiasi usulan terkait dengan platform kewirausahaan nasional yang digulirkan kalangan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB). 

"Platform model kewirausahaan tersebut juga dipakai di Jepang. Dan pemerintah akan menyediakan biaya untuk start-up buatan mahasiswa yang masuk dalam program inkubator," ucap Teten pada acara diskusi Potensi Kerjasama Pengembangan Kewirausahaan, secara daring, Senin (1/3/2021).

MenkopUKM mengatakan dengan adanya program ini juga diharapkan mampu menjadi jawaban atas pertanyaan arah ekonomi Indonesia ke depan, di mana teknologi digital menjadi salah satu kuncinya. 

Teten juga memberikan usulan nantinya dalam program Pra-Inkubasi diperlukan penyaringan untuk produk atau model bisnis mana yang sudah unggul dan mana produk yang perlu dilakukan pendampingan secara serius. 

"Secara keseluruhan, saya merasa cocok dan setuju dengan program-program usulan yang diberikan ITB,” tandas Teten. 

Teten pun meminta Deputi Kewirausahaan untuk mengakomodir usulan tersebut untuk diteruskan menjadi usulan Kementerian Koperasi dan UKM kepada Bappenas. 

"Pasalnya, hal tersebut sejalan dengan output dari KemenkopUKM yang ingin mencetak wirausaha unggul berbasis teknologi sehingga UMKM kita dapat lebih bersaing," ungkap MenkopUKM. 

Dalam kesempatan itu, Kepala Unit Pengembangan SDM Pelatihan ITB Dr Yuni Ros menjelaskan bahwa ITB sudah menyusun beberapa strategi terkait dengan pengembangan kewirausahaan secara nasional. 

Diantaranya, melalui penyusunan kebijakan, menciptakan ekosistem kewirausahaan secara kelembagaan, meningkatkan talent atau SDM dengan sertifikasi, hingga promosi dan sosialisasi program atau penyuluhan. 

Beberapa usulan program tersebut adalah Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BB 2021), Bangga Perusahaan Rintisan Indonesia, Peluncuran Jaringan Kewirausahaan Nasional (National Enterpreneurship Network/NEN), Peluncuran Platform, Kewirausahaan Nasional (National Enterpreneurship Platform), ajang penghargaan Inkubator dan Akselerator (Minister’s Awards), dan National Startup Awards 2020 (Minister’s Awards). 

"Usulan tersebut dilatarbelakangi dengan beberapa poin. Seperti rasio kewirausahaan di Indonesia yang masih jauh dari target, besarnya minat masyarakat Indonesia terhadap wirausaha, hingga adanya tren ekonomi digital," jelas Yuni. 

Selain itu, lanjut Yuni, tidak adanya pengetahuan terkait kewirausahaan secara terpadu bahkan, belum tumbuhnya budaya komersialisasi inovasi. 

"ITB juga memberikan usulan untuk membuat desain sebuah platform kewirausahaan nasional, dimana platform tersebut nantinya diproyeksikan untuk memantau segala aktifitas dari program kewirausahaan yang ada," kata Yuni. 

Menurut Yuni, itu dapat dijalankan mulai dari kementerian hingga seluruh Provinsi di Indonesia, dengan Kementerian Koperasi dan UKM sebagai akseleratornya. 

Sementara itu, Sekretaris Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB Santi Novani Ph.D menambahkan, hal tersebut sebenarnya sudah diterapkan di skala ITB. Yakni, dengan adanya LPIK ITB yang sudah bersertifikasi internasional. 

"Yang mana di dalam LPIK ITB ini sudah berjalan program inkubasi dengan beberapa tahapan, seperti Pra-Inkubasi, Inkubasi, hingga Graduation," ujar Santi. 

Tahapan-tahapan tersebut pula diharapkan nantinya dapat diadopsi KemenkopUKM dalam mengembangkan kewirausahaan di Indonesia. 

Sedangkan Deputi Bidang Kewirausahaan KemenkopUKM  Victoria Br Simanungkalit mengatakan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti hal tersebut. 

“Kami menyambut baik usulan dari pihak ITB dan kami siap untuk berkolaborasi bersama, setelah itu kita akan bersama - sama menyusun detail apa saja yang diperlukan untuk dijadikan usulan yang matang kepada Bappenas dan diproyeksikan ke dalam Perpres yang akan berlaku dalam jangka 3 tahun ke depan," pungkas Victoria.

Diterbitkan di Berita

Suara.com Karya membanggakan berhasil ditorehkan oleh sekelompok mahasiswa arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Lewat karyanya yang berjudul “Re(Bond)ir”, tim yang terdiri Selvia Dwiyanti, Hilman Prakoso, Vadya Dzuqiah dan Project Advisor Donny kurniawan berhasil memenangkan Multi Comfort Student Contest (MCSC).

MCSC adalah kompetisi desain arsitektur internasional yang didasarkan pada prinsip-prinsip Program Multi Comfort Saint-Gobain yang bertujuan mengajak para generasi muda bergerak bersama melalui inovasi desain arsitektur.

Nantinya, tim dari ITB tersebut akan menjadi perwakilan Indonesia untuk bertanding kembali dengan para juara tingkat regional lainnya di Prancis.

Dalam keterangannya, Jumat, (26/2/2021), Selvia mengungkapkan bahwa Re(bond)ir turut mendukung efisiensi energi dengan upaya mengurangi emisi karbon sehingga konsep sustainable lifestyle dapat terwujud di kawasan tersebut.
 
Tim mahasiswa arsitek ITB. (Dokumentasi pribadi)
Tim mahasiswa arsitek ITB. (Dokumentasi pribadi)

 

Sementara itu, Managing Director Saint-Gobain Indonesia, Ivana Wijaya mengatakan mengatakan bahwa hal itu sejalan dengan tujuan Saint Gobain, yakni making the world a better home merupakan ambisi bersama untuk menjadikan dunia lebih indah dan nyaman dihuni dalam wujud aktivitas sehari-hari.

"Melalui MCSC, proses inovasi yang berkelanjutan dengan produk Saint-Gobain harapannya dapat memberikan performa dan keamanan sekaligus menjawab tantangan konstruksi yang berkelanjutan, efisiensi sumber daya serta perubahan iklim," kata Ivana.

Kemudian, National Marketing Director Saint Gobain Indonesia, psara Herman, menyatakan bahwa ajang ini merupakan salah satu cara memfasilitasi anak muda Indonesia untuk berinovasi.

“Peran para pemuda menjadi salah satu harapan besar untuk mendorong sustainable construction, pembangunan yang berwawasan lingkungan, sejalan dengan produk-produk kami yang diciptakan sebagai material ramah lingkungan” ujar Apsara.

Sementara itu, Menurut Sibarani Sofian ST, M.Arch, arsitek pendiri Urban+ yang juga dikenal sebagai pemenang Kontes Desain Ibu Kota Negara (IKN) “Negara Rimba Nusa” perencanaan berkelanjutan berarti adanya keseimbangan antara elemen lingkungan, sosial, dan ekonomi yang sesuai dengan kebijakan nasional yaitu mendukung kesejahteraan masyarakat.

Diterbitkan di Berita