Jakarta, CNN Indonesia -- Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil meraih akreditasi dari The Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB) selaku lembaga akreditasi Internasional khusus sekolah bisnis.

Hal itu disampaikan oleh Rektor ITB Reini Wirahadikusumah. Dia menuturkan, hingga saat ini untuk program-program studi yang berada di 12 Fakultas/Sekolah di ITB telah 34 (25 persen) terakreditasi internasional dan 59 (43 persen) mendapatkan predikat unggul dari BAN-PT.

"Alhamdulillah hari ini AACSB menambah jumlah program studi yang terakreditasi internasional untuk ITB sebagai suatu institusi pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan bisnis, khususnya di SBM," ujar Reini melalui keterangan resmi yang diterima, Rabu (17/11).

Institut Teknologi Bandung

Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih akreditasi dari lembaga akreditasi Internasional khusus sekolah bisnis, Rabu (17/11). (Foto: Institut Teknologi Bandung)

 

Adapun akreditasi tersebut diumumkan secara resmi oleh AACSB pada Selasa (16/11). Artinya, SBM ITB menjadi salah satu dari sedikit sekolah bisnis yang berhasil memperoleh akreditasi dari AACSB, hanya sekitar 5 persen.

Reini menambahkan, pihaknya akan menindaklanjuti arahan dari para reviewers AACSB. Misalnya, mensinergikan berbagai kekuatan kompetensi dan keilmuan dengan mendorong pembentukan beberapa program studi di tingkat magister yang multi-disiplin.

"Sehingga SBM dan fakultas atau sekolah lain akan lebih meningkatkan relevansinya. Sinergi di berbagai aktivitas sivitas akademika ITB akan didukung oleh sistem manajemen kampus terintegrasi yang sedang kami upayakan sampai dengan beberapa tahun ke depan," paparnya.

Sementara itu, Dekan SBM ITB Utomo Sarjono Putro mengatakan, pencapaian tersebut merupakan kerja keras dari para dosen, staf, dewan sekolah, mitra industri, mitra universitas, mahasiswa, serta alumni yang berdedikasi.

"Kami bangga dan merupakan kehormatan SBM ITB telah menerima akreditasi dari AACSB. SBM ITB berharap bisa berkolaborasi bersama sekolah bisnis lain di dunia untuk berinovasi dan menciptakan dampak positif bagi masyarakat Indonesia dan global," katanya.

Seperti diketahui, AACSB merupakan lembaga akreditasi bagi sekolah bisnis yang berdiri sejak 1916. AACSB menghubungkan para mahasiswa, pengajar dan pelaku bisnis seluruh dunia. 

AACSB yang berada di 100 negara menerapkan standar tinggi dalam memberikan akreditasi bagi sekolah bisnis sehingga hanya sedikit sekolah yang memperoleh akreditasi.

Sebanyak 890 institusi di 58 negara telah mendapat akreditasi dari AACSB. AACSB memberikan akreditasi bagi sekolah bisnis yang terbukti sangat unggul pada semua hal, termasuk pengajaran, penelitian, pengembangan kurikulum dan proses belajar mahasiswa.

Selain itu, akreditasi diberikan kepada sekolah bisnis yang fokus mewujudkan misinya, menciptakan inovasi dan memberikan dampak bagi banyak pihak. "Hanya sekolah bisnis yang memiliki sumber daya cukup dan berkomitmen memberikan edukasi terbaik bagi mahasiswa yang bisa meraih akreditasi dari AACSB."

(rea)

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211117171653-25-722561/sbm-itb-raih-akreditasi-dari-lembaga-akreditasi-internasional-aacsb

 

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id-Berkaitan dengan adanya Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi, maka Institut Teknologi Bandung saat ini sedang menyusun Peraturan Rektor terkait PPKS.

Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., mengatakan, ITB mengapresiasi inisiatif dan tujuan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 karena memastikan terjaganya hak warga negara atas pendidikan, melalui pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi.

"Tentu ITB sangat mengapresiasi insiatif kementerian tersebut. Kita sudah tunggu-tunggu sejak tahun lalu. Jadi dengan terbitnya Permen tersebut, sekarang ITB bisa segera tanda tangan Peraturan Rektor tentang PPKS,” ujar Prof. Reini, Selasa (10/11/2021).

“Hal ini sangat sejalan dengan upaya ITB membangun awareness, edukasi, pencegahan, serta penanganannya bila terjadi kasus yang tidak diinginkan," jelas Rektor.

Rektor mengatakan, sejak 2020 lalu ITB sudah menyiapkan draf Peraturan Rektor tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di ITB sambil menunggu Permendikbudristek tersebut terbit.

Dengan terbitnya Permendikbudristek tersebut, saat ini ITB sedang melakukan finalisasi agar Peraturan Rektor sejalan (in line) dengan Permendikbudristek tersebut.

Sementara itu, Direktur Direktorat Kemahasiswaan ITB. Dr. G. Prasetyo Adhitama, S.Sn., M.Sn., menambahkan, ITB senantiasa berusaha menciptakan atmosfer akademik yang sehat, aman dan berkelanjutan didasarkan pada nilai-nilai akademik.

Terkait dengan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, ITB bekerja sama dengan mitra-mitra ITB berupa lembaga-lembaga terhormat baik lembaga pemerintah dan nonpemerintah.

“ITB menyelenggarakan kampanye anti kekerasan seksual di kampus melalui seminar-seminar, kuliah umum (Studium Generale), diskusi, focus group discussions, dan diseminasi serta menyusun perangkat aturan sesuai nilai-nilai, karakter dan dinamika akademik di ITB.

Dr. Prasetyo menambahkan, dalam menyusun peraturan rektor, ITB senantiasa mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak baik lembaga pemerintah maupun nonpemerintah termasuk Komisi Nasional Perempuan dan lesson learnt dari berbagai perguruan tinggi lain.

“Dalam penyusunan peraturan rektor tersebut, ITB mengacu pada peraturan/hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia dan menyesuaikannya dengan sumber daya yang dimiliki serta dinamika akademik untuk menciptakan atmosfir akademik yang sehat, aman dan berkelanjutan,” jelasnya.

Sementara itu, mengenai pembentukan satgas khusus PPKS, karena ITB berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN Badan Hukum) yang Otonom sehingga merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2013, ITB diberikan kewenangan untuk mengatur hak semacam ini secara internal.

Sumber: https://www.itb.ac.id/berita/detail/58269/itb-tengah-menyusun-peraturan-rektor-tentang-tentang-ppks

 

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id – Haidar Bagir, President Director Mizan Group sekaligus penggagas Gerakan Islam Cinta, membagikan paparan bertajuk “Passion by Compassion: Mengembangkan Hidup Bermakna Melalui Bisnis dan Aktivitas Kemanusiaan” dalam mata kuliah Studium Generale pada Rabu (15/9/2021).

Haidar menjelaskan bahwa passion sering dipahami sebagai hobi atau kegiatan yang disukai. Ada pula yang memahami passion sebagai hasrat atau gairah dalam melakukan sesuatu.

Nyatanya, jika dilihat dari segi bahasa, di samping berarti cinta atau simpati, passion juga berasal dari kata “pati” yang berarti sakit atau penderitaan.

Ia membagikan kisah the passion of Jesus: cinta Yesus bagi orang-orang Kristen ditunjukkan dengan menebus dosa-dosa manusia. “Ketika Yesus mati di kayu salib, di situlah makna cinta Yesus kepada umatnya. Hidupnya berharap orang jauh dari penderitaan, itulah passion,” ujar Haidar.

Oleh karena itu, passion dapat diartikan sebagai cinta yang menyebabkan seseorang mampu menanggung penderitaan. Penderitaan tersebut bukan saja dirasa layak untuk ditanggung, tetapi diyakini dapat menjadi sumber kebahagiaan.

Contoh lainnya yang lebih sederhana adalah seorang ibu yang mengurus bayinya. Meskipun lelah, itu menjadi sumber kebahagiaannya.

“Bekerja dengan passion adalah membukukan segala sesuatu yang dikerjakan dan diciptakan dengan hembusan napas ruhmu sendiri. Oleh karena itu, orang memilih pekerjaan yang sesuai passion agar ketika merasa lelah dan stres, penderitaan tersebut tetap menjadi sumber kebahagiaan mereka,” tutur Haidar.

Haidar kemudian menjelaskan jenis-jenis kesuksesan yang terbagi tiga: bitter success, toxic success, dan meaningful success. Sukses yang pertama—bitter success—contohnya adalah memiliki uang banyak dan popularitas.

Namun, kesuksesan ini pahit karena masih banyak pemilik kesuksesan ini yang menderita dan memutuskan mengakhiri hidupnya.

Sukses yang kedua, yaitu toxic success, adalah kesuksesan di atas penderitaan orang lain. Misalnya, seseorang sukses dengan memiliki pabrik, tetapi limbah dari pabrik tersebut dibuang ke sungai dan merugikan orang lian. “Kesuksesan ini juga tidak memberikan kebahagiaan,” jelas Haidar.

Kesuksesan yang terakhir adalah meaningful success. Inilah kesuksesan yang membahagiakan karena kesuksesan ini mengandung makna.

Kekayaan dan ketenaran seperti pada kesuksesan pertama bisa saja tidak memberikan makna—dan berakhir sebagai bitter success—kecuali kekayaan dan ketenaran tersebut digunakan untuk, misalnya, menolong orang lain sehingga memberikan makna.

“Hal yang mendorong kita mencapai meaningful success adalah compassion,” ungkap Haidar. Compassion sendiri berarti belas kasih sehingga passion by compassion berarti hasrat atau kegiatan yang dilakukan dengan belas kasih.

 

 

Dengan demikian, Haidar menganggap bahwa bekerja sesuai hobi dan kesukaan bagus, tetapi tetap bisa memberikan kebosanan. Di sisi lain, biasanya tidak mudah untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan hobi dan kesukaan.

“Jadi, caranya bagaimana? Learn to love it, belajar mencintai pekerjaan yang sudah kita punya. Love has to be learnt and re-learnt,” pungkas Haidar.

Itulah passion by compassion yang dimaksud dalam tajuk Studium Generale kali ini: ketika kita bisa melakukan sesuatu untuk orang lain melalui passion dan belas kasih kita sehingga ada makna dan kebahagiaan yang hadir, baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri.

Reporter: Zahra Annisa Fitri (Perencanaan Wilayah dan Kota, 2019)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id -- Institut Teknologi Bandung (ITB) menghibahkan 20 unit produk inovatif Powered Air-Purifying Respirator (PAPR) untuk tenaga kesehatan/medis ke beberapa rumah sakit di Indonesia.

Hibah ini dilakukan untuk mendukung penanganan pandemi Covid-19 yang masih terjadi hingga saat ini. PAPR dengan nama VitaFlo ini dibuat di Laboratorium Energi Terbarukan, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB dengan ketua tim penelitinya Dr. Yuli Setyo Indartono.

Alat versi kedua ini akan diberikan ke Rumah Sakit di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dan Kalimantan (masih konfirmasi).

Pengembangan alatnya didukung oleh Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB.

 

 

Dr. Yuli mengatakan, ada dua komponen utama di alat tersebut yaitu box blower dan filter untuk mengalirkan dan memfilter udara, serta penutup wajah atau full-face protector. Udaranya disalurkan melalui selang (grade medis) dari blower ke full-face protector.

"Aliran udara yang masuk ke dalam full-face mask menyebabkan tekanan udara lebih tinggi di dalam face mask dibandingkan yang di luar. Sehingga mencegah kontaminasi bakteri/virus dari luar," ujarnya.

 

 

Untuk penggunaannya sendiri, VitaFlo sudah menggunakan baterai dan mampu bertahan 5 jam 30 menit. Dengan menggunakan VitaFlo, tenaga kesehatan tidak perlu lagi memakai masker, goggle, dan face shield, namun APD lain tetap digunakan.

"Setelah ada alat ini, nakes tidak perlu lagi memakai APD di bagian wajah. InsyaAllah cukup dengan VitaFlo," jelasnya.

 

 

Mampu Filtrasi Virus Sekitar 97 Persen

Dijelaskan Dr. Yuli, VitaFlo merupakan alat pelindung diri jenis PAPR (Powered-Air Purifying Respirator) yang mengintegrasikan fungsi masker, pelindung wajah, dan kacamata pelindung.

Fungsi alat VitaFlo ini sudah melalui beberapa pengujian. Pertama telah dilakukan pengujian di laboratorium di SITH untuk dilihat bagaimana kemampuan alat dalam memfilter bakteri dan virus. "Hasilnya sangat baik," ujarnya.

Efektivitas filtrasi bakteri sebesar 99,9 persen untuk ukuran bakteri 0.5-2 um, dan 97 persen untuk partikel <0.1 um (ukuran virus), berdasar pengujian di laboratorium di SITH ITB.

 

 

Pengujian lainnya dilakukan di Lab Energi Terbarukan FTMD untuk pengecekan laju aliran fluida masuk ke dalam full-face mask. Hasil pengujian sudah memenuhi standar.

Ide Awal Pembuatan Alat

Dr. Yuli bercerita, ide awal pembuatan alat ini berawal dari keprihatinan saat menyaksikan tenaga kesehatan memakai APD berlapis-lapis di bagian wajah. Hal itu terlihat tidak praktis, pengap, dan tidak nyaman. Dari situlah muncul ide membuat VitaFlo yang lebih mudah digunakan dan sederhana. "Saya terinspirasi membuat facemask, namun apabila tidak dilengkapi blower akan terjadi kebocoran dari samping karena tekanan udaranya tidak positif. Makanya kami buat suplai udara menggunakan blower filter," jelasnya.

Ke depannya, alat ini tidak hanya berguna untuk tenaga kesehatan saja, tetapi juga bisa dipakai oleh para pekerja industri yang sering terpapar debu dan partikel berbahaya. VitaFlo bisa menyaring partikel-partikel berukuran kecil dengan baik.

"Filternya kita pilih yang versi industri, sehingga tidak mengalami kelangkaan saat banyak kebutuhan tenaga medis. Kemampuan filtrasinya sama, hanya versinya saja yang industri supaya ketersediaannya lebih terjamin. Pembeliannya mudah karena ada di toko-toko online," ucapnya.

Sementara itu, hasil riset inovasi ini akan dikerjasamakan dengan PT Rekayasa Inovasi ITB, untuk dicarikan partner industri agar VitaFlo bisa diproduksi secara massal oleh industri.

 

 
 
Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Underutilized Fruit Trees (UFT) adalah kelompok pohon yang buahnya dapat dikonsumsi namun cenderung kurang dimanfaatkan, dan kurang dikenal secara luas karena tidak dibudidayakan dalam skala besar.

Keberadaan UFT ini masih terabaikan karena pengetahuan masyarakat yang masih rendah. Angga Dwiartama, Ph. D, dosen dan peneliti SITH ITB, melakukan penelitian terhadap UFT dan merekam eksistensinya di beberapa masyarakat adat di Jawa Barat.

Ia bersama dengan peneliti SITH, Mochammad Fikry Pratama, memilih masyarakat adat sebagai objeknya. Angga mengatakan masyarakat adat memiliki rekam jejak yang lebih baik dengan keanekaragaman hayati yang diwariskan oleh leluhur mereka.

“Kami menggunakan gabungan metode wawancara, observasi, eksploratif, dan analisis vegetatif di tujuh komunitas masyarakat adat di Jawa Barat,” imbuhnya dalam kegiatan Bincang Seru Buah Langka (BISBUL) yang diselenggarakan oleh Rumah Bantala pada Sabtu (28/8/2021).

Penelitian ini memakan waktu tiga tahun. Di tahun pertama mereka mulai mengunjungi masyarakat adat dan melakukan penanaman UFT di ITB Kampus Jatinangor.

Tahun berikutnya, dilakukan eksplorasi keberadaan UFT di berbagai pasar di Jawa Barat dan survei ke 345 responden dari kawula muda terkait beberapa UFT yang ada di Jawa Barat.

Berdasarkan hasil survei, mayoritas orang tidak mengetahui UFT, sebagian hanya sekadar tahu tetapi belum pernah melihatnya bahkan mencicipi rasanya. Di tahun ketiga, mereka berkolaborasi dengan Rumah Bantala dan The GoodLife untuk mengenalkan berbagai jenis dan olahan UFT.

Menurut Fikry, UFT kurang digemari anak muda karena terputusnya rantai informasi dari generasi pendahulunya. Selain itu, UFT bukan prioritas utama untuk ditanam sehingga populasinya yang tersisa cukup terancam dan sudah jarang ditemui.

Pemanfaatannya yang belum maksimal membuat aneka buah ini kerap menjadi sampah dan hanya sedikit yang bisa dijual.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memopulerkan UFT adalah melakukan promosi dan menyebarluaskan pengetahuan akan UFT. Buah-buahan ini kaya dengan nutrisi dan vitamin.

Beberapa buah walaupun rasanya kurang enak, dapat disulap menjadi kreasi yang unik dan menarik. Angga juga tengah merampungkan buku tentang UFT yang menggandeng anak SMA untuk membuat ilustrasi tanamannya.

Hal ini dapat menjadi salah satu sarana mengenalkan UFT terutama pada generasi muda.

Ketidakpopuleran UFT dapat mengantarkannya ke gerbang kepunahan. Dengan mengenal dan memanfaatkan UFT, kita juga ikut berkontribusi menjaga ketahanan pangan khususnya buah dan membantu agar generasi selanjutnya dapat menikmati keberadaan buah lokal.

Budidaya tanaman UFT juga akan menyumbang oksigen, mencegah erosi, dan menjadi habitat bagi berbagai satwa. Kesadaran menjadi kunci utama yang dapat meningkatkan kapasitas institusi pendidikan, pihak swasta, maupun individu untuk merawat keberadaan buah langka.

Reporter: Maharani Rachmawati Purnomo (Oseanografi 2020)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Pada kegiatan Temu Awal Semester I Tahun Akademik 2021/2022, Prof. Dr. Ir. Jaka Sembiring, M.Eng., selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan (WRAM) ITB memberikan pernyataan mengenai kemungkinan dilaksanakannya perkuliahan tatap muka atau hibrida di masa PPKM.

“Persiapan kampus dibuka itu sudah dilakukan sejak tahun lalu, mulai dari pembukaan kuliah hibrida di Jatinangor,” ujarnya Kamis (2/9/2021) di Observatorium Bosscha. Namun sayangnya, menurut Prof. Jaka, setelah 10 hari pelaksanaan percobaan kuliah hibrida itu dilaksanakan, kebijakan PPKM diterapkan sehingga kegiatan tersebut diberhentikan.

Ia menambahkan bahwa sudah ada informasi dari Dikti untuk dapat segera kelas tatap muka dilaksanakan, tetapi tentu dengan mempertimbangkan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. “Kami membuka kampus itu tidak dengan gegabah, apalagi melibatkan ribuan mahasiswa dan dosen. Hal ini dilakukan secara rinci dan bertahap,” jelasnya. Sementara untuk tugas akhir, disertasi, dan tesis sudah mendapatkan izin untuk melaksanakan di dalam kampus.

Untuk kemungkinan pembukaan kampus secara hibrida, karena tidak mungkin luring secara total, maka pendataan sudah mulai dilakukan oleh ITB mengenai mata kuliah ataupun kegiatan yang perlu menjadi prioritas. Contoh kegiatan yang perlu diperhatikan adalah yang bersifat experience learning seperti praktikum, studio, dan kuliah lapangan.

“Kami sarankan satu mata kuliah untuk setiap angkatan dan untuk setiap prodi. Itu yang kami sarankan, minimal.” Sementara ini menurut Prof. Jaka, untuk suasana optimis, setelah pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) jika keadaan membaik maka akan mulai dilakukan penyesuaian-penyesuaian kegiatan akademik. Ditegaskan bahwa kapasitas yang dipatok tidak akan lebih dari 30%.

Dia menjelaskan, ITB telah melakukan survei. Dari total sekitar 25.000 student body di ITB, data menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen sudah melaksanakan vaksinasi baik itu dosis pertama maupun dosis kedua. Data ini kemudian dijadikan acuan serta bahan pertimbangan untuk pembukaan kegiatan akademik tatap muka di kampus, bersamaan dengan persetujuan dari orangtua/wali.

“Untuk mahasiswa TPB 2021, kami rencanakan dalam bentuk campus tour—bukan dalam bentuk jalan-jalan kampus, namun satu hingga dua mata kuliah praktikum yang bisa dilaksanakan di dalam kampus,” ujarnya. Kondisi ini tentu dinamis, bergantung pada situasi dan kondisi yang terjadi sehingga seluruh sivitas akademika yang ada di kampus diharapkan untuk tetap memahami hal tersebut.

 

Evaluasi Sesi Praktikum

Pertanyaan lanjutan yang disampaikan kepada Prof. Jaka adalah mengenai evaluasi sesi praktikum yang tidak dapat dilaksanakan langsung di laboratorium, serta metode terbaik sesi praktikum secara daring. Pertanyaan ini kemudian dijawab bahwa telah diberikan panduan-panduan oleh WRAM, namun pelaksanaannya diserahkan kepada dosen mata kuliah yang bersangkutan.

Untuk jangka panjang, Prof. Jaka Sembiring mengimbau agar memperbarui mindset bahwa di masa depan, antara virtual dengan riil tidak akan bisa dibedakan. “Jadi, praktikum yang berbasis experience learning pada masa depan nantinya harus ditunjang dengan pembelajaran yang sifatnya virtual learning.”

Sehingga, sedikit demi sedikit ITB mendorong seluruh program studi untuk dapat mulai menciptakan modul-modul yang sifatnya virtual learning karena hal itulah yang nantinya akan menjadi norma baru di dunia akademik.

Reporter: Athira Syifa PS (Teknologi Pascapanen, 2019)

Diterbitkan di Berita
Anatasia Anjani - detikEdu Jakarta - Institut Teknologi Bandung (ITB) akan menjadi kampus cashless society dalam tiap transaksi keuangan. Hal tersebut merupakan program rencana induk pengembangan ITB tahun 2020-2025.

Program tersebut mencakup strategi untuk melakukan transformasi kelembagaan, kedua transformasi modal manusia, pendidikan 4.0, dan sistem inovasi budaya ilmiah unggul. Sehingga transfer dan komersialisasi ilmu di ITB bisa berjalan.

"Ada siklus yang dimulai dari perencanaan, program, melakukan penganggaran, eksekusi, dan monitoring. Close look harus terjadi di ITB. Kami mencoba mengupgrade sistem keuangan yang menjadi pemicu dari sistem-sistem lainnya," ujar Wakil Rektor Bidang Keuangan, Perencanaan, dan Pengembangan ITB Muhamad Abduh dalam ITB Talks di YouTube resmi ITB, Kamis (2/9/2021).

"Keuangan jangan menjadi rajanya tapi harus mendukung semua kegiatan-kegiatan yang ada di ITB. Salah satu yang ingin dicapai yaitu membuat cashless society di ITB," sambung Abduh.

Ia juga menyampaikan bahwa kampus cashless society dapat terjadi jika ada kerja sama antar kampus bank perbankan dan yang lainnya. Digitalisasi sistem di luar juga dapat mendukung tercapainya cashless society.

Berikut adalah penjelasan mengenai cashless society yang terdiri dari beberapa layanan:

1. Layanan Non Tunai bagi Mahasiswa

KTM tidak hanya ID mahasiswa melainkan sudah terintegrasi seperti tap cash, e-money, flazz, dan Brizzi. Melalui layanan ini mahasiswa dapat menggunakan pembayaran untuk lingkungan ITB seperti kantin, bayar parkir, maupun di luar seperti bayar tol.

KTM juga akan digunakan sebagai sistem presensi kuliah, akses masuk fasilitas ITB.

2. Layanan Non Tunai QR Code

QR Code telah digunakan di berbagai fasilitas di ITB seperti perpustakaan, klinik kesehatan, sarana olahraga, selain itu civitas ITB dapat melakukan transaksi non tunai dengan memindai QRIS di fasilitas pembayaran melalui uang elektronik dan dompet elektronik seperti link aja, gopay, ovo, mobile banking.

3. Layanan Non Tunai Kartu Kredit Korporasi

Untuk mendukung kegiatan kampus kartu ini disediakan oleh pimpinan fakultas, pimpinan unit kerja ITB. Layanan ini dapat digunakan untuk pembelian buku, langganan aplikasi, pendukung perjalanan dinas.

4. Layanan Non Tunai Kartu Virtual Akun Debit (VAD)

Layanan VAD terhubung dengan beberapa fakultas, sekolah, dan unit kerja di ITB. Dapat bertransaksi melalui ATM atau mesin EDC tempat melakukan transaksi keuangan. Selain itu juga dapat digunakan para dosen untuk penelitian. Para tenaga pendukung dalam belanja nasional harian kampus, para mahasiswa dalam melakukan agenda kampus seperti seminar, lomba, dan sebagainya.

5. Layanan Non Tunai Kartu Virtual Akun Kredit (VAK)

Rekening penampungan virtual yang dapat dikelola fakultas atau sekolah dan unit kerja di ITB. VAK dapat diatur untuk peserta seminar, kerjasama penelitian, dan lain-lain. Sehingga transaksi dapat dipantau secara realtime.

(atj/nwy)

Diterbitkan di Berita

KOMPAS.com - Dari 3.762 prodi di seluruh Indonesia yang terakreditasi nasional (BAN-PT) dengan peringkat A, hanya sekitar 10,5 persen terekognisi internasional.

Akreditasi internasional dilakukan lembaga akreditasi dari negara lain atas permintaan perguruan tinggi atau program studi untuk melakukan kaji ulang dan evaluasi terhadap kriteria/standar mutu program studi.

Melansir laman Institut Teknologi Bandung (ITB), ada tiga dimensi yang berhubungan dengan akreditasi internasional, yaitu standardisasi outcomes yang berhubungan dengan keunggulan proses pembelajaran, sistem, dan mekanisme penjaminan mutu prodi dan rekognisi internasional yang dapat digunakan untuk branding prodi.

Di era globalisasi, standardisasi outcomes (kemampuan lulusan) jadi penting agar lulusan dapat bersaing dengan lulusan prodi sejenis dari negara lain, baik untuk pekerjaan di dalam negeri maupun di luar negeri.

Outcomes based education adalah suatu keniscayaan agar prodi dapat menghasilkan lulusan yang dapat berkompetisi secara global dan prodi dapat membangun sistem penjaminan mutu yang terstruktur dan terukur.

Di atas semua itu, tentunya keberadaan prodi harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bangsa, dan negara, khususnya dalam rangka menyediakan sumber daya manusia unggul dan bermutu.

Berikut adalah daftar program studi di ITB yang terakreditasi internasional, merangkum laman ITB, Jumat (27/8/2021):

Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET)

  1. S-1 Teknik Elektro, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (2009-Present)
  2. S-1 Teknik Kelautan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB (2009-Present)
  3. S-1 Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri ITB (2010-Present) S-1 Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri ITB (2010-Present)
  4. S-1 Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (2012-Present)
  5. S-1 Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri ITB (2012-Present) S-1 Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB (2012-Present)
  6. S-1 Teknik Sipil, Fakultas Teknologi Sipil dan Lingkungan ITB (2013-Present)
  7. S-1 Teknik Perminyakan, Fakultas Teknik Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB (2013-Present)
  8. S-1 Teknik Pertambangan opsi Tambang Umum, Fakultas Teknik Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB (2015-Present)
  9. S-1 Manajemen Rekayasa, Fakultas Teknologi Industri ITB (2015-Present)
  10. S-1 Teknik Telekomunikasi, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (2016-Present)
  11. S-1 Teknik Tenaga Listrik, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (2016-Present)
  12. S-1 Sistem dan Teknologi Informasi, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB (2020-Present)

ASIIN e. V.

  1. S-1 Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB (2015-2021)
  2. S-1 Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB (2015-2021)
  3. S-1 Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB (2015-2021)
  4. S-1 Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (2020-2022)
  5. S-1 Mikrobiologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (2020-2022)
  6. S-1 Sains dan Teknologi Farmasi, Sekolah Farmasi ITB (2020-2022)
  7. S-1 Farmasi Klinik dan Komunitas, Sekolah Farmasi ITB (2020-2022)
  8. S-1 Teknik Mesin, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB (2016-2021)
  9. S-1 Teknik Dirgantara, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB (2016-2021)
  10. S-1 Teknik Material, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB (2016-2021)
  11. S-1 Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Perminyakan dan Pertambangan ITB (2016-2022)
  12. S-1 Teknik Geologi, Fakultas Teknologi dan Ilmu Kebumian ITB (2019-2024)
  13. S-1 Teknik Geodesi dan Geomatika, Fakultas Teknologi dan Ilmu Kebumian ITB (2019-2024)
  14. S-1 Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB (2019-2024)

Japan Accreditation Board for Engineering Education (JABEE)

  1. S-1 Teknik Metallurgi, Fakultas Teknik Perminyakan dan Pertambangan ITB (2016)

KAAB

  1. S-1 Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB (2016-Present),
  2. S-2 Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB (2016-Present)

Royal Society of Chemistry (RSC)

  1. S-1 Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB (2018), ABEST21
  2. S-1 Manajemen, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)
  3. S-1 Kewirausahaan, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)
  4. S-2 Sains Manajemen, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)
  5. S-2 Administrasi Bisnis, (kampus Bandung), Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)
  6. S-2 Administrasi Bisnis, (kampus Jakarta), Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)
  7. S-3 Sains Manajemen, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB (2018)

Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE)

  1. S-1 Rekayasa Hayati, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (2018-2023)
  2. S-1 Rekayasa Pertanian, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (2020-2026)



Penulis : Ayunda Pininta Kasih


Diterbitkan di Berita
Yudha Maulana - detikNews Bandung - Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda, pembaca, merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

 

Civitas akademia Institut Teknologi Bandung (ITB) berduka karena kabar meninggalnya mahasiswa S2 Teknik Sipil, berinisial AN pada Minggu (22/8/2021). Pakar kejiwaan dari RS Melinda 2 Bandung dr Teddy Hidayat mengungkap angka gejala depresi pada mahasiswa terbilang tinggi.

Hal itu berdasarkan Survey Ruang Empati yang bekerja sama dengan FK Unjani terhadap 1.800 mahasiswa dari seluruh Indonesia. Survey yang dilakukan secara daring dengan menggunakan instrumen DASS-21 dari Juni-Agustus 2021 itu muncul angka gejala depresi antara 47-50 persen.

"Kenaikkan angka depresi yang demikian tinggi dibandingkan awal pandemi yaitu 25 persen atau dengan angka Riskesdas Kemenkes RI 2018 yaitu 6,1 persen sudah dapat disebut sebagai krisis kesehatan mental," ujar Teddy dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (23/8/2021).

 Teddy mengatakan kondisi kesehatan mental dan emosional mahasiswa ini memerlukan tanggung jawab dari perguruan tinggi terhadap keamanan dan keselamatan mahasiswanya selama menjalani studi, minimal tersedianya layanan Mental Health First Aid (MHFA) atau pertolongan pertama pada krisis mental dan pencegahan bunuh diri.

"Bila ada mahasiswa yang membutuhkan bantuan dapat segera dengan mudah mendapatkan pertolongan. Bunuh diri seharusnya dapat dicegah yaitu dengan memberi pertolongan. Kemampuan seseorang dalam mendeteksi tanda-tanda peringatan bunuh diri pada individu sangat penting untuk memulai pertolongan pertama bunuh diri," ujar Teddy.

Teddy menjelaskan, dari pengalaman klinik umumnya pasien depresi datang ke klinik sudah dalam kondisi parah. 40 persen mempunyai ide bunuh diri dan 15 persen mencoba melakukannya. Walau demikian, ujar Teddy, bunuh diri bukanlah suatu kelemahan atau karakter tapi suatu penyakit yang dapat dicegah dan diobati.

"Banyak mahasiswa depresi setelah menjalani terapi optimal dapat menyelesaikan studinya dengan baik, ada beberapa mencapai prestasi akademis 'cum laude' dan bahkan mendapat penghargaan internasional," ujarnya.

"Fakta menunjukkan meskipun banyak Perguruan Tinggi memiliki fasilitas layanan seperti Klinik Kampus atau Bimbingan Konseling, namun umumnya masih mengalami kesulitan dalam menentukan diagnosa dan memberi terapi awal gangguan jiwa, sehingga tidak terdeteksi, tidak diobati, menjadi kronis akhirnya meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Dalam studi prestasi akademis menurun, prestasi akademis rendah, studi terlambat dari yang seharusnya dan terancam drop out," kata Teddy.

Saran Pakar Kejiwaan

Teddy mengatakan, jika ada seseorang yang berbicara tentang keinginan mengakhiri hidup atau mengancam akan mencelakai atau bunuh diri; menulis tentang kematian atau ide bunuh diri, sebaiknya segera menghubungi rumah sakit atau profesional.

"Bunuh diri adalah masalah kemanusiaan yang serius, setiap 40 detik satu orang meninggal karena tindakan bunuh diri (WHO). Angka bunuh diri dengan risiko kematian lebih tinggi terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan," katanya.

Seperti diketahui AN merupakan mahasiswa S2 yang masuk pada tahun 2018. Ia ditemukan menggantung tak bernyawa di sekitar indekosnya yang berada di Jl Cisitu Lama Indah, Bandung.

Berkaca dari kasus meninggalnya AN, Teddy mengatakan kolega terdekat atau siapapun yang mengetahui kondisi psikis korban wajib untuk memberikan pertolongan.

"Karena tidak ada seorangpun yang datang memberi bantuan akhirnya pelaku melakukannya. Setelah peristiwa ini perlu upaya pencegahan dan pengawasan baik dari keluarga atau kampus, karena tidak jarang kasus bunuh diri akan memicu kasus-kasus lainnya, terutama pada kelompok rentan," ujar Teddy.

Ia pun menyarankan sejumlah cara atau pendekatan kepada korban yang rentan melakukan bunuh diri, yaitu :

1. Jangan tinggalkan klien seorang sendiri, tempatkan di tempat yang aman, singkirkan benda yang berpotensi untuk mencelakai diri
2. Dengarkan dan dengarkan, jangan cepat memberi nasihat
3. Berikan empati yaitu memahami pasien, tanyakan apa yang dirasakan dan alasan ingin mengakhiri hidup
4. Jangan menyalahkan atau membandingkan
5. Bantu dan dampingi untuk mendapatkan pelayanan tenaga ahli

(yum/mso)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Serial webinar Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) bertajuk Geologi ITB Menyapa hadir kembali dengan episode baru.

Pada episode ke-17, Teknik Geologi ITB berbagi ilmu dengan masyarakat tentang “Penggunaan Metode Eksplorasi Geologi dan Geofisika di Industri Migas/Geotermal”.

Mereka mengundang Dr. Eng. Ir. Prihadi Sumintadireja, MS., yang merupakan dosen kelompok keahlian Geologi Terapan, pada Sabtu (7/8/2021).

Geologi ITB Menyapa juga membuka donasi untuk bencana yang terkait dengan kebumian. Acara berlangsung secara virtual melalui Zoom dan disiarkan melalui kanal YouYube Prodi Teknik Geologi ITB.

Webinar sendiri dibuka dengan sambutan Agus Mochammad Ramdhan, Ph.D. yang menjelaskan hubungan antara geologi dan geofisika dalam metode eksplorasi.

Metode geofisika, katanya, sangat berguna untuk mengover survei dalam area yang cukup luas dan mampu menembus kedalaman yang mungkin belum bisa ditembus teknologi pemboran saat ini. Hal ini erat kaitannya dengan geologi karena dapat memberikan bukti interpretasi geologi dalam cakupan yang luas dan sangat dalam.

Pada sesi pemaparan materi, Dr. Prihadi Soemintadireja kemudian menjelaskan tahapan dalam studi eksplorasi. Menurutnya, terdapat tiga hal penting ketika melakukan eksplorasi, di antaranya pengambilan data, pengolahan data, dan interpretasi data.

Tahapan Eksplorasi

Dalam melakukan pengambilan data, rencana kerja harus disusun berdasarkan tujuan atau kerap disebut kerangka acuan penyelidikan eksplorasi Geologi dan Geofisika yang sudah disepakati oleh manajemen perusahaan.

Pada pengolahan data harus menggunakan strategi dan teknologi meliputi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang sudah disepakati berdasarkan kerangka acuan atau menyamakan referensi.

Lalu, hasil studi yang telah dilakukan dipresentasikan dan ditulis dalam bentuk laporan. Berdasarkan pengalaman Pri, sapaan akrab Dr. Prihadi, dalam eksplorasi seringkali mengalami data dengan hasil berbeda.

Menurutnya, hal ini sangat tergantung dari pengolahan dan interpretasi data yang melakukan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman konsep geologi untuk mendapatkan hasil yang akurat.

 

Grafik di atas menunjukan tahapan eksplorasi ditinjau dari risiko dan biaya kumulatif yang dikeluarkan. Pri menjelaskan, survei awal yang paling berperan dan standar dalam metode eksplorasi migas adalah geologi permukaan dan penginderaan jarak jauh. Metode itu memiliki risiko kesalahan sangat tinggi. Apabila salah di awal, maka proses selanjutnya tidak akan berarti dan menyebabkan kerugian.

 

Selanjutnya, prastudi kelayakan mulai mengalami penurunan, tetapi masih tergolong tinggi karena dilakukan analisis berdasarkan data asumsi.

Pada studi kelayakan grafik risiko proyek sudah melandai karena sudah menggunakan data keteknikan yang diukur, tetapi grafik biaya kumulatif meningkat drastis karena memerlukan biaya yang sangat tinggi sampai pascaoperasi.

Metode Geologi dan Geofisika yang Digunakan dalam Eksplorasi

Pri menjelaskan metode-metode yang sering digunakan dalam eksplorasi Geologi dan Geofisika. Metode geologi yang utama digunakan, di antaranya petrologi, stratigrafi, sedimentologi, dan struktur geologi.

Sedangkan metode geofisika yang paling canggih digunakan dalam industri migas, di antaranya seismik refleksi dan magnetotelluric untuk geotermal.

Magnetotelluric (MT) sering digunakan karena kedalaman penetrasinya. Control source audio magnetotelluric, ungkap Pri, bisa sampai 3—4 kilometer ke bawah permukaan.

Dengan menggunakan sumber medan elektromagnetik di alam, yakni petir dan sinar matahari, MT biasanya dipasang 24 jam nonstop untuk mengukur sinyal-sinyal yang dipancarkan dari alam.

Magnetotelluric buatan atau CSAMT bahkan bisa lebih dalam lagi karena menggunakan dinamit dan diberi arus. Kedalaman penetrasinya dapat mencapai 1200 meter ke bawah permukaan.

Sedangkan dalam melakukan metode seismik refleksi dan CSAMT, hasil yang diperoleh selalu diproses kembali dengan metode geologi struktur untuk memperjelas gambaran atau refleksinya.

Terlebih jika dilakukan pada permukaan yang terdapat batuan vulkanik dan/atau batuan karbonat, energi dinamit yang diledakan akan terserap sehingga informasi penetrasi yang didapat dari data seismik tidak akan terlihat dengan baik.

“Data tidak akan pernah cukup dan memuaskan, tetapi kita bisa mengoptimalkan data yang ada dan batasi masalah,” ujar Pri pada akhir presentasinya.

Reporter: Pravito Septadenova Dwi Ananta (Teknik Geologi, 2019)

Diterbitkan di Berita