BANDUNG, itb.ac.id--Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi meluncurkan program International Virtual Course (IVC) tahun 2021.

Program ini merupakan implementasi dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., meresmikan program International Virtual Courses tersebut pada Senin (26/7/2021) secara virtual.

Sebagai upaya memperkuat reputasi World Class University, ITB telah menyelenggarakan program summer school sejak 2017. Namun disebabkan pandemi Covid-19, program tersebut diubah menjadi International Virtual Course.

Dalam sambutannya, Rektor mengatakan bahwa program IVC menjadi solusi yang ditawarkan ITB untuk menyebarkan ilmu pengetahuan kepada publik baik internal maupun eksternal, terutama di masa pandemi.

Kegiatan tersebut akan tetap dijalankan secara berkualitas dengan dukungan oleh staf dan mitra akademik terbaik. “Program IVC-ITB telah kami selenggarakan selama dua tahun berturut-turut.

Tahun lalu, kami menawarkan 13 kursus dan menerima pelamar dari hampir seribu kandidat. 40% pendaftar adalah mahasiswa ITB, 40% mahasiswa asing, dan sisanya mahasiswa dari seluruh Indonesia," ujar Rektor.

 

 

Para mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia juga mengikuti program ini sejalan dengan Program Pertukaran Mahasiswa Permata Sakti dari Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia.

Tahun ini program IVC ITB menawarkan 42 materi perkuliahan dengan jumlah peserta yang sudah mendaftar lebih dari 5.500.

Mereka yang sudah mendaftar di antaranya 1.700 mahasiswa ITB, sekitar 1.300 mahasiswa asing dan lebih dari 2.300 mahasiswa non-ITB dari seluruh Indonesia, serta 300 lainnya adalah profesional. 

Rektor berharap, para peserta yang mengikuti IVC dapat mengambil manfaat selama proses pembelajaran berlangsung.

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Pendidikan Berkelanjutan di Direktorat Pendidikan Non-Reguler ITB Dr. Mohammad Rachmat Sule menjelaskan, pengambilan mata kuliah IVC diambil secara nonreguler.

“Jadi seluruh peserta, apakah mahasiswa ITB dari berbagai prodi, mahasiswa asing, mahasiswa Non-ITB dari wilayah lainnya di Indonesia maupun kalangan profesional dari dalam dan luar negeri harus mendaftar untuk mengambil mata kuliah IVC ini di laman admission.itb.ac.id,” ujarnya.

Setelah itu, lanjutnya, proses seleksi dilakukan oleh tim admission ITB serta tim penyelenggara di suatu IVC. Jika aplikasi mereka diterima, maka mereka akan menjadi mahasiswa nonreguler ITB, mempunyai NIM dari ITB dan dapat mengakses sistem LMS Edunex yang dikembangkan oleh ITB.

“Bagi yang lulus semua proses kegiatan akademik di suatu IVC, maka kepadanya akan diberikan transkrip nilai dan sertifikat. Bagi mahasiswa ITB, nilai dari IVC tersebut akan muncul di Sistem SIX mahasiswa tersebut, sedangkan bagi mahasiswa non-ITB dapat digunakan untuk transfer kredit di host Perguruan Tinggi-nya,” jelasnya.

Informasi mengenai program IVC dapat diakses melalui https://ditdik-nr.itb.ac.id/international-virtual-course-2021/. Sementara pendaftarannya bisa dilakukan pada website Admission ITB (https://admission.itb.ac.id/home/summer-courses/list-ivc)

 

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id — Pandemi Covid-19 berdampak kepada berbagai lini kehidupan. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk terus mencetak prestasi.

Muhammad Barkah, Nadhira Alya Qatrunnada, dan Prayoga Arya Wirasana, misalnya, berani mengikuti sayembara Archiray VII di tengah keterbatasan. Mereka bahkan berhasil merebut gelar juara pertama.

Tiga mahasiswa Program Studi Sarjana Arsitektur angkatan 2017 itu menjadi wakil ITB dan mengalahkan perguruan tinggi ternama lainnya untuk mendapatkan gelar juara pertama.

Sayembara Archiray VII sendiri diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin pada 25 April—25 Juni 2021.

Mengambil judul Sayembara Desain Creative Hub, acara ini dilatarbelakangi oleh kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian Indonesia.

Oleh karena itu, ruang kreatif bersama berupa pusat kreatif (creative hub) diharapkan dapat menjadi wadah penyatuan bakat dan keterampilan dari komunitas kreatif sehingga bisa menjadi keunggulan atau identitas dari suatu wilayah.

Sayembara tingkat nasional ini membebaskan peserta untuk memilih lokasi tapak.

Tim mahasiswa Arsitektur ITB lantas menjatuhkan pilihan pada kawasan Cikapundung. Kota Bandung yang memiliki 45 komunitas kreatif dan pernah dinobatkan sebagai City of Design oleh UNESCO pada 2015 membuatnya sangat potensial untuk dijadikan tempat berkembangnya ekonomi kreatif.

 

*Foto: Dok. tim

Kejelian tim mahasiswa Arsitektur ITB dalam menemukan tapak kecil di antara komunitas fotografi dan komunitas desain produk menambah nilai plus bagi karya tim ini. Mereka berhasil memaksimalkan potensi dari tapak terbengkalai untuk menyediakan ruang bersama yang dapat menjembatani kolaborasi, baik antarkomunitas yang mengapitnya maupun masyarakat sekitar. Karya mereka diberi judul “Simpul Space: Reconnecting the Dots”.

“Kami ingin menaikkan citra agar lokasinya (terlihat) bagus. Maka dari itu, tampak bangunan dibuat eksentrik, yang kalau orang lihat dari jauh nge-pop banget bangunan ini warna-warni. Ada juga yang menghadap ke Sungai Cikapundung. Tujuannya biar batas lahannya ini soft barrier karena di seberang sungai itu ada kampung kota Braga. Jadi, inginnya kita menyambut dari segala sisi,” jelas Barkah, salah satu anggota tim, mengenai karya mereka.

Selain merancang bangunan, Barkah, Nadhira, dan Prayoga juga merancang skenario kegiatan di dalam bangunan tersebut berdasarkan waktu. Hal ini dilakukan agar bangunan dapat berfungsi semaksimal mungkin.

 

*Foto: Dok. tim

Karya ini diharapkan dapat membawakan manfaat baik bagi komunitas, pasar yang telah ada, maupun publik. Contohnya, terbukanya kesempatan kolaborasi yang lebih luas bagi komunitas, peningkatan exposure dan penjualan produk bagi UMKM di sana, juga terbukanya kesempatan publik untuk kenal dan bergabung dengan komunitas.

Sebelum sayembara Archiray VII, tim mahasiswa ini juga sempat memenangkan Sayembara Naung 2021 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan.

Saat itu, mereka membuat rumah berdesain modular seluas 50 m² di kawasan kampung kota dengan judul

“GuyuBraga”. Itu artinya, tim mahasiwa ITB bukan sekali ini saja mencetak prestasi saat pandemi.

Reporter: Ristania Putri Wahyudi (Matematika, 2019)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id — Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) mempunyai profesor pertama di bidang kewirausahaan dan startup. Dialah Prof. Wawan Dhewanto, S.T., M.Sc., Ph.D.

Selain jadi profesor pertama, ia juga menjadi profesor termuda di antara delapan profesor lainnya di SBM ITB.

Prof. Wawan memulai kariernya di ITB pada 2004. Dia bergabung dengan Kelompok Keahlian Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi SBM ITB. Prof. Wawan kemudian mendapat amanah sebagai Ketua Program Studi Kewirausahaan pada 2013—2017.

Saat ini, dia masih aktif mengajar sekaligus mengemban amanah sebagai Sekretaris Senat Akademik ITB. Prof. Wawan menaruh perhatian kepada dunia kewirausahaan sejak lama. Menurutnya, kewirausahaan merupakan hal penting bagi suatu negeri.

Dengan berwirausaha, ekonomi negara bisa terus berkembang. Selain menambah pendapatan nasional, wirausaha turut mengentaskan pengangguran dan kemiskinan. “Indonesia ini memiliki penduduk yang banyak. Semakin ke sini semakin menjadi pasar dari produk impor.

Tidak semuanya memang bisa berwirausaha, tetapi jangan semuanya juga jadi karyawan. Perlu ada yang berwirausaha dan menyediakan produk bagi pasar nasional maupun pasar internasional,” kata Prof. Wawan dalam wawancara secara daring.

Oleh karena itu, Prof. Wawan aktif mengajarkan ilmu kewirausahaan. Namun, program studi kewirausahaan sendiri merupakan sesuatu yang relatif baru di Indonesia. Menurut BAN-PT, baru ada 23 kampus yang menyediakan program studi ini.

ITB termasuk perguruan tinggi pertama yang menyediakan program studi kewirausahaan. Program studi kewirausahaan SBM ITB adalah satu-satunya yang memiliki predikat unggul melalui 3163/SK/BAN-PT/AK-ISK/S/V/2021.

Hal tersebut membuktikan bahwa ITB, khususnya SBM, adalah motor penggerak yang sangat vital bagi perkembangan pendidikan kewirausahaan di Indonesia. Untuk mengobarkan semangat kewirausahaan, Prof. Wawan tidak hanya aktif mengajar di lingkungan ITB.

Dia juga aktif dalam pengabdian masyarakat di luar kampus dengan menjadi bagian dari beberapa program, seperti: pengembangan UMKM, kewirausahaan pesantren, dan kewirausahaan desa. Prof. Wawan bahkan kerap kali menjadi penulis pendamping berbagai buku kewirausahaan.

Prof. Wawan berharap ilmunya berguna bagi pendidikan kewirausahaan di Indonesia. Dia ingin ilmu kewirausahaan masuk ke dalam berbagai konteks.

Misalnya digital startup, kewirausahaan korporasi, bisnis keluarga, kewirausahaan sosial, kewirausahaan wanita, kewirausahaan pedesaan, kewirausahaan pesantren, kewirausahaan pariwisata, dan kewirausahaan kreatif.

Reporter: Najin Khoirul Amalin (Manajemen, 2020)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id--Kelompok Keahlian Kriya dan Tradisi, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB telah melakukan penelitian mengenai penerapan teknologi dalam serat alam.

Mereka membuat penelitian tentang tekstil pintar (smart textile). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki dampak yang besar termasuk terhadap perkembangan karakteristik tekstil.

Tekstil pintar merupakan istilah untuk kain yang dapat merespons rangsangan lingkungan yang bersifat mekanik, termal, kimia, listrik, ataupun sumber magnet. Istilah smart textile sendiri masih belum umum didengar oleh masyarakat Indonesia.

Dilatarbelakangi oleh penggunaan serat alam terutama rami yang masih umum digunakan di Indonesia, penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan produk tekstil pintar dari serat alam ini dilakukan pada tahun 2014 hingga 2015.

Penelitian dilakukan oleh Innamia Indriani, S.Ds., M.Ds. dan Adi Surya Pradipta, S.T., M.T., yang dilakukan di bawah arahan Prof. Bambang Sunendar (FTI ITB) dan Dr. Kahfiati Kahdar, M.A. (FSRD ITB).

“Serat rami sudah berkembang di Indonesia sejak tahun 1911, di mana serat ini mudah didapatkan, ramah lingkungan, dan memiliki spesifikasi yang mirip dengan kapas tetapi dengan daya tahan yang lebih kuat,” kata Innamaia, dalam rubrik Rekacipta ITB yang diterbitkan Media Indonesia.

Ia mengatakan, penelitian berfokus untuk mendapatkan benang dari serat rami yang memiliki karakteristik self-cleaning, sehingga kain yang terbuat dari benang tersebut akan bersifat antiair diikuti dengan kemampuan membersihkan diri sendiri ketika terdapat air yang membasahi.

Penerapan teknologi nano merupakan kunci untuk merealisasikan penelitian ini. Layaknya permukaan daun teratai atau daun talas, benang yang berbahan dasar serat rami dimodifikasi agar menghasilkan fenomena lotus effect.

Melalui pengamatan dalam skala mikro, diketahui bahwa daun teratai atau daun talas memiliki permukaan yang tidak rata.

“Hal ini disebabkan terdapat papila atau tonjolan kecil yang berfungsi untuk menangkap tetesan air yang jatuh ke permukaan daun dan mempertahankan bentuknya sehingga tidak berubah menjadi globules secara langsung. Fenomena inilah yang menyebabkan permukaan daun tersebut memiliki karakteristik anti-air melalui kondisi hidrofobik (tidak berinteraksi dengan air),” katanya.

Karakteristik self-cleaning juga terinspirasi oleh keberadaan papila yang menyebabkan tetesan air terus bergulir hingga jatuh dari permukaan daun di mana secara tidak langsung tetesan air tersebut sekaligus membersihkan permukaan daun.

Akan tetapi, self-cleaning ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti posisi daun, massa air, serta sudut antara permukaan daun dengan tetesan air.

Penelitian ini membuahkan hasil. Tim akhirnya memperoleh benang serat rami dengan karakteristik self-cleaning. Selain itu, didapatkan pula kain yang terbuat dari benang ini.

Hadirnya kain dengan karakteristik self-cleaning yang dibuat menggunakan alat tenun bukan mesin atau ATBM ini menunjukkan bahwa suatu hal sederhana atau tradisional dapat dikolaborasikan dengan hal modern atau berteknologi tinggi.

“Penggunaan ATBM tidak mengganggu performa self-cleaning pada benang tersebut. Namun, diperlukan studi lebih lanjut untuk mengetahui ketahanan dan kualitas performa self-cleaning tersebut,” jelasnya.

Program pengabdian masyarakat ini telah dipublikasikan di Media Indonesia rubrik Rekacipta ITB tanggal 29 Juni 2021. Artikel selengkapnya dapat dilihat melalui tautan https://pengabdian.lppm.itb.ac.id/

 

Reporter: Ghina Aulia (Mikrobiologi, 2019)

Diterbitkan di Berita

LONDON, KOMPAS.com - Ada andil pemuda Indonesia di balik terciptanya vaksin Covid-19 AstraZeneca, yaitu hasil kerja Indra Rudiansyah (29) mahasiswa di Universitas Oxford.

Indra tergabung bersama tim Jenner Institute pimpinan Profesor Sarah Gilbert, ilmuwan Inggris yang mendapat standing ovation saat hadir di laga pembuka kejuaraan tenis akbar Wimbledon 2021.

Sejak 20 Januari 2020, tim Jenner Institute dan Oxford Vaccine Group bekerja sama menguji coba vaksin virus corona di Pusat Vaksin Oxford.

"Saya tentunya sangat bangga bisa tergabung dalam tim untuk uji klinis vaksin Covid-19 ini, meskipun ini bukan penelitian utama untuk thesis saya," ujar Indra Rudiansyah kepada ANTARA London, 23 Juli 2020.

Mahasiswa S3 Clinical Medicine di Universitas Oxford itu mengungkapkan, penelitian utamanya untuk thesis sebenarnya adalah vaksin malaria.

Namun, keikutsertaannya di tim Jenner Institute merupakan real case dari penelitian vaksin untuk menyelamatkan banyak orang.

 

Ilustrasi vaksin AstraZeneca(Shutterstock/Dimitris Barletis)

 

Ketika wabah Covid-19 mengalami eskalasi menjadi pandemi, semua aktivitas di kampus tutup kecuali untuk bidang yang terkait Covid-19. Lab kemudian kekurangan orang, padahal penelitian tentang Covid-19 membutuhkan banyak sumber daya manusia.

Saat itulah project leader-nya membuka pintu bagi siapapun yang ingin bergabung, dan Indra Rudiansyah masuk ke tim untuk membantu uji klinis.

Di tim, mahasiswa yang mendapat beasiswa dari LPDP ini bertugas menguji antibody response dari para relawan yang sudah divaksinasi. Ia memiliki pengalaman terlibat dalam pengembangan vaksin rotavirus dan novel polio di Biofarma setelah lulus dari ITB.

Bekerja cepat Pemuda asal Bandung lulusan S1 Mikrobiologi ITB itu bercerita, dia dituntut selalu bekerja dengan baik, cepat, dan siap dengan perubahan rencana karena kondisi yang serba dinamis.

Proses pengembangan vaksin AstraZeneca pun sangat cepat, karena dalam enam bulan sudah menghasilkan data uji preklinis dan inisial data untuk safety, serta imunogenitas di manusia.

"Biasanya untuk vaksin baru paling tidak memerlukan waktu lima tahun hingga tahapan ini," terang alumnus S2 Bioteknologi ITB dengan Fast Track Program tersebut.

 

Indra Rudiansyah

Indra Rudiansyah(Dok. Pribadi)

 

Dalam prosesnya, studi dilakukan terhadap 560 orang dewasa yang sehat, termasuk 240 orang berusia di atas 70 tahun. Hasilnya, vaksin virus corona AstraZeneca lebih dapat ditoleransi pada orang yang lebih tua daripada orang dewasa muda.

Lebih dari 600 juta dosis vaksin AstraZeneca kini telah dipasok ke 170 negara di seluruh dunia, termasuk 100 negara lebih yang tergabung dalam COVAX.

Meski harganya termurah, efikasi atau kemanjuran vaksin AstraZeneca cukup tinggi, termasuk mencegah infeksi Covid-19 varian Delta hingga 92 persen.

Baca juga: Mengenal Vaksin AstraZeneca yang Diklaim Efektif Lawan Varian Delta Pesan untuk Indonesia Saat dihubungi Kompas.com pada 17 Januari 2021, Indra Rudiansyah menyampaikan pesan kepada Indonesia yang sedang dalam proses vaksinasi nasional.

“Jadi, sebenarnya vaksin yang ada sekarang ini (dan sudah mulai diberikan pada masyarakat) kan bisa dikatakan sebagai emergency used ya sehingga clinical trial itu masih terus berjalan," jelas pemuda kelahiran 1 September 1991 tersebut.

"Pasien yang sudah divaksinasi akan terus dipantau. Menurut data yang diumumkan, (semua jenis) vaksin ini memiliki efektivitas hingga enam bulan,” imbuhnya.

Indra Rudiansyah juga sedikit memberikan pandangannya terhadap vaksin Sinovac yang digunakan di Indonesia.

Ia menyebut, vaksin Sinovac memang benar dapat melindungi seseorang dari gejala berat Covid-19 seperti halnya vaksin Pfizer dan AstraZeneca, tetapi belum menjamin kebal dan tidak akan terinfeksi.

 

Ilustrasi Vaksin Sinovac

Ilustrasi Vaksin Sinovac(SHUTTERSTOCK/Shan_shan )

 

“Bisa terhindar dari penyakit akibat virus corona. Meski begitu, (masyarakat) tetap harus waspada. Sebab, sampai saat ini belum ada data apakah semua vaksin bisa mencegah seseorang dari terinfeksi," tutur Indra.

Artinya, sambung Indra, seseorang yang divaksin masih bisa terinfeksi dan dapat menularkan ke orang lain.

Selain itu, Indra juga mengingatkan kepada masyarakat Indonesia untuk tetap taat pada protokol kesehatan yang berlaku, dan yang bisa bekerja dari rumah sebisa mungkin jangan keluar untuk keperluan tidak mendesak.

“Indonesia ini kan dibangun dari mikroekonomi. Banyak dari mereka adalah pedagang dan harus keluar rumah mencari uang. Tidak bisa disalahkan karena mereka tetap harus menyambung hidup."

"Nah, yang bekerja dari rumah ini kan sebenarnya privilege (hak istimewa). Jadi, sebisa mungkin jangan egois ingin keluar rumah dengan alasan bosan atau ingin hiburan,” pungkas Indra Rudiansyah alumnus Beswan Djarum 2011-2012.


Editor : Aditya Jaya Iswara

 

Diterbitkan di Berita

TEMPO.CO, Bandung - Tim dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil membuat mesin pendeteksi virus corona (SARS CoV-2) penyebab Covid-19. Alat yang digunakan untuk pengujian sampel virus corona itu berjenis qPCR, atau quantitative Polymerase Chain Reaction.

Mesin yang tergolong purwarupa model pertama itu telah dibuat sebanyak empat unit. 

Dosen ITB yang terlibat dalam riset mesin qPCR itu adalah Anggraini Barlian dan Karlia Meitha dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, serta Adi Indrayanto dan Muhammad Iqbal Arsyad dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika.

Menurut Adi, tim mengembangkan penelitian mesin PCR sebelumnya hingga 2019 di kampus. “Rancangan bentuk dan sistem mesin dibikin sendiri,” katanya Rabu, 14 Juli 2021.

Pembuatan alat itu dilatari keterbatasan jumlah  mesin PCR di Indonesia. Di masa lonjakan kasus seperti sekarang ini, antrian pemeriksaan sampel pasien menjadi panjang dan lama. Selain itu produksi mesin PCR dalam negeri sejauh ini masih nihil.

Menurut Adi, dana riset dan pengembangan mesin qPCR itu sebesar Rp 1 miliar dari pemerintah. Meskipun kini telah rampung dan telah diuji beberapa kali di laboratorium, tim masih perlu melakukan pengujian tambahan dan penyempurnaan sistem perangkat lunak.

Tujuannya agar lolos dalam pengujian oleh lembaga berwenang. ”Targetnya sih bisa segera digunakan,” kata dosen dari Kelompok Keahlian Elektronika itu.

Mesin jenis qPCR buatan ITB ini menjalankan kedua proses penting secara bersamaan.

Sambil memproses penggandaan RNA (Asam ribonukleat) yang tersimpan dalam 16 tabung sampel dengan menggunakan teknik Thermal Cycling, mesinnya sekaligus mendeteksi RNA virus dengan teknik elektroforesis.

Pendeteksian itu dilakukan dengan mengamati intensitas pendaran cahaya dari senyawa khusus yang disebut fluorophore.

Senyawa itu terikat dengan RNA virus. “Semakin banyak RNA virus yang berhasil digandakan, maka semakin banyak senyawa khusus yang terikat,” kata Anggraini Barlian. Senyawa khusus ini akan memendarkan cahaya jika diberikan sinar dengan warna tertentu.

Dari empat jenis senyawa itu, tim baru memakai satu jenis fluorophore, yaitu SYBR Hijau (Green). Rencananya tim akan terus mengembangkan kemampuan mesinnya dengan menggunakan lebih dari satu jenis fluorophore pada saat yang bersamaan untuk meningkatkan akurasi deteksi virusnya.

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Nama Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali harum. Tiga Mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika, yang tergabung dalam Tim Odading, berhasil meraih gelar juara satu dalam acara InaRISK Hackathon Fest 2021 pada Senin (5/7/2021).

Tim Odading mendapat penghargaan pada kategori digital solution untuk pembuatan augmented reality (AR). Tim ini terdiri atas Lukman Fadlansyah R., Teresa Amalia Purba, dan Zola Saputra. Ketiganya merupakan mahasiswa Teknik Geodesi angkatan 2018.

Tim Odading mengikuti InaRISK Hackathon Fest pada 25—28 Juni lalu. Semua bermula saat Zola mendapat kabar tentang lomba itu dari dosennya. Dia mendapat informasi bahwa topik lomba berkaitan dengan AR. Zola antusias mengikutinya karena punya pengalaman membuat AR bersama Lukman saat magang.

Saat itu, mereka mengerjakan AR dalam bentuk sederhana. Mereka lalu membentuk kembali Tim Odading bersama Teresa. Sebelumnya, tim ini pernah ikut lomba dan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.

Dalam acara InaRISK Hackathon Fest, Tim Odading menawarkan solusi digital yang disebut Augmented Reality for Tsunami Mitigation (AURIGA). Pembuatan AR untuk mitigasi tsunami ini berasal dari ide yang mereka dapat saat mengikuti lomba sebelumnya. Selain itu, Lukman dan Zola juga telah melakukan riset dan analisis awal mengenai topik ini saat magang. Mereka juga mendapat bantuan data tsunami di Pangandaran dari Dr.rer.nat. Wiwin Windupranata, S.T., M.Si. selaku dosen pembimbing.

Ilmu hidrografi yang mereka dapat membuat mereka semakin antusias untuk mengangkat ide ini. Mengenai programnya, mereka terinspirasi dari tugas akhir kakak tingkat mereka di Prodi Teknik Geodesi dan Geomatika.

AURIGA ini dapat menampilkan rute evakuasi, titik shelter, serta potensi bahaya tsunami ketika aplikasinya dioperasikan. “Konsep AR pada AURIGA ini mirip seperti game Pokemon Go yang ada animasi dan dunia nyatanya, tapi pada AURIGA ini bentuknya sederhana seperti garis untuk jalanan, panah penunjuk rute, dan kotak-kotak penunjuk bangunan,” jelas Zola saat diwawancarai pada Sabtu (10/07/2021).

Dalam proses pembuatan AURIGA, Tim Odading mengalami banyak kesulitan. Tere sapaan akrab Teresa mengakui, ilmu pemrograman mereka belum cukup advance ketika mengerjakan prototipe, sehingga membuat mereka kesulitan untuk menyusun flow chart serta algoritma AURIGA.

Oleh karena itu, mereka belajar dari teman-teman yang memiliki kapabilitas di bidang IT. Dalam prosesnya, banyak sekali eror pada programnya. “Pokoknya asal programnya udah bisa berjalan, Puji Tuhan banget, deh,” tutur Tere.

Ketiga mahasiswa berprestasi ini juga sempat pesimistis saat mengerjakan prototipe. Apalagi kompetitor pada lomba ini berasal dari mahasiswa S2 bahkan S3. Jadi, agar tidak merasa sia-sia, mereka memfokuskan usaha untuk membuat infografis agar tetap membawa gelar meski kalah di kategori AR.

Kendati begitu, saat pengumuman, mereka ternyata keluar sebagai pemenang. Tim Odading mengaku bahagia sekaligus terkejut dan bingung karena tidak pernah membayangkan bisa menang. Mereka juga khawatir hal ini akan meningkatkan ekspektasi dosen terhadap proyek mereka, terutama saat dikembangkan dan diintegrasikan pada aplikasi web InaRISK. Namun, mereka akan bersiap untuk menghadapinya.

Pada akhir obrolan, Tim Odading berpesan kepada mahasiswa lainnya, terkhusus mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika, agar tetap tegar dalam segala situasi yang sulit. “Meski banyak hal menyulitkan segala macam, pasti ada jalan keluar,” kata Zola.

Di sisi lain, Lukman mengajak mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika agar banyak mengeksplorasi hal di luar akademik saat berada dalam keadaan sulit seperti pandemi saat ini dan memperluas relasi dari teman berbagai jurusan. Sementara itu, seperti menegaskan dua pesan dari Zola dan Lukman, Tere berpesan, “If we never try, we will never know,” yang artinya ‘jika tidak mencoba kita tidak akan pernah tahu’.

Reporter: Kevin Agriva Ginting (Teknik Geodesi dan Geomatika 2020)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id -Industri kreatif dinilai mampu berinovasi untuk tetap bertumbuh dan bertahan di tengah pandemi.

Dalam mendukung arah pengembangan industri kreatif, Pemerintah Indonesia menggelar pameran virtual tingkat global dalam rangka International Year on Creative Economy for Sustainable Development 2021 yang diprakarsai oleh Indonesia.

Pameran bertajuk “Creative Economy for Sustainable Development: Let’s Connect!” itu diselenggarakan di sela-sela pertemuan High Level Political Forum (HLPF) Economic Social Council (ECOSOC) PBB tanggal 6-15 Juli 2021.

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan, terdapat tiga hal yang saat ini perlu difokuskan untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Pertama, menciptakan lingkungan yang mendukung. Kedua, mendukung pembelajaran sepanjang hayat, dan Ketiga, menumbuhkan creative hub.

Indonesia ingin memilki creative hub sendiri. Untuk itu, Indonesia telah mendirikan Global Center of Excellence and International Cooperation for Creative Economy (G-CINC) pada tahun 2019 sebagai tidak lanjut dari World Conference on Creative Economy (WCCE) di Bali tahun 2018.

G-CINC merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Institut Teknologi Bandung yang diwakili oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB.

Center G-CINC tersebut didesain untuk memfasilitasi pelaku ekonomi kreatif dari Indonesia dan seluruh dunia, dengan harapan dapat mendorong riset, pengembangan, dan kerja sama internasional.

Tim ahli dari SBM ITB telah berkontribusi pada GCINC dalam melaksanakan sejumlah agenda seperti Expert Panel Series sebagai workshop pelaku industri kreatif global serta berbagai Penelitian terkait skema kreatif dan indikator ekoknomi kreatif Indonesia.

Menteri Parekraf Sandiaga Uno dalam sambutannya menyampaikan bahwa ekonomi kreatif yang berbasis pada budaya memiliki keunggulan sebagai aset yang tidak terbatas, sehingga dapat berkontribusi bagi upaya pencapaian SDGs.

Menteri Parekraf juga menyebutkan peran penting G-CINC di mana SBM ITB telah berkontribusi dalam berbagai kegiatan terkait penguatan industri kreatif dengan bekerja sama dengan unsur Pentahelix yaitu akademisi, pelaku kreatif, pemerintah, asosiasi, komunitas kreatif, serta media.

Adapun Ketua BPK RI Agung Firman Sampurna menggarisbawahi pentingnya memperkuat sinergi antar kementerian, lembaga, daerah, serta para pelaku industri kreatif di Indonesia.

Menurut koordinator kegiatan sekaligus Direktur ITB Career Center, Sonny Rustiadi, Ph.D., pameran virtual ini dilaksanakan memanfaatkan virtual exhibiton environment milik ITB yang dikelola oleh ITB Career Center sebagai bagian dari Direktorat Kemahasiswaan ITB.

Pameran ini dianggap penting dalam menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi UMKM kreatif Indonesia kepada audiens global. Pameran dapat diakses dari tanggal 6 hingga 15 Juli 2021 melalui tautan

 

 

Terdapat 30 booth yang mewakili pemerintah, organisasi internasional, pelaku usaha ekonomi kreatif dan sektor UMKM serta komunitas lainnya. Di setiap booth peserta akan mendapatkan informasi terkini dan berinteraksi secara langsung.

Di antaranya para exhibitor adalah sejumlah badan PBB seperti ILO, FAO, UNCTAD, WIPO, UNESCO, dan UNWomen seta organisasi internasional lain seperti ASEAN dan British Council.

Selain itu sejumlah negara juga berpartisipasi sebagai exhibitor di antaranya UAE, Mexico, Costa Rica, Fiji, dan Kolumbia.

Selain booth eksibisi, pameran virtual ini juga menampilkan lebih dari 90 video yang berisi aspirasi, program terkait industri kreatif, serta profil industri kreatif dari berbagai penjuru dunia.

Di antaranya video yang ditampilkan berasal dari negara Peru, Inggris, Afrika Selatan, Korea Selatan, Singapura, Cili, Filipina, Pakistan, Canada, Mesir, Perancis, Belanda, Papua New Guinea, RRC, Banglades, Kuwait, Sudan, Jerman, Vietnam, Portugal, Brazil, Rusia, Benelux, Peru, Kanada, Panama, Finlandia dan Amerika Serikat.

Indonesia diwakili oleh berbagai Kementerian dan Instansi yaitu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Luar Negeri (G-CINC), Jabar Digital Service, dan Jakarta Smart City Program serta kalangan startup seperti TaniHub, Tulibot, dan Sembilan Matahari.

Dari ITB sendiri sejumlah partisipan terdiri dari perusahaan besutan alumni ITB yaitu Agate, serta sejumlah bisnis kreatif dari Sekolah Bisnis dan Manajemen yaitu ClothLab, Rencana Decoration, Kalea Space, Vaja Golden Vetiver, VISC Production, serta Lets Connect Syndicate 8 Program MBA CCE 63, papar Sonny yang juga merupakan dosen SBM ITB pada kelompok keahlian Kewirausahaan dan Manajemen Teknologi dan salah satu pakar di G-CINC.

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menggelar webinar dalam rangka peringatan 101 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI). Webinar sesi kedua bertema “Implementasi Transformasi Digital Indonesia” itu berlangsung pada Kamis (1/7/2021).

ITB mengundang pembicara-pembicara profesional untuk mengisi webinar, di antaranya Dr. Ir. Muhammad Hudori, M.Si. (Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri [Kemendagri]), Dr. Denny Setiawan (Direktur Penataan Sumberdaya Ditjen SDPPI Kementerian Komunikasi dan Informatika [Kemenkominfo]), dan Dr. Ir. Sigit Puji Santosa, M.SME. (Kepala Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan [LPIK] ITB).

ITB juga mengundang Ir. Billy Barokah (mewakili Direktur Utama PT LEN Industri sebagai VP Rekayasa dan Inovasi Teknologi) dan Arief Pradatya (mewakili Direktur Utama Telkomsel) selaku pelaku industri. Sementara itu, webinar dipandu Dr. Ary Setiadi, Kepala Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi (PPTIK) ITB.

Webinar berlangsung kondusif. Setiap pembicara membahas hal yang berbeda, tetapi masih dalam koridor implementasi transformasi digital. Dr. Hudori, Sekjen Kemendagri, misalnya, memaparkan sudut pandang pemerintah terhadap era industri keempat. Pada era tersebut, Indonesia banyak membicarakan soal jaringan. Teknologi jaringan, katanya, harus mampu merespons perubahan. Oleh karena itu, urgensi transformasi digital perlu dibicarakan.

“Setidaknya urgensi transformasi digital ada enam hal yang harus ada, yakni inovasi, akselerasi, efisiensi, akuntabilitas, inklusivitas, dan kolaborasi,” terang Dr. Hudori.
Sejalan dengan hal di atas, Dr. Denny dari Kemenkominfo memaparkan soal fokus kementeriannya dalam meningkatkan mutu jaringan internet. Dr. Denny dkk. tengah berupaya memasang jaringan 5G di Indonesia dengan semangat kolaboratif.

Telkomsel, misalnya, menjadi pihak yang bekerja sama dengan pemerintah dalam mewujudkan pengadaan jaringan 5G. Arief Pradatya, mewakili Dirut Telkomsel, juga mengaku pihaknya terus berfokus pada strategi pembaruan konektivitas, platform, dan pelayanan digital.

Sementara itu, ITB sendiri sudah mengambil peran dalam implementasi transformasi digital di Indonesia. Hal itu diungkap Kepala LPIK ITB Dr. Sigit Puji Santosa. Dia mengatakan, ITB terus berupaya untuk berkontribusi dalam membangun ekosistem inovasi digital melalui program-program. Contohnya program pembangunan ITB Innovation Park, yang salah satunya telah terealisasikan tidak jauh dari kampus Ganesha ITB. LPIK juga berperan penting dalam perkembangan riset dan kewirausahaan di lingkungan kampus.

Dari industri, Ir. Billy Barokah (PT LEN Industri) menyampaikan, pihak BUMN saat ini terus berpartisipasi aktif dalam pemenuhan kebutuhan intelijen dan pertahanan Indonesia berbasis elektronika. Industri ini juga siap menjaga kedaulatan rakyat dengan terobosan-terobosan mutakhir berbasis IoT sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman.

Dengan berakhirnya pemaparan pembicara, berakhir pula webinar sesi kedua bertema “Implementasi Transformasi Digital Indonesia”. Webinar ini berlangsung untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan digital di Indonesia. Apalagi Indonesia tengah meniti kapabilitasnya dalam transformasi digital secara bertahap menuju Indonesia Emas 2045.

Reporter: Lukman Ali (Teknik Mesin/FTMD, 2020)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id -- Bertepatan dengan Peringatan 101 Tahun Pendidikan Teknik di Indonesia (PTTI), Institut Teknologi Bandung (ITB) menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan kepada Nyoman Nuarta. Atas jasanya di bidang kesenirupaan, Nyoman Nuarta mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa (HC) sebagai cultureupreneur dalam Bidang Ilmu Seni Rupa (patung).

Gelar kehormatan tersebut diberikan oleh Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D. pada acara Sidang Terbuka Peringatan 101 Tahun PPTI yang diselenggarakan di Aula Barat ITB pada Sabtu (3/7/2021).

Ketua Tim Promotor Prof. Dr. Setiawan Sabana menjelaskan, pemberian gelar Doktor Kehormatan kepada Nyoman Nuarta didasarkan pada pertimbangan pemikiran, gagasan, hingga pengembangan konsep-konsep orisinal dan mendasar dari Nyoman Nuarta yang terbukti bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat, perkembangan kebudayaan bangsa dan kemanusiaan, perkembangan iptek, dan seni.

 

 

Kiprah Nyoman Nuarta dalam mengimplementasikan konsep culturepreneur dan pendekatan dalam bahasa bentuk realis-figuratif pada pengembangan mahakarya Garuda Wisnu Kencana (GWK) Culture Park di Bali merupakan salah satu bukti kontribusi nyata beliau pada bidang kesenirupaan yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. “Kehadiran GWK telah menunjukkan bahwa Indonesia dapat melahirkan mahakarya untuk dunia,” ujar Prof. Dr. Setiawan Sabana.

Konsep culturepreneur sendiri terlahir dari kepeloporan Nyoman Nuarta dalam menginspirasi dan mendorong semangat entrepreneurship seni. Dengan memberdayakan intellectual capital kekayaan identitas seni budaya nasional, konsep culturepreneur diharapkan dapat menjadi langkah untuk mencapai kemandirian ekonomi Indonesia.

Dalam pengembangan patung GWK, Nyoman Nuarta juga menciptakan dua terobosan penting dalam teknik berkarya seni. Dua terobosan penting tersebut di antaranya adalah teknik membentuk patung wire mesh welding forming dan hak cipta teknik pembuatan patung organis dengan pembesaran skala dan pola segmentasi untuk pembuatan patung-patung skala besar.

Figur seniman yang telah menggelar puluhan pameran nasional hingga internasional ini mengakumulasikan berbagai aspek, seperti engineering, kemandirian, lingkungan sosial-budaya, dan kewirausahaan yang dikemas dalam sebuah ekosistem komprehensif berupa cultural park. “Dia berhasil merealisasikan gagasannya yang begitu visioner dan membuktikannya kepada dunia dengan upayanya sendiri,” sebut tim promotor.

Di samping itu, Nyoman Nuarta turut berkiprah dalam membangun tonggak baru yang menghilangkan pengotakan dan sikap elitis dalam kegiatan kesenirupaan, terutama pada pengembangan pendidikan dan pengajaran seni rupa di Indonesia.

“Berdasarkan berbagai pertimbangan yang komprehensif tersebut itu, Nyoman Nuarta sangat layak untuk mendapatkan gelar Doktor Kehormatan dari Institut Teknologi Bandung,” jelas Prof. Dr. Setiawan Sabana dalam Laporan Pertanggungjawaban Akademik Tim Promotor.

Adapun tim promotor pada pemberian Gelar Kehormatan kepada Nyoman Nuarta adalah sebagai berikut:
1. Prof. Dr. Widiadnyana Merati (FTSL - ITB)
2. Prof. Dr. Rochim Suratman (FTMD - ITB, wafat Kamis, 9 April tahun 2020)
3. Prof. Dr. Ir. Yahdi Zaim (FITB - ITB, Ketua Pansus Pemberian gelar Doktor kehormatan kepada Nyoman Nuarta)
4. Prof. Dr. Dermawan Wibisono (SBM - ITB)
5. Dr. Yannes Martinus Pasaribu, M.Sn. (FSRD - ITB)
6. Dr. Andriyanto Rikrik Kumara, S.Sn., M.Sn. (Dekan FSRD - ITB)

Sampaikan Orasi Ilmiah

 

Dalam orasinya yang berjudul “Seni sebagai Jalan Menuju Antusiasme Baru Hidup Manusia”, Nyoman Nuarta memaparkan tentang pergeseran era seni dan pentingnya pertimbangan sinergi dan integrasi multidisiplin ilmu bagi para seniman. “Seni tak boleh hadir sendiri di hadapan publik. Seniman haruslah mampu merangkul disiplin-disiplin ilmu yang lain agar ia memberi manfaat yang makin nyata,” kata Nyoman Nuarta.

Lebih lanjut lagi, tokoh seni rupa Indonesia ini menjelaskan bahwa kerja kebudayaan khususnya kesenian harus dilandasi dengan kajian dimensi teknologi, sosiokultural, serta dampak ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.

 

 

“GWK sudah memberi bukti, bahwa lahan bukit kapur yang sampai tahun 1980-an hanya bermanfaat sebagai lokasi tambang, kemudian berubah secara drastis menjadi pusat pariwisata tahun 1990-an. GWK telah mengubah wajah sangar bukit kapur yang gersang dan miskin menjadi wilayah yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” lanjut Nyoman Nuarta dalam orasi ilmiahnya.

Nyoman Nuarta juga memperkenalkan istilah “arch sculpt” yang merupakan sebuah landasan pertemuan antara ilmu estetika dan ilmu arsitektur yang bersifat pragmatis. Beliau ingin menunjukkan bahwa teknologi dan sains, termasuk pertimbangan ekonomi, sudah waktunya menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses kerja seorang seniman.

“Semoga apa yang sudah saya kerjakan memberi manfaat kepada negara dan bangsa. Semoga seni tak sekadar menampilkan keindahan, tetapi menjadi jalan baru menuju antusiasme hidup manusia di masa kini dan nanti,” tutup Nyoman Nuarta.

Reporter: Achmad Lutfi Harjanto (Perencanaan Wilayah dan Kota, 2020)

Diterbitkan di Berita