BANDUNG, itb.ac.id--Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Sidang Terbuka Peringatan 101 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) sekaligus penganugerahan Doktor Kehormatan kepada tiga tokoh nasional, Sabtu (3/7/2021), di Aula Barat ITB. Pemberian gelar Honoris Causa (HC) tersebut dilakukan secara virtual.

Anugerah Doktor HC diberikan ITB kepada Musisi Raden Muhamad Samsudin Dajat Hardjakusumah (atau yang akrab dengan nama Sam Bimbo), seniman Nyoman Nuarta, dan tokoh nasional Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro.

Sam Bimbo menerima Doktor HC dalam bidang Seni dan Religiusitas. Kandidat diberi gelar kehormatan karena memiliki prestasi dan reputasi tinggi dalam pengembangan karya seni lukis dan seni musik melalui pendekatan berbasis religi.

 

 

Ketua Tim Promotor Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA menyampaikan, karya nyata pelantun tembang “Sajadah Panjang” itu mengandung nilai inovatif terbukti dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, perkembangan nilai keagamaan, kebudayaan bangsa dan kemanusiaan; ilmu pengetahuan (sains), teknologi dan seni.

 

 

Adapun tim promotor pada pemberian Gelar Kehormatan kepada Sam Simbo adalah sebagai berikut:
1. Prof. Dr. Dody Abdasah, M.Sc., Ph.D.
2. Prof. Dr. M. Salman A. N.
3. Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang, M.A.
4. Dr. Imam Santosa, M.Sn.
5. Dr. Tisna Sanjaya, M.Sc.

Nyoman Nuarta menerima gelar Doktor HC sebagai tokoh Culturepreneur dalam Bidang Ilmu Seni Rupa (Patung) atas inovasi yang telah dilakukan dalam pengembangan seni patungnya, antara lain pendekatan baru dalam bahasa bentuk realis-figuratif. Berbagai kepeloporan Nyoman Nuarta telah menginspirasi dan mendorong semangat entrepreneurship seni guna menjadi penggerak dalam mencapai kemandirian ekonomi Indonesia melalui pemberdayaan intellectual capital kekayaan identitas seni-budaya nasional. Beliau terkenal dengan karya monumentalnya patung “Garuda Wisnu Kencana”.

Ketua Tim Promotor Prof. Dr. Setiawan Sabana, MFA menyampaikan, pemikiran Nyoman Nuarta dan pengembangan konsep-konsepnya yang orisinil serta mendasar terbukti bermanfaat bagi masyarakat, perkembangan kebudayaan bangsa dan kemanusiaan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni.

 

 

“Nyoman Nuarta telah membuat ITB semakin bangga akan kekuatan keberagaman para alumni ITB dalam menjaga dan membesarkan kehormatan ITB. Berdasarkan berbagai pertimbangan yang komprehensif tersebut itu, Nyoman Nuarta sangat layak untuk mendapatkan gelar Doktor Kehormatan dari Institut Teknologi Bandung,” ungkapnya dalam laporan pertanggungjawaban Tim Promotor ITB.

Adapun tim promotor pada pemberian Gelar Kehormatan kepada Nyoman Nuarta adalah sebagai berikut:
1. Prof. Dr. Widiadnyana Merati (FTSL - ITB)
2. Prof. Dr. Rochim Suratman (FTMD - ITB, wafat Kamis, 9 April tahun 2020)
3. Prof. Dr. Ir. Yahdi Zaim (FITB - ITB, Ketua Pansus Pemberian gelar Doktor kehormatan kepada Nyoman Nuarta)
4. Prof. Dr. Dermawan Wibisono (SBM - ITB)
5. Dr. Yannes Martinus Pasaribu, M.Sn. (FSRD - ITB)
6. Dr. Andriyanto Rikrik Kumara, S.Sn., M.Sn. (Dekan FSRD - ITB)

Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D. dianugerahi Doktor HC atas gagasan dan inovasinya yang mampu menunjukan keilmuan Perencanaan Pengembangan Wilayah dan Kota dapat berkontribusi nyata dan berjalan selaras dengan praktik pembangunan nasional dan regional di Indonesia.

Ketua Tim Promotor Prof. Tommy Firman, Ph.D. menyampaikan, Prof. Bambang Permadi telah mengabdikan karirnya untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan pengelolaan pembangunan serta berkontribusi yang signifikan tidak hanya bagi kemajuan keilmuan Pengembangan Wilayah dan Kota saja, tetapi kepada pembangunan nasional dan kemasyarakatan secara luas.

 

 

“Berdasarkan Scholarship (Kesarjanaan), Leadership (Kepemimpinan), Achievement (Capaian) serta Kontribusi (Jasa) yang signifikan bagi kemajuan (advancement) keilmuan Pengembangan Wilayah dan Kota, yang bersifat multidisiplin, maupun pembangunan nasional pada umumnya serta ketentuan penerima gelar Doktor Kehormatan yang tercantum dalam SK Senat Akademik ITB nomor 43/ SK/K01-SA/2003, Tim Promotor berkesimpulan, dengan penuh keyakinan, bahwa Prof. Bambang Brodjonegoro sangat layak untuk mendapat gelar Doktor Kehormatan dari ITB dalam bidang Pengembangan Wilayah dan Kota (Regional and Urban Development),” jelasnya dalam laporan pertanggungjawaban Tim Promotor ITB.

 

 

Prof. Tommy Firman, Ph.D. juga menambahkan harapannya dan tim promotor kepada Prof. Bambang Brodjonegoro agar dapat terus mengembangkan dan melakukan inovasi dalam Perencanaan Pengembangan Wilayah dan Kota untuk menghadapi tantangan global dan nasional di masa yang akan datang.

Adapun tim promotor pada pemberian Gelar Kehormatan kepada Prof. Bambang Brodjonegoro adalah sebagai berikut:
1. Prof. Indra Djati Sidi, Ph.D. (FTSL - ITB)
2. Prof. Dr. Sudarso Kaderi Wiryono (SBM - ITB)
3. Prof. Dr. Pradono (SAPPK - ITB)

Reporter: Pravito Septadenova Dwi Ananta (Teknik Geologi, 2019)

 

Diterbitkan di Berita
Puti Yasmin - detikEdu Jakarta - Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menjalin kerja sama dalam program Merdeka Belajar. Nantinya, mahasiswa dari Unpad bisa mengambil mata kuliah dan terdaftar sebagai mahasiswa non reguler di ITB.

Dikutip dari Instagram resmi Unpad, program ini akan dilaksankan pada semester depan atau semester I 2021/2022. Namun, belum diketahui mata kuliah apa yang akan dibuka bersama.

"Pada semester I tahun akademik 2021/2022, Unpad dan ITB akan mengadakan kerjasama dalam program Kampus Merdeka - Merdeka Belajar," bunyi keterangan tersebut dikutip detikEdu, Jumat (24/6/2021).

Dihubungi detikEdu, Kepala Kantor Humas Unpad Dandi Supriadi juga membenarkan hal tersebut. Dijelaskan, program ini juga berlaku sebaliknya, di mana mahasiswa ITB juga bisa belajar di Unpad melalui program Merdeka Belajar.

"Ya, info tersebut benar. Ini bukan sekadar Unpad ingin ikut kuliah di ITB, tapi ITB juga pengen kuliah di Unpad. Ini program bersama. ITB juga bisa belajar di Unpad," terang dia.

Diketahui, mahasiswa Unpad juga akan mendapatkan berbagai manfaat dalam kerja sama antar dua kampus. Mulai dari belajar mata kuliah di ITB hingga berkesempatan memiliki relasi baru.

Manfaat Kerja sama Merdeka Belajar Unpad dan ITB

1. Mahasiswa Unpad dapat mengambil mata kuliah yang diselenggarakan oleh Dosen ITB

2. Terdapat pilihan mata kuliah dengan kelas bersama mahasiswa ITB

3. Mahasiswa Unpad akan terdaftar sebagai mahasiswa ITB non-reguler

4. Peluang membangun interaksi, relasi, dan kolaborasi dengan mahasiswa ITB

Bagaimana detikers, tertarik ikut program Merdeka Belajar Unpad x ITB nggak nih?

(pay/pal)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id--Dalam rangka memperingati 101 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) pada 3 Juli 2021 nanti, Institut Teknologi Bandung (ITB) akan menyelenggarakan beberapa rangkaian acara secara virtual dari mulai tanggal 1-4 Juli 2021.

Rangkaian acara tersebut meliputi seminar virtual dengan tema "ITB untuk Transformasi Digital Indonesia" pada 1 Juli 2021, pameran virtual exhibition pada 1-4 Juli 2021 dilanjutkan dengan Pagelaran Musik dan Budaya tanggal 3 Juli 2021, dan acara puncaknya yaitu Sidang Terbuka 101 Tahun PTTI di Aula Barat ITB pada 3 Juli 2021, serta ditutup oleh ITB 101 Virtual Run pada 4 Juli 2021.

Koordinator pelaksanaan kegiatan 101 Tahun ITB dan PTTI (P101) Dr. Naomi Haswanto, M.Sn. mengatakan, pada sidang terbuka tersebut, ITB akan memberikan gelar kehormatan (Doctor Honoris Causa) kepada Musisi Raden Muhamad Samsudin Dajat Hardjakusumah (atau yang akrab dengan nama Sam Bimbo), seniman Nyoman Nuarta, dan tokoh nasional Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro.

Pemberian gelar Doktor Kehormatan tersebut diberikan kepada seseorang yang dinilai telah menunjukkan karya nyata yang mengandung nilai inovatif dalam pemikiran, gagasan atau penelitian, dan pengembangan konsep-konsep orisinal yang terbukti bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat, perkembangan kebudayaan bangsa dan kemanusian, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Untuk Raden Muhamad Samsudin Dajat Hardjakusumah (atau Sam Bimbo) menerima Doktor HC dalam bidang Seni dan Religiositas. Nyoman Nuarta menerima gelar Doktor HC sebagai tokoh Culturepreneur dalam Bidang Ilmu Seni Rupa (Patung). Dan Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D. menerima Doktor HC dalam bidang Pengembangan Wilayah dan Kota (Regional and Urban Development).

Sementara itu, Pengarah kegiatan P101, Prof. Dr. Ir. B. Kombaitan menambahkan, seminar virtual dengan tema "ITB untuk Transformasi Digital Indonesia” akan mengangkat dua tema besar. Pertama yaitu Konsepsi dan Arahan dengan sambutan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim, dan pembicara kunci yaitu Menteri PPN/Bappenas Dr. Ir. Suharso Monoarfa, Menkominfo Johnny G. Plate, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Laksana Tri Handoko, dan dimoderatori oleh Prof. I Gede Wenten.

 

Tema kedua yaitu "Implementasi Transformasi Digital Indonesia”. Pembicara utamanya adalah Sekjen Kementerian Dalam Negeri Dr. Muhammad Hudori, Kepala LPIK ITB Dr. Sigit P. Santosa, Direktur Penataan Sumber Daya Ditjen SDPPI Kemenkominfo, Direktur Utama Telkomsel Hendri Mulya Syam, dan Moderator Kepala Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi ITB Dr. Ary Setiadi.

 

Adapun untuk virtual exhibition P101 akan menghadirkan 220 karya riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat dari dosen ITB yang dikelompokkan dalam 12 tema yang dilaksanakan selama 4 hari, 1-4 Juli 2021.

 

Acara Pagelaran Seni dan Budaya yang akan dilaksanakan pada malam hari, di hari yang sama dengan prosesi sidang terbuka, 3 Juli 2021, melengkapi meriahnya kegiatan P101. Acara ini bertajuk The Craddle of Civilization. Pada acara ini akan dibahas mengenai beberapa isu yang diselingi oleh penampilan musisi-musisi yang merupakan alumni ITB.

 

 

ITB 101 Virtual Run merupakan penutup rangkaian acara P101. Virtual run cukup populer dikalangan komunitas pelari. Intinya masing masing peserta yang tergabung dalam tim berlari di tempat masing dan melaporkan melalui aplikasi tertentu, total raihan tim sejauh 101 KM.

Informasi lebih lanjut mengenai acara-acara P101 dapat diikuti melalui website dan media sosial resmi ITB.

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id--Permintaan akan kendaraan otonom semakin meningkat dari waktu ke waktu. Global Market Model memperkirakan bahwa pasar mobil otonom global akan meningkat sebesar 16,84% pada tahun 2023.

Selain itu, Presiden Joko Widodo mengharapkan autonomous system bisa diterapkan di semua lini di Ibu Kota Negara baru. Hal ini tentu mendorong adanya riset dan pengembangan kendaraan otonom di dalam negeri.

Kelompok Keahlian (KK) Instrumentasi dan Kontrol Fakultas Teknologi Industri ITB membagikan perkembangan penelitian autonomous vehicles (AV) di Indonesia pada virtual workshop yang diadakan pada Senin (31/5/2021).

Workshop yang mengusung tema “Artificial Intelligence Applications in Autonomous Vehicles Research” ini diisi oleh Ketua KK Instrumentasi dan Kontrol Prof. Dr.-Ing. Yul Yunazwin Nazaruddin dan Augie Widyotriatmo, S.T., M.T., Ph.D.

Kedua pembicara merupakan anggota tim Kementerian Perhubungan RI yang sedang merancang kajian mengenai penggunaan kendaraan listrik otonom di Ibu Kota Negara baru.

Prof. Yul memperkenalkan profil dari KK Instrumentasi dan Kontrol yang juga merambah bidang teknologi terkini seperti Artificial Intelligence (AI) yang memuat Machine Leaning dan Deep Learning.

“Pada awalnya itu adalah bagian dari computer science yang mengembangkan intelligent machine yang diharapkan bisa berperilaku seperti manusia, berpikir seperti manusia, kemudian juga bisa membuat keputusan; jadi bagaimana kita bisa menggantikan manusia dengan mesin,” jelasnya tentang AI.

 

Penerapan AI dan Perkembangan Penelitian

 

AI dalam kendaraan otonom memerlukan banyak sekali teknologi, prediksi, sensor, kontrol, dan lainnya. Beberapa aktivitas riset dalam AV yang telah dilakukan oleh KK Instrumentasi dan Kontrol, dijelaskan Augie Widyotriatmo yaitu:

1. mengembangkan autonomous car untuk trajectory tracking menggunakan pendekatan Machine Learning,
2. merancang autonomous car dengan pengenalan objek dan deteksi jalur tingkat lanjut dengan Deep Learning,
3. merancang autonomous bus dengan pengenalan objek berbasis CNN (deteksi) dan kontrol mengikuti jalur menggunakan Lyapunov stability, dan
4. beberapa eksperimen lainnya.

Augie menambahkan, penerapan AI dalam kendaraan otonom dapat dilakukan untuk pengenalan citra, kontrol gerak, pencegahan tabrakan, perilaku sosial, hingga pengambilan keputusan.

Ia mengungkapkan timnya menggunakan gabungan Hukum Fisika dengan AI untuk membangun kontrol gerak.

Tidak menggabungkan langsung, melainkan melakukan penurunan model, merancang dan menguji kestabilan sistem, mensimulasikannya, lalu melibatkan AI dalam pengoptimalannya.

Apakah AV dapat diimplementasikan di Indonesia?

 

 

Indonesia memiliki jalan tol yang sangat panjang. Masyarakat dapat menggunakan kendaraan otonom di jalan bebas hambatan untuk merasakan fungsinya secara penuh. Selain itu, kita dapat mengembangkan autonomous bus yang potensial untuk digunakan di Ibu Kota Negara.

“Sebagai Bangsa Indonesia, seharusnya kita aware dengan ini. Jangan sampai kita hanya menggunakan teknologinya saja, tetapi kita juga bisa menangkap peluang autonomous vehicles ini untuk berkontribusi dalam mengembangkan teknologi di bidang transportasi,” pesan Augie sekaligus mengakhiri pemaparannya.

Reporter: Ristania Putri Wahyudi (Matematika, 2019)

Diterbitkan di Berita
Puti Yasmin - detikEdu Jakarta - Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi salah satu PTN terbaik di Indonesia. Tak heran, banyak jurusan yang diincar peserta dalam UTBK SBMPTN 2021.
Namun, juga ada jurusan yang sepi peminat. Bagaimana datanya? Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB Naomi Haswanto mengatakan ITB menerima 1.581 mahasiswa pada seleksi SBMPTN 2021.
Angka tersebut merupakan 7,8% dari jumlah peminat yang mencapai 20.184 orang.
 
"Jumlah 1.581 tersebut merupakan 7,8% dari total 20.184 peminat yang mendaftar ke ITB melalui jalur SBMPTN," ungkap dia.
 

10 Jurusan ITB Paling Diminati di UTBK SBMPTN 2021

  • 1. Sekolah Teknologi Elektro & Informatika

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 3.436
Jumlah Diterima: 190

  • 2. Sekolah Bisnis dan Manajemen

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 2.453
Jumlah Diterima: 72

  • 3. Fakultas Teknik Pertambangan & Perminyakan - Kampus Ganesha

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 1.781
Jumlah Diterima: 114

  • 4. Fakultas Senirupa dan Desain - Kampus Ganesha

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 1.677
Jumlah Diterima: 102

  • 5. Fakultas Teknik Mesin & Dirgantara

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 1.282
Jumlah Diterima: 93

  • 6. Sekolah Arsitektur, Perencanaan, Pengembangan Kebijakan - Kampus Ganesha

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 1.265
Jumlah Diterima: 54

  • 7. Fakultas Teknik Sipil & Lingkungan - Kampus Ganesha

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 1.235
Jumlah Diterima: 107

  • 8. Fakultas Teknologi Industri - Kampus Ganesha

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 1.207
Jumlah Diterima: 112

  • 9. Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 1.058
Jumlah Diterima: 163

  • 10. Sekolah Farmasi

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 855
Jumlah Diterima: 50

10 Jurusan ITB Paling Sepi Peminat di UTBK SBMPTN 2021

  • 1.Fakultas Senirupa dan Desain - Kampus Cirebon

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 132
Jumlah Diterima: 40

  • 2. Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian - Kampus Cirebon

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 169
Jumlah Diterima: 27

  • 3. Sekolah Ilmu & Teknologi Hayati - Program Sains

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 305
Jumlah Diterima: 36

  • 4. Fakultas Teknologi Industri - Kampus Jatinangor

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 324
Jumlah Diterima: 32

  • 5. Sekolah Arsitektur, Perencanaan, Pengembangan Kebijakan - Kampus Cirebon

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 330
Jumlah Diterima: 26

  • 6. Fakultas Teknologi Industri - Kampus Cirebon

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 401
Jumlah Diterima: 32

  • 7. Fakultas Teknik Sipil & Lingkungan - Kampus Jatinangor

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 423
Jumlah Diterima: 30

  • 8. Sekolah Ilmu & Teknologi Hayati - Program Rekayasa

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 545
Jumlah Diterima: 120

  • 9. Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian - Kampus Ganesha

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 599
Jumlah Diterima: 104

  • 10. Fakultas Teknik Pertambangan & Perminyakan - Kampus Cirebon

Total Peminat UTBK SBMPTN 2021: 707
Jumlah Diterima: 77

Bagaimana detikers, adakah salah satunya jurusan kamu di UTBK SBMPTN 2021?
(pay/pal)

Diterbitkan di Berita

 sindonews.com BANDUNG - Sekitar 740 alumni Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) bakal turut serta mengampanyekan industri kimia hijau melalui event Run and Ride selama satu bulan pada 5 Juni hingga 4 Juli 2021 mendatang.

Ketua panitia peringatan 80 tahun Pendidikan Tinggi Teknik Kimia di Indonesia (PTTKI) Tirto Prakoso mengatakan, para alumni tersebut akan mengampanyekan industri kimia hijau sambil olahraga yakni bersepeda dan lari.  

"Untuk lari diikuti 437 peserta, sepeda 303," katanya di Bandung, Minggu (6/6/2021). Program ini diharapkan semakin meningkatkan kesadaran pelaku industri yang berkaitan dengan kimia agar lebih memahami pentingnya menerapkan industri kimia hijau dan berkelanjutkan.

Pihaknya berharap ke depan semakin banyak industri kimia yang menganut asas berkelanjutan, tak merusak lingkungan, hemat energi, dan menjadi industri yang hijau.

"Kita punya nilai tambah, yakni mampu membuat produk pengganti impor, industri dari hulu ke hilir, dan berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan agar lebih mandiri," katanya.

Dia menambahkan, dalam peringatan 80 tahun PTTKI ini, pihaknya menyusun tiga program yakni teknik kimia untuk bangsa, teknik kimia untuk program studi, dan teknik kimia untuk alumni teknik kimia ITB .

Melalui program teknik kimia untuk bangsa, pihaknya akan memberikan penghargaan bagi industri yang sudah menerapkan industri kimia hijau dan berkelanjutan. "Kami akan menilai industri mana yang sudah ke arah industri berkelanjutan, industri hijau," katanya.

Selain itu, akan dilakukan juga sosialisasi dan pelatihan-pelatihan terkait solusi industri kimia hijau. "Kami juga akan membahas cara mengurangi impor bahan kimia yang sangat besar. Karena sekarang 90% lebih bahan kimia yang digunakan itu masih impor," ujarnya.

Adapun terkait program teknik kimia untuk program studi di kampus, pihaknya mempertemukan antara peneliti di kampus dengan berbagai industri. Melalui cara itu, dia berharap semakin banyak hasil penelitian khususnya terkait industri kimia hijau dan berkelanjutan yang digunakan industri.

"Menjadikan hasil penelitian di teknik kimia ITB menjadi sebuah karya nyata yang bermanfaat untuk masyarakat, dan juga pada akhirnya bisa menunjang inovasi-inovasi lainnya," kata dia. 

Di tempat yang sama, ketua panitia Cheers Run and Ride, Susan, mengatakan, meski bersifat hiburan dan bertujuan sosialisasi industri kimia hijau dan berkelanjutan, acara inipun merupakan ajang kompetisi bagi para pecinta olahraga tersebut.

"Cheers Run and Ride ini bagian dari program teknik kimia untuk alumni teknik kimia ITB," katanya. Kompetisi virtual ini terbagi ke dalam dua kategori yakni yang paling cepat menempuh jarak 40 km (lari) dan 80 km (sepeda), serta yang paling jauh jaraknya selama periode 5 Juni-4 Juli.

Setiap peserta dibagi ke dalam tiga kategori usua yakni 15-35, 36-55, dan 56-77. Masing-masing peserta bisa mengikuti kompetisi terpisah sehingga tidak harus dalam satu arena yang sama, terlebih mengingat kondisi saat ini yang masih pandemi virus korona.

"Jadi masing-masing peserta akan menggunakan aplikasi. Jadi di situ tercatat semua aktivitas lari atau sepeda. Jadi tidak perlu khawatir, jarak dan waktunya tercatat akurat," katanya.

(don)
Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id--Dosen-dosen di Teknik Fisika ITB telah membuat perangkat perangkat pencitraan pada dunia kesehatan. Teknologi ini bernama “Thermal Imaging”. Penelitian ini dilaksanakan oleh Dr. Suprijanto, S.T, M.T., Naila Zahra, S.T, M.T., dan Tri Untoro, S.T, M.T.

Pada teknologi ini terdapat komponen bernama thermal microbolometer. “Thermal microbolometer mendeteksi radiasi inframerah di tubuh kita untuk dianalisis citranya,” ujar Dosen KK Instrumentasi dan Kontrol Teknik Fisika ITB, Dr. Vebi Nadhira, S.T, M.T., dalam webinar “Manfaat Perangkat Pencitraan Pada Dunia Kesehatan”, Selasa (25/5/2021).

Selain thermal imaging, para staf pengajar Teknik Fisika ITB juga melaksanakan riset yang membuahkan hasil berupa alat dan teknologi untuk pencitraan yaitu tomografi optik, deteksi perubahan warna pada gigi, pengujian penyebaran cairan pada masker, pendeteksi kelembaban kulit, deteksi awal penyakit kuning pada bayi, dan pemetaan posisi jarum pada citra USG. Pada pemaparan materi ini, deteksi awal penyakit kuning pada bayi dan pemetaan posisi jarum pada citra USG menjadi hasil penelitian yang paling rinci pembahasannya.

Salah satu hasil penelitian tentang pencitraan pada kesehatan untuk screening adalah pemetaan posisi jarum pada citra USG. ini dilaksanakan juga oleh beberapa sivitas akademika Teknik Fisika ITB yaitu beberapa mahasiswa dan dosen. Dosen Teknik Fisika ITB yang terlibat pada penelitian ini adalah Dr. Suprijanto, S.T, M.T. dan Guru Besar KK Instrumentasi dan Kontrol Teknik Fisika ITB, Prof. Dr. Eng. Ir. Deddy Kurniadi, M.Eng.

“Riset ini dilatarbelakangi oleh pelaksanaan USG yang sering kali menggunakan jarum untuk melakukan pencitraan. Namun, ketika USG dilakukan, jarum yang dimasukkan tersebut sering tak terlihat. Riset ini dilakukan untuk menemukan teknologi yang dapat membuat jarum pada USG dapat terlihat dengan jelas,” ujar Vebi.

Selain itu, salah satu rumus matematis yang digunakan pada penelitian ini adalah linear derivative. Linear derivative berfungsi untuk mengestimasi atau menentukan area posisi jarum yang dimasukkan ketika melakukan USG.

 

 

Sementara itu, salah satu hasil penelitian tentang pencitraan pada kesehatan untuk identifikasi penyakit atau diagnosis awal adalah deteksi awal penyakit kuning pada bayi. Penelitian ini juga dilaksanakan oleh beberapa mahasiswa dan beberapa dosen Teknik Fisika, di antaranya adalah Dr. Ir. Eko Mursito Budi, M.T., Dr. Ir. Endang Juliastuti, M.S., dan Naila Zahra, S.T., M.T. Metode yang dipakai pada penelitian ini bernama Metode Kramer. “Sebelum ke dokter, dengan metode kramer kita bisa melakukan pencitraan untuk mendeteksi penyakit kuning pada bayi,” ujar Vebi.

Data sampel untuk penelitian ini didapat dengan cara mengambil 10 buah citra pada 49 pasien bayi. Untuk mengambil citra yang diperlukan, digunakan kamera yang diberi jarak 50 - 60 cm di atas bayi dan juga kartu warna berjarak 5 - 10 cm di samping perut bayi. Setelah mendapatkan citra mentah, dilakukanlah proses pemfilteran lalu koreksi warna. Setelah itu, dilakukan juga segmentasi kulit melalui konversi ke ruang warna lab, lalu beralih ke konversi ke ruang spesifik, akuisisi data statistik warna kulit sampel, dan terakhir dilakukanlah estimasi dengan regresi linear.

Reporter : Yoel Enrico Meiliano (TPB FTI 2020)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id--Berkembangnya industri manufaktur di Indonesia perlu didukung oleh industri mesin perkakas yang kuat.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan industri mesin perkakas nasional yang akan menyokong industri manufaktur ini, telah dilakukan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Republik Korea dalam mengembangkan kemampuan membangun mesin perkakas di Indonesia.

Pengembangan mesin perkakas ini akan dilakukan di Pusat Pengembangan Teknologi dan Industri, di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), Institut Teknologi Bandung.

Pada Jumat (28/5), Dekan FTMD Prof. Tatacipta Dirgantara dan Jung Young Doo dari CAMTIC (Advance Mechatronics Technology Institute for Commerciallization) secara resmi memulai program kerja sama peningkatan pengembangan mesin perkakas.

Acara yang dilaksanakan di Perpustakaan FTMD ini juga disaksikan oleh Chung Keun Yong, Atase Komersial dari Kedutaan Republik Korea (Korea Selatan) untuk Indonesia, Bae Gun Yeol, Direktur KITECH (Korea Institute of Industrial Engineering), Bok Dug Gyou, Direktur KOTRA (Korea Trade Investment Promotion Agency), Azhar Fitri, Direktur Akses Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional (Direktoral Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian), berserta jajaran dari Direktorat ADIPI dan Sekretariat DITJEN KPAII, serta DITJEN ILMATE (Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika).

 

Dalam sambutannya, Prof. Tatacipta mengatakan bahwa rencana pendirian sebuah pusat pengembangan mesin perkakas sudah dimulai semenjak 10 tahun silam sebagai salah satu bentuk kepedulian ITB terutama dosen-dosen FTMD untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas industri manufaktur di Indonesia yang semakin meningkat tiap tahunnya.

Menurutnya, tanpa adanya kemampuan untuk mengembangkan mesin perkakas mandiri maka kemajuan industri-industri manufaktur dalam bidang apapun akan terhambat karena mesin perkakas adalah inti dari teknologi yang digunakan pada industri manufaktur itu sendiri.

Salah satu jalan mewujudkan cita-cita itu adalah dengan dimulainya Oda Project For Establishment of Machine Tools Technical Center In Indonesia.

 

Kerja sama ini juga disambut baik oleh Pemerintah Republik Korea yang diwakili oleh Kedutaan Republik Korea untuk Indonesia.

Chung Keun Yong mengatakan bahwa pemerintah Korea Selatan mendukung dan mengapresiasi antusiasme FTMD ITB dalam menyukseskan kerja sama ini.

Dalam kerja sama ini Pemerintah Indonesia mendapat hibah peralatan yang berkaitan dengan pengembangan mesin perkakas. Peralatan tersebut secara bertahap akan tiba di Indonesia dan akan diletakkan di gedung PPTI-ITB.

Sementara itu, Direktur Akses Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional (Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementrian Perindustrian, Azhar Fitri mengatakan, bahwa pusat pengembangan ini akan membantu industri manufaktur Indonesia untuk bersaing di dunia dan dapat meningkatkan kapabilitas nasional untuk mengisi kekosongan pada rantai manufaktur global.

Dalam beberapa tahun tahun terakhir, perkembangan industri maufaktur Indonesia mulai dikenal di dunia namun ke depannya pemerintah berharap Indonesia bisa memasuki industri alat-alat kesehatan dan juga pertanian bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan nasional namun juga dunia.

 

Kerja sama bernilai 5 Juta Dollar atau setara dengan 70 miliar rupiah ini akan berlangsung selama 3 tahun (2019-2021) namun karena adanya pandemi COVID-19 kegiatan ini akan diperpanjang hingga Desember 2022.

Disamping 7 buah mesin perkakas NARA yang telah diterima rencananya pemerintah Korea akan mengirimkan 50 set komponen mesin perkakas NARA yang akan dirangkai dan diuji coba performanya sebelum didistribusikan.

Selain itu beberapa komponen penting dari mesin perkakas akan dibuat mandiri di Indonesia dengan melibatkan banyak industri manufaktur lokal.

Sumber: Rilis FTMD

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Observatorium Bosscha menggelar Pengamatan Virtual Langit Malam (PVLM) 2021 Episode 02 pada Selasa (26/5/2021).

PVLM kali ini sangatlah istimewa dengan adanya fenomena Gerhana Bulan Total yang diamati oleh Tim Observatorium Bosscha di Lembang serta Tim Universitas Nusa Cendana, komunitas Pecinta Langit Timor (Pelati), dan seorang astronom amatir bernama Zulkarnain di Kupang.

Keistimewaan ini pun bertambah karena posisi Bulan yang berada pada titik terdekat dengan Bumi, sehingga disebut sebagai super moon. Acara ini disiarkan secara langsung melalui platform Slido maupun kanal YouTube Bosscha Observatory.

Instrumen yang digunakan oleh Observatorium Bosscha dalam pengamatan ini adalah tiga teleskop yang masing-masing berfungsi untuk menangkap detail bulan lebih dekat,

mengambil video gerhana bulan yang ditayangkan secara langsung dalam acara, dan menangkap foto beserta detail yang akan diolah lebih lanjut menjadi citra-citra yang cantik.

Sebelum memulai pengamatan, Dosen Program Studi Astronomi ITB Ferry Simatupang menjelaskan mengenai skala danjon yang merupakan skala kecerahan permukaan bulan saat puncak gerhana.

Beliau juga menambahkan, “Perlu diingat gerhana yang sedang kita amati hari ini (saat) fase totalnya bulan berada dalam posisi yang rendah di horizon.

Sementara kalau bulan atau matahari posisinya rendah di horizon akan cenderung berwarna kemerah-merahan akibat hamburan cahaya Bulan atau cahaya Matahari oleh atmosfer.

Jadi selain skala tadi, (permukaan Bulan) akan tampak lebih merah karena posisi Bulan yang rendah di horizon.”

Di wilayah Bandung, Bulan terbit pada pukul 17.35 WIB dan sudah dalam fase gerhana parsial. Bulan mulai memasuki fase totalitas pada pukul 18.11 WIB yang kemudian berlangsung selama 14 menit.

Adapun puncak gerhana terjadi ditengah-tengah fase totalitas tepatnya pada pukul 18.18 WIB. Setelahnya Bulan akan kembali menuju fase parsial yang berakhir pukul 19.52 WIB lalu memasuki fase penumbral yang dapat diamati hingga pukul 20.49 WIB.

 

*PVLM saat Bulan memasuki fase penumbral. (Foto: Tangkapan layar YouTube Bosscha ITB)

 

Astronom Observatorium Bosscha Muhammad Yusuf turut membagikan keistimewaan dalam mengamati gerhana bulan. “Kita bisa melihat akan ada banyak fase Gerhana Bulan Total yang tampak indah jika kita potret atau bahkan jika dilihat dengan mata sekalipun. Akan ada berbagai warna yang muncul yang tidak kita lihat sehari-hari. Pada saat purnama, kita sulit sekali melihat bintang karena cahaya bintang ditutupi oleh cahaya bulan. Sementara ketika Gerhana Bulan Total terjadi, kita bisa melihat bintang hingga dapat mengidentifikasi bintang-bintang yang sangat redup.”

PVLM 2021 adalah sebuah program yang diselenggarakan oleh Observatorium Bosscha setiap bulan mulai April hingga September 2021. Melalui program ini, Tim Observatorium Bosscha mengajak masyarakat untuk ikut menjelajahi langit malam, mengamati objek-objek langit, dan mengupas topik-topik astronomi yang menarik. Seluruh rangkaian acara PVLM dapat disaksikan kembali melalui kanal YouTube resmi Observatorium Bosscha.

Reporter: Ristania Putri Wahyudi (Matematika, 2019)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id – Tim Get This Look! yang beranggotakan mahasiswi ITB menjadi juara nasional lomba L’Oréal Brandstorm 2021.

Giselza Satya Kusmaharani, mahasiswi Sekolah Farmasi Angkatan 2020 bersama dua rekannya Alea Najla (Computer Science, Universitas Bina Nusantara) dan Veronica Lila (Business, Universitas Prasetiya Mulya) jadi pemenang pertama hasil kolaborasi antaruniversitas di lomba itu.

Tim Get This Look! menjadi juara nasional setelah melewati presentasi di tingkat nasional pada 8 April 2021.

L’Oréal Brandstorm 2021 mengangkat tema Invent the Beauty Shopping Experience Through Entertainment untuk mengeksplor kapasitas niaga-el (e-commerce) di dunia kecantikan.

“Kompetisi ini sejalan dengan filosofi L’Oréal yaitu innovation, entrepreneurship, dan excellence dalam menciptakan kecantikan yang universal. Berdasarkan tema tersebut dan hobi kami yaitu menonton drama korea, kami mendapatkan ide untuk membuat aplikasi yang memungkinkan pengguna untuk belanja secara langsung melalui ketertarikan terhadap 'look' karakter dalam drama Korea tersebut yaitu dengan aplikasi Get This Look!,” ujar Giselza, anggota tim kepada reporter Humas ITB.

 

 

Dengan aplikasi tersebut, para movie dan beauty enthusiast dapat menonton sekaligus mencari informasi dan berbelanja.

Ketika wajah para karakter pada platform siaran langsung diklik, platform tersebut akan segera mengarahkan pengguna ke aplikasi Get This Look! untuk belanja produk yang digunakan oleh karakter tersebut.

“Kami melihat sampai saat ini kebanyakan aplikasi lebih mengarah kepada fashion, sedangkan kami lebih berfokus pada beauty dan make-up.

Aplikasi kami juga dapat memberi alternatif shades dan harga untuk menyesuaikan dengan kebutuhan user, serta virtual try on di ‘Try This Look!’ sehingga user dapat melihat kecocokan secara langsung dengan wajah aslinya.

Tujuan lain dari aplikasi ini adalah untuk mengurangi stres saat pandemi dengan meningkatkan self-love.

Kepercayaan diri pengguna dapat meningkat dengan adanya fitur ‘Share Your Look!’ di mana user dapat mengunggah foto dengan penampilan mereka masing-masing,” ujarnya.

 

 

Dalam kompetisi L’Oréal Brandstorm 2021 ini, mereka harus bersaing dengan kurang lebih 1.500 peserta untuk menjadi juara.

“Kami datang dari universitas yang berbeda sehingga terdapat kendala perbedaan jadwal, pengaturan waktu dengan kewajiban akademik kami, serta diskusi yang tidak bisa dilakukan secara langsung dan harus memanfaatkan teknologi untuk meeting online,” tambah Giselza.

Tim Get This Look! saat ini tengah berjuang untuk merealisasikan dan mengembangkan ide mereka dengan cara melakukan pendampingan serta research lebih dalam dan memperluas aplikasi tersebut untuk diaplikasikan pada jenis film lain seperti Hollywood, Bollywood, hingga Anime.

 

 

“Kami tidak berharap banyak, namun selalu berdoa dan berusaha agar Get This Look! dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia hingga seluruh dunia. Kami juga ingin menginspirasi banyak orang melalui karya kami, bahwa umur tidak menjadi batasan seseorang untuk berimajinasi. Selain itu, diharapkan kepercayaan diri dan self-love para pengguna dapat meningkat dengan menggunakan aplikasi kami,” tutupnya.

Reporter: Christopher Wijaya (Sains dan Teknologi Farmasi, 2016)

Diterbitkan di Berita